Kirim tulisan ke Media Islam MMN (Muslimedia News)
melalui email muslimedianews@gmail.com
atau inbox di fanpage MMN.
MuslimediaNews.com Media Sehat Rujukan Umat
Top News :

    Unik, Ziarah Kubur sambil Bakar Hio (Dupa) Tradisi Tionghoa

    Muslimedianews.com ~ Seperti halnya di Indonesia, masuknya Islam ke negeri China pun nampaknya tanpa menghilangkan kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat. Salah satunya  tradisi membakar Hio (dupa) yang merupakan tradisi Tionghoa. Di Indonesia, umat Islam biasa membakar dupa atau kemenyan pada acara-acara tertentu.

    Foto berikut adalah foto umat Islam di Beijing yang melakukan ziarah kubur. Uniknya mereka melakukan ziarah kubur sambil membakar Hio yang menjadi kebiasaan / tradisi Tionghoa. KH Slamet Effendi Yusuf (MUI) yang mengupload foto tersebut (1/11/2014) diakun facebooknya memberikan keterangan sebagai berikut:

    "Di kompleks masjid Niuji, Bejing, juga terdapat makam yang banyak diziarahi umat. Hebatnya jamaah yg ziarah juga membakar hio yg jadi tradisi Tionghoa. Pada kesempatan ini Ketum MUI Dien Samsudin mengajak rombongan membaca Al Fatihah dan memimpin doa."


    "Di Beijing, terdapat sebuah masjid berusia 1050 tahun: masjid Nuiji. Kami rombongan MUI siang tadi Jumatan (31/10/2014) di situ. Khutbah di sini disampaikan dalam bahasa Arab. Agar jamaah faham, sebelum adzan disampaikan ceramah dgn bahasa lokal. Kami silaturahim dgn imam dan jamaah di situ. Seperti biasa Ketum MUI menyerahkan cenderamata."







    red. Ibnu Manshur

    NU Menjadi Sumber Peradaban ke-7 Paling Berpengaruh Didunia

    Muslimedianews.com ~ Peradaban muslim dunia saat ini bertumpu di Asia Tenggara, khususnya Nahdlatul Ulama. Nahdlatul Ulama saat ini menjadi sumber peradaban, nomer 7 paling berpengaruh di dunia.

    Sejak NU lahir tahun 1926, sudah melahirkan 503 keputusan panduan berislam dan telah menjadi tradisi muslim Indonesia. Banyak utusan Eropa dan Amerika datang ke PBNU ingin tahu konsep berislam di Indonesia yang mampu lintas etnik dan suku.

    Beberapa kelompok muslim di belahan dunia lain tampak kuat keislamannya namun sulit membangun peradaban. Mengapa?. Di belahan lainnya juga ada kelompok muslim yang tampak lemah keislamannya dan tak mampu membangun peradaban. Mengapa?

    Di Indonesia, seorang muslim tak cukup hanya muslim, tapi harus mencintai tanah airnya, INDONESIA. Persaudaraan antar-sesama muslim harus beriringan dengan persaudaraan antar-sesama orang Indonesia.

    Kelompok besar muslim Indonesia mempunyai tanggung jawab menjaga dan merawat keindonesiaannya. Memang ada kelompok muslim Indonesia yang tidak peduli terhadap keadaan Indonesia. Tapi kelompok ini sangat keciiiiil.

    Indonesia yang terjaga hingga saat ini karena kontribusi besar kelompok muslim yang mencintai Indonesia. Menjadi muslim yang makin menguatkan Indonesia; bukan menjadi muslim yang melemahkan Indonesia.

    Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan "Resolusi Jihad" itu bukti keislaman dan keindonesiaan itu beriringan. Menjadi sekuler itu mudah. Menjadi kanan itu mudah. Yang sulit itu menjadi kelompok moderat seperti Nahdlatul Ulama. Menjadi radikal itu mudah. Menjadi liberal itu mudah. Yang sulit itu menjadi kelompok tawassuth (tengah) seperti NU.

    Dan alhamdulillah, meski sulit jadi kelompok moderat, tawassuth, faktanya sebagian besar muslim Indonesia di posisi ini. Tak perlu silau dengan jenggot panjang, jidat hitam, jubah besar. Terpenting keislaman kita mampu merawat Indonesia.

