Top News :
Home » » Bahasa Arab dan Islam Nusantara

Bahasa Arab dan Islam Nusantara

Posted on Tuesday, 19 May 2015 | garis 03:25

Muslimedianews.com ~ Islam bukan Arab, tetapi Islam tidak bisa dilepas dari bahasa Arab. Bagi sebagian kita yang dalam kondisi On Fire mengkaji Islam Nusantara, hendaknya ini dipikirkan secara serius, mengingat saat ini sebagian dari kita antipati terhadap bahasa Arab. Sikap A-priori terhadap yang berbau Arab sebenarnya imbas daripada sikap kaum Wahabi dan sejenis yang kurang memahami teknik berdakwah secara santun. Dakwah yang mereka usung cenderung keras dan melabrak rambu2 budaya masyarakat lokal dengan cacian. Semua yang tidak sesuai dengan budaya Arab dianggap Kafir, Ahli Bid’ah, Musyrik dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu, kata Salafy yang dulu dipakai sebagai jargon pondok-pondok tradisional di Indonesia, saat ini maknanya menjadi bias. Banyak yang beranggapan, kata salafy cenderung berafiliasi pada Wahabi, padahal nyatanya tidak, sekali lagi tidak. Miris memang, lalu harus bagaimana? Satu2nya jalan adalah dengan menambah wawasan lewat mediasi belajar. Belajar kepada guru yang jelas, jangan belajar pada google atau kepada ustadz-ustadz instan yang bermodal sorban dan kemampuan beretorika.

Mengenai bahasa Arab, kita tidak bisa melepaskan Islam dari Bahasa Arab. Karena sendi-sendi agama Islam bermuara pada al-Qur’an dan al-Sunnah yang kedua2nya berbahasa Arab. Al-Qur’an berbahasa Arab merupakan ketentuan Allah dan itu hak Parerogatif-Nya yang tidak bisa diganggu gugat. Saya pun mengakui, pemakaian bahasa Arab di sana memang erat kaitannya dengan aspek budaya Bangsa Arab, karena memang Islam secara normatif lahir dan berkembang di Arab. Dalam kajian Antropologi Budaya, antara bahasa dan budaya merupakan pertautan yang tidak bisa dipisahkan.

Namun, setelah Islam menjadi agama besar dan menyebar ke seluruh penjuru dunia, maka budaya Arab pun sedikit demi sedikit luntur. Hal ini disebabkan karena umat Islam di berbagai wilayah mempunyai tradisi sendiri-sendiri, sehingga mau tidak mau harus ada sebuah paradigma baru agar Islam benar-benar bisa diterima sebagai agama yang mengusung Rahmatan lil Alamiin. Untuk itu, di sini peran Ijtihad diperlukan. Alhasil, lewat Ijtihad ini al-Qur’an dan al-Sunnah dirