Top News :
    6f2685a723d5dd228092da7913ae853e

    Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (bag. 1)

    Muslimedianews.com ~ Sewaktu awal saya mondok 6 tahun di Baitul Arqom al-Islami Ciparay Bandung, pada Kyai Ali Imron Faqih, adik iparnya Kyai Ilyas Ruhiyat. Setelah itu melanjutkan ke Kyai Mudzakir di Banyurip Pekalongan, murid dari Mbah Dimyathi Termas, saya dapat ijazah Dalail dari beliau. Anehnya oleh adik Kyai Mudzakir –sosok unik yang selama 40 tahun tidak pernah keluar kamar- saya diajarkan cara berdebat dan cara mempertahankan Ahlussunnah wal Jama’ah lewat surat yang ditulis sangat bagus oleh beliau, termasuk diajarkan mencintai para habaib.

    Dari Kyai Mudzakir lah saya dipertemukan dengan Habib Luthfi Bin Yahya, yang waktu itu masih muda, dan Habib Ali Alattas (guru Habib Luthfi) saat itu masih hidup. Habib Ali Alattas adalah habib sepuh di Pekalongan yang unik. Tidak bisa melihat tapi mampu mengajar kitab Syarah Bukhari, yang berarti beliau hafal kitab tersebut di luar kepala. Dari Habib Luthfi saya minta petunjuk, dan dijawab oleh beliau, “Nanti setelah beres dari Kyai Mudzakir harus berangkat ke Kyai Abdullah Salam.”

    Lalu saya pun (berguru) membaca al-Quran di Kyai Abdullah Salam, sekaligus kepada putra beliau Kyai Nafi’ Abdillah Salam Kajen Pati. Di sana tiba-tiba saya bertemu Mbah Lim. Dan Kyai Abdullah Salam dawuh, “Wis toh Man, ojo suwe-suwe ning Pati. Cukup puasa di sini 4 bulan, ziarah ke Mbah Mutamakkin, jangan lupa terus-menerus khatamin al-Quran, lalu kamu harus ke Tambakberas. Dan 40 hari jangan lepas baca Yasin Fadhilah di makamnya Kyai Wahab Hasbullah. Setelah itu jangan lama-lama mesantrennya, segeralah nikah!”

    Akhirnya dari Mbah Mutamakkin saya lanjut ke Tambakberas, ke ar-Raudhah, di situ ada Abah Taufiqul Fattah. Ternyata di sana sudah ada santri putri yang dulu juga pernah 3 tahun mondok di Baitul Arqom Bandung. Akhirnya saya sering minta maaf ke Gus Roqib –yang saat itu Kepala Keamanan Pesantren Putri Tambakberas-  dan beliau bertanya mau ke mana Man, saya jawab “ke adik saya Gus!” Yang lalu dipersilakan masuk oleh beliau.

    Mengingat masa-masa itu, Gus Roqib selalu tertawa, “Aku iki diapusi Maman terus-terusan. Saya kira dia itu adiknya beneran, ternyata pacarnya! Untung saja nikah.” Setiap kali saya ketemu Gus Roqib pasti tersenyum-senyum sendiri. 

    Dari spirit itulah, sebenarnya ketika saya di Baitul Arqom Kyai Ali Imron terus-menerus menyuruh saya berziarah ke suatu makam leluhur beliau dan satu sumur yang sangat terkenal. Di pesantren pertama saya inilah tempat ditangkapnya Kartosuwiryo. Kyai Ali Imron sering bilang, “Dek,” panggilan beliau kepada saya. “Suatu saat kamu akan berhadapan dengan kelompok-kelompok seperti Kartosuwiryo. Orang bodoh tapi cita-citanya tinggi. Orang yang teriak-teriak Islam tetapi dia tidak mau mengaji. Orang yang kemana-mana ngomong syariat tapi kemana-mana dia bawa keris. Dia lebih percaya kepada keris daripada percaya kepada shalat. Itulah Kartosuwiryo, sahabatnya Bung Karno yang sama-sama belajar di Surabaya pada Pendiri SI (Sarekat Islam).”

    Sampai hari ini saya sering datang ke Baitul Arqom karena adik bungsu saya menikah dengan putranya Kyai Ali Imron. Maka pesantren saya al-Mizan, Pesantren Baitul Arqom dan Pesantren Cipasung menjadi bersaudara karena pernikahan itu. Disamping tentu karena nasab keilmuan. 

