Kirim tulisan ke Media Islam MMN (Muslimedia News)
melalui email muslimedianews@gmail.com
atau inbox di fanpage MMN.
MuslimediaNews.com Media Sehat Rujukan Umat
Top News :

    Teks Khutbah Jum'at: Ajaran Rasulullah tentang Tiga Hal yang Perlu Dihindari

    Muslimedianews.com ~  Barang siapa di pagi hari telah mengadukan kesulitannya kepada sesama (mahkluk/manusia), maka ia telah mengadukan Tuhannya. Dan barang siapa merasa  sedih dengan kondisi duniawinya di waktu pagi, maka dia telah membenci Tuhannya. Dan barang siapa merendahkan diri di hadapan orang kaya karena hartanya sungguh telah lenyap dua pertiga agamanya.   

    الحمد لله أحمده وسبحانه وتعالى على نعمه الغزار, أشكره على قسمه المدرار, . أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له. واشهد ان سيدنا محمدا عبده و رسوله النبي المختار. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله الأطهار وأصحابه الأخيار وسلم تسليما كثيرا. أما بعد فياأيها الناس اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون.

    Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah yang Maha Agung shalawat dan salam terhaturkan kepada Rasulullah manusia paling sempurna di jagat alam. Pada hari kesempatan yang istimewa ini marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. Karena ketaqwaanlah yang akan membawa kita pada keselamatan.

    Khutbah kali ini ingin menyampaikan satu hadits Rasulullah saw yang jika diperhatikan secara seksama memberikan ajaran kepada seorang muslim agar tidak terjerumus dalam kerugian. Hadits itu berbunyi:

    رُوِىَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُو ضَيْقَ الْمَعَاشِ فَكَاَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَمَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخَطًا عَلىَ اللهِ وَمَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِناَهُ فَقَدْ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ

    Diriwayatkan dari Nabi saw sesungguhnya beliau pernah bersabda: barang siapa bangun di pagi hari kemudian mengadukan kesulitannya kepada sesama (mahkluk/manusia), maka seolah-olah ia mengadukan tuhannya (karena tidak rela dengan apa yang diterimanya). Dan barang siapa merasa  sedih dengan kondisi duniawinya di waktu pagi, maka dia pagi-pagi telah membenci Allah. Dan barang siapa merendahkan dirinya di hadapan orang kaya karena kekayaannya sungguh telah lenyap dua pertiga agamanya.    

    Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

    Itulah tiga hal yang seharusnya dihindarkan oleh setiap muslim. Mengingat ketiga hal tersebut memiliki dampak buruk kepada hubungan manusia dengan Allah swt.

    Pertama, hindarkanlah kebiasaan mengeluh kepada sesama akan kondisi yang ada. Karena hal itu sama artinya dengan menggugat taqdir Allah swt yang ditetapkan bagi seorang hamba. Mengeluh dan meratapi nasib yang diderita sama artinya dengan merasa tidak puasa akan pemberian Allah swt. Ketidak puasan itu adalah manusiawi, tetapi hendaknya langsung saja diratapkan dalam doa kepada-Nya janganlah diadukan kepada sesama. Sebagaimana do’a Nabi Musa yang dipantajkan kepada Allah swt tatkala beliau melewati lautan berama kaumnya:

    اَلَّلهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَاِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَاَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ الْعَظِيْمِ 
    Ya Allah segala puji bagi-Mu. Kepada Engkaulah aku mengadu dan hanya Engkau yang bisa memberi pertolongan. Tiada daya dan upaya, serta tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha  Tinggi lagi Maha Agung

    Kedua, hindarkanlah perasaan sedih dengan kondisi yang ada dipagi hari. Karena hal itu akan menimbulkan rasa tidak ridha dengan apa yang diberikan Allah kepada kita. Kedua larangan ini adalah bukti ketdak sabaran seorang hamba akan nasibnya. Sesungguhnya orang yang sabar tidak akan menggerutu apalagi mengadukan nasibnya kepada sesama.

