Top News :
    6f2685a723d5dd228092da7913ae853e

    Kampus UNISSULA Semarang Dimasuki Aktivis Anti NKRI

    Muslimedianews.com ~ Semarang menjadi tempat empuk bagi aktivis-aktivis HTI dalam menanam benih. Kampus UNISSULA bukanlah pertama kali ini kesusupan paham anti NKRI dan Pancasila. Felix Siauw pada tahun 2014 pernah menjadi narasumber dalam acara “Hijrah Menuju Ridha Allah” yang disiarkan langsung oleh UNISSULA TV. Dalam konsep hijrah perspektif HTI, maka masyrakat Indonesia utamanya hijrah dari memuja demokrasi kepada sistem Khilafah Islamiyah.

    Meski sudah dibubarkan oleh pemerintah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) masih terus beraktivitas menyampaikan propaganda di berbagai wilayah melalui forum yang dikemas dalam bentuk pengajian atau dakwah.

    Di Kota Semarang Jawa Tengah, tokoh HTI Felix Y Siauw direncanakan akan mengisi acara pada Minggu 9 Juli 2017 di Masjid At-Taufiq Jl Durian Raya 34 Srondol Wetan Banyumanik Semarang dan di kampus Unissula pada Senin 10 Juli 2017.

    Proyek politik berupa khilafah Islam yang dicita-citakan HTI menjadi materi utama dalam setiap forumnya. Karena itu, meski tema acaranya pengajian atau dakwah, isi forum yang sesungguhnya tidak lebih dari propaganda memecah belah anak bangsa dan upaya merubah dasar negara serta membubarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Propaganda yang dilakukan HTI jelas bertentangan dengan UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan ajaran Islam. Dalam Islam, mencintai tanah air bagian dari iman (hubbul wathan minal iman). Sedangkan proyek khilafah, menuduh sesat dan kafir pada NKRI bagian dari sikap membenci tanah air sendiri dan mengancam kedaulatan bangsa Indonesia.

    Salah satu yang menolak didatangkannya aktivis HTI, berasal dari PMII UNISSULA:

        Ass wr wb. Nyuwun sewu pak Rektor Unissula Smg.
        Sy Dr. M. Saekan Muchith, S.Ag, M.Pd alumni FAI UNISSULA th 1994, Ketua Umum SMF Tarbiyah unissula th 1993. Sekarang Sebagai Ketua Umum IKA PMII UNISSULA 2015-2020.
        Rencana YBWSA Halal bihalal yg menghadirkan Tokoh HTI FELIX Y SIAUW (aktivis HTI yg sekarang jelas2 dilarang oleh Pemerintah Indonesia) Tgl 10 juli 2017 ternyata sudah menjadi VIRAL DI SOSMED yg menyayangkan acra dg penceramah tsb.
        Tanpa mengurangi rasa hormat kepada bpk2 pimpinan, Bpk/ibu Dosen saya di unissula, dan demi mempertahankan citra unissula yg sudah sangat bagus di mata masyarakat sbg kampus swasta milik umat islam yg berkembang sangat pesat. Maka saya mewakili sahabat2 ALUMNI PMII UNISSULA mhn kiranya kehadiran Felix Y Siauw bisa di kaji ulang. Kami sangat berterima kasih jika penceramah acara tsb yg di undang dari tokoh/ulama yg tidak menimbulkan kontroversial di tengah2 umat islam dan masyarakat.
        Demikian atas perhatiannya di sampaikan terima kasih.
        Wassalam wr wb.

        Ketua IKA PMII UNISSULA
        Dr. M. Saekan Muchith, S.Ag, M.Pd

    Di samping itu pula, sosok Hasan Toha Putra adalah simpatisan Hizbut Tahrir Indonesia. Pengusaha percetakan Al-Qur’an, H. Hasan Toha Putra pernah menyatakan Indonesia bisa makmur dengan syariah. “Hanya dengan syariah Islamlah Indonesia akan makmur,” ungkap Dirut perusahaan percetakan Al-Qur’an PT. Karya Toha Putra tersebut, Ahad (16/8) di Aula kantor Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jawa Tengah.

    Penolakan ini memberikan sinyal bahwa setelah dibubarkannya HTI, mengapa kampus yang menjadi tempat memberikan nilai-nilai toleransi dan menanamkan sikap nasionalisme justru diberikan tempat oleh pihak kampus. Maka kehadiran Felix Siauw yang jelas-jelas aktivis organisasi terlarang di NKRI dan tidak sesuai dengan ahlussunnah waljamaah telah diberikan ruang oleh kampus tersebut. Hal ini memunculkan pertanyaan: MASIH PANTASKAH KITA MENYEKOLAHKAN (MENGIRIMKAN) ANAK-ANAK KITA DI UNISSULA?. []

    sumber harakatuna

    Toha Putra dan Kontribusinya Terhadap Gerakan Politik HTI

    Muslimedianews.com ~ Tidak pernah terpikir dan masuk akal kalau ternyata Hasan Toha Putra, pemilik penerbit dan toko buku keislaman “Toha Putra” ikut serta terlibat dalam pendanaan kegiatan-kegiatan yang diadakan para aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi politik yang hendak mengganti dasar Negara Indonesia menjadi khilafah.

    Selama ini Toha Putra dikenal sebagai penerbit buku-buku pesantren (kitab kuning) dan al-Quran dengan pasar yang sangat jelas, yaitu santri dan kiai pondok pesantren serta warga Nahdlatul Ulama secara umum. Namun uang yang dihasilkannya justru banyak didonasikan untuk kegiatan-kegiatan yang justru hendak menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa ini.

