Kirim tulisan ke Media Islam MMN (Muslimedia News)
melalui email muslimedianews@gmail.com
atau inbox di fanpage MMN.
MuslimediaNews.com Media Sehat Rujukan Umat
Top News :

    Kata Siapa Bermadzhab Tidak Penting?

    Muslimedianews ~ Ada seorang mahasiswa UI curhat dipaksa seniornya untuk tidak bermadzhab. Akhirnya ia bertanya kepada KH. Abdi Kurnia Djohan, salah satu dosen di Universitas Indonesia (UI): “Apakah bermadzhab itu tidak penting Ustadz?”

    Dijawab dengan ilustrasi: “Coba kamu perhatikan kitab Fathul Bari yang ditulis sebanyak 13 jilid itu.”

    Mahasiswa itu bertanya lagi: “Ya Ustadz, terus apa hubungannya Ustadz?”

    “Apakah semua kata yang ditulis Imam Ibnu Hajar di situ beliau anggap penting?” Kyai Abdi balik tanya.

    “Iya Ustadz.”

    KH. Abdi Kurnia Djohan kemudian berkata: “Imam Ibnu Hajar tidak akan menulis keterangan di kitab itu kalau beliau tidak menganggap penting. Lalu siapa yang menganggap semua keterangan Imam Ibnu Hajar tidak penting?”

    Mahasiswa: “Orang yang tidak membaca kitab itu tentunya, Ustadz.”

    “Nah begitulah kebanyakan orang yang menganggap bermadzhab tidak penting, karena mereka tidak pernah belajar fikih madzhab. Mereka sama keadaannya seperti orang bodoh yang tidak mau membaca. Itulah juga yang jadi alasan al-Albani berpendapat tidak penting bermadzhab. Karena ia tidak tuntas belajar fikih madzhab Hanafi dari ayahnya.” Pungkas KH. Abdi Kurnia Djohan.

    Seorang ulama dan pejuang Ahlussunnah wal Jama’ah asal Syria, asy-Syahid Syaikh M. Said Ramadhan al-Bhuthi pernah mengatakan: “Kita umat Islam saat ini merasakan nikmatnya bermadzhab 4 Ahlussunnah tidak lain karena perjuangan pendahulu orang ini (sambil menunjuk ke arah Pak As’ad Said Ali/Wakil Ketua Umum PBNU, maksudnya adalah perjuangan ulama NU).”

    Pernyataan Syaikh al-Buthi di atas diriwayatkan dari al-Ustadz Ma'ruf Khozin, aktifis NU di Surabaya, yang sanadnya bersambung dan perawinya terpercaya.

    Sya’roni As-Samfuriy

    Ribuan Santri Ahlussunnah Pamekasan Tegas Menolak Kedatangan Tokoh Wahabi Radio Rodja

    Muslimedianews, Pamekasan ~ Ribuan santri yang tergabung dalam Ikatan Santri Pelajar Aswaja (ISPA), dari berbagai pondok pesantren di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur menggelar aksi unjuk rasa menolak kehadiran tokoh Wahabi di Kota Gerbang Salam, Sabtu (30/08/14).

    Penolakan itu dilakukan dengan tegas, menyusul akan digelarnya pengajian digelarnya pengajian di salah satu Masjid di Pamekasan, yang akan mendatangkan salah satu tokoh Wahabi yang sering mengisi di media televisi dan Radio Rodja yang merupakan corong paham Wahabi.

    Para santri yang mengenakan sarung dan kopiah itu, menggelar aksinya di munomen Arek Lancor. Mereka sambil membentangkan spanduk bertuliskan penolakan kehadiran tokoh itu, karena ditengarai mengharamkan Tahlilan, Barzanji serta tidak memperbolehkan ziarah kubur.

    Mereka mengusung sejumlah poster kecaman, “Hentikan Aliran Yang Meresahkan Masyarakat”, “Gerbang Salam Anti Wahabi”, “No Rasis, No Anarkis, No ISIS”. Dan ISIS disingkat dengan Ikatan Setan Iblis Salafi Wahabi. Dan disepanjang jalan mereka juga menggelar orasi yang dilakukan secara bergantian.

    “Dengan tegas kami menolak kehadiran tokoh Wahabi di Kabupaten Pamekasan ini, karena telah meresahkan masyarakat. Dan kami tidak ingin di Pamekasan ini ada aliran yang sesat dan menyesatkan,” kata Kyai Afifurrahman, salah satu korlap aksi.

