Top News :
Home » » Islam NUsantara : Tuhan Menggunakan Kata 'Tuhan' Untuk Diri-Nya

Islam NUsantara : Tuhan Menggunakan Kata 'Tuhan' Untuk Diri-Nya

Posted on Monday, 19 January 2015 | garis 05:35

Muslimedianews.com ~ Tuhan menggunakan penamaan "Tuhan" untuk menceritakan diri-Nya, dalam bahasa arab disebut: Rabb atau Ilah. Misalnya firman Allah:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
 "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi". Mereka bertanya: "Adakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yg akan membuat bencana dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa-apa yang kamu tidak mengetahuinya".

Dalam do'a juga kita sering mengucapkan, "Ya Robbana atau Ya Ilahi " yg artinya "wahai Tuhan kami"

Tapi entah mengapa akhir-akhir ini sebagagian ummat Islam yang mengaku dirinya paling Islami banyak yang protes terhadap penulisan Tuhan karena katanya sama dengan penyebutan untuk orang Nashrani, atau terlalu dekat dengan Sang Hyang dalam keyakinan agama lain.

Islam, bagi kita bangsa Indonesia itu Islam NUsantara. Anda boleh menyapa Dia dengann panggilan "Tuhan" atau menyebut "sembahyang" untuk sholat atau "puasa" untuk shaum atau " langgar/surau " untuk mushalla, "ayah" untuk abi, dan lain-lain, Bahkan tak mengapa mas paimin menyebut "sekaten" untuk syahadatain atau mas parjo menyebut "sarengat" untuk kata syari'at.

Pemangku da'wah saat ini sudah banyak yang latah dan terlalu banyak yang melangit, padahal Allah meminta kita menjadi khalifah di bumi, artinya kita justru harus membumi. Turunlah sejenak dari ketinggian. Sapalah mbo tukiyem yang meskipun hanya penjual sayur di pasar kaget, tetapi selalu jujur dalam transaksi dan amat menghargai pembeli.

Islam NUsantara itu ramah lingkungan, sebagaimana budaya lama nenek moyang kita yang menyenangi gotong royong dan kesederhanaan.

Baju koko (asalnya dari kata taqwa), kopiah (asalnya dari kata khufyah) dan sarung (asalnya dari kata syar'an, oleh sebagian orang jawa tengah bagian selatan yg memiliki dialek ngapak akhirnya menjadi syarngan, lalu berevolusi lagi menjadi sarungan ) tak mengapa engkau kenakan, tak perlu juga menggantinya dengan gamis atau sorban putih. Keningmu yang tak menghitam tak perlu digosok-gosok saat sujudmu, biarkan saja, meski tidak berjidat hitam, bukan berarti engkau tidak sholeh.

Mari kita fahami dan amalkn ajaran Islam dengan tetap tidak menyampingkan budaya lokal. Itulah Islam NUsantara, Islam warisan para Aulia' , penyebar agama Islam di bumi NUsantara tercinta.

والله اعلم بالصواب




Sumber : https://www.facebook.com/GenerasiMudaNu/photos/a.208008396019527.1073741825.147701772050190/429555960531435/?type=1


Share this post
:
Comments
4 Comments

+ comments + 4 comments

Muhammad Ramdhan
21 January 2015 at 04:00

Tulisan yang menenangkan....

hafshah
21 January 2015 at 19:44

Ada yg mengatakan:

"Islam datang bukan utk mengubah budaya
leluhur kita jadi budaya arab. Bukan utk 'aku' jadi 'ana', 'sampeyan'
jadi 'antum', 'sedulur' jadi 'akhi'... Kita pertahankan milik kita, kita
harus serap ajarannya, tapi bukan budaya arabnya".

========

Kita katakan:

1. Dalam masalah budaya, tidak mengapa kita menyerap budaya bangsa
lain, selama budaya itu bermanfaat bagi kita dan tdk menyelisihi Ajaran
Islam dan nilai-nilainya.

2. Bahkan kita harus mengganti sebagian
budaya kita, bila memang menyelisihi Islam dan nilai-nilainya, lihatlah
bagaimana dahulu Rosul -shollallohu alaihi wasallam- berjuang keras utk
mengubah budaya-budaya Arab yg menyelisihi prinsip Risalah Islam yg
dibawa beliau.

3. Tentang menyerap bahasa asing, itu juga sudah
sangat lazim di lisan masyarakat kita... I love you, oke, leadership,
yes, no, well, problem, amazing, sorry, thank you, please, dst, adalah
rentetan kata yg banyak digunakan masyarakat kita tanpa ada pengingkaran
yg berarti.

Jika itu TIDAK diingkari, mengapa ketika obyek
serapannya Bahasa Arab diingkari?! Bukankah yg lebih pantas adalah
sebaliknya, karena bahasa arab adalah bahasa yg dipilih Allah untuk
kitab suci yg paling agung, dia juga bahasa yg Allah pilih utk Nabi yg
paling mulia.

4. Jika kita memperhatikan Syariat Islam secara
menyeluruh, kita akan menemukan Isyarat dari Allah, bahwa Dia
menghendaki agar Bahasa Arab bisa menyebar dan membumi bersama Islam.

Lihatlah bagaimana Bahasa Alquran tdk boleh diganti dg bahasa lain,
bahasa sholat tdk boleh diganti dg bahasa lain, dan bahasa dzikir-dzikir
yang sangat banyak tdk boleh diganti dg bahasa lain.

Lihat pula bagaimana Allah menghendaki sumber-sumber utama Ilmu-Ilmu Islam
menggunakan bahasa arab, sehingga utk mempelajarinya harus paham Bahasa
Arab dg baik.

5. Sangat wajar bila lisan kita terbawa oleh
kebiasaan, orang yg biasa belajar Bahasa Arab, atau hidup di Arab;
lisannya akan terbawa dg kebiasaannya... Begitu pula orang yg biasa
belajar Bahasa Barat, atau hidup di sana; lisannya jg akan terbawa dg
kebiasaannya.

Dan yang lebih mengherankan lagi, di sekeliling
kita banyak sekali budaya barat yang diserap oleh masyarakat, semisal:
pakaian ketat, rok mini, pacaran, dansa, dst, tapi seringkali tidak
diingkari... Sebaliknya ketika ada yang bercadar, berjenggot, memakai
jilbab besar, menjaga pandangan, rajin ke masjid, dst, malah diingkari,
digunjing, dan dipersoalkan, wallohul musta'an.

---------


Kesimpulannya: Kata-kata di atas sangat tidak obyektif, diskriminatif
terhadap bahasa arab, dan sangat tdk pantas diucapkan oleh orang yg
cinta kepada Islam, Aqur'an, dan Nabi Agung Muhammad -shollallohu alaihi
wasallam-.

Wallohu a'lam.

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News