    Kedua hal di atas pada hakikatnya menunjukkan betapa seeorang hamba tidak lagi bersabar. Karena sejatinya sabar adalah Tajarru’ul murarati bighairi ta’bitsin (tahan menelan barang pahit tanpa cemberut). Oleh karena itu, ketika di pagi hari kita telah menggerutu akan keadaan nasib kita, berarti kita bukan lagi orang yang sabar. Apalagi hingga mengadukan nasib kita kepada sesama manusia dengan mengeluhkan keberadaan dan keadaan yang kita alami.

    Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

    Ketiga, barang siapa merendahkan dirinya di hadapan orang kaya karena kekayaannya sungguh telah lenyap dua pertiga agamanya. Poin ketiga dan terkahir ini dapat dimaknai sebagai larangan Rasulullah saw akan adanya persaan thama’ dan pengharapan yang tinggi kepada sesama. Karena pengharapan itu hanya boleh disandarkan kepada Allah swt saja.

    Sedangan pada sisi lain juga menunjukkan larangan pengagungan sesama manusia, apalagi pengagungan itu dilatar belakangi kepimilikan harta, sungguh hal itu pasti akan berimbas pada penghinaan ilmu dan kemaslahatan. Bukankah ini telah menjadi fenomena di sekitar kita saat ini? Di mana orang-orang yang memiliki harta dapat menguasai berbagai jejaring bahkan dapat menentukan arah ilmu pengetahuan. Bukankah beberapa wacana yang ada di negeri ini merupakan hasil kerja para penyandang dana? Na’udzubillahi min dzalik.

    Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah

    Jika demikian adanya berbagai larangan, lantas apakah hal yang diperbolehkan untuk kita dalam menilai lebih sesama manusia? Islam hanya memberikan tiga dua kepada umatnya agar saling menghargai dan memuliakan pertama karena ilmunya, karena kebaikannya. Selebihnya tidak ada. Jadi siapapun yang memuliakan manusia dengan berbagai alasan sesungguhnya orang itu telah terjerembab kepada lubang kecil yang jika dibiarkan akan menenggelamkan diri pada lumpur kethamakan.

    Akhirul kalam, pada khutbah ini khatib hanya ingin menyampaikan pesan Sayyidul Auliya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bahwa:
    لاَبُدَّ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ فِى سَائِرِ اَحْوَالِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاء: أَمْرٌ يَمْتَثِلُهُ وَنَهْيٌ يَجْتَنِبُهُ وَقَدْرٌ يَرْضَى بِهِ

    Setiap muslim harus berada dalam tiga keadaan yaitu, melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan Allah dan rela akan qadha dan qadar (ketetapan) Allah.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
    Khutbah II
    اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
    مَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
    اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ (ulil H )

    Sumber nu.or.id

    Dzikir Berjama'ah di Masjid Al Munawwar Balikpapan

    Muslimedianews.com ~ Dalam rangka menyambut tahun baru Islam, 1 Muharram 1436 Hijriyah, Masjid Al Munawwar Muara-Rapak Balikpapan menggelar dzikir bersama pada Jum'at 24 Oktober 2014 pukul 17.30 s/d selesai.

    Diantara rangkaian acara yang akan dilaksanakan adalah pembacaan surah Yasin, Do'a Akhir Tahun, Shalat Maghrb berjama'ah, Do'a Awal Tahun, Tausiyah dan shalat Isya' berjama'ah.

    Berdasarakan seleberan yang disebarkan, tausiyah akan disampaikan oleh Ust. Amiruddin. 
     
    *Dikirim oleh M.Fatih

    Fanpage 'Komunitas Anti Islam' Dihapus oleh Facebook

    Muslimedianews.com ~ Fanpage yang memuat unsur penghinaan terhadap Islam dan mengganggu kerukunan antar umat beragama di Indonesia kembali di hapus oleh pihak facebokk. Sebelum, fanpage dengan nama "Gerakan Anti Islam" yang memiliki likers lebih dari 33 ribu telah dihapus oleh facebook meskipun fanpage dengan nama yang sama kembali muncul dengan likers yang lebih sedikit.

