Top News :
    6f2685a723d5dd228092da7913ae853e

    تحميل الكتب PDF موقف علماء اهل السنة من ابن تيمية - عادل كاظم عبد الله

    Muslimedia News (MMN) ~ Kitab Mauquf Ulama' Ahl al-Sunnah min Ibni Taimiyyah. Pengarang: 'Adhim Kadhim Abdullah.

    موقف علماء أهل السنة من ابن تيمية by عادل كاظم عبد الله

    كتاب: موقف علماء اهل السنة من ابن تيمية
    تاليف: عادل كاظم عبد الله
    الناشر: دار وادي السلام
    عدد الصفحات: 220


    Download / تحميل :

    Dakwah Itu Harus Sadar dan Sabar atas Keberagaman

    Muslimedia news.com ~ Hakikat dakwah itu adalah membawa pencerahan pemikiran agar tindakan umat manusia semakin terang. Karena itu urusan pola pikir masyarakat menjadi yang utama agar tidak larut dalam kegelapan. Cara berdakwah pun harus mempertimbangkan situasi masyarakat setempat, penuh kompromi dalam pergaulan, tidak kaku dengan fikih, dan harus punya kesabaran yang tinggi mendampingi masyarakat. Itulah pengalaman berdakwah dari sosok Nanang Muhammad Yusuf (53 tahun), seorang guru ngaji yang lebih 20 tahun keluar masuk kampung-kampung pedalaman kawasan Kabupaten Bandung Utara.

    Aktivitas Nanang di kampung-kampung Kecamatan Mekarmanik Kecamatan Cimenyan Kabupaten patut diapresiasi karena banyak pengetahuan berharga yang patut dipetik. Kecamatan Cimenyan terletak di sebelah utara Kota Bandung. Sekalipun hanya berjarak rentang 6-8 Km dari Metropolitan Bandung, tetapi beberapa desa seperti Mekarmanik, Cikadut, Mandala Mekar, Mekar Saluyu tergolong tertinggal. Situasi kehidupan di bawah Hutan negara Arcamanik  masih memperlihatkan situasi kehidupan era tahun 1990an. Sinyal ponsel ponsel sangat sulit didapat. Transportasi publik roda empat belum ada. Kehidupan perdesaan seperti di pedalaman-pedalaman luar Jawa.

    Sosok Nanang Muhamad Yusuf ini cukup menarik karena pengetahuan lapangannya sangat luas terutama menyangkut problem kehidupan petani desa, beragam aliran kepercayaan, gerakan kristenisasi, tengkulak, perilaku perangkat desa, politik perdesaan dan lain sebagainya. Berbekal pengetahuan agama yang cukup bagus dengan kitab-kitab kuning yang didapat dari pesantren 5 tahun ia bisa leluasa menyampaikan beragam materi pengetahuan agama. Di luar itu, Nanang punya sikap yang terbuka, komunikasi yang bagus, dan mampu bercerita runtut tentang pengalaman-pengalaman hidupnya sebagai Guru Ngaji di kampung-kampung pedalaman.

    Sadar keberagaman
     

    Berhadapan dengan situasi keterbelakangan pendidikan itu, Nanang tertantang harus aktif keluar masuk kampung-kampung pedalaman dengan mengauli, memahami pola pikir masyarakat, memberikan pengetahuan. Harus sabar dan tidak boleh frontal karena menghadapi keberagaman.

    “Pengalaman saya kalau urusan ngaji atau dakwah harus selalu mengedepankan kesabaran proses yang panjang, harus mengikuti arus pemikiran mereka, tidak boleh menyakiti dengan kata-kata yang menyinggung, dan harus lebih mengutamakan amal tindakan. Pesan keagamaan tidak akan cukup hanya dengan khotbah dan ceramah,” katanya kepada penulis di rumahnya, Kampung Pondok Buah Batu, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, sebuah kampung paling ujung dibukit utara kabupaten Bandung, Jawa Barat.

