Kirim tulisan ke Media Islam MMN (Muslimedia News)
melalui email muslimedianews@gmail.com
atau inbox di fanpage MMN.
MuslimediaNews.com Media Sehat Rujukan Umat
Top News :

    Hari Santri Nasional Bentuk Pengakuan Eksistensi Santri

    Muslimedianews.com ~ Presiden Ir. Joko Widodo pada 1 Muharram ini ada rencana menjadikan hari santri nasional sesuai dengan aspirasi para santri Pondok Pesantren saat masa kampany3 kemaren. Untuk itu penulis akan menuturkan dalam tulisan ini tentang santri dan kontribusinya pada Bangsa dan  Negara.

    Kata Santri menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti :  (1) orang yang mendalami agama Islam; (2) orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh. Dalam rumusan mendiknas, Santri adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan ilmu agama islam di suatu tempat yang dinamakan pesantren, biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai. Pendapat lain mengatakan Santri diambil dari bahasa “Tamil” yang berarti Guru mengaji. Dan ada yang berpendapat dari bahasa India “Shastri” yang berarti orang yang memiliki pengetahuan kitab suci.

    Ada juga yang berpendapat bahwa Santri dari bahasa inggris yang berasal dari dua suku kata yaitu SUN dan THREE yang artinya tiga matahari. Matahari adalah titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yang mendatangkan terang dan panas pada bumi disiang hari. Seperti kita ketahui matahari adalah sumber energi tanpa batas. Matahari pula sumber kehidupan bagi seluruh tumbuhan dan semuanya dilakukan secara ikhlas oleh matahari. Namun maksud tiga matahari dalam kata SUNTHREE adalah tiga keharusan yang dipunyai oleh seorang santri yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Semua ilmu tentang Iman, Islam dan Ihsan dipelajari dipesantren untuk menjadi seorang santri yang dapat beriman kepada Allah secara sungguh-sungguh, berpegang teguh kepada aturan islam, serta berbuat ihsan kepada sesama.

    Dari beberapa pendapat tentang santri diatas, yang jelas santri di Indonesia ini sudah hadir sejak sebelum kemerdekaan. Bahkan sejak kanjeng Sunan Ampel santri sudah ada karena santri tidak bisa dipisahkan dari pondok Pesantren. Kehadiran Pondok Pesantren tidak hanya mengajarkan pendidikan agama Islam, pondok pesantren juga berperan dalam pemberdayaan ekonomi ummat dan mewujudkan peradaban masyarakat.

    Hal tersebut dapat diamati dari  beberapa fungsi dan missi Pondok pesantren  diantara  ; 1. Tafaqquh fi al-ddin (memperdalam ilmu pengetahuan agama maupun umum), 2. Pelayan masyarakat dan 3. Pengabdian.

    Tafaqquh fi al-din (memperdalam ilmu pengetahuan) tugas utama santri terutama  ilmu-ilmu keislaman. Dalam perkembangannya Pondok Pesantren mengembangkan pendidikannya dengan model ada yang salaf murni,  dalam arti pelajaran yang disuguhkan adalah ilmu-ilmu agama, dan ada  Pondok pesantren yang memadukan antara salaf dan khalaf, dengan mamadukan pelajaran yang diberikan kepada santri sudah ada ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu modern,  bahkan sudah banyak  pondok pesantren yang mendirikan perguruan tinggi lengkap dengan berbagai jurusan. Pondok Pesantren Salaf-khalaf ini menjawab bahwa tidak ada perbedaan antara ilmu agama dan umum, selama ilmu itu untuk kemaslahatan agama, dunia-akhirat itu adalah Ilmu Islam yang harus di pelajarinya.

    Sebagai pelayan masyarakat pondok pesantren melalui Kyai dan santrinya selalu berperan melayani kebetuhan masyarakat, mulai sejak manusia itu lahir, dewasa, nikah, dan saat wafa,t para kyai dan santri menjadi penuntun, pembimbing dan pelayan masyarakat.

    Sedangkan fungsi pengabdian adalah santri akan selalu ingat bahwa Allah Swt menciptakan manusia dimuka bumi ini sebagai khalifatullah fil ardhi. Dengan berpegang teguh pada kata khalifah itu, santri akan terus berjuang, mengkhidmahkan diri untuk menciptakan kemaslahatan hidup manusia melalui berbagai aspek kehidupan, baik gerakan ritiual-spritual, maupun amaliah sosial. Sehingga saat santri sudah terjun ketengah-tengah masyarakat berbagai profesi yang mereka geluti dan  tekuni, ada yang bergerak dalam bidang keagamaan, kebangsaan dan kenegaraan.

