BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Tuesday, March 11, 2014

Tinjauan Kritis Terhadap Pandangan Politik Felix Siauw

Muslimedianews.com ~ Saya sangat menghormati Felix Siauw sebagai Da'i dan sebagai saudara muslim yang wajib saling mencintai. Tapi sebagai seorang yang mempunyai latar belakang ilmu dalam bidang politik, saya melihat Felix Siauw, dengan segala hormat, telah menjerumuskan umat awam kedalam lubang kefakiran ilmu politik. Dengan sadar saya memahami posisi beliau yang tidak punya latar belakang studi politik dan mungkin juga dia kurang membaca atau memahami bahwa politik bukan sekedar kira-kira, asumsi apalagi khayalan tapi merupakan sebuah ilmu yang mempunyai pola angka, historik, metodologi dan lain-lain. Maka dari itu tulisan ini bertujuan untuk membuka wawasan saudara Felix Siauw yang saya hormati, mudah-mudahan beliau bisa membaca postingan ini dan bisa bermanfaat kedepannya baik bagi saudara Felix Siauw sendiri ataupun bagi Umat.

Pertama perlu diketahui bahwa saya membahas ini MURNI dari spektrum keilmuan, ilmu politik tepatnya. Saya hanya menganalisa dan meninjau dari sudut pandang ilmu pengatahuan sosial dan politik, tidak ada sangkutpautnya dengan agama dalam konteks eskatologis apalagi menggunakan referensi biblikal (kitab suci).

1. #AntiDemokrasi
Fakta bahwa saudara Felix Siauw (selanjutnya saya singkat dengan inisial FS) pernah menampilkan kultwit yang bertopik #antidemokrasi , maka saya disini mengkritisi mengenai konsep demokrasi apa yang dia maksud. Jujur saya sudah berusaha mendalami maksud beliau dengan "Anti Demokrasi", tapi yang saya dapatkan hanya konsep demokrasi yang menurut saya sebagai non-awam, terlalu di-simplifikasi-kan, cenderung meremehkan mekanisme rumit dalam kehidupan manusia yang serba kompleks dan interdependen.

Demokrasi adalah sebuah "term" atau pengertian yang sangat amat luas. Demokrasi tidak melulu pemilu langsung: datang ke TPS, ambil kertas, coblos foto Capres/Caleg dan siapa Capres/Caleg yang dapat suara terbanyak adalah sang juara. Tidak! Demokrasi lebih luas dari itu. Apakah anda tahu bahwa Fasisme Nazi Jerman, Komunisme Uni Soviet dan Monarki Absolut Arab Saudi masuk ke dalam sistem pemerintahan Demokrasi?

Fasisme NAZI Jerman masuk ke dalam demokrasi karena Jerman kala itu punya perangkat negara/institusi yang "mewakili" suara rakyat Jerman, yaitu partai politik NAZI. Partai NAZI mempunyai perwakilan di tiap distrik (sama seperti Provinsi) hingga tingkatan Kotamadya atau bahkan dibawahnya. Dari hal tersebut itu saja maka NAZI sudah bisa dimasukkan kedalam demokrasi karena mereka memiliki perangkat/alat yang dapat dipergunakan rakyat untuk turut andil dalam jalannya pemerintahan Jerman kala itu. Terlepas dari bagaimana realita dilapangan, dimana alih-alih Partai dapat mengatur negara dan justru Hitler yang mengatur semua sektor bernegara, secara de jure tetap saja Fasisme NAZI masuk dalam demokrasi.

Uni Soviet kurang lebih sama seperti Fasisme NAZI. Dengan partai komunis yang berlaku sebagai partai tunggal dan mempunyai representasi rakyat hingga tingkatan pemerintahan terkecil, telah memenuhi syarat untuk masuk dalam kategori. Terlepas bagaimana implementasinya (de facto), yang pasti komunisme juga masuk ke dalam demokrasi: Ada parlemen tinggi (MPR), ada presiden dan ada perwakilan daerah (DPRD).

Untuk monarki Absolut seperti Arab Saudi, demokrasi nyaris tidak terlihat. Tapi saat dilihat lebih mendalam ternyata unsur demokrasi juga terdapat di Arab Saudi. Ulama-ulama Arab secara unik telah menggantikan posisi Parpol dalam demokrasi kontemporer sebagai perwakilan suara rakyat. Walaupun tidak diatur dalam undang-undang Arab Saudi, namun realitanya Ulama Arab Saudi telah berperan cukup banyak dalam perubahan-perubahan modern di negeri Arab seperti memperbolehkan wanita menyetir mobil, penggunaan fasilitas Socmed dll.

