BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Sunday, March 16, 2014

Musnahnya Wahhabi dan Bangkitnya Kembali Menjadi Kerajaan Arab Saudi

Muslimedianews.com ~ Tahun 1744, terjadi kemitraan antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan Ibnu Saud melalui upacara sumpah yang menetapkan Ibnu Saud dengan emir dan Ibnu Abdul Wahhab sebagai Imam, belakangan disebut Syaikhul Islam. Putra tertua Ibnu Saud, Abdul 'Aziz ibnu Saud dinikahkan dengan putri Ibnu Abdul Wahhab. Dinasti-Wahhabi pun terbentuk, menjadi Saudi Arabia. Gerakan Wahhabi dan Dinasti Saud sejak kemunculannya berusaha menundukkan suku-suku di Jazirah Arab dibawah bendera Saudi/Wahhabi.

Tahun 1746, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengumumkan proklamasi jihad kepada siapa saja yang menentang al-Da'wah lit-Tauhid. Penyerangan mulai dilancarkan ke daerah suku-suku yang dinyatakan olehnya kafir. Setiap suku yang belum masuk Wahhabi di beri dua opsi : masuk wahhabi dan mengucapkan sumpah setia atau diperangi sebagai orang musyrik dan kafir. Banyak yang tidak tahan menghadapi kebrutalan emir Abdul Aziz putra Ibnu Saud.


Tahun 1773, tidak ada lagi lawan di Najd, semua sudah ditaklukkan oleh Saudi-Wahhabi, sementara kota Riyadl sudah menyerah. Tahun 1806, Abdul Aziz ibnu Saud wafat. Ia telah menebarkan teror ke banyak wilayah di Jazirah Arab : diselatan sampai Oman dan Yaman, sedankan di daerah utama sampai Baghdad dan Damaskus.Wahhabi yang bersekutu dengan Inggris merongrong dan memberontak terhadap Khilafah Turki Utsmani yang saat itu secara de jure maupun de facto mengusai semenanjung Jazirah Arab dan Timur Tengah secara umum.

"Jazirah Arab secara umum berada dibawah kekuasaan Turki Utsmani... Klan keluarga Syarif Hussein (keturunan Rasulullah Saw) yang menguasai kota suci Makkah sejak 700 tahun lalu itu didirikan oleh Qadatah ibnu Idris (1133-1220 M) yang dilahirkan di Yanbu', Jazirah Arab. Dia memanfaatkan firtah pertikaian yang terjadi ditengah masyarakat Makkah sebagai peluang untuk menguasainya. Dia berhasil menjadi penguasa Makkah pada tahun 1201. Kekuasaannya semakin meluas ke Madinah sebelah utara, dan Yaman sebelah selatan. Kemudian Sultan Utsmani Salim I menguasai Mesir dan semenanjung Hijaz tahun 1517. Para Syarif dari anak cucu Qatadah itu terus memegang kekuasaan di Jazirah Arab dibawah pemerintahan Turki Utsmani dari masa ke masa, baik secara de jure maupun de facto. Syarif Hussein bin Ali bin Muhammad bin Abdul Mun'in bin Awan merupakan penguasa terakhir dari kalangan syarif tersebut. Dialah yang mengumumkan revolusi Arab pada tahun 1916 dan menjadi raja Hijaz. Sampai akhirnya, dia lengser dari kekuasaannya akibat keluarga Saud menguasai Hijaz tahun 1924. Lalu diwaristi putranya, Raja Ali, namun hanya berkuasa setahun". (al-Jazirah al-'Arabiyyah fi al-Watsa'iq al-Barithaniyya; Najd wa Hijaz)

Ketika Makkah berhasil direbut oleh Wahhabi dari tangan Khalifah Turki Utsmani, maka dominasi Wahhabi ditanah suci menjadi tantangan langsung terhadap otoritas Turki kala itu. Beberapa kali serangan dilancarkan dari Baghdad oleh Khalifah, tetapi gagal.Muhammad Ali Pasha, wazir atau wakil Khalifah di Mesir, diserahi tanggung jawab mengambil alih kembali Hijaz dan tanah suci, mengambalikannya kepada Khalifah sebagai khadimul haramain (pelayan 2 tanah suci : Makkah dan Madinah).