    Ada hal yang perlu diperhatikan  bahwa Kyai dan santri memiliki hubungan yang sangat dekat, artinya tidak hanya dalam tataran fisik atau dhahir, tapi rabithah bathiniyah Kyai dan Santri akan terus berlangsung dunia – akhirat.   Tali ikat Kyai dan Santri itu kemudian oleh Kyai dijadikan kekuatan untuk memperjuangkan missi Pondok Pesantren. Lalu Kyai menugaskan kepada santri yang telah lulus untuk menempati daerah tertentu demi perjuangan missi pondok pesantren. Dengan adanya santri yang berdomisili diberbagai daerah di Indonesia maka terjalin hubungan antar pondok pesantren bahkan kerap kali putra-putri Kyai dinikahkan dengan putra-putri kyai lainnya, juga Kyai menikahkan santrinya yang sedang mondok di pesantrennya. Jalinan pernikahan ini merupakan strategi yang sangat ampuh untuk mengembangkan eksistensi santri atau pondok pesantren. Para anak cucu kyai dan santri lalu mengembangkan pesantren ke berbagai daerah di nusantara. Islam di Indonesia berkembang pesat dengan membentuk sebuah peradaban atau tradisi sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakatnya.

    Oleh karena itu Pondok Pesantren sudah ada hampir  di seluruh wilayah nusantara Indonesia jauh sebelum kemerdekaan. Dan pada tahun 1926 M. para pengasuh Pondok Pesantren dengan dikomonda oleh KH. Hasyim Asy’ari melalui insyarah tasbih dan tongkat dari KH. Muhammad Khalil yang dibawa oleh KHR. As’ad Syamsul Arifin organisasi santri yang bernama Nahdlatul Ulama berdiri.

    Dengan berdirinya Nahdlatul Ulama ini maka para Kyai semakin mudah berkoordinasi untuk memperjuangkan aspirasi Pondok pesantren. Sehingga tercatat dalam sejarah tentang peran NU dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pondok Pesantren sangat besar jasanya dalam memerdekakan Negara republik Indonesia, berperang dengan para penjajah, dan juga dalam mengisi kemerdekaan terutama dalam mendidik anak bangsa dengan karakter Islami.

    Pondok pesantren terus berkembang bukan hanya ada didaerah pelosok desa, tapi didaerah perkotaan sekarang berdiri pendidikan yang ada dibawah naungan pondok pesantren. Dari alumni pondok pesantren inilah kemudian lahir santri yang tidak hanya berprofesi sebagai, ustadz, kyai, tapi sudah banyak santri yang menjadi pejabat Negara, baik di eksekutif, legislatif, dan yudikatif.  Mereka telah melakukan pengabdian pada masyarakat dan pemerintah Indonesia.

    Bila ada gagasan presiden RI Bapak Ir. Joko Widodo pada 1 Muharram ini akan  dijadikan sebagai hari santri nasional sungguh hal itu tidak menyalahi terhadap norma bahkan inisiatif itu merupakan sebuah penghargaan kepada santri yang telah jelas-jelas memberikan kontribusi pada agama, bangsa dan Negara.

    Jember, 24 Oktober 2014
    Oleh : HM. Misbahus Salam

    Puasa Sunnah Akhir Tahun dan Awal Tahun Hijriyah

    Muslimedianews.com ~ Assalamualaikum. saya mau Tanya Apakah hukum puasa awal dan akhir tahun hijriah? Di tempat saya di banjarmasin hukumnya sunnah dan saya mencari di internet hukumnya bid'ah. Jadi mana yg benar?
    Jawaban:
    Waalaikumsalam Wr. Wr.

    Jika mengamalkan puasa tersebut dengan dalil hadis tentang puasa di hari akhir Dzulhijjah dan hari pertama Syawal, yang dinisbahkan oleh al-Syaukani sebagai riwayat Ibnu Majah (al-Fawaid al-Majmuah 1/45), karena di dalamnya ada 2 perawi bernama al-Juwaibari dan Wahb, keduanya adalah pendusta, maka bisa jadi dari kelompok Wahabi akan mengatakan bid’ah.

    Namun perlu diketahui, bahwa di hari-hari tersebut, yakni akhir bulan dan awal bulan, adalah termasuk hari-hari gelap (karena kondisi hilal masih kecil), dan bagi ulama Syafiiyah melakukan puasa di Ayyam al-Suud (hari-hari gelap) adalah sunah, seperti Ayyam al-Bidl (hari-hari purnama).

    Hal ini berdasarkan sebuah hadis:

    صُوْمُوْا الشَّهْرَ وَسَرَرَهُ (رواه ابو داود عن معاوية)
    “Berpuasalah (di awal) bulan dan di akhir bulan” (HR Abu Dawud dari Muawiyah)

    Hadis ini termasuk hadis yang menunjukkan plin-plannya Syaikh Albani, bagaimana tidak? Sebab dalam Sunan Abu Dawud ia menilai dlaif, tetapi dalam al-Jami’ al-Shaghir ia menilainya hasan!