    Tak perlu silau dengan pemikiran liberal yang tampak canggih. Terpenting keislaman kita mampu bangun peradaban Indonesia. Suriah, Somalia, Afghanistan, Irak, Libya, dan lain-lain, contoh kegagalan kaum beragama merawat tanah airnya. Kita lebih baik.

    ~KH. Said Aqil Siraj/Ketua Umum PBNU~
    via @WartaNU, 31 Oktober 2014

    NU Rogojampi Rintis Pendirian SMK Nahdlatul Ulama

    Banyuawangi, Muslimedianews.com ~ Majelis Wakil Cabang  (MWC) NU Rogojampi merintis pembangunan gedung Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nahdlatul Ulama (NU). Pembangunan gedung tersebut hampir bersebelahan dengan RSNU di Desa Mangir, kecamatan Rogojampi. Pembangunan gedung SMKNU itu didirikan di atas tanah seluas 16 ribu meter persegi milik keluarga Pelangi Jaya, alm H. Sudirman yang statusnya dihibahkan. “Ini sudah seizin dari keluarga besar, agar bisa dihibahkan untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa.” ujar H. Nanang Nur Achmadi, Ketua MWC NU Rogojampi.

    Sementara itu, dalam sambutannya Camar Rogojampi mengaku sangat bangga dengan didirikannya gedung SMKNU yang lokasinya berada di daerah perbatasan Kecamatan Rogojampi dan Srono ini. Dengan begitu, sekolah ini akan dapat mengakomodasi kebutuhan pendidikan di wilayah kecamatan perbatasan tersebur. “Saya bangga karena selain pendidikan formal juga ada pendidikan non formal (pondok pesantren). Semoga ini membawa perubahan bagi masyarakat Banyuwangi,” terangnya.

    Hadir dalam acara itu, PCNU Banyuwangi, Forpimka, Pengurus ranting NU Muslimat, Ansor Fatayat dan sejumlah tokoh agama, masyarakat di Kecamatan Rogojampi.

    Sebelum peletakan batu pertama yang menandai awal pembangunan gedung sekolah tersebut. terlebih dahulu dilakukan santunan kepada 60 anak yatim dan piatu di sekitar lokasi pembangunan. Sebelum diletakkan batu pertama, KH. Mahrus Ali dari Parijatah Kulon, Kecamatan Srono, memimpin do’a agar pembangunan berjalan lancar. “Acara ini momentum yang pas, bertepatan dengan tahun baru Hijriah 1436 H. Semoga ini barokah dan membawa manfaat,” ujar KH. Abdul Ghofur, kukuh masyarakat Rogojampi. (radar)


    Sumber kabarbanyuwangi.info/gambar ilustrasi

    Resolusi Jihad NU setelah Jatuhnya Sejumlah Daerah ke Tangan Inggris

    Muslimedianews.com ~ DALAM pertempuran sengit di Surabaya pada 10 November 1945 –kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan– banyak pejuang tersulut semangatnya oleh seruan Bung Tomo melalui corong radio. Bung Tomo tentu sadar betul bagaimana menggelorakan semangat juang, termasuk umat Islam. Tak heran jika dia tak melupakan seruan takbir.

    “Dan kita yakin saudara-sudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab, Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar...! Allahu Akbar...! Allahu Akbar...! Merdeka!”

    Bung Tomo mungkin tak pernah menjadi santri, “Tetapi diketahui meminta nasihat kepada Kiai Hasyim Asy’ari,” tulis Martin van Bruinessen dalam NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru.

    Namun, bagi warga nahdliyin, ada seruan lain yang lebih hebat dan membangkitkan semangat juang mereka, yakni Resolusi Jihad –monumennya diresmikan pada 23 Oktober 2011 di Surabaya untuk mengenang peran ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan.

    “Deklarasi ini,” tulis van Bruinessen, “yang kemudian terkenal sebagai Resolusi Jihad, tidak mendapat perhatian yang selayaknya dari para sejarawan. Resolusi itu menunjukkan bahwa NU mampu menampilkan diri sebagai kekuatan radikal yang tak disangka-sangka.”

    NU tergerak menyatakan Resolusi Jihad setelah melihat sejumlah daerah jatuh ke tangan Inggris. Akhir September 1945, atas nama Netherlands Indies Civil Administration (NICA), Inggris menduduki Jakarta. Pertengahan Oktober, pasukan Jepang merebut kembali beberapa kota di Jawa dan menyerahkannya kepada Inggris. Beberapa hari sebelum Resolusi Jihad, Bandung dan Semarang diduduki Inggris setelah melalui pertempuran hebat. Demikian juga Surabaya; kedatangan pasukan Inggris pada 25 Oktober disambut dengan gelisah. Sementara itu pemerintah Republik Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya, masih menahan diri untuk melakukan perlawanan dan mengharapkan adanya penyelesaian secara diplomatik.

