Top News :
    6f2685a723d5dd228092da7913ae853e

    Ajaran Kebangsaan Habib Luthfi Bin Yahya

    Muslimedianews.com ~ Banyak sufi sepanjang beratus-ratus tahun sudah meninggalkan cerita mengenai kebijaksanaan mereka terkait dengan raja-raja serta penguasa. Cerita Imam al-Bashri dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, al-Junaid, al-Bisthami serta al-Karkhi dengan tokoh penguasa semasanya. Walau demikian, sekarang ini masihlah ada beberapa kiai yang mengambil posisi senantiasa berhadap-hadapan, mengritik petinggi dengan argumen itu yang diajarkan beberapa ulama kita dulu selalu untuk mengambil posisi berjarak dengan pemerintah. Lantaran argumen itu, masihlah ada penceramah yang menjamah kehormatan petinggi serta mencabik-cabik nama baiknya di hadapan khalayak, dengan argumen mengritik pejabat merupakan ajaran beberapa ulama dulu serta yang sudah mereka contohkan.
    Habib Luthfi mengecam keras pandangan seperti itu. Menurut Habib Luthfi, para ulama dulu sebagian bersikap demikian lantaran sistem pemerintah waktu itu tidak sama dengan saat ini. Dulu berbentuk monarki serta rakyat sekalipun tidak bisa ikut serta dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Sekarang ini kita hidup dalam alam demokrasi, dimana peran aktif orang-orang serta tokoh agama begitu perlu untuk memberikan pertimbangan pada beberapa petinggi pemerintah dalam memastikan kebijakan. Lantaran lewat masukan orang-orang serta beberapa input dari golongan cerdik pandai pemerintah dapat mengambil policy yang pas. Pendirian Habib Luthfi seperti ini pada masa Orde Baru pasti tak populis. Nyaris semuanya kiai mengambil posisi berhadap-hadapan atau sekurang-kurangnya acuh pada penguasa. Seorang sufi besar, Ahmad bin Amad al-Barnasi al-Maghribi yang dikenal dengan Syaikh Zaruq (w. 899 H) menyampaikan: “...menjaga kestabilan itu hukumnya wajib. Serta memerhatikan kemaslahatan umum itu berbentuk pasti. Oleh karenanya beberapa ulama setuju kalau lakukan ‘makar’ pada pemimpin yang sah itu haram hukumnya, baik dalam perkataan ataupun perbuatan. Bahkan juga beberapa ulama setuju (ijma’; konsensus) sah shalat di belakang seseorang petinggi maupun orang umum yang baik ataupun yang dzalim sepanjang kefasikannya itu tak dikerjakan waktu shalat. Oleh karenanya Nabi Saw. bersabda, “Tidak mencemooh satu golongan orang-orang pada pemerintah mereka terkecuali mereka bakal terhambat dari kebaikan pemerintahnya itu.” Imam at-Tirmidzi meriwayatkan, “Tidak melakukan perjalanan satu golongan orang-orang menuju tempat pemerintah dengan maksud menjelek-jelekan pemerintah, terkecuali Allah bakal mengejekkan mereka".” Habib Luthfi memanglah cuma menyampaikan kita mesti menghormati pemerintah. Mesti menghormati Presiden. Sebab Presiden itu lambang Negara. Serta beberapa lambang Negara punya sifat sakral. Di balik ajarannya itu, nyatanya ada landasan filosofis serta didasarkan atas sebagian alasan syariat. Seperti dijelaskan dalam keterangan Syaikh Ahmad Zaruq di muka kalau menghormati pemerintah tidak cuma menjadi keharusan yang berasaskan kearifan budaya tetapi ajaran Nabi Saw. Nabi mengingatkan barangsiapa yang mencemooh pemerintah, Allah bakal mengejekkannya. Bila petinggi itu dapat dibuktikan lakukan tindak pidana, menurut Habib Luthfi ada mekanisme serta cara perlakuannya. Walau demikian pada prinsipnya jangan pernah mengakibatkan kerusakan kesakralan beberapa lambang Negara. Dalam pandangan Habib Luthfi menghormati pemerintah yaitu sisi yang tidak terpisahkan dari bentuk kecintaan pada Bangsa serta Negara. Jalinan baik Habib Luthfi dengan pemerintah dapat dilihat dari kehadiran Presiden RI pada perayaan Maulid Nabi Kanzus Shalawat pada tahun 2004 serta 2014. Gubernur serta Wakil Gubernur dari beragam provinsi, serta menteri-menteri dalam perayaan Maulid Nabi. (Dikutip dari buku “Sejarah Maulid Nabi; Meneguhkan Semangat Keislaman serta Kebangsaan Mulai sejak Khaizuran 173 H sampai Habib Luthfi bin Yahya 1947 M-Sekarang)