    قال الشيخ الألباني : ( حسن ) انظر حديث رقم : 3808 في صحيح الجامع (الجامع الصغير وزيادته - ج 1 / ص 726)

    Penjelasan makna hadis diatas sebagai berikut:

    (صُوْمُوْا الشَّهْرَ) يَعْنِي أَوَّلَهُ) وَسَرَرَهُ) بِفَتَحَاتٍ أَيْ آخِرَهُ كَمَا صَوَّبَهُ الْخَطَّابِي وَغَيْرُهُ وَجَرَى عَلَيْهِ النَّوَوِي ... قَدْ وَرَدَ نَدْبُ صَوْمِ الْأَيَّامِ السُّوْدِ وَهُوَ آخِرُ أَيَّامِ الشَّهْرِ (د عن معاوية) بن أبي سفيان ورواه عنه الديلمي أيضا. (فيض القدير - ج 4 / ص 281)
    “Berpuasalah di awal bulan dan akhir bulan”, sebagaimana dibenarkan oleh al-Khattabi dan al-Nawawi. Dan sungguh telah datang dalil anjuran berpuasa di hari-hari gelap yaitu akhir bulan” (Faidl al-Qadir 4/281)

    Bagi yang mengatakan bid’ah tentu masih akan berkilah: “Hadis itu kan setiap bulan, bukan khusus akhir tahun dan awal tahun?”. Inilah salah satu sudut perbedaan kita dengan Wahabi, bagi ulama ahli hadis menentukan hari-hari tertentu dengan amal saleh hukumnya adalah boleh (al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Bari). Wallahu A’lam

    Oleh : Ustadz Muhammad Ma'ruf Khozin

    Tauhid Aneh di Buku Pendidikan Agama Islam Kurikulum 2008

    Muslimedianews.com ~ Menyusupnya virus wahhabi kedalam Kurikulum pendidikan agama di Indonesia tidak hanya terjadi pada kurikulum 2013 saja. Paham wahhabi juga telah menyusup ke buku Pendidikan Agama Islam "AKIDAH AKHLAK" kelas X untuk Madrasah Aliyah pada Kurikulum 2008 lalu.

    Buku yang dicovernya tertulis nama Drs. H. Thayid Sah Saputri, Mpd. dan Drs. H. Wahyudin, M.Pd itu memuat pembagian tauhid yang tidak dikenal pada masa salafush shaleh.

    Dalam buku itu terdapat pembagian tauhid menjadi 3 yaitu Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Asma' wash Shifat yang menjadi ciri khas ajaran Wahhabi. Tidak hanya itu, nama ulama Wahhabi Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pun muncul yang buku AKIDAH AKHLAK tersebut.

    Syaikh Al-Utsaimin merupakan ulama wahhabi yang terang-terang tidak menafikan (meniadakan) tasybih  (menyerupakan) secara keseluruhan kepada Allah dengan makhluk-Nya. Dalam Fatawa Ibnu Utsaimin (10/770):

    نفي التشبيه على الإطلاق لا يصح ؛ لأن كل موجودين فلا بد أن يكون بينهما قدر مشترك يشتبهان فيه ، ويتميز كل واحد بما يختص به
    "Menafikan tasybih secara muthlaq tidaklah benar, karena setiap yang wujud wajib memiliki kadar perkongsian di antara keduanya yang serupa, dan memiliki kekhususan tersendiri dari maisng-masing".

    Pembagian Tauhd 3 Tanpa Dasar
    Pembagian tauhid seperti yang ada dalam buku Pendidikan Agama Islam Kurikulum 2008 itu sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, hadits, dan tidak ada seorang pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut. Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah.

    Pembagian tersebut bukan ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah.







    red: Ibnu L' RabassaSumber gambar/foto: Muhammad IbnAlwy Bafagih





    Sejarah Kalender Hijriyah

    Muslimedianews.com ~ “Memperingati Tahun Baru Hijriyah Bid’ah karena tidak dilakukan oleh Nabi”, kata mereka. Jangankan memperingati, kalender hijriyah saja tidak ada di zaman Nabi!!! Berarti Hijriyah juga Bid’ah?? Sebab kalender Hijriyah baru ada di masa Sayidina Umar:

    قَالَ سَعِيْدُ بْنُ الْمَسَيَّبِ : جَمَعَ عُمَرُ النَّاسَ فَسَأَلَهُمْ مِنْ أَيِّ يَوْمٍ يُكْتَبُ التَّارِيْخُ فَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ : مِنْ يَوْمَ هَاجَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرَكَ أَرْضَ الشِّرْكِ فَفَعَلَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (رواه الحاكم) تعليق الذهبي قي التلخيص : صحيح
    Said bin Musayyab berkata: “Umar mengumpulkan para sahabat: “Mulai hari apa menghitung tahun?” Ali berkata: “Sejak Nabi hijrah dan meninggalkan bumi syirik”. Lalu Umar setuju” (HR al-Hakim. Al-Dzahabi: Shahih)

    Selengkapnya disampaikan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir al-Syafi’i, ahli Tafsir dan sejarah yang bermadzhab Syafiiyah:

