BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Monday, December 30, 2013

Catatan Penting Jalannya Dialog Ustadz Idrus Ramli Dengan Ustadz Firanda Andirja dan Ustadz Zainal Abidin di Batam

Pada 28 Desember 2013 telah diadakan mudzakaroh atau dialog antara pihak Ahlussunnah dengan pihak Salafi Wahabi mengusung tema “Dengan Mudzakaroh Kita Bangun Kebersamaan Bersatu Dalam Perbedaan”. Dialog yang diadakan di Ruang Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam ini menghadirkan KH. Muhammad Idrus Ramli Asy-Syafi'i sebagai pembicara mewakili Ahlussunnah wal Jama'ah berhadapan dengan Ustadz Firanda Andirja dan Ustadz Zainal Abidin yang mewakili kelompok Wahabi (radio Hang FM).

Dalam dialog itu tampak hadir KH. Thobari Syadzily yang menenami KH. Muhammad Idrus Ramli tetapi beliau ternyata tidak ikut menjadi pembicara hanya menemani duduk karena tidak diberi waktu berbicara, kecuali 1 menit menjelang acara dihentikan. Meski tidak berimbang, 1 Ahlussunnah melawan 2 Wahabi, dialog berjalan dengan baik dan lancar.

Ada beberapa tema yang disodorkan yang menjadi topik pembahasan, yaitu:
  • Pengertian dan Hukum Bid’ah
  • Hukum niat Sholat dan Qunut
  • Hukum Tahlilan, membacaYasinan dan Do’a bersama
  • Hukum Ziara Kubur danTabarruk/ Tawassul
  • Hukum menghormati Bendera dalam setiap upacara atau lainnya.
Dan berikut adalah catatan singkat bagaimana jalannya dialog antara KH. Muhammad Idrus Ramli yang sendirian berhadapan dengan Ustadz Firanda Andirja dan Ustadz Zainal Abidin di Batam:
  1. Dalam dialog tersebut, perwakilan dari Ahlussunnah Wal-Jama’ah sebagai pembicara, hanya al-faqir Muhammad Idrus Ramli. Sedangkan Kiai Thobari Syadzili, hanya menemani duduk, tidak diberi waktu berbicara, kecuali 1 menit menjelang acara dihentikan. Sementara dari pihak Radio Hang atau Wahabi, adalah Ustadz Zaenal Abidin dan Ustadz Firanda Andirja. Isu-isu dari kaum Wahabi, bahwa perwakilan dari Ahlussunnah adalah saya dan beberapa orang, adalah tidak benar. Jadi yang benar, debat 1 orang lawan 2 orang.
  2. Dalam acara dialog tersebut, semua pembicara dibatasi oleh waktu. Karenanya mungkin banyak pembicaraan Wahabi yang tidak sempat kami tanggapi, dan sebaliknya.
  3. Dalam pengantar dialognya, Ustadz Zaenal Abidin Lc, yang mewakili pihak Wahabi, mengaku sebagai warga NU (Nahdlatul Ulama) tulen. Padahal selama ini, dalam ceramah-ceramahnya ia selalu membid’ahkan amalian warga NU. Dan ternyata, dalam dialog tersebut, Zaenal Abidin, tidak bisa menyembunyikan jatidirinya yang Wahabi. Ia menyalahkan ajaran NU seperti menerima bid’ah hasanah, melafalkan niat dalam ibadah, qunut shubuh, tahlilan (kendurenan tujuh hari), Yasinan dan Yasin Fadhilah. Silahkan pemirsa menilai sendiri dengan hati nurani. Zaenal mengaku warga NU tulen, tetapi menyalahkan semua amaliah NU.
  4. Delegasi dari Wahabi, Zaenal maupun Firanda, tidak menaruh hormat kepada pendapat para ulama besar sekaliber Imam Ahmad bin Hanbal, Imam an-Nawawi, al-Hafizh Ibnu Hajar dan lain-lain. Misalnya dalam bahasan bid’ah hasanah, saya mengutip pendapat Imam an-Nawawi yang menjelaskan bahwa hadits kullu bid’atin dhalalah, dibatasi dengan hadits man sanna sunnatan hasanatan. Firanda tidak menghargai pendapat Imam an-Nawawi tersebut, dan memilih berpendapat sendiri. Padahal dia, masih belum layak memiliki pendapat sendiri. Bahkan memahami karya para ulama juga sering keliru. Pembaca dan pemirsa tentu tahu, bahwa ciri khas kaum liberal atau JIL adalah menolak otoritas ulama.