    (Baca: Fanpage Gerakan Anti Islam Dihapus Facebook)

    Kali ini, fanpage perusak kerukunan umat beragama dengan nama "Komunitas Anti Islam" juga dihapus oleh facebook. (22/10/2014) Fanpage yang beralamat di https://www.facebook.com/islam.Ag.Sesat dengan likers sekitar 11 ribu-an itu sudah tidak temukan peredarannya difacebook.

    Meskipun demikian, fanpage dengan nama yang sama juga bermunculan dengan jumlah likers yang lebih sedikit. Diduga semua fanpage itu dibuat oleh orang yang sama.Diantara fanpage penghina Islam yang masih esksis adalah

    Fanpage dengan nama yang sama juga muncul dengan likers yang baru sekitar 40-an tetapi memiliki tampilan yang berbeda dengan fanpage-fanpage sebelumnya. Page yang juga memakai nama "Komunitas ANTI ISLAM" itu beralamat di https://www.facebook.com/pages/Komunitas-ANTI-ISLAM/1547670412130936 dibuat pada 4 Oktober 2014. 

    Berbeda dengan fanpage lainnya, page tersebut sangat janggal karena memakai foto profile dan foto sampul Anti JIL (Jaringan Islam Liberal). Sebab, pada umumnya Anti-JIL bukan dari kalangan Anti-Islam tetapi dari kalangan Islam sendiri.

    red. Ibnu L' Rabassa

    Debat Aswaja Ust. Idrus Ramli versus Wahhabi Abu Hilal

    Muslimedianews.com ~ Kirap Ustadz Muhammad Idrus Ramli dalam dunia diskusi ilmiah dengan berbagai pihak yang bertentangan dengan ajaran Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah) bukanlah hal yang baru. 

    Berikut adalah salah satu rekaman video debat Aswaja versus Wahhabi, yaitu antara Ust. Muhammad Idrus Ramli dengan Ust. Muhammad Fathul Hamdani atau Abu Hilal, dalam rangka bedah buku berjudul "Madzhab Asy'ari, Benarkah Ahlussunnah wal Jama'ah?".

    Berikut petikan penjelasan Ust. Muhammad Idrus Ramli, serta videonya :
    ***
    Imam (Abu Hasan) al-Asy'ari adalah ulama besar, pendiri madzhab yang dikenal dengan madzhab al-Asy'ariyah atau Al-Asya'irah. Besarnya madzhab Asy'ari membuat sebagian kalangan berupaya untuk memutus hubungan antara Imam Al-Asy'ari dengan pengikutnya, al-Asya'irah, sehingga muncullah suatu asumsi bahwa madzhab al-Asy'ari yang ada sekarang sebenarnya berbeda dengan madzhab Imam al-Asy'ari pada fase yang terakhir dalam kehidupannya.

    Bila kita melacak polemik persoalan ini, apakah Imam al-Asya'ari ini hidup dalam 3 (tiga) fase pemikiran, yaitu pemikiran Muktazilah, kemudian pindah kepemikiran fase kedua yang diklaim sebagai madzhab yang diikuti oleh para pengikutnya, termasuk oleh warga nahdliyyin di Indonesia, kemudian setelah itu Imam al-Asy'ari berpindah ke fase yang ketiga yang diklaim sebagai fase salaf. Sebenarnya munculnya fase ini darimana?

    Kalau kita mengkaji sejarah Imam al-Asy'ari yang ditulis oleh para sejarawan pada abad pertengahan kebelakang dan sebelum-sebelumnya, istilah tiga fase bagi Imam al-Asy'ari itu tidak pernah ada, baik biografi beliau (Imam al-Asy'ari) yang ditulis oleh Imam al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikhu Baghdad, atau yang ditulis oleh al-Imam al-Hafidz Abul Qasim Ali bin al-Hasan bin Hibtullah Ibnu Asakir ad-Dimasyqi dalam kitabnya Tabyinul Kidzbil Muftari fi Nusiba ilal Imam Abil Hasan al-Asy'ari, didalam kitab ini yang mengungkap secara panjang lebar tentang Imam al-Asy'ari, karangan-karangannya, sejarah hidupnya, berikut pengikut-pengikutnya, tidak ada penjelasan bahwa Imam Asy'ari hidup dalam tiga fase.

