Kirim tulisan ke Media Islam MMN (Muslimedia News)
melalui email muslimedianews@gmail.com
Rekomendasi web idrusramli.com & aswj-rg.com
Top News :

    Ketua Riset Universitas King Abdul Aziz Ikut Muludan di Jatim

    Surabaya, Muslimedianews.com ~ Masjid Al-Akbar Surabaya menghadirkan DR Syaikh Muhammad bin Ismail, Senin (26/1/2015) siang. Ketua Riset dan Kajian Islam Universitas King Abdul Aziz dari Makkah ini sengaja didatangkan dalam rangkaian daurah ma'ahid dan maulid Nabi Muhamammad SAW. Ia menyampaikan hikmah maulid dalam rangka memperkuat ukhuwah Islamiyah.

    Syaikh Muhammad menyampaikan, materi esensi persatuan umat Islam dari masa ke masa. Ia menegaskan, kelahiran Nabi Muhammad SAW membawa kegembiraan. "Demikian juga Nabi Muhammad mampu membawa kebanggaan sekaligus menjadikan Islam sebagai jawaban yang benar," katanya di hadapan ribuan peserta.

    Momentum peringatan maulid merupakan sarana untuk saling mengingatkan kepada umat Islam akan tantangan di depan mata, khususnya di era globalisasi. Di antara sikap yang harus dipegang teguh khususnya sebagai refleksi maulid adalah sabar, introspeksi diri, memuliakan ulama serta membaca al-Qur'an dan hadits.

    "Berusahalah untuk sabar," kata Syaikh Muhammad. Baginya, kesabaran adalah kunci kebahagian dan juga sebagai jawaban atas berbagai kesulitan hidup yang dihadapi umat.

    Pesan berikutnya adalah melakukan koreksi dan perbaikan khususnya bagi diri sendiri. Karena dalam ceramah yang menggunakan bahasa Arab sebagai pengantar ini, perbaikan sejati hanya dapat dilakukan dengan mengawali dari diri sendiri. "Tanpa itu jangan berharap ada perubahan di keluarga, masyarakat serta bangsa dan negara," tegasnya.

    Cinta kepada ulama dan santri adalah di antara hal yang disampaikan. Baginya, memuliakan para ulama dan santri termasuk di dalamnya kitab-kitab ulama terdahulu adalah wujud dari penghargaan kepada para pewaris nabi.

    Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Muhammad juga mengingatkan hadirin untuk berhati-hati terhadap sejumlah kalangan yang gemar berfatwa masalah keagamaan namun yang bersangkutan tidak memiliki pengetahuan yang cukup.

    "Orang seperti ini malah membanggakan dirinya sendiri dan cenderung menganggap pendapat orang lain salah," katanya. Padahal dengan berfatwa, akan banyak masyarakat yang mengikuti pendapat yang disampaikan. Akibatnya, kian banyak orang yang sesat akibat pandangan tersebut, lanjutnya.

    Daurah ma'ahid dan maulid diikuti alumni kampus di Saudi Arabia, utusan pondok pesantren dan takmir masjid se Jawa Timur, juga masyarakat umum.

    Tampil sebagai moderator adalah Kasi Haji Kemenag Srabaya Drs H Farmadi Hasyim, dan Ustadz Saiful Islam dari pesantren Al-Khoziny Sidoarjo sebagai penerjemah. (Syaifullah/Alhafiz K)

    sumber nu.or.id

    Tujuan Melepas 'Tali Pocong' Pada Jenazah

    Muslimedianews.com ~ Betul kalau orang wafat melepaskan segalanya. Memang bukan ia sendiri yang menanggalkannya. Tetapi pihak keluarga perlu mencopot segala yang melekat pada tubuh jenazah mulai dari pakaian luar-dalam, sepatu, dasi, juga ikatan gesper, bermerk atau tidak, belanja di pasar swalayan atau loakan. Pokoknya dicopot. Pertama, memudahkannya untuk mandi jenazah.

    Kedua, moga-moga saja calon ahli kubur ini dilonggarkan dari segala kesulitan. Selain pakaian, perlu juga melepas apa saja yang menggantung, tersemat, atau melingkar seperti kalung, cincin, gelang, atau anting termasuk tali ikat kain kafan.

