BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Friday, March 14, 2014

Asap Riau karena Pemerintah Izinkan HTI dan Perkebunan Skala Besar

Muslimedianews.com, Jakarta ~ Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Zenzi Suhadi menyatakan kabut asap yang terjadi akibat kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau bukan bencana, tapi kejahatan terencana akibat pemerintah kebablasan mengeluarkan izin perkebunan skala besar dan Hutan Tanaman Industri (HTI).

"Ini kejahatan terencana, kenapa? karena faktor penyebab terbesarnya adalah pemberian perizinan perkebunan skala besar dan HTI," kata Zenzi menjawab JPNN, Jumat (14/3/2014).

Dikatakan, Undang-undang perkebunan dan kehutanan di Indonesia jelas mengatur bahwa setiap usaha tertentu wajib mempunyai analisis dampak lingkungan (Amdal) serta perencanaan.

Nah, setelah banyaknya perkebunan yang mendapat izin operasi yang terjadi justeru kebakaran hutan dan lahan. Artinya resiko ini sudah diketahui pemerintah jahu-jauh hari.

"Ketika kebakaran hutan dan lahan ini tidak diantisipasi, kejahatan ini direncanakan. Kebakaran ini efeknya bukan hanya di Riau saja, tapi juga menjalar ke Bengkulu, Sumatera Utara, Jambi bahkan Bengkulu," jelasnya.

Terkait persoalan ini, Walhi mendesak pemerintah segera mengambil tindakna jangka pendek dengan mengoptimalkan segala cara memadamkan titik api. Kemudian pemerintah harus menyelematkan sumber daya kehidupan masyarakat agar tidak hilang dilalap api.

"Jangan seperti yang terjadi di Kepulauan Meranti (Riau), ketika konsensi PT NSP terbakar, menjalar ke perkebunan masyarakat tapi tidak ada yang tanggungjawab, sehingga 500 lebih kepala keluarga kehilangan mata pencaharian," tegasnya.

Dalam menyikapi persoalan seperti ini, tambahnya, pemerintah mestinya tidak hanya menghentikan kebakaran yang terjadi, tapi juga menuntut pelaku usaha perkebunan skala besar dan HTI mengganti kerugian warga.(fat/jpnn/fot: dipenda.pekanbaru.go.id)
« PREV
NEXT »

1 comment

  1. Adietia Maulana16 March 2014 at 13:56

    nih media carper...
    media tukang gembos..media pemecah belah

    ReplyDelete