    Begitupula setelah saya di Banyurip Pekalongan, saya terus-menerus disuruh untuk berziarah ke beberapa makam termasuk Habib Ahhmad bin Abdullah bin Thalib Alattas di Sapuro. Sampai sekarang saya masih disuruh untuk mandi di suatu tempat di Banyurip dan Makam Sapuro.

    Dan juga saat di Mbah Mutamakkin, yang mana di sana terdapat sumur-sumur keramat dan makamnya Mbah Mutamakkin. Tentu sejarah Mbah Mutamakkin sudah banyak yang membaca dan mengetahuinya. Bagaimana dulu beliau pernah berdebat dengan seorang penghulu Kudus, karena Mbah Mutamakkin memelihara anjing yang diberi nama nama sang penghulu tadi. Kita tahu sejarah mencatat Mbah Mutamakkin dianggap kalah, tetapi sejarah juga mencatat bahwa Mbah Mutamakkin lah yang menang dengan melahirkan Mbah Sahal Mahfudz dan melahirkan begitu banyak tokoh. Inilah NU, yang kadang-kadang disalahkan dalam tulisan sejarah namun realitanya NU-lah yang memenangkan pertarungan besar dalam segala jaman. 

    Dan akhirnya sampailah saya di Tambakberas, disuruh mandi juga di salah satu sumur dekat al-Muhajirin. Ada tempat sampah di sana yang di belakangnya terdapat sumur keramat. Di Tambakberas ini mulai kenal dan dekat dengan Gus Dur.

    Gus Dur akhirnya menjadi sejarah yang tak terlupakan. Tiba-tiba Gus Dur datang ke Cirebon, memegang erat-erat tangan saya sangat lama. Lalu beliau berkata, “Saya akan datang ke tempat Anda!” Gus Dur selalu menyebut kata ‘Anda’ ke saya waktu itu. “Dan akan menitipkan ruhnya Mbah Fattah di tempat Anda,” lanjut Gus Dur.

    Jadi Gus Dur lah yang pertama-tama datang ke pesantren dan Gus Dur tidak pernah mau masuk ke dalam. Tiga kali hanya sekadar duduk di depan gerbang pesantren. Kata Gus Dur, “Pesantren ini akan didatangi banyak tokoh!” dan terbukti begitu banyak tokoh, beberapa menteri, beberapa duta besar, termasuk Presiden Jokowi datang ke pesantren saya. Itu semua hanya karena (berkat) doa Gus Dur. 

    Dan Gus Dur waktu itu hanya menancapkan satu benda yang itu menjadi sumber air sampai sekarang. Saya sempat terpikir juga kenapa pesantren saya tidak besar-besar, ada makam di belakang pesantren yang entah makam siapa. Saya pernah bilang ke Gus Dur, “Pak, kadang-kadang Bapak perlu ke sana, cari tahu itu makam siapa.” Padahal Gus Dur bisa saja ngarang waktu itu, tapi beliau malah menjawab, “Tidak usah. Allah akan memberi keberkahan.”

    Nah, dari Tambakberas lah memberikan kepada saya begitu banyak anugerah. Dari sana saya dipertemukan dengan wanita yang menjadi istri saya, juga dipertemukan dengan Gus Dur. Dan akhirnya Allah memberikan kemudahan pada saya ketika membangun pesantren yang diberi nama al-Mizan, berdiri tahun 1999.

    Saya masih ingat ketika Ayip Rosyidi, seorang tokoh Jatiwangi Majalengka, dengan nyinyir mengatakan, “Sampai kiamat pun tidak akan pernah ada pesantren di tempat ini. Sampai kiamat pun tidak akan pernah ada santri yang mau mondok di pesantrenmu. Itu tempat merah, kotor, dlsb.” Tetapi dengan keramatnya Tambakberas ternyata santri semakin bertambah banyak yang mondok di Pesantren al-Mizan. Allah memudahkan itu semua.

    Dari itu yang ingin saya tekankan adalah bahwa Tambakberas bukanlah sekadar nama, bukan sekadar tempat mencari ilmu, tetapi Tambakberas itu barokah. Tanah Tambakberas dalam klasifikasi tanah, itu tanah universitas. Jadi jika kita ingin membangun pesantren, tanyalah dulu kepada ahli hikmah (kyai yang bijak-bestari), “Tanah kita itu tanah tingkat apa?”