Dari ketiga contoh diatas kita bersama lihat bahwa inti Demokrasi bukan terletak pada mekanismenya (pemilu, parlemen, jumlah parpol, wewenang legislatif, ekesekutif & Yudikatif dll) tapi terletak pada filosofi substruktur bagaimana demokrasi itu muncul: kontrol rakyat terhadap keberlangsungan proses bernegara. Masalah mekanisme itu baru muncul kemudian, apakah itu fasis, komunis, despotis, republik, liberal, demokrasi parlementer, demokrasi presidensial, republik islam, republik rakyat, republik federal, monariki konstitusional, persemakmuran dan lain sebagainya, adalah perkembangan dari demokrasi itu sendiri. (Secara sederhana saya jelaskan seperti itu untuk menghemat waktu dan tulisan. Untuk penjelasan lebih detail mengenai filosofi demokrasi silahkan baca buku Filsafat Ilmu Politik)

FS, dari tulisan-tulisan beliau yang saya simak, seakan-akan menyamaratakan bahwa demokrasi selalu dan pasti pemilu, bebas bicara dan berbuat, rakyat yang seenaknya, ada DPR/MPR dll. Saya tidak tahu darimana FS dapat pengetahuan bahwa Demokrasi selalu identik dengan hal tersebut, namun yang pasti saya bisa katakan bahwa hal itu salah besar. FS sepertinya kurang paham mengenai demokrasi, atau bahkan ilmu politik itu sendiri. Katakanlah FS memang anti-demokrasi, lantas sistem pemerintahan apa yang dia maksud? Saya belajar selama 6 tahun mengenai politik dan saya tak bisa (mungkin karena memang saya dulu mahasiswa bodoh) membayangkan sebuah negara modern, dengan jumlah penduduk 230 juta jiwa, membuat suatu sistem politik yang benar-benar terlepas dari demokrasi.

2. Khilafah

Hal yang lebih membuat saya terbengong-bengong adalah setelah membaca cerita saudara Felix Siauw tentang anti-demokrasi, saya membaca mengenai ide khilafah. Ide khilafah saudara FS adalah menciptakan United Governance atas nama Islam seperti era kekhalifahan. Baik, memang terdengar luar biasa dan bertujuan mulia. Namun yang jadi masalah luar biasa bagi saya adalah inkonsistensi saudara FS dalam penjelasan Khilafah dan demokrasi.

Khilafah, sesuai dengan namanya, adalah sistem politik yang dipraktekan pada era sahabat-sahabat Rasul pasca meninggalnya Rasul. Sistem khilafah ini memang prestasi luar biasa dalam sejarah Islam, membentang dari Persia hingga Eropa, sistem Khilafah mampu mempersatukan semuanya dengan stabilitas politik - ekonomi yang kokoh dan merupakan masa keemasan perkembangan iptek umat manusia. Sistem Khilafah, jika memang Khilafah planet Bumi yang saudara FS maksud, adalah jelas sekali merupakan bagian dari demokrasi.

Khilafah mengandung unsur demokrasi adalah fakta historis. Bila kita runut embrio dari khilafah, yakni pada saat Rasullullah memimpin Medinah & Mekah, dimana Rasullullah menerapkan sistem dimana semua warga, tidak perduli agama/kepercayaannya, mempunyai hak yang sama dalam menyuarakan pendapat kepada Nabi selaku kepala pemerintahan. Rasullullah bersedia mendengar pendapat rakyatnya atau sahabatnya itu sudah termasuk dalam unsur demokrasi, sederhana saja.

Begitupun dengan masa kekhalifahan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan & Ali bin Abi Thalib) yang kurang lebih menerapkan mekanisme dan prinsip yang sama dengan Rasullullah, yakni demokrasi langsung: mendengarkan keluh kesah rakyatnya secara langsung (tanpa perwakilan/representatif) dimana saat itu demokrasi langsung masih sangat mungkin dilakukan karena jumlah penduduk yang relatif masih sedikit.

