Top News :
    6f2685a723d5dd228092da7913ae853e

    Baguslah Kau Bangga Jadi Wahhabi

    Muslimedianews.com ~KAU BANGGA  JADI WAHHABI
    Curahan Hati Hamba Allah Yang Tak Mau Ikut Wahhabi

    Kau bangga jadi wahhabi
    Terserah kau, ku tak peduli
    Tapi, kita ketahui, kau juga sadari
    Bahwa kau memang Wahhabi

    Baguslah, tidak kau Ingkari
    Bahwa kau adalah Wahhabi
    Kau mengaku ikut sunnah Nabi
    Padahal kau t'lah akui, kau adalah Wahhabi
    Pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi

    Kau tahu cirimu sebagai Wahhabi
    Kebanyakan kau memang berjidat hitam didahi
    Nabi & sahabat tak bertanda hitam didahi
    Karena itu lebih ke tanda riya', penyakit hati
    Hanya jenggot, sudah sok paling ikut Sunnah Nabi
    Padahal pengetahuan tentang sunnah baru se-ujung jari

    Kau tahu cirimu sebagai Wahhabi
    Celana cingkrang kau banggai
    Lagi-lagi merasa paling ikut Sunnah Nabi
    Lalu yang lain kau tuduh haram dan sesati
    Pernahkah kau lihat mufti Saudi ?
    Pakai jubah sampai menyapu lantai
    Kau pura-pura tak pernah plototi
    Cobalah kau pahami hadits Nabi
    Isbal haram kalau disertai sikap takabburi

    Kau tahu cirimu sebagai Wahhabi
    Karena kau memang Wahhabi
    Kau enggan tahlilan dan maulid Nabi
    Tahlilan dzikir dan do'a untuk orang mati
    Kau ingkari karena kau tak mengerti
    Gembira dan bersyukur dengan kelahiran Nabi
    Kau juga ingkari, bahkan kau sesati
    Lalu kau mengaku cinta Nabi ?!

    Ibnu Abdul Wahhab At-Tamimi kau peringati
    Perayaan selama 1 pekan tiada henti
    Dihadiri pejabat kerajaan dan mufti Saudi
    Ku tahu, tidak semua kau seperti Saudi
    Bahkan kau lebih Saudi dari Saudi

    Kau bangga jadi wahhabi
    Katamu "Biarlah aku digelari salafy-wahabi"
    Tapi ternyata kau tak mau disebut Wahhabi
    Bahkan kau berniat untuk balas mencaci
    Mencaci mereka yang menyebutmu Wahhabi

    Tapi, kau tetap banggga jadi wahhabi
    Kau kira, gelar wahhabi itu sebuah puji
    Kau kira, "wahhabi" nisbat pada Ilahi
    Kau kira, wahhabi nisbat ke Ibnu Rustum al-Wahbi
    Kau tak bisa bedakan antara Wahbi dan Wahhabi
    Ibnu Rustum pengikut Wahbi, kau kira pengikut Wahhabi
    Kau juga kira, Wahhabi buatan Syi'i
    Kau juga kira, orang kafir bikin istilah Wahhabi
    Kau sebenarnya bingung pada diri sendiri
    Sekuat tenaga kau berupaya mengingkari
    Harusnya, kau tetap bangga dengan wahhabi
    Kau pahami, sadari dan jangan ingkari
    Wahhabi nisbat kepada Ibnu Abdul Wahhab At-Tamimi

    Kau bangga jadi wahhabi
    Tapi kau Wahhabi tak kenal jati diri
    Mengaku ikut madzhab Hanafi, Maliki, Hanbali dan Syafi'i
    Disisi lain, anti madzhab ulama pewaris Nabi
    Anti madzhab pada hakikatnya punya madzhab sendiri
    Ini saja tidak kau pahami

    Kau bangga jadi wahhabi
    Katamu "aku ikut pendapat yang sesuai sunnah Nabi"
    Menimbang pendapat ulama saja kau tak mengerti
    Kau masa bodoh dengan hal ini
    Karena kau memang bukan seorang "Madzhabi"

    Masyarakat muslim ikuti tradisi
    Kau bilang ikut tradisi nenek moyang yang tidak Islami
    Padahal yang mereka ikuti adalah tradisi Islami
    Yang sudah ditimbang dengan dalil-dalil syar'i
    Ulama dan kiai sudah melakukan filterisasi
    Mana yang boleh dan tidak boleh lestari
    Kaulah yang tidak mengerti

