Top News :
    6f2685a723d5dd228092da7913ae853e

    Innalillahi, Gus Mus Difitnah Tentang Deklarasi Dewan Revolusi Nasional

    Muslimedianews ~ Di zaman media sosial memudahkan segalanya, tapi  kecanggihan tekhnologi ini ternyata juga sering disalahgunakan dengan hal-hal yang tidak benar. Di antaranya yang sering terjadi adalah pencatutan nama atau fitnah. Dan kali ini, menimpa ulama kharismatik Gus Mus.

    Pengasuh PP Pesantren Raudlatut Thalibin itu  mendapat fitnah tentang adanya Naskah Pengantar Deklarasi Dewan Revolusi Nasional (DRN) 2016 dengan mencatut nama beliau, yang diunggah di akun facebook atas nama Bambang Tri.

    Ternyata hal itu tidak benar dan merupakan fitnah. Gus Mus yang telah dicatut namanya dan dijadikan objek fitnahan tersebut membantahnya dalam akun facebooknya. Gus Mus menjawab:

    “Lha kok ya ada yang tega-teganya bikin beginian dan ada yang percaya lagi. Salahku apa, kok orang-orang termasuk yang gak kenal aku menyangkut-pautkan aku dalam kepentingan mereka,,” tutur Gus Mus dalam akun facebooknya.

    Hal senada juga diutarakan oleh putri beliau, Ienas Tsuroiya, yang prihatin atas fitnah yang menimpa beliau. Apalagi, keluarga masih dalam keadaan berduka selepas wafatnya Bu Nyai Fatma.

    Nggak habis pikir saya, kok ada orang yang setega ini.Tolonglah, Abah saya masih dalam suasana duka. Kenapa diperlakukan seperti ini,” keluh Ienas di laman facebook pribadinya.

    Gus Mus pantas marah, karena ini bukan sekali dua kali beliau difitnah. Apalagi, hal ini ditengarai mengarah kepada salah satu pasangan calon yang kalah dalam pilpres tahun lalu.

    “YA ALLAH, Ampunilah mereka, ALLAHUMMAHDIHIM”

    Sumber: KBA News.

    Syaikh Maulana Malik Ibrahim Bukan Termasuk Wali Songo

    Muslimedianews.com ~ Ada yang menarik pada bedah buku Atlas Wali Songo di Aula Rektorat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri, yakni Syaikh Maulana Malik Ibrahim tidak termasuk jajaran wali sembilan (Wali Songo). Hal itu membuat para hadirin bertanya-tanya. “Fakta sejarah itu tidak harus selalu sama dengan pandangan umum,” jawab KH. Agus Sunyoto, penulis buku tersebut.

    Menurut Kiai Agus Sunyoto, justru yang sekarang berkembang ini adalah pandangan masyarakat. “Dan pandangan masyarakat tidak selalu berdasar fakta sejarah, jadi tidak diakui secara akademis. Syaikh Maulana Malik Ibrahim wafat pada 1419 M. Pada saat itu Sunan Ampel, wali tertua kedua dalam tradisi ziarah Wali Songo belum dilahirkan, atau kalaupun sudah lahir, ia masih bayi,” imbuhnya.

    “Bukti sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 1440 usia Sunan Ampel belum berumur 20 tahun,” katanya. “Jadi secara nalar, tidak mungkin Syaikh Maulana Malik Ibrahim berada satu mimbar dengan Sunan Ampel untuk membahas strategi penyebaran Islam.”

    Syaikh Maulana Malik Ibrahim tidak masuk dalam kategori Wali Songo, namun menjadi bagian penting dari penyebaran Islam tahap pertama, seperti juga Fatimah binti Maimun, Syaikh Wasil Setono Gedong dan beberapa ulama lain semasanya. Ada banyak ulama pra-Wali Songo yang dikupas dalam Atlas Wali Songo itu. Makam para penyebar Islam itu diziarahi umat Islam setiap hari.

    Sejarah Wali Songo memang cukup rumit. Sunan Muria, anak Sunan Kalijaga malah hidup pada tahun 1500-an, agak jauh dari masa Sunan Ampel. Beberapa peneliti menyebutkan Wali Songo merupakan sebuah dewan yang beranggotakan sembilan ulama. Jika salah seorang meninggal, maka digantikan oleh yang lain.

    Dalam buku itu, Kiai Agus Sunyoto berkesimpulan, “Wali Songo baru muncul setelah Sunan Ampel. Sebelum itu belum ada dewan atau semacamnya.” Dalam buku itu juga disebutkan dua orang lagi yang masuk dalam kategori wali, yakni Syaikh Siti Jenar dan Raden Fatah. Usaha Kiai Agus Sunyoto adalah menyajikan Wali Songo sebagai fakta sejarah. Adapun kepercayaan masyarakat biarlah tetap berkembang seperti apa adanya.

    Ia mengaku prihatin beberapa kalangan cendekiawan Muslim meragukan aspek kesejarahan para penyebar Islam di Nusantara ini. Dalam pengantar bukunya, misalnya, sejarawan ini menyayangkan tidak adanya entri Wali Songo pada Ensiklopedi dalam Islam yang berjilid-jilid terbitan Ichtiar Baru van Hoeve.