    Karena ada tanah yang kita habis-habisan; orangnya pintar semua, di pondok dia hebat, menikah dengan istri yang hebat, tetapi tiba-tiba menempati tanah yang derajatnya hanya TK. Yang ada kemudian hanya pertengkaran, kekacauan, dan tidak berkembang. Makanya rata-rata pesantren itu menempati tempat yang klasifikasi tanahnya universitas. Masih ada kyai-kyai kita yang ahli hikmah.

    Jadi berkah itu ‘ziyadatul khair’, bertambahnya kebaikan. Jadi Saya yakin sekali ketika Gus Dur bilang menitipkan Mbah Fattah di tempat ini, maka Allah memberikan banyak kemudahan. Ini salah satu kemudahan.

    (Syaroni As-Samfuriy. Disampaikan oleh KH. Maman Imanulhaq, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka dan Ketua Umum LDNU Pusat dalam Pengajian Akbar dan Khataman Al-Quran Reuni IKABU (Ikatan Alumni Bahrul Ulum Tambakberas se-Jabodetabek).

    Kenapa Habib Luthfi Fanatik Kepada NU? Ini Jawabannya

    Muslimedianews.com ~ Dulu saya sering duduk di rumahnya Kyai Abdul Fattah, untuk mengaji. Di situ ada seorang wali, namanya Kyai Irfan Kertijayan. Kyai Irfan adalah sosok yang nampak hapal keseluruhan kitab Ihya Ulumiddin, karena kecintaannya yang mendalam pada kitab tersebut. Setiap kali ketemu saya beliau pasti memandangi dan lalu menangis. Di situ ada Kyai Abdul Fattah dan Kyai Abdul Adzim.
    Lama-kelamaan akhirnya beliau bertanya, “Bib, saya mau bertanya. Cara dan gaya berpakaian Anda kok sukanya sarung putih, baju dan kopyah putih, persis guru saya.”

    “Siapa Kyai?” jawabku.

    “Habib Hasyim bin Umar,” Jawab Kyai Irfan.

    Saya mau ngaku cucunya tapi kok masih seperti ini, belum menjadi orang yang baik, batinku dalam hati. Mau mengingkari/berbohong tapi kenyataannya memang benar saya adalah cucunya Habib Hasyim. Akhirnya Kyai Abdul Adzim dan Kyai Abdul Fattah yang menjawab, “Lha beliau itu cucunya.”

    Lalu Kyai Irfan merangkul dan menciumiku sembari menangis hebat saking gembiranya. Kemudian beliau berkata, “Mumpung saya masih hidup, saya mau cerita Bib. Tolong ditulis.”

    “Cerita apa Kyai?” jawabku.

    “Begini,” kata Kyai Irfan mengawali ceritanya. Mbah Kyai Hasyim Asy’ari setelah beristikharah, bertanya kepada Kyai Kholil Bangkalan, bermula dengan mendirikan Nahdlatut Tujjar dan Nahdlah-nahdlah yang lainnya, beliau merasa kebingungan. Hingga akhirnya beliau ke Mekkah untuk beristikharah di Masjidil Haram. Di sana kemudian beliau mendapat penjelasan dari Kyai Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi, ulama Jawa yang sangat alim. Kitab-kitab di Mekkah kalau belum di-tahqiq atau ditandatangani oleh Kyai Ahmad Nahrawi maka kitab tersebut tidak akan berani dicetak. Itu pada masa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mekkah pada waktu itu.

    Syaikh Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi dawuh kepada Kyai Hasyim Asy’ari, “Kamu pulang saja. Ini alamat/pertanda NU bisa berdiri hanya dengan dua orang. Pertama Habib Hasyim bin Umar Bin Yahya Pekalongan, dan kedua Kyai Ahmad Kholil Bangkalan (Madura).”

    Maka Kyai Hasyim Asy’ari pun segera bergegas untuk pamit pulang kembali ke Indonesia. Beliau bersama Kyai Asnawi Kudus, Kyai Yasin dan kyai-kyai lainnya langsung menuju ke Simbang Pekalongan untuk bertemu Kyai Muhammad Amir dengan diantar oleh Kyai Irfan dan kemudian langsung diajak bersama menuju kediaman Habib Hasyim bin Umar.