    قَدْ ذَكَرْنَا سَبَبَهُ فِي سِيْرَةِ عُمَرَ، وَذَلِكَ أَنَّهُ رُفِعَ إِلَى عُمَرَ صَكٌّ مَكْتُوْبٌ لِرَجُلٍ عَلَى آَخَرَ بِدَيْنٍ يَحِلُّ عَلَيْهِ فِي شَعْبَانَ، فَقَالَ: أَيُّ شَعْبَانَ ؟ أَمِنْ هَذِهِ السَّنَةِ أَمْ الَّتِي قَبْلَهَا، أَمِ الَّتِي بَعْدَهَا ؟ ثُمَّ جَمَعَ النَّاسَ فَقَالَ: ضَعُوْا لِلنَّاسِ شَيْئًا يَعْرِفُوْنَ فِيْهِ حُلُوْلَ دُيُوْنِهِمْ. فَيُقَالُ إِنَّهُم أَرَادَ بَعْضُهُمْ أَنْ يُؤَرِّخُوْا كَمَا تُؤَرِّخُ الْفَرَسُ بِمُلُوْكِهِمْ، كُلَّمَا هَلَكَ مَلِكٌ أَرَّخُوْا مِنْ تَارِيِخِ وِلَايَةِ الَّذِي بَعْدَهُ، فَكَرِهُوْا ذَلِكَ. وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: أَرِّخُوْا بِتَارِيْخِ الرُّوْمِ مِنْ زَمَانِ اِسْكَنْدَرَ فَكَرِهُوْا ذَلِكَ، وَلِطُوْلِهِ أَيْضًا. وَقَالَ قَائِلُوْنَ: أَرِّخُوْا مِنْ مَوْلِدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَقَالَ آَخَرُوْنَ مِنْ مَبْعَثِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ. وَأشَارَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَآَخَرُوْنَ أَنْ يُؤَرِّخَ مِنْ هِجْرَتِهِ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِيْنَةِ لِظُهُوْرِهِ لِكُلِّ أَحَدٍ فَإِنَّهُ أَظْهَرُ مِنَ الْمَوْلِدِ وَالْمَبْعَثِ. فَاسْتَحْسَنَ ذَلِكَ عُمَرُ وَالصَّحَابَةُ، فَأَمَرَ عُمَرُ أَنْ يُؤَرِّخَ مِنْ هِجْرَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَرَّخُوْا مِنْ أَوَّلِ تِلْكَ السَّنةِ مِنْ مُحَرَّمِهَا (البداية والنهاية - ج 7 / ص 85)
    “Telah kami sebutkan sebab munculnya kalender hijriyah di masa Umar. Yaitu ada laporan seseorang yang memiliki hutang kepada yang lain, yang jatuh tempo bulan Sya’ban. Umar berkata: Sya’ban kapan? Tahun ini, tahun lalu atau tahun depan? Maka Umar mengumpulkan umat Islam dan berkata: “Buatkan suatu hal yang bisa dijadikan masuknya masa membaya hutang”

    Sebagian berpendapat agar membuat kalender seperti kalender Persia, setiap rajanya mati maka dibuatkan kalender. Umat Islam tidak mau. Ada yang mengusulkan dengan kalender Romawi sejak masa Iskandar. Umat Islam tidak mau. Ada yang mengatakan: “Buatlah kalender sejak kelahiran Nabi Saw”. Yang lain mengatakan: “Sejak Nabi diankat jadi Rasul”

    Ali bin Abi Thalib dan lainnya berisyarat agar membuat kalender sejak hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah, karena ini diketahui semua orang dibanding kelahiran atau diangkat menjadi Rasul, kemudian Umar membuat kalender sejak hijrah Nabi dan umat Islam menghitung awal tahun tersebut dimulai bulan Muharram” (al-Bidayah wa al-Nihayah 7/85)
     
    Oleh : Ustadz Muhammad Ma'ruf Khozin

    Nama Bulan Muharram dan Maknanya

    Muslimedianews.com ~ Sebelum Khalifah Umar Bin Khattab menentukan momentum hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah sebagai titik penentu perhitungan hijriyah, bulan Muharram disebut dengan bulan Shafar Awal, karena posisinya yang terletak sebelum bulan shafar.

    Nama Muharram secara bahasa dapat diartikan sebagai bulan yang diharamkan. Yaitu bulan yang didalamnya orang-orang Arab diharamkan dilarang (diharamkan) melakukan peperangan. Begitulah kebiasaan mereka tempo dulu mengkhususkan bulan-bulan peperangan dan bulan-bulan gencatan senjata. Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir terdapat keterangan berikut,

    "Dinamakan bulan Muharram karena bulan tersebut memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan, bahkan bulan ini memiliki keistimewaan serta kemuliaan yang sangat amat sekali dikarenakan orang arab tempo dulu menyebutnya sebagai bulan yang mulia (haram), tahun berikutnya menyebut bulan biasa (halal)."

    Orang arab jaman dulu meyakini bahwa bulan Muharram adalah bulan suci sehingga tidak layak menodai bulan tersebut dengan peperangan, sedangkan pada bulan lain misalnya shafar, diperbolehkan melakukan peperangan. Nama shafar sendiri memiliki arti sepi atau sunyi dikarenakan tradisi orang arab yang pada keluar untuk berperang atau untuk bepergian pada bulan tersebut.

    "Dinamakan bulan shafar karena rumah-rumah mereka sepi, sedangkan para penghuninya keluar untuk berperang dan bepergian".

    Maka, sesuai dengan penamaannya bulan Muharaam adalah bulan yang di muliakan dan bulan dimana di larang melakukan peperangan. Demikianlah Allah swt. telah menentukan empat bulan yang dimuliakan, tiga di antaranya berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, sedangkan yang terakhir adalah Rajab terletak antara bulan Jumadal Ula dan Sya’ban.