  5. Zaenal dan Firanda menggunakan standar ganda dalam menilai pendapat para ulama. Ketika pendapat mereka sesuai dengan semangatnya, mereka mati-matian menyerang tradisi NU, seperti dalam kasus tradisi kenduri kematian selama 7 hari, yang dihukumi makruh dalam kitab-kitab Syafi’iyah. Seakan-akan mereka lebih Syafi’iyah dari pada warga NU. Akan tetapi ketika pendapat para ulama tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, Firanda dan Zaenal menganggap pendapat tersebut tidak ada apa-apanya. Seperti dalam bahasan bid’ah hasanah. Sikap mendua seperti ini, mirip sekali dengan kebiasaan orang Syiah. Ketika hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim sesuai dengan keinginan Syiah, mereka jadikan hujjah. Akan tetapi ketika hadits-hadits tersebut berbeda dengan hawa nafsu Syiah, mereka tolak dan mereka dustakan.
  6. Dalam bahasan qunut shubuh, Firanda melakukan kesalahan ilmiah ketika mengomentari tanggapan saya terhadap hadits Abi Malik al-Asyja’i. Sebagaimana dimaklumi, dalam riwayat al-Tirmidzi, an-Nasa’i, Musnad Ahmad dan Ibnu Hibban, Abu Malik al-Asyja’i menafikan qunut secara mutlak, baik qunut nazilah maupun qunut shubuh. Tetapi Firanda mengatakan bahwa dalam kitab-kitab hadits, hadits Abu Malik al-Asyja’i menggunakan redaksi yaqnutun fil fajri (qunut shalat shubuh). Ternyata setelah kami periksa dalam kitab-kitab hadits, kalimat fil fajri tidak ada dalam riwayat-riwayat tersebut. Silahkan diperiksa dalam Sunan al-Tirmidzi juz juz 2 hal. 252 (tahqiq Ahmad Syakir), Sunan al-Kubra lin-Nasa’i, juz 1 hal. 341 tahqiq at-Turki atau al-Mujtaba lin-Nasa’i juz 2 hal. 304 tahqiq Abu Ghuddah.
  7. Firanda memaksakan diri mengatakan bahwa hukum kenduri kematian selama tujuh hari menurut Syafi’iyah adalah makruh tahrim. Padahal dalam kitab-kitab Syafi’iyah, hukumnya adalah bid’ah yang makruh dan tidak mustahabbah, alias bukan makruh tahrim. Untuk menguatkan pandangannya, Firanda mengutip pernyataan Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari, dalam Asna al-Mathalib, yang berkata “wa hadza zhahirun fit tahrim”. Ternyata setelah kami periksa, Syaikhul Islam Zakariya, masih menghukumi kenduri kematian dengan makruh atau bid’ah yang tidak mustahab (tidak sunnah). Sedangkan keharaman yang menjadi makna zhahir hadits tersebut, oleh beliau dialihkan kepada bukan tahrim. Hal ini dapat dipahami, ketika membaca dengan seksama, bahwa Syaikhul Islam Zakariya dalam pernyataan tersebut, mengutip dari Imam an-Nawawi dalam Raudhah al-Thalibin dan al-Majmu’, yang menghukumi kenduri kematian dengan bid’ah yang tidak mustahab.
  8. Zaenal Abidin, kurang memahami istilah-istilah keilmuan. Misalnya tentang qiro’ah syadzdzah (bacaan yang aneh atau menyimpang), dalam membaca al-Qur’an. Menurut Zaenal, orang yang membaca ayat al-Qur’an, apabila diulang-ulang maka termasuk qiro’ah syadzdzah yang diharamkan. Sebaiknya Zaenal belajar ilmu qiro’ah atau ilmu tafsir agar tidak keliru dalam hal-hal kecil.
  9. Dalam bahasan melafalkan niat, menurut Firanda dan Zaenal, redaksi niat harus menggunakan redaksi usholli dan nawaitu showma ghadin. Kalau redaksinya dirubah menjadi nawaitu an ushalliya atau inni shoimun, dan atau ashuumu, menurut mereka adalah salah dalam madzhab Syafi’iyah.

