BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Saturday, August 23, 2014

Inilah Asal Usul Sejarah Pasukan Nasi Bungkus (Panasbung)

Muslimedianews ~ Pasukan Nasi Bungkus atau Panasbung mulai populer didengungkan pada Pemilihan Umumu (Pemilu) 2014. Istilah pasukan nasi bungkus semakin akrab didengar telinga terutama pada saat pertarungan pemilihan presiden antara calon presiden Prabowo Subianto dan calon presiden Joko Widodo (Jokowi). Tahukah anda bagaimana sejarah lahirnya pasukan nasi bungkus ini? Mari kita simak uraian tentang sejarah pasukan nasi bungkus yang bersumber dari Wikipedia Indonesia.

Panasbung merupakan istilah baru bagi orang-orang yang dibayar untuk mendukung calon tertentu dalam pemilihan pejabat pemerintahan. Tugas pasukan nasi bungkus adalah membantah segala hal negatif dan menyampaikan hal positif mengenai calon yang membayarnya, serta menyampaikan hal negatif mengenai calon lawannya. Menggunakan akun palsu atau anonim, pasukan nasi bungkus melakukan aksinya di dunia maya, mulai dari media sosial, kolom komentar di situs berita, hingga forum internet. 

Istilah pasukan nasi bungkus berasal dari kata nasi bungkus, yang biasanya diberikan sebagai makanan konsumsi bagi pendemo bayaran. Sebutan pasukan nasi bungkus awalnya muncul di forum Kaskus, lalu menyebar ke berbagai media sosial lainnya seperti Facebook dan Twitter, dan dari sini kemudian muncul berbagai variasi, diantaranya pasukan nasi kotak (panastak), pasukan nasi kuning (panaskun), pasukan nasi sayur lodeh (panasdeh), pasukan nasi KFC (panasci), pasukan nasi bacang (panascang), pasukan nasi kotak styrofoam (panasfoam), pasukan nasi kampret (panaspret), dan pasukan nasi jeruk (panasruk).

Sejarah Pasukan Nasi Bungkus

Istilah nasi bungkus sebagai sindiran bermula di forum Kaskus, tepatnya di subforum Berita dan Politik, dan awalnya sasarannya adalah Front Pembela Islam (FPI). Banyak pengguna Kaskus menuduh para anggota FPI kerap kali memperoleh konsumsi nasi bungkus setelah melakukan tindakan anarkis. Pada pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta 2012, di mana dua calon terkuatnya adalah Joko Widodo (Jokowi) dan Fauzi Bowo, sindiran tersebut berkembang menjadi pasukan nasi bungkus dan sasarannya pun berubah. Ketika itu para pendukung Jokowi menuduh bahwa akun-akun pendukung Fauzi Bowo di Kaskus merupakan akun bayaran dan sejak itu pendukung Fauzi Bowo disebut sebagai pasukan nasi bungkus. Pendukung Fauzi Bowo membalas dengan menyebut pendukung Jokowi sebagai pasukan nasi kotak (panastak), diambil dari pakaian kotak-kotak yang sering dikenakan oleh Jokowi selama berkampanye. Sementara itu, menurut Yose Rizal dari PoliticalWave, istilah pasukan nasi bungkus dipopulerkan pertama kali oleh sebuah akun anonim di Twitter untuk menyerang pendukung Jokowi.

Variasi lainnya dari pasukan nasi bungkus adalah pasukan nasi kuning (panaskun atau panasning), yang digunakan oleh para pengguna Kaskus sebagai sindiran bagi orang yang dibayar untuk mendukung Partai Golongan Karya (Golkar) dan tokoh-tokohnya seperti Aburizal Bakrie dan Ratu Atut Chosiyah. Sebutan ini diambil dari warna kuning yang sering digunakan oleh Golkar.

Panasbung di masa Pilpres 2014 

Dalam pemilihan umum presiden Indonesia 2014, dimana Prabowo Subianto dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bersaing dengan Jokowi, istilah pasukan nasi bungkus, yang mulai menyebar dari Kaskus ke media sosial lainnya seperti Facebook dan Twitter, dan panastak terus digunakan. Kali ini pasukan nasi bungkus adalah sebutan bagi akun pendukung Prabowo, sedangkan panastak tetap sama.

Pasukan nasi bungkus sebagai pendukung Prabowo diuraikan oleh Majalah Detik, yang memberitakan kesaksian seseorang yang mengaku dibayar 2,5 juta rupiah per bulan, ditambah makan dan minum, untuk menangkis berita negatif tentang Prabowo yang muncul di Facebook dan Twitter. Ia, beserta beberapa puluh orang lain, memperoleh tempat kerja dan jadwal tetap serta diberikan fasilitas yang dibutuhkan seperti komputer dan jaringan internet. Selain membela Prabowo, mereka juga bertugas memberi komentar-komentar negatif mengenai Jokowi.

Hal sebaliknya disampaikan oleh Fadli Zon, wakil ketua umum Gerindra, yang justru menyindir para relawan Jokowi di media sosial sebagai pasukan nasi bungkus. Sindiran ini ia sampaikan melalui sebuah puisi berjudul Pasukan Nasi Bungkus. Berikut adalah puisi yang dimaksud:

Pasukan Nasi Bungkus
Oleh: Fadli Zon

Kami pasukan nasi bungkus
Laskar cyber pejuang di belakang komputer
Senjata kami facebook dan twitter
Menyerang lawan tak pernah gentar
Patuh setia pada yang bayar

Kami pasukan nasi bungkus
Hidup dari cacian dan fitnah harian
Tetap gagah bertopeng relawan
Tak kenal menyerah selalu melawan
Identitas diri jarang ketahuan

Kami pasukan nasi bungkus
Punya sejuta akun siluman
Bagai pedang terhunus
Siap menghujam setiap orang

Kami pasukan nasi bungkus
Tak takut dosa apalagi neraka
Kami bisa tertawa di balik luka
Demi sebungkus nasi dan kiriman pulsa 

Selain itu, Fadli juga berharap adanya tindakan tegas oleh institusi yang berwenang terhadap akun-akun yang dianggapnya sebagai pasukan nasi bungkus tersebut. Puisi Fadli membuat istilah pasukan nasi bungkus menjadi semakin terkenal di berbagai media sosial, salah satunya di twitter, di mana diskusi tentang pasukan nasi bungkus ini menjadi sangat ramai, bahkan muncul tagar #panasbung yang di-retweet ratusan kali.