    "Kita bersatu dan menyatukan tekad menolak ajaran Wahabi, siaran tv Rodja dan radio Rodja yang menilai amalan Aswaja adalah bid'ah," imbuhnya.

    Afifurrahman yang sekaligus Pengasuh pondok pesantren Sekar Anyar Palengaan itu juga mengatakan, penolakan terhadap aliran itu dilakukan karena telah mengharamkan Tahlilan, Barzanji serta ziarah kubur.
    "Amalan santri bukanlah amalan yang mengada-ada, kami santri junjung tinggi kebhinnikaan, Pancasila dan Pluralisme. Tolak ISIS, tolak Wahabi, Aswaja harga mati," ungkap Pengasuh Ponpes Sekarsari, Dusun Rombuh, Kecamatan Palengaan itu.

    “Kami ingin, penolakan para santri ini bisa dibarengi oleh masyarakat luas Pamekasan. Mari kita selamatkan Pamekasan dari aliran sesat itu,” tegasnya sambil membubarkan diri dengan tertib. (Portal Madura/ Berita Jatim/ Ngaji Yuk!)


    Redaktur: Ibnu Munir


    KH Masdar Farid: Ada Kesalahan Serius dalam Memahami Khilafah

    Muslimedianews.com, Depok ~ Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU) KH Masdar Farid Mas’udi mengingatkan, ada kesalahpahaman yang sangat serius dan merata di kalangan umat Islam dan para politisi muslim sejak dulu sampai sekarang dalam memahami konsep khilafah atau khalifah.

    “Dikiranya ‘khilafah’ adalah konsep kekuasaan yang di satu pihak memiliki klaim global dan di lain pihak hanya sektarian hanya untuk umat Islam, plus penganut sekte tertentu atau berasal dari suku tertentu,” katanya dalam acara sarasehan ulama di Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok, Ahad (31/8/2014).

    Khalifah berarti wakil atau mandataris Allah di muka bumi, merujuk pada ayat al-Qur’an (QS 2: 30). Menurut Masdar, peran khalifah tidak mengenal diskriminasi agama atau keyakinan, maupun suku bangsa.

    “Agama sebagai dogma keimanan berada di luar domain kekhilafahan. Manusia sebagai khalifah Allah tidak berhak memaksakan maupun menghakimi keimanan seseorang,”katanya.

    Soal penghakiman atas keimanan adalah urusan Allah semata, dan baru akan diterapkan di hari kiamat nanti, atau dalam surat Al-Fatihah disebut dengan Yaumid Din, hari agama.

    “Itulah hari dimana kekuasaan Allah tidak lagi didelegasikan kepada manusia atau pihak lain sebagai khalifah-Nya,” katanya.

    Di akhir paparannya, Masdar mengingatkan para peserta sarasehan dari perwakilan wilayah NU se-Indonesia untuk tidak terkecoh dengan berbagai konsep dan gerakan yang seakan islami. Hal ini terkait maraknya pemberitaan mengenai kelompok garis keras ISIS yang memproklamirkan negara Islam atau khilafah di Irak dan Suriah. (A. Khoirul Anam)

    Sumber nu.or.id

    Kisah Dua Musa (Musa bin Imron dan Musa As-Samiri)

    Muslimedianews.com ~ Pengajian tafsir di bulan Ramadlan hari ke - 20, para santri membaca ayat wa-adlallahumus saamiri (dan Musa Assamiri menyesatkan mereka/bani Israel).


    قَالَ فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِن بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ
    "Allah berfirman: "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri ." (QS. Thaha 20 : 85)

    Musa Assamiri adalah salah satu pengikut Nabi Musa dari suku Samirah yang akhirnya murtad, bahkan mengajak bani Israel menyekutukan Allah).

    Di saat Nabi Musa membimbing bani Israel untuk beribadah hanya menyembah Allah, yaitu setelah peristiwa perdebatan Nabi Musa dengan Fir`aun di depan para penyihir, yang akhirnya dimenangkan oleh Nabi Musa dan berimanlah para ahli sihir itu.