    Petisi Online: BUBARKAN ORMAS DAN KELOMPOK ANTI PANCASILA


    Sebuah petisi online yang berisi tentang tuntutan pembubaran ormas atau kelompok anti Pancasila dibubarkan telah terbit hari ini yang bisa diakses di https://www.change.org/p/joko-widodo-bubarkan-ormas-dan-kelompok-anti-pancasila.
    Dalam petisi itu dijelaskan latar belakang dan alasan mengapa muncul petisi ini. 
    Maraknya upaya memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa kita tak henti-hentinya. Provokasi, fitnah, adu domba dan hoax dengan sangat mudahnya menyebar di media sosial.
    Terkini, munculnya kelompok garis keras yang cenderung memaksakan kehendak semakin marak dan membahayakan. Mereka secara terbuka anti demokrasi dan ingin mendirikan khilafah di negara yang syah NKRI. Jika kelompok tersebut dibiarkan lambat laun akan berkembang dan mengancam kebhinekaan negara kita. Kelompok dan Organisasi Anti Pancasila itu musuh nyata keutuhan NKRI. Jangan biarkan kelompok itu berkembang dan tumbuh di negara kita.

    Habib Seggaf Bin Mahdi BSA; Habib Ramah di Balik Jubah

    Muslimedianews.com ~ Tanggal 15 Agustus 1945 lahirlah seorang bayi mungil dengan senyum manis di pangkuan ibunya di daerah Dompu, NTB (Nusa Tenggara Barat), dari pasangan Habib Mahdi dan Syarifah Balgis, beliaulah Habib Seggaf kecil. Dalam asuhan kedua orangtuanya, Habib Seggaf kecil tumbuh besar dan memasuki bangku pendidikan sampai SMP.

    “Nanti kamu jadi ulama besar dan kaya raya. Kamu masuk pondok saja. Berangkatlah tawakkaltu,” demikian nasihat Habib Shaleh bin Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar ulama besar dari Bondowoso, Jawa Timur usai ‘meneliti’ kaki Seggaf bin Mahdi yang masih berusia 14 tahun.

    Namun Seggaf muda masih ragu. Pasalnya sejak kecil ia tak pernah mondok. “Kepala seperti mau pecah mendengar perintah itu. Tapi saya pergi juga ke Pesantren Darul Hadits di Malang,” kenang Habib Seggaf, panggilan akrab Habib Seggaf bin Mahdi bin Syaikh Abu Bakar.

    Di depan pintu ponpes, Seggaf diterima pendiri Darul Hadits, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih. “Kamu musti belajar baca al-Quran,” kata Habib Abdul Qadir seraya memegang kuping Seggaf. Sontak, sakit kepala dan keraguan Seggaf hilang. “Hati saya terbuka. Ini guru saya. Apa pun yang terjadi, saya harus belajar di sini,” tekad Seggaf muda.

    Seggaf pun menempuh pendidikan di sana dengan cemerlang. “Saya menjadi santri hanya 2 tahun 7 bulan dan langsung ngajar fiqh dan nahwu. Saya di sana 13 tahun,” kenangnya.

    Sepulang dari Malang, Habib Seggaf berguru ke Masjid Sayyidina Abbas di Aljazair selama 5 tahun dan i’tikaf di Mekkah selama 5 tahun. Habib Seggaf juga memperdalam thariqah di Irak. Namun ia harus kembali ke Tanah Air. Guru thariqahnya yang beraliran Syadziliyah, merekomendasikannya belajar thariqah di Mranggen, Demak. “Karena thariqah Syadziliyah agak sulit di Indonesia, maka saya disuruh ke Mranggen yang beraliran Qadiriyyah. Syaikh Mushlih Mranggen itu guru thariqah saya,” ungkap Habib Seggaf.