    Munculnya (masalah) Imam Asy'ari hidup dalam 3 fase ini sebenarnya dari asumsi-asumsi saja, yang asumsi ini oleh sebagian kalangan berupaya di hubungkan dengan salah satu kitab yang populer dikalangan nahdliyyin yaitu kitab Ithafus Sadah al-Muttaqin bi-syarhi Asrori Ihya-i Ulimiddin karangannya al-Imam al-Hafidz Muhammad Murtadlo Az-Zabidi, yang beliau mengutip dari al-Hafidz Ibnu Katsir ad-Dimasyqi dalam kitabnya (mungkin) Thabaqatul Fuqaha' al-Syafi'iyyin atau kitab yang lain, katanya Imam al-Asy'ari hidup dalam tiga marhalah dalam kitab ini.

    Tetapi referensi yang disampaikan oleh Az-Zabidi ini sangat tidak cukup untuk melegitimasi atau mempertahankan argumentasi kelompok yang mengatakan Imam Asy'ari hidup dalam tiga fase, karena informasi yang disampaikan oleh Az-Zabidi ini sangat minim sekali, yaitu menyampaikan pada fase kedua "al-Asy'ari Itsbatush Shifat al-Sab'iyyah al-'Aqliyyah', menetapkan sifat 7 yang aqliyah, kemudian pada fase ketiga Imam al-Asy'ari "Itsbatush Shifat al-Khabariyyah min Ghairi Ta'wilin wa laa Tasybihin wa laa Takyif", ini tidak cukup. Mengapa? karena adanya perbedaan antara Asy'ari yang dikutip oleh Murtadla Az-Zabidi dalam Ithafus Sadah al-Muttaqien dengan kelompok yang mengklaim bahwa al-Asy'ari telah keluar dari madzhab yang dibangunnya yang kemudian fase kedua ini diikuti oleh Asya'irah sendiri, ini ada perbedaan yang cukup signifikan.

    Seperti tadi dikatakan, Murtadlo Az-Zabidi mengatakan bahwa Asy'ari dalam fase ketiga menetapkan sifat khabariyah Bila Ta'wilin, bila Takyif, bila Tasybih, jadi tanpa melakukan ta'wil, tanpa melakukan takyif (kaifa), artinya menghilangkan unsur-unsur yang menimbulkan Tasybih (penyerupaan) atau Tajsim terhadap Allah SWT, dan juga tanpa  Bila Tasybih menyerupakan Allah SWT, sementara kelompok yang klaim bahwa al-Asy'ari katanya sudah mencabut madzhab itu bertentangan dengan informasi ini. Mengapa? karena kelompok ini melakukan Itsbatul Kaifiyyah, Itsbatul Takyif terhadap sifat-sifat Khabariyah, ....

    ... selanjutnya, lihat pada video bagian 1 dan bagian 2....

    ***




    red. Ibnu L' Rabassa


    Tidak Ada Yang Baru Dalam Konsep Bid'ah

    Muslimedianews.com ~ Kajian Hujjah Aswaja yang berlangsung pada Senin (20/10/2014) malam di TV9 Nusantara kerja sama dengan Aswaja Center Jawa Timur menghadirkan narasumber ustadz muda yaitu Ust. Faris Khairul Anam, Lc., M.H.I, Tim Tutor Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur. Tema yang dikaji pada program tersebut mengenai bid'ah dengan tema "Tidak Ada Yang Baru dalam Konsep Bid'ah".

    Berikut petikan transkip penjelasan Ust. Faris Khairul Anam:
     ***
    Kalau kita mempelajari bid'ah, bagaimana konsepnya, bagaimana pengertiannya, ini bukan sesuatu yang baru, sudah terjadi berabad-abad (lalu), termasuk bagaimana perbedaan antara pengertian bid'ah itu sendiri, dan bagaimana pengertian Sunnah, termasuk nanti perbedaan itu bagaimana kelompok ulama yang mau membagi bid'ah dan yang tidak mau membagi bid'ah. Itu sebenarnya, perbedaan yang sudah berabad-abad yang lalu.

