Top News :
    6f2685a723d5dd228092da7913ae853e

    Sejarah Disyariatkan Wudhu

    Jakarta, Muslimedianews ~ Kita, umat muslim di Indonesia khususnya, sudah memiliki cara pandang kalau wudhu dan salat adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Dalam penjelasan fikih, wudhu dikenal sebagai syarat sah salat. Dengan kata lain, salat kita tidak bisa disebut sah jika tidak melaksanakan wudhu. 
    Yang juga umum diketahui, adalah kapan perintah salat pertama kali diturunkan. Biasanya, di setiap acara memperingati peristiwa Isra’ Miraj, para da’i biasanya akan bercerita bahwa pada peristiwa ini Rasulullah Saw. diberikan perintah salat. Salat pada awalnya diperintahkan sebanyak 50 waktu. Lalu atas “masukan” Nabi Musa As. kepada Nabi Muhammad Saw., diturunkan sampai hanya 5 waktu saja. 
    Tapi, jarang yang bertanya kapan pertama kali disyariatkannya wudhu ? apakah ia diperintahkan bersama dengan salat, atau terpisah, atau sesudahnya, atau sebelumnya ? 
    Di beberapa kitab fikih, seperti Fath al-Mu’in, tidak disebutkan kapan wudhu disebutkan, disana hanya disebutkan kalau shalat disyariatkan sebelum hijrah ke Madinah, pada tahun ke-10 kenabian Muhammad Saw. Dalam pendapat yang sama di kitab fikih Syafi’iyyah lain, seperti Hasyiyah Qalyubi ‘ala al-Mahalli. Imam Qalyubi, penulis kitab juga memberikan sejumlah pendapat lain. Menurutnya, ada yang berpendapat kalau wudhu baru disyariatkan pada tahun ke-16 kenabian. Namun, menarik karena al-Qalyubi juga menghadirkan pendapat yang menyatakan kalau syariat wudhu adalah syariat umat-umat sebelumnya. 
    Penjelasan yang ber-genre sejarah seputar ibadah salat dapat ditemukan dalam sebuah buku setebal 94 halaman berjudul Tarikh al-Shalat karya Dr. Jawwad Ali. Sebagai seorang sejarawan, ia mengelaborasi sejarah syariat wudhu, dengan memulai penjelasan lewat tradisi Islam. Hadis pun dipilih sebagai penyokong penjelasannya yang pertama. Riwayat al-Baihaqi dalam al-Dalail al-Nubuwwah menyebutkan bahwa berwudhu disyariatkan bersamaan dengan pengajaran shalat oleh malaikat Jibril kepada Nabi Saw.

    عن محمد بن إسحاق قال وكانت خديجة أول من آمن بالله ورسوله وصدق بما جاء به قال ثم أن جبريل عليه السلام أتى رسول الله حين افترضت عليه الصلاة فهمز له بعقبه في ناحية الوادي فانفجرت له عين من ماء مزن فتوضأ جبريل ومحمد عليهما السلام ثم صليا ركعتين وسجدا أربع سجدات ثم رجع النبي قد أقر الله عينه وطابت نفسه وجاءه ما يحب من الله فأخذ بيد خديجة حتى أتى بها العين فتوضأ كما توضأ جبريل ثم ركع ركعتين وأربع سجدات هو وخديجة ثم كان هو وخديجة يصليان سرا
    “Dari Muhammad ibn Ishaq berkata: bahwa Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada Allah Swt. dan rasulnya dan meyakini kebenaran ajarannya. Kemudian, Jibril alaihi-s-salam mendatangi Rasulullah Saw. ketika sudah (diturunkan perintah) diwajibkan shalat. Lalu, Malaikat Jibril menekan tumitnya disalah satu sisi lembah, lalu memanucurlah mata air dingin dan digunakan oleh malaikat Jibril dan Nabi Muhammad Saw. berwudhu, kemudian mereka berdua shalat dua rakaat dan empat sujud. Setelahnya, Rasulullah Saw. pulang dan mata airnya itu dijadikan oleh Allah tetap memancur, senanglah perasaan Rasulullah dan kembali kemata air itu bersama Khadijah untuk melakukan shalat. Keduanya berwudhu seperti yang dilakukan Jibril, kemudia shalat dua rakaat dan empat sujud secara sembunyi-sembunyi.” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah)
    Dari hadis ini pula, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pendapat dikalangan pakar sejarah mengenai tahun terjadinya Isra’ Mi’raj dan wafatnya Khadijah. Ibn Ishaq, seperti yang kemudian dikutip Ibn Hisyam menyatakan bahwa Khadijah baru wafat setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. Sehingga, wudhu pun sudah diketahui oleh Khadijah dan beberapa umat muslim lain sebelum hijrah ke Madinah. 