    Kau sinis pada Kiai
    Masyarakat kau kira ikut madzhab Kiai
    Padahal kiai mengajarkan madzhab Syafi'i
    Kaulah yang tidak mengerti

    Kau bangga jadi wahhabi
    Sufi dan ajaran tasawuf lagi-lagi kau sesati
    Jika begitu,"Bagaimana bisa kau jadi baik", kata Imam al-Syafi'i
    Cara beragamamu pincang, tak kau sadari
    Tak mengerti Islam, Iman dan Ihsan yang dari Nabi

    Kau banggga jadi wahhabi
    Kerajaan Saudi paling kau puja-puji
    Terbentuk dari tiga serangkai yang berkolaborasi
    Ibnu Saud, Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dan Britani
    Itulah kenapa namanya Arab Saudi
    Kerajaan keluarga bani Saud, bukan keturunan Nabi

    Kau bangga jadi wahhabi
    Tawassul dengan yang wafat, kau sesati
    Padahal tawassul itu do'a dengan sesuatu yang dicintai Ilahi
    Nabi adalah manusia yang dimulyakan oleh Allah Rabbi
    Kau kira, wafatnya Nabi tiada arti
    Itulah beda wahhabi dengan Aswaja (Sunni Asli)
    Tawassul telah jadi tradisi ulama Sunni
    Bahkan tawassul juga dilakukan oleh Shahabi
    Kaulah yang tidak mengerti

    Kau bangga jadi wahhabi
    Katamu, "jangan konsumsi hadits imitasi"
    Kau sebut imitasi karena tak ditashhih Al-Albani
    Padahal Albani dikenal tanaqudh/kontradiksi

    Kau bangga jadi wahhabi
    Mengklaim ikut pemahaman Shahabi
    Padahal kau t'lah akui, kau adalah Wahhabi
    Jangan-jangan kau tak mengerti diri sendiri
    Kau dalam kebid'ahan wahhabi, tak juga kau mengerti
    Gencar menuduh syirik, padahal kau Mujassimi
    Kau syirikkan, ziarah kubur sunnah yg jadi tradisi
    Kau syirikkan, do'a bit-tawassul pada ilahi
    Kau syirikkan, tabarruk dengan peninggalan Nabi
    Semua itu sunnah yang kau tuduh ingkar ajaran Nabi
    Kaulah yang tidak mengerti

    Kau bangga jadi wahhabi
    Tapi kami tak mau ikuti Wahhabi
    Kami bukan wahhabi, bukan rafidli, apalagi majusi

    Baguslah kau bangga jadi Wahhabi
    Sehingga kami semakin mudah mengenali
    Siapa yang bukan wahhabi dan siapa wahhabi
    Tapi kami tak sepenuhnya mempercayai
    Karena disana kau berkata itu, disini kau berkata ini

    Kau bangga jadi wahhabi
    Tapi kami tak mau ikuti Wahhabi
    Cukup bagi kami, fiqih bermadzhab Syafi'i
    Bersama ulama madzhab lainnya pewaris Nabi
    Beraqidah sesuai Nabi dan Shahabi
    Yang diajarkan oleh Imam Abul Hasan al-Asy'ari
    Semua ulama besar diseluruh zaman mengakui
    Bahkan Ibnu Katsir seorang Asy'ari
    Ibnu Hajar, Imam al-Nawawi, seorang Asy'ari

    Kau bangga jadi wahhabi
    Tapi kami tak mau ikuti Wahhabi
    Dakwah kami mengajak tidak mencaci-maki
    Tidak menuduh syirik sesat kafir kepada saudara/i
    Ma'siat, kemungkaran dan ketidak benaran, kami ingkari
    Itu sebabnya, wahhabi tidak kami ikuti




    Oleh : Ibnu L' Rabassa



    Mengenal Istilah Qaul Ulama Madzhab Syafi'i

    Muslimedianews.com ~ Didalam madzhab Syafi'i ada istilah-istilah yang kadang tidak dipahami oleh kalangan lain, salah satunya mengenai qaul (pendapat) ulama Syafi'i.

    Hal itu adalah metode Imam Nawawi tentang pendapat-pendapat (qoul, wajah) dari ulama yang bermadzhab Syafi’i dan cara memprioritaskannya.