Bila kita maju lagi, yakni pada masa Bani Ummayah hingga kekaisaran Usmaniyah, kekhalifahan telah mengalami pergeseran makna. Perang antar-bangsa hingga perang saudara, instabilitas politik, pemberontakan hingga kudeta mewarnai masa-masa ini hingga pada akhirnya runtuh total karena perlawanan dari rakyat sendiri pada awal abad ke 20. (Dari sini terlihat bahwa kekhalifahan hanya sekedar sistem, bukan juru selamat. Dan saat sistem dijalankan oleh manusia yang tidak mampu maka sistem itupun akan beroperasi secara tidak normal).

Jadi bila saudara FS menyuarakan anti demokrasi tapi sekaligus menyuarakan menghidupkan kembali Khilafah maka bagi saya agak menggelikan sekaligus miris. Menggelikan karena paradoks antara ide FS tentang demokrasi - Khalifah dan miris karena secara tidak langsung telah membodohi ummat awam yang mendengarnya.

Kedua, saudara FS juga tidak (mudah-mudahan belum atau memang saya yang tidak bisa menemukan tulisannya) menjelaskan bagaimana mekanisme Khilafah, apakah itu republik federal atau kesatuan, apakah itu Monarki konsitusional atau absolut, apakah itu persemakmuran ataukah negara berdaulat dll. Bagaimana mekanisme penegakkan hukumnya, bagaimana mekanisme memilih pemimpin, bagaimana mekanisme penyuaraan rakyat dan institusi yang menampung suara rakyat dan lain-lain. Jika memang saudara FS tidak menjelaskan ini maka sederhana saja ide Khilafah ini hanya akan jadi wacana dan sebatas mentok di website atau koran saja.

Disinilah kebutuan saya dalam mencari tahu ide Khilafah menurut saudara FS karena tulisan beliau yang berada di websitenya hanya menunjukkan Khilafah dari segi biblikal (Quran) tanpa menjelaskan detilnya. Istilahnya, tulisan dan ide FS sejauh yang saya tahu dan telah baca, hanya terbatas pada dalil-dalil Quranic yang memerintahkan pendirian sistem Khilafah alih-alih menjelaskan bagaimana Khilafah itu sendiri.

3. Statement Tendensius
Walaupun keluar dari topik tulisan ini namun hal inilah yang menjadi kritik terbesar saya terhadap saudara FS karena jujur saja, tendensi FS ini sangat jauh dari prinsip keilmuan yang saya pelajari di kampus. Berikut adalah screenshoot akun twitter Felix Saiuw yang saya tangkap malam ini.

Dalam akun twitter terlihat bahwa saudara FS menulis: "Makar dibuat massa anti-pemerintah (baca: anti-islam) di Mesir | namun Allah pasti membuat makar yang lebih baik".

Bagi saya kali ini saudara FS sudah sangat keterlaluan, terlalu berlebihan. Ada puluhan ribu orang yang berdemo anti-pemerintah dan dengan entengnya saudara FS menyebut mereka semua sama dengan Anti-Islam! Saudara FS telah melakukan suatu kesalahan fatal dalam berargumen, yakni generalisasi. Logika yang dipakai FS adalah sama dengan "Mereka tidak suka daging kucing, pasti mereka tidak suka kucing", atau "Kamu benci Tim Sepakbola Arab Saudi, kamu pasti benci Islam", atau "Kamu benci Hitler pasti kamu benci semua orang Jerman", konyol kan?

Saya tidak tahu apakah saudara FS alpha, lupa atau memang sengaja menulis seperti itu. Jika memang alpha atau lupa maka masih bisa saya maklumi, namun jika disengaja maka saudara FS telah berpotensi menggiring umat (followernya) kedalam lubang kebodohan dan prasangka buruk serta fitnah (sebagai orang yang anti Islam) terhadap mereka yang tidak suka dengan Morsi. Dan dalam kapasitasnya sebagai seorang da'i, penggiringan opini semacamnya ini tentu bukan suatu hal yang bisa saya maklumi saat agama yang saya anut dipergunakan untuk menciptakan fitnah berskala massif.

Semoga saja tulisan sederhana ini saja dapat dibaca oleh saudara FS dan dapat menjadi bahan pertimbangan & koreksi untuk berdakwah dikemudian hari. Itupun jika saudara FS bersedia menerima masukan dan kritik dari saya dan mau membaca tulisan ini.