    Kiai, santri dan warga NU yang menjadi konsumen tetap Toha Putra kini sedang berusaha dengan susah payah untuk mempertahankan NKRI, namun Toha Putra justru mengkhianati kepercayaan masyarakat dengan melakukan pembelaan dan dukungannya terhadap organisasi yang sudah dilarang pemerintah.

    Bagi kiai dan santri, Toha Putra adalah penerbit dan toko buku yang patut diapresiasi karena telah ikut serta menjaga khazanah keislaman melalui penerbitan buku-buku karya para ulama Islam Timur Tengah maupun Nusantara, namun kini setelah masyarakat tahu keterlibatan Toha Putra dalam organisasi transnasional itu, kiai, santri dan warga NU secara umum akan berpikir ulang. Haruskah mengapresiasi penerbit yang mengkapitalisasi NU dan Pesantren, sementara uang yang dihasilkannya justru untuk mengadakan kegiatan-kegiatan terlarang dan merusak citra Islam?

    Berikut data keterlibatan Hasan Toha Putra, pemilik penerbit dan toko buku Toha Putra dalam kegaiatan HTI di Kota Semarang:

    1. Tahun 2015 Hasan Toha Putra selain sebagai donatur acara “Pawai Akbar Untuk Tegaknya Khilafah Islamiyah” yang diselenggarakan HTI, juga sebagai penanggung jawab atas terselenggaranya acara tersebut.

    2. Pada bulan Februari 2017 menjadi donatur dan penggerak penolakan pengajian kebangsaan dalam acara Cap Go Meh yang akan dihadiri Habib Luthfi bin Yahya dan KH Musthofa Bisri (Gus Mus) di tempat parkir Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

    3. Pada bulan April 2017 memfasilitasi kegiatan “Masirah HTI untuk Pengenalan Bendera dan Panji Rasulullah” di Kota Semarang.

    4. Menjadi donatur aksi 212 dan membentuk Yayasan Umat Islam Bersatu yang mewadahi alumni 212 dan para aktivis HTI di Jawa Tengah.

    5. Banyak merekrut para pengurus HTI Jawa Tengah untuk menjadi pengajar di Yayasan Hidayatullah yang dipimpinnya.

    Selain menjadi ketua di beberapa yayasan yang diisi para pengurus dan aktivis HTI Jawa Tengah, Hasan Toha Putra juga menjadi Ketua Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung yang menaungi kampus Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Kini ia sedang berusaha menyebarkan HTI di kampusnya dengan mengundang berbagai aktivis HTI seperti Felix Y Siauw.

    sumber : harakatuna.com

    Respon kondisi terkini bentuk Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara


    MALANG, 16 Mei 2017
    Kondisi sosial-keagamaan yang semakin menyedihkan dengan meruncingnya perbedaan antar kelompok,  menjadi keprihatinan para akademisi muslim. Sekelompok dosen dan peneliti dari beberapa Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), membentuk Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Asdanu). 

    Asosiasi ini, bertujuan mengkampanyekan nilai-nilai keislaman yang moderat dan ramah, sebagai tulang punggung pengetahuan agama di kampus-kampus. Asdanu diprakarsai dosen dan peneliti dari 107 perguruan tinggi,  yang secara periodik menggelar konferensi, kajian, riset dan publikasi ilmiah. Konferensi Kajian Islam dan Peresmian Asdanu,  akan diselenggarakan di Universitas Islam Malang (Unisma), pada Rabu (17/5/2017).

    Sejumlah pembicara utama dijadwalkan hadir pada agenda ini, yakni Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, Prof. Dr. KH.M.Tolkhah Hasan (Ketua Dewan Pembina Unisma), Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas'ud (Kepala Puslitbang Kemenag), Prof. Dr. H Maskuri (Rektor Unisma), Rektor beberapa perguruan tinggi, dan ratusan peneliti dari 107 PTAI. 

    Ketua Panitia Konferensi dan peresmian Asdanu,  Drs. H. Ali Ashari, M.Pd, mengungkapkan pentingnya agenda ilmiah ini sebagai silaturahmi pengetahuan antar akademisi. "Selama ini,  belum ada rumusan yang jelas dan terstruktur bagaimana kampus-kampus menjadi tulang pungguh menghadapi intoleransi agama, kondisi sosial-politik mutakhir. Banyak dosen,  bahkan Professor,  yang menyebar berita-berita fitnah di media sosial,  yang menyulut kebencian. Ini alarm bagi kampus-kampus kita," terang Ashari. 

    Lebih lanjut, Ashari menegaskan komitmen dosen-peneliti untuk menjadi garda depan dalam penyebaran nilai-nilai Islam rahmatan lil-'alamin. "Sudah seharusnya, akademisi turun gelanggang, turun dari menara gading, untuk berbuat sesuatu dengan kemampuan intelektual, mencerahkan masyarakat. Ini tugas bersama," terangnya. 

    Sementara, inisiator Asdanu, Khoiron, M.IP,  mengungkapkan bahwa asosiasi ini menjadi lingkar komunikasi dan riset untuk menunjang publikasi ilmiah dan program bersama. "Para dosen dan peneliti di PTAI selama ini mengajar dan riset tentang agama. Forum ini menjadi ruang bersama untuk menyatukan gagasan,  membangun cara pandang untuk melihat agama secara kontekstual," terang Khoiron. 

    Konferensi Asdanu akan dihadiri ratusan dosen-peneliti, dengan publikasi berbagai karya ilmiah dan riset terbaru (*).
     

    HIKMAH

    ARABIC

    Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
    Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
    RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
    Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News