    Oleh : Fuad H.
    via nu.or.id (red. Ulil.H)

    Khutbah Jum'at di Bulan Muharram : Mengambil Hikmah Hijrah

    Muslimedianews.com ~ ألحَمْدُ لِلّهِ. ألحَمْدُ لِلّهِ الذِي جَزَى العَامِلِيْنَ. وأحَبَّ الطَّائِعِيْنَ. وَأبْغَضَ العَاصِيْنَ. أشْهَدُ أنْ لاَ اِلهَ اِلااللهُ. وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدٍ الهَادِي اِلَى صرَاطِكَ المُسْتَقِيْمِ. وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالمُجَاهِدِيْنَ  فِي سَبِيْلِكَ الْقَوِيْمِ. أمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اتَّقُوْاللهَ الّذِي لا اِلهَ سِوَاهُ وَاعْلَمُوا أنَّ اللهَ أمَرَكُمْ بِالطَّاعَةِ والْعِبَادَةِ. وَنَهَاكُمْ بِالظُّلْمِ وَالْمَعْصِيَةِ. فَلا يَكُوْنُ ذلِكَ اِلاَّ لِخُسْرَانِكُمْ وَهَلالِكُمْ. وَلَكِنِّ اللهَ يَرْحَمُكُمْ وَأنْزَلَ نِعَمَهُ عَلَيْكُمْ. فَأَطِيْعُوْهُ وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا عَنِ السَّيِّئَاتِ. لِأَنَّ اللهَ جَزَى أَعْمَالَكُمْ. أَثَابَكُمْ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ. وَعَذَّبَكُمْ بِسَيّءِ أَفْعَالِكُمْ.

    قَالَ اللَّهُ تَعَالَى :أَعُوْذُبِااللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، فَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَأُخْرِجُواْ مِن دِيَارِهِمْ وَأُوذُواْ فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُواْ وَقُتِلُواْ لأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ ثَوَاباً مِّن عِندِ اللّهِ وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

      
    Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah,

    Melalui mimbar khutbah ini, saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada para jama’ah sekalian, marilah kita bersama-sama senantiasa meningkatkan jadar ketaqwaan kepada Allah SWT. Taqwa dalam arti yang sebenarnya. Yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan semua laranganNya. Bahwasannya tidak ada perbedaan antara seseorang dengan seorang yang lainnya. Maka alangkah bahagia dan beruntungnya orang yang termasuk dalam golongan muttaqin. Karena kelak akan mendapat tempat dan maqam yang mulia di sisi Ilahi.

    Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah,

    Masih di bulan Muharram ini memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan nikmatnya kepada kita semua. Yaitu dengan menggunakan nikmat itu ke jalan yang di ridloi-Nya. Bersyukur atas nikmatnya, maka Allah pun akan menambah nikmat itu. Sebagaimana dalam surat Ibrahim ayat 7 Allah SWT berfirman:

    وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
    Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab–Ku sangat pedih.”

    Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah,

    Sebagai upaya memningkatkan iman dan taqwa kepadanya, maka melalui datangnya Tahun Baru Hijriyah ini kita menegok sejarah masa silam, masa perjuangan Nabi SAW. Dan para sahabat-sahabat beliau menegakkan agama Allah.

    Sebagaimana di ketahui dalam catatan sejarah, bahwa Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat beliau mengembangkan risalah Islam di Mekkah banyak menemui tantangan dan hambatan yang tidak ringan. Orang-orang Quraisy menentangnya. Mereka melakukan penganiayaan terhadap sahabat-sahabat beliau dengan tujuan agar Nabi SAW menghentikan dakwahnya.

    Semakin hari kekejaman dan penganiayaan semakin keras, namun sungguh suatu keajaiban, semakin keras penindasan dan dan semakin keras penganiayaan, islam pun semakin berkembang. Tidak satupun orang yang begitu masuk Islam lalu sudi keluar atau menjadi murtad, bagaimanapun kersnya kekejaman dan penganiayaan yang mereka lakukan.

    Makin hari kekejaman itu semakin menjadi-jadi, dan kemudian mencapai puncaknya. Mereka sepakat untuk menangkap dan membunuh Nabi SAW. Dalam keadaan genting itulah, Rasulullah mendapat perintah hijrah ke madinah. Maka berhijrahlah beliau berssama para sahabat menuju kota yatsrib, yang sekarang menjadi kota madinah.