    “Resolusi Jihad merupakan pengakuan terhadap legitimasi pemerintah Republik Indonesia sekaligus kritik tidak langsung terhadap sikap pasifnya,” tulis Van Bruinessen. Agaknya, NU menginginkan seruan jihad langsung diperintahkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun, karena pasif, NU melalui Resolusi Jihad-nya “memohon dengan sangat kepada pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan... supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat ‘Sabilillah’ untuk tegaknya negara Republik Indonesia merdeka dan agama Islam.”

    “Resolusi jihad itu,” tulis Zuhairi Misrawi dalam Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, “memberi rangsangan motivasi yang amat kuat kepada para pemuda Islam untuk berjihad membela negara.”

    Pada 21 dan 22 Oktober 1945, delegasi Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Pertemuan yang dipimpin langsung oleh pendiri NU, Kiai Hasyim Asy’ari, menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad atau Perang Suci dan menentang kembalinya Belanda adalah kewajiban setiap Muslim (fardhu ‘ain). Pertemuan itu menghasilkan Resolusi Jihad, yang menyatakan bahwa, “pihak Belanda (NICA) dan Jepang telah banyak menjalankan kejahatan dan kekejaman, dengan maksud melanggar kedaulatan negara dan agama, serta ingin kembali menjajah. Di beberapa tempat telah terjadi pertempuran yang sebagian besar dilakukan oleh umat Islam yang merasa wajib menurut hukum agamanya. Karenanya umat Islam dan alim ulama di seluruh Jawa-Madura memiliki hasrat yang besar untuk mempertahankan dan menegakkan agama dan kedaulatan negara Republik Indonesia.”

    Menurut Van Bruinessen, pasukan-pasukan nonreguler yang bernama Sabilillah –nama ini merujuk kepada Perang Suci– rupanya dibentuk sebagai respons langsung atas resolusi ini. Komandan tertinggi Sabilillah adalah pemimpin NU, Kiai Masykur dari Malang, yang kelak menjadi politisi terkenal dan menjabat sebagai menteri agama.

    Resolusi Jihad juga dilontarkan dalam Muktamar Umat Islam Indonesia di Yogyakarta pada 7-8 November 1945, yang diselenggarakan oleh Masyumi, di mana NU menjadi anggotanya –sayangnya, muktamar ini lebih dikenal hanya sebagai deklarasi pembentukan Partai Masyumi. Seperti diberitakan Warta Indonesia, 17 November 1945, resolusi tersebut menyatakan, “tiap bentuk penjajahan adalah kezaliman yang melanggar perikemanusiaan dan diharamkan oleh Islam. Untuk membasmi tindakan imperialisme, setiap Muslim wajib berjuang dengan jiwa raga bagi kemerdekaan negara dan agamanya. Untuk itu, harus memperkuat umat Islam untuk berjihad fisabilillah.”

    Muktamar menghasilkan Program Perjuangan, yang antara lain terealisasi dalam pembentukan pasukan nonreguler Sabilillah. Berbeda dengan pasukan Hizbullah sebagai “gabungan keinginan Jepang dan ulama” –dibentuk pada Februari 1945 dan dipimpin Kiai Zainul Arifin–, Sabilillah tak memiliki asal-usul resmi pada masa Jepang, tak memiliki latihan militer formal, dan tak terorganisasi.

    “Nampaknya,” tulis Benedict Anderson dalam Revolusi Pemuda, “ia tidak pernah menjadi suatu organisasi terpadu, tetapi merupakan nama umum bagi sejumlah besar gerombolan bersenjata yang dipimpin oleh para kiai desa, yang bermunculan selama zaman pengambil-alihan dari Jepang.”

    Pada 10 November 1945, dua minggu setelah kedatangan pasukan Inggris di Surabaya, sebuah pemberontakan massal pecah. Banyak pengikut NU terlibat dalam pertempuran di Jembatan Merah, Wonokromo, Waru, Buduran, dan daerah-daerah lain di Surabaya. Pemakaian jimat dan ilmu kanuragan, tanpa senjata, kerap mewarnai kisah perjuangan mereka.