Demikian beberapa catatan kami terhadap dialog kemarin. Wallahul muwaffiq.

Wassalam

Oleh: Muhammad Idrus Ramli (Batam, 30 Desember 2013).



Sumber: Sarkub
Redaktur: Ibnu Munir

« PREV
NEXT »

51 comments

  1. sayang anda sebagai ustad tapi kenapa harus berdusta...?????

    ReplyDelete
  2. Lihat ketidak warasan ulama sarkub ini. Lihat perkataannya: "Sedangkan Kiai Thobari Syadzili, hanya menemani duduk, tidak diberi waktu berbicara, kecuali 1 menit menjelang acara dihentikan".

    Tanggapann:

    Sebenarnya yang tidak ngasih kiai thobari syadzili untuk berbicara ialah idrus ramli sendiri. Dia ngotot nyrocos, ngomong sendiri seakan-akan waktu dialog hanya milik dia. Tidak mau berbagi bersama partnernya. Bukankah tidak mau berbagi dari sifat anak kecil ?? Mau menang sendiri ?? Dan tidak mau memberi kawannya bicara ?? Lihat video dialog tidak mau berbaginya bersama partner pada menit ke 38 detik ke 38

    Kemudian perkataannya:

    Jadi yang benar, debat 1 orang lawan 2 orang.

    Tanggapan: Otak mana yang mau menerima perkataannya.. Lah.. Orang dia sendiri yang tidak mau berbagi. Mencampakkan kiyai Thobari hanya terdiam plongo. Ya pantas saja, 2 lawan 1. Ini kan tidak lain adalah tindakan diri idrus sendiri yang sok diskusi seorang diri. Kenapa harus menyalahkan orang dengan ketidak adilan, dengan mengesankan bahwasanya wahhabi main keroyokan?? Tanda tanya besar. Lihat sikap ngototnya lagi dan tidak mau berbagi di Jam ke 1 detik ke 9

    Kemudian..

    Tahukah anda bahwasanya ilmu dari orang yang berdusta tertolak ??

    Para ulama sepakat, bahwasanya seseorang yang berdusta ilmunya ditolak. Karena ilmu harus diterima dari seorang yang adil dan dhobit.

    Tahukah anda perkara-perkara perusak keadilan seseorang menurut kesepakatan ulama hadits ??

    1- Tertuduh melakukan dusta
    2- Berdusta
    3- Kefasikan
    4- Kebid'ahan
    5- Kebodohan

    Lihat: Taisiir mustholah al hadiits hal. 110

    Lihat kedustaannya yang sangat memalukan:

    1- Sebagaimana yang telah anda ketahui, bahwasanya idrus telah berdusta dengan menyebarkan berita wahhabi kabur dari dialog. Dan ini tersebar dari screenshoot BBMnya
    2- Idrus Ramli Nekat Berdusta Demi Menuduh Firanda Berdusta. Lihat disini: http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/553-idrus-ramli-nekat-berdusta-demi-menuduh-firanda-berdusta

    Sudah berdusta, gemar melakukan bid'ah.. Bukankah ilmunya tertolak ??

    Bagi ummat seluruhnya, berpalinglah kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melalui ulama yang jujur dan tidak gemar melakukan bid'ah.

    Allahu a'lam.

    ReplyDelete
  3. Bagaimana tanggapan anda tentang kesalahan ilmiah para ustad wahabi ?
    harusnya para pengikut wahabi malu ketika ditegur moderator karna diskusinya nglantur kemana-mana, padahal sudah ada pembatasan !!!!

    ReplyDelete
  4. pada poin 6 Ust Idrus mngatakan bhwa riwayat "fil fajri" tdk dtmukan dlm ktb2 hadits dan meyalahkan Ust. Firanda, padahal stlah di cek lg memang benar adanya rwayat trsbut. itu rwyat ibnu majah, thoyalisi dll.