Menanggapi tuduhan Fadli tersebut, Kubu Jokowi menyampaikan bantahan dan menyatakan bahwa relawan mereka di media sosial tidak dibayar. Juru bicara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang mencalonkan Jokowi, Eva Kusuma Sundari mengatakan, "...Salah kalau nasi bungkus, kita makan prasmanan sayur lodeh...". Hal ini menyebabkan munculnya istilah baru yaitu pasukan nasi sayur lodeh (panasdeh). Sementara itu, para pendukung Jokowi di media sosial, yang menyebut diri mereka Jokowers, juga membantah sindiran Fadli dan menyatakan bahwa pendukung Prabowolah yang merupakan pasukan nasi bungkus. Hal ini didasarkan dari penyelidikan yang mereka lakukan terhadap ratusan akun yang sering memberikan komentar negatif terhadap Jokowi. Mereka mendapati bahwa sebagian besar akun tersebut punya kecenderungan alamat Protokol Internet (IP) yang terkonsentrasi, dengan 7-9 IP induk, menunjukkan bahwa banyak akun yang dikelola oleh satu orang dan bahwa akun-akun tersebut dikelola dan diatur dari beberapa tempat secara terkonsentrasi.

Selama sengketa hasil pemilu presiden 2014, bermunculan sebutan-sebutan baru bagi para pendukung Prabowo di Kaskus. Pada 11 Agustus 2014, orang-orang yang berdemo mendukung Prabowo di dekat gedung Mahkamah Konstitusi (MK) memperoleh konsumsi berupa nasi dan ayam dari KFC, sehingga akun pendukung Prabowo di Kaskus mendapat julukan baru yaitu pasukan nasi KFC (panasci). Kemudian pada 15 Agustus 2014, sebagian pengunjuk rasa Prabowo diberikan konsumsi berupa bacang, yang menyebabkan akun pendukung Prabowo di Kaskus disindir sebagai pasukan nasi bacang (panascang). Lalu pada 19 Agustus 2014, muncul sebutan pasukan nasi kotak styrofoam (panasfoam) setelah adanya berita bahwa para pendukung Prabowo memperoleh konsumsi berupa nasi kotak dengan wadah styrofoam. Dan pada 20 Agustus 2014, koordinator demo Prabowo meneriakkan kata "kampret!" kepada sebagian pendemo lantaran kesal melihat mereka masih berteduh di taman sekitar Gedung MK dan malah menikmati makanan dan minuman dengan beralas lembaran koran dan karpet padahal sudah disuruh untuk melaksanakan apel siaga. Akibatnya di Kaskus muncul sindiran pasukan nasi kampret (panaspret) atau pasukan nasi bungkus kampret (panasbungpret). Terakhir, pada 21 Agustus 2014, ratusan pendukung Prabowo mengepung kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah Sumatera Utara dan hampir menerobos barikade polisi. Untuk menenangkan massa, polisi membagikan buah jeruk, dan para pengguna Kaskus pun memanggil pendukung Prabowo sebagai pasukan nasi jeruk (panasruk).

Tanggapan Pakar Politik

Pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Agung Suprio, mengatakan bahwa sindiran pasukan nasi bungkus untuk akun bayaran muncul dari upah yang dianggap setara nasi bungkus, dan bahwa keberadaan panasbung menunjukkan simbiosis mutualisme antara orang-orang yang membutuhkan uang dengan para calon yang membutuhkan dukungan. Agung menambahkan bahwa pasukan nasi bungkus memiliki kemiripan dengan jenis pendukung lainnya, yaitu akun-akun yang mendukung seseorang secara berlebihan berdasarkan ikatan ideologis. Namun ada perbedaan di antara keduanya, yaitu bahwa pasukan nasi bungkus menggunakan akun-akun yang rata-rata adalah anonim.

Juru bicara Jokowi dalam pemilu 2014, Anies Baswedan, mengaku baru mendengar istilah pasukan nasi bungkus setelah dipopulerkan oleh puisi Fadli Zon. Terkait hal ini, Anies mengimbau agar diskusi politik dilakukan dengan cerdas dan bermartabat karena kampanye pemilu turut memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Anies juga menegaskan bahwa relawan Jokowi memberikan dukungan dengan rasa kebersamaan dan ketulusan tanpa dibayar. Sementara Hatta Rajasa, calon wakil presiden pasangan Prabowo Subianto, memberikan komentar bahwa siapa pun boleh mengeluarkan opini di dunia maya tapi tidak boleh menyampaikan hoax. Hatta menambahkan bahwa kebebasan menyuarakan pendapat merupakan hak setiap orang, dan, dengan kemajuan zaman, semua orang dapat mengakses dunia maya dan mengungkapkan suaranya melalui media tersebut.

Selamat datang pasukan nasi bungkus !



Sumber: Wikipedia.
Redaktur: Ibnu Munir

« PREV
NEXT »

No comments