Top News :

    Sebanyak 35 Peserta Ikuti Daurah Kaderisasi Aswaja Intensif

    Muslimedianews.com ~ Sebanyak 35 peserta dari berbagai wilayah mengikuti Daurah Kaderisasi Awaja di kediaman Ustadz Muhammad Idrus Ramli, salah seorang pakar Aswaja Indonesia, di Wonorejo Kencong Jember Jawa Timur.

    Daurah yang berlangsung selama 6 hari itu dimulai pada 16 Juli 2014 dan bekerjasama dengan JAMUSPA (Jam'iyyah Muballighi Suna Panasaran). Diantaranya berasal dari Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Bengkulu dan beberapa tempat lainnya.

    redaktur. Ibnu L' Rabassa
    sumber : ust. Muhammad Idrus Ramli



    Masuk Surga Bukan Karena Amal tapi Karena Rahmat Allah

    Muslimedianews.com ~

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا مِنْ أَحَدٍ يُدْخِلُهُ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ ». فَقِيلَ وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى رَبِّى بِرَحْمَةٍ ».
    Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seseorang yang dimasukkan ke surga oleh amalnya.” Lalu ada yang bertanya: “Tidak pula engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak pula saya, kecuali Tuhanku melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. al-Bukhari [5673, 6463] dan Muslim [2816]).

    Hadits di atas memberikan pesan
    1. Masuk surga bagi seorang Mukmin semata-mata karena anugerah dan rahmat Allah, bukan karena amal dan kesungguhannya dalam taat kepada Allah.
    2. Hadits ini mengajak kita agar menyempurnakan amal dan ikhlas dalam beramal kepada Allah untuk meraih ridha-Nya.
    3. Peringatan kepada seorang Mukmin agar tidak mengandalkan amal shalehnya, akan tetapi ia harus mencari dan memohon ridha Allah dan diterimanya amal.
    4. Amal shaleh seseorang, betatapun banyaknya, tidak menjadi penyebab ia masuk surga. Karena amal yang dilakukannya termasuk taufiq dan hidayah Allah kepada hamba-Nya, sehingga juga termasuk anugerah dan rahmat-Nya.
    5. Hadits di atas tidak memberikan pengertian bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dijamin masuk surga. Hadits di atas memberikan pengertian, bahwa orang yang masuk surga adalah karena rahmat Allah. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rahmat Allah bagi umat manusia.

    وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين
    “Tidak lah Kamu mengutusmu Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.”

    Jadi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap dijamin masuk surga, karena rahmat Allah yang dilimpahkan kepada beliau.

    (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 12/252; al-Imam al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 17/131, al-Shabuni, al-Syarh al-Muyassar li-Shahih al-Bukhari, 5/250, 454). Wallahu a’lam.

    Oleh : Ustadz Muhammad Idrus Ramli

    Sikap Islami Terhadap Pemimpin Yang Terpilih

    Muslimedianews.com ~ Bagaimana sikap Islami terhadap pemimpin terpilih, lebih-lebih yang tidak disukai?

    1) Meyakini bahwa pemimpin tersebut terpilih semata-mata takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    وَكَذلِكَ نُوَلِّيْ بَعْضَ الظَّالِمِيْنَ بَعْضًا بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ. (الأنعام : 129).
    “Demikianlah kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”. (QS. al-An’am : 129).

    Dalam menafsirkan ayat di atas, al-Imam Fakhruddin al-Razi berkata:

    اَلْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ: اْلآيَةُ تَدُلُّ عَلىَ أَنَّ الرَّعِيَّةَ مَتَى كَانُوْا ظَالِمِيْنَ، فَاللهُ تَعَالَى يُسَلِّطُ عَلَيْهِمْ ظَالِماً مِثْلَهُمْ، فَإِنْ أَرَادُوْا أَنْ يَتَخَلَّصُوْا مِنْ ذَلِكَ اْلأَمِيْرِ الظَّالِمِ فَلْيَتْرُكُوْا الظُّلْمَ. وَعَنْ مَالِكِ بْنِ دِيْنَارٍ: جَاءَ فِيْ بَعْضِ كُتُبِ اللهِ تَعَالَى: أَنَا اللهُ مَالِكُ الْمُلُوْكِ، قُلُوْبُ الْمُلُوْكِ وَنَوَاصِيْهَا بِيَدِيْ، فَمَنْ أَطَاعَنِيْ جَعَلْتُهُمْ عَلَيْهِ رَحْمَةً، وَمَنْ عَصَانِيْ جَعَلْتُهُمْ عَلَيْهِ نِقْمَةً، لاَ تَشْغَلُوْا أَنْفُسَكُمْ بِسَبِّ الْمُلُوْكِ، لَكِنْ تُوْبُوْا إِلَيَّ أُعَطِّفُهُمْ عَلَيْكُمْ .
    “Masalah kedua, ayat di atas menunjukkan bahwa apabila rakyat melakukan kezaliman, maka Allah akan mengangkat seorang yang zalim seperti mereka sebagai penguasa. Sehingga apabila mereka ingin melepaskan diri dari pemimpin yang zalim tersebut, hendaknya mereka meninggalkan perbuatan zalim. Diriwayatkan dari Malik bin Dinar: “Dalam sebagian kitab-kitab Allah subhanahu wa ta’ala, Allah berfirman: “Akulah Allah, Penguasa raja-raja di dunia. Hati dan ubun-ubun mereka berada dalam kekuasaan-Ku. Barangsiapa yang taat kepada-Ku, aku jadikan raja-raja itu sebagai rahmat baginya. Dan barangsiapa yang durhaka kepada-Ku, aku jadikan raja-raja itu sebagai azab atas mereka. Janganlah kalian menyibukkan diri dengan memaki-maki para penguasa karena kezaliman mereka. Akan tetapi, bertaubatlah kalian kepada-Ku, maka akan Aku jadikan mereka mengasihi kalian.” (Al-Imam Fakhruddin al-Razi, al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib, juz 13, [Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, 2000], hlm. 159. Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh Ibnu Abil-‘Izz al-Hanafi dalam Syarh al-‘Aqidah al-Thahawiyyah, ).

    2) Tidak menghina pemimpin tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    مَنْ أَهَانَ السُّلْطَانَ أَهَانَهُ اللهُ. رواه الترمذي وقال: حديث حسن
    Barangsiapa yang menghina seorang penguasa, maka Allah akan menghinakannya.” (HR al-Tirmidzi [2224], dan berkata: “Hadits hasan”).

    Hadits ini memberikan pesan: 
    • Larangan menghina atau menghujat seorang pemimpin. 
    • Maksud pemimpin dalam hadits tersebut, adalah setiap orang yang memiliki kekuasaan dan tanggungjawab terhadap kaum Muslimin seperti khalifah, presiden, amir, gubernur, bupati dan seterusnya. 
    • Allah akan menghinakan orang yang menghina pemimpin di dunia, karena telah berusaha menghina seseorang yang diberi kemuliaan oleh Allah. 
    • Allah akan menghina orang yang menghina seorang pemimpin di akhirat kelak karena telah durhaka kepada Allah. (Al-Imam Ibnu ‘Illan al-Shiddiqi, Dalil al-Falihin li-Thuruq Riyadh al-Shalihin, 3/124).

    Oleh : Ustadz Muhammad Idrus Ramli
    NB : Kutipann di atas, hanya ingin menegaskan bahwa pemimpin yang terpilih itu memang takdir Allah, meskipun dia seorang yang zalim, apalagi tidak zalim. Semoga yang terpilih ini memang yang terbaik bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, amin.

    Aku Cinta Orang Shaleh Meskipun Bukan Bagian dari Mereka

    Muslimedianews.com ~ Tawadlu' adalah sikap rendah diri yang merupakan sifat terpuji dihadapan Allah SWT, begitu juga dihadapan para makhluk-Nya. Cerminan sikap tawadlu' ini pernah disampaikan oleh al-Fudhail bin Iyyad ketika ditanya tentang arti Tawadhu', ia mengatakan "Anda tunduk kepada kebenaran, meskipun kebenaran itu disampaikan anak kecil atau yang tidak pandai"
    Pernyataan Imam Fudlail bin Iyyad adalah kebalikan dari sikap takabbur (sombong), yaitu sikap yang menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain. Ini merupakan sifat yang buruk dihadapan Allah SWT maupun makhluk-Nya.