    Bolehlah kita amati keterangan Syekh Romli dalam Nihayatul Muhtaj.

    فإذا وضع الميت في قبره نزع الشداد عنه تفاؤلا تحل الشدائد عنه، ولأنه يكره أن يكون معه في القبر شيء معقود وسواء في جميع ذلك الصغير والكبير
    "Bila mayit sudah diletakkan di kubur, maka dilepaslah segenap ikatan dari tubuhnya berharap nasib baik yang membebaskannya dari kesulitan di alam Barzakh. Karenanya, makruh hukumnya bila mana ada sesuatu yang mengikat bagian tubuh jenazah baik jenazah anak-anak maupun jenazah dewasa."

    Terus buat apa melepas ikat tali kafan jenazah anak kecil. Dia kan belum punya dosa? Syekh Ali Syibromalisi dalam Hasyiyah atas Nihayah menyebutkan, mencopot segala ikatan dari tubuh memang tidak mesti bertujuan melonggarkannya dari siksaan dosanya. Tetapi juga untuk perlu untuk menambah kesejahteraannya di kubur.

    لايقال: العلة منتفية في حق الصغير لأنا نقول التفاؤل بزيادة الراحة له بعد فنزل ما انتفى عنه من عدم الراحة منزلة رفع الشدة
    "Kendati demikian, kita tidak bisa mengatakan bahwa illat melepas tali pengikat jenazah sudah tidak berlaku pada jenazah anak kecil mengingat ia belum punya dosa yang menyusahkannya di alam kubur. Pasalnya, kita bisa berkata bahwa “berharap nasib baik” dimaknai sebagai tambahan kebahagiaan bagi jenazah si kecil, satu tingkat di atas pembebasan dari kesulitan kubur. Karena, illat tiada kebahagiaan yang hilang dari jenazah itu, menempati pembebasannya dari kesulitan."

    Artinya, ini juga berlaku untuk orang-orang suci tanpa dosa untuk menambah hiburan-hiburan yang membahagiakan dan meramaikan kuburnya yang sepi.

    Sementara perihal roh jenazah yang bergentayangan mengganggu orang-orang hidup untuk meminta dilepaskan tali kafannya? Wallahu a’lam.

    Oleh : Ustadz Alhafiz K (nu.or.id)

    Pendukung FPI Akui Wali Songo Bukan Berasal Dari Hadlramaut

    Muslimedianews.com ~ Pendukung Front Pembela Islam (FPI) melalui fanpage facebook yang dikelola mereka "Dukungan untuk FPI "indonesia tanpa JIL" (Jaringan Iblis La'natullah)" mengakui kebenaran sejarah bahwa Wali Songo tidak berasal dari Hadlramaut (Yaman).

    Hal itu tercantum secara jelas dalam tulisan singkat yang dimaksudkan sebagai tanggapan terhadap artikel berjudul "Wali Songo Bukan Dari Hadlramaut, Kritik Untuk Habib Rizieq" yang dimuat dalam media Islam Sunni MMN. Dalam tanggapannya, pendukung FPI mengatakan bahwa datuk ketiga Wali Songo adalah (sayyid) Abdul Malik yang lahir di Hadlramaut tetapi pindah ke India.  

    "Datuk ketiga sembilan orang waliyullah tersebut adalah Sayid Abdulmalik bin ‘Alawi, lahir dikota Qasam, sebuah kota di Hadramaut/Yaman Selatan, sekitar tahun 574 H. Beliau meninggalkan Hadramaut pergi ke India bersama rombongan para Sayid dari kaum ‘Alawiyyin (julukan keturunan Nabi saw yang dari Hadramaut/yaman selatan). Di India beliau bermukim di Nashr Abad.", tulisnya.

    Apa yang ditulis pendukung FPI pada dasarnya senada dengan yang disampaikan oleh Aqil Fikri (Sarkub) bahwa memang silsilahnya dari Muhammad Al-Muqaddam (Hadlramaut) tetapi sudah pindah ke India dan ratusan tahun di India.

    "Memang Wali songo masih keturunan Muhammad al-Muqoddam, namun Abdul Malik sudah pindah ke India dan ratusan tahun tinggal disana serta anak cucunya pergi ke kawasan China, Champa dan Nusantara.", tulis Aqil.

