Top News :
    6f2685a723d5dd228092da7913ae853e

    Hasil Rekomendasi Konferensi Internasional di Chechnya (25-27 Agustus 2016)

    Muslimedianews.com ~ Muktamar (Konferensi) bertajuk “Siapakah Ahlussunnah wal Jama’ah? Penjelasan Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah; Akidah, Fikih dan Akhlak serta Dampak Penyimpangan darinya di Tataran Realitas” yang diselenggarakan hari Kamis (25-27/08/2016) dihadiri Grand Syaikh al-Azhar, para mufti dan lebih dari 200 ulama seluruh dunia. Berikut 10 rekomendasi Muktamar Ahlussunnah wal Jama’ah Chechnya:

    بسم الله الرحمن الرحيم

    أهل السنة والجماعة هم الأشاعرة والماتريدية في الاعتقاد وأهل المذاهب الأربعة في الفقه، وأهل التصوف الصافي علمًا وأخلاقًا وتزكيةً. - للقرآن الكريم حرم يحيطه من العلوم الخادمة له، المساعدة على استنباط معانيه، وإدراك مقاصده وتحويل آياته إلى حياة وحضارة وآدابا وفنون وأخلاق ورحمة وراحة وإيمان وعمران وإشاعة السلم والأمان في العالم حتى ترى الشعوب والثقافات والحضارات المختلفة عيانا أن هذا الدين رحمة للعلمين وسعادة في الدنيا والآخرة.
    هذا المؤتمر نقطة تحول هامة وضرورية لتصويب الانحراف الحاد والخطير الذي طال مفهوم "أهل السنة والجماعة" إثر محاولات اختطاف المتطرفين لهذا اللقب الشريف وقصره على أنفسهم وإخراج أهله منه.

    Ahlussunnah wal Jama’ah adalah al-Asya’irah dan al-Maturidiyah dalam akidah, empat madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali dalam fikih, serta ahli tasawuf yang murni –ilmu dan akhlak— para ulama yang meniti jalannya.

    Al-Quran al-Karim adalah bangunan yang dikelilingi oleh berbagai ilmu yang membantu untuk menggali makna-maknanya dan mengetahui tujuan-tujuannya yang mengantarkan manusia kepada ma’rifat kepada Allah Swt., mengeluarkan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya, mengejawantahkan kandungan ayat-ayatnya ke dalam kehidupan, peradaban, sastra, seni, akhlak, kasih sayang, kedamaian, keimanan dan pembangunan. Serta menyebarkan perdamainan dan keamanan di seluruh dunia sehingga bangsa-bangsa lain dapat melihat dengan jelas bahwa agama ini adalah rahmat bagi seluruh alam, serta jaminan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

    Muktamar ini merupakan titik balik yang berkah untuk meluruskan penyimpangan akut yang berbahaya yang mendominasi pengertian “Ahlussunnah wal Jama’ah” setelah berbagai upaya pencatutan kalangan ektremis akan istilah ini dan membatasinya hanya pada diri mereka serta mengafirkan umat Islam lainnya.

    توصيات:
    (REKOMENDASI)

    أوصى المؤتمر بإنشاء قناة تليفزيونية على مستوى روسيا الاتحادية لتوصيل صورة الإسلام الصحيحة للمواطنين ومحاربة التطرف والإرهاب.

    1.      Membuat channel TV  di  Rusia untuk menyampaikan citra Islam yang benar kepada masyarakat dan memerangi ekstremisme dan terorisme.

    زيادة الاهتمام بقنوات التواصل الاجتماعي وتخصيص ما يلزم من الطاقات والخبرات للحضور الإيجابي في تلك الوسائط حضورًا قويًا وفاعلًا.

    2.      Perlunya memberikan kepedulian dan perhatian kepada berbagai media sosial, dan mengerahkan kemampuan dan keahlian yang diperlukan untuk ikut mewarnai dan memberikan dampak yang kuat di media-media tersebut.

    أن يتم إنشاء مركز علمي بجمهورية الشيشان لرصد ودراسة الفرق المعاصرة ومفاهيمها وتشكيل قاعدة بيانات موثقة تساعد على التفنيد والنقد العلمي للفكر المتطرف واقترح المجتمعون أن يحمل هذا المركز اسم "تبصير".

    3.      Membangun Pusat Ilmiah yang kuat di Republik Chechnya untuk memantau dan mempelajari aliran-aliran kontemporer dan konsep-konsepnya, dan membuat data terpercaya untuk membantu membantah dan mengkritik secara ilmiah terhadap pemikiran ekstrem dan berbagai wacananya. Dan para hadirin di Muktamar mengusulkan pusat ilmiah ini bernama “Tabshir” (Pencerahan).