    Imam Nawawi mengistilahkan pendapat Imam Syafi’i dengan kata- kata Qoul/Aqwal. Dan pendapat ulama yang mengikuti madzhab Syafi’i dengan kata- kata Wajah/Awjuh. Sedangkan perbedaan periwayatan madzhab lain yang diakomodir ke madzhab Syafi’i di istilahkan dengan Thoriq/Thuruq.

    Jadi kesimpulannya:
    • Qoul / Aqwal : Pendapat Imam Syafi’i
    • Wajah / Awjuh : Pendapat ulama Syafi’iyyah yang berlandaskan kaidah dan metode ushul fiqh Imam Syafi’i.
    • Thoriq / Thuruq : perbedaan periwayatan madzhab lain yang diakomodir ke madzhab Syafi’i (Red. memasukkan pendapat madzhab lain ke madzhab Syafi’i)
    Dalam Bahasa Indonesia Qoul / Aqwal, Wajah / Awjuh dan Thoriq / Thuruq mempunyai satu arti yakni: pendapat.

    Al Adzhar (الأظهر)
    Al Adzhar adalah Pendapat paling kuat berdasar metode ushul fiqh yang di ambil dari perbedaan satu atau dua qoul Imam Syafi’i. Dan perbandingannya adalah Dzohir (ظاهر). Dalam muqoddimah kitab Al Bayan Juz 1 hal 57 Imam Ibnu hajar mengistilahkan Al Adzhar dengan kata-kata Al-Mu’tamad (على المعتمد).
    Dalam muqoddimah kitab Najmul Wahhaj definisi Al Adzhar menunjukkan 4 pengertian:

    Terdapat perbedaan pendapat (Khilafiyah).
    • Dalam suatu pendapat ada yang diunggulkan (Rojih)
    • Khilafiyyah tersebut hanya antar pendapat Imam Syafi’i.
    • Cukup jelas perbandingannya (Al- Muqobil) ditinjau dari dalil dan illatnya walaupun yang menjadi sandaran (Al- Mu’tamad) untuk berfatwa dan hukum adalah yang Al- Adzhar
    Al Masyhur (المشهور) : 
    Adalah pendapat yang di ambil dari dua atau lebih qoul Imam Syafi’i, yang perbedaanya tidak kuat. Dan perbandingannya adalah ghorib (غريب). Jadi kesimpulannya Qoul Al Adzhar dan Al Mashur adalah pendapat dari Imam Syafi’i. Dalam muqoddimah kitab Najmul Wahhaj definisi Al Masyhur menunjukkan 4 pengertian:
    • Terdapat perbedaan pendapat (Khilafiyah).
    • Dalam suatu pendapat ada yang diunggulkan (Rojih).
    • Lemahnya qoul perbandingannya (Al- Muqobil).
    • Khilafiyyah hanya antar pendapatnya Imam Syafi’i sendiri.
    Al Ashoh (الأصح)
    Adalah Pendapat yang diambil dari dua atau tiga lebih wajah yang perbedaanya kuat. Dan perbandinganya adalah Shokhih (صحيح). Dalam muqoddimah kitab Al Bayan Juz 1 hal 57 Imam Ibnu hajar mengistilahkan Al Ashoh dengan kata- kata Al Aujuh (على الأوجه).

    As Shohih (الصحيح)
    Adalah Pendapat yang diambil dari dua atau tiga lebih wajah yang perbedaanya tidak kuat. Dan perbandinganya adalah Dlo’if (ضعيف). Jadi kesimpulannya Al Ashoh dan As Shokhih adalah Pendapat ulama Syafi’iyyah yang berlandaskan kaidah dan metode ushul fiqh Imam Syafi’i.

    Al Madzhab (المذهب)
    Adalah Penda
    pat yang diambil dari dua atau tiga lebih Thoriq (pendapat madzhab lain yang diakomodir ke madzhab Syafi’i) Seperti ada sebagian ulama meriwayatkan satu masalah dengan khilaf dua qoul atau dua wajah, dan ulama tersebut memastikan kebenaran salah satunya.

    Catatan:- Menurut Imam Ibnu Hajar sangat tidak di perbolehkan mengamalkan pendapat Dlo’if (lemah) yang bertentangan dengan Al Madzab- Dalam muqoddimah kitab Najmul Wahhaj definisi Al madzhab sebagai berikut: Suatu istilah yang menunjukkan adanya khilaf yang masih mengandung beberapa kemungkinan antara pendapat- pendapatnya imam Syafi’i atau beberapa pendapat pengikutnya, ataupun tersusun dari keduanya, namun terkadang Imam Nawawi dalam sebagian permasalahan mengistilahkannya dengan ﭐلمنصوص , في قول أو وجه, atau وكذا.