    Pada dasarnya apa yang ditulis pendukung FPI dan Aqil Fikri (Sarkub) adalah sama sehingga dapat dikatakan bahwa Wali Songo memang bukan berasal dari Hadlramaut (secara langsung). Darimana asal Wali Songo? J

    1. ...Hadlramaut > Nusantara [TIDAK TEPAT]
    2. ...Hadlramaut > India > China, Champa, Nusantara [BENAR]

    Pendukung FPI mungkin akan mengatakan "Iya dari India, tetapi asalnya dari Hadlramaut". Jika demikian, maka yang benar tentunya berasal dari India, sedangkan bila mau di urut tentunya asal muasalnya dari Bashrah (sebelum ke Hadlramaut), lebih jauh lagi dari Makkah.

    Kesimpulannya, tuduhan fitnah terhadap media Islam MMN ternyata hanya ketidak pahaman pendukung fanatik [buta] FPI semata. Sebaliknya, mereka dalam tanggapannya justru melancarkan fitnah dengan tuduhan menyudutkan Islam [baca: pendukung FPI MERASA tersudutkan, bukan Islam yang tersudutkan]. Mungkin saja yang demikian berasal dari otak benci [pinjam bahasa santun ala FPI] terhadap pihak lainnya.

    Oleh : Ibnu Manshur
    https://www.facebook.com/189344087838616/photos/a.189364361169922.32569.189344087838616/630738917032462/?type=1&fref=nf

    Tulisan Pendukung FPI yang mengakui Abdul Malik pindah ke India. Abdul Malik menetap di India selama ratusan tahun. Dari India kemudian menyebar ke China Champa hingga Nusantara

    Wali Songo Bukan Dari Hadlramaut, Kritik Untuk Habib Rizieq

    Muslimedianews.com ~ Didalam pernyataannya dalam acara Haul di Jambi, Habib Muhammad Rizieq Syihab (FPI) menyampaikan kisah hidup (manaqib) Habid Idrus. Habib Rizieq mengajak jamaah agar berhati-hati, karena -menurutnya- saat ini ada upaya menghilangkan jejak Islam di Indonesia.

    Habib Rizieq mengatakan, saat ini sejumlah tokoh di Indonesia mau mengubah asal Islam di Indonesia. Sejumlah tokoh, kata Habib Rizieq, mulai mengatakan Islam di Indonesia bukan berasal dari Yaman atau Hadramaut, melainkan dari Iran atau Persia.

    "Islam kita ini dibawa para Habib dari Yaman atau Hadramaut. Kalau dari Iran sudah Syiah semuanya kita," tegas Habib Rizieq saat memberikan tausiyah pada haul Habib Idrus bin Hasan Aljufri yang bergelar Pangeran Wiro Kusumo, di Masjid Al-Ihsaniyah Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi.

    Selain itu, kata dia, ada juga yang mengatakan Islam di Indonesia dari India dan China. "Ini merupakan upaya penghilangan sejarah," pungkasnya.

    Pernyataan Habib Rizieq yang tidak didukung oleh data dan bukti arkelogis tersebut mengundang tanggapan dari Nitizen. Salah seorang pengguna facebook, Aqil Fikri (Sarkub) memberikan sanggahan bahwa Wali songo tidak ada yang brgelar Habib dan tidak ada yang langsung dari Hadramaut.

    Ia mengatakan, yang datang dari Hadramaut baru terjad pada era VOC. Wali songo memakai gelar lokal dan datangnya dari Samarkand dan China. Memang Wali songo masih keturunan Muhammad al-Muqoddam, namun Abdul Malik sudah pindah ke India dan ratusan tahun tinggal disana serta anak cucunya pergi ke kawasan China, Champa dan Nusantara.

    Jikalau dikatakan bahwa Wali Songo datang dari Hadramaut, ini merupakan bentuk perampasan sejarah. Sebab, menurutnya, bukti arkeologis dan catatan lokal selalu menyebut Gujarat India, Champa, Samarkand dan kawasan Asia Tengah (bangsa Turkistan dan Moghol).

