Kirim tulisan ke Media Islam MMN (Muslimedia News)
melalui email muslimedianews@gmail.com
Rekomendasi web idrusramli.com & aswj-rg.com
Top News :

    Ucapan Selamat Natal menurut Habib Mundzir bin Fuad Al-Musawa

    Muslimedianews.com ~ Habib Mundzir bin Fuad Al-Musawa, pendiri Majelis Rasulullah SAW dalam beberapa kesempatan di majelisnya maupun di forum online pernah ditanya mengenai ucapan selamat Natal kepada umat Kristen.

    Dalam rekaman video ceramahnya berikut https://www.youtube.com/watch?v=bunleAdLt3A, Habib Mundzir menjelaskan bahwa mengucapkan selamat natal tidak haram secara mutlak, beliau memberikan perincian mengenal hal tersebut. Berikut transkipnya :
    ***
    Tidak haram secara mutlak, tetapi kembali kepada niat kita. Kalau niat kita mengucapkan selamat hari natal itu adalah selamat hari lahirnya Isa bin Maryam, maka itu boleh, karena Allah SWT pernah berfirman

    وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيّاً
    Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".

    Maka jika mengucapkan selamat hari Natal, jika niatnya selamat hari lahir Nabi Isa (bukan Tuhan Yesus seperti keyakinan Kristiani), kita berkeyakinan Isa adalah Nabi dan Rasul Allah, maka boleh-boleh saja, walaupun kalimatnya "selamat natal".

    ... kita boleh mengucapkan selamat hari kelahiran semua Nabi dan Rasul kapanpun, (seperti) selamat hari lahir Nabi Ibrahim, lebih-lebih hari lahir Sayyidina Muhammad SAW 12 Rabi'ul Awwal.

    Bila mengucapkan selamat natal untuk menghormati (keyakinan) nabi yang dianggap sebagai putra Tuhan maka hal ini haram hukumnya...
    ***

    Dalam forum Majelis Rasulullah online http://www.majelisrasulullah.org/forums/topic/mengucapkan-slamat-natal/, Habib Mundzir juga pernah memberikan penjelasan terhadap pertanyaan yang berkaitan dengan ucapan selamat natal. Habib Mundzir menjawab :
    ***
    "masalah ini adalah masalah sikon dan kekuatan iman, seseorang jika mengucapkan selamat hari natal pada nasrani tidak berarti ia murtad dan kufur, kecuali jika didasari pengakuan atas trinitas dan atau agama mereka,

    namun kebiasaan ini baiknya ditinggalkan oleh muslimin dan bukan dilestarikan. terkecuali bermaksud mengambil simpatinya kepada islam"
    ***

    Link Terkait :


    Gus Solah: Ucapan Selamat Natal Boleh asal Tidak Menyakininya

    Ciputat, Muslimedianews.com ~ Tokoh kharismatik Nahdlatul Ulama, KH. Salahuddin Wahid atau akrab disapa Gus Sholah menilai ucapan selamat Natal boleh dilakukan umat Muslim asalkan tidak untuk meyakininya.

    "Boleh saja, asalkan tidak meyakininya," ujar Gus Sholah

    Gus Sholah mengungkapkan memang ada juga pihak yang tidak memperbolehkan untuk mengucapkan selamat natal. Menurut Gus Sholah, ucapan selamat Natal hanya sekedar untuk pergaulan dan sosial saja.

    "Saya pribadi menilai hal itu tidak masalah tapi kita tidak boleh ikut mengakuinya," katanya.

    Sebelumnya, terjadi pro kontra terkait ucapan selamat natal. Ada pihak yang tidak mempermasalahkan hal tersebut namun juga sebaliknya banyak pihak yang melarang mengucapkan selamat natal. Mereka mengatakan dalam Islam semua harus sesuai dengan aturan yang telah diterangkan dalam ajaran Islam.

    Sumber republika (14/12/2014)

    Rais Syuriah PBNU Jelaskan soal Ucapan 'Selamat Natal'

    Jakarta, Muslimedianews.com ~
    Inilah Pandangan Rais Syuriah PBNU soal Ucapan Selamat Natal

    Hukum mengucapkan selamat hari Natal bagi setiap muslim tidak bisa diseragamkan karena hukum suatu perbuatan bisa berbeda antara satu orang muslim dari orang muslim lainnya lantaran perbedaan keadaannya dan situasinya. Artinya, tidak mutlak haram. Menjadi berhukum boleh apabila diniatkan untuk menunjukkan keutamaan ajaran Islam dari sisi akhlak.