    Sikap tawadlu' banyak dimiliki oleh para ulama salafush shaleh. Ketinggian derajat mereka dalam hal ilmu tidak membuat mereka menjadi pribadi yang sombong.

    Imam al-Syafi'i rahimahullah contohnya, seorang Imam Mujtahid yang sholeh, tetapi dalam sebuah syairnya beliau menunjukkan sikap tawadlu' yang sangat luar baisa.  Imama l-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu:
    أُحِبُّ الصَّالِحِيْنَ وَلَسْتُ مِنْهُمْ # لَعَلِّيْ أَنْ أَنَالَ بِهِمْ شَفَاعَةْ
    "Aku mencintai orang-orang shaleh, padahal aku bukan termasuk golongan mereka
    Barangkali aku akan mendapatkan syafa’at sebab perantara mereka


    وَأَبْغَضُ مَنْ تِجَارَتُهُ الْمَعَاصِيْ # وَلَوْ كُنَّا سَوَاءً فِي الْبِضَاعَةْ
    Aku membenci orang-orang yang perniagaannya adalah kemaksiatan
    Meskipun modal kami sama dengan mereka".
    Kutipan dua bait syair Imam Syafi'i sangat penting untuk menjadi bahan renungan bagi umat Islam dan kembali bercermin apakah ketinggian ilmu, kekayaan, kedudukan dan sebagainya telah menjadikan dirinya sebagai pribadi yang takabbur atau dengan semua itu mampu menjadikan dirinya sebagai pribadi yang tawadlu'.

    Narasi Ibnu L' Rabassa
    Disarikan dari status Ust. Muhammad Idrus Ramli

    Kiat Memiliki Keshalehan Hati

    Muslimedianews.com ~ Pribadi yang shaleh merupakan cerminan seorang muslim yang ta'at kepada aturan-aturan agama. Tingkah lakunya maupun tutur katanya selalu kesantunan terhadap siapapun sehingga orang-orang yang disekitarnya merasakan kesejukan dan ketentraman.

    Pribadi yang shaleh tentunya dambaan 
    dan harapan semua orang. Tetapi yang perlu diketahui bahwa tuturkata dan sikap santun -keshalehan seseorang- tidak lain karena ada kejernihan didalam hatinya. Orang-orang menjadi shaleh karena hatinya juga shaleh sehingga apa yang keluar darinya tidak menyakiti orang lain dan tidak ada keinginan untuk menyakiti orang lain. Inilah yang disebut sebagai keshalehan hati.

    Salah satu kita memiliki keshalehan hati adalah bersahabat dengan orang-orang yang memiliki hati yang shaleh. Sayyidina Mamsyad al-Dainawari radhiyallahu 'anhu pernah berkata:

    صحبة أهل الصلاح تورث في القلب الصلاح، وصحبة أهل الفساد تورث في القلب الفساد
    "Bersahabat dengan orang shaleh, akan mewariskan keshalehan dalam hati. Bersahabat dengan dengan orang yang rusak, akan mewariskan kerusakan dalam hati." (Syaikhul-Islam, 1/198).

    Dengan bersahabat dengan orang shaleh, akan merasakan ketentraman dan kedamaian, sebab apa yang keluar dari pribadi yang shaleh tidak lain kecuali kebaikan yang selalu disukai semua orang, sehingga orang-orang disekitarnya pun tidak akan ada keingian untuk menyakitinya. Hati selalu dilatih untuk memiliki hati yang sama yang pada akhirnya keshalehan hati dengan sendirinya terwariskan kepada orang yang berada disekitarnya.