    ... Masalah bid'ah (sampai sekarang) terus diulang-ulang.. makanya kita perlu mengetahui peta sejarah perbedaan pendapat para ulama sehingga memahami perbedaan ini secara dewasa.

    Misalnya, masalah bid'ah, dalam hal ini masalah bid'ah amaliyah ubudiyyah, bukan masalah i'tiqad atau aqidah, karena kalau bid'ah dalam masalah aqidah itu sepakat bahwa semuanya madzmumah, semuanya itu jelek.

    Tetapi untuk bid'ah yang amaliyah ubudiyyah, ini setidaknya ada dua kelompok ulama dimana kelompok ulama yang pertama dan ini merupakan representasi mayoritas atau jumhur ulama, mereka itu mau membagi bid'ah; ada bid'ah yang baik, ada bid'ah yang jelek, hasanah dan sayyi'ah. Tapi juga, bagian dari jumhur ulama ini membagi bid'ah menjadi 5, menjadi lima itu kembali kepada hukum taklifi yang ada dalam agama kita, ada wajib, sunnah, makruh, haram, mubah. Memang ada pula yang membedakan antara wajib itu dengan fardlu, ada yang membedakan antara sunnah dengan mustahab, ada yang membedakan antara makruh dengan khilaful aula, tapi intinya hukum taklifi yang lima (5) itu, makanya dikatakan menurut jumhur ulama, bid'ah itu ada 2 (dua) atau ada 5 (lima).

    ... ...

    ***

    Penjelasan lengkapnya lihat pada video berikut http://youtu.be/Zc0rOrPe3RQ


    red. Ibnu L' Rabassa

    Wajibkah Mengqadla' Shalat Wajib yang Ditinggalkan ?

    Muslimedianews.com ~ Pertanyaan: Assalamu’alaikum wr. wb. Saya sampai saat ini masih bingung dengan masalah qadha shalat wajib yang  ditinggalkan. Ada yang mewajibkan qadha dan ada yang menyebutkan tidak ada qadha shalat. Terima kasih sebesar-besarnya.

    Jawaban :
    Wa’alaikum salam wr. wb. Penanya yang dirahmati Allah SWT. Shalat lima waktu adalah salah satu rukun Islam. Shalat lima waktu hukumnya Fardhu Ain, yaitu wajib dilaksanakan oleh semua orang Islam yang mukallaf (baligh dan berakal/sadar). Shalat lima waktu ini memiliki waktu tertentu dalam pelaksanaannya. Allah SWT berfirman dalam surat  An-Nisa ayat 103 ;

    إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً
    "Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman".(QS. An-Nisa : 103).


    Ibn Masud, Ibn Abbas, Mujahid, dan Ibn Qutaibah mengatakan yang dimaksud dengan kata موقوتا  كتابا adalah shalat wajib dilaksanakan pada waktu yang telah diketahui ; Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, Shubuh.

    Penanya yang kami hormati, jika ada alasan yang menyebabkan shalat itu tidak terlaksana pada waktunya maka mayoritas ulama mengatakan wajib qadha’. Ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW ;

    من نسي صلاة فليصل إذا ذكر
    "Barang siapa tidak melaksanakan shalat karena lupa maka segeralah dia shalat kalau sudah ingat".(Muttafaq alaih).


    Dalam hadits tersebut yang dimaksudkan adalah orang yang lupa. Kemudian bagaimana dengan orang yang dengan sengaja meninggalkan shalat?  Imam Ibn Hajar dalam Fathul Bari juz 2 hal. 71 mengatakan ;

    وَادَّعَى بَعْضُهُمْ أَنَّ وُجُوبَ الْقَضَاءِ عَلَى الْعَامِدِ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ نَسِيَ لِأَنَّ النِّسْيَانَ يُطْلَقُ عَلَى التَّرْكِ سَوَاءٌ كَانَ عَنْ ذُهُولٍ أَمْ لَا
    "Sebagian ulama berpendapat bahwa wajib qadha’ bagi orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja diambil dari kata نسي  (artinya : lupa) karena yang dimaksud lupa dalam hal ini adalah meninggalkan shalat baik itu karena linglung atau sadar."
    Kemudian, Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab Juz 3 hal. 68 mengatakan ;