    ReplyDelete
  5. Web ini memecah belah umat islam,anda bisa lihat dr Foto tema artikel yg ditulis "DEBAT Aswaja Vs Wahabi di Batam".
    Pdhl undangan yg sebenarnya bkn "DEBAT" sebagaimana dtulis artikel diatas,akan tetapi "DIALOG"..,
    Para ustadz Ahlul bid'ah sepertinya TAKUT akn kehilangan jemaat,

    ReplyDelete
  6. Beginilah seharusnya seorang Muslim dengan Muslim yang lain. PAKE DALIL, PAKE OTAK, PAKE ILMU, PAKE BUKU, Pake Referensi. kalau semua muslim bersikap seperti ini, tentu yang gerah, yang enggak suka ISLAM. Jangan mao dipanas-panasin ADU OTOT, Mentang mentang Anggota-nya Banyak. Nanti keliatan, kalau udah di cek pake Maktabah Syamilah yang mana yang lemah dalil-nya. tinggal kembali ke laptop aja koq susah..

    ReplyDelete
  7. kalo diskusinya kemana-mana masih mendingan daripada harus berdusta demi suatu kebenaran apa gunanya........

    ReplyDelete
  8. Abdurrahman Saif1 January 2014 at 12:58

    Inni Shooimun kok niat????? itu mah ngasih tahu orang kalik....

    ReplyDelete
  9. Astagfirulloh.... mudah2an Alloh menunjukkan jalan yang lurus...
    kalau dilihat sih Ust Zainal Abidin Lc ingin menunjukkan bahwa NU saja memerangi bid'ah walaupun yg dimaksud "bid'ah hasanah"itu... kalau dari sejarah pendirian NU sendiri mereka melawan yang namanya syirik n bid'ah itu, tetapi kenapa lambat laun semakin kesini jadinya "perayaan2" tambah semakin marak dan yang memarakkan adalah pentolan" NU sekarang... astagfirulloh....
    Justru Ust Zainal Abidin Lc dan Ust Firanda hati2 dgn menjaga kaidah Ahlussunnah Wal Jama'ah yang tidak mengkafirkan sembarang orang, namun perbuatan dan orang2 yg telah jelas melakukan kesyirikan dan kekafiran... itu bukan brarti "melunak".....

    ReplyDelete
  10. saya boleh komentar ya? saya nonton acara mudzakaroh tersebut dan sama memposisikan diri saya sebagai orang netral. saya coba cermati hujjah-hujjah dari masing-masing pembicara. tapi kenapa tulisan di atas ko ada bau2 kesefihakan dan kurang fair ya? saya inigin mengomentari point pertama bahwa di atas ditulis "1 lawan 2", kyai Thobari Syadzili tidak diberikan kesempatan berbicara. saya nonton dari awal sampe habis, dana kalian bisa simak sendiri, bukan beliau tidak diberi kesempatan berbicara, tapi beliau memilih untuk tidak berbicara dan hanya memilih untuk memberi komentar di 1 menit terakhir. menurut saya tulisan di atas terlalu provokastif. kurang fair. untuk orang yang hatinya terbua untuk kebenaran dan tanpa ada kebencian mustinya bisa melihat itu.

    point kedua, ustadz firanda tidak menghargai pendapat imam nawawi dan ulama2 lainnya dan malah mengutarakan pendapat sendiri? menurut saya tidak benar juga, karna apa yang diutarakan beliau bukan semata-mata pendapat sendiri tapi juga pendapat ulama2 yang lainnya. makanya beliau menegaskan bahwa itu masalah hilafiyah.

    point tulisan saya, saya melihat ada ketidak adilan dalam melaporkan suatu kejadian. terlalu provokatif dan ada unsur kebencian dan adu domba.

    ditambah penulisan di atas menggolongkan "ahlussunnah dan wahabi/salafy"

    sebaiknya perlu ada dialog untuk membahas apa itu ahlussunnah dan siapa saja yang termasuk didalamnya. jadi tidak terkesan memecah belah ummat dengan membedakan manhaj masing2 pembicara. menurut saya semua pembicara disitu masih ahlussunnah wal jamaah (ditinjau dari hujjah2 yang mereka utarakan karena berdasarkan sunnah semua), walaupun tidak tau hujjah mana yang bisa diterima (sebagai org awwam saya tidak tau), dan kalau masalah Aqidah Allahu a'lam, saya ga bisa komentar banyak krn tidak dibahas masalah aqidah disitu.