    Konon Nabi Musa terus mengajarkan agama kepada para pengikutnya agar tetap mempertahankan aqidahnya. Bahkan demi menjaga keimanan kepada Allah itu, ada mantan para penyihir yang sudah mengimani kerasulan Nabi Musa itu mati syahid akibat disalib dan dimutilasi oleh Fir`aun si Raja kejam itu.

    Lantas Nabi Musa mengajak kaumnya yang beriman untuk menjauh dari kekejaman Fir`aun, hingga suatu saat Nabi Musa mendapat perintah khalwat (menyendiri dari kaumnya) untuk bermunajat demi memperoleh petunjuk dari Allah.

    Sebelum Nabi Musa pamit kepada kaumnya, beliau meminta kepada saudaranya, yaitu Nabi Harun agar menjaga dan mengawasi kaumnya, jangan sampai ada yang kembali menyembah tuhan selain Allah. Lantas Nabi Musa berangkat ke Gunung Sinai untuk bermunajat kepada Allah.

    Sedang bani Israel menunggu di suatu tempat yang telah ditunjuk oleh Nabi Musa. Mereka ditemani oleh Nabi Harun. Dalam rombongan itu ada Musa Assamiri, yaitu seorang dari suku Samirah yang konon di masa kecil mempunyai pengalaman yang hampir sama dengan Nabi Musa.

    Dia termasuk anak bayi lelaki yang diasingkan oleh ibunya gara-gara takut dibunuh oleh raja Fir`aun. Jika bayi Nabi Musa pada akhirnya diasuh dan dibesarkan oleh keuarga fir`aun, maka menurut ahli sejarah, bayi Musa Assamiri justru diasuh dan dibesarkan oleh Malaikat Jibril atas ijin Allah.

    Anehnya bayi yang diasuh Fir`aun tatkala tumbuh dewasa, oleh Allah diangkat menjadi rasul karena keimanannya, sedangkan bayi yang diasuh oleh malaikat Jibril, justru menjadi musyrik dan kafir kepada Allah.

    Konon tatkala Nabi Musa berada gunung Sinai untuk bermunajat selama 40 hari, ternyata Musa Assamiri berulah melawan Nabi Harun. Musa Assamiri mengajak bani Israel membuat patung sapi emas untuk disembah.

    Musa Assamiri sengaja mengumpulkan semua perhiasan emas milik bani Israel, lantas memandenya dengan api dan menjadikan patung anak sapi. Musa Assamiri tergolong orang pintar dan modern untuk jaman itu. Dia mampu menerapkan tehnik pembuatan patung dengan diberi lobang tertentu yang jika tertiup angin kencang dapat berbunyi.

    Kalau orang Jawa Timur mengenal istilah `layangan sowangan` yang dapat berbunyi, yaitu layang-layang yang diberi pita suara pada bagian tertentu, jika naik ke udara dapat mengeluar suara tertentu.

    Semacam inilah gambaran kepandaian Musa Assamiri saat itu dalam menerapkan tehnik membuat patung anak sapi untuk bani Israel agar dapat berbunyi, lantas patung sapi itu diletakkan di tengah padang pasir dengan ketinggian tertentu.

    Tatkala tertiup angin kencang, maka berbunyilah patung sapi itu. Musa Assamiri mengatakan kepada bani Israel : Lihatlah, Tuhan yang dipanggil Nabi Musa itu sedang mendatangi patung sapi milik kita, karena itu ayoo kita sembah bersama-sama...! Mereka pun sujud menyembah patung sapi buatan Musa Assamiri itu.

    Melihat keadaan itu Nabi Harun marah, namun beliau tidak mampu mencegah mereka karena kepandaian Musa Assamiri mempengaruhi bani Israel bertahan menyembah patung sapi buatannya itu hingga Nabi Musa datang.

    Penyair mengatakan :
    إذا لم تصادف في بريق عناية ... فقد كذب الراجي وخاب المؤمل
    فموسى الذي رباه جبريل كافر ... وموسى الذي رباه فرعون مرسل
    Idzal mar-u lam yadnas minal lukmu `irdluhu # Fakullu ridaa-in yartadiihi jamiilu.
    Fa muusal ladzii rabbaahu Jibriilu kaafirun # Wa muusal ladzii rabbaahu Fir`aunu mursalu.

    Jika kehormatan seseorang itu tidak pernah cacat akibat kejahatan, maka pakaian apapun yang ia kenakan akan tampak indah.
    Musa (Assamiri) yang konon dipelihara Jibril menjadi orang kafir, sedangkan Musa yang dipelihara Fir`aun justru diangkat jadi rasul.