    فرع- أَجْمَعَ الَّذِيْنَ يُعْتَدُّ بِهِمْ أَنَّ مَنْ تَرَكَ صَلاَةً عَمْدًا لَزِمَهُ قَضَاؤُهَا وَخَالَفَهُمْ أَبُوْ مُحَمَّدٍ عَلِيُّ ابْنُ حَزْمٍ قَالَ: لاَ يُقَدَّرُ عَلَى قَضَائِهَا أَبَدًا وَلاَ يَصِحُّ فِعْلُهَا أَبَدًا قَالَ بَلْ يُكْثِرُ مِنْ فِعْلِ الْخَيْرِ وَالتَّطَوُّعِ لِيَثْقُلَ مِيْزَانُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَسْتَغْفِرُ اللهَ تَعَالَى وَيَتُوْبُ وَهَذَا الَّذِيْ قَالَهُ مَعَ أَنَّهُ مُخَالِفٌ لِلْإِجْمَاعِ بَاطِلٌ مِنْ جِهَةِ الدَّلِيْلِ
    " Para ulama mu’tabar telah sepakat, bahwa barangsiapa meninggalkan shalat secara sengaja, maka ia harus meng-qadha’ (menggantinya). Pendapat mereka ini berbeda dengan pendapat Abu Muhammad Ali bin Hazm yang berkata: bahwa ia tidak perlu meng-qadha selamanya dan tidak sah melakukannya selamanya, namun ia sebaiknya memperbanyak melakukan kebaikan dan shalat sunah agar timbangan (amal baiknya) menjadi berat pada hari kiamat, serta istighfar kepada Allah dan bertobat. Pendapat ini bertentangan dengan ijmak dan bathil berdasarkan dalil yang ada".

    Penanya yang budiman, dari penjelasan di atas sudah jelas bahwa shalat fardhu yang ditinggalkan harus di-qadha’ baik itu ditinggalkan karena lupa ataupun disengaja.

    Mudah-mudahan jawaban ini bermanfaat bagi kita. Semoga kita selalu diberi taufiq dan hidayah oleh Allah SWT sehingga dapat melaksanakan shalat fardhu dan ibadah-ibadah yang lain sesuai ketentuan yang ada dan semoga semua amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Aaaamiiin….

    Oleh : Ust. Ihya' Ulumuddin
    via nu.or.id

    Shalat Hajat, Istikharah dan Lainnya sebagai Shalat Tahajjud

    Muslimedianews.com ~ Pada umumnya orang memahami bahwa shalat tahajjud dan shalat hajat adalah dua shalat berbeda yang biasa dilakukan pada malam hari. Sehingga seseorang yang hendak shalat hajat harus menunggu malam. Demikian pula dengan shalat tahajjud yang hanya bisa didirikan pada tengah malam. Anggapan seperti ini tidak salah, namun kurang tepat.Shalat hajat termasuk dalam kategori shalat sunnah yang dilakukan karena sebab tertentu. Sebagaimana shalat minta hujan (istisqa’), shalat minta petunjuk memilih (istikharah), shalat gerhana mataharai dan bulan, shalat jenazah dan sebagainya. Shalat-shalat tersebut boleh dilaksankan ketika terjadi beberapa sebab-sebab. Tidak ada shalat jenazah tanpa orang mati kematian, shalat istikharah dilakukan hanya dalam kebimbangan untuk memilih, begitu juga shalat hajat yang dilaksanakan karena kebutuhan yang mendesak. 

    Artinya, shalat hajat bisa dilakukan setiap saat ketika seseorang dalam kondisi terdesak dan membutuhkan. Jadi shalat hajat tidak harus dilakukan malam hari, karena hajat atau kebutuhan seseorang datang tanpa mengenal waktu. Sebagaimana diterangkan Imam Ghazali dalm Ihya’ Ulumuddin:

    الثامنة صلاة الحاجة فمن ضاق عليه الأمر ومسته حاجة فى صلاح دينه ودنياه الى امر تعذر اليه فليصل هذه الصلاة
    "Yang kedepalan (dari beberapa shalat sunnah yang memiliki sebab) adalah shalat hajat. Siapa saja yang berada dalam kondisi terjepit dan membutuhkan sesuatu baik urusan dunia maupun akhirat sedangkan dia tidak mampu menyelesaikannya, hendaklah dia melaksanakan shalat (hajat) ini".