    عودة مدارس العلم الكبرى والرجوع إلى تدريس دوائر العلم المتكاملة التي تخرج العلماء والقادرين على تفنيد مظاهر الانحراف الكبرى.

    4.      Menyadarkan kembali berbagai lembaga pendidikan Islam yang besar akan jati dirinya, sejarah dan metodologi pendidikan mereka yang otentik dan klasik, dan kembali mengajarkan lingkaran ilmu pengetahuan yang integral, yang dapat melahirkan para ulama yang mampu membimbing umat, membantah berbagai fenomena penyimpangan pemikiran, dan menyebarkan ilmu pengetahuan dan perdamaian, serta menjaga tanah air.

    ضرورة رفع مستوى التعاون بين المؤسسات العلمية العريقة كالأزهر الشريف والقرويين والزيتونة وحضرموت ومراكز العلم والبحث فيما بينها ومع المؤسسات الدينية والعلمية في روسيا الاتحادية.

    5.      Perlunya meningkatkan kerjasama antara berbagai lembaga pendidikan yang bergengsi, seperti al-Azhar asy-Syarif, al-Qarawiyyin, Zaitouna, dan Hadhramaut serta pusat-pusat ilmu pengetahuan dan penelitian, dengan lembaga-lembaga keagamaan dan ilmiah di Federasi Rusia.

    ضرورة فتح منصات تعليمية للتعليم عن بعد لإشاعة العلم الآمن.

    6.      Pentingnya membuka sistem belajar-mengajar jarak jauh untuk menyebarkan ilmu yang benar, dimana sistem itu akan dapat melayani orang-orang yang ingin belajar namun terkendala pekerjaan mereka dari mengikuti pendidikan secara formal.

    توجيه النصح للحكومات بضرورة دعم المؤسسات الدينية والمحاضن القائمة على المنهج الوسطي المعتدل والتحذير من خطر اللعب على سياسية الموازنات وضرب الخطاب الديني ببعضه.

    7.      Memberikan saran kepada pemerintah akan pentingnya mendukung lembaga-lembaga keagamaan dan instansi-instansi pendidikan  yang moderat, dan memperingatkan akan bahaya apa yang dilakukan beberapa pemerintah yang bermain kebijakan dengan mengadu domba wacana keagamaan dengan wacana yang lain. Karena itu justeru akan semakin menambah kecemasan masyarakat, dan memecah persatuan mereka.

    يوصي المؤتمر الحكومات بتشريع قوانين تجرم نشر الكراهية والتحريض على الفتنة والاحتراب الداخلي والتعدي على المقدسات

    8.      Para peserta Muktamar merekomendasikan kepada Pemerintah untuk membuat perundang-undangan yang mengatur tentang sanksi atas penyebaran kebencian, saling memfitnah, dan perselisihan antar kelompok, serta pelanggaran lain di tempat yang suci.

    أوصى المشاركون مؤسسات أهل السنة الكبرى، الأزهر ونحوه، بتقديم المنح الدراسية للراغبين في دراسة العلوم الشرعية من مسلمي روسيا.

    9.      Para peserta merekomendasikan instansi-instansi Ahlussunnah yang besar – al-Azhar dan semisalnya- untuk memberikan beasiswa bagi Muslim Rusia yang ingin belajar ilmu-ilmu syariat.

    كما أوصى المشاركون بأن ينعقد هذا المؤتمر الهام بشكل دوري لخدمة هذه الأهداف الجليلة.

    10.  Para peserta merekomendasikan agar Muktamar penting ini diselenggarakan secara berkala, untuk senantiasa mengkhidmah tujuan mulia ini, dan mengikuti berbagai tantangan yang muncul dan menghadapinya.

    كما تقدم المشاركون بالشكر لفخامة الرئيس رمضان أحمد قديروف لجهوده المباركة في خدمة القرآن الكريم والسنة المطهرة.

    Para peserta Muktamar menyampaikan rasa terimakasih yang sangat besar kepada Presiden Ramdhan Ahmad Kadyrov atas segala upayanya dalam berkhidmah kepada al-Quran dan as-Sunnah yang suci.

    صدر في جروزني، جمهورية الشيشان 24 ذو القعدة 1437هـ، 27 أغسطس 2016.
    (Dirilis di Grozny, Chechnya, 24 Dzulqa’dah 1437 H/27 Agustus 2016 M).

