BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Slider

Headlines

Slider Right

randomposts6

HEADLINES

Headlines/block-1

INDONESIA

Indonesian/block-2

MIDDLE EAST

Middle%20East/block-2

INTERNASIONAL

International/block-3

ARABIC VERSION

Arabic/block-6

ENGLISH VERSION

English/block-6

SYUBHAT

Syubhaat/block-1

Islamic QA

Islamic%20QA/block-1

OPINION

Opinion

Latest Articles

Friday, February 22, 2019

Ponpes Sirajul Huda Lombok dan Kominfo Akan Gelar Even Santripreneur


Lombok, 22/02/2019
Melihat potensi wirausaha yang dijalankan santri-santriwati Pondok Pesantren Sirajul Huda Paok Dandak, Kementerian Telekomunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dan Yayasan Santripreneur Indonesia akan mengadakan Kegiatan Sosialisasi pemanfaatn tekhnologi informasi untuk menunjang enterpreneur Santri di Era Digital pada Selasa (26/2) Pekan Depan.

Panitia Nasional dari Yayasan Santripreneur Indonesia Imron menjelaskan, kegiatan ini bertujuan memotivasi para santri Indonesia agar memiliki mental wirausaha dan keterampilan menggunakan tekhnologi di era digital.

Dikatakannya, selama ini santri dianggap tidak memiliki keterampilan bisnis dan gagap tekhnologi. Sehingga ketika mereka selesai belajar di pondok, para santri tersebut dianggap tidak layak bekerja di sector-sektor formal apalagi memiliki usaha sendiri.

“Kami melihat Ponpes Sirajul Huda ini tidak hanya mendidik santri-santrinya ilmu agama, tetapi juga sangat aktif mengajarkan mereka wirausaha, jadi kami tertarik untuk membantu melalui Santripreneur Indonesia” Kata Imron.

Ketua Harian Yayasan Ponpes Sirajul Huda Ahmad Jumaili, S. Pd.I menyambut baik keinginan Kemkomifo dan Santripreneur mengadakan kegiatan Santripreneur di Pondoknya.

Menurutnya, Santri Pondok Pesantren memang harus dibekali dua macam ilmu yakni Ilmu agama (Ukhrawi) dan Ilmu Duniawi.

Ilmu Alqur’an, Hadist, Akidah, Fiqh, Aqidah, tasawuf adalah ilmu-ilmu yang urusannya akhirat. Sementara ilmu-ilmu seperti kepemimpinan, kewirausahaan dan juga tekhnologi informasi adalah ilmu yang urusannya duniawi. Keduanya harus dipunyai santri.

Dijelaskan Jumaili, Ponpes yang dikelolanya memang sejak dua tahun lalu aktif membina santri-santrinya berwirausaha. Di bidang pertanian, ia memberikan santri lahan garapan khusus untuk pembuatan bibit, bertani sayur-mayur, mengolah hasil-hasil pertaniannya kemudian hasilnya para santri menjualnya sendiri ke pasar dan masyarakat sekitar.

“Ya begitulah, mereka kita kasi lahan, kita modali, hasilnya mereka jual sendiri, sekalian belajar pemasaran” Jelasnya.

Jumaili mengaku bersemangat membina santri-santrinya berwirausaha karena Rasulullah dan para sahabatnya menurut sejarah yang ia baca,  mayoritas adalah para pengusaha sukses yang kaya raya.

“Sayyidina Umar, Utsman, Ali itu orang-orang kaya semua, termasuk Rasulullah juga. Makanya kita gag heran kalo Siti Khadijah dikasi Mahar 100 unta. Berapa harga unta perekor?, coba hitung sendiri, berapa milyar jadinya”terang Jumaili

Lebih jauh, ia berkeyakinan Allah sebenarnya memerintah hambanya untuk kaya. Alasannya, Allah mensifati dirinya dengan Ghaniyun (Konglomerat) yang artinya dengan kekayaannya Allah suka memberi. Dan manusia hendaknya juga demikian.