    Gelombang 'Hadramaut' datang ke Nusantara pada abad 18 M, sementara Islam di Indonesia sudah besar, bahkan sudah ada pemerintahan sejak abad 15 M. Jadi "gelombang Hadlramaut" terlambat 300 tahun, sementara Wali Songo datangnya dari Champa, China, Samarkand, yang asalnya dari Malibar Gujarat India.

    Secara umum masyarakat Islam Indonesia kental dengan nuansa tasawuf melalui berbagai tarekat, seperti Naqsyabandi, Qodiiriyyah, Syadziliyyah dan Syattariyah yang berkembang di daerah Turkistan/ Asia Tengah/ Samarkand/ India.

    Sejarah juga mencatat para Habaib Hadramaut baru datang di medio (pertengahan) 1700-1800 -an, itupun masih di pesisir Jawa. Khusus Jawa, mereka baru datang ke Kauman Wonosobo dari fam Ba'abud tahun 1700 dikala Mataram sudah perang saudara dan melawan VOC.

    Secara sistematis Wali Songo datang di awal 1400 dikala Majapahit mulai pudar dan datang dari Champa China, Samarkand Asia Tengah, yang keduanya berasal dari Gujarat India dengan bukti arkeologis dan catatan lokal.

    Kritikan diatas terhadap Habib Rizieq membuat tertarik Ustadz Muhammad Idrus Ramli untuk berkomentar. Ust. Idrus Ramli mengatakan bahwa apa yang disampaikan Habib Rizieq mengandung keterputusan sejarah.

    "Saya kira catatan ini melengkapi dan menyempurnakan ceramah Ustd Rizieq syihab, yang kurang dan mengandung keterputusan histori", tanggapnya.


    Oleh : Ibnu Manshur
    https://www.facebook.com/photo.php?fbid=881283925225017&set=a.101687583184659.3663.100000302542236&type=1

    Tidak Paham Dlomir, Spanduk HTI ini Jadi Lelucon di Sosmed

    Muslimedianews.com ~ Bencana yang terjadi di Banjarnegara beberapa waktu lalu (2014) mengundang simpati di berbagai lapiran masyarakat, baik individu maupun kelompok, seperti partai, ormas, dan sebagainya. Termasuk dari salah satu gerakan Islam transnasional yang anti-NKRI turut ambil bagian untuk menarik simpati, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

    Spanduk berwarna hitam putih dan garis jingga pun dibentangkan oleh pihak HTI. Spanduk itu bertuliskan "HIZBUT TAHRIR INDONESIA" pada bagian atas, "Allahummagh Firlahum warhamhum Wa'afihi Wa'fu'anhum" pada bagian tengah, dan "DPD-II HTI BANJARNEGARA ... CP. 081334670290" pada bagian bawah.

    Spanduk DPD-II HTI Banjarnegara itu ternyata menjadi bahan lelucon di sosial media dan mendapatkan sindiran di sebuah group facebook "Thariqah Sarkubiyah". Pasalnya seolah HTI mendoakan 'via Spaduk'.

    "Mendoakan mayit via tahlil tidak sampai dan bid'ah, tp kalo via spanduk bisa sampai dan tidak bid'ah. Inilah cara HTI. ", tulis Dafid yang mengupload spanduk tersebut.

    "Sampai tidaknya silakan hub Contact Person qiqiqi...", tulis Idham Kholid mengomentari.

    "enek ae pencitraane"
    , tulis akun Aziz Irsyad.

    Nitizen juga menyindir soal penulisan do'a tersebut yang ternyata Dewan Perwakilan Daerah (DPD)-II HTI Banjarnegara perlu belajar tentang penggunaan dlomir. Sebab, mereka menulis 'wa'afihi' dengan dlomir mufrod, sedangkan yang lainnya menggunakan dlomir jama'.

    "Tulisane ae salah....", komentar akun Bocah Angon.

    "Itu aja nulisnya salah dasar HTI. Yg lain zhomirnya jama' (HUM) kok yg WA'AFIHI zhomirnya mufrod weqeqeqeqe. .....", sindir akun Ibnu Ma'sud.

    " Wa'afihi? Padahal sek sakdurunge marje'e jama' kabeh... Hahahaha", tulis Wajih Harun.

    " Nulis aja salah apa lagi suruh baca , makanya HTI membet'ah kan tahlil dll itu.", tulis akun Zainal Arifin.