    Habib Seggaf pun lantas kembali ke Dompu mendirikan Ponpes Ar-Rahman. Tak lama berselang, Habib Seggaf pindah ke Parung Bogor mendirikan Ponpes al-Ashriyyah Nurul Iman. Sebelum ke Parung, Habib Seggaf mendirikan Ponpes Nurul Ulum di Kali Mas Madya, Surabaya, yang banyak menerima murid dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Afrika.

    Sejak itu, undangan ceramah banyak datang dari negara tetangga. Ratusan ribu massa selalu memadati majelisnya di Singapura. “Bukan hanya orang Melayu dan Islam, orang Cina, India, Budha, Hindu dan lain-lain, telah memenuhi stadion Singapura sejak sore,” ujarnya.

    Kepandaiannya menguasai Qiraah Sab’ah –bacaan al-Quran dengan riwayat tujuh imam- membuatnya ditunggu majelisnya di Singapura. Namun kepandaiannya itu juga yang mengakibatkan Mufti Singapura menuduhnya mengutak-atik bacaan al-Quran. “Saya dituduh merusak al-Quran. Akibatnya ponpes saya di Surabaya disegel Depag dengan alasan takut bentrok antara Indonesia dengan Singapura. Tanah seluas 5 ha di Sekupang Batam yang diberi pemerintah juga ditarik kembali,” ungkapnya mengenang peristiwa di awal 1980-an itu.

    Habib Seggaf pun pindah ke Jakarta. Di Ibukota, Habib Seggaf menghidupkan majelis di Masjid Agung Bintaro. Krisis sosial-politik pasca jatuhnya Soeharto pada 19 Juni 1998, membuat Habib Seggaf memutuskan pindah ke Desa Warujaya, Parung, Bogor yang lebih tenang dibanding Jakarta.

    Ternyata, krisis ekonomi turut menghancurkan masyarakat Desa Warujaya. Hal itu memicu Habib Seggaf mengumpulkan anak-anak sekolah di rumahnya. “Sebelum sekolah, mereka makan nasi ketan di rumah. Tiap anak saya kasih uang jajan Rp. 250. Dan tiap keluarga kita bagi beras 5 kg,” katanya.

    Pada 1999, datanglah seorang santri asal Wonogiri, Solo, bernama Prawoto Suwito. Kedatangannya memberi spirit bagi Habib Seggaf untuk mendirikan Ponpes al-Ashriyyah Nurul Iman. Kian lama ponpesnya kian besar, hingga kini memiliki puluhan ribu santri. Selain beribadah dan belajar, ponpes itu juga melatih santrinya bertani, daur ulang sampah dan membuat roti.

    Diakui Habib Seggaf, ikhtiar ekonomi para santrinya belum cukup untuk menghidupi ponpes terbesar di Bogor itu. Karena itulah, dia menerima beberapa dermawan mensedekahkan hartanya untuk kepentingan ponpes. “Dua masjid itu sumbangan dari orang yang sama,” ungkap Habib Seggaf menjelaskan asal-usul dua masjid besar di dalam ponpes. Satunya berkapasitas 5.000 orang untuk santri laki-laki dan sebuah lagi berkapasitas 3.000 orang untuk santri perempuan.

    Tak hanya itu, beberapa perkumpulan agama non-Islam turut menyumbang konsumsi, tenaga pengajar, gedung olah raga dan asrama. Jadi, jangan heran jika di depan masjid agung ponpes berdiri dojo Taekwondo seluas 200 m2, sumbangan dari pengusaha Korea Selatan, Park Young Soo. “Guru Taekwondonya dari Korea. Kita juga memadukan zafin (tarian Arab) dengan Taekwondo. Sekarang sedang dipatenkan di Korea Selatan,” jelasnya.

    Ponpes itu juga memiliki gedung dua lantai, dengan 24 ruang kelas, 2 ruang guru, 32 kamar mandi dan 20 toilet. Pendidikan tsanawiyah, aliyah dan Universitas Habib Saggaf diselenggarakan di situ. “Gedung ini sumbangan dari Yayasan Buddha Tzu Chi,” jelasnya.

