BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Slider

Headlines

Slider Right

randomposts6

HEADLINES

Headlines/block-1

INDONESIA

Indonesian/block-2

MIDDLE EAST

Middle%20East/block-2

INTERNASIONAL

International/block-3

ARABIC VERSION

Arabic/block-6

ENGLISH VERSION

English/block-6

SYUBHAT

Syubhaat/block-1

Islamic QA

Islamic%20QA/block-1

OPINION

Opinion

Latest Articles

Monday, March 18, 2019

Kiai Maruf Sangat Mengejutkan, Sandiaga Jadi Terlihat Kuno



Oleh: Alifurrahman.

Mengejutkan, mungkin itu yang bisa saya simpulkan dari debat Cawapres kali ini. di luar ekspektasi saya, dan mungkin di luar perkiraan banyak orang. Begitu tenang, begitu jelas, dan sangat-sangat tepat, terukur dan mudah dipahami. Tidak ada pertanyaan yang tak mampu dijawab dengan baik, pemilihan katanya pun begitu variatif. Sementara sebaliknya, Sandiaga tetap begitu, sebut nama orang yang entah ada atau tidak, kemudian jualan Oke Oce. Tak ada kebaruan, tak ada solusi.

Kiai Maruf begitu fasih menjelaskan KIP Kuliah, Kartu Sembako Murah dan Kartu Pra Kerja. Dan yang cukup membuat saya merinding, ketika beliau dengan percaya diri mengatakan “la takhof wa la tahzan, anak-anakku jangan takut bermimpi, negara hadir untuk memenuhi seluruh kebutuhan kalian.”

Saya terkejut ketika Kiai Maruf bisa dengan tenang menjelaskan permasalahan stunting. Bahwa penanganannya harus dilakukan sejak anak dalam kandungan, bukan setelah lahir, apalagi setelah usia 2 tahun. Dari sisi kedokteran dan fiqh bisa beliau jelaskan, bertemu di satu solusi yang sama. Ini bukan saja sekedar membuat kita yakin bahwa Kiai paham betul cara menangani stunting di Indonesia, tapi juga menyadarkan kita bahwa teori kedokteran dan syariah bisa sejalan.

Poin ini sangat penting, karena selama ini di kalangan muslim fanatik, beberapa ada yang meragukan ilmu kedokteran. Sekali lagi, Kiai berhasil menyadarkan kita semua, bahwa ilmu kedokteran dan fiqh pada dasarnya sama dan tidak saling bertentangan.

Begitupun ketika menjelaskan soal infrastruktur, Kiai Maruf dengan sangat yakin membahas pembangunan palapa ring. Dunia usaha dan dunia industri, opera house, infrastruktur langit, decacorn, cyber university dan basic capital and maximize utility. Semua adalah istilah-istilah modern dan kekinian, yang berhasil disampaikan secara detail.

Bahkan soal birokrasi, tentang instrumen pemantau anggaran dari pusat ke daerah, Kiai Maruf Amin bisa menjelaskan dengan baik. Dengan Neraca Pendidikan Daerah serta Data Pokok Pendidikan.

Dan bagian yang paling menarik, sangat telak, adalah saat Sandiaga dengan percaya dirinya mengeluarkan KTP, untuk menggantikan kartu-kartu sakti yang ditawarkan oleh Jokowi Amin. Jawaban Kiai benar-benar di luar perkiraan, jauh lebih modern melampaui ide Sandi.

“KTP belum ready digunakan. Karenanya kita pakai kartu per sektor supaya lebih mudah. Kalau masyarakat sudah siap, pakai handphone saja nantinya,” jawab Kiai Maruf santai.

Jawaban ini kalau diibaratkan main bola, seperti aksi tendangan jarak jauh yang langsung menghujam tanpa ampun ke gawang lawan. Sangat fantastis. Haha

Bahasan-bahasan tersebut pada akhirnya membuat kita sadar, bahwa Kiai Maruf bukanlah Kiai kolot, kaku, ketinggalan jaman ataupun tak paham teknologi. Justru, di usianya yang sudah tidak muda, Kiai Maruf malah jauh lebih paham soal teknologi dibanding Sandiaga.

Kiai sangat menguasai permasalahan hingga teknis dan solusi yang akan ditawarkan. Begitu detail. Bahkan mampu menggambarkan visi Indonesia maju 10 tahun ke depan.

Waaaaw….!

Saya sebagai yang jauh lebih muda dari Kiai, bahkan sempat meragukan kapasitasnya dalam dunia digital dan berpikir beliau ini hanya tau soal agama, saat menuliskan ini saya merasa sangat-sangat malu.

Kiai yang tampil dengan surbannya itu, terlihat begitu luar biasa dan visioner. Berpikir jauh ke depan. Memahami segala hal permasalahan yang ada di Indonesia, baik masalah ibu-ibu hingga anak muda. Sementara Sandi yang tampil dengan jas mewahnya, terlihat jauh lebih muda, tapi nyatanya tak paham apa-apa.