    Mengapa Indonesia Bukan Khilafah ? (Bagian 2)

    Muslimedianews.com ~ MENGAPA INDONESIA BUKAN KHILAFAH? (Transkip ceramah KH. Abdi Kurnia Djohan, SH., MH)  Bagian 2. Baca bagian Pertama :  (Mengapa Indonesia Bukan Khilafah ? (Bagian 1)). Berikut lanjutannya :

    Pertanyaannya adalah: “Apa itu Khilafah? Apa benar Khilafah itu sebuah sistem yang diharuskan oleh Rasulullah Saw. untuk kita terapkan?”

    Khilafah itu bentuk mashdar dari Khalafa-Yakhlufu (خلف – يخلف), yang artinya mengikuti. Di dalam al-Quran kata ‘khilafah’ dipakai dalam bentuk isim fa’il; Khalifah, artinya orang yang mengikuti atau orang yang diberikan kewenangan. Maka kalau kita lihat dalam QS. al-Baqarah ayat 30:

    وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً
    “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

    Tetapi makna khalifah di sini adalah hamba Allah yang menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan amanah yang Allah berikan; sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Lalu di dalam QS. Shad ayat 26, Allah menyebut kata khalifah untuk menunjukkan tugas yang dijalankan oleh Nabi Daud As.:

    یا داوُدُ إِنَّا جَعَلْناکَ خَلِیفَةً فِی الْأَرْضِ
    “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa, penerus amanah Allah yang telah Allah titipkan pada para nabi sebelumnya) di muka bumi.”

    Nah, kalau kita lihat kata khalifah atau khilafah di dalam al-Quran tidak menunjuk kepada sistem pemerintahan. Kenapa? Karena al-Quran diturunkan bukan untuk bikin negara. Tidak ada kewajiban bagi setiap Muslim di muka bumi ini untuk mendirikan Negara Islam.

    Bahkan Partai Masyumi, yang sering disebut-sebut sebagai partai yang berambisi untuk mendirikan Negara Islam, melalui keterangan resmi dari sekjennya, Almarhum H. Anwar Haryono, mengatakan: “Dengan usaha Masyumi mempertahankan 7 kata di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar dan 7 kata di dalam sila pertama Pancasila, jangan diartikan bahwa Masyumi ingin mendirikan Negara Islam di Indonesia.”

    Pernyataan ini bisa dibaca dalam buku yang ditulis olehnya, berjudul ‘Politik Bangsa Menoleh ke Belakang Menatap Masa Depan”. Statemen itu menunjukkan bahwa memang Islam itu ada bukan untuk mendirikan negara. Saya kira ucapan dari Masyumi itu senafas dengan semangat yang diusung oleh para kyai pendiri Nahdlatul Ulama, bahwa: “Islam itu ada, bukan untuk mendirikan negara.”

    Tetapi, kalau kita lihat dengan perkembangannya sekarang ini justru informasi-informasi tentang Sirah Nabawiyyah (perjalanan Nabi Muhammad Saw.) dan juga terjemahan-terjemahan al-Quran, dimanipulasi oleh kelompok tertentu lalu diarahkan pada satu kesimpulan bahwa: “Kalau sudah ngaji, kita mendirikan negara sesuai dengan isi pengajian.” Nah ini kan berbahaya, karena:

    1. Al-Quran memerintahkan umat Islam untuk selalu berpegang pada komitmen (perjanjian).

    Disebutkan dalam QS. al-Maidah ayat 1:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
    “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah (peganglah) aqad-aqad (perjanjian) itu”. Dalam konteks yang lebih sederhana, perjanjian itu deperti hutang-piutang, komitmen kerja, kontrak kerja. Maka kita harus memegang komitmen. Kalau misalnya kontrak kerja kita dari jam 7 sampai jam 5, maka kita konsiten melaksanakan pekerjaan harus dari jam 7 sampai jam 5.

    Dalam konteks yang lebih makro (luas) lagi adalah taat terhadap konstitusi. Karena konstitusi (Undang-Undang Dasar) itu adalah komitmen bersama kita sebagai warga negara, sebagai bangsa untuk mendirikan negara yang kita cita-citakan. Dan itu sudah diakui dengan cara pemiliha umum, pemilihan presiden, bahwa siapapun yang terpilih nanti maka kita sami’na wa atha’na; kita dengar dan kita taati.