    An Nash (النص)
    Aadalah Fatwa tertulis dari Imam Syafi’i. Dan perbandingannya adalah wajah Dlo’if atau Mukhorroj (pendapat ulama yang dianggap lemah atau sudah keluar dari metodologi Imam Syafi’i)

    Al Jadid (الجديد)
    Adalah Pendapat Imam Syafi’I yang berupa fatwa atau karangan kitab waktu beliau bermukim di Mesir. Dan yang meriwayatkan adalah: Imam Buwaithi, Imam Muzani, Imam Robi’, Imam Kharmalah, Imam Yunus bin Abdul A’la, Imam Abdulloh bin Zubair dan Imam Muhammad bin Abdulloh dsb. Dalam muqoddimah kitab Najmul Wahhaj definisi Al Jadid menunjukkan 4 pengertian:
    • Adanya khilafiyyah qoul Qodim.
    • Pendapat yang diunggulakan adalah qoul Jadid.
    • Khilafiyyah hanya antar pendapat Imam Syafi’i.
    • Muqabilnya (perbandingan) adalah qoul Qodim.
    Al Qodim (القديم)
    Adalah Pendapat Imam Syafi’I yang berupa fatwa atau karangan kitab (Kitab Al Hujjah) waktu beliau bermukim di Iraq. Dan yang meriwayatkan adalah: Golongan dari ulama yang paling masyhur Imam Ahmad bin Hambal, Imam Za’faroni, Imam Karobisi dan Imam Abu Tsur. Dalam muqoddimah kitab Najmul Wahhaj definisi Al Qodim Menunjukkan 4 pengertian:
    • Adanya khilafiyyah dengan qoul Jadid.
    • Lemahnya qoul Qodim (Marjuh).
    • Khilafiyyah antar pendapat Imam Syafi’i sendiri.
    • Perbandingannya adalah qoul Jadid dan yang di amalkan adalah qoul Jadid.
    Catatan: Imam Syafi’i telah mencabut qoul qodim, sehingga ulama sepakat tidak memperbolehkan menggunakan qoul qodim, kecuali 17 masalah yang tetap di pertahankan oleh ulama. Malah dalam kitab Bujairimi ‘Alal Khotib juz 1 hal: 48. Ada 20 an masalah yang tetap di pertahankan dan di buat pijakan hukum oleh ulama. Sebagian masalah dari qoul Qodim yang masih di pergunakan oleh sebagian ulama:
    1. Tidak wajib menjauh dari najis pada air yang tidak mengalir atau Tidak wajib menjauhi dari najis di dalam air yang telah mencapai dua qullah (174,580 liter/ kubus ukuran + 55,9 cm).
    2. Sunnah mengucapkan taswib (ﭐلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ) pada adzan. baik adzan pertama atau kedua. 
    3. Wudlu tidak batal dengan menyentuh mahrom.
    4. Air mengalir yang terkena najis, tetap suci apabila tidak berubah.
    5.  Bersuci pakai batu tidak cukup apabila air kencing menyebar ke mana- mana.
    6. Sunnah melaksanakan sholat isya awal waktu. 
    7. Waktu sholat maghrib tidak habis dengan sholat 5 rokaat (Berakhirnya waktu Maghrib sampai hilangnya mega yang berwarna merah).
    8. Makmum tidak di sunnahkan baca surat pada rokaat ke 3 dan 4 (ini khusus untuk orang yang pertama melakukan sholat dengan cara sendirian, kemudian dia niat berjamaah karena ada sholat jamaah).
    9. Makruh memotong kuku mayit.
    10. Tidak memandang nishob dalam harta karun.
    11. Sarat takhallul pada haji dengan udzur sakit.
    12. Haram memakan kulit bangkai yang telah di samak.
    13. Sayyid wajib di=had (hukuman), karena menyetubuhi mahrom yang menjadi budak.
    14. Di perbolehkannya persaksian anak atas orangtua.
    15. Sunat bagi ma`mum mengeraskan bacaan Amin dalam shalat Jahriyyah (shalat yang disunatkan mengeraskan bacaan).
    16. Sunat membuat tanda batas dalam shalat ketika tidak ada pembatas di depannya.
    17. Diperbolehkan bagi orang yang melakukan shalat tidak berjama’ah, untuk niat ma`mum di tengah- tengah pelaksaan shalatnya.
    18. Ahli waris boleh mengqodlo`i puasa keluarganya yang meninggal dunia.
    19. Boleh memaksa syarik (orang yang mempunyai hak bersama) untuk membangun dan merehab barang yang rusak.
    20.  Mahar (mas kawin) yang belum diserahkan kepada istri ketika rusak harus diganti dengan Dlomanul Yad (ganti yang ditetapkan syara’) artinya kalau barang tersebut termasuk mitsli (bisa ditimbang atau ditakar) wajib diganti dengan barang sejenis, kalau mutaqawwam (selain mitsli) wajib diganti dengan harga standar.
    Qil (قيل) :
    adalah Pendapat yang dianggap lemah dari ulama Syafi’iyyah yang berlandaskan kaidah dan metode ushul fiqh Imam Syafi’i. Dan perbandingannya bisa Al Ashoh atau As Sokhih. Dalam muqoddimah kitab Najmul Wahhaj definisi Qil Menunjukkan 4 pengertian:
    • Khilafiyyah antara pengikut Imam Syafi’i.
    • Khilafiyyah hanya melibatkan pendapat (ﭐلوجه) dari pengikut Imam Syafi’i.
    • Lemahnya pendapat ini.
    • Perbandingannya (Muqobil) diungkapakan dengan menggunakan istilah Al Ashoh atau Ash Shohih.