Oleh : Ajie Marzuki Adnan
(Lulusan Universitas Nasional, Fakultas Ilmu Politik - Sosial, Jurusan Hubungan Internasional, Konsentrasi Studi Politik Internasional.)

 
Note: Dalam 24 Jam terakhir sejak tulisan ini diterbitkan, saya sudah beberapa kali meminta saudara Felix Siauw untuk mengoreksi tulisannya mengenai demokrasi dan terutama sekali twitnya mengenai Anti-Islam itu, namun belum ada respon dari yang bersangkutan. Dengan menerbitkan tulisan ini saya bertujuan menarik perhatian saudara FS agar merespon permintaan saya tersebut.

http://www.dagelanwayang.com/2013/07/tinjauan-kritis-terhadap-pandangan.html
« PREV
NEXT »

27 comments

  1. yang menulis "Tinjauan Kritis Terhadap Pandangan Politik Felix Siauw" perlu lebih dalam lagi mempelajari Demokrasi dan Khilafah,
    saya yakin Felix Siauw mau berdiskusi.

    ReplyDelete
  2. Coba baca :

    ..saudara FS juga tidak (mudah-mudahan belum atau memang saya yang tidak
    bisa menemukan tulisannya) menjelaskan bagaimana mekanisme Khilafah,
    apakah itu republik federal atau kesatuan, apakah itu Monarki
    konsitusional atau absolut, apakah itu persemakmuran ataukah negara
    berdaulat dll. Bagaimana mekanisme penegakkan hukumnya, bagaimana
    mekanisme memilih pemimpin, bagaimana mekanisme penyuaraan rakyat dan
    institusi yang menampung suara rakyat dan lain-lain. Jika memang saudara
    FS tidak menjelaskan ini maka sederhana saja ide Khilafah ini hanya
    akan jadi wacana dan sebatas mentok di website atau koran saja.

    Disinilah
    kebutuan saya dalam mencari tahu ide Khilafah menurut saudara FS karena
    tulisan beliau yang berada di websitenya hanya menunjukkan Khilafah
    dari segi biblikal (Quran) tanpa menjelaskan detilnya. Istilahnya,
    tulisan dan ide FS sejauh yang saya tahu dan telah baca, hanya terbatas
    pada dalil-dalil Quranic yang memerintahkan pendirian sistem Khilafah
    alih-alih menjelaskan bagaimana Khilafah itu sendiri.

    ReplyDelete
  3. Mending bikin majelis zikir Mas Felix..

    ReplyDelete
  4. Sayang sekali secara blak-blakan penulis sudah mendistorsi pandangan
    lain (" Saya hanya menganalisa dan meninjau dari sudut pandang ilmu
    pengatahuan
    sosial dan politik, tidak ada sangkutpautnya dengan agama..."). Padahal
    agama (Islam-read) tidak pernah mendistorsi politik. Inilah mengapa
    tidak ada titik temu (demokrasi yang ada dalam pandangan penulis dan
    yang dikritik). Semoga keduanya bisa dipertemukan. Atau bisa juga
    melalui pihak lain. Perlu kita sadari bersama, Website atau media social
    tidak cukup menjadi referensi untuk membuat sebuah tinjauan kritis.

    ReplyDelete
  5. Yg nulis artikel ini lucu.. mengaku lebih paham politik gara2 sekedar lulusan ilmu politik. Gak jamin lebih ngerti boss..

    ReplyDelete
  6. Ahsani Pramudita11 March 2014 at 20:56

    Salam. Referensi mengenai bentuk & struktur Khilafah dapat Saudara Penulis akses di buku Struktur Negara Khilafah terbitan HTI Press. Jika Saudara menghendaki buku tsb, silakan pesan dr penerbitnya, atau dapat juga mendownload versi e-book dr situs Hizbut Tahrir Indonesia. Barokallahu fik.

    ReplyDelete
  7. Fiqa Ummu Raymaza11 March 2014 at 23:08

    Multi tafsir dr demokrasi tdk kmdian melupakan fakta ttg pilar demokrasi yg bertentangan dlm Islam. Paling tidak dr sisi hukumat (penetapan hudud, dan ta'zir), wala wal baro', serta bithonah.