    Bagaimana Soal Ayat “Idza qumtum ila-s-shalaati fa-ghsiluu wujuuhakum...” ?
    Sementara, yang berpendapat kalau baru disyariatkan di Madinah, berpegang kepada asbab al-nuzul ayat 5 dari surah al-Maidah ini. Tahir ibn ‘Ashur, mufasir asal Tunisia memaparkan bahwa melihat surah al-Maidah adalah diantara surat yang turun paling akhir, maka ayat ini tidak menunjukkan kalau wudhu baru disyariatkan, justru wudhu sudah diajarkan bersamaan dengan shalat, berdasarkan hadis riwayat al-Baihaqi tadi. Sementara kedudukan ayat ini, adalah paparan tentang diantara nikmat-nikmat Allah Swt. yang diberikan kepada umat manusia yang bertakwa. Demikan pendapat Ibn ‘Ashur dalam tafsirnya. Atau, seperti yang disampaikan Ibn Hazm dalam karyanya dibidang sejarah, al-Sirah al-Halbiyah seperti dikutip Jawwad Ali, bahwa perintah wudhu sifatnya adalah makiyyun fi al-fardh, wa madaniyyun fi al-tilaawah (diwajibkan di Mekkah, namun diturunkan nash Qurannya di Madinah), Wallahu A’lam. 



    Oleh: Masrur Irsyadi, Peneliti Hadis di el-Bukhari Institute.

    Adab Murid terhadap Gurunya (Kitab Manhajus Sawi)

    Muslimedianews.com ~ Terdapat dalam atsar ucapan berikut, “Pelajarilah ilmu. Dan pelajarilah untuk ilmu itu ketenangan dan kewibawaan. Bertawadhu’lah kepada orang yang engkau belajar darinya (guru).” Imam an-Nawawi mengatakan, “Seorang murid semestinya bersikap tawadhu’ dan beradab kepada gurunya meskipun gurunya lebih muda usianya, lebih tidak terkenal, lebih rendah nasabnya, dan lebih sedikit kebaikannya. Maka dengan ketwadhu’annya dia akan memehami ilmu.”

    Para ulama mengatkan dalam sebuah sajak:

    الْعِلْمُ حَرْبٌ لِلْفَتَى الْمُتَعَالِيْ # كَالسَّيْلِ لِلْمَكَانِ الْعَلِيْ

    “Ilmu itu memusuhi pemuda yang tinggi hati. Sebgaimana banjir memusuhi tempat yang tinggi.”

    Imam Ali bin Hasan Alattas mengatakan, “Sesungguhnya pencapaian dari ilmu, pemahaman dan cahaya (tersingkapnya hijab) adalah bergantung pada ukuran adab terhadap guru. Sebagaimana besarnya ukuran (adab) pada dirimu, demikian pula ukuran itu di sisi Allah, tanpa diragukan lagi.”

    Beliau juga mengatakan, bahwa al-Amin dan al-Ma’mun, dua putra Harun ar-Rasyid, saling berlomba untuk meraih sandal guru mereka, al-Kisai, agar dapat memakaikan sandal itu pada gurunya. Maka berkatalah guru mereka, “Masing-masing memegang satu.”