    “Dan tidak diiringi keyakinan yang bertentangan dengan aqidah Islamiyah, sedangkan ucapan tersebut ditujukan kepada orang yang memiliki kedekatan seperti saudara atau rekan bisnis yang juga menghormati umat Islam. Dalam situasi sebaliknya hukum mengucapkannya bisa berhukum haram,” kata Rais Syuriah PBNU KH Ahmad Ishomuddin kepada NU Online melalui surat elektronik, Sabtu (20/12).

    Kiai asal Lampung ini berpandangan, mengucapkan selamat hari Natal bagi seorang muslim adalah persoalan ijtihadiyyah, karena tidak terdapat teks al-Qur'an maupun al-Hadits yang secara tegas melarangnya. Oleh karena itu, wajar jika kemudian masalah ini setiap masa menjadi objek perbedaan pendapat.

    Pro-Kontra Ulama

    Ia memaparkan, pada suatu masa ketika saling berperang antara sebagian umat Islam dan kaum Nasrani maka ulama menyepakati keharaman mengucapkan selamat hari Natal, seperti pada masa Ibnu Taimiyyah dan muridnya, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Sedangkan pada masa-masa damai di mana umat Islam dan non muslim hidup berdampingan saling menghormati maka wajar juga jika banyak fatwa yang menyatakan boleh sekadar mengucapkan selamat hari Natal.

    Perbedaan pendapat hasil ijtihad di kalangan para ulama dalam persoalan tersebut tidak saling menggugurkan ijtihad ulama lainnya. Oleh karena itu, seorang muslim wajib mengedepankan akhlak yang mulia dengan menghormati pendapat ulama yang berbeda dari pendapatnya.

    “Tidak perlu melontarkan pernyataan yang tidak santun kepada ulama lain saat tidak menyetujuinya karena merasa pendapatnya saja yang benar,” tutur Kiai Ishom di akun facebooknya, Selasa (16/12/2014).

    Sebagian ulama terdahulu seperti Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah melarang atau mengharamkan ucapan selamat hari Natal. Pendapat tersebut antara lain diikuti oleh tokoh-tokoh Wahhabi seperti al-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, al-Syaikh Utsaimin, al-Syaikh Ibrahim bin Muhammad al-Haqil dan lain-lain yang masing-masing memfatwakan keharamannya.

    Mereka yang mengharamkannya, demikian Kiai Ishom, beralasan karena dengan mengucapkan selamat hari Natal berarti turut mensyi'arkan agama mereka, padahal Allah tidak meridlai para hamba-Nya yang kafir, sedangkan mengucapkan selamat hari Natal berarti tasyabbuh (menyerupai) orang-orang Nasrani yang hukumnya juga haram.

    Sebaliknya sangat banyak ulama yang menyatakan hukum al-ibahah (kebolehan) mengucapkan selamat hari Natal dengan alasan antara lain karena tidak ada satupun dalil yang melarangnya dan sekedar mengucapkan selamat hari Natal itu bukan berarti mengakui kebenaran aqidah agama Nasrani yang berkonsekuensi membuat seorang muslim secara otamatis murtad (keluar dari agama Islam).

    “Sebagaimana mereka yang beragama Nasrani juga tidak otomatis menjadi muslim saat sebagian mereka mengucapkan selamat berlebaran kepada umat Islam,” terangnya sembari menjelaskan bahwa mengucapkan selamat hari Natal kepada umat Nasrani itu termasuk dalam sikap saling berbuat kebaikan dalam pergaulan hidup bersama secara damai.

    Menurutnya, seorang muslim berkewajiban untuk bersikap lebih santun dibandingkan dengan siapapun dari nonmuslim, karena yang demikian itu merupakan salah satu tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW, yakni untuk menyempurnakan akhlak. Allah juga telah memerintahkan kepada umat Islam agar mempergauli mereka dengan sebaik-baiknya

    Kiai Ishom lalu mengutip penggalan surat al-Mumtahanah ayat 8 yang artinya, "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang yang tiada memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."