Saya pikir, malam ini akhirnya kita paham kenapa Presiden Jokowi memilih Kiai Maruf Amin sebagai wakilnya hingga 2024. Bukan sekedar mengamankan suara NU, bukan sebatas menjadi tameng serangan kelompok radikal. Tapi lebih dari itu, Maruf Amin memang sangat pantas untuk menjadi Wapres. Lagi-lagi, saya malu sekali karena dulu sangat menolak Kiai Maruf sebagai pendamping Jokowi. hahaha

Terakhir, inilah saatnya Indonesia memiliki dua pemimpin terbaik yang lahir dari rahim rakyat biasa. Bukan konglomrat, maju bukan karena punya logistik dan kardus. Jokowi dan Kiai Maruf adalah dua orang yang benar-benar memiliki kapasitas dan mau untuk bekerja, membawa negara ini ke arah yang lebih maju. Begitulah.

Debat Cawapres 2019: Kepiawaian Sang Kyai


Penampilannya bersahaja. Surban dan sarung menjadi ciri khasnya. Senyumnya hangat. Gaya bicaranya tenang. Kadang disisipi istilah Arab yang ia ambil dari tradisi kuat pemahaman kitab-kitab pesantren. Itulah sosok KH. Ma’ruf Amin.

Saat beliau ditunjuk Pak Jokowi menjadi calon wakil presiden untuk mendampinginya, banyak pihak meragukan kapasitasnya. Banyak yang tak yakin Kiai berumur 76 tahun itu akan bisa mengimbangi Pak Jokowi yang lincah, yang kerap datang dengan pemikiran-pemikiran yang inovatif.

Saat debat Cawapres tiba, bahkan pendukung Jokowi ‘degdegan’ apakah KMA akan bisa mengimbangi Sandi Uno yang muda, energik, lulusan luar negeri? Apakah KMA yang ‘tua’ akan mampu berdebat, mengemukakan visi serta pikirannya?

Nyatanya, di luar dugaan, Kiai Ma’ruf tampil luar biasa. Banyak mata yang terbelalak menyaksikannya. Baru tahu ternyata Sang Kiai sehebat itu: Pikirannya jernih, bicaranya terstruktur, gagasan-gagasannya segar. Kiai Ma’ruf bukan hanya menguasai persoalan, ia mampu menghadirkan gagasan sesuai konteks yang tepat. KMA langsung ke jantung persoalan, tepat sasaran, clean and cut.

Pemahamannya kuat soal konsep dan implementasi kebijakan. Kiai Ma’ruf lincah meliuk-liuk dari soal ekonomi-kesejahteraan hingga kesehatan. Ia paham pentingnya ‘infrastruktur bumi’ maupun ‘infrastruktur langit’. Secara jenaka ia mengajak DUDI (Dunia Usaha dan Dunia Industri) berkolaborasi, kemudian meletakkan soal riset di konteks yang benar. Ia bicara perlindungan warga, komitmen untuk menjadikan Indonesia bersaing di kancah global, tapi tak melupakan kearifan lokal. Singkatnya, KMA tampil luar bisasa!

Banyak yang belum tahu Kiai Ma’ruf adalah sosok pembelajar yang tangguh. Ketika ia baru berusia 15 tahun, KMA sudah mengamati pemilu 1955. Masa remajanya dihabiskan dari organisasi ke organisasi. Daya pikir kritisnya teruji, retorikanya matang. Tak heran ia banyak mengisi posisi strategis di banyak organisasi penting.

Sang Kiai yang Anda lihat bukanlah Kiai biasa. Bukan sekadar sosok faqih yang faham ilmu agama, hingga ia menjadi ketua umum MUI Pusat, memimpin ulama se-Nusantara. Lebih dari itu, KMA adalah kiai pemikir sekaligus organisatoris.

Ia meletakkan dasar-dasar implementasi ekonomi syariah di Indonesia. Ia menjadi anggota dewan pertimbangan presiden di masa SBY. Ia berpengalaman duduk di kursi parlemen sebagai wakil rakyat. Dan ia juga menjadi tokoh penting di organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU).

Benar, itulah Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, cawapres yang sangat mumpuni dengan pengalaman dan penguasaan keilmuan lintas disiplin. Jika Anda melihat bagaimana primanya KMA di debat malam ini, Anda memang tak perlu kaget. Anda melihat kristal dari pengalaman dan pemikiran yang diasah dalam waktu yang panjang.

Itulah Sang Kiai. Itulah cawapres pilihan saya. Abah kita semua. Kiai Ma’ruf Amin, jan ethes! Lincah banget.

Tabik Mantul!

FAHD PAHDEPIE