    Saat ditemui penulis Minggu, 18 September 2016, Nanang dan beberapa tetangganya sedang sibuk merenovasi madrasah dan masjid di belakang rumahnya. Kampung Pondok Buah Batu ini letaknya cukup tinggi karena berada di atas bukit, persis di bawah hutan Arcamanik dengan ketinggian 1500 M dlp

    Terhitung sejak tahun 1990an, Nanang keluar masuk dusun-dusun di pedalaman untuk mengajar ngaji anak-anak, orang tua dan ibu-ibu dari dusun ke dusun. Ia lakukan itu karena punya tanggungjawab sebagai santri untuk mengamalkan ilmu agamanya. Puluhan tahun menggauli masyarakat yang berpendidikan rendah dan kehidupannya dibalut oleh kemiskinan membuat Alumni Pesantren Darrusurrur  Margaasih Kabupaten Bandung ini sadar bahwa dakwah tidak bisa bekerja secara formal melalui sistem baku pendidikan ala sekolah umum, bahkan tidak bisa pula dilakukan secara formal ala pondo pesantren yang sudah mapan. Selama kurun waktu dua puluh tahun, paling tidak terdapat 8 dusun yang pernah diurus Nanang dan sekarang masyarakatnya lumayan bagus dalam urusan keagamaan di banding sebelumnya, minimal ada aktivitas ibadah wajib dan perayaan hari keagamaan sepert Idul Kurban, Idul Fitri, Maulid Nabi dll.

    “Mereka tidak tahu tujuan hidup yang jelas kecuali mewarisi pedoman-pedoman ajaran orangtuanya, kakek-neneknya. Penganut ajaran Karuhun, Permai, atau yang sering disebut Sunda Wiwitan di kawasan Bandung utara itu hanya punya pedoman hidup sedikit yang tidak memberikan jalan untuk perbaikan hidup. Itulah mengapa mereka sebenarnya butuh ajaran islam. Tetapi jika menentang tradisi secara frontal bisa muncul permusuhan. Harus akrab dan telaten dan banyak melayani masyarakat,” terangnya.

    Problem mendasar

    Nanang menceritakan, problem masyarakat perdesaan yang mendasar adalah kebodohan, bukan hanya kebodohan agama, melainkan kebodohan dalam segala macam pengetahuan. Menurutnya, aliran kepercayaan itu bukan musuhnya Islam karena mereka tidak memusuhi. Kalaupun menentang, kebanyakan dari penganut aliran kepercayaan lebih pada urusan personal dan biasanya seiring waktu bergaul disertai komunikasi yang baik akan selesai.

    “Banyak saya bergaul dengan orang berKTP Islam tetapi tidak mau menerima Islam. Sebagian tidak suka dengan ustad. Tapi kalau kita sabar dan tidak ikut-ikutan emosi dan terus menggauli mereka pada akhirnya mereka berubah. Banyak adat istiadat yang sifatnya boros dan tidak memperbaiki kehidupan yang  sulit diubah. Karena itu buat saya lebih pas dakwah model Nahdlatul Ulama yang tidak memusuhi adat istiadat, melainkan memilih jalan memasukkan nilai-nilai Islam. Kalau kepercayaan mereka ditentang kita sulit bergaul. Kalau sulit bergaul nanti makin sulit memberikan pengetahuan kepada mereka,” kata Nanang.

    Rata-rata masyarakat di kecamatan Cimenyan tidak mendapatkan pendidikan yang baik. Pada era tahun 1990an, kebanyakan tidak sekolah. Buta huruf merajalela. Bahkan menurut Nanang, sampai sekarang pun kebanyakan anak-anak desa di Cimenyan hanya tamat Sekolah Dasar. Sekalipun sekolah SMP gratis, tetapi tidak semua bisa lulus. “Makanya jarang sekolah sampai SMA karena lokasi jauh. Kalaupun sekolah gratis, tetapi petani harus membelikan motor anaknya. Itu memberatkan,” jelasnya.

