Top News :
    6f2685a723d5dd228092da7913ae853e

    LTN PBNU Luncurkan Portal Web berbasis Layanan Jamaah


     
    Dengan mengambil moment hari Asyura pada 10 Muharram 1439 ini, Lembaga Ta’lif wan Nasyr / atau Lembaga Infokom dan Publikasi merilis versi beta web Layanan untuk membantu menjawab kebutuhan jamaah nahdliyin yang dimanapun dan kapanpun bisa diakses.
    Beberapa fitur dan layanan penting yang umumnya dibutuhkab oleh jamaah Nadliyin meliputi Kalkulator Zakat, Cari Ustadz, Info Pesantren, Sekolah, Perguruan Tinggi, Buku dan Koleksi Perpustakaan PBNU, Aplikasi Islami, Mesin Pencari NU, dan biografi Ulama serta info Ziarah, serta Tuntunan Ibadah yang beralamat di www.nahdlatululama.id .
     
    Layanan Kalkulator Zakat memberikan kemudahan bagi kalangan awam untuk menghitung zakat yang harus dikeluarkan untuk selanjutnya diarahkan untuk membayar zakat ke LazisNU sebagaimana arahan dari Ketua Lazisnu Pusat, KH Syamsul Huda.
     
    Sementara itu layanan 'Cari Ustadz' merupakan kolaborasi dengan Lembaga Dakwah NU menampilkan data profil ustadz sesuai wilayahnya, dan sementara ini masih wilayah Jawa dan Bali, Layanan ini diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi jamaah perkantoran yang mencari ustadz untuk keperluan Khotib Jum’at, kajian keIslaman, dan lainnya.
     
    Layanan 'Mesin Pencari' memberikan kemudahan dan jaminan keselamatan pencarian artikel keislaman, karena hasil pencarian yang bersumber dari Google sudah difilter sedemikian rupa sesuai kebutuhan jamaah nahdliyin. 

    Layanan penting lainnya dari portal web ini juga menyajikan lebih dari 6.000 judul buku yang selama ini tersimpan di perpustakaan PBNU, sehingga bisa membantu dan memberikan kemudahan bagi para pencari literatur keislamaan ahlussunnah wal jamaah annahdliyah.
     
    Ketua LTN PBNU, Hari Usmayadi, M.Kom, MM, menyampaikan harapannya agar layanan ini dapat bermanfaat bagi jamaah nahdliyin meskipun masih rilis versi beta, sementara pengembangan aplikasi lainnya dan pengayaan konten dan data masih terus berjalan dan menjadi project yang berkesinambungan.(mks)

    Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 3/Habis)

    Muslimedianews.com ~ Delapan tahun saya dekat dengan Gus Dur. Saya punya rekaman 95 menit dengan Gus Dur, dan itu tidak dimiliki oleh yang lain. Saat itu tiba-tiba Gus Dur minta dibawakan tim media saya. Gus Dur hanya memakai celana pendek sambil tiduran di ruang tamu minta direkam. “Pak sudah siap,” kata saya.

    “Ya sudah,” jawab Gus Dur.

    “Mohon Bapak pakai sarung,” protesku karena tak pantaslah Gus Dur sebagai narasumber hanya memakai celana pendek.

    Kata Gus Dur, “Lhoh, kan sumber utamanya Anda. Anda yang harus rapih. Saya hanya mendampingi.”

    Akhirnya saya minta Mas Munif, menantunya Mbah Abdul Jalil Mustaqim, untuk mengambilkan sarung. Lalu sarung itu diberikan ke Gus Dur dan hanya ditutupkan di atas celana. 90 menit tiba-tiba Gus Dur cerita soal kuliah dan belajar beliau.

    Gus Dur itu sosok pendendam yang baik. Dulu pernah saya di pesawat bersama Gus Dur, saya ijin, “Mohon maaf, Nurcholis Majid mau ke rumah saya di Jatiwangi.”

    “Iya, dia mau jadi presiden. Tapi nggak mungkin,” jawab Gus Dur.

    “Tapi Cak Nur bilang Pak,” kata saya. “Apa sih yang salah dengan saya? Gus Dur itu baca satu ayat dua ayat, tapi terkenal dan diaku jadi wali. Tapi saya padahal sudah menyebutkan ayat, surat, tafsir dan referensinya masih saja disalahpahami.” Kata Cak Nur yang saya tirukan.