    ReplyDelete
  8. Join the discussion…

    ReplyDelete
  9. Penulis mengklaim dirinya sbg ahli politik tapi dari tulisannya sama sekali menunjukkan ketidaktahuan ya pada sistem demokrasi dan Khilafah sendiri,,,,

    ReplyDelete
  10. Demokrasi??? Bukannya definisi DEMOKRASI ketika diajarkan disekolah dulu berasal dari bahasa YUNANI tahun..... yang artinya DEMOS dan CRATOS?? Kepemimpinan Rakyat /Suara Rakyat sehingga menjadikan Rakyat/ MANUSIA yang layak membuat hukum/aturan untuk diberlakukan mereka?? Lah, Allah Sang Pencipta Manusia yang ngerti manusia, yang sudah membuat hukm untuk manusia mau di taruh mana????

    ReplyDelete
  11. Sistem pemerintahan Islam bukan sistem republik. Sistem
    republik pertama kali tumbuh sebagai reaksi praktis terhadap penindasan sistem
    kerajaan (monarki). Sebabnya, raja memiliki kedaulatan dan kekuasaan sehingga
    ia memerintah dan bertindak atas negeri dan penduduk sesuai dengan kehendak dan
    keinginannya. Rajalah yang menetapkan undang-undang menurut keinginannya. Lalu
    datanglah sistem republik, kemudian kedaulatan dan kekuasaan dipindahkan kepada
    rakyat dalam apa yang disebut dengan demokrasi. Rakyatlah yang kemudian membuat
    undang-undang; yang menetapkan halal dan haram, terpuji dan tercela. Lalu
    pemerintahan berada di tangan presiden dan para menterinya dalam sistem
    republik presidentil dan di tangan kabinet dalam sistem republik parlementer.
    (Contohnya—menyangkut pemerintahan di tangan kabinet—ada di dalam sistem
    monarki yang kekuasaan pemerintahannya dicabut dari tangan raja; ia hanya
    menjadi simbol: ia menjabat raja, tetapi tidak memerintah).

    Adapun dalam Islam, kewenangan untuk melakukan
    legislasi (menetapkan hukum) tidak di tangan rakyat, tetapi ada pada Allah.
    Tidak seorang pun selain Allah dibenarkan menentukan halal dan haram.
    Dalam Islam, menjadikan kewenangan untuk membuat hukum berada di tangan manusia
    merupakan kejahatan besar. Allah SWT berfirman:

    Mereka telah menjadikan para pembesar mereka dan rahib-rahib mereka sebagai
    tuhan selain Allah. (QS at-Taubah [9]: 31).

    ReplyDelete
  12. ZAchary Initial Z13 March 2014 at 07:06

    siapa bilang??? Liat aja status" Ustadz Felix di twitter, Beberapa statusnya yang berbau politik 'islami' sangat mengundang perpecahan. Dakwah macam apa yang justru menimbulkan perpecahan BAHKAN diantara umat isam sendiri.

    ReplyDelete
  13. ZAchary Initial Z13 March 2014 at 07:07

    Itu yang lulusan ilmu politik apalagi YANG TIDAK PERNAH belajar ilmu politik

    ReplyDelete
  14. ZAchary Initial Z13 March 2014 at 07:12

    bukan semua hukum dan bukan semua aturan. Intinya pemberlakuan hukum Islam tidak perlu menunggu adanya legislasi menjadi sebuah aturan "negara". Yang Allah mintai pertanggung jawaban di hari kiamat adalah "orang"-nya, bukan "negara"-nya.
    Agama tidak bisa dipaksakan :)

    ReplyDelete
  15. ZAchary Initial Z13 March 2014 at 07:17

    Harap Ingat firman Allah "laa ikrooha fiddiiin" --> "Tidak ada paksaan dalam beragama"
    Allah Ta'alaa yang punya Jagad aja tidak memaksakan diri kok,.. kenapa pada ribut untuk memaksakan Khilafah?
    Bukankah "khilafah" itu dulu juga pernah gagal dan runtuh? Karena apa? karena penghianatan terhadap Islam itu sendiri oleh oknumnya yang lebih cinta dunia hingga mau disogok oleh orang kafir.
    Jadi, lebih penting ngomongin implemetasi individunya ketimbang memaksakan "khilafah" {pake tanda petik loh ya} kepada masyarakat Indonesia yang majemuk ini.