    Sikap radikal NU selama revolusi seakan bertentangan dengan reputasi NU sebagai organisasi moderat dan kompromistis. Anggaran dasar formal (Statuen) NU, yang kali pertama dibuat pada Muktamar III pada 1928, sesuai dengan undang-undang perhimpunan Belanda. Yang melatarbelakanginya: keinginan mendapatkan pengakuan pemerintah Belanda. Atas dasar anggaran dasar ini, NU diberi status berbadan hukum (rechtspersoonlijkheid) pada Februari 1930.

    “Sepanjang dasawarsa akhir pemerintahan Belanda, NU selalu memberikan kesetiaannya kepada pemerintah Hindia Belanda,” tulis Van Bruinessen. “Sikap ini sejalan dengan pandangan Sunni tradisional bahwa sebuah pemerintahan yang memperbolehkan umat Islam menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya lebih baik daripada fitnah (chaos) akibat pemberontakan.”

    Meski demikian, bukan berarti NU tak bisa berani sama Belanda. Menurut Fathurin Zen dalam NU Politik: Analisis Wacana Media, pertentangan antara kaum Islam tradisionalis dan Islam modernis dapat mengendur saat keduanya sama-sama menghadapi perlakuan tak adil dari penjajah Belanda atau menghadapi masalah-masalah lain yang sangat serius. Misalnya pada 1931, NU memprotes Belanda ketika masalah kewarisan dihapus dari kewenangan Pengadilan Agama dan diserahkan kepada Pengadilan Negeri (landraad), menentang keleluasaan mengkritik agama Islam, dan menolak penguasa untuk mengawasi pengetahuan keagamaan para pegawai yang ditugaskan di berbagai kantor yang mengurusi umat Islam.

    Apa yang menyebabkan NU berubah drastis, dari sikap moderat dan kompromistis menjadi militan? Menurut Van Bruinessen, selain tindakan Jepang yang melibatkan umat Islam dalam kegiatan politik, yang membuat NU mengubah tradisi politik Sunni-nya adalah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. NU mengakui para pemimpin Republik sebagai pemimpin yang sah –Muslim lagi. Karena itu, ketika Belanda ingin kembali berkuasa di Indonesia, NU menganggapnya sebagai tentara kafir yang berusaha menjatuhkan pemerintah Muslim Indonesia yang sah. “Apabila tanah Muslim berada dalam serbuan orang kafir, sebagaimana disepakati ulama,” tulis Van Bruinessen, “Perang Suci menjadi kewajiban agama.”

    Semangat membela agama dan tanah air yang dipicu oleh Resolusi Jihad kemudian diperkuat lagi dengan pidato Kiai Hasyim Asy’ari, pada pembukaan Muktamar NU ke-16 dan, yang pertama setelah perang, pada 26-29 Maret 1946 di Purwokerto, “... sesungguhnya pendirian umat adalah bulat untuk mempertahankan kemerdekaan dan membela kedaulatannya dengan segala kekuatan dan kesanggupan yang ada pada mereka, tidak akan surut seujung rambut pun.”

    (Historia - Hendri F. Isnaeni)
    Sumber ID Berita Yahoo, 22 Oktober 2014

    Ribuan Jama'ah Thariqah Naqsyabandiyah Sambut Kedatangan Gus Ipul di Pamekasan


    Pamekasan, Muslimedianews.com ~  Kehadiran Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) disambut oleh ribuan jamaah Thoriqoh Naqsabandiayah Mudzhariayah yang hadir di Masjid Agung Asy-syuhada Pamekasan. Sabtu (25/10/14) malam.

    Sedianya panitia dan petugas Satpol PP Pameksan telah menyediakan ruang dan tempat yang di sterilkan dari para jamaah tepatnya di sisi sebelah uatar masjid, tetapi Gus Ipul justru masuk dari sebelah selatan masjid, sehingga mmbuat petugas kelabakan dan berlarian untuk menyambut kedatangan orang nomor 2 dilingkungan Pemprov Jatim itu.

    Gus Ipul tiba di masjid lokasi digelarnya acara tersebut sekitar pukul 19.50 WIB, dengan mengenakan pakaian serba putih.