    Puluhan tempat bermukim para santri, banyak yang berasal dari infaq orangtua santri. Bahkan salah satu diantaranya adalah sumbangan dari organisasi keturunan India di Indonesia, Gandhi Sevaloka.

    Hadirnya beberapa bangunan dari sumbangan komunitas non-Muslim itu, menurut Habib, karena dirinya tak segan bergaul dengan siapa pun. “Kadang beberapa pendeta tidur di sini untuk mempelajari sistem ponpes ini,” akunya.

    Habib Seggaf juga terus menanamkan toleransi antar pemeluk agama di negeri ini. Karenanya, ia menyayangkan aksi kekerasan sekelompok orang dengan mencatut Islam. “Akibatnya Islam dipandang salah. Orang Islam dianggap ‘tukang makan orang’,” ujarnya lugas.

    Selain itu, kata Habib Seggaf, rusaknya citra Islam juga karena ajaran Islam disalahpahami. “Itu, orang-orang yang ngaku mujahid. Mujahid apa itu, berontak di negara orang. Mereka bikin kacau Indonesia. Kalau saya presiden, saya usir mereka. Saya tangkap dan saya suruh tinggal di Arab. Jadi, jika kita ingin memperbaiki, jangan yang sudah rusak dirusak lagi. Itu baru mujahid,” himbaunya.

    Untuk itu, ia mengimbau kelompok yang mengusung nama Islam agar menyelesaikan persoalan melalui mekanisme hukum. “Ini Indonesia. Ada pemerintah, ada hukum, dan ada polisi. Mereka yang menjaga keamanan. Jika tidak melalui jalur hukum, berarti ingin mendirikan negara dalam negara. Tapi pemerintah juga salah, koq orang-orang kayak begitu dibiarkan. Mereka itu bisa merusak Indonesia,” tandasnya.

    Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman didirikan 16 Juni 1998 menekankan kedisiplinan, maningkatakan kekuatan pribadi dengan ilmu agama dan umum plus kecakapan hidup (life skills) berbasis kompetensi. Pesantren ini memadukan sistem madrasah dan sekolah umum serta pengajian kitab-kitab klasik.