    ReplyDelete
  16. ZAchary Initial Z13 March 2014 at 07:19

    Paling paling kalah :)

    ReplyDelete
  17. Firman Allah itu bagi Orang kafir, Masbro, tidak berlaku bagi seorang Muslim. ketika seseorang telah mengikrarkan bahwa dia "Bersaksi tidak Ada Tuhan selain Allah dan nabi Muhammad Adalah utusan-Nya" .. Maka konsekuensi dari ikrarnya adalah Taat pada seluruh perintah dan larangan Allah.. BUkan malah bebas.. dan Umat Islam diperintahan masuk Islam secara Kaffah (menyeluruh) melaksanakan seluruh perintah Allah yg dismpaikan melalui Alquran dan Assunah.. JIka Anda muslim seharusnya Anda Faham ini.. dan perlu Anda Ingat ketika KHilaah dulu ada masyarakat yg ada didalamnbya bukanlah masyarakat Homogen. di Madinah terdapat banyak orang munafik, syirik, bahkan kafir.. agama pd saat itupun berbeda2 ada Islam, Nasrani, Yahudi, & Majusi..

    ReplyDelete
  18. ZAchary Initial Z15 March 2014 at 12:50

    yes, dakwah macm itu sangat berpotensi menimbulkan perpecahan

    ReplyDelete
  19. apakah saudara mahmud ahli ilmu politik?

    ReplyDelete
  20. ya dari pada yang ga pernah belajar ilmu politik tetapi sok tau masalah politik,.. lebih lucu lagi

    ReplyDelete
  21. TALK LESS DO MORE LAH..

    ReplyDelete
  22. Assalamu'alaikum wr wb...
    Bener bgt!! Kmrn sy jg meminta penjelasan tentang khilafah bagaimana yg mrk maksud, krn setahu saya khulafaurrasyidin juga menerapkan demokrasi,, krn mrk bilangnya demokrasi kufur, ktk sy tanya pihak mrk (baca: para murid fs) tidak terlalu mau menjawab bbrp pertanyaan saya, dijawabpun jg tidak memenuhi pertanyaan2 saya dan hasilnya hanya jawaban yang "ngambang" . Ironisnya orang2 tidak terlalu kritis menanggapi hal ini, seharusnya umat2 muslim jg melek trhadap sejarah islam agar tidak mudah dibodoh2i.
    Waalaikum slam wr wb

    ReplyDelete
  23. HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), memang begitu bro

    ReplyDelete
  24. HTI memang begitu pandangan politiknya, anti demokrasi, anti Pancasila, dllsb

    ReplyDelete
  25. Bagi sy tulisan ini terkoptasi pemahaman demokrasi. Sehingga memahami demokrasi tdk berdasarkan pandangan ideologi yg jelas. FS menilai demokrasi dari sudut pandang islam. Penulis dari sudut pandang apa yah? Sekuler kah...sosialiskah atau paradigma islam.?

    ReplyDelete
  26. ZAchary Initial Z14 December 2014 at 17:08

    mas bro,..
    ayat itu muncul ketiak ada seorang sahabat Nabi yagn memaksa anaknya harus ikut islam seperti orang tuanya :)

    tolong kalo bealajr yang beres ya :D

    ReplyDelete
  27. Memang betul asababul nuzul Ayat trsebut ktika ada seorang sahabat Nabi yg memaksa anaknya masuk islam. shingga Allah turunkan ayat itu "Tdk ada paksaan dalam beragama" artinya kita (Muslim) tdk boleh memaksa org kafir memeluk Islam. begitu pun Khilafah (Daulah Islam) tdk adakn memaksa org kafir dlm Khilafah untuk masuk Islam. Klo mengatakan tdk perlu mmaksaakan KHilafah kpd Muslim menggunakan dalil ayat tsb, jelas itu keliru. krn ayat tsb "Tdk ada paksaan dalam beragama" brlaku bagi org kafir saja. Tp tdk bagi muslim Khilafah justru adalah perintah Allah yg harus diwujudkan oleh Kaum muslimin. seorang muslim wajib berislam secara kaffah. bagaimana berislam secara kaffah.. tntu berislam secara kaffah adalah menjalankan seluruh perintah ALlah dan menjauhi segala larangan Allah. Islam kaffah tdk akan teruwujud tnpa adanya Khilafah. pengmalan ISlam hanya akn sebatas ibadah ritual saja. Pdahal Islam tdk hanya mengatur tentang IBadah ritual saja.. Wallahua'lam

    ReplyDelete