“Syaratnya, kekayaannya itu diperoleh dengan cara yang halal dan di didistribusikan dengan cara yang yang halal” katanya.

Dalam pelatihan Santripreneur nantinya akan dihadiri langsung oleh Pembina Yayasan Santripreneur Indonesia KH. Ahmad Sugeng Utomo, Pejabat kementerian Kemkominfo dan Motivator-motivator handal santripreneur Indonesia.

A. Khairul Anam: Tadarus dan Khataman Al-Quran dengan WA Group



#LiterasiMuslimDigital
*KHATAMAN AL-QUR’AN DENGAN WAG*
Tidak hanya digunakan untuk saling berdialog dan share konten, Whats App Group (WAG) ternyata bisa dipakai untuk bikin program yang religius. Misalnya program khataman Al-Qur’an rutin mingguan. Peserta khataman bisa berasal dari tempat yang berbeda-beda, bahkan di luar negeri yang terhubung dengan WAG. Mengandalkan kumpul ngaji bareng keluarga belum tentu bisa setahun sekali lebaran, tetapi dengan cara ini ‘kumpul-kumpul’ bisa dilakukan kapan saja.
Misalnya, ada grup IKKAD atau Ikatan Keluarga KH Abdul Djabbar. Grup ini beranggotakan sekitar 240 orang yang merupakan keluarga keturunan KH Abdul Djabbar, Gresik. Para anggota Grup ini tersebar di banyak tempat, tidak hanya di Gresik Jawa Timur, tapi juga di Jawa Tengah, Jakarta, bahkan sampai ke luar negeri.
Nah program khataman Al-Qur’an ini dikemas dengan tajuk *REQUEST KHOTMIL QUR’AN* lalu dishare dan dengan nomor juz 1-30. Mereka yang ingin ikut khataman bisa memilih sendiri juz yang akan dibaca di mana saja, dari tempat masing-masing. Sifatnya tidak mengikat. Satu orang juga bisa pilih membaca beberapa juz atau satu juz saja, sesuai dengan kemapuan maing-masing. Siapa pilih juz berapa, asal belum diisi yang lain. Satu juz bisa diselesaikan kapan saja. Orang yang baca Al-Qur’annya cepat atau sudah setengah hafal sebenarnya bisa mengkhatamkan satu juz dalam waktu seperempat jam atau setengah jam saja.
Program khataman Al-Qur’an 30 juz grup IKKAD ini dijalankan seminggu sekali. Menariknya, beberapa anggota grup cukup antusias. Bahkan *REQUEST KHOTMIL QUR’AN* untuk dua minggu berikutnya sudah dishare di grup dan sudah ada nama-nama peserta yang menyatakan siap membaca.
Nah doa khataman Al-Qur’an dibaca seminggu sekali setiap hari Kamis atau malam Jum’at. Para peserta ikut mengaminkan dari tempat tinggal masing-masing.
Ini hanya salah satu contoh Whats App Group tidak hanya dipakai untuk berkomunikasi tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk menjalankan amalan-amalan atau keutamaan atau fadhilah ajaran agama Islam secara kolektif, meskipun pesertanya berasal dari tempat yang berjauhan.
Salah satu hadits tentang keutamaan menghatamkan Al-Qur’an diriwatkan dari Ibnu Abbas RA, beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW: _“Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab: “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu yang membaca Al Quran dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.”_ (HR. Tirmidzi)
Fasilitas komunikasi Whats App Grup ternyata cukup membantu mengunggah komitmen religiusitas. Kadang-kadang semangat kita menjalankan amal ibadah itu muncul karena dorongan orang lain. Dan dengan mengetikkan nama sebagai calon peserta khotmil qur’an, di WAG itu sekaligus semacam janji bahwa masing-masing yang menuliskan namanya akan membaca juz sesuai pilihannya.
Tidak hanya grup IKKAD, kira-kira banyak juga grup keluarga yang lain, atau grup komplek perumahan, atau grup alumni sekolah atau grup komunitas-komunitas lain melakukan aktivitas religius seperti itu. Share dong!