    Kata-kata Mutiara Habib Seggaf bin Mahdi BSA

    1.      “Jangan tunjukan ilmumu di dalam tempat orang berilmu, nanti ketahuan.”
    2.      “Fanatik itu bisa merusak fakta sejarah. Fanatik harus berdasar ilmu yang benar.”
    3.      “Kalau kamu bisa mengawinkan ilmu pengetahuan dengan al-Quran, kamu bisa jadi presiden.”
    4.      “Ilmu itu meyakinkan kita kepada kebesaran dan kekuasaan Allah Swt.”
    5.      “Ilmu kalau hanya untuk kepentingan kamu saja, tidak untuk kepentingan orang banyak, itu ilmu setan.”
    6.      “Salah yaitu berbuat sesuatu di luar ilmu.”
    7.      “Ilmu itu tergantung hatimu, kalau kau buka lebar-lebar hatimu ilmu itu akan masuk.”
    8.      “Ilmu itu perhiasan hidup. Contoh hidup harus berilmu dan pengalaman.”
    9.      “Ilmu pengetahuan kalau mudharat harus ditinggalkan.”
    10.  “Ilmu itu mulianya kepada kamu kalau dihafal.”
    11.  “Ilmu pengetahuan tidak akan bertambah kecuali dengan banyak membaca.”
    12.  “Ilmu suluk sudah ada sejak dari dulu dan berlaku sampai sekarang (ilmu thariqah).”
    13.  “Orang yang paling mulia adalah orang yang punya ilmu dan bisa bekerja.”
    14.  “Munculnya ilmu pengetahuan dari falsafah, Islam dari wahyu. Sehingga orang belajar al-Quran dulu baru kemudian belajar falsafah.”
    15.  “Orang yang berjalan di jalan Allah Swt., ilmu apapun ia akan dapatkan dengan ridha Allah Swt.”
    16.  “Ciri-ciri orang Islam adalah berilmu pengetahuan dan percaya diri.”
    17.  “Janganlah pernah merasa malu dengan ilmu yang kamu miliki.”
    18.  “Iman itu harus dengan cinta kepada Allah Swt. dan Rasulullah Saw. Untuk derajat dengan iman, amal dan ilmu.”
    19.  “Beriman itu sumbernya ikhlas. Sedangkan pokok kehidupan manusia kepada Allah Swt. adalah iman, yang lain itu cabangnya.”
    20.  “Kalau orang sering melihat ciptaan Allah Swt. maka akan bertambah keimanannya.”
    21.  “Iman lebih dulu daripada Islam.”
    22.  “Barangsiapa beriman kepada Allah Swt. dia tidak takut rugi dikurangi kebaikannya dan ditambah dosanya.”
    23.  “Derajat iman orang awam adalah iman dengan rasa.”
    24.  “Sumber iman adalah Nabi Muhammad Saw. Karena itu syarat penempuhan iman harus ketemu Nabi Muhammad Saw.”
    25.  “Iman itu selalu waspada akan perintah dan larangan.”
    26.  “Terwujudnya iman yang sempurna apabila hati itu sudah mukhlis (ikhlas), syukur,dan tidak suka membuka rahasia seseorang yang jelek bahkan selalu mendoakannya supaya orang itu mendapat petunjuk.”
    27.  “Jika basyariyah hilang dari manusia, maka dia hilang imannya lalu menjadilah ia hayawan dalam wujud manusia.”
    28.  “Iman itu di atas yaqin dan percaya.”
    29.  “Iman itu pembenaran secara murni, membenarkan yang benar (tasdhiq).”
    30.  “Iman baru diterima apabila adanya kepercayaan hati. Sesuatu yang sudah dilihat tidak perlu iman, yang diperlukan iman adalah sesuatu yang tidak terlihat. Karena itu apabila orang sudah melihat hari kiamat iman mereka setelah melihat itu tidak diterima.”
    31.  “Hati itu hanya bisa untuk satu masalah. Oleh karena itu kalau lisannya berdzikir tetapi hatinya tidak, itu adalah paling rendahnya iman.”
    32.  “Tugas hamba itu adalah menerima secara mutlak ikhlasul iman.”
    33.  “Kapan ada dosa? Kalau niatnya tidak baik.”

    Shalawat Pohon Uang

    Habib Seggaf bin Mahdi berpesan kepada para murid dan jamaahnya untuk tidak meninggalkan shalawat kapanpun dan dimanapun berada. Beliau juga sering mewasiatkan sebuah amalan sehari-hari kepada para santri maupun tamu yang berkunjung ke rumahnya berupa “Shalawat Syajaratun Nuqud” (shalawat pohon uang). Berikut ini adalah teks shalawat tersebut:

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحًمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحًمَّدٍ
    (Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad)

    Habib Seggaf bin Mahdi mengijazahkan amalan shalawat tersebut untuk dibaca 400 kali setiap ba’da shalat Isya. Menurut penuturan beliau, orang yang mengamalkan Shalawat Syajaratun Nuqud insyaAllah akan senantiasa dimudahkan segala urusannya dan dilancarkan rejekinya bagaikan mempunyai sebuah pohon uang di depan rumah.

    Beliau juga tidak keberatan dan mempersilakan siapapun untuk mengamalkan shalawat tersebut. Berikut adalah video ceramah Habib Seggaf bin Mahdi di Jepara saat menyampaikan shalawat pohon uang: https://youtu.be/BTUVltZ1EIg

    Habib Seggaf bin Mahdi, Pendiri Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor itu wafat pada Jum’at, 12 November 2010 M/5 Dzhulhijjah 1431 H pada pukul 09.15 WIB. Beliau adalah tokoh ulama yang diyakini berkaromah, berpenampilan kharismatik dan penuh wibawa, selalu mengajarkan toleransi antar pemeluk agama. Senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, membuat semua orang ingin dekat diakui sebagai muridnya. Semoga sekilas pandang tentang seorang tokoh ulama Indonesia ini dapat menjadi tauladan dan motivasi kita semua. (Sumber: IbjmArt.Com)
     

    HIKMAH

    ARABIC

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News