    Nah kalau umat Islam justru punya cara pandang yang lain, yang berimplikasi pada rusaknya komitmen itu, kita lihat konteks ayatnya disebutkan diawali dengan munada’ “Ya ayyuhalladzina amanu”, panggilan terhadap orang-orang yang beriman. Lalu setelah itu diikuti dengan fi’il amr “Aufu bil ‘uqud”. Artinya kalau orang itu gemar merusak perjanjian, maka kualitas keimanannya pun diragukan. Sebab diantara ciri orang beriman itu dia punya komitmen. Jangan sampai paginya ngomong tahu, sore ngomongnya tempe. Kalau konsisten, tahu ya tahu-tempe ya tempe, meskipun asalnya sama-sama dari kedelai.

    2. Rusaknya keutuhan bangsa dan negara Indonesia yang telah susah-payah diperjuangkan oleh para orangtua kita terdahulu.

    Ada satu dialog yang menarik tentang jihad, yang dikatakan H. Agus Salim ketika beliau ditanya oleh seorang profesor sebuah universitas di Amerika. Jadi, setelah Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari mengobarkan Resolusi Jihad, kata jihad adalah kata yang paling menakutkan bagi orang-orang Barat. Karena pada saat itu, mereka (orang Barat) adalah kelompok orang yang mempraktekkan kebijakan kolonialisme penjajahan di negara-negara Asia. Sehingga pertanyaan itu tidak ditujukan kepada KH. Hasyim Asy’ari, tetapi kepada H. Agus Salim. “Apa arti jihad? Jelaskan kepada kami!”

    Maka H. Agus Salim dengan kecerdasannya, padahal beliau hanya lulus kelas 5 SD tapi bisa menguasai 9 bahasa seperti Arab, Belanda, Jerman, Inggris dan Perancis, menjawab: “Jihad itu maknanya banyak, wahai Tuan Profesor. Yang pertama, jihad itu maknanya ijtihad. Ijtihad itu artinya bersungguh-sungguh menggali daya kreatisifitas berfikir untuk mencari inovasi-inovasi baru.”

    H. Agus Salim menjelaskan lagi: “Yang kedua, jihad itu maknanya mujahadah. Artinya bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, membersihkan diri. Terutama nafsu angkara murka, nafsu menguasai hak milik orang lain. Maka melawan hawa nafsu juga termasuk ke dalam pengertian jihad. Lalu yang ketiga, jihad itu artinya mempertahankan hak.” Kemudian beliau menjelaskan panjang lebar dalam kaitan ini, dan berkata: “Maka Bangsa Indonesia melakukan jihad karena haknya dirampas, hak atas tanah, hak atas kehormatan, tanah kami dirampas dan air kami dirampas.”

    Lalu H. Agus Salim secara cerdas bertanya kepada si profesor: “Sekarang saya ingin bertanya kepada Anda, wahai Tuan Profesor. Jika Amerika, tiba-tiba datang bangsa asing yang mengobrak-abrik rumah Anda, merampas hak milik Anda, tanah Anda diambil, istri Anda diperkosa, apa yang akan Anda lakukan?!

    Profesor itu langsung menjawab: “Saya usir dari Amerika!”

    “Begitulah yang dialami oleh kami Bangsa Indonesia. Maka jangan takut dengan kata jihad,” jawab H. Agus Salim.

    Nah, kalau konsep bernegara yang sudah diusung oleh para ulama ini kemudian dirusak dengan mengatakan “Kita umat Islam harus mendirikan Khilafah Islmiyyah”, ini artinya sama saja ingin menghancurkan rumah yang sudah didirikan dengan susah-payah.

    ‘Khilafah’ di dalam konteks pemahaman para sahabat Nabi ‘alaihim ridhwanullah, maknanya bukan sistem pemerintah. Kenapa?

    Ikuti edisi berikutnya...
    Penulis : Sya'roni As-Samfury

    Menuju Masyarakat Mutamaddin

    Muslimedianews.com ~ Buku ISLAM SUMBER INSPIRASI BUDAYA NUSANTARA: MENUJU MASYARAKAT MUTAMADDIN karya Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA. Penafsiran Islam sesuai dengan semangat zaman sangat diperlukan agar Islam tidak menjadi asing bagi pemeluknya sendiri.