    Gus Dur hanya diam, sama sekali tidak bertanya kepada saya. Hingga kemudian saat Gus Dur bertemu saya di kediaman Tuan Guru Turmudzi Lombok NTB, beliau tiba-tiba ceramah dengan membaca 10 ayat yang panjang-panjang sekaligus menyebutkan ayat serta suratnya. Juga tiba-tiba Gus Dur membaca qasidah-qasidah dan puisi-puisi lama (berbahasa Arab) yang sangat panjang, beserta keterangannya lengkap. Waktu itu saya tidak tahu ada apa dengan Gus Dur yang tiba-tiba seperti itu.

    Pas waktu pulang, saat di pesawat Gus Dur tiba-tiba memegang tangan saya dan berkata, “Anda dengerin ceramah saya di Lombok?”

    “Dengar Pak!” jawabku.

    “Catat, saya lebih hebat dari Cak Nur!”

    Waktu itulah saya baru sadar saat di pesawat sebelumnya beliau hanya diam ternyata karena tidak terima dengan perkataan Nurcholis Majid yang saya sampaikan ke beliau. Gus Dur benar-benar sosok pendendam yang baik.

    Saya belajar dari Gus Dur juga bahwa jadi manusia itu sangat berat. Saya teringat dan waktu itu saya baru sadar, ternyata shalatnya Gus Dur itu setelah wudhu kemudian duduk menghadap kiblat. Beliau juga mendawamkan wirid Ratibul Haddad menjelang akhir hayatnya.

    Saya juga teringat saat Gus Dur dicium tangannya oleh Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa. Waktu itu saya dan Gus Dur sedang di bandara. Tiba-tiba Habib Mundzir al-Musawa yang hendak dakwah ke Papua menghampiri dan menciumi tangan Gus Dur seraya bersimpuh di hadapan Gus Dur. Lalu saya tanya, “Ada apa Bib?”

    “Kalau wali ya Gus Dur, Kang Maman.” Jawab Habib Mundzir.

    Tiba-tiba Gus Dur bertanya kepada saya, “Itu siapa?”

    “Habib Mundzir, Pak,” jawab saya.

    “Kalau ingin tahu wali yang muda ya Habib Mundzir. Tapi usianya tidak panjang,” kata Gus Dur kemudian.

    Gus Dur sudah menyebut Habib Mundzir al-Musawa akan meninggal dunia dalam usia yang sangat muda.

    Gus Dur terkadang kalau marah itu menarik. Tiba-tiba saya disuruh bacain surat kabar, ada beberapa kiai yang menolak Gus Dur. Kemudian Gus Dur berkata, “Apa salah saya yah Kang Maman? Padahal saya tidak pernah berbuat salah kepada kiai-kiai itu.”

    Dalam masalah uang, saya pernah ceramah bareng Gus Dur. Waktu itu Gus Dur dapat amplop 50 juta, saya 5 juta. Ternyata punya saya yang 5 juta itu pun diminta Gus Dur,“Sini yang 5 juta Kang Maman!”

    Lalu tiba-tiba oleh Gus Dur uang itu dibagi-bagi ke dalam beberapa bagian, dan dimasukkan ke dalam amplop. Gus Dur kemudian meminta saya untuk menuliskan satu persatu nama-nama kiai di amplop itu sesuai yang diucapkan Gus Dur; kiai anu dari Kalimantan, kiai anu dari Sulawesi, kiai anu dari perbatasan Sulawesi, dst.

    Jadi Gus Dur tidak pernah punya dompet dan uang pun kadang-kadang selalu habis untuk dibagi-bagikan. Makanya sampai sekarang makam yang paling ramai dikunjungi orang Indonesia adalah makamnya Gus Dur. Gus Dur itu manusia, yang mampu memanusiakan manusia.

    “Kenapa sewaktu Muktamar di Solo saya diusir pakai anjing?” Gerutu Gus Dur tidak terima.

    Tapi saat turun ke bawah di Bandara Adi Sucipto, ada wartawan yang bertanya, “Gus, itu ada beberapa kiai yang menolak Anda.”

    Cara bertahan Gus Dur menarik. Gus Dur tiba-tiba tersenyum dan menjawab, “Ah kata siapa? itu yang bilang paling tukang becak pakai sorban.”