    Jadi pesan saya, mohon jadi org yang adil dalam mengomentari sesuatu. bicara sesuai fakta dilapangan.

    ReplyDelete
  11. Abu Muhammad Al Jawi3 January 2014 at 08:34

    Diskusi menarik.

    Kalau saya melihat ust Idrus Ramli memaksakan adanya bid’ah hasanah dan berhujjah dengan hadits-hadits yang tidak menunjukkan bolehnya bidah dan ada juga dengan hadits yg bersifat sunnah takririyah (diamnya nabi atas suatu perbuatan/amal sahabat nabi sebagai pertanda setujunya nabi terhadap perbuatan/amat tersebut). Contohnya :

    1. hadits tentang merintis kebaikan yang ada lafal :

    مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

    lihat pembahasannya di http://almanhaj.or.id/content/3009/slash/0/jadilah-perintis-kebaikan/

    Padahal hadits tersebut ttg orang yang memulai untuk bersodaqoh sampai2 orang lain berbondong2 mengikutinya. trus pertanyaannya dimana bid’ahnya?

    2. hadits tentang seorang imam yang selalu membaca surat alihlash sebelum surat lain kemudian dilaporkan kenabi dan nabi menyetujuinya.

    Dari hadits itu dapat terlihat bahwa para sahabat sangat menjaga kemurnian Islam dari bidah, sampai2 orang yang selalu membaca alikhlash dalam sholatnya di laporkan ke pada nabi. Akan tetapi nabi ternyata merestui perbuatan tersebut. Dari sini dapat disimpulkan bahwa hal tersebut tidak apa2 karena sudah disetujui oleh nabi. Hal ini lah yang dinamakan sunnah takririyah bukan bid’ah karena sudah disetujui oleh nabi.

    Pertanyaannya adalah apakah bid’ah2 yang ada sekarang sudah disetujui oleh nabi? Tentu tidak karena nabi telah bersabda

    ما بقي شيء يقرب إلى الجنة ويباعد عن النار إلاوقد بين لكم (اخرجه الطبراني)

    (“Tidak tertinggal sedikitpun perkara yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali telah aku jelaskan bagi kalian.“)

    3. Hadits ttg makmum masbuk

    ust idrus ramli menjadikan hadits ini sebagai dalil bolehnya berkreasi dalam ibadah karena dalam hadits ini shabat memulai cara baru dalam melakukan makmum masbuq dan nabi merestui. Lagi2 hal ini adalah tentang sunnah takririyah (diamnya nabi atas suatu perbuatan/amal sahabat nabi sebagai pertanda setujunya nabi terhadap perbuatan/amat tersebut). Coba sekarang bikin cara baru bermakmum masbuk, siapa yang akan menyetujui? Yang ada malah dibilang sesat sama orang2.

    CMIIW

    ReplyDelete
  12. alhamdulillah pak KH Thobary Syadzily, berbcara 1 menit d wkt terakhir, klo seandainya berbicara pd pembahasan materi,bs membuka celah kesalahan,dan berdmpak negatif kpd aswj.djazakumullah khair

    ReplyDelete
  13. Itu Ustadz Thobari bicara 1 menit, karena tidak diberi kesempatan oleh panitia atau KH Idrus Ramli?ambigu nih, kesannya seolah-olah debatnya tidak fair, padahal aturan yg di tetapkan panitia sudah seimbang antar kedua belah pihak.