    Peristiwa hijrah ini terjadi tonggak perjuangan umat Islam intuk selanjutnmya mereka tidak hanya dikagumi oleh kawan tapi juga disegani  oleh lawan. Peristiwa hijrah akn tetap relevan atau cocok dikaitkan dengan konteks ruang dan waktu sekarang ataupun yang akan datang. Nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa hijrah itu akan tetap cocok dijadikan rujukan kehidupan. Banyak sekali hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut. Diantaranya:

    Pertama, hijrah merupakn perjalanan memperthankan keimanan. Karena iman para sahabat sudi meniggalakn kampong halaman, meninggalkan harta benda mereka. Karena iman mereka rela berpisah dengan orang yang dicintainya yang berbeda akidah. Iman yang mereka pertahankan melahirkan ketenangan dan ketentraman batin, kalau batin sudah merasa tentram dan teraasa bahagia, maka bagaimanapun pedihnya penderitaan dzahir yang mereka alami tidak akan terasa. Itulah mengapa sebabnya para sahabat mau berjalan di gurun pasir yang panas. Mereka melakukan perjalanan dari mekkah menuju madinah dengan bekal iman. Oleh karena ittu, dalam memperingati tahun baru hijriyah ini, masihlah kita tanamkan keimanan dalam diri kita  sebagaimana imannya para sahabat. Dan diwujudkan dalam bentuk amal-amal saleh dalam kehidupan ini.

    Para jamaah, iman akan membuat hidup seseorang jadi terarah. Kekuasaan dan kebebasan berfikir harus ada imbangannya. Allah tidak harus ada imbangannya. Allah ridak hanya menganugerahkan akal pada amnesia, tapi juga hati. Kita memeng butuh ilmu pengetahuan dan teknologi yang diimbangi dengan keimanan akan membuat manusia semakin sadar akan hakikat dirinaya, timbul pengakuan sebagaimana tersebuty dalam surah Ali imran ayat 191:

    رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِل
    Artinya: “Ya Tuhan kami tiada sia-sia Engkau menciptakan ini.”

    Iman juga berfungsi untuk mengendalikan nafsu. Makhluk yang bernama Malaikat cuma dianugerahakan akal saja tanpa nafsu, karena itu tidak ada malaikat yang mendurhakai allah, sehingga wajar kalau tiap hari berbuat salah. Sedangkan manusia di beri kedua-duanya akal sekaligus nafsu. Jika akal yang menguasai dirinya maka kebenaran  akan menang dan meningkat ke derajat malaikat. Namun kalau nafsu yang mengendalikan dirinya maka sifat-sifat binatang yang menghiasi perilakunya. Sehingga ia turun derajat ke tataran binatang. Hal ini seperti yang difirmankan oleh Allah dalam surh At-Tin ayat 4 dan 5 yang berbunyi:

      لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ. ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
    Artinya: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”

    Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah,

    Hikmah kedua adalah bahwasanya hijrah merupakan perjalanan ibadah. Pada waktu hijrah, dorongan sahabat untuk ikut tidak sama. Oleh karena itu Rasulullah SAW sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori bahwa menyatakan bahwa amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan bagi tiap orang apa yang diniatkannya.

    Oleh karena itu, semangat ibadah inilah yang harus menjiwai peringatan hijrah dan langkah memasuki tahun baru hijriah.

    Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah,

    Kemudian hikmah ketiga adalah bahwa hijrah adalah perjalanan ukhuwah.

    Para jamaah, kita bisa menyimak bersama bagaimana penduduk Madinah menyambut orang-orang mekkah sebagai saudara. Kemudian mereka bergail dalam suasana ukhuwah yang berlandaskan satu keyakinan bahwa semua manusia berasal dari Nabi Adam dan beliau diciptakan dari tanah. Maka bersatulah orang-orang muhajirin dan orang ansharsebagai saudara yang diikat oleh akidah. Dalam surah Al-Hujarat ayat 10 Allah Swt berfirman :

    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
    Artinya: ”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

    Dan kaum muhajirin dan anshar ini mendapat jaminan dari Allah akan masuk surga.  Sebagaimana dalam surah At-taubah ayat 100 Allah Swt berfirman :

    وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
    Artinya: “Dan orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk iسlam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridla kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”

    Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang dimuliakan Allah

    Demikianlah sekelumit tentang hikmah hijrah Nabi SAW yang dapat saya sampaikan dalam khutbah ini. Sebegai penutup saya ingin menyampaikan dua kisah penting yang dapat kita petik dalam menyikapi kondisi bangsa Indonesia saat ini.

    Perjalanan Nabi dari Makkah ke Madinah, sekitar 416 kilometer, ditempuh selama 16 hari dengan mengendarai onta. Nabi mengistirahatkan onta pada saat matahari hampir tepat di atas kepala dan baru melanjutkan perjalanan sore harinya. Betapa Nabi sangat menaruh belas kasih kepada sesama mahluk Allah.

    Dalam perjalanan itu, Nabi diikuti oleh pembunuh bayaran dari Makkah bernama Suroqoh bin Malik yang mengendarai kuda pilihan. Dia mendapatkan iming-iming hadiah seratus unta dan wanita cantik untuk bisa membunuh Nabi, minimal bisa menggagalkan perjalanan ke Madinah.

    Namun ketika hendak mendekati Nabi, kuda Suroqoh mendadak terpeleset dan jatuh. Riwayat lain menyebutkan, kuda Suroqoh terperosok masuk kedalam tanah, dan itu terjadi sampai tiga kali.