    Baru saja sampai di kediaman, Habib Hasyim langsung berkata, “Saya ridha. Segeralah buatkan wadah Ahlussunnah wal Jama’ah. Ya Kyai Hasyim, dirikan, namanya sesuai dengan apa yang diangan-angankan olehmu, Nahdlatul Ulama. Tapi tolong, namaku jangan ditulis.” Jawaban terakhir ini karena wujud ketawadhuan Habib Hasyim.

    Kemudian Kyai Hasyim Asy’ari meminta balagh (penyampaian ilmu) kepada Habib Hasyim, “Bib, saya ikut ngaji bab hadits di sini. Sebab Panjenengan punya sanad-sanad yang luar biasa.” Makanya Kyai Hasyim Asy’ari tiap Kamis Wage pasti di Pekalongan bersama Hamengkubuwono ke sembelian yang waktu itu bernama Darojatun, mengaji bersama. Jadi Sultan Hamengkubowono IX itu bukan orang bodoh, beliau orang yang alim dan ahli thariqah.

    Setelah dari Pekalongan Kyai Hasyim Asy’ari menuju ke Bangkalan Madura untuk bertemu Kyai Ahmad Kholil Bangkalan. Namun baru saja Kyai Hasyim Asy’ari tiba di halaman depan rumah Kyai Kholil sudah mencegatnya seraya dawuh, “Keputusanku sama seperti Habib Hasyim!” Lha ini dua orang kok bisa kontak-kontakan padahal Pekalongan-Madura dan waktu itu belum ada handphone. Inilah hebatnya.

    Akhirnya berdirilah Nahdlatul Ulama. Dan Muktamar NU ke-5 ditempatkan di Pekalongan sebab hormat kepada Habib Hasyim bin Umar. Jadi jika dikatakan Habib Luthfi kenceng (fanatik) kepada NU, karena merasa punya tanggungjawab kepada Nahdlatul Ulama dan semua habaib. Dan ternyata cerita ini disaksikan bukan hanya oleh Kyai Irfan, tapi juga oleh Habib Abdullah Faqih Alattas, ulama yang sangat ahli ilmu fiqih.

    Maka dari itu Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas dengan Habib Hasyim Bin Yahya tidak bisa terpisahkan. Kalau ada tamu ke Habib Hasyim, pasti disuruh sowan (menghadap) dulu kepada yang lebih sepuh yakni Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas. Dan jika tamu tersebut sampai ke Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib maka akan ditanya, “Kamu suka atau tidak kepada adikku Habib Hasyim bin Umar?” dengan maksud agar sowannya ke Habib Hasyim saja. Itulah ulama memberikan contoh kepada kita tidak perlunya saling berebut dan sikut, tapi selalu kompak dan rukun.

    Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas wafat tahun 1347 Hijriyah bulan Rajab tanggal 14, dan haulnya dilaksanakan tanggal 14 Sya’ban. Tiga tahun setelahnya, tahun 1350 Hijriyah, Habib Hasyim bin Umar Bin Yahya wafat. Setahun kemudian (1351 H) adalah wafatnya Habib Abdullah bin Muhsin Alattas Bogor. Waktu itu banyak para ulama besar seperti Mbah Kyai Adam Krapyak dan Kyai Ubaidah, merupakan para wali Allah dan samudera keilmuan.

    (Dokumentasi ceramah Habib Luthfi Bin Yahya pada Haul Pakisputih Kedungwuni Pekalongan: https://youtu.be/7d_TsdSBVvE. Dialihbahasakan oleh Syaroni As-Samfuriy).

    Cara Para Wali Menanam Islam di Tanah Jawa

    Muslimedianews.com ~ Cara mengajar para wali jaman dahulu, menyebut Allah agar tidak terlalu nampak menyebutnya dengan Gusti Pengeran, Rasulullah dengan Kanjeng Nabi, Shalat dengan Sembahyang, Mushalla dengan Langgar, Syaikh atau Ustadz dengan Kyai, Tilmidzun Muridun dnegan Santri, Kalimat Syahadat dengan Kalimosodo, Syahadatain dengan Sekaten.

