BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Slider

Headlines

Slider Right

randomposts6

HEADLINES

Headlines/block-1

INDONESIA

Indonesian/block-2

MIDDLE EAST

Middle%20East/block-2

INTERNASIONAL

International/block-3

ARABIC VERSION

Arabic/block-6

ENGLISH VERSION

English/block-6

SYUBHAT

Syubhaat/block-1

Islamic QA

Islamic%20QA/block-1

OPINION

Opinion

Latest Articles

Monday, November 19, 2018

Pesantren Sebagai Benteng Terakhir Sekaligus Garda Terdepan



============
Mungkin menurut sebagian, kata-kata di atas terlalu lebay dan berlebihan. Tetapi tidak dengan seorang santri yang mengenal dunia pesantren. Kata "Pesantren" begitu luas untuk dibahas, terlalu sempit untuk diutarakan dengan tulisan maupun kata-kata. Karena tidak mudah untuk mengungkapkan perasaan yang lama tertanam di dalam jiwa, dan tertancap di dalam hati. Meski diuraikan dalam bahasa, namun uraian itu hanya mewakili sebagian kecil saja dari dunia pesantren. Betapa tidak? Karena yang dapat merasakannya hanyalah orang-orang yang menghabiskan hidupnya di pesantren dan mengabdikan dirinya untuk pesantren. Baik ketika ia berada di lingkungan pesantren atau di luarnya.
Wajar jika KH. Saifuddin Zuhri menulis sebuah buku autobiografi yang berjudul "Berangkat Dari Pesantren", karena pesantren merupakan pondasi utama yang semua bangunan bertumpu di atasnya. Beliau membahasakan fungsi pesantren dengan bahasa demikian: "Pesantren mempunyai daya tahan menghadapi segala arus yang masuk. Ada semacam pembendung terhadap anasir (unsur-unsur) yang merusak, suatu kekuatan pembendung yang terjadi dengan sendirinya dari unsur-unsur yang dimiliki pesantren. Semacam jaringan refinery atau filter yang menyaring apa yang boleh masuk dan apa yang harus terhenti di gerbang pesantren."
Uraian tersebut menggambarkan betapa pentingnya peranan pesantren bagi masyarakat luar yang terkadang kurang jeli terhadap arus deras yang mendorong bahkan mengalahkan pondasi-pondasi yang dimiliki. Terutama dalam zaman milenial ini, segala informasi dapat diakses, warna-warninya pemahaman memenuhi beranda media sosial, tanpa adanya filter yang menyaring berita-berita hoax dari berita-berita yang benar, atau tanpa memfilter mana ajaran-ajaran yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman dan mana yang bertentangan. Nah, pesantren itulah yang sebenarnya menjadi benteng utama dalam memerangi faham-faham yang membahayakan keutuhan bangsa, negara dan agama kita. Kyai Saifuddin Zuhri menggambarkan kondisi pesantren pada tahun 30 an, jauh sebelum kemerdekaan. Meski demikian, pesantren sudah mampu menanamkan nasionalisme dalam diri para santri agar mereka mencintai tanah airnya, dan mempertahankannya. Yang terejawantahkan dalam gerakan-gerakan dan upaya-upaya kalangan santri untuk melawan penjajah, terciptanya kemerdekaan Republik Indonesia dan terrealisasikan dalam Resolusi jihad yang digaungkan pada tanggal 22 oktober 1945. Dan alhamdulillah sekarang diabadikan dengan Hari Santri Nasional. Satu kenikmatan yang patut disyukuri.
"Dunia Pesantren tidak lagi hanya mementingkan denyut aspirasi orang-orang dalam lingkungan dindingnya, tetapi turut melangkah ke luar menyertai saudara-saudara senasib dan sepenanggungan. Pesantren bukan hanya berfungsi sebagai benteng yang diam ditempat, akan tetapi juga berfungsi semacam benteng stelselnya de Cock ketika menghadapi Perang Diponegoro. Ia ikut mengambil peranan sebagai benteng yang bergerak." Maka pesantren sebenarnya memiliki dwi fungsi dalam pertahanan, pertahanan untuk lingkungan di dalam pesantren dan pertahanan di luar pesantren.
Sebagai bukti bahwa Pesantren sebagai Garda terdepan dalam mempertahankan keutuhan NKRI adalah sebagai berikut: "Gema pergerakan dan semangat Nasionalisme berkumandang lebih luas. Kaum pesantren memandang bahwa semangat kebangsaan ini merupakan muqoddimah dari perjuangan kemerdekaan Tanah Air yang oleh dunia pesantren dipandang sebagai syarat mutlak untuk mencapai Izzul Islam wal Muslimin (kebahagiaan dan kejayaan Islam serta ummatnya)." [Saifuddin Zuhri, Guruku orang-orang dari Pesantren, 125-126]. Maka, apakah masih diragukan nasionalisme dan kecintaan tanah air yang dimiliki oleh pesantren yang dari dulu-dulu jauh sebelum kemerdekaan sudah mengakar kuat dan menancap dalam-dalam di dalam hati masing-masing santri?. Yang tidak tentu dimiliki oleh selain kalangan pesantren. Tentu ini merupakan pr bagi kita semua agar memupuk jiwa santri agar ia sadar bahwa tantangan ke depan lebih berat dari pada tantangan sebelumnya. Jika santri dahulu berjuang melawan penjajah untuk mencapai kemerdekaan. Maka, santri di zaman milenial ini tugasnya adalah berjuang untuk mempertahankan. Karena "merdeka berarti 1000 perjuangan". Perjuangan santri tidak berhenti dan tidak akan berhenti. Ia diibaratkan seperti air, dimana ia menyesuaikan tempat di mana ia berada. Ia bisa lembut ketika keadaan negaranya kondusif, dan sebaliknya ia akan melahap apa saja bagaikan tsunami jika ada yang berusaha menghancurkan negaranya. Karena nasionalisme santri tidak akan diragukan.
By: Abdul Aziz Jazuli (Ais Banten)
Jakarta, 13 November 2018.