    Narasi oleh Ibnu L' Rabassa
    Disarikan dari status Ust. Idrus Ramli

    Kirim Surat ke PBNU, Dewan Kepausan Vatikan Sampaikan Selamat Idul Fitri

    Muslimedianews.com, Jakarta ~ Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama Kardinal Jean-Louis Tauron dalam surat yang dikirimkan ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) “Dengan penuh sukacita kami mengucapkan kepada saudara sekaliat Selamat Hari Raya Idul Fitri” yang dikirimkan dari Vatikan, 24 Juli 2014.

    Dalam surat yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Indonesia tersebut ia menyatakan bahwa sebelumnya Paus Fransiskus telah menyapa Muslim sebagai “saudara-saudari kami” (pesan doa Angelus, 11 Agustus 2013). Karena sesungguhnya, kaum Kristiani dan Muslim adalah saudara satu sama lain, anggota dari keluarga umat manusia yang diciptakan oleh Allah yang satu.

    Touran juga mengingatkan kembali pernyataan Paus Yohanes Paulus II kepada para pemimpin agama Islam pada tahun 1982.

    “Kita semua, kaum Kristiani dan Muslim, hidup di bawah matahari dari satu Allah yang penuh belas kasih. Kita semua percaya akan Allah pencipta manusia. Kita mengakui keagungan Allah dan membela martabat manusia sebagai hamba Allah. Kita menyembah Allah dan ingin berpasrah sepenuhnya kepada-Nya. Dengan demikian, sesungguhnya kita bisa memandang satu sama lain sebagai saudara dalam iman akan satu Allah yang Esa.” (Kaduna, Nigeria, 11 Februari, 1982).

    Dalam pesannya Touran juga mengajak perlunya mempromosikan dialog yang berbuah melimpah dan dibangun atas dasar saling menghormati dan persahabatan demi terwujudnya keadilan, perdamaian serta perlindungan hak-hak dan martabat setiap manusia karena dunia sekarang mengadapi tantangan berat yang menuntut solidaritas dari semua orang yang berkehendak baik.

    “Mari kita bekerjasama untuk membangun jembatan perdamaian dan mempromosikan rekonsiliasi, terutama di daerah-daerah dimana orang Muslim dan Kristiani bersama-sama menjadi korban kekejaman perang”

    Ditambahkannya, “Dengan demikian, kita akan memberi kontribusi untuk mengurangi ketegangan dan konflik, demi perkembangan kesejahtaraan umum. Kita akan juga membuktikan bahwa agama-agama dapat menjadi sumber keharmonisan demi kebaikan seluruh masyarakat.”

    Terakhir, ia menyampaikan “Dengan tulus hati, bersama dengan paus Fransiskus, kami mengucapkan kepada Muslimin dan Muslimah sekalian damai sejahtara dan selamat merayakan hari Raya yang penuh sukacita.” (mukafi niam)

    Sumber nu.or.id

    Nabi Ibrahim adalah Bapak Semua Agama

    Muslimedianews.com ~ Ibrahim a.s. adalah bapak agama-agama langit dan leluhur para nabi dan rasul. Dalam tradisi Yahudi dan Nasrani dia dikenal dengan sebutan Abraham. Julukannya sebagai bapak agama-agama berkat penemuan kebenaran hakiki setelah bertualang dalam pencarian panjang berliku demi mendamba Tuhan sejati sesembahan makhluk.

    Riwayat tentang Ibrahim a.s. dicoba diungkap oleh buku ini melalui sudut pandang sejarah. Mengambil kesimpulan dan meluruskan kekeliruan dengan melihat pada al-Qur’an dan hadis, kitab suci lain seperti Taurat dan Injil, serta berbagai buku sejarah.

    Buku yang disadur dari tujuh buah buku berbahasa Arab yang meliputi Ibrâhîm Abû al-Anbiyâ’ karya ‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad; Dirâsât Târîkhiyyahmin al-Qur’ân al-Kârîm karya Muhammad Bayumi Mahrani; Dirâsât fî Târîkhasy-Syarqî al-Adnâ al-Qadîm karya Muhammad Bayumi Mahrani; Mishrwa al-Syarq al-Adabî al-Qadîm karya ‘Abdul ‘Aziz Shalih; Min I’jâz al-Qur’an karya Ra’uf Abu Sa’dah; ‘Arâ’is al-Majâlis karya Abu Ishakats-Tsa’labi; Muhammad Rasulullah wa al-ladzîna Ma’ahu karya ‘Abdul Hamid Jaudah as-Sahhar.