    Para peserta Muktamar mendoakan Presiden Ramdhan Ahmad Kadyrov agar senantiasa sukses untuk melanjutkan perjuangan ayahnya asy-Syahid Syaikh Haji Ahmad Kadyrov dalam berkhidmah kepada Islam dan kemanusiaan, serta membela akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Mereka semua secara khusyuk menengadahkan tangan kepada Allah, agar senantiasa memberikan rahmat dan ridhaNya kepada asy-Syahid Syaikh Haji Ahmad Kadyrov yang merupakan kehilangan besar bagi umat Islam, serta memberikan kemuliaan kepada beliau di surga. Dan semoga Allah menjaga Chechnya dan selalu memberinya keselamatan, keamanan, kemajuan dan kemakmuran.

    Para peserta juga mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Kantor Kepresidenan untuk kerjasamanya yang baik dengan para penyelenggara, Yayasan Sosial Daerah atas nama Pahlawan Rusia Syaikh asy-Syahid Ahmed Kadyrov, Yayasan Sosial yang mendukung budaya Islam, ilmu pengetahuan dan pendidikan, Yayasan Tabah, dan seluruh yang berpartisipasi dalam mengurus dan mengatur Muktamar ini.

    Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau semuanya. (Sumber: Fp Alhabib Ali Al Jifri الحبيب علي الجفري  dan ruwaqazhar.com)

    Jasser Auda: Imam al-Ghazali Masa Kini

    Jakarta, Muslimedianews ~ Bagi pengkaji hukum Islam kontemporer, nama Jasser Auda jelas tidak asing lagi. Ia termasuk intelektual muslim yang tengah naik daun belakangan ini. Karya-karyanya tidak hanya diapresiasi di Timur-Tengah, tetapi juga didiskusikan oleh ilmuwan Barat, khususnya Amerika.

    Jasser dilahirkan di Kairo tahun 1996. Masa mudanya dihabiskan untuk belajar agama di Masjid al-Azhar dari tahun 1983 sampai 1992. Sembari mengaji di al-Azhar, dia kuliah di Universitas Kairo jurusan ilmu komunikasi. Ilmu komunikasi ini digelutinya hingga meraih gelar MSc (Master of Science) pada kampus yang sama.

    Setelah mendapatkan gelar tersebut, pengagum Von Bartanlanffy ini pindah ke Kanada untuk melanjutkan studi doktoralnya. Kali ini dia memilih kosentrasi yang agak berbeda dari sebelumnya, yaitu analisis sistem.

    Analisis sistem ini sebenarnya sebuah disiplin baru yang dipopulerkan oleh Bartanlanffy dan Lazlo. Bartanlanffy sendiri awalnya seorang ahli biologi. Melalui ilmu ini dia memperhatikan bahwa organ tubuh manusia ternyata saling terkait antara satu sama lainnya. Misalnya, ketika ada orang sakit jantung, bukan berati penyebabnya karena kerusakan pada jantung semata, tetapi bisa jadi karena ada organ atau sel lain yang rusak, yang mempengaruhi kinerja jantung.

    Model berpikir seperti ini dikembangkan Bartanlanffy hingga menjadi teori mapan, yang dapat diaplikasikan dalam ilmu fisika, administrasi, manajemen, bahkan hukum Islam. Dalam konteks hukum Islam, Jasser merupakan ilmuwan pertama yang mengembangkan pendekatan sistem untuk menganalisa problematika hukum Islam. Amin Abdullah mengatakan, apa yang dilakukan Jasser ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dalam kesempatan lain, Amin Abdullah meramalkan Jasser sebagai intelektual yang berpotensi mendialogkan paradigma ‘ulumuddin, al-fikrul Islami, dan Dirasah Islamiyah.  

    Ini bukanlah pujian yang berlebihan, sebab setelah menguasai filsafat sistem, Jasser mempelajari hukum Islam dengan sangat sungguh-sungguh: dia memulai studi strata satu dan magisternya dalam bidang hukum Islam di Universitas Islam Amerika, kemudian melanjutkan doktoral pada bidang yang sama di Universitas Wales Inggris.

    Yusuf al-Qardhawi, Thaha Jabir al-Alwani, Hasan Turabi, dan Isma’il Sadiq al-‘Adawi termasuk tokoh yang mempengaruhi pemikiran hukum Islam Jasser Auda. Mereka ini dikenal sebagai intelektual yang acapkali menggemakan pembaharuan hukum Islam, tidak hanya diranah fikih, tetapi juga ushul fikih. 