        Wallahu a'lam bish-shawab...

    ( disarikan dari kitab fiqh al-islami Dr. Wahbah Zuhailiy )

    Bolehkah Tidak Puasa Saat Mudik ?

    Muslimedianews.com ~ Assalamualaikum,, Ustadz Buya benarkah kalo mudik itu bebas tidak puasa? Kalau mudiknya tidak begitu jauh bagaimana Buya, apakah tetap boleh tidak puasa?

    Jawaban :
    Semua orang yang bepergian boleh meninggalkan puasa dengan ketentuan sebagai berikut ini :
    a. Tempat yang dituju dari tempat tinggalnya tidak kurang dari 84 km.

    b. Di pagi (saat subuh) hari yang ia ingin tidak berpuasa ia harus sudah berada di perjalanan dan keluar dari wilayah tempat tinggalnya (minimal batas kecamatan)

    Misal seseorang tinggal di Cirebon ingin pergi ke Semarang. Antara Cirebon semarang adalah 200 km (tidak kurang dari 84 km). Ia meninggalkan ci-rebon jam 2 malam (sabtu dini hari). Subuh hari itu adalah jam 4 pagi. Pada jam 4 pagi (saat subuh) ia sudah keluar dari Cirebon dan masuk Brebes. Maka di pagi hari sabtunya ia sudah boleh me-ninggalkan puasa.

    Berbeda jika berangkatnya ke Semarang setelah masuk waktu subuh, sabtu pagi setelah masuk waktu subuh masih di Cirebon. Maka di pagi hari itu ia tidak boleh meninggalkan puasa karena sudah masuk subuh ia masih ada di rumah. Tetapi ia boleh meninggalkan puasa di hari ahadnya, karena di subuh hari ahad ia berada di luar wilayahnya.

    Catatan
    Seseorang dalam bepergian akan di hukumi mukim (bukan musafir lagi) jika ia niat tinggal di suatu tempat lebih dari 4 hari. Misal orang yang pergi ke Semarang tersebut (dalam contoh) saat di Tegal ia sudah boleh berbuka dan setelah sampai di Semarang juga tetap boleh berbuka asalkan ia tidak bermaksud tinggal di semarang lebih dari 4 hari.

    Jika ia berniat tinggal di Semarang lebih dari 4 hari maka semenjak ia sampai Semarang ia sudah disebut mukim dan tidak boleh meninggalkan puasa dan juga tidak boleh mengqosor sholat. Untuk dihukumi mukim tidak harus menunggu 4 hari seperti kesalah pahaman yang terjadi pada sebagian orang akan tetapi kapan ia sampai tempat tujuan yang ia niat akan tinggal lebih dari 4 hari ia sudah disebut mukim. Siapapun yang berada di perjalanan panjang (tujuannya tidak kurang dari 84 Km) maka saat di perjalanan ia boleh berbuka puasa dan boleh menjamak dan mengqashar shalat.

    Wallahu a’lam bisshowab ~ Buya Yahya
     

    HIKMAH

    ARABIC

    KHUTBAH

    TASHAWUF

    FIGURE / TOKOH

    SYUBHAT & BANTAHAN

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News