    Nabi yang mengetahui hal itu lalu mendekati Suroqoh dan menolongnya. Suroqoh yang penasaran dengan perilaku Nabi itu lantas menanyakan sesuatu perihal Tuhan Muhammad. Terjadilah dialog. Lalu turunlah ayat Al-Quran surat Al-Ihlas. Pada ayat pertama berbunyi,

    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
    “Kakanlah Dialah Allah Yang Maha Esa."

    Suroqoh tertegun, tidak bisa berkata apapun. Bahkan kemudian dia menawarkan barang-barang perbekalannya untuk keperluan perjalanan Nabi, namun beliau menolak.

    Inilah pelajaran pertama, bahwa seorang pemimpin tidak mudah menerima sesuatu dari orang lain karena kepemimpinannya.

    Peristiwa selanjutnya adalah ketika Nabi kehabisan perbekalan. Nabi bersama Sahabat Abu Bakar dan dua orang pengawal singgah di sebuah perkemahan, hendak membeli perbekalan. Perkemahan itu dihuni oleh seorang perempuan bernama Umi Ma'bad yang ternyata dalam keadaan serba berkekurangan.

    Ada seekor hewan perahan tapi dalam keadaan kurus kerontang. "Jangankan susu Tuan, air kencing hewan itu pun sudah tidak ada," kata Umi Ma'bad kepada Nabi.

    Namun kemudian Nabi mendekati hewan itu, memeras kantong susunya dan dengan izin Allah hewan itu keluar air susunya. Pertama-tama Nabi memberikan gelas berisi susu kepada Abu Bakar, kedua kepada Sahabat yang menuntun onta Nabi, ketika kepada Sahabat yang menuntun onta Abu Bakar, baru kemudian Nabi meminumnya.

    Banyak perintiwa penting dalam hijrah, namun dari peristiwa yang barusan kita diajarkan bahwa semestinya pemimpin mendahulukan kepentingan rakyatnya.

    Umi Ma'bad yang keheranan lalu bertanya kepada Nabi. "Kenapa Anda tidak minum terlebih dahulu?" Nabi menjawab:

    خَادِمُ اْلأُمَمِ آخِرُهُمْ شُرْباً

    Nabi mengajarkan bahwa, pelayan umat itu semestinya minumnya belakangan, mendahulukan kepentingan umat dari pada kepentingan pribadi.

    بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ


     

    Khutbah Muharram Bulan Mulia dan Asyuro Hari Istimewa

    Muslimedianews.com ~ الحمد لله الذى جعل شهر المحرم أول السنين والشهور, أحمده سبحانه وتعالى حمد عبد شكور , وأشهد أن لااله الاالله وحده لاشريك له شهادة تكون لنا ذخرا عند عزيز الغفور, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله رحمة للعالمين. اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ورسولك النبي الأمي سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وعلى جميع الانبياء والمرسلين واتبعهم اجمعين عدد ما بين السموات والأرضين – أما بعد
    Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
    Marilah kita bersama-sama tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Bersyukurlah bahwa kita semua masih diberi umur panjang menikmati tahun baru Islam. Tak terasa tahun telah berganti, umur telah bertambah, sudahkah semua it kita sertai dengan tambahnya iman dan taqwa? Bukankah Allah telah menambahkan umur dalam hidup kita? Mengapa kita tidak menambah keta’atan kepadanya? 
     
    Jama’ah Jum'ah yang berbahagia
    Ingatkah kita pada suatu hari di Empat Belas Abad yang lalu ketika Rasulullah saw melakukan perjalanan berat dari Makkah menuju Madinah. Di atas punggung onta, mendaki gunung berbatu, menuruni lembah dipanggang di bawah ganasnya terik matahari padang pasir. Medan yang berat menjadi tambah berat ketika harus menghindar kejaran kaum kafir Quraisy. Berjalan dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian. Hanya dengan niat dan keyakinan yang teguhlah Rasulullah saw berhasil akhirnya sampai pula di kota Madinah. Madinah menjadi pelabuhan dakwah Rasulullah saw yang menghantarkan kejayaan Islam. Dari Madinahlah Islam melebarkan sayapnya hingga ke pelosok-penjuru bumi. Ke Asia menembus lautan, mengarungi benua dan menaklukkan Alam. Semua itu Rasulullah saw lakukan demi syiar Islam, hingga kita manusia Nusantara dapat menikmati manisnya iman kepad-Nya. itulah salah satu hikmah hijrahnya Rasulullah saw. Begitu agungnya hikmah di balik hijrah Rasulullah saw, sehingga Umar bin Khattab ra. bersama-bersepakat dengan para sahabat me’monumen’kan hijirah Rasulullah saw dalam bentuk penanggalan dalam Islam.