    Buku ini dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, seperti yang disebutkan dalam pengantarnya: Pra Ibrahim dan Pasca Ibrahim.

    Pada bagian pertama, diuraikan sejarah Nuh a.s. dan keturunannya, serta bagaimana seiring dengan persebarannya terbentuk agama dan kepercayaan yang bermacam-macam. Bagian kedua membahas silsilah Ibrahim a.s., kelahirannya, perjalanannya mencari Tuhan, peristiwa pembakarannya hidup-hidup, dakwah yang dilakukannya sebagai utusan Allah, sampai saat beliau harus mengorbankan anaknya dan membangun Baitullah.

    Tabel sejarah dan gambar silsilah cukup membantu pembaca untuk memahami kronologis sejarah Ibrahim a.s. Mungkin akan lebih baik jika gambar peta khususnya dibuat lebih jelas dan menarik.

    Ada beberapa hal yang cukup menarik yang perlu diberi highlights dari buku ini.

    Raja Namrud


    Dalam buku ini terdapat kontradiksi antara pengantar dengan uraian di bab III mengenai raja Namrud. Sebagaimana kita ketahui, tokoh Namrud dipahami (sebagian masyarakat) sebagai raja yang memerintahkan para bawahannya agar menghukum Ibrahim melalui hukum bakar, karena Ibrahim a.s. telah melakukan penghancuran berhala-berhala atau patung-patung orang-orang Ur, dengan menyisakan satu berhala besar yaitu patung Dewa Mardukh.

    Pemahaman seperti ini juga tampak dalam uraian penulis pengantar buku ini (xiv). Padahal, penyebutan raja Namrud sebagai subyek utama perintah hukum bakar sangat minim bukti sejarah yang valid. Menurut Rusydi al-Badrawi, catatan-catatan sejarah tidak menyebutkan adanya seorang pun raja bernama Namrud yang pernah memerintah Irak.(73). Tokoh yang berpendapat bahwa Namrud yang memerintahkan hukum bakar kepada Ibrahim a.s. adalah ats-Tsa’labi dalam bukunya‘Ara’is al-Majalis. Selain ats-Tsa’labi tidak ada yang menyebut nama Namrud.

    Menurut al-Badrawi dan Abbas Mahmud Aqqad, tokoh yang memerintahkan dijatuhkannya hukuman bakar hidup-hidup atas diri Ibrahim a.s. adalah Syawaji (Shoulgi), raja Ur yang sombong dan haus pengagungan. (80). Jadi tidak ada nama Namrud di sini. Bahkan menurut Al Badrawi, sejarah Irak kuno tidak meninggalkan catatan apa pun yang menunjukkan pernah berkuasanya seorang raja bernama Namrud. (48).

    Hajar sebagai Budak


    Ketika Ibrahim a.s. berkunjung ke Mesir bersama Sarah, istrinya, Ibrahim mendapati raja Mesir yang menginginkan istrinya. Waktu itu di Mesir ada kebiasaan aneh yaitu sering mengganggu perempuan yang sudah bersuami dan merampas mereka. Tetapi terhadap perempuan yang belum bersuami, justru tidak akan mengganggunya. Karena Sarah berada dalam lindungan Allah, maka upaya sang raja menjamah Sarah selalu mengalami kegagalan. Sampai akhirnya raja merasa bahwa Sarah bukan perempuan sembarangan. Selanjutnya raja menghadiahkan seorang budak yang bernama Hajar.

    Ketika usia Ibrahim sudah semakin bertambah, sedangkan ia belum memiliki keturunan, maka Ibrahim terus bermunajat kepada Allah agar menganugerahi keturunan. Mengetahui bahwa suaminya sangat mendamba keturunan, sedangkan dirinya juga semakin berumur, Sarah menghadiahkan Hajar untuk dinikahi. Ini cukup menarik. Sebab, adakalanya muncul kesan merendahkan ketika membaca riwayat Ibrahim yang mengawini budak istrinya. Padahal, apa yang dilakukan Sarah merupakan sesuatu yang lazim ketika itu. (133). Dan majikan perempuan akan memperlakukan anak yang lahir dari budak perempuannya sebagai anaksendiri.