    Setibanya di halaman masjid agung Asy-Syuhada Pamekasan ribuan jamaah yang sudah menunggu kedatangannya menyambutnya dan berusaha untuk menyalaminya, sehingga desak-desakan tidak terhindarkan, beruntung panitia terus berusaha memberikan jalan, bahkan di tangga masjid terbesar di Madura itu Gus Ipul masih dikerumini oleh jamaah untuk bersalaman.

    Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, ribuan jamaah Thoriqoh Naqsabandiyah Mudzhariah Gersempal Sampang memadati masjid Agung Asy-syuhada dalam ranga haul akbar.

    Saat ini, masjid asy-syuhada sudah dipenuhi oleh para jaamaah, tidak hanya di dalam majid dan halamanny, tetapi para jamaah yang mengenakan pakaian serba putih itu juga tumpah ruah di jalan raya didepan masjid terbesar di Pamekasan itu.

    Ketua panitia Haul Thoqiqoh Naqsabandiah itu, HM.Sohibuddin mengatakan, sekitar 15 ribu jamaah hadir dalam acara tersebut, berdasarkan data yang diserahkan oleh masing-masing kordinator dari berbagai wilayah.

    "Ribaun jamaah hadir dalam acara ini, tidak hanya dari Pamekasan, tetapi dari berbagai Kabupaten di jawa timur,"terangnya.

    Diperkirakn, acara tersebut akan berlangsung selama 4 jam hingga nanti pukul 21.00 WIB. Dan saat ini lantunan sholawat tengah menggema dan sedang berlangsung. (EA/MM)

    Sumber MediaMadura/Foto:Media madura


    'Open Mosque' Kenalkan Islam Rahmatan lil-Alamin pada non-Muslim di Australia

    New Castle, NSW, Muslimedianews.com ~ Selasa (25/10/2014), umat muslim Indonesia yang berdomisili di New Castle, NSW, Australia mengadakan acara "Open Mosque" di Mesjid Mayfield, New Castle, New South Wales, Australia. Tamu yang datang mayoritas non-Muslim.

    Acara ini diadakan untuk menanggapi isu negatif yang berkembang di masyarakat Australia pada umumnya bahwa Islam itu identikak dengan terorisme, sadis, tidak bersahabat dan lain-lain. Acara ini bertujuan untuk mengajak mereka untuk mengenal Islam lebih dekat dan menjelaskan kepada mereka bahwa Islam itu cinta damai, Islam bukan teroris, dan Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin.

    Acara di mulai pada pukul 10.00 dengan agenda :
    1. pengenalan mesjid dan atribut-atributnya, seperti mihrab, mimbar, dan sebagainya, dipandu oleh brother Ahmad dari Afghanistan.
    2. Tampilan budaya Islam, seperti Shalawat dan Barzanji, oleh Ustad Ahmad al-azhary dari Aceh, Indonesia.
    3. Ceramah pengenalan Islam kepada non-Muslim, oleh Habib Qeis Assegaf dari Lampung, Indonesia, dan
    4. Question and Answer Session, di pandu oleh Habib Qeis Assegaf.

    Acara tersebut diadakan perjam, di mulai dari pkul 10.00 sampai 11.00 kemudian acara "Guided Tour" selama satu jam, dengan memandu mereka berkeliling mesjid dan melihat poster-poster Islami. Kemudian acara yang sama dimulai kembali pada pukul 12.00 sampai dengan pukul 13.00, dilanjutkan dengan shalat Dzuhur berjama'ah. Kemudian acara yang sama dilanjutkan kembali pada pukul 14.00 sampai pukul 15.00. selain itu juga diadakan kegiatan melukis untuk untuk anak-anak, kaligrafi, indonesian traditional food, seperti sate, gado-gado, dan sebagainya.

    Alhamdulillah acara selesai pada pukul 16.00, dan alhamdulillah mereka memberikan respon positif....... semoga allah memberikan hidayah kepada mereka...amiin.

    Penulis : Ustad. Ahmad al-Azhary
    Peserta Student Exchange selama tiga bulan di New Castle, Australia. dan Staff pengajar di Pesantren MUDI Mesjid Raya Samalanga, Bireun, Aceh.