    Nanang sadar bahwa ilmu yang utama adalah fikih karena dari penerapan fikih seperti ibadah dan muamalah itulah yang utama untuk diajarkan. Tetapi dalam penerapan di lapangan, komunikasi tidak boleh kaku sekadar urusan hokum halal dan haram dengan kebanyakan larangan. Menurutnya, sangat tidak cocok jika komunikasi dakwah hanya mengedepankan khotbah-khotbah untuk menjauhi bid’ah dan kemusyrikan.

    “Fikih adalah ilmu yang paling mendasar. Untuk urusan ibadah seperti pembelajaran shalat dan puasa itu mungkin bisa mudah diterima. Tetapi praktiknya pun butuh waktu yang lama. Tidak bisa instan disuruh langsung mau menjalankan,” ujarnya.

    Adapun anjuran-anjuran kebaikan seperti larangan mabuk, larangan judi, larangan zina dan seterusnya harus lebih sabar lagi karena masyarakat memang tidak tahu tentang keburukan-keburukan yang dilakukannya.

    “Hal seperti ini tidak bisa dilawan dengan cara memojokkan, melainkan harus diberi pengertian secara pelan-pelan. Bahkan sudah pelan dan kompromi sekalipun saya ini masih banyak yang menentang,” ujarnya.

    Perubahan Pola Pikir

    Mengubah pola pikir untuk hidup lebih baik menurut Nanang memang butuh kesabaran yang luar biasa. Faktor kelemahan ekonomi dan rendahnya pendidikan membuat orang desa sulit berpikir maju. “Kalau pendidikan semakin baik dan ekonomi juga makin baik, minimal pemikiran orang akan lebih bisa menyerap hal-hal baru, termasuk ajaran agama Islam. Bahkan untuk urusan perkawinan dini akan berangsur berkurang kalau anak-anak desa bisa sekolah sampai SMA,” katanya.

    Menurut Nanang, dakwah Islam yang paling cocok untuk orang-orang di pedalaman perdesaan adalah dengan tindakan amal percontohan secara langsung. Orang-orang desa menurutnya banyak yang tidak suka kalau diceramahi.

     “Mungkin mereka tidak menentang di depan, tapi di belakang mereka bisa melawan dengan menghasut atau fitnah. Saya ini sudah kenyang fitnah. Dari orang-orang aliran kepercayaan dianggap merusak ajaran orang tua. Difitnah macam-macam. Saya ini jelas penganut ahlu Sunnah Waljamaah, dari keluarga Nahdlatul Ulama dan sampai sekarang mengajarkan ajaran ulama-ulama NU. Tapi oleh orang Persatuan Islam saya pernah dituduh Syiah. Tapi sudahlah.Pokoknya kalau semakin kita banyak berbuat baik, semakin banyak fitnah. Hehe…..,” ujarnya tertawa.

    Gerakan melalui NU

    Nanang berharap pengurus NU di Kabupaten Bandung bisa serius dalam urusan dakwah ini.  Menurutnya, dakwah NU tidak boleh sebatas mengirim mubalig untuk khotbah atau pengajian, melainkan lebih penting untuk amal kemasyarakatan seperti pemberdayaan pertanian, pendampingan pendidikan informal seperti kursus, membuka akses jaringan pasar untuk pedagang kecil, menyediakan transportasi antar dusun, layanan kesehatan, dan beasiswa untuk anak-anak petani.

    “Tahun ini Insya Allah akan bisa lebih maksimal beraktivitas sosial. Sejak lama di kampung kami ini tidak ada pemberdayaan, bahkan penyuluhan pertanian dari dinas pun belum pernah ada. Begitu ada teman-teman dari ITB dan Yayasan Odesa memberikan banyak pengetahuan tentang kopi dan juga masukan pengetahuan lain, alhamdulillah sekarang ada peningkatan pengetahuan dan luasnya hubungan silaturahmi dan juga bisa berhubungan dengan pengurus Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

    Nanang punya keinginan, melalui organisasi Nahdlatul Ulama itulah nanti dakwah Islam bisa lebih baik karena masyarakat NU di Kecamatan Cimenyan sebenarnya pola ibadahnya ala NU dan tidak punya pemikiran negatif terhadap NU.