    "harusnya " WA'AFIHIM" bukan WA'AFIHI seperti tertulis di spanduk ... gitu mas ... karena dhomir sebelumnya juga pake jama' ... itu baru bab "dhomir" gimana kalo ngaji bab "KULLU" wuah pasti rameee ... nih ...", tulis akun Masih Dadang Sukendr.

    "Allahummaghfirlahum warhamhum Wa'afiihim wa'fu'anhum... dhomir "hum" mbalik ke HTI, ben tobat...", tulis akun Fahmi Ali.

    "Sinau nahwu shorofe karo mbah google..... dadi salah kaprah", tulis akun Yaya Suraya.

    "Memajang distorsi dan kejahilan di tengah jalan..", tulis akun Kang Aldi.

    Penulisan yang benar semestinya menggunakan dlomir jama' semuanya :
    اللهم اغفر لهم وارحمهم , وعافهم واعف عنهم
    Allahummagh-fir Lahum warhamhum wa'afihim wa'fu 'anhum

    Muslimat NU dan Muslimah HTI

    Selain diatas, ada "lelucon" lain yang menarik untuk diketahui. Bila di NU ada Muslimat NU, maka HTI pun membuat perkumpulan perempuan-perempuan Islam dengan nama "Muslimah HTI".

    Sama-sama ada bagian perempuan-perempuan Islam-nya. Bedanya, NU juga memiliki Fatayat (pemudi-pemudi), dan memberikan nama dengan pengetahuan sehingga menggunakan kata "Muslimat" dalam bentuknya jama', sedangkan HTI memberikan nama "Muslimah" tunggal. .


    Penulis : Ibnu Manshur
    photo.php?fbid=920629781288506&set=gm.990798137614327&type=1

    Ulama NU: 'Indonesia Itu Khilafah Secara Definisi'

    Muslimedianews.com ~ Negara Islam atau khilafah Islamiyah akhir-akhir ini banyak diperbincangkan banyak orang lantaran ada sebagian umat Islam yang mempropagandakannya sebagai konsep pemerintahan ideal bagi umat Islam. Di Indonesia kelompok yang paling getol menyuarakan khilafah Islamiyah adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

    Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia yang ikut serta mewujudkan kemerdekaan negara ini dan menyatakan final terhadap NKRI tentu memiliki tanggungjawab besar dalam meluruskan pendapat tentang khilafah Islamiyah demi menjaga keutuhan NKRI. Berikut wawancara Ceprudin, redaktur nujateng.com dengan Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH. Ubaidullah Shodaqoh atau akrab disapa Gus Ubed, tentang khilafah Islamiyah hasil keputusan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar (Munas-Konbes) NU 2014.

    Ceprudin: Dalam Munas-Konbes NU 4 November salah satunya membahas konsep khilafah. Kemudian dihasilkan khilafah sebagai sistem dan khilafah sebagai definisi. Maksudnya bagaimana Kyai?

    Gus Ubed: Pembahasan khilafah dalam bahtsul masail Munas-Konbes itu menghasilkan kesimpulan bahwa khilafah ada dua macam; khilafah sebagai sistem dan khilafah sebagai definisi. Khilafah sebagai sistem artinya khilafah sebagai sistem pemerintahan. Dalam literatur pesantren (baca: kitab kuning), kebanyakan mengatakan bahwa satu dunia adalah satu khilafah. Tapi juga ada yang mengatakan tidak.

    Sementara khilafah sebagai defisinisi artinya khilafah an-nubuwwah (pengganti kenabian). Jadi, khilafah itu fusngsinya adalah mengganti peran nabi. Peran nabi itu apa? peran nabi itu ri’ayatu ad-din wa siyasatu ad-dunya (menjaga agama dan mengatur dunia-red). Menjaga agama dan mensiasati dunia supaya makmur, supaya bermanfaat bagi manusia itu bagaimana caranya? Nah itu siyasatu ad-dunya. Kalau khilafah sebagai definisi yang artinya sebagai ri’ayatu ad-din wa siyasatu ad-dunya itu merupakan kewajiban. Kalau sebagai sistem di mana satu dunia itu satu khilafah, itu bukan merupakan suatu kewajiban. Di samping itu pada praktiknya, sejak dulu sampai sekarang tidak pernah terjadi sistem negara satu dunia atau khilafah. Hal seperti itu dalam sejarah tidak pernah terjadi. Hanya saja yang mewarnai pemikiran kita itu kan karya fikihnya al-Mawardi.