Setelah gagal di tahun 1811, pada tahun 1812 pasukan Turki Utsmani dari Mesir tersebut berhasil menduduki Madinah. Tahun 1815, kembali pasukan Mesir menyerbu Riyadl, Makkah dan Jeddah. Kali ini pasukan Wahhabi kocar-kacir. Pada saat itu, Ibrahim Pasya, putra penguasa Mesir sebagai wakil pemerintahan Turki Utsmani, datang dengan kekuatan sekitar 8000 pasukan kavaleri dan infantri dari Mesir, Albania dan Turki. Muhammad Ibnu Saud sendiri beserta keluarganya ditawan dan dibawa ke Kairo, kemudian ke Konstantinopel. Di Ibukota Khilafah Utsmani itu dia dipermalukan, diarak keliling kota ditengah cemoohan penonton selama 3 hari. Kemudian kepalanya dipenggal dan tubuhnya dipertontonkan kepada kerumunan yang marah.

Sisa keluarga Saudi-Wahhabi menjadi tawanan di Kairo. Kehancuran Wahhabi disambut gembira dibanyak negeri Muslim. Seorang ulama bermadzhab Hanafi bernama Muhammad Amin ibnu Abidin yang hidup di awal abad ke-19 mengatakan :

"Ia mengaku pengikut Madzhab Hanbali, tapi dalam pemikiran-pemikirannya hanya dia saja yang muslim dan semua orang lain adalah musyrik. Ia mengatakan bahwa membunuh Ahlussunnah adalah halal, sampai akhirnya Allah menghancurkannya pada tahun 1233 H (1818 M) melalui pasukan muslim".

Tahun 1902, Abdul Aziz, putra Abdurraman ibnu Saud mengungsi ke Kuwait, memulai usaha meraih kejayaan dinasti Saud yang hilang. Dengan bantuan Syaikh Kuwait yang selama ini melindunginya, Ibnu Saud, demikian nama populer Abdul Aziz, berhasil meraih Riyadl den mengumumkan pemulihan kembali Dinasti Saud disana. Klan As-Sabah di Kuwait mendorong Ibnu Saud menaklukkan Riyadl karena mereka takut kekuasaan Klan Rasyidi yag menguasai Riyadl semakin kuat dan luas-juga terutama karena adanya aliansi Rasyidi dengan Khilafah Utsmani- sehingga mengancam Kuwait.

Pertarungan di Najd terjadi antara Ibnu Saud yang dibantu Inggris melawan Klan Rasyidi yang dibantu Khilafah Utsmani. Inggris ikut campur karena khawatir dukungan Khilafah Utsmani terhadap Ibnu Rasyid akan mengancam kepentingan mereka di Kuwait.

Tahun 1906, wilayah Qasim direbut sehingga kekuasaan Ibnu Saud semakin dekat ke jantung Klan Rasyidi di Najd Utara. Selain Qasim, Ibnu Saud juga menguasai kota-kota penting lainnya, seperti 'Unayzah dan Buraydah. Najd praktis terbelah menjadi dua: separuh dikuasai Ibnu Saud dan separuh lagi dikuasai Klan Rasyidi.

Gambaran antara dahsyatnya peperangan yang terjadi antara pihak Ibnu Saud yang dibantu Inggris dengan Ibnu Rasyidi dengan dibantu Khilafah Turki Utsmani, dikatakan oleh sejarawan Wahhabi, Ibnu Bisyr al-Najdi dalam bukunya Uwan al-Majd sebagai peperangan berdarah yang banyak menelan korban dipihak Khilafah Utsmani. Dalam sekali serang saja, sedikitnya 2400 lebih tentara muslim Khilafah Turki Utsmani yang terdiri dari orang-orang Mesir, Maroko dan Quraisy tewas terbunuh.

Pada 26 Desember 1915, ketika Perang Dunia I berkecamuk, Ibnu Saud menyepakati traktat dengan Inggris. Berdasarkan traktat ini, pemerintah Inggris mengakui kekuasaan Ibnu Saud atas Najd, Qatif, Jubail dan wilayah-wilayah yang bergabung didalam empat wilayah utama ini. Dukungan penuh pemerintah Inggris itu diakui secara resmi oleh mereka. Maka, apabila wilayah-wilayah ini diserang, Inggris akan membantu Ibnu Saud dengan kekuatan penuh. Traktat ini juga mendatangkan keuntungan material bagi Ibnu Saud. Ia mendapatkan ribuan senapan dan uang. Ibnu Saud juga menerima subsidi dan bantuan senjata yang dikirim secara teratur sampai tahun 1924, bersamaan dengan runtuhnya Khilafah Turki Utsmani.