    Yang terpenting harus dijaga bagi orang yang mengucapkan selamat hari Natal adalah perlunya berniat untuk menampakkan citra terbaik dari ajaran Islam kepada nonmuslim seperti kaum Nasrani dan tidak ikut serta dalam rangkaian kegiatan pada hari Natal yang bertentangan dengan aqidah islamiyyah.

    “Saya mengimbau agar umat Islam maupun umat Nasrani dapat hidup berdampingan secara damai, saling hormat-menghormati sesuai batas ajaran agama masing-masing dan dalam konteks kehidupan berbangsa wajib menjaga persatuan dan menghindarkan segala sebab yang menimbulkan perpepecahan.

    Kiai Ishom juga menyebut sejumlah nama ulama yang memperkenankan ucapan selamat hari Natal bagi seorang muslim, antara lain, al-Syaikh Muhammad Rasyid Ridla, al-Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, Prof. Dr. Abdussattar Fathullah Sa'id, al-Syaikh Musthafa al-Zarqa', Prof. Dr. Muhammad al-Sayyid Dusuqi, al-Syaikh al-Syurbashi, al-Syaikh Abdullah bin Bayyah, al-Syaikh Farid Muhammad Washil, al-Syaikh Ali Jum'ah, dan lainnya.

    “Bagi yang ingin meluaskan wawasan seputar masalah ini hendaknya berkenan membaca dengan cermat fatwa yang dikeluarkan baik oleh ulama yang mengharamkan maupun yang memperkenankan ucapan selamat hari Natal kepada kaum Nasrani,” pungkasnya. (Mahbib)


    Sumber nu.or.id

    Hati-Hati Iklan Mencatut Nama Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Kab. Sumenep

    Muslimedianews.com ~ Beredar sebuah iklan yang dimuat di tabloid Kisah Nyata edisi 539 desember 2014 yang menawarkan solusi dalam hal rejeki, pendamping jin, pelet kembang sukma dan lain-lain.

    Iklan yang mengatas namakan Pondok Pesantren Annuqoyah dengan pengasuhnya bernama Nyai Hj. Qomariah itu telah mencatut dan mengaburkan nama besar Pondok Pesantren Annuqayah (pakai U) yang beralamat di Desa Guluk-Guluk Kec. Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep Madura.

    Pondok Pesantren Annuqayah (pakai U) yang asli tidak pernah memasang iklan seperti yang ada dalam tabloit tersebut, bahkan tidak ada nama Nyai Hj. Qomariah dalam keluarga besar Pondok Pesantren Annuqoyah yang asli.

    Umat Islam dihimbau agar berhati-hati dengan beredarnya iklan palsu tersebut. (*)

    Oleh : Ibnu L' Rabassa

    Aktifis Muda NU Siapkan Penerbitan Buletin NU di Wilayah Jayapura

    Muslimedianews.com ~ Gebrakan Aktifif Muda NU gabungan PMII ,IPNU ,SARKUB dalam Rapat tentang Buletin NU yang akan di terbitkan dan di distribusikan ke setiap Masjid " di wilayah Kota Jayapura Papua setiap Hari minggu

    Setelah melihat meninbang sudah sangat banyak kita sebagai generasi muda NU yang hanya bisa mengeluh dan merasa miris dengan gencarnya da'wah" aliran di luar NU seperti HTI ,WAHABI dll yang begitu antusias membagikan slembaran" atau buletin di masjid " yang mana buletin itu terus menerus menyerang amaliah " kita sebagi warga nahdiyin , melihat hal sperti itu maka sudah sa'atnya kita bangkit kita melek kita bergerak untuk membentengi sodara " kita melalui buletin atau tulisan " yang bisa kita distribusikan ke Masjid "

    Ojo mumet masalah dana Gusti Allah eman wong NU kui sugih" disini setiap minggu 1 anggota ditunjuk untuk menulis sebuah artikel dengan judul ala Ahlussunah wal jama'ah dan kemudian tulisan itu dibahas setelah di bahas di sohihkan baru artikel tersebut di bagikan satu ppersatu kepada anggota Aktifis Muda Nu stelah itu para anggota memfoto Copi minimal 1 anggota 50 lembar dan langsung setiap hari jum'at di distribusikan

    Aksi nyata itu perlu dulur

    Oleh : Abdul Wahab
    9:52:45 PM Cikobong Jayapura

    Habib Taufiq Assegaf Tidak Setuju Umat Islam Ucapkan 'Selamat Natal'

    Muslimedianews.com ~ Ucapan selamat natal kepada umat Kristiani memang menuai kontroversi dan perselisihan pendapat diantara umat Islam. Ada yang  membolehkan dan lumrah mengucapkannya, ada pula yang melarang atau mengharamkannya.