    Pembahasan masalah khilafah dalam kitab-kitab itu larinya ke imamah. Imamatu ad-Daulah. Nah, padahal mendirikan satu imamah untuk satu dunia ini secara faktual sangat sulit sekali. Karena apa, kok sulit diwujudkan? karena perbedaan geografis, kultur, madzhab dan lain sebagainya. Jadi keberagaman hukum juga diakui, hukum Islam (fikih) maupun hukum nasional-internasional itu berbeda-beda.

    Nah, oleh karena itu ulama memperbolehkan mendirikan dua imamah yang berbeda-beda. Apabaila disatukan itu sulit koordinasinya, sehigga tidak bisa. Bi asy-syaukah (baca: kekuasaan) jika disatukan oleh seorang imam itu tidak bisa sampai ke bawah, tidak bisa menyeluruh, dan koordinasi urusan dunia juga sulit.
    Maka dalam hal ini dua daerah mempunyai dua imamah itu diperbolehkan. Nah, jika ada dua imamah dalam dua daerah itu artinya juga khilafah. Namun khilafah dalam arti secara defisini itu tadi. Jadi kalau mendirikan khilafah sebagai sebuah defisini itu merupakan sebuah kewajiban.

    Di mana ada pemerintahan yang menjaga urusan dunia, itu berarti menjalankan suatu kewajiban. Tapi tidak harus satu dunia satu khilafah. Berbeda-beda juga boleh. Di Indonesia itu khilafah umpanya, di Thailand khilafah, itu tidak menjadi masalah.

    Ceprudin: Kalau dalam konteks Indonesia sendiri bagaimana Kyai?

    Gus Ubed: Yah sekarang Indonesia ini sudah khilafah atau belum? Kalau khilafah secara definisi sudah. Di mana di Indonesia agama sudah diurusi dalam Kementerian Agama. Bagarangkali di sana-sana juga ada yang mengurusi masalah agama. Apalagi kita mempunyai KHI (Kompilasi Hukum Islam) dan lain sebagainya.

    Terlepas dari itu semua sudah sempurna dan ideal atau belum, yang jelas di sini agama sudah diurusi. Di Indonesia urusan-urusan keagamaan ini tidak bisa lepas dari pemerintahan. Kita tahulah acara-acara resmi, acara-acara hari besar Islam itu diurusi oleh negara. Kemudian masalah siyasatu ad-dunya (mengatur dunia), itu juga sangat jelas diurusi oleh negara. Jadi Indonesia ini sudah khilafah semestinya, ya khilafah dalam arti definisi tadi, atau imamah. Nah, khilafah seperti ini merupakan suatu kewajiban. Inilah yang dimaksud dalam doktrin Aswaja kita itu, wajaba nasbu al-imami al-adil (kita wajib membangun imamah atau kepemimpinan yang adil). Tentunya asumsi kita adalah adil. Kita memilih orang (untuk jadi pemimpin) ini tentunya asumsi kita itu akan adil. Jika dalam perjalanan pemimpin itu menyimpang, itu sudah persoalan lain.

    Ceprudin: Jadi dalam hal ini berarti negara perlu mengambil peran dalam mengurus soal agama?

    Gus Ubed: Ya, negara mengambil peran dalam soal agama bukan berarti negara menjadi otoritas keagamaan, tidak. Namun dalam hal ini, hanya mengatur. Sebab mengingat bahwa Islam dalam perkembangannya memiliki banyak madzhab hukum. Dan semua madzhab hukum ini diakui semuanya, dan itu boleh dilaksanakan.

    Kalau salah itu, umpanya madzhab hukum itu salah, ya walahum ajrun, ya itu tidak menjadi masalah. Jadi umpanya ijtihadnya salah, satu imam itu salah, misalnya ada yang menyatakan, “lha itu kan salah ko diakui”. Ya salah, ya ndak masalah. Artinya kalau sudah dalam bingkai ijtihad, kita sebagai orang umum itu tidak bisa menilai.