    Gus Dur mengijazahkan kepada saya di detik-detik terakhirnya, tanggal 7 Desember 2009, Ayat Kursi. Di kalimat “Wala Ya-uduhu dst...” dibaca 7 kali. Saya tanya, “Untuk apa Pak?”

    “Untuk penjagaan saja. Indonesia akan mengalami masa-masa sulit, gonjang-ganjing, sampai tahun 2030-an.” Jawab Gus Dur


    *Sya'roni As-Samfuriy. Disampaikan oleh KH. Maman Imanulhaq, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka dan Ketua Umum LDNU Pusat dalam Pengajian Akbar dan Khataman Al-Quran Reuni IKABU (Ikatan Alumni Bahrul Ulum Tambakberas se-Jabodetabek).

    Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 2)

    Muslimedianews.com ~ Ramadhan kemarin, ketika saya diundang oleh Kick Andy, dibuatkan sebuah acara bertajuk ‘Dakwah Ramah’ dengan merangkul anak-anak jalanan. Perasaan saya dan istri serta beberapa penonton di ruangan itu, melihat tidak ada yang salah dengan pernyataan saya.

    Namun ada perasaan tidak enak di hati saya. Melihat yang sudah-sudah sekelas Ketua Umum PBNU saja (Kyai Said Aqil) dibully terus-terusan, tapi beliau bandel. Hingga saya pernah bertanya, “Kyai kok tenang-tenang saja?” Jawab Kyai Said enteng, “Lha wong HP saya jadul.” Jadi selama ini beliau tidak bermedsos seperti twitter, facebook ataupun lainnya.

    Giliran Gus Mus yang saya tanya, “Abah tenang-tenang saja?” Jawab Gus Mus, “Lha iya, kita mikirnya Allah saja, kenapa mikir manusia?” Beliau kalau ke saya sangat luwes.

    Saya juga pernah bertanya kepada Mbah Mun (KH. Maimoen Zubair), karena sekelas beliau ada saja yang menyerang. Namun jawab Mbah Mun,“Saya itu senang aja dikomentari, mau jelek atau tidak.” Habib Luthfi Bin Yahya pun mengalami hal serupa dengan para pimpinan NU tersebut.

    Jadi setelah para pimpinan NU diserang tapi tidak mempan,maka serangan mulai ke tingkat bawah, yaitu saya sebagai Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU). Jadi waktu itu saya sudah tahu akan diserang. Betul saja, MCA (Muslim Cyber Army) menyerang dengan narasi yang tidak pernah saya ucapkan, “Perhatikan, adakah yang salah dari video ini?” Mereka mengambil (potongan) video yang satu menit, lalu mereka membuat narasi, “Kyai Maman menyamakan semua agama”.

    Apakah itu ada di pernyataan saya? Saya cek tidak ada. Dan dibully selama kurang lebih seminggu. Kalau saya sih biasa-biasa saja dibully, tapi yang tidak biasa adalah staf-staf saya di LDNU. Hingga putri saya yang sedang mesantren di Bahrul Ulum Jombang ikut marah, ngomong ke ibunya, “Mah, Papa sedang diserang, apa perlu kita bacain doa di sini, istighatsahan agar yang nyerang Papa mati semua?” Istri saya hanya menjawab, “Papamu tidak pernah mengajarkan untuk membalas orang yang membenci.”

    Anak-anak santri saya yang sedang keluar sering diomongi oleh salah satu guru yang kebetulan hari ini kampungnya terkenal dengan tertangkapnya seorang teroris. Kata dia Kyai Maman tidak pernah shalat, mengajarkan keagamaan yang ngacau, sering ziarah kubur, dlsb. Jadi tuduhan-tuduhan seperti itu sudah sangat biasa bagi saya.

    Singkat cerita, bully-an terhadap saya pasca acara Kick Andy, selesai setelah satu minggu. Tiba-tiba ada yang telepon ke Bang Andy (host acara Kick Andy), “Mas Andy, bolehkah saya minta nomor teleponnya Pak Maman?” Jawab Bang Andy, “Saya harus telepon dulu Kang Mamannya.”

    Kemudian Bang Andy telepon saya, katanya, “Kang, ada yang minta nomor telepon.” “Ini haters atau lovers?” tanya saya. Kata Bang Andy, “Aku tidak tahu.” Lalu saya jawab, “Ya sudah, kasih saja.”