    ReplyDelete
  14. ya.. di NU sendiri pada awalnya sudah melarang adanya acara tahlilan, haul dan semacamnya.. Muktamar Nu th. ke-1 tgl 12 rabiuts tsani 1345H/21 okt 1926 di Surabaya sdh membahas ttg hal ini dan mencantumkan pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami yang menyatakan bahwa selamatan kematian adalah BID'AH YANG HINA

    Muktamar
    NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H/21 Oktober 1926
    mencantumkan pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dan menyatakan bahwa
    selamatan kematian adalah bid’ah yang hina namun tidak sampai diharamkan
    dan merujuk juga kepada Kitab Ianatut Thalibin - See more at:
    http://www.nahimunkar.com/tahlilan-dalam-pandangan-nu-muhammadiyah-persis-al-irsyad-wali-songo-ulama-salaf-dan-4-mazhab-i/#sthash.1Bs3b8rK.dpuf
    Muktamar
    NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H/21 Oktober 1926
    mencantumkan pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dan menyatakan bahwa
    selamatan kematian adalah bid’ah yang hina namun tidak sampai diharamkan
    dan merujuk juga kepada Kitab Ianatut Thalibin - See more at:
    http://www.nahimunkar.com/tahlilan-dalam-pandangan-nu-muhammadiyah-persis-al-irsyad-wali-songo-ulama-salaf-dan-4-mazhab-i/#sthash.1Bs3b8rK.dpuf
    Muktamar
    NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H/21 Oktober 1926
    mencantumkan pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dan menyatakan bahwa
    selamatan kematian adalah bid’ah yang hina namun tidak sampai diharamkan
    dan merujuk juga kepada Kitab Ianatut Thalibin - See more at:
    http://www.nahimunkar.com/tahlilan-dalam-pandangan-nu-muhammadiyah-persis-al-irsyad-wali-songo-ulama-salaf-dan-4-mazhab-i/#sthash.1Bs3b8rK.dpuf
    Muktamar
    NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H/21 Oktober 1926
    mencantumkan pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dan menyatakan bahwa
    selamatan kematian adalah bid’ah yang hina namun tidak sampai diharamkan
    dan merujuk juga kepada Kitab Ianatut Thalibin - See more at:
    http://www.nahimunkar.com/tahlilan-dalam-pandangan-nu-muhammadiyah-persis-al-irsyad-wali-songo-ulama-salaf-dan-4-mazhab-i/#sthash.1Bs3b8rK.dpuf

    ReplyDelete
  15. bener-bener..La wong diskusi-nya bisa kita tonton kok di youtube kan jelas keliatan.. heheehhe.. kalo cuma laporan tertulis/notulen tuh baru kita bisa di bo'ongin..

    ReplyDelete
  16. betul bro Imam.. kesannya Ustd.Firanda dan Ustd.Zaenal Abidin bukan Ahlussunnah.. orang2 yg ngaku Ahlussunnah(Aswaja) tapi kok kelakuannya ahlul bid'ah.. dimana letak ahlussunnahnya kalo yang digaung2kan amaliyah bid'ahnya? coba cek aja dilapangan.. kalo pas acara2 bid'ah luar biasa hirukpikuk, rame, bikin macet tempat umum, pokoke rame lah tuh termpat kegiatan/masjid.. tapi giliran shalat subuh berjamaahnya.. suepiii.. 1, 2 shaft.. ada apa?

    ReplyDelete
  17. memang dialog seperti ini sgt ditunggu oleh Ustd.M. Idrus Ramli.. beliau sangat bersemangat unjuk gigi sampai lupa bahwa narasumber di pihak beliau ada Kiai Thobari Syadzili. coba semangatnya untuk menegakkan SUNNAH yang sebenarnya.. lebih mantap lagi.. kapan Ustd?

    ReplyDelete
  18. bro Wahab, dari komen-komen anda kayaknya anda yang paling bener, sampe-sampe yang lain anda sesatkan, hebat betul golongan anda hanya masalah furu'iyah yang tidak sama dengan golongan anda sampai anda sesatkan.....

    ReplyDelete
  19. Mendingan gak kemana-mana biar gak muncul yang dusta, adanya dusta karena diskusinya kemana-mana

    ReplyDelete
  20. bicara melenceng dari topik itu tidak dosa. kalo ada dosanya, coba tunjukkan dalilnya?
    nah, kalo berdusta itu baru berdosa. minta dalil?