    Meskipun demikian, penulis ingin menyampaikan pendapat seorang habib bernama Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf sebagai salah satu pihak yang tidak setuju bila umat Islam mengucapkan selamat Natal pada umat Kristiani.

    Terkait dengan aksi menjaga keamanan gereja, Habib Taufiq tidak setuju karena seolah-seolah kondisi sedang mencekam, padahal kekacauan yang terjadi hanya berasal dari segelintir orang yang suka mensyirik-syirikannya. Habib Taufiq menghimba u agar orang yang suka mensyirik-syirikkan ditangkap, agar gereja pun aman.  

    Berikut transkip tausiyahnya pada sebuah video berdurasi 4 menit 33 detik:
    ***
    Hati-hati, besok atau besok lusa ada hari Natal, jangan sampai sebagai umat Islam mengucapkan selamat natal. Jangan percaya dengan omongannya sekalipun kyai yang menyatakan itu boleh. Dalam kitab-kitab klasik umat Islam, para Aimmah (imam-imam/ulama) semisal Imam Nawawi, Imam Suyuthi, dll semuanya menyatakan haram hukumnya, hati-hati.

    Sudahlah... gak usah ikut-ikut habib yang baru. Ini habib Alwi gak pernah mengucapkan selamat natal. Gak usah ikut kyai-kyai yang baru, itu Kyai Yasin, ... gk pernah ucapkan selamat natal. Yang model-moddel anyar ini... katanya harus ngikuti nas kitab klasik, udah disebutkan disitu (dalam kitab) haram, bahkan di ta'zir. ...

    (mereka) pakai pendapat yang baru, gak menerima pendapat yang lama, seakan-akan pendapat imam-imam dulu itu kalah dengan pendapatnya dia. udah ... gak usah ikut-ikutan yang begitu..

    malah ada disitu (kitab), dikatakan kalau anda mengucapkan itu karena mengagungkan agamanya atau merestui keyakinannya (maka) murtad, kafir hukumnya, jangan main-main ini... (jangan kira) fatwa model demikian gak ada dasarnya.

    Kita gak setuju kalau ada orang mau membakar gereja, mau menyerang mereka, itu tidak benar. Kami tidak senang dengan akhlak yang demikian. Biarlah ... orang-orang itu (Kristiani) aman kok selama ini pergi ke gereja, gak ada apa-apa, seakan-akan mencekam, bahaya, sampai semuanya diminta untuk menjaga. Apa ini?!! gak ada apa-apa.

    lihat umat Islam ada di Australia, mencekam. Ada di Prancis, mencekam, ada di Palestina, mencekam. ... ada di Bosnia, mencekam. Disini (Indonesia) gak ada apa-apa, ada apa diributkan itu...?.  Kalau memang ada, segelintir orang, dan itu tangkap saja, itu kita tidak setuju. Jangankan orang-orang Kristen yang dimusuhi oleh orang-orang itu, kita umat Islam yang ziarah kubur saja (dituduh) sudah musyrik kok. Bukan golongan kita itu, golongan orang-orang itu. Seharusnya pemerintah menangkap orang-orang itu (pengacau), maka akan aman semuanya. Gak usah bingung.

    Menjaga gereja? gak ada apa-apa, kok (seolah) mencekam. Tangkap saja, orang-orang yang suka mensyirik-syirikkan orang lain, maka aman gereja-gereja. Bukan orang-orang seperti kita. Hanya saja kalau hanya sekedar menghadapi (orang-orang) itu, yang dikitab haram dihalalkan, ini gak cocok....

    Hati-hati ya, .... yang diucapkan manusia dicatat oleh malaikat Roqib Atid, jangan asal ngomong, membuka mulut berfatwa, dari televisi, dan lain-lain....

    Mudah-mudahan kita semua tetap mengikuti salafush shaleh, bukan pendapat-pendapat baru yang bertentangan dengan pendapat salafush sholeh. Wallahu A'lam.

