Top News :
    6f2685a723d5dd228092da7913ae853e

    Anjing Suci dan Kiai Sesat Ahli Neraka

    Muslimedianews.com ~
    Alkisah ada seorang kiai sedang mengaji di musholla bersama puluhan jamaahnya. Ia memulai mengajinya dengan, "Bismillahirrahmanirrahim. Anjing itu suci, tidak najis."

    Tiba-tiba lewat seseorang berbaju putih, jenggotnya dua setengah helai, jidatnya hitam, naik motor. Ia mendadak berhenti, seraya berteriak, "Allahu akbarrrr!!! Dasar kiai sesat, ahli neraka!!!"

    Kiai beserta jamaahnya pun kaget. Ngaji dihentikan, mengira ada orang mendadak kesurupan. Kiai pun dengan tenang bertanya, "Ada apa sampeyan menggangu pengajian kami?"

    Orang berbaju putih tadi malah membentak, “Dasar kiai sesat, pura-pura tidak bersalah!!!"

    Dengan nada santai sang kiai bertanya, "Maksud sampeyan?"

    "Lha tadi sampeyan bilang anjing suci, tidak najis. Dasar kiai murtad, ahli neraka!!!" Bentak orang tersebut.

    Sejumlah jamaah pengajian hampir mengeroyok orang berbaju putih yang arogan itu, tetapi kiai melarangnya. Dengan nada tenang kiai menjawab, "Oh itu toh, iya betul tadi saya bilang anjing tidak najis, memang salah ya?"

    "Ngerti tidak kamu, anjing itu najis mughaladzah, harus dicuci tujuh kali yang salah satunya dengan debu!!!"

    Sambil tersenyum kiai membalas, "Oalah mas... mas... Sampeyan faham tidak? Saya ini dengan jamaah sedang mengaji Madzhab Maliki. Menurut Madzhab Maliki anjing tidak najis, Mas akhiy bro. Sampeyan ini kok buru-buru marah, menuduh saya sesat, murtad, ahli neraka, padahal sampeyan sendiri yang tidak tau luasnya perbedaan ulama fikih."

    "Sampeyan bilang anjing najis mughaladzah itu, ya benar pendapatnya Madzhab Syafi’iyyah Mas. Imam Syafi’i muridnya Imam Malik Mas, beliau berbeda jauh pendapatnya, yah ga ada teriak-teriak apalagi nuduh sesat Mas Akhiy Bro..." lanjut kiai.

    Dengan nada semakin meninggi orang itu berujar, "Tidak bisa! Ucapan sampeyan ngaco, mengada-ada, saya ini MUSLIM KAFFAH, yang bepegang langsung pada al-Quran."

    Dengan santai kiai menimpali, “Wah… saya bukan tingkatan mujtahid yang bisa menggali langsung al-Quran. Ini saya pegangannya pada kitab-kitab fikih, ini bukan karangan saya, ini ada kitab Madzhab Maliki, ada kitab Madzhab Hambali, ada kitab Madzhab Syafi’i, ada kitab Madzhab Hanafi, silakan Mas kalau gak percaya DIBACA SAJA SENDIRI."

    “Emm... anu... anu... anu…, kacamataku ketinggalan, saya pulang dulu yah mau ambil kaca mata," seraya iya pergi ngeloyor pergi. Karena memang dirinya tidak bisa baca kitab kuning. Seumur-umur dia tidak mengenal baca kitab ala kiai, yang "dimaknai" dengan Mubtada, Khabar, utawi, iku, ingdalem, kelawan. Ia hanya rajin ikut pengajian umum yang teriak-teriak Allahu akbar!!!

    Selepas pengajian, ibu-ibu jamaah pengajian tersebut langsung ramai-ramai update status di medsosnya berbunyi: "Di majelis pengajianku, baru saja terjadi adegan dari orang bodoh, yang kesimpulannya:
    1. Orang bodoh, dengan kebodohannya, maka akan seenaknya menuduh orang lain sesat. Meski orang lain sebenarnya lebih berilmu.
    2. Dan dengan kebodohannya dia tidak mengerti adanya sopan santun jika ada perbedaan pendapat, padahal perbedaan dalam hukum fikih itu hal biasa di antara para ulama yang luas ilmunya. 
    3.Dengan kebodohannya mencaci-maki orang lain (termasuk menggangu orang yang sedang mengaji ), si bodoh menganggap dirinya jihad fi sabilillah. 
    4. Karena dengan kebodohannya, orang bodoh ia selalu merasa dirinya paling benar."

    Tiba-tiba kata para suaminya, "Bu... Masak dulu Bu, saya lapar, jangan facebook-an terus." (Oleh: Gus Nasrulloh Afandi, Pengasuh Pesantren Asy-Syafi'iyyah Kedungwungu Krangkeng Indramayu Jawa Barat).

    Ulama Tarekat: Manfaatkan Teknologi untuk Dakwah, Waspadai Hoax

    Muslimedianews.com ~ Musyawarah Wilayah Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) DKI Jakarta diharapkan dapat memperkuat persatuan dan kesatuan di antara tarekat yang ada. Selanjutnya, tarekat-tarekat tersebut harus membuktikan peran dalam membangun peradaban masyarakat yang kokoh.

    Hal itu disampaikan Ketua JATMAN DKI Jakarta KH Wahfiudin Sakam pada Muswil JATMAN DKI Jakarta, di Masjid Al-Hikmah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ahad (22/1).

    Menurutnya, dalam memperkokoh peradaban masyarakat, terdapat sejumlah tantangan. Tantangan pertama adalah pesatnya pertumbuhan penduduk. Kiai Wahfiudin menyebut pada tahun 1945, ketika Indonesia baru merdeka, jumlah penduduk Indonesia hanya 66 juta jiwa. Saat ini jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 257 juta jiwa. Dan tahun 2025 nanti diperkirakan jumlah penduduk akan mencapai 285 juta jiwa.

    "Dari 257 juta jiwa tersebut, penduduk Muslim diperkirakan berjumlah 240 juta jiwa. Oleh karena itu, saya selalu mengingatkan pertumbuhan baik melalui teman-teman di MUI maupun LDNU, agar melakukan persiapkan melalui kaderisasi untuk dapat melayani umat Muslim tersebut," urai Kiai Wahfiudin.

    Tantangan kedua, lanjut Kiai Wahfiudin, adalah adanya arus urbanisasi besar-besaran. Berdasarkan sensus penduduk tahun 1980, warga yang tinggal di perdesaan mencapai  80 persen. Tahun 2010 masyarakat yang tinggal di pedesaan habya mencapai 45 persen, sementara 55 persennya tinggal di perkotaan.

    "Hal itu menyebabkan sempitnya lahan dan perumahan. Akibatnya banyak keluarga yang  tinggal di rumah kecil, dan anak-anak yang belum waktunya, jadi tahu proses hubungan suami istri," lanjutnya.

    Belum lagi pengangguran, sosial, saya, narkoba, yang juga menjadi persoalan. Berikutnya yang perlu dicermati adalah perkembangan internet dan handphone. Artinya sebagian besar masyarakat menggunakan internet dan handphone.

    "Menariknya, berdasarkan hasil penelitian The Wahid Institute, hanya 3,5 persen dari pengguna internet yang mengakses informasi keagamaan. Entah karena kurangnya minat pengguna internet terhadap informasi keagamaan, atau kurangnya ketersediaan informasi keagamaan," ungkap Kiai Wahfiudin.

    Jika persoalannya adalah kurangnya ketersediaan informasi keagamaan di internet, maka begitu luas kesempatan bagi tarekat untuk menyediakan konten keagamaan tersebut.

    "Tarekat harus memanfaatkan teknologi digital. Jangan sampai umat justru lebih akrab dengan banyaknya infomasi “hoax”," tegas Kiai Wahfiudin. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

    nu.or.id

    HTI Kesiangan, Indonesia Pernah Terapkan Nuansa 'Khilafah'

    Muslimedianews.com ~ Indonesia pernah menerapkan sistem pemerintahan yang bernuansa khilafah selama 39 tahun, yaitu:

    1. Ketika MPRS mengangkat Soekarno sebagai Presiden Seumur hidup:
    2. Ketika Negara ini mempertahankan rumusan Pasal 1 ayat 1 dan 2, Naskah lama UUD 1945.

    Dan menariknya pada sidang BPUPKI 29 Mei 1945, Prof. Mr. Moh. Yamin dan A. Sanusi mengusulkan agar bentuk Negara Indonesia nanti adalah khilafah. Perlu dicatat bahwa pada waktu itu Ismail Yusanto, Rahmat Kurnia, dan tokoh-tokoh HTI belum lahir.

    Yang menarik, meskipun terjadi perdebatan tentang bentuk Negara di antara Soepomo, Moh. Yamin, dan Ki Bagus Hadikusuma, Ir. Soekarno mengusulkan jalan tengah, seperti disebut di dalam notulensi AB Kusuma, yaitu menggabungkan usulan itu menjadi draft final Pasal 1 ayat 1 dan 2 UUD 1945.

    Dan NU pasca keluar dari Masyumi memperlakukan Ir. Soekarno tidak ubahnya sebagai khalifah dengan gelar waliyyul amri al-dhoruri bis syaukah. Gelar seperti ini tidak dikenal di sistem demokrasi, silakan buka semua buku ilmu negara dan tata negara, tidak akan ditemui istilah waliyyul amri al-dhoruri bis syaukah.

    Tentu saja, bagi para kyai, pemberian gelar itu bukan tanpa makna. Para kyai NU tahu betul bagaimana meng-korkondansi (menyesuaikan) konsep-konsep politik Islam yang khilafah minded dengan situasi kontemporer. Sehingga, jadilah konsep khilafah yang merepublik dan konsep republik yang meng-khilafah.

    Dalam kaitannya dengan penggunaan isu khilafah ini, HTI sudah tertinggal 50 tahun dari NU. NU dengan kecemerlangan ijtihad para kyai sudah bermain di level modifikasi konsep khilafah, sedangkan HTI baru berada di level abstraksi yang serba lemah. Lalu tiba-tiba muncul ISIS yang menyodorkan ide khilafah yang serba salah.

    Ust. Abdi Kurnia Djohan

     

    HIKMAH

    ARABIC

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News