    Hal ini berbeda dengan shalat tahajjud yang memang termasuk dalam kategori shalat sunnah yang tergantung pada waktu seperti shalat dhuha hanya boleh dilakukan selama waktu dhuha, shalat isyraq yang dilakukan ketika matahari terbit, dan juga shalat zawal yang dilakukan ketika matahari tenggelam. Shalat-shalat tersebut hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu, tidak bisa sembarangan waktu. Bahkan dalam kasus shalat tahajjud disyaratkan pula tidur terlebih dahulu. Sebagaimana disebutkan dalam Hasyiyatul Bajuri

    وهو لغة رفع النوم بالتكلف واصطلاحا صلاة بعد فعل العشاء ولومجموعة مع المغرب جمع تقديم وبعد نوم ولوكان النوم قبل العشاء وسواء كانت تلك الصلاة نفلا راتبا اوغيره ومنه سنة العشاء والنفل المطلق والوتراو فرضا قضاء او نذرا 
    "Tahajjud secara bahasa adalah bangun dari tidur yang berat. Sedangkan menurut istilah adalah shalat yang dilakukan setelah shalat isya (walaupun shalat isya’nya dijama’ taqdim dengan maghrib) dan setelah tidur. Meskipun tidurnya sebelum memasuki waktu isya, (demikian pula dinggap sebagai tahajjud) walaupun shalat sunnah rawatib, sunnah mutlaq, witir. Juga  (bisa dinggap sebagai tahajjud) shalat wajib yang karena qadha atau nadzar".

    Teks di atas dapat difahami bahwa tahjjud adalah shalat yang dilakukan di waktu malam dan setelah tidur, meskipun shalat itu dimaksudkan sebagai shalat karena sebab tertentu, misalkan shalat hajat atau istikharah. Dengan kata lain shalat hajat yang kebetulah dilakukan malam hari setelah tidur maka dapat dikatakan sebagai shalat tahajjud. Demikian pula shalat witir, istikharah dan lain-lainnya, asalkan didirikan malam hari dan setelah tidur bisa dianggap sebagai shalat tahajjud. Adapun mengenai waktu pelaksanaannya diutamakan sepertiga malam terakhir. Karena pada malam-malam inilah waktu musatajabah.

    Memasukkan dua kategori ibadah dalam satu pelaksanaan semacam ini dalam konteks ilmu fiqih termasuk dalam qaidah   الصموم والخصوص الوجهي yang keterangan panjangnya demikian:

    اجتماع الشيئين فى مادة وانفراد كل منهما فى أخرى
    "Yaitu berkumpulnya dua perkara dalam satu kategori, dan keterpisahan keduanya menjadi kategori yang berbeda".

    Dengan kata lain dapat diartikan bahwa bisa saja satu shalat berkedudukan sebagai shalat tahajjud sekaligus shalat hajat.  Seperti keterangan di atas (shalat hajat yang dilakukan malam hari setelah shalat isya’ dan setelah tidur). Bisa juga shalat tahajjud yang bukan shalat hajat, seperti shalat sunnah muthlaq atau shalat witir yang dilakukan setelah shalat isya dan setelah tidur. Dan bisa jadi shalat hajat bukan tahajjud, seperti shalat hajat yang dilakukan siang hari bolong atau malam sebelum tidur.


    Oleh : Ustadz Ulil Hadlrawi 
     

    ARABIC

    FATAWA

    TAUSHIYAH

    KHUTBAH

    ISLAMIC ARTICLES

    TASHAWUF

    KHAZANAH

    TARIKH

    SIYASI

    MUSLIM YOUTH

    QUR'AN AND HADITS

    FIGURE / TOKOH

    INTERVIEW

    SYUBHAT & BANTAHAN

    ARTIKEL BEBAS

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News