Sebagai imbalannya, Ibnu Saud tidak akan mengadakan perundingan dan membuat traktat dengan negara asing lainnya. Ibnu Saud juga tidak akan menyerang ke, atau campur tangan di, Kuwait, Bahrain, Qatar dan Oman (yang berada dibawah proteksi Inggris). Traktat ini mengawali keterlibatan langsung Inggris dalam politik Ibnu Saud.

Sementara itu, saingan Ibnu Saud di Najd, Ibnu Rasyid, tetap berada dibawah naungan Khilafah Utsmani. Seiring dengan mulai lemahnya Khilafah, setelah berbulan-bulan dikepung, akhirnya pada 4 November 1921, Ha'il (ibukota Klan Rasyidi) jatuh ketangan Ibnu Saud yang dibantu Inggris melalui dana dan persenjataan. Penduduk oase subur disebalah utara itu pun terpaksa mengucapkan bai'at ketundukan kepada Ibnu Saud.

Sesudah menaklukkan Ha'il, Ibnu saud beralih ke Hijaz. Satu demi satu kota di Hijaz jatuh ke tangan Ibnu Saud. 'Asir, wilayah di Hijaz selatan, jatuh pada 1922, disusul Thaif, Makkah dan Madinah (ditahun 1924), Jeddah (diawal tahun 1925).

Tahun 1925 juga, dibulan Desember, Ibnu Saud menyatakan diri sebagai Raja , dan pada awal Januari 1926 ia menjadi Raja Hijaz sekaligus Sulthan Najd, dan daerah-daerah bawahannya.

Untuk pertama kalinya, sejak berdirinya Negara Saudi II, 4 wilayah penting di Jazirah Arab, yaitu Najd, Hijaz, 'Asir dan Hasa, kembali berada ditangan kekuataan Klan Saudi. Dan pada tahun 1932, Ibnu Saud telah berhasil menyatukan apa yang sekarang dikenal sebagai Kerajaan Arab Saudi.

Sumber : Buku "Best Seller" : Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi : Mereka  Membunuh Semuanya, Termaasuk Ulama. Penerti Pustaka Pesantren 2011.


« PREV
NEXT »

9 comments

  1. hahahahahaha,,,,,,,,,,,cerita bohong ko di jadikan berita,,,,,,,,,croscek dulu siapa pengarang bukunya,,,,,,,

    ReplyDelete
  2. Semprol beriman25 March 2014 at 14:27

    yg bilang bohong hanya wahaby,...
    Wahaby menghancurkan peradaban islam..

    ReplyDelete
  3. Willy Muhamad Bambang25 March 2014 at 21:06

    klo bukan wahabi jangan tersinggung, klo tersinggung berarti iya...gitu aja repot

    ReplyDelete
  4. Pengikut wahabi itu ngeyel, tak mau menerima kebenaran, otaknya dah di cuci bersih dengan fanatik buta,...

    ReplyDelete
  5. idahram=marhadi=syi'ah..
    baca artikel dibawah jika niat anda benar2 inshof (mencari kebenaran)

    http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/284-membongkar-koleksi-dusta-syaikh-idahram-2-aroma-syi-ah-tercium-dari-idahram

    ReplyDelete
  6. mas sy belajar dikajian islam dimn banyak orng bilang itu salafy/ wahabi sy diajarkan utk berlemah lembut dlm berdakwah dan alhamdulillah kami tdk diajarkan utk memberontak mas. wallohi. bahkan utk demo ke pemerintah sj kami dilarang. kita diperintahkan utk mendoakan kebaikan utn pemimpin kita sbgimn perktaan seorang ulama "andai sy memiliki sebuah doa yg mustajab maka aku akan mendoakan kebaikan bagi pemimpin au kama qoola.kami jg tdk diajarkan mengkafirkan orng NU. bagi kami NU, Muhammdiyah atau lainnya adlah hanya sebuah organisasi. bagi kami siapapun itu jk berpegang dg jaran quran dan sunnah maka muslim.

    ReplyDelete
  7. JUDUL BUKU DAN PENULISNYA

    Judul buku ini adalah Sejarah Berdarah Sekfe Salafi Wahabi, ditulis oleh Syaikh Idahram, penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, cetakan pertama, 2011. Buku ini mendapatkan rekomendasi tiga tokoh agama yang populer namanva yaitu KH. Dr. Said Agil Siraj, KH. Dr. Ma’ruf Amin, dan Muhammad Arifin Ilham.