    Cara para wali menasihati masyarakat tidak dengan (bahasa) Arab, tapi dengan isyarat, asal bisa diterima. Ingin jadi orang baik, cukup dinasihati, “Jangan lupa Jempol ya,” begitu saja. Jempol itu bagus, tidak sempurna jika tidak ada Jenthik (kelingking). Jenthik itu maknanya jangan otak-atik barang orang lain, jangan suka mencuri. Jadi para wali jaman dulu tidak perlu berdalil “As-sariqu was-sariqatu faqtha’u aidiyahuma” atau dengan dalil hadits “Lau anna Fathimata bintiy saraqat laqatha’tu yadaha”.

    Terus Jari Manis, jangan bermanis-manis wajah. Jadi Penunggul, jadilah orang yang unggul tapi tidak sombong. Jadi Penuduh, jadilah yang bisa memberi petunjuk orang lain hal yang baik-baik serta diri kita bisa jadi Jempol.

    Ghafura, yang berarti pengampunan, ditanam di depan masjid, disebut Gapuro (Gapura). Maknanya siapa saja yang masuk ke dalam masjid akan mendapat ampunan Gusti Pengeran (Allah Swt.).

    Terus kenapa para wali berani mengajari dengan cara demikian, tidak khawatir kalau-kalau disalahpahami? Sebab kurikulumnya para wali dalam al-Quran “Ala inna auliya-allahi la khaufun ‘alaihim wala hum yahzanun”, artinya para wali Allah itu tidak memiliki rasa takut atau khawatir sama sekali. Berbeda dengan kurikulumnya para ulama “Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama”, yang berarti para ulama itu memiliki rasa takut kepada Gusti Pengeran-nya.

    Maka jika ada pengantin hadir diberikan Cengkir (buah kelapa yang masih muda), Gedang (pisang), dan Tebu. Artinya saya jadi mertua sudah Kenceng Pikirku (kuat pikirannya), kamu sudah saya Geged-geged (gigit) di-Gadang-gadang (diharapkan), aku sudah Manteb agar segera Mlebu (masuk). Jika ada yang membangun rumah agar memberikan Gedang (pisang) satu tundun di atas. Sebab jika tukangnya lesu agar tidak naik-turun mencari makanan. Semuanya itu ditanam oleh para wali.

    Sehingga sehabis ditanam maka tumbuh. Berhubung tanaman ini ada di Jawa –sawahnya orang Hindu-Buda- maka hasilnya pun seperti yang kita lihat, semuanya dikatakan sebagai ilmu Kejawen atau Klenik. Padahal jika dibuka satu persatu di dalamnya, itu semua adalah ajaran untuk masyarakat yang tidak mengenal agama dan agar tidak lupa. Maka kemudian dibuat adat di tanah Jawa. Tanaman agama yang dibungkus dengan cara Jawa ini akhirnya dicek oleh para wali dengan tembang “Lir Ilir tandure wus sumilir...dst”, bermaksud sudah pada bangun belum. Kalau sudah bangun beneran, ayo panjat pohon Belimbing yang tepi buahnya ada 5 yakni sembahyang sehari 5 kali.

    Jika sudah mulai tumbuh maka dibuatkan Pager (pagar). Pager Gresik namanya Giri, Pager Tengah namanya Demak, Pager Kulon (barat) namanya Cirebon. Ini namanya pagar atau bahasa al-Qurannya ‘Khalifah’. Semua ini ditanam dan dipagari oleh para wali hingga menyebar ke segala penjuru Indonesia (Nusantara). Hanya saja salah kaprahnya orang jaman sekarang tidak ikut menanam kok buat pagar, makanya jadi perkara.

    Tinggalan para wali ini dinamakan Wilayah, artinya peninggalan para wali. Diri kita adalah penerusnya para wali. Seluruh orang Indonesia ini hasil dari jerih payahnya para wali yang diwariskan kepada para santri. Dan kenapa NKRI Harga Mati? Sebab NKRI ini peninggalan para wali. Maka diri kita (para santri) tidak mungkin berkhianat kepada Bangsa.

    Itulah sebabnya kenapa jaman dulu Belanda kelimpungan menghadapi para santri. Karena orang Belanda memiliki keyakinan bahwa santri Indonesia tidak mungkin melepaskan Nusantara. Di mata Belanda santri Indonesia memiliki 3 ciri; kopyah miring sarungnya nglinthing, bau rokok, dan tangan gudigan. Tapi ketahuilah para santri inilah pelindung Indonesia sejak awal.