    Kepemimpinan Muru’ah An-Nahdliyah Nusantara

    Muslimedianews.com ~
    Refleksi MUNAS-KONBES - 33  NU
    ‘Kepemimpinan Muru’ah An-Nahdliyah Nusantara : Sintesa Electoral Collage vs Electoral Vote’

    Oleh: KH. Muh. Syibli Sahabuddin
    Ketum NU Wilayah Sul-Bar 2007-2013/Anggota DPD MPR RI, Mursyid Tarekat Qadiryah

    Jama’ah Nahdlatul Ulama bukanlah yang lahir pada tanggal 31 Januari 1926, melainkan Jamaah Nahdlatul Ulama adalah Jamaah yang melahirkan Jam’iyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.  Nahdlatul Ulama dari sisi ajaran yang mentradisi itu telah ‘membatin’ sekian lama di masyarakat Nusantara jauh sebelum terbentuknya Nahlatul Ulama sebagai sebuah organisasi.

    Sehingga membincang Nahdlatul Ulama, baik dalam konsep pemikirannya, struktur organisasinya terlebih sejarahnya akan selalu menarik.  Bahkan secara teologis, Nahdlatul Ulama ada dalam pengetahuan dan kehendak Tuhan mendahului semesta seisinya diciptakan. Ini dimaksudkan agar siapapun yang hendak memaknai, memahami ataukah mengkritisi NU agar benar-benar beranjak dari niat yang baik dengan penuh kehati-hatian,  mengingat sakralitas NU penuh keluhuran sekaligus kemasyhuran. Apa tah lagi jika sekedar menjadikan wacana sistem pemilihan kepemimpinan NU sebagai hal yang membuat kita akan terpolarisasi sedemikian rupa dan mengganggu soliditas Nahdlatul Ulama.

    Sejarah telah mencatat bahwa NU yang lahir sejak 1926 ini telah memberikan sumbangsih besar terhadap kehidupan bernegara dengan semangat dan karakter kebangsaan yang Indonesia sekaligus ke-Indonesia-an yang Islami. Mespkipun dalam perjalanannya senantiasa mengalami ujian baik internal terlebih eksternal, namun dengan ke-Indonesiaan Yang Islami itu pula yang membuat NU tetap berbakti dan mengabdi hingga hari ini.

    Kaitannya dengan itu, keberadaan MUNAS-KONBES NU yang ke 33 tahun ini,  menyangkut sistem penentuan kepemimpinan dalam organisasi masyarakat  islam terbesar di dunia ini menjadi sangat urgen dan menentukan arah dan haluan organisasi NU tersendiri, termasuk juga peran sertanya menyikapi fenomena sosial keagamaan dunia, pendidikan sert ekonomi politik kebangsaan.

    Sintesa Electoral Collage vs Electoral Vote.
    Dalam konteks pelaksanaan dan tatacara pergantian kepemimpinan, NU memiliki perangkat dan aturan Konstitusi, yaitu AD/ART NU. Musyawarah di definisikan sebagai suatu pertemuan  yang dapat membuat keputusan dan ketetapan organisasi yang dikiuti oleh struktur organisasi di bawahnya (Bab IX Pasal 21 ayat 1 AD/ART NU). Salah satunya yang mencuat yaitu draf sistem ahlul halli wal aqdi yang di susun oleh panitia Munas-Konbes NU dimana draf sistem ini dianggap menjadi salah satu solusi dalam sistem pemilihan kepemimpinan masa depan NU. Menerapkan pemilihan pemimpin dalam lingkungan Nahdlatul Ulama melalui Ahlul Halli Wal-Aqdi adalah  konsep idealitas meskipun di sisi lain oleh sebagian pecinta NU dianggap pula belum saatnya jika hal itu diposisikan sebagai jawaban realitas ke-NU-an kita hari ini. Namun, sistem ahlul halli wal aqdi ini diharapkan mampu menghindarkan perselisihan dan perpecahan serta praktek pemilihan yang tidak bersih,  khususnya sekaitan dengan sisi negative pemilihan langsung yang cenderung bercitarasa transaksional-pragmatis.

    Konsep Ahlul Halli Wal-Aqdi perna diterapkan dalam sejarah perkembangan NU dalam penetapan kepemimpinan sejak NU berdiri tahun 1926 sampai tahun 1952 ketika NU menjadi partai politik. Kemudian diterapkan kembali pada muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984 ketika NU kembali ke khitthah tahun 1926.