    BANTAHAN SECARA GLOBAL TEHADAP BUKU INI

    Terus terag, untuk membantah buku ini membutuhkan beberapa jilid buku sebab buku ini sarat dan bertabur kebohongan, kedustaan, kesesatan dan penyimpangan. Sebagai gambaran umum, kami katakan:

    Setelah kami menulis artikel ini, al-hamdulillah telah banyak para penulis yang memobngkar aurat buku ini, diantaranya adalah: al-Ustadz Firanda Abu Abdil Muhsin dalam bukunya “Sejarah Berdarah Sekte Syi’ah”, AM. Waskito dalam bukunya “Bersikap Adil Terhadap Wahabi”, dan Sofyan Cholid dalam bukunya “Salafy Antara Tuduhan dan Kenyataan”. Belum lagi artikel-artikel para ustadz lainnya di internet. Oleh karenanya, saya kira bantahan-bantahan tersebut sudah cukup bagi orang yang berakal.
    Buku ini dari sampul depan hingga sampul belakang penuh kebohongan dan kedustaan. Adapun sampul depan, penulis misterius ini menyebut dirinya dengan bertopeng Syaikh Idahram, padahal itu bukan nama sesungguhnya. Dan telah sampai kabar kepadaku dari beberapa ikhwan di Jakarta yang terpercaya bahwa nama sesungguhnya adalah Marhadi kebalikan dari Idahram. Bayangkan, jika nama penulisnya saja terbalik, bagaimana dengan isinya?! Jangan aneh jika isinya banyak terbalik dari kenyataan. Kenapa penulis ini begitu pengecut dalam pertempuran wacana ilmiyah sehingga tidak menampakkan identitas aslinya?!!
    Adapun sampul akhirnya, karena mencatut nama-nama tokoh tersohor yang memberikan rekomondasi terhadap buku ini seperti KH. Ma’ruf Amin (ketua MUI) dan Muh. Arifin Ilham, padahal keduanya menyatakan tidak pernah meberikan rekomondasi tersebut, baca aja belum apalagi memberi rekomondasi?! Tentang Muh. Arifin Ilham, bisa diklik di http://arrahmah.com/read/2011/12/08/16720-kebohongan-syaikh-idahram-atas-nama-arifin-ilham.html#. Adapun tentang KH. Ma’ruf Amin, saya pernah tanyakan langsung kepada kawan yang sangat dekat dengan beliau, ternyata beliau menyatakan: “Benar saya mendapatkan kiriman buku itu, tapi saya belum membacanya apalagi memebri rekomondasi, dan saya tidak ingin terlibat dalam pertikaian umat”. Jika sampul depan dan akhirnya saja dusta, lantas bagaimana dengan isinya?! Sungguh, sangat luaaaar biasa kebohongnya!!!

    3. Buku ini ditunggangi oleh pemikiran Syi’ah sebagaiman dapat diketahui oleh pembaca yang jeli terhadap buku ini. Hal ini sebagaimana telah disingkap oleh Ust. Firanda dalam bukunya, juga AM. Waskito dalam bukunya, ditambah lagi Ust. Agus Hasan Bashori dalam makalahnya berjudul “Waspada! Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” Mengusung Faham Rafidhah (Syi’ah Iran)”. Silakan baca di http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html
    Setelah kita mengetahui beberapa fakta di atas, berikut ini bantahan singkat dan sederhana sebagai partisipasi kai dalam membela kebenaran dan membantah serangan-serangan terhadap kebenaran. Semoga Allah meneguhkan kita semua di atas al-Haq. Amiin

    ReplyDelete
  8. ha2..ulasan yg lucu..bantah dengan data dan ulasan ilmiah dong jgn dengan marah dan caci maki..
    "
    Dan telah sampai kabar kepadaku dari beberapa ikhwan di Jakarta yang terpercaya bahwa nama sesungguhnya adalah Marhadi kebalikan dari Idahram. Bayangkan, jika nama penulisnya saja terbalik, bagaimana dengan isinya?! "
    ulasan kayak gini mau dipercaya?!!

    ReplyDelete
  9. kenyataan yg ada lain koq mas..

    ReplyDelete