    Dan monggo itu kalau mau dilaksanakan dan itu banyak perbedaan. Artinya negara itu harus melindungi semuanya, bukan berarti menetapkan satu dan lain sebagainya. Menetapkan itu kalau ada perselisihan dua pendapat, nah baru ditetapkan satu. Barangkali umpanya masalah nikah, ada madzhab yang tidak perlu wali, terus ada madzhab yang harus ada wali. Nah ini kan timbul perselisihan, di sini baru negara memutuskan. Negara menyatakan, pakai wali saja soalnya pasti keberadaannya pakai wali. Toh madzhab yang ini menjadi sah, dan madzhab yang satunya juga menjadi sah, itu misalnya. Jadi ya negara itu campur tangan, ya dalam mengatur jalannya madzhab-madzhab itu supaya bagaimana tidak terjadi berbenturan.
    Sumber NU Jateng

    Kaderisasi untuk Pelajar, PAC IPNU-IPPNU Kota Kendal Gelar Makesta


    Kendal, Muslimedianews.com ~ Sebagai sarana pembentukan karakter kader yang mengarah pada perubahan jiwa, sikap, mental serta menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya suatu organisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, pengurus Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Kota Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah mengadakan MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) di SMK NU 01 Kendal, Sabtu - Ahad (24-25/1/2015).

    Masa Kesetiaan Anggota ini diikuti oleh puluhan peserta berasal dari perwakilan masing-masing Pimpinan Komisariat seperti SMK NU 01 Kendal, SMA NU 01 Alhidayah Kendal, SMP NU 02 Alhidayah Kendal, MTS NU 03 Alhidayah Kendal, serta perwakilan dari masing-masing kelurahan yang ada di kecamatan kota Kendal dengan dibuka upacara pembukaannya oleh Bapak Sukhamdan S.Pd. ,dan dihadiri juga tamu undangan dari Badan Otonom Nahdlatul Ulama yang ada kecamatan Kota Kendal.

    Ada empat materi yang disampaikan pada hari sabtu 24 Januari 2015 dalam makesta ini, meliputi Ke-Nu-an, Aswaja, IPNU-IPPNU, serta keorganisasian yang dikemas dalam dua kelas dalam penyampaian materinya,  Ketua MWC NU Kecamatan Kota Kendal sekaligus Kepala Sekolah SMK NU 01 Kendal Bapak Mokh. Izudin S.Pd, M.Pd juga berpartisipasi dalam mengisi materi ke-Nu-an. Tidak hanya melibatkan pihak MWC dalam mengisi acara MAKESTA PAC. IPNU-IPPNU Kec.Kota Kendal, MAKESTA ini juga ikut melibatkan dari LP Maarif Kabupaten Kendal yaitu Bapak Ibnu Darmawan S.Pd, M.Pd,. PAC Fatayat Kec.Kota Kendal yaitu ibu Markamah Abdul Kholiq, S.Pd.I , Alumni IPNU-IPPNU, Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Kendal, CBP-KKP Kabupaten Kendal, PAC IPNU-IPPNU yang ada di Kabupaten Kendal, serta Peserta SKB Kawedanan Kendal (Ngampel, Patebon, Pegandon, Kendal) 2014-2015.

    Dan sebanyak 57 peserta MAKESTA kemudian dilantik menjadi anggota IPNU-IPPNU Kecamtan Kota Kendal pada Ahad, 25 januri 2015 pukul 04.00 WIB. Anggota baru IPNU-IPPNU Kecamtan Kota Kendal ini diharapkan dapat termotivasi jiwanya untuk mau berorganisasi dan menjadi anggota IPNU-IPPNU aktif, mempunyai sikap dan mental sebagai anggota IPNU-IPPNU dan mampu menumbuhkan rasa cinta terhadap organisasi IPNU-IPPNU, mampu menempatkan dirinya sebagai anggota masyarakat yang baik, serta menumbuhkan rasa bahwa berorganisasi/ bermasyarakat adalah merupakan sebuah kebutuhan, dan IPNU-IPPNU adalah organisasi pilihan yang tepat untuk pelajar NU.


     

    ARABIC

    TAUSHIYAH

    KHUTBAH

    TASHAWUF

    TARIKH

    FIGURE / TOKOH

    INTERVIEW

    SYUBHAT & BANTAHAN

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News