    Seluruh pemberontakan dalam melawan penjajah Belanda kebanyakan dari para santri. Diponegoro santrinya Mbah Nur Muhammad Salaman Magelang, Sultan Agung santrinya Sunan Geseng, Cokroaminoto santrinya Mbah hasyim Asy’ari, R.A. Kartini santrinya Mbah Sholeh Darat Semarang. Karena seluruh pemberontak penjajah ini para santri dari Indonesia, maka Belanda membuat peraturan bahwa seluruh santri kalau sudah berhaji harus menyematkan Haji-nya di depan namanya agar mudah dikontrol, di tahun 1923 M.

    Namun lama-lama Belanda semakin tidak paham terhadap para santri ini, karena semakin lama semakin aneh. Ternyata tiba-tiba para santri Indonesia ini membuat geger Dunia. Satu-satunya manusia yang berani demonstrasi ke Mekkah waktu itu ya santri Indonesia, saat makam Rasulullah Saw. hendak dibongkar oleh Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman Al Saud tahun 1924-1925 M.

    Hingga akhirnya Raja Saud tidak jadi membongkar makamnya Nabi Muhammad Saw. karena berbagai pertimbangan. Diantaranya karena seluruh orang Arab tahu kalau para santri ini –yang dipimpin Mbah Wahab Hasbullah- adalah utusan ulama kondang Indonesia yang bernama Hasyim Asy’ari. Satu-satunya ulama Indonesia yang bergelar ‘Hadhratus Syaikh’. Gelar yang tidak bisa diremehkan, karena untuk mendapat gelar tersebut syaratnya harus hafal Kutubus Sittah beserta Rijalul Hadits-nya. Ulama jaman dulu itu tidak seperti ulama sekarang saat menyebut/memberi gelar. Dulu jika seseorang mendapat gelar ‘al-Faqih’ syaratnya harus hafal lebih dari 2.000 hadits shahih. Jika gelar ‘al-‘Alim’ syaratnya seperempat al-Quran harus hafal. Gelar ‘al-‘Allamah’ berarti hafal al-Quran. Gelar ‘Syaikh’ berarti hafal Shahih Bukhari-Muslim beserta Rijalul Hadits-nya.

    Santri-santri ini dikenal dengan nama ‘Komite Hijaz’ yang dipimpin Mbah Wahab Hasbullah. Dari sinilah yang akhirnya menjadi cikal-bakal berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama di Indonesia.
    Maka marilah ajaran para wali yang sudah terbukti bisa mengislamkan tanah Jawa bahkan Nusantara yang diteruskan oleh para kyai, kita teruskan. Jangan galak-galak saat mengajar dan menuntun seseorang, agar tidak menjadi perkara. Pengajaran dengan cara yang bisa diterima masyarakat agar bisa diterima dengan hati yang tulus dan ikhlas.

    Kalau cara Gus Dur dulu, jika nisbatnya ingin membuat majelis ta’lim yang menjadi tempat pengajaran maka bungkuslah dengan nama Jawa atau nama daerah setempat, agar orang-orang tidak merasa rikuh/sungkan jika hendak ikut mengaji. Contohnya sekarang itu seperti pesantren Jombang tempatnya Mbah Hasyim, Pesantren Lirboyo, Pesantren Sarang, Pesantren Trenceng, dan lain sebagainya. Kecuali jika masyarakat sekitar benar-benar sudah mengenal agama serta suka dengan kyainya, ya silakan namai dengan nama Arab.

    Maka sekarang Anda lebih percaya kepada ulama yang hafal Kutubus Sittah ataukah yang hafal hadits tak seberapa tapi berani membuat rusuh Indonesia. Silakan dihayati sendiri. Mohon maaf jika ada salah dan khilaf. Semoga ada manfaat dan barokahnya. Amin.

    هداني الله وإيّاكم إلى صراط مستقيم، صراط الّذين أنعمت عليهم من النّبيّين والصّدّيقين والشّهداء والأولياء والصّالحين، وصراط جمعيّة نهضة العلماء والنّهضيّين لنيل السّعادة لإندونيسيّا واندونسيّين، آمين...

    (Syaroni as-Samfuriy, dialihbahasakan dari tulisan bahasa Jawa KH. Azizihasbulloh)
     

    HIKMAH

    ARABIC

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News