    Di dalam hadits dikatakan, “Ayahmu ada tiga; ayah yang menjadi penyebab kelahiranmu, ayah yang menikahkanmu dengan putrinya, dan ayah yang mengajarimu dialah yang paling utama.”

    Saya (Habib Zein bin Smith) katakana, bahwa menegenai hal itu ada yang mengtaakan:

    أُقَدُِمُ أُسْتَاذِيْ عَلَى بِرِّ وَالِدِيْ # وَاِنْ كَانَ لِيْ مِنْ وَالِدِيْ الْبِرُّ وَالْعَطْفُ
    فَهَذَا مُرَبِّيْ الرُّوْحِ وَالرُّوْحُ جَوْهَرُ # وَهَذَا مُرَبِّيْ الْجِسْمِ وَهْوَ لَهَا صَدْفُ

    “Aku dahulukan guruku disbanding bakti kepada ayahku, sekalipun kudapatkan kebaikan dan kasih saying dari ayahku. Yang ini pendidik jiwaku, dan jiwa adalah permata. Dan yang itu pendidik tubuhku, dan ia bagai kerang baginya..”

    Al-Imam asy-Sya’rani mengatakan, “Telah sampai kepada kami dari Syaikh Bahauddin as-Subki yang mengatakan, ‘Ketika aku sedang menaiki kendaraan bersama ayahku, yakni Syaikhul Islam Taqiyyuddin as-Subki, di suatu jalan di negeri Syam, tiba-tiba dia mendengar seorang petani Syam mengatakan, ‘Aku pernah bertanya kepada al-Faqih Muhyiddin an-Nawawi tentang masalah ini dan itu.’ Maka turunlah ayahku dari kudanya dan mengatakan, ‘Demi Allah, aku tidak akan mengendarai tunggangan sementara orang ini –yang matanya pernah memandang Muhyiddin- berjalan!’ Kemudian dengan bersumpah kepada Allah meminta petani tersebut untuk mengendarai kuda, sedangkan dirinya berjalan sampai memasuki negeri Syam.”

    Kemudian Imam asy-Sya’rani mengatakan, “Begitulah wahai saudaraku, para ulama berlaku terhadap guru-guru mereka meskipun dia tidak menjumpainya karena datang beberapa tahun setelah kematiannya.”

    Saya (Habib Zein bin Smith) berkata bahwa yang diriwayatkan oleh Imam as-Subki pula adalah ketika beliau mengunjungi Darul Hadits yang dinisbatkan kepada Imam an-Nawawi yang terletak di kota Damaskus, beliau melepas bajunya dan menempelkan badannya di sana sambil mendendangkan syair:

    وَفِيْ دَارِ الْحَدِيْثِ لَطِيْفُ مَعْنًى # اِلَى بَسْطٍ لَهَا أَصْبُوْ وَآوِيْ
    لَعَلِّيْ أَنْ أَمَسَّ بِمُرِّ وَجْهِيْ # مَكَانًا مَسَّهُ قَدَمُ النَّوَاوِيْ

    “Di Darul Hadits terdapat makna yang lembut. Pada hamparannya aku merunduk dan tersungkur. Barangkali wajahku yang berdosa ini menyentuh tempat yang bersentuhan dengan telapak kaki an-Nawawi.”

    (Sumber kitab: Al-Manhaj as-Sawiy, karya al-Allamah al-Muhaqqiq ad-Da’I Ilallah al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, (terj. hlm. 178-180 jilid 1). Edisi terjemahan berjudul “Thariqah Alawiyah; Jalan Lurus Menuju Allah”).

    §  Harga Buku: Thariqah Alawiyah Jalan Lurus Menuju Allah (Terj. Manhajus Sawi) = Harga asli Sepaket (2 jilid)* Rp. 270.000. Diskon 10% = Rp. 243.000.- (Belum termasuk ongkos kirim). Lokasi pengiriman dari Buaran Pekalongan.
    §  Cara Pemesanan sangat mudah, cukup tulis: NAMA LENGKAP – ALAMAT LENGKAP – NOMOR HP AKTIF. Kirim melalui komentar, inbok atau di CP: 085774858808 (SMS), 083861381266 (WA), dan D0D2F3D5 (BB). (Akun Fb: Syaroni As-Samfuriy).