    “Hanya saja sejauh ini organisasi NU tidak berjalan menjawab problem masyarakat. Saya harap generasi muda di sini bisa dihimpun melalui organisasi NU dan saya siap ikut berkiprah di dalamnya. Sebab saya percaya hanya dengan pemberdayaan secara berjamaah itulah dakwah akan lebih cepat menghasilkan kebaikan,”-M.Yusuf.


    Ansor Kubu Raya Evaluasi Program Kerja dan Rapat Kerja.

    Muslimedia News.com ~ Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kubu Raya menggelar evaluasi program kerja dan persiapan program kerja selanjutnya serta tasyakkuran sekretariat baru yang dihadiri seluruh   Pengurus Pimpinan Cabang Ansor Kubu Raya dan  perwakilan Pimpinan Anak Cabang (PAC) di 9  kecamatan Kubu Raya.

    Kegiatan tersebut dilaksanakan di sekretariat baru GP. Ansor Kubu Raya Jl. Trans Kalimantan Desa Lingga Kecamatan Sui Ambawang Kab. Kubu Raya. Ketua Ansor Kubu Raya Junaidi mengatakan, raker ini diikuti oleh pengurus ansor Kubu Raya dan perwakilan dari PAC. Ansor Se Kubu Raya yaitu sebanyak 25 orang.

    "Ada hadir disini dari Kecamatan Sungai Raya, Kubu, Sungai Ambawang,  Sungai Kakap dan Rasau Jaya, kenapa mereka kita hadirkan karena mereka harus tau juga program yang paling utama merepa itu apa, sekaligus sosialisasi PDPRT yang baru agar organisasi ansor di Kecamatan tertib administrasi" ujar Junaidi.

    Pertemuan ini dalam rangka evaluasi kegiatan yang sudah kita laksanakan dan bebera agenda program yang akan kita laksanakan untuk tahun kedepannya, tentunya akan kami selaraskan dengan program ansor wilayah kalbar seperti satu RT satu banser, tapi dalam beberapa agenda yang menjadi prioritas utama Gerakan Pemuda Ansor Kubu Raya adalah kaderisasi baik itu PKD dan Diklatsar banser karena dalam organisasi ansor kedua pengkaderan itu penting untuk membangun kader yang militan yang siap membawa ansor labih baik dan tangguh kedepannya.

    "Setiap pengurus harus punya prioritas dalam program kedepan, ansor kubu raya akan prioritaskan pengkaderan". Tegas Junaidi

    PKD yang akan dilaksanakan pada Bulan Oktober ini akan kita fokuskan kepada pada zona 1 yaitu PAC Rasau Jaya, Kubu dan Teluk Pakedai, dan pada penutupan nanti akan kita adakan Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 22 Oktober, yang juga kita akan kerjasamakan dengan beberapa Banom NU lainnya yang ada di Kubu Raya untuk pengkaderan selanjutnya tinggal menunggu kesiapan dari PAC lainnya.

    "Ansor ini lahir dari santri oleh karenanya agar para pendiri republik indonesia dan ansor percaya kepada kita bahwa kita masih terus setia membawa dan menjalankan tujuan ansor ini dibentuk, oleh karenanya pada penutupan PKD zona 1 akan kita adakan peringatan HSN (Hari Santri Nasional) 22 Oktober". Tambahnya.

    Adapun program yang sudah diplanningkan untuk kedepannya sekaligus menjadi prioritas pada tahun 2016 dan 2017 yaitu: Kaderisasi dan Diklatsar Banser. Dakwah, PHBI, Rijalul Ansor. Kajian dan Hubungan Antar Lembaga. Publikasi, Jurnalistik dan Pers. Advokasi hukum Serta Pendidikan Kesra, Penaggulangan Bencana.

    Kontributor : Firman
     

    HIKMAH

    ARABIC

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News