    Sehingga dalam konteks pergulatan tentang tatacara NU dalam proses pemilihan pimpinan dalam NU tidak memiliki ketetapan baku, dalam artian bahwa pemilihan kadang dilakukan melalui musyawarah keterwakilan atau ahlul halli wal aqdi (Electoral Collage), dan juga melalui pemilihan langsung oleh pengurus wilayah dan cabang (Electoral Vote). Hemat penulis, bahwa sistem pemilihan dalam tubuh NU bersifat situasional dan memberikan ruang curah gagasan guna menawarkan sistem pemilihannya sesuai dengan tuntutan situasi dan zaman yang mengitarinya. Oleh karena itu, sintesa dari pemilihan antara sistem perwakilan-formatur (electoral collage-ahlul halli wal aqdi) versus pemilihan langsung-satu suara untu satu wakil cabang/wilayah (electoral vote), penulis menyebutnya sebagai sistem pemilihan bertingkat atau gabungan keduanya sebagai model Kepemimpinan NU berlandaskan semangat ‘Kepemimpinan Muru’ah an-Nahldiyah Nusantara.’

    Kepemimpinan Muru’ah an-Nahdliyah Nusantara

    Pemilihan pemimpin dengan dasar penunjukan dari atas (elit organisasi), entah dengan penunjukan satu orang tertentu atau beberapa orang tentu dimaknai sebagai sebuah sistem yang sentralistik yang tidak mengakomodir suara atau aspirasi dari bawah. Hal ini dikuatirkan menciptakan hegemono sekelompok kepentingan yang justru mengabaikan kelompok yang lebih besar (representasi suara jamaah wakil cabang-wilayah) . Begitupun jika pemilihannya semata-mata mengacu atas dasar suara dari bawah tanpa mempertimbangkan arahan dari atas (elit organisas) dikuatirkan terjebak pada aspek dominasi mayoritas dengan dan atas nama suara terbanyak. Padahal kita semua memahami bahwa Nahdlatul Ulama adalah kristalisasi Islam ala Indonesia yang lahir dari rahim ke-islaman Ulama-Ulama Nusantara bak ‘butir tasbih dalam tali jagad NU.’  Artinya, kepemimpinan masa depan Nahdlatul Ulama (utamanya Ra’is Am dan jajaran Surya PBNU) diharapkan mencerminkan aspirasi sekaligus inspirasi wajah Nusantara.

    Untuk itu, model yang ditawarkan tersebut di atas terdiri dari dua tahapan. Pertama,  pengusulan calon wakil zona berdasarkan hitungan zona waktu (wilayah Indonesia dalam zona waktu bagian timur, tengah dan barat). Setiap wakil surya dan wakil tanfidziah di jajaran Pengurus Cabang maupun Pengurus Wilayah dalam ruang lingkup setiap zona waktu tersebut  mengusulkan 1 atau  2 orang Ulama/Kiai (boleh struktur maupun kultur) yang merupakan Ulama/Kiai yang punya integritas dan kapasitas yang baik dan benar berdasarkan nilai-nilai Nahdlatul Ulama yang berasal dari zona tersebut sebagai wakil setiap zona untuk selanjutnya dipilih dan ditetapkan 3 orang peraih suara terbanyak sebagai wakil setiap zona.  Zona Waktu Bagian Timur 3 orang, Zona Waktu Bagian Tengah 3 Orang dan Zona Waktu Bagian Barat 3 Orang, sehingga seluruh zona bagian waktu itu berjumlah 9 orang sebagai cerminan Ulama-Ulama mandataris Nusantara.  Tahap Kedua,  9 orang tersebut bermusyawarah dan beristikharah guna memilih 1 atau 2 orang calon Ra’is Am PBNU dimana calon tersebut memiliki pemahaman NU yang paripurna, sepuh dan punya pengalaman struktur (pernah menjadi pengurus NU) sekaligus memiliki pengalaman kultur (membina pesantren atau memiliki jamaah) untuk selanjutnya diputuskan dan ditetapkan sebagai Ra’is Am PBNU.

    Model inilah yang penulis sebut sebagai cerminan wajah ke-islaman yang Indonesia sekaligus ke-indonesia-an yang islami, kepemimpinan Muru’ah an-Nahdliyah Nusantara.  Selamat Sukses Munas-Konbes NU ke 33, Satu Berkah untuk Semua, Amin.
     

    ARABIC

    FATAWA

    TAUSHIYAH

    KHUTBAH

    ISLAMIC ARTICLES

    TASHAWUF

    KHAZANAH

    TARIKH

    SIYASI

    MUSLIM YOUTH

    QUR'AN AND HADITS

    FIGURE / TOKOH

    INTERVIEW

    SYUBHAT & BANTAHAN

    ARTIKEL BEBAS

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News