Top News :
Home » » Asal Usul dan Sejarah Munculnya Ilmu Gramatika Bahasa Arab (Nahwu)

Asal Usul dan Sejarah Munculnya Ilmu Gramatika Bahasa Arab (Nahwu)

Posted on Monday, 18 May 2015 | garis 19:50

Muslimedianews.com ~ Ilmu Gramatika bahasa Arab tidak asing di kalangan para pelajar, apalagi di kalangan pesantren di Indonesia. Bahkan ilmu ini di buat literatur awal materi pelajaran di hampir seluruh peantren, karena memang ilmu ini termasuk vital dan pondasi ntuk memahami ilmu – ilmu yang lain hususnya kitab suci al qur’an. Tetapi anehnya sejarah ilmu ini seakan menjadi misteri baginya, bahkan banyak yang tidak terbesit sama sekali di benaknya atau acuh tak acuh untuk membuka atau membedah misteri sejarah tersebut. Sungguh sangat di sayangkan sebenarnya.

Banyak sumber yang berbeda–beda mengenai asal usul “Bahasa Arab”. Ada yang mengatakan nama Arab adalah nama suatu golongan atau suku yang terkenal dari keturunannya nabi Ismail AS dan Ya’rub bin Qahthan yang kesehariannya menggunakan bahasa Arab, ada pula yang mengatakan bahwa Arab itu terbagi dua : Aribah yang berbicara menggunakan lisan dan bahasanya Ya’rub dan Musta’ribah yang berbicara menggunakan lisan dan bahasanya nabi Ismail AS (bahasa Arab yang di gunakan sampai sekarang ), ada juga yang mengatakan Allah SWT menciptakan Adam AS dengan sebaik–baiknya ciptaan, dia berbicara menggunakan bahasa Arab ketika di turunkan ke bumi, lalu di rubah lisan dan perkataannya oleh-Nya ke bahasa Suryani, Qibti, Hindi, Ibrani, Yunani dll, setiap satu dari bahasa tersebut di tulis olehnya di gumpalan tanah di hias dan di abadikan sebaik mungkin. Ketika bumi terkena bencana banjir besar hilanglah tulisan – tulisan itu bersama aliran air, nabi Ismail AS lah yang menemukan tulisan yang berbaha Arab, dan pendapat ini seakan memperkuat pendapat ke dua dan inilah yang di buat pegangan dan yang otentik menurut penulis.

Dari zaman dahulu kala (jaman nabi Ismail) sampai zaman jahiliyah (sebelum adanya islam) bahasa Arab sebagai satu – satunya sarana dialog bagi mereka, semuanya di ucapkannya dari hati nuraninya sendiri atau sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. Yang akhir mengambil dari yang awal, yang kecil mengambil dari yang tua sampai seterusnya. Meskipun terdiri dari berbagai kabilah, seperti: Hijaz, Banu Tamim, Toyyi’, Aliyyah dan sebagainya, tetapi semua tidak menjadi kendala dan tidak merubah kebudayaan mereka, hingga munculnya agama Islam.


Islam adalah agama rahmatan lil alamin, jangkauannya adalah seantero dunia. Pertama munculnya islam dari Makkah, tempat di utusnya nabi Muhammad SAW dan turunnya al qur’an. Setelah islam mencapai kejayaannya mulai campurlah orang Arab dengan selain Arab seperti Persi, Rum, dan selainnya, hal itulah yang menyebabkan perubahannya kebudayaan orang Arab, yang salah satunya adalah tercampurnya pengucapan lisan Arab dengan lisan lainnya, sehingga sedikit demi sedikit keotentikan pengucapan bahasa Arab mulai terkikis, dan hal itu semakin nyata dan meluas di masa khalifah sayyidina Ali KW.

Amirul Mu’minin sudah mengetahui semua hal itu, di samping itu Imam Abul Aswad Ad Duali yang ketika itu menjabat sebagai qodli Basrah yang sudah mempunyai inisiatif sebelumnya melapor kepadanya tentang hal perubahan pengucapan bahasa, dia berkata : “wahai Amirul Mu’minin, bahasa Arab telah hilang ketika orang Arab bercampur dengan Ajam (selain Arab), dan di kawatirkan semakin berjalannya waktu hanguslah bahasa arab”. Karena dia memang menyaksikan langsung perubahannya masyarakat sekitarnya.

Salah satu bukti dari beberapa banyak bukti yang mendorong dirinya untuk melapor adalah anak perempuannya sendiri, ketika itu sedang di atab rumah bersamanya, memandang langit sambil berkata kepada Abahnya ucapan yang seharusnya taajub bermakna kagum, oleh putrinya berkata istifham atau sebuah pertanyaan, yang berartikan: “sesuatu apa yang paling indah di langit?” di jawab oleh Abahnya : “bintangnya” “aku tidak bertanya wahai abah tetapi kagum dengan keindahan langit” sahut putrinya, lalu dia berkata : “wahai putriku berkatalah menggunakan lafadz taajjub yang berarti : “sunggung indahnya langit"

Dan terlalu banyak realita perubahan di masyarakat yang sangat di sayangkan . Kemudian Amirul Mu’minin Ali KW memberi nasihat kepadanya (Abul Aswad Ad Duali) untuk membeli lampiran – lampiran dan bangkit mengabadikan kaidah – kaidah ilmu ini, lalu di diktekan kepadanya : Yang berarti : Kalam tidak mungkin keluar dari Isim, Fi’il dan Harf, dan Isim adalah yang keluar dari sesuatu yang di namai, dan Fi’il yang keluar dari perilaku yang di namai, dan Harf adalah yang keluar dari yang bermakna selain Isim dan Fi’il. Lalu beliau RA berkata : Ketahuilah wahai Abul Aswad bahwa sesuatu itu ada tiga macam : Dhahir (kelihatan), Dlomir (tidak kelihatan) dan sesuatu yang antara ada dan tidak, tulislah kaidah – kaidah bahasa dan berjalanlah seperti ini (dari perkataan beliau RA inilah asal mula di namakan ilmu NAHWU ).

Berkata Abul Aswad : kemudian aku kumpulkan semua itu dan aku tambahkan isinya lalu aku setorkan lagi kepadanya . Kemudian muncul generasi setelahnya yang mengambil darinya seperti : Maimun Al Aqwan, lalu muncul lagi setelahnya seperti: Imam Ibnu Ala’, kemudian Imam Khalil, Imam Sibawaih, kemudian terfokuskan menjadi dua : Basrah dan Kufah , dan terus di abadikan generasi - generasi setelahnya hingga sampai sekarang.

Oleh : Moeslich El Malibary
Mahasiswa Imam Syafi'i Yaman..

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News