    Dilihat dari latar belakang pendidikannya tampak bahwa Jasser tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga mendalami ilmu umum. Safvet Halilovic, Profesor Tafsir dan Antropologi al-Qur’an Universitas Zenica, menyebut Jasser sebagai intelektual muslim kontemporer yang berwawasan luas, memiliki pengetahuan mendalam tentang Islam, dan memahami realitas kekinian umat Islam dengan baik.

    Kontribusi Jasser Auda
    Jasser memiliki kontribusi besar dalam pembaharuan metodologi hukum Islam.  Salah satu karyanya yang menginspirasi ialah Maqashid al-Shari’ah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach. Dalam buku ini, Jasser berusaha membincang tiga ilmu sekaligus: maqashid al-shari’ah, ushul fikih, dan filsafat sistem. Ketiga pengetahuan ini sebelumnya terpisah dan tidak terkoneksi antara satu sama lainnya. Menariknya, Jasser mampu membuatnya menjadi satu-kesatuan dan saling terintegrasi. Apa yang dilakukannya tidak jauh berbeda dengan usaha al-Ghazali mengadopsi ilmu logika untuk memperbaiki metodologi hukum Islam. 
    Menurut Jasser Auda, seorang ahli hukum harus melek perkembangan ilmu pengetahuan. Karena dengan itulah hasil ijtihad yang dikeluarkan seorang ahli fikih bisa relevan dengan masanya. Hukum Islam tidak akan produktif dan relevan jika ditilik dari satu perspektif saja. Semua disiplin terkait perlu dilibatkan untuk membaca hukum Islam. 

    Ia mengatakan, perubahan hukum dipengaruhi oleh perubahan pandangan dunia (worldview) ahli fikih. Artinya, semakin luas wawasan seorang ahli hukum, maka pemahamannya terhadap hukum Islam akan semakin dalam dan komprehensif.  Baginya, hukum Islam (baca: fikih) itu bersifat cognitive nature, ia adalah produk pemikiran, bukan wahyu. Oleh karenanya, tidak mustahil orang sekarang  melakukan perombakan hukum Islam tradisional, termasuk metodologinya. 

    Dalam membaca teks, yang perlu diperhatikan menurut Jasser ialah substansi teks (maqashid), bukan bentuk formalnya (makna tekstual). Makna tekstual penting diperhatikan hanya untuk kasus ibadah saja, sementara untuk kasus mu’amalah dan hukum publik, substansi teks lebih diprioritaskan ketimbang legal formalnya. Oleh sebab itu, Jasser menolak penerapan hudud di negara demokrasi. Sebab bentuk hukuman yang ada di negara demokrasi, seperti Indonesia, tidak bertentangan dengan prinsip dasar syariat, yaitu sama-sama menjamin keadilan. 



    Oleh: Hengki Ferdiansyah, Pimred Bincang Syariah.com dan saat ini sedang menyelesaikan tesis berjudul Paradigma Hukum Islam Jasser Auda 






    Sejarah Disyariatkan Wudhu

    Jakarta, Muslimedianews ~ Kita, umat muslim di Indonesia khususnya, sudah memiliki cara pandang kalau wudhu dan salat adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Dalam penjelasan fikih, wudhu dikenal sebagai syarat sah salat. Dengan kata lain, salat kita tidak bisa disebut sah jika tidak melaksanakan wudhu. 
    Yang juga umum diketahui, adalah kapan perintah salat pertama kali diturunkan. Biasanya, di setiap acara memperingati peristiwa Isra’ Miraj, para da’i biasanya akan bercerita bahwa pada peristiwa ini Rasulullah Saw. diberikan perintah salat. Salat pada awalnya diperintahkan sebanyak 50 waktu. Lalu atas “masukan” Nabi Musa As. kepada Nabi Muhammad Saw., diturunkan sampai hanya 5 waktu saja. 
    Tapi, jarang yang bertanya kapan pertama kali disyariatkannya wudhu ? apakah ia diperintahkan bersama dengan salat, atau terpisah, atau sesudahnya, atau sebelumnya ? 
    Di beberapa kitab fikih, seperti Fath al-Mu’in, tidak disebutkan kapan wudhu disebutkan, disana hanya disebutkan kalau shalat disyariatkan sebelum hijrah ke Madinah, pada tahun ke-10 kenabian Muhammad Saw. Dalam pendapat yang sama di kitab fikih Syafi’iyyah lain, seperti Hasyiyah Qalyubi ‘ala al-Mahalli. Imam Qalyubi, penulis kitab juga memberikan sejumlah pendapat lain. Menurutnya, ada yang berpendapat kalau wudhu baru disyariatkan pada tahun ke-16 kenabian. Namun, menarik karena al-Qalyubi juga menghadirkan pendapat yang menyatakan kalau syariat wudhu adalah syariat umat-umat sebelumnya. 
    Penjelasan yang ber-genre sejarah seputar ibadah salat dapat ditemukan dalam sebuah buku setebal 94 halaman berjudul Tarikh al-Shalat karya Dr. Jawwad Ali. Sebagai seorang sejarawan, ia mengelaborasi sejarah syariat wudhu, dengan memulai penjelasan lewat tradisi Islam. Hadis pun dipilih sebagai penyokong penjelasannya yang pertama. Riwayat al-Baihaqi dalam al-Dalail al-Nubuwwah menyebutkan bahwa berwudhu disyariatkan bersamaan dengan pengajaran shalat oleh malaikat Jibril kepada Nabi Saw.