    Yang agak lucu, dan sempat disindir dalam bedah buku Atlas Wali Songo, aspek kesejarahan para wali itu digugat secara terang-terangan dalam berbagai karya tulis para akademisi dari kampus-kampus Islam yang memakai nama Wali Songo dan tokoh-tokohnya sebagai nama kampus mereka. (Dikutip dari: nu.or.id)

    Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Edisi Revisi Soft Cover)

    Jika Anda membaca Ensiklopedia Islam yang tujuh jilid dan mencari informasi tentang Wali Songo, dijamin tidak akan menemukannya. Itu artinya, pada masa depan--kira-kira 20 tahun ke depan—Wali Songo akan tersingkir dari percaturan akademis karena keberadaan mereka tidak legitimate dalam Ensiklopedia Islam. Wali Songo ke depan akan tersingkir dari ranah sejarah dan tinggal mengisi ruang folklore sebagai cerita mitos dan legenda. Anehnya, di dalam Ensiklopedia Islam itu tercantum kisah tiga serangkai haji: Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piabang sebagai pembawa ajaran Islam (Wahabi) ke Sumatra Barat. Itu berarti, anak cucu Anda kelak akan memiliki pemahaman bahwa Islam baru masuk ke Nusantara pada tahun 1803 Masehi, yaitu sewaktu tiga serangkai haji itu menyebarkan ajaran Wahabi ke Sumatra Barat.

    Dalam keserbaterbatasan segala hal, alhamdulillah buku Atlas Wali Songo dengan pendekatan multidisiplin: historis; arkeologi; aetiologis; etno-historis, dan kajian budaya dapat terselesaikan. Isi buku ini sangat membumi dengan proses sinkretisasi-asimilatif dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Fakta mencengangkan di buku ini adalah bahwa kerajaan Islam pertama di Jawa bukanlah Kerajaan Demak (abad 15), melainkan Kerajaan Lumajang yang menunjuk kurun waktu awal abad 12, yaitu saat Singasari di bawah Sri Kertanegara.

    Dengan prinsip 'bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa-jasa para pahlawannya', begitulah penulis berharap anak-anak bangsa di negeri tercinta ini dapat menghargai, menghormati, memuliakan, dan bahkan meneladani keluhuran budi dan kebijaksanaan yang telah diwariskan para ulama penyebar Islam tersebut.

    Endorsement:

    “Buku ini menarik sekali. Agus Sunyoto tidak tanggung-tanggung dan serius sekali dalam menelusuri, meneliti, dan memperdalam sejarah Wali Songo. Kalau tidak lahir buku seperti ini, kita akan terus menggunakan referensi sejarah buatan Belanda.” (KH. Achmad Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, Rembang).

    “Buku ini ujung tonggak, komprehensif tentang dakwah Wali Songo. Dalam dakwah Wali Songo, tidak ada satu dimensi kehidupan manusia yang diabaikan. Jadi dakwahnya itu dakwah kelengkapan seluruh kemanusiaan.” (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun, Budayawan).

    “Buku Atlas Wali Songo memberikan pemahaman komprehensif tentang Islam di Nusantara. Tanpa buku ini, masa depan Islam akan sangat formal dan karakternya bukan seperti NU. Tanpa menghargai wali Allah, kita hanya menjadi pribadi mukmin, bukan muhsin.” (Sujiwo Tejo, Dalang dan Penulis Buku).

    _______________________
    Judul Buku: Atlas Wali Songo (AW)
    Penulis: KH. Agus Sunyoto
    Jumlah Halaman: 496
    Harga: Rp. 126.000 (sudah didiskon 10% dari harga asli 140.000) belum termasuk ongkos kirim. Khusus untuk Pulau Jawa, Buku+Ongkir cukup Rp. 140.000,-
    Cara Pesan: NAMA LENGKAP_AW_ALAMAT LENGKAP kirim ke nomor Hp. 085774858808 (Syaroni As-Samfuriy)
    Nb.: Persediaan buku Atlas Wali Songo sangat terbatas, barang pesanan akan dikirim serempak pada hari Senin, 25 Juli 2016.

    Terbuka untuk Umum; Pameran Ratusan Harta Karun Nusantara akan Dipajang di Pesantren Kudus

    Muslimedianews.com ~
    Assalamu'alaikum. Hadiri dan kunjungi pameran ratusan harta karun ulama Nusantara bertajuk "PAMERAN TURATS ULAMA NUSANTARA", dalam rangka 1 Abad Qudsiyyah Kudus. Pameran ini diantaranya bertujuan agar masyarakat Nusantara semakin tahu dan cinta atas karya-karya ulama Nusantara. Insya Allah akan diselenggarakan pada:

    Hari: Senin-Sabtu
    Tanggal: 1-6 Agustus 2016
    Jam: 09.00-19.00 WIB
    Tempat: Madrasah Aliyyah Qudsiyyah Kudus (Jl. KHR. Asnawi, Gang Kerjasan Kudus - 59315)

    Acara ini akan memamerkan lebih dari 200 kitab (turats) karya ulama asli Nusantara dan beberapa manuskrip beserta deskripsi singkat. Selain itu panitia juga melayani pembelian kitab Nusantara, baik aslinya maupun digital. Demikian, atas perhatian dan kehadirannya kami haturkan banyak terimakasih. Wassalamu'alaikum.

    NB: Undangan untuk umum (laki-laki dan perempuan). CP: Ust. Nanal Ainal Fauz (082321212922)
     

    HIKMAH

    ARABIC

    KHUTBAH

    TASHAWUF

    FIGURE / TOKOH

    SYUBHAT & BANTAHAN

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News