Saturday, November 17, 2018

Sudah Seriuskah Kita dalam Membuktikan Cintanya Kepada Nabi?


Oleh: R. Subantaka

Di bulan maulid inilah bulan kelahiran manusia agung sang revolusioner sejati. Yang membawah rahmah bagi seluruh alam. Kehadirannya di dunia di sambut gembira jutaan malaikat. Dirindu milyaran manusia. Setelahnya tidak ada manusia agung yang terlahir.

Muhammad Saw adalah sang pembebas. Kisah hidupnya sangat menginspirasi milyaran manusia. Perjuangannya dalam memberikan cahaya hidup bagi segenap umat manusia tidak mengenal lelah. Rahmah yang beliau bawa untuk umat abadi sepanjang zaman dan sepanjang waktu.

Kasih sayang beliau yang tak terbatas kepada umatnya tak terbalaskan. Siapa yang berlindung kepadanya akan aman. Sekalipun Abu Sufyan yang sangat membencinya. Bahkan Abu Lahab saja yang begitu memusuhinya, rahmat beliau tidak pernah putus menyapanya. Hanya karena Abu Lahab sang paman pernah sekali dalam hidupnya begitu bergembira menyambut kelahiran beliau.

Meskipun kini 1440 tahun telah berlalu. Rahmah yang beliau bawa untuk umat manusia masih tetap menyala. Cinta umat manusia kepada beliau tidak pernah padam. Setiap detik ada saja umat manusia yang merasakan rahmah yang pernah beliau tanamkan. Sungguh sangat luar biasa.

Lalu apa bukti cinta kita pada beliau wahai orang orang yang mengaku mengikuti ajarannya? Suda sungguh sungguh dan maksimalkah cara kita mencintai nabi?

Dalam sejarah ada empat tipologi orang yang telah membuktikan cintanya kepada beliau. 
Pertama, Tipologi Sayyidina Ali karamallohu wajhah. Sayyidina Ali telah menberikan contoh nyata bukti kecintaannya kepada Muhammad Rosululloh saw. Beliau dengan tulus menggantikan posisi Nabi Ketika kafir quraisy hendak membunuh beliau. Sikap mental yang sangat luar biasa. Sayyidina Ali tidak gentar sedikitpun meski nyawa beliau taruhannya.  Sayyidina Ali telah memberikan bukti kepada semua pengikut Nabi khususnya kepada kita generasi milenial bahwa mencintai itu harus berani berkorban. Bahkan nyawa pun harus siap dikorbankan.

Kedua, Tipologi Sayyidina Abu Bakar. Beliaulah yang selalu pertama membenarkan setiap ucapan Nabi. Ketika semua orang di Makkah ragu akan perjalanan Isra Mi'raj beliau. Abu Bakarlah orang yang pertama yang membenarkan ucapan beliau. Sayyidina Abu Bakar sudah membuktikan kecintaan kepada Nabi yang selalu membenarkan semua yang nabi katakan. Bahkan harta benda beliau semuanya dipergunakan untuk perjuangan dakwah Nabi Saw.

Ketiga,tipologi sayyidina Umar,beliaulah yang menegaskan Muhammad masih hidup. Siapa saja yang menganggap mati maka Umar akan menebas batang lehernya. Sikap beliau yang keras dan tegas merupakan bukti nyata kecintaan beliau kepada Muhammad Saw. Beliau selalu menganggap Muhammad Saw masih hidup. Dan selalu hidup dihati beliau.

Keempat, Tipologi Siti Khadijah. Beliau sangat pengayomi,melindungi dan menyayangi beliau. Ketika awal awal perjuangan syiar Islam, Siti k\Khadijah yang menjaga dan melindungi dakwah Nabi Muhammad Saw. Beliau selalu menguatkan dan memotivasi bahkan melindungi dari segala macam rintangan dan hambatan kaum kapir quraisy.

Keempat tipologi inilah yang telah diperlihatkan kepada sejarah kepada kita tentang bukti cinta para pengikut Nabi Muhammad Saw. Saya percaya,masih banyak bukti bukti kecintaan para sahabat beliau yang saya tidak tahu. 

Bagi kita para ummatnya,apalagi yang mengaku zuriatnya tentulah harus mengaca pada sejarah generasi awal Islam yang di gembleng langsung oleh beliau di al arqom.

Sikap mental,pandangan, wawasan dan akhlaq haruslah mengacu pada ajaran beliau yang sudah termaktub dalam Alquran dan assunnah sebagaimana para ulama sudah merumuskannya dalam ajaran Aswaja.

Bagi kita,Tidak ada kemuliaan tanpa berislam. Tidak berislam bila tidak cinta kepada Nabi. 
Jadi,bertanyalah pada diri sendiri,apa bukti cinta kita pada Nabi Kita Muhammad Saw?

Hanya anda pribadi yang bisa menjawabnya.