    Pada mulanya Hajar bukanlah budak (148), melainkan seorang tawanan. Ia adalah istri raja Mesir yang dikalahkan orang-orang Ain Syams. Raja Mesir menghadiahkan kepada Sarah untuk menutup kemungkinan munculnya perlawanan dari kaum Hajar. Allah mengangkat kembali kehormatan Hajar dengan menjadikannya sebagai istri bagi Ibrahim menjadi ibu bagi Ismail, sekaligus menjadi ibu leluhur seluruh bangsa Arab.

    Kerancuan Taurat

    Buku ini banyak mengkritisi keterangan-keterangan yang terdapat di dalam Taurat, karena seringkali mengandung kerancuan yang akut.Misalnya, perjalanan Ibrahim a.s ke Hijaz sama sekali tidak diakui penulis Taurat. Malahan, Taurat menyebut bahwa Ibrahim mengusir Hajar dan Isma’il. Ia hanya memberi mereka bekal, lalu menyuruh keduanya pergi. Padahal keterangan ini, menurut al-Badrawi sangat rancu.

    Kerancuan lainnya adalah keteranganTaurat tentang Hajar yang diperintahkan malaikat untuk mengangkat putranya, Ismail, padahal putranya sudah berusia 16 tahun.

    Buku ini juga mengungkap keterangan dusta para penulis Taurat tentang Nabi Luth a.s., keponakan Ibrahim a.s. Dalam Kitab Kejadian Pasal 19 diterangkan bahwa dua putri Luth a.s. memberi minuman anggur kepada Nabi Lutha.s. Maka Nabi Luth a.s. menjadi lupa diri, sehingga Nabi Luth berhubungan badan dengan kedua putrinya itu. Kemudian kedua putri Nabi Luth itu hamil. “Yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Moab; dialah bapak orang Moab yang sekarang. Yang lebih muda pun melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ben-Ami; dialah bapak bani Amon sekarang.”(184)

    Satu hal yang cukup mengganggu dari buku ini adalah tidak diterjemahkannya nama kerajaan, tempat atau nama kota. Misalnya nama Amuri, Akad, Babil, Hibrun dan sebagainya. Padahal Amuri bisa diterjemahkan menjadi Amorit, Akad menjadi Akadia, Babil menjadi Babilon (untuk kerajaannya diberi nama Babilonia), Hibrun menjadi Hebron dan sebagainya.

    Secara umum, buku ini menambah pengetahuan dan memperjelas gambaran tentang kehidupan Ibrahim as., hijrahnya ke berbagai tempat untuk berdakwah, serta keistimewaannya hingga beliau menjadi al-Khalil (kesayangan Allah) dan menjadi salah satu dari lima nabi bergelar Ulul ‘Azmi.

    Judul Buku : Ibrahim as. Bapak Semua Agama : Sebuah Rekontruksi Sejarah Kenabian Ibrahim AS. Sebagaimana tertuang dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an.
    Penyadur : Iqbal Harahap
    Penerbit : Lentera Hati
    Tahun : Cetakan Pertama, Februari 2014
    Volume : xvi+254 hlm.; 15 x 23 cm
    Jenis Cetak : Soft cover/ Bookpaper
    ISBN : 978-602-7720-18-3
    Harga: Rp. 77.000
    Peresensi : Luluk Fikri Zuhriyah, dosen Fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya

    Sumber NU.or.id
     

    BERITA GARIS BESAR

    FATAWA

    TAUSHIYAH

    KHUTBAH

    ISLAMIC ARTICLES

    NASHEED

    TASHAWUF

    KHAZANAH

    TARIKH

    JIHAD ZONE

    SIYASI

    MUSLIM YOUTH

    QUR'AN AND HADITS

    FIGURE / TOKOH

    INTERVIEW

    SYUBHAT & BANTAHAN

    ARTIKEL BEBAS

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | About Us | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News