    Beberapa saat kemudian orang itu menelepon saya, “Pak Maman, bolehkah saya berkunjung ke rumah?”

    Bayanganku langsung teringat dulu saat tragedi di Monas, saya digebukin sampai kepala saya dijahit dengan 18 jahitan, dagu 4 jahitan dan dada saya diinjak-injak. Saya juga teringat saat Gus Dur datang ke tempat saya dirawat, beliau nampak bersedih. Waktu itu kepala saya masih menetes darah, kemudian tangan Gus Dur diusapkan ke darah itu lalu dicium di hidungnya seraya berkata, “Tidak boleh ada lagi darah yang mengucur untuk membela keragaman, membela kebhinnekaan.” 

    Namun kemudian Gus Dur tersenyum dan berkata, “Tapi bersyukur saja Kang Manan, Anda hanya 18 jahitan tapi jadi terkenal seluruh Indonesia.”

    Saya terus-terusan difitnah, pesantren saya diprovokasi, dan lain sebagainya. Ada saja orang yang percaya bahwa saya salah. Ada beberapa tokoh NU yang datang dari Tanjungsari, Tasikmalaya, untuk klarifikasi. Saya jawab, “Tidak ada yang salah. Saya yakin dengan Islam. Dst.”

    Singkat cerita orang yang menelepon saya datang bersama istrinya ke tempat saya di Jatiwangi Majalengka. Orang itu datang ke ayah saya seraya bilang, “Saya mau ketemu Pak Maman.” Ayah saya menjawab, “Pak Mamannya tidak ada, sedang di Jakarta.” “Saya ingin tahu, benar atau tidak di sini ada pesantrennya,” kata orang China tadi kemudian.

    Lalu mereka diajak keliling ditunjukkan di mana anak-anak jalanannya, di mana kepengurusan Paket C, dan lain sebagainya. “Tempat ini bagaimana cara membangunnya?” tanyanya kemudian. Dijawab, “Dibangun sedikit-demi sedikit.” Jadi tidak seperti pesantren-pesantren yang pinjam uang dulu ke bank puluhan milyar, baru dicarikan santrinya dengan biaya SPP puluhan juta perbulan. Kita pesantren-pesantren NU benar-benar dimulai dari nol, bahkan terkadang harus menggratiskan biaya para santrinya.

    Akhirnya orang itu bilang, “Pak Haji, bilang ke Pak Maman, apa yang dibutuhkan?” Ayah mertua saya hanya bilang, “Di sini sering ada acara Fatayat, Muslimat, IPPNU dan semuanya tingkat Jawa Barat. Jadi butuh Aula.”

    Lalu orang itu berkata, “Ok, saya akan bangun Aula. Saya nonton sepanjang acara Kick Andy. Saya tahu persis bagaimana perasaan Pak Maman ketika dibully. Saya hanya ingin mengatakan akan bantu kepada siapapun yang berjuang di jalan Tuhan.” Tanpa berpanjang kata dan tanpa proposal yang rumit, orang itu menyumbangkan dananya sebesar 1 Milyar. Saya meyakini itu bagian dari keberkahan.

    Menyambungkan ke cerita sebelumnya, saya menikah tahun 1994 dengan Ibu Hj. Upik Rofiqoh. Dulu saya beserta istri sering sowan ke Ibu Nyai Khadijah Bahrul Ulum Jombang. Kepala kami sering dielus-elus oleh Ibu Nyai seraya didoakan. Sampai sekarang masih sangat terasa keberkahan doa-doa itu.

    Singkat kata, semoga anak-cucu kita meneruskan estafet perjuangan ini, tetap mesantren di pesantren-pesantren NU, dan tetap jadi Sarkub (Sarjana Kuburan). Jangan sampai ada lulusan Pesantren Tambakberas tiba-tiba jadi anti ziarah kubur. Lanjut nanti ke bagian 3 kisah menarik Gus Dur dengan para kyai NU...

    *Sya'roni As-Samfuriy. Disampaikan oleh KH. Maman Imanulhaq, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka dan Ketua Umum LDNU Pusat dalam Pengajian Akbar dan Khataman Al-Quran Reuni IKABU (Ikatan Alumni Bahrul Ulum Tambakberas se-Jabodetabek).

     

    HIKMAH

    ARABIC

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News