    عن محمد بن إسحاق قال وكانت خديجة أول من آمن بالله ورسوله وصدق بما جاء به قال ثم أن جبريل عليه السلام أتى رسول الله حين افترضت عليه الصلاة فهمز له بعقبه في ناحية الوادي فانفجرت له عين من ماء مزن فتوضأ جبريل ومحمد عليهما السلام ثم صليا ركعتين وسجدا أربع سجدات ثم رجع النبي قد أقر الله عينه وطابت نفسه وجاءه ما يحب من الله فأخذ بيد خديجة حتى أتى بها العين فتوضأ كما توضأ جبريل ثم ركع ركعتين وأربع سجدات هو وخديجة ثم كان هو وخديجة يصليان سرا
    “Dari Muhammad ibn Ishaq berkata: bahwa Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada Allah Swt. dan rasulnya dan meyakini kebenaran ajarannya. Kemudian, Jibril alaihi-s-salam mendatangi Rasulullah Saw. ketika sudah (diturunkan perintah) diwajibkan shalat. Lalu, Malaikat Jibril menekan tumitnya disalah satu sisi lembah, lalu memanucurlah mata air dingin dan digunakan oleh malaikat Jibril dan Nabi Muhammad Saw. berwudhu, kemudian mereka berdua shalat dua rakaat dan empat sujud. Setelahnya, Rasulullah Saw. pulang dan mata airnya itu dijadikan oleh Allah tetap memancur, senanglah perasaan Rasulullah dan kembali kemata air itu bersama Khadijah untuk melakukan shalat. Keduanya berwudhu seperti yang dilakukan Jibril, kemudia shalat dua rakaat dan empat sujud secara sembunyi-sembunyi.” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah)
    Dari hadis ini pula, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pendapat dikalangan pakar sejarah mengenai tahun terjadinya Isra’ Mi’raj dan wafatnya Khadijah. Ibn Ishaq, seperti yang kemudian dikutip Ibn Hisyam menyatakan bahwa Khadijah baru wafat setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. Sehingga, wudhu pun sudah diketahui oleh Khadijah dan beberapa umat muslim lain sebelum hijrah ke Madinah. 

    Bagaimana Soal Ayat “Idza qumtum ila-s-shalaati fa-ghsiluu wujuuhakum...” ?
    Sementara, yang berpendapat kalau baru disyariatkan di Madinah, berpegang kepada asbab al-nuzul ayat 5 dari surah al-Maidah ini. Tahir ibn ‘Ashur, mufasir asal Tunisia memaparkan bahwa melihat surah al-Maidah adalah diantara surat yang turun paling akhir, maka ayat ini tidak menunjukkan kalau wudhu baru disyariatkan, justru wudhu sudah diajarkan bersamaan dengan shalat, berdasarkan hadis riwayat al-Baihaqi tadi. Sementara kedudukan ayat ini, adalah paparan tentang diantara nikmat-nikmat Allah Swt. yang diberikan kepada umat manusia yang bertakwa. Demikan pendapat Ibn ‘Ashur dalam tafsirnya. Atau, seperti yang disampaikan Ibn Hazm dalam karyanya dibidang sejarah, al-Sirah al-Halbiyah seperti dikutip Jawwad Ali, bahwa perintah wudhu sifatnya adalah makiyyun fi al-fardh, wa madaniyyun fi al-tilaawah (diwajibkan di Mekkah, namun diturunkan nash Qurannya di Madinah), Wallahu A’lam. 



    Oleh: Masrur Irsyadi, Peneliti Hadis di el-Bukhari Institute.

     

    HIKMAH

    ARABIC

    KHUTBAH

    TASHAWUF

    FIGURE / TOKOH

    SYUBHAT & BANTAHAN

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News