BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Slider

Headlines

Slider Right

randomposts6

HEADLINES

Headlines/block-1

INDONESIA

Indonesian/block-2

MIDDLE EAST

Middle%20East/block-2

INTERNASIONAL

International/block-3

ARABIC VERSION

Arabic/block-6

ENGLISH VERSION

English/block-6

SYUBHAT

Syubhaat/block-1

Islamic QA

Islamic%20QA/block-1

OPINION

Opinion

Latest Articles

Tuesday, October 23, 2018

Dosakah Membakar Bendera HTI?



Oleh Ayik Heriansyah

Bendera hitam putih yang kerap dibawa aktivis HTI merupakan simbol gerakan pemberontakan (bughat) terhadap daulah Islamiyah (NKRI). Itulah bendera Khilafah ala HTI yang terinspirasi oleh hadits-hadits Nabi Saw tentang liwa rayah. Liwa rayah merupakan bendera simbol kenegaraan kaum muslimin pada hubungan internasional saat itu. Di Indonesia umat Islam sepakat menggunakan bendera Merah Putih sebagai simbol kenegaraan mereka. Itulah liwa rayah kaum muslimin di Indonesia. Bendera pemersatu umat dari Sabang sampai Merauke.

Sebagai muslim/muslimah yang memiliki KTP, SIM dan Buku Nikah NKRI, makan minum, menggunakan mata uang Indonesia fasilitas jalan, bandara, pelabuhan, sekolah, rumah sakit, dsb udah seharusnya aktivis HTI mengusung bendera Merah Putih. Liwa rayah kita semua. Toh Nabi Saw sendiri tidak memerintahkan umatnya menggunakan liwa rayah hitam putih yang bertuliskan dua kalimat syahadat. Bukankah semua hadits tentang liwa rayah hanya bersifat khabariyah informatif tanpa ada qarinah (indikasi) wajib menggunakannya. Sesungguhnya Nabi Saw sudah tau, perihal bendera negara diserahkan kepada sepenuhnya kesepakatan umatnya.

Aksi pamer bendera HTI di wilayah NKRI menimbulkan kegaduhan, fitnah dan memecah belah umat Islam. Bukan hanya NU, Ansor dan Banser, ormas Islam lainnya pembentuk NKRI risih dengan bendera HTI. Sudah pasti tujuan HTI mendirikan Khilafah Tahririyah termasuk bughat. Setiap kegiatan dan atribut yang mengarah kepada bughat dihukumi haram. Sesuai kaidah ushul fiqih yang juga diadopsi HTI yang berbunyi: al-washilatu ila harami muharramah aw haramun. 

Langkah-langkah Banser menindak peragaan bendera HTI tidak lain dan tidak bukan demi menjaga persatuan dan kesatuan umat, bangsa dan negara. Yang demikian itu sesuai dengan maqashidusy syariah yakni hifdzul umat, mujtama wa daulah. Inilah esensi dari penerapan syariah.

Utsman Membakar al-Qur'an
Pada saat terjadi perang irminiyah  dan perang adzrabiijaan, Hudzaifah Ibnul Yaman yang saat itu ikut dalam dua perang tersebut melihat perbedaan yang sangat banyak pada wajah qiraah beberapa sahabat. Sebagiannya bercampur dengan bacaan yanag salah. Melihat kondisi para sahabat yang beselisih, maka ia melaporkannya kedapa Utsman radhiyallahu ‘anhu. Mendengar kondisi yang seperti itu, Utsman radhiyalahu ‘anhu lalu mengumpulkan manusia untuk membaca dengan qiraah yang tsabit dalam satu huruf (yang sesuai dengan kodifikasi Utsman). (lihat mabaahits fi ‘ulumil Qur’an karya Manna’ al Qaththan: 128-129. Cetakan masnyuratul ashr al hadits).

Setelah Utsman radhiyallahu ‘anhu memerintahkan kepada sahabat untuk menulis ulang al Qur’an, beliau kemudian mengirimkan al Qur’an tersebut ke seluruh penjuru negri dan  memerintahkan kepada manusia untuk membakar al Qur’an yang tidak sesuai dengan kodifikasi beliau. (lihat Shahih Bukhari, kitab Fadhailul Qur’an bab jam’ul Qur’an, al Maktabah Syamilah)

Perbuatan Utsman disepakati oleh Ali Ibnu Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau dengan tegas berkata:

لو لم يصنعه عثمان لصنعته

“Jika seandainya Utsman tidak melakukan hal itu maka akulah yang akan melakukannya.” (lihat al Mashahif, Bab Ittifaaqun naas ma’a Utsman ‘ala Jam’il Mushaf, hal. 177).