    Jama’ah yang dimulikan Allah

    Marilah kita bersama-sama berhijrah, berpindah dan berusaha berubah menuju kebaikan, atau menuju yang lebih baik.. Karena sesungguhnya umur kita semakin menipis, jatah umur kita semakin menyempit. Alangkah baiknya jika kita segera melangkah meninggalkan segala yang buruk dan menggantinya dengan hal yang lebih bermakna. Sudahkah kita memenuhi tabungan amal kita dengan amal yang shaleh. Padahal umur kita semakin hari semakin berkurang. Seperti yang termaktub dalam hadits:

    طوبى لمن طال عمره وحسن عمله (رواه الطبرانى عن عبدالله بن يسر)
    Artinya: Sungguh berbahagia bagi orang yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya (HR. Thabrani)

    Memang dalam sejarah tercatat bahwa secara fisik Rasulullah saw hanya sekali melaksanakan hijrah. Akan tetapi hijrah itu harus kita maknai secara dinamis. Bahwa pergerakan dan perubahan tidak cukup dilaksanakan sekali seumur hidup. Jikalau dalam taraf tertentu kita telah merasa sudah baik, maka hendaklah terus berubah menuju ke yang lebih baik. Dan begitulah seterusnya.

    Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

    Bulan Muharram dalam tradisi Islam memiliki makna yang dalam dan sejarah yang panjang. Diantara kelebihan bulam Muharram terletak pada hari ‘asyura’ atau hari kesepuluh pada bulan Muharram. Karena pada hari ‘asyura’ itulah (seperti yang termaktub dalam I’anatut Thalibin) Allah untuk pertama kali menciptakan dunia, dan pada hari yang sama pula Allah akan mengakhiri kehidupan di dunia (qiyamat). Pada hari ‘asyura’ pula Allah mencipta Lauh Mahfudh dan Qalam, menurunkan hujan untuk pertama kalinya, menurunkan rahmat di atas bumi. Dan pada hari ‘asyura’ itu Allah mengangkat Nabi Isa as. ke atas langit. Dan pada hari ‘asyura’ itulah Nabi Nuh as. turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang. Sesampainya di daratan Nabi Nuh as. bertanya kepada pada umatnya “masihkah ada bekal pelayaran yang tersisa untuk dimakan?” kemudian mereka menjawab “masih ya Nabi” Kemudian Nabi Nuh memerintahkan untuk mengaduk sisa-sisa makanan itu menjadi adonan bubur, dan disedekahkan ke semua orang. Karena itulah kita mengenal bubur suro. Yaitu bubur yang dibikin untuk menghormati hari ‘asyuro’ yang diterjemahkan dalam bahasa kita menjadi bubur untuk selametan.

    Bubur suro merupakan pengejawentahan rasa syukur manusia atas keselamatan yang Selma ini diberikan oleh Allah swt. Namun dibalik itu bubur suro (jawa) selain simbol dari keselamatan juga pengabadian atas kemenangan Nabi Musa as, dan hancurnya bala Fir’aun. Oleh karena itu barang siapa berpuasa dihari ‘asyura’ seperti berpuasa selama satu tahun penuh, karena puasa di hari ‘asyura’ seperti puasanya para Nabi. Intinya hari ‘syura’ adalah hari istimewa. Banyak keistimewaan yang diberikan oleh Allah pada hari ini diantaranya adalah pelipat gandaan pahala bagi yang melaksanakan ibadah pada hari itu. Hari ini adalah hari kasih sayang, dianjurkan oleh semua muslim untuk melaksanakan kebaikan, menambah pundi-pundi pahala dengan bersilaturrahim, beribadah, dan banyak sedekah terutama bersedekah kepada anak yatim-piatu.

    Hadirin Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

    Bubur suro, baik yang dituangkan oleh Nabi Nuh as. maupun yang dimasak oleh para nenek dan ibu kita, bukanlah satu-satunya bentuk sedekah yang harus kita laksanakan pada bulan ini. Bubur itu hanyalah perlambang bahwa bulan Muharram, awal tahun baru Hijrah merupakan momentum untuk memperkokoh persaudaraan. Karena sejatinya bubur suro yang telah dimasak tak mungkin disembunyikan, pastilah untuk dihidangkan. Ada baiknya hidangan itu kita bagikan kepada tetangga dan sanak keluarga. Sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Nikmat umur terutama. Jika demikian logikanya, maka bubur itu bisa diganti dengan parcel berisi buah-buahan, atau serantang maknan, atau beberapa tusuk sate maupun iga bakar. Karena subtansinya adalah bersilaturrahmi membagi rasa sukur kepada sesama. Bukan bersilaturrahmi melalui pesan singkat yang dikirim dengan menebus pulsa. Bukan itu…!

    Akhirnya, saya ucapkan selamat tahun baru, semoga hari ini lebih baik dari hari kemaren, dan pastikanlah esok lebih baik dari hari ini…amien

    جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين, وأدخلناواياكم فى عباده الصالحين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وإذ أخذنا ميثاق بني إسرائيل لا تعبدون إلا الله وبالوالدين إحسانا وذي القربى واليتامى والمساكين وقولوا للناس حسنا وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ثم توليتم إلا قليلا منكم وأنتم معرضون.
    بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


    Sumber www.nu.or.id
     

    ARABIC

    FATAWA

    TAUSHIYAH

    KHUTBAH

    ISLAMIC ARTICLES

    TASHAWUF

    KHAZANAH

    TARIKH

    SIYASI

    MUSLIM YOUTH

    QUR'AN AND HADITS

    FIGURE / TOKOH

    INTERVIEW

    SYUBHAT & BANTAHAN

    ARTIKEL BEBAS

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News