    *Ket.: Jilid 1 (tebal 435 halaman): Rp. 145.000. Jilid 2 (tebal 420 halaman): Rp. 125.000 (Harga asli sepaket (2 jilid): Rp. 270.000). Diskon 10%, jadi hanya = Rp. 243.000,- Saat ini hanya ada 21 Paket. Dikirim serempak hari Senin besok. Buruan pesan sekarang supaya kebagian.

    Ibadah Haji Masa Nabi Muhammad SAW


    Jakarta, Muslimedianews ~ Sejarah Kakbah tidak bisa dipisahkan dari Nabi Ibrahim. Bahkan Kakbah identik dengan Ibrahim dan putranya, Ismail. Merekalah yang mendapatkan mandat langsung dari Allah untuk mendirikan Kakbah. Setelah mereka mendirikan Kakbah dan mendapatkan seruan perdana pelaksanaan haji yang ditujukan kepada Nabi Ibrahim As dan umatnya dengan cara mengelilingi Kakbah dan melaksanakan serangkaian ibadah di sana. Namun fungsi Kakbah yang mulia ini dinodai oleh generasi pra-Islam dengan menjadikan Kakbah sebagai tempat mereka menyembah berhala-berhala. 

    Sudah menjadi kebiasaan orang Arab pada saat itu adalah menyembah berhala kecuali sebagian kecil penganut agama Yahudi dan Nasrani. Selain menyembah berhala sebagian mereka juga menyembah matahari, bintang dan angin, bahkan kadang-kadang mereka juga menyembah batu-batu kecil dan pepohonan. Mereka tidak mempercayai Tuhan Yang Maha Esa, pada masing-masing daerah mempunyai dewi-dewi yang banyak jumlahnya. Al-Uzza, al-Latta, Manah dan Hubal merupakan berhala mereka yang terbesar dan paling dimuliakan. Tidak kurang 360 berhala ditata di sekeliling Kakbah untuk sesembahan, padahal penyembahan berhala-berhala ini bertentangan dengan ajaran tauhid di bawa oleh setiap rasul.

    Maka setelah Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul, beliau membawa perubahan besar terhadap fungsi Kakbah sebagi Baitullah (rumah Allah). Karena bangsa Arab pada zaman Jahiliyah telah menjadikan Kakbah tempat berhala-berhala yang mereka anggap sebagai Tuhan yang dapat menolong mereka. Misi Nabi Muhammad terhadap Kakbah adalah mengembalikan Kakbah sebagai tujuan pembangunannya sebagaimana yang dirintis oleh Nabi Ibrahim As dan Ismail As yaitu menjadikan Kakbah sebagai pusat peribadatan umat Islam. 

    Meskipun dengan penuh tantangan dan rintangan dari berbagai pihak yang membenci Islam dan dengan izin Allah Swt pada abad ke-8 H kaum muslimin mendapatkan kemenangan dari kafir Quraisy yang dikenal dengan Fathu Makkah. Kaum muslim pun membuang semua berhala-berhala yang bergantungan di sekeliling Kakbah serta melakukan tawaf sebanyak tujuh kali sebagai rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kemengangan bagi kaum muslimin.

    Penaklukan kota Mekah ini menjadi pembuka sejarah baru Islam yang secara otomatis Islam lah yang menguasai politik sekaligus mengangkat posisi dan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai penguasa tertinggi di wilayah Jazirah ini. Kemenangan Nabi atas Mekah menjadi lambang kemenangan kebenaran dan terpupusnya era kebatilan di Mekah. Maka pada tahun ke-9 H, Rasulullah mengangkat Abu Bakar sebagai Amirul Hajj menyertai kaum muslimin untuk mengerjakan ibadah haji. Rasulullah pada saat itu tidak ikut melaksanakan ibadah haji karena masih terikat dengan perjanjian Hudaybiyah yang melarang Rasulullah memasuki Mekah.