    ***
    Oleh : Ibnu L' Rabassa
    Sumber video https://www.facebook.com/video.php?v=1540778129499090

    Pengurus Masjid Raya Banda Aceh Hentikan Pengajian Jumatan Ulama Dayah

    Banda Aceh, Muslimedianews.com ~ Pantia Pengajian Tastafi baru saja memulai pengajian rutin Jumatan yang diisi oleh Ulama Kharismatik Aceh di Mesjid Raya Baiturrahman dua hari yang lalu (19/12/2014). Pengajian ini merupakan tindak lanjut dari usulan Wakil Gubernur Aceh agar pengajian yang diisi oleh  Ulama Dayah di Mesjid Kebanggaan Rakyat Aceh ini dapat diadakan seminggu sekali.

    Pengajian rutin ini pun mendapat sambutan yang sangat antusias dari warga Kota Banda Aceh. Ribuan Jamaah telah hadir ke Mesjid Raya Baiturrahman untuk mengikuti Pengajian yang dijadwalkan diisi oleh Abu Kuta Krueng. Namun karena dalam kondisi sakit, pengajian perdana ini diwakili oleh menantunya, Tgk Tarmizi yang juga Ketua PW HUDA Pidie Jaya. 

    Rencananya pengajian ini akan diadakan secara bergilir setiap hari Jumat mulai pukul 10.00 hingga 12.00 WIB.

    Namun anehnya, disaat Pengajian hendak dimulai, Ketua Penyelenggara justeru dipanggil ke ruang Pengurus Mesjid dan Pengurus meminta Pengajian ini dihentikan untuk diganti pada hari lain saja. Hadir diantaranya Kadis Syariat Islam Aceh, Prof. Dr. Syahrizal Abbas dan beberapa pejabat SKPA yang lain. Mereka beralasan Pengajian pada hari Jumat mengganggu orang i’tikaf dan petugas kebersihan Mesjid.

    Suasana semakin menegangkan dengan banyaknya anggota Kepolisian dan Satpol PP yang berjaga-jaga dimana seolah-olah akan terjadi keributan. Padahal kegiatan pada hari itu murni kegiatan pengajian yang bertujuan untuk membuka wawasan keilmuan kepada umat Islam yang sudah lama merindukan ilmunya para Ulama. Entah isu apa yang dihembuskan oleh Pihak Pengurus Mesjid sehingga suasana Mesjid Raya berbeda dengan hari biasanya.

    Ketua Penyelenggara, Tgk Marwan Yusuf sangat menyayangkan sikap Pengurus Mesjid dan beberapa Pejabat SKPA yang membendung kegiatan seperti ini. 

    “Di saat ada sebagian pemuda yang memiliki i’tikad untuk mengemban sebagian tugas Pemerintah dalam pembinaan umat, ternyata kegiatan ini malah diminta untuk dihentikan dengan alasan yang tidak logis. Sudah seharusnya pada hari Jumat Mesjid Raya dihidupkan dengan kegiatan pengajian seperti ini, sehingga jamaah akan termotivasi untuk hadir lebih awal ke masjid sambil menunggu pelaksanaan shalat Jumat," kata Tgk Marwan Yusuf.

    Tgk Marwan juga menambahkan bahwa pihaknya telah mendapat rekomendasi dari Gubernur Aceh dan Imam Besar Mesjid Raya, Prof. Dr. Azman Ismail, MA dua minggu yang lalu. Pihak Panitia juga telah melayangkan surat resmi kepada Pengurus Mesjid. Namun tanpa adanya surat pembatalan, tiba-tiba Pihak Pengurus Mesjid meminta acara ini dihentikan dan diganti pada hari lain. 

    Nampaknya Pengurus Mesjid Raya terlalu phobia dengan hadirnya Ulama Dayah mengisi Pengajian di Mesjid Raya Baiturrahman. Penolakan ini juga menunjukkan semacam adanya kekhawatiran dari pihak-pihak tertentu terhadap berlakunya Pelaksaan ibadah yang sesuai dengan manhaj Ahlussunnah Waljamaah di Mesjid bersejarah ini.


    Oleh: Tgk. H. Muhammad Iqbal Jalil, Kabid. Jurnalistik Lajnah Pengembangan Dakwah (LPD) Mudi Mesjid Raya Samalanga.


     

    ARABIC

    TAUSHIYAH

    KHUTBAH

    TASHAWUF

    TARIKH

    FIGURE / TOKOH

    INTERVIEW

    SYUBHAT & BANTAHAN

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News