Mush’ab Ibnu Sa’ad berkata, “aku mendapati banyak manusia ketika Utsman membakar al Qur’an dan aku terheran dengan mereka. Dia berkata, Tidak ada seorang pun yang mengingkari/menyalahkan perbuatan Utsman. (lihat al Mashahif: 178)

Ibnul ‘Arabi berkata tentang jam’ul Qur’an dan pembakarannya, “itu adalah kebaikan terbesar pada Utsman dan akhlaknya yang paling mulia, karena ia menghilangkan perselisihan lalu Allah menjaga al Qur’an melalui tangannya. (lihat hiqbatun min at tarikh : 57 dan lihat al ‘awashim minal qawashim: 80)

Demi menjaga persatuan dan kesatuan umat dalam hal qiraat (langgam) al-Qur'an saja, para Sahabat mujma' akan kebolehan membakar mushaf yang tidak standar. Oleh karena itu  Tentu saja membakar bendera HTI yang berisi dua kalimat demi menjaga persatuan dan kesatuan umat pasti boleh, bahkan wajib. Jadi tidak ada dosa seujung rambutpun perbuatan orang yang membakar bendera HTI.

Kajian Singkat Tentang Hadits Rayah dan Liwa'


Apa betul BENDERA HTI YANG KATANYA BENDERANYA UMAT ISLAM ?

Muhamad Qustulani

Hadits yang dirujuk dan digunakan HTI sebagai panji Islam dengan tulisan tauhidnya adalah dhaif dan majhul. 

Dhaif artinya lemah, dalam Fathul Bary disebutkan Musnad Wahin, artinya sanadnya teramat lemah. Bahkan di dalamnya terdapat orang dikatakan majhul. Juga ada yang mengatakan bahwa tulisan tauhid pada bendera hitam dan tauhid cuma ditambah tambahin. Sebab tidak ada keterangan lebih lanjut dalam penulisan tauhid. 

cuma warna saja tidak ada tulisan tauhid 

Jika dibandingkan dengan hadits yang ketika Fathul Makkah dan hadits pemberian liwa kepada Sayyidina Ali tidak ada keterangan liwa tersebut bertulisan tauhid, cuma warna saja. 

Hadits ini diadopsi oleh HTI, yang katanya dari Abdullah ibn Abbas :

كان راية رسول الله صلى عليه وسلم سوداء ولواءه أبيض مكتوب لا اله الا الله. 

Ulama hadits mengatakan bahwa hadits tersebut lemah, musnad wahin. Alias lemah jasa, berarti dhaif. 

Jika kita takhrij (diteliti) bahwa kata tauhid pada bendera hitam atau putih banyak yang mengatakan itu hanyalah tambahan (ditambah - tambahin), sebab dalam hadits lain tidak ada tulisan tauhidnya, dan sejenis hadits yang tidak ada tulisan tauhidnya banyak. 

Hadits aslinya adalah sebagai berikut :

أن راية رسول الله صلى عليه وسلم سوداء ولواءه أبيض 

Haditsnya kebanyakan cuma itu,  riwayatnya dari Abdullah Ibn Abbas. 

Dalam hadits ini  jika ada Hayyan ibn Ubaidillah pun dilemahkan, sebab 
Hayyan Ibn Ubaidillah dikategorisasi majhul. Majhul dalam kajian ulumul hadits maka ditolak periwayatannya. Permasalahnya hadits yang dipakai oleh HTI ada Hayyan ibn Ubaidillah yang dijelaskan tadi bahwa dirinya dikategorisasi majhul. 

Jadi, pertanyaannya, apakah betul kita menyakini bahwa itu adalah panjinya Rasul?  Sementara haditsnya dhaif dan majhul, bahkan Albani jejegut rujukan wahabi yang dianggap sebagai perawi dan muhadits oleh mereka tidak menjelaskan haditsnya tertulis kalimat tauhid. 

Jika itu bendera tauhid?  Apakah yang dilakukan ISIS pun dianggap sebagai bendera umat Islam sedunia?  Sebab ISIS pun menggunakan dalil yang sama dengan HTI.