    ReplyDelete
  21. Dari dialog itu (Aswaja dan Wahabi) tidak ada dusta dari ustad Aswaja, yang ada pembahasan yg melenceng dari topik dari ustad Wahabi, sehingga munculnya tulisan2 dari saudara2 yang lain yang direspon dusta oleh kelompok Wahabi.

    ReplyDelete
  22. Sy sudah melihat sendiri di youtube dan benar,,,, idrus ramli benar2 pendusta,, yg tdk ngasih bicara kyaibtobaribya idrus ramli sendiriii,,, lihat sendiri di youtube , kaya anak kecil aja brdusta,,

    ReplyDelete
  23. bicara terakhir saja ..KH Thobary Syadzily cuma bilang "menurut saya" "menurut kami" menurut menurut menurut. tapi tidak menurut Alquran dan Sunnah

    ReplyDelete
  24. hah ente cuma cari2 kesalahan... dalilnya terpatahkan ya ??? haduch kalo berbicara pake dalil dunk..

    ReplyDelete
  25. tapi yang fanatik buta tetap dukung saja.... apalagi di ajak geyal geyol di ASWAJA TV.. beribadah koq pakai musik ... sebelas duabelas lah sama yahudi dan nasrani

    ReplyDelete
  26. tidak ada dusta???? ya coba baca catatan Si idrus ddiatas daan bandingkan di Videonya... .. kalo orang yang belum nonton ada tulisan tsb pasti percaya saja... atao jngn2 ente belum tonton videonya lagi

    ReplyDelete
  27. maaf Om, saya bicara gitu karena sudah ngeliat videonya. dan faktanya memang seperti itu, orang wahabi sadarlah....cara anda berdakwah itu nyeleneh, hobi nyalahin orang, semua dianggap salah/sesat kalau nggak sesuai dengan wahabi, emang begini cara dakwah yang dicontohkan Nabi Muhammad?, apa cara yang begini bukannya membuat umat Islam hidup tidak damai, berpecah belah, atau jangan2 yang seperti itu yang diinginkan wahabi...

    ReplyDelete
  28. orang yang berdebat dalam agama adalah jalan menjauhkan diri dari syurga

    ReplyDelete
  29. bersholawat diharamkan dengan iringan musik

    ReplyDelete
  30. Ente tuh yg merasa paling bener, yg berbeda dengan budaya Asli Warisan Jawa semua ente bilang pemecah belah umat, sesat, dsb

    ReplyDelete
  31. Cieee mengakui niii berdusta, perlu digelari al khazab gak bro Umar?

    ReplyDelete
  32. Pemecah belah itu ibadah kreasi sendiri, merasa lebih tinggi derajatnya dari para sahabat dan Nabi,

    ReplyDelete
  33. Ciiee keluar lagi wahabi-salafinya, nuduh-nuduh orang dusta, habis itu ngecap ini dan itu, terus fitnah san fitnah sini.....gak sembuh-sembuh juga penyakitnya...

    ReplyDelete
  34. Bukan kreasi sendiri bro, itu ada dalil dan contohnya, karena menutur salafi wahabi gak sesuai dengan penafsiran nya maka dibilang sesat dan masuk neraka (emang neraka punya wahabi salafi?), dan menurut saya justru wahabi inilah yang merasa lebih tinggi derajatnya dari sahabat dan Nabi, apakah

    Nabi berdakwah dengan cara seperti itu bro, menyesat-nyesatkan orang, Saya semakin heran dengan wahabi, dengan saudara2nya seakidah menyesat-nyesatkan dengan orang kafir makin..............

    ReplyDelete
  35. Pandai juga ente fitnah orang....

    ReplyDelete
  36. iya klo ngisi pembahasan bs di bulan2in dia, kliatan picikny,+ilmunya g ada, cuma bs brani bcara di akhir,dialog.

