BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Slider

Headlines

Slider Right

randomposts6

HEADLINES

Headlines/block-1

INDONESIA

Indonesian/block-2

MIDDLE EAST

Middle%20East/block-2

INTERNASIONAL

International/block-3

ARABIC VERSION

Arabic/block-6

ENGLISH VERSION

English/block-6

SYUBHAT

Syubhaat/block-1

Islamic QA

Islamic%20QA/block-1

OPINION

Opinion

Latest Articles

Monday, November 18, 2019

NU Jatim Dirikan Markas Besar Oelama


Sidoarjo - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (Jatim) KH Marzuqi Mustamar meresmikan gedung Markas Besar Oelama (MBO) di Jalan Satria Nomor 181 RT 17 RW 03 Kedungrejo, Waru, Sidoarjo, Sabtu (16/11) malam.

Peresmian gedung Markas Besar Oelama ditandai dengan pemasangan papan nama yang disaksikan ratusan nahdliyin Sidoarjo dan Surabaya, juga jajaran pengurus NU Jawa Timur, utusan cabang NU se-Jatim.

Dalam pesannya, KH Marzuqi Mustamar mengatakan bahwa di tempat bersejarah ini membutuhkan proses legal guna mendapat sertifikat resmi atas nama Badan Hukum NU.

“Di sini, kita berdoa bersama agar proses tersebut bisa segera selesai. Lalu dimanfaatkan secara penuh oleh NU,” katanya melalui keterangan tertulis, Minggu.

Dengan peresmian gedung Markas Besar Oelama tersebut, Kiai Marzuqi berharap dalam pemanfaatannya nanti bisa digunakan untuk nuansa perjuangan seperti pelatihan kader-kader NU, disertai dengan acara pemberian ijazah doa serta untuk literasi sejarah perjuangan ulama bagi generasi muda.

Menurut saya, ketika kader-kader NU melakukan kegiatan yang membutuhkan penguatan spiritual, di sinilah tempatnya. Yang penting, dimanfaatkan untuk perjuangan NU dan kepentingan NKRI, tambah Kiai Marzuqi.

Tim Pengarah Revitalisasi Markas Besar Oelama, KH Sholeh Hayat menyebutkan, MBO adalah tempat berkumpulnya para ulama yang dipimpin oleh Kiai Bisri Syansuri sebagai kepala staf dan menjadi sentrum komando barisan Mujahidin yang dipimpin KH Abd Wahab Chasbullah untuk perjuangan 10 November 1945.

Peresmian gedung MBO ini merupakan langkah awal dari ikhtiar bersama untuk menjaga, merawat gedung bersejarah tersebut dan menjadikannya sebagai cagar budaya, agar tetap menjadi bukti untuk generasi yang akan datang tentang fakta sejarah perjuangan para Ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Karenanya, tambah dia PWNU Jawa Timur berupaya mengembalikan rumah, aset sejarah yang berharga kembali kepada NU, kata penulis buku berjudul Kiai Dan Santri Dalam Perang Kemerdekaan tersebut.


Pewarta : Indra Setiawan
Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA2019

Friday, November 15, 2019

Santri Lirboyo Garap Kurikulum Kementrian Agama

Rabu kemarin (13/11/2019) beberapa santri Pondok Pesantren Lirboyo didaulat menjadi bagian dari tim penyusun buku Pendidikan Agama Islam oleh Kementerian Agama (Kemenag). Mereka adalah M. Nawawi, M. Asy’ari dan M. Rifa’i. Mereka diberi amanah oleh Kemenag untuk ikut menyusun buku pelajaran agama Islam bagi lembaga pendidikan di bawah naungan Kementrian Agama Republik Indonesia. 
Sebelum ini, beberapa buku telah mereka tulis bersama santri lainnya. Di antaranya “Kritik Ideologi Radikal”, dan buku “Fikih Kebangsaan” yang ditulis tiga jilid. Empat buku ini mereka tulis dengan berkonsentrasi pada permasalahan pelik yang sedang melanda bangsa ini: radikalisme.
Mereka mengupas tuntas radikalisme dengan merujuk kepada Alquran, hadis, dan kitab-kitab salaf yang komprehensif. Tentu saja, mereka berharap karya mereka ini dapat mencegah faham-faham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.
Mereka juga berharap, semangat santri Pondok Pesantren Lirboyo dalam menekan wabah radikalisasi ini bisa beriringan dengan spirit Menteri Agama dan jajarannya yang baru-baru ini menyatakan bahwa deradikalisasi ideologi adalah salah satu program utama mereka. (Sumber:Instagram Lirboyo)