    Pada tahun ke-10 H, Nabi merasa bahwa misi dakwahnya telah sempurna, dan beliau menyadari bahwa masa hayatnya sudah dekat. Karena itu Nabi merencanakan untuk menunaikan ibdah haji yang terakhir. Inilah yang kemudian dikenal dengan Haji Wada’ (haji perpisahan). Muhammad Husain Haikal dalam kitabnya Hayat Muhammad menegaskan, pada tanggal 25 Dzulkaidah tahun kesepuluh  Hijriyah Nabi berangkat dengan membawa semua istrinya, masing-masing dalam kendaraannya. Ia berangkat dengan diikuti jumlah manusia yang begitu berlimpah para penulis sejarah ada yang menyebutkan 90.000 orang dan ada pula yang menyebutkan 114.000 orang. Mereka berangkat dibawa oleh iman, jantung mereka penuh kemuliaan, penuh keikhlasanm menuju ke Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji  besar. 

    Ketika mereka tiba di Dzulhulaifah, Nabi mendirikan kemah (tenda) hingga lewat tengah malam pada pagi harinya Nabi menyuruh seluruh jamaah haji mengenakan pakaian ihram dengan pakaian ihram inilah mereka menghadap Tuhan dengan derajat yang sama samabil bertalbiah yang diikuti oleh kaum muslimin di belakangnya. Setelah memasuki kota Mekah, Nabi segera menuju ke Kakbah untuk melaksanakan tawaf tujuh kali putaran, lalu nabi berdoa dimakam Ibrahim. Setelah itu Nabi keluar dari Masjidil Haram untuk melakuka sai (jalan setengah berlari) antara  bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Setelah ibadah sai terlaksana, Nabi membebaskan seluruh jamaah haji dari hal-hal yang dilarang selama ibadah haji berlangsung.

    Pada tanggal 8 Dzulhijah, Nabi meninggalkan kota Mekah menuji ke Mina dan beliau bermalam di tempat tersebut. Setelah menunaikan shalat Subuh, Nabi menuju ke tanah Arafah dan di tempat ini kemudian beliau menyampaikn khutbahnya. Ada empat pesan penting yang terkandung dalam khutabah tersebut. Pertama,nasihat untuk senantiasa mengabdi kepada Allah SWT. Kedua, nasihat agar menghargai harkat martabat para perempuan (istri-istri), ketiga, nasihat supaya umat Islam senantiasa menjaga  ukhuah islamiyah, dan yang terakhir ialah menjadikan agama Islam sebagai agama yang resmi, hal ini diungkapkan oleh Nabi setelah menerima wahyu terakhir: 

    “Pada hari ini  Aku sempurnakan agama-Ku untuk kamu sekalian dan telah aku sempurnakan pula nikmat-Ku untuk mu dan Aku rela Islam menjadi agamamu sekalian”. (Qs. Al-Maidah: 5).

    Setelah Nabi Muhammad membaca ayat tersebut yakni surat al-Maidah ayat 5,  Nabi meninggalkan Arafah pada sore hari dan menghabiskan waktu malamnya di Muzdalifah. Pada hari berikutnya nabi menuji ke Masy’aril Haram lalu dilanjutkan ke Mina. Di sinilah Nabi menyembelih kurban 63 ekor unta masing-masing untuk 63 tahun usia Nabi, lalu nabi menggenapkan kurbannya menjadi 100 ekor unta. Setelah itu Nabi Muhammad memotong sebagian rambutnya yang menandai kesempurnaan pelaksanaan ibadah haji. Dalam menjalankan haji wada ini, nabi menjelaskan secara praktis bagaimana umat Islam menjalankan kewajiban dalam ibadah haji.



    Oleh: Alfauzi Abdullah, Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Peneliti Hadis di el-Bukhari Institute.

     

    HIKMAH

    ARABIC

    KHUTBAH

    TASHAWUF

    FIGURE / TOKOH

    SYUBHAT & BANTAHAN

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News