    ReplyDelete
  37. sering saya bertemu org spt anda....setelah kalah berdialog mulai bilang dialog itu perdebatan..dan diam atau mngalah lebih baik dr pd berdebat,padahal kalian yg memulai lbh dulu...kiai NU mengajar agama bukan cari harta atau ketenaran...tetapi Allah-lah yg mnjadikan kami mencintai mereka dan membela ajaran mereka meskipun sampai mati

    ReplyDelete
  38. liat video sampai habis?
    kalo iya, masih ada gak Ust. Zainal dan Ust. Firanda di akhir video?
    kalo masih ada, berarti Ust. Idrus berdusta.
    tidak perlu capek2 membela diri, karena dusta itu sudah menjadi bagian dari syariat NU. saya dulu sering denger pengajian NU. isinya lawakan/dagelan yang mengandung kedustaan. hobi juga membawa hadits/atsar/kisah palsu.

    ReplyDelete
  39. Dan fitnah sudah menjadi bagian dakwah wahabi......

    ReplyDelete
  40. kalo saya bilang Ust. Idrus berdusta itu ada buktinya. tapi kalo anda bilang fitnah menjadi bagian dalam dakwah wahabi, kemudian anda tidak bisa membuktikan, maka anda akan tercatat sebagai pendusta.

    ReplyDelete
  41. Yang merasa ilmunya masih kurang maupun yg merasa ilmunya lebih tinggi dibandingkan dengan keempat ustad yg sedang berdialog di atas, lebih baik diam. Tentunya netizen yang cerdas, akan tau maksud saya tentang dampak dari komentar komentar kalian disini. Semoga Allah memberi kalian kesadaran.

    ReplyDelete
  42. bukti itu tidak nampak di depan sekte salapi karena sudah terbiasa dengan hal itu

    ReplyDelete
  43. jempooool buat yang ini jugaa..

    ReplyDelete
  44. kalo zakat fitrah masih pake beras ngga usah ngomomng bidah2.... Rosul ngga zakat pake beras cuy... pake korma... tahun besok pake korma aja cuy... beras tuh hasil qiyas dari korma dalam madzhab syafi'i (ngga tau dah kalo salapi wahabi pake qias apa ngga,klo ngga ngakuin qiyas cari korma ajah buat tahun besok)

    ReplyDelete
  45. Sya barusan lihat perdebatan itu, saya sepakat tulisan di atas terkesan provokatif, sperti tidak di beri kesempatN ustadz thobari tuk berbicara, itu dikarenakan sepanjang debat tersebut ia memilih diam dan meminta berbicara di ending session dan terlihat dari cara bicaranya pun kurang fokus, saya hanya merasa dri sisi yg mengklaim aswaja pembenaran dalam perdebatan, bukan mencari kebenaran dalam diskusi, dan sepetinya kuranv lebihnya merrka akui bahwa tahlilan itu makruh, namun ttp saja di cari cara pembenaran(bukan kebenaran) tuk argumentasi tahlil sampai ke derajat sunnah dengan menukil ucapan ucapan satu ulama dibandinvkan jumhur ulama, seharusnya kita memilih jumhur ulama/kesepakatan ulama, andaikat tahlilan mereka sudah sadar makruh hukumnya ya untuk apa dilaksanakan..kan perbuatan sia sia, palagi ada ulama yang mengatakan bid'ah munkar, hinayah, makruh tahrim yang otomatis jumhur ulama melarang total acara tersebut termasuk dlm kitab NU sendiri yang dibawa oleh Ustadz Zainal Abidin, kalo kita adil menilai(bkan krn dia salafy dia nahdiyin) bkan krn dia wahabi dia tradisi, sesungguhnya sudah ada kesimpulan yg kuat bahwa tahlilan adalah perkra yang diharamkan oleh Agama....ikutilah kebenaran krn dasar yang diambil oleh ulama, jagn ikuti kebenaran krn ketokohan seorang ulama...Allohu'alam

    ReplyDelete
  46. Betul etul bosss menegakkan sunnah.. Dukun idrus romli. Kumis yang dipanjangkan


    ReplyDelete
  47. wooii orang tolol belajar dulu...jangan komentar aja...komenternya aja ga kualitas

    ReplyDelete
  48. Wakakakaka… mikir coy. Gw aje orang awam jelas2 ngeliat tuduhan idrus ditulisannye ama videonya ga sinkron. Elo masi waras ape uda gila sih?

    ReplyDelete