    Pesan segera Harga Rp. 60.000
    Info Pemesanan sms: 083807382750 atau BBM: 742CE570
    Klik https://www.facebook.com/tokonuonline?ref=hl

    Pesan dengan format: Judul buku#jumlah pesanan#Nama lengkap#Alamat lengkap#Nomor HP

    https://www.facebook.com/tokonuonline/photos/a.231193883719286.1073741828.230068037165204/282023191969688/?type=1

    Ketika 'Tuhan Membusuk' ala Mahasiswa Ushuluddin dan Filsafat

    Muslimediaews.com, Surabaya ~ Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya kembali membuat ide ‘gila’ yang kontroversial. 

    Pada kegiatan Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) tahun 2014 ini, Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat mengangkat sebuah grand tema, “Tuhan Membusuk”. Sebuah tema yang cukup menggelitik.

    Tak pelak tema tersebut memancing reaksi penolakan dari kalangan dekanat dan rektorat, kendati banyak pula dari sejumlah dosen yang mendukung.

    Buntutnya, banner bertulisan tema tersebut harus diturunkan. Pihak dekanat beralasan, tema itu dikhawatirkan akan dikonsumsi masyarakat awam.

    Gubernur Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Rahmad Sholehuddin menjelaskan, tema tersebut sejatinya berangkat dari sebuah realitas keberagamaan masyarakat Indonesia yang belakangan kian memperihatinkan.

    “Sekarang tidak sedikit orang atau kelompok yang mengatasnamakan Tuhan dengan mudah membunuh orang lain,” kata Rahmad, Sabtu 30 Agustus 2014.

    Demi (membela) Tuhan, mereka rela mempertaruhkan nyawanya. Perilaku ini lazim dilakoni oleh kelompok yang mengklaim paling shaleh. Kelompok yang mengklaim paling islami. Akibatnya, kelompok yang berbeda dengan mereka dengan mudah dituduh ‘kafir’ yang darahnya halal.

    Keperihatinan yang lain adalah fenomena keberagamaan masyarakat modern yang mulai menempatkan spiritualitas sebagai alternatif pemecahan berbagai problem kehidupan.

    Ironisnya, semangat keberagamaan masyarakat modern bertitik tolak pada pertimbangan matematis-pragmatis. Untung-rugi. Bila tidak lagi mampu memberi mamfaat secara materi, maka dengan mudah ‘agama’ dicampakkan begitu saja.

    “Agama (Tuhan) tidak lebih hanya dijadikan sebagai pemuas atas kegelisahan yang menimpanya. Tidak salah kalau sekarang agama dikatakan berada di tengah bencana,” tegas mahasiswa jurusan Perbandingan Agama ini.

    Rahmad lalu mencontohkan, ketika ditimpa musibah maka dengan reflek masyarakat ingat Tuhan. Keadilan Tuhan pun digugat. Di sisi lain, peran Tuhan kerap berada dalam simbol ketidakberdayaan. 

    “Lagi-lagi Tuhan tetap berada di pojok kesalahan. Itulah salah satu alasan mengapa kami mengangkat tema itu,” tandas alumnus Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong Probolonggo ini.

    Dia menambahkan, yang hendak dikritik bukan eksistensi Tuhan, melainkan nilai-nilai ketuhanan yang sudah mulai mengalami ‘pembusukan’ dalam diri masyarakat beragama. 

    “Dengan tema ini, kami berharap mahasiswa baru bisa menerapkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

    OSCAAR 2014 bagi mahasiswa baru UIN Sunan Ampel berlangsung sejak Kamis 28 Agustus, dan akan berakhir pada 30 Agustus 2014, malam nanti. (ahay)


    Sumber Santri News  / Foto : Panitia tengah memberikan pengarahan bagi mahasiswa baru Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya (dok/santrinews.com)
     

    ARABIC

    FATAWA

    TAUSHIYAH

    KHUTBAH

    ISLAMIC ARTICLES

    TASHAWUF

    KHAZANAH

    TARIKH

    SIYASI

    MUSLIM YOUTH

    QUR'AN AND HADITS

    FIGURE / TOKOH

    INTERVIEW

    SYUBHAT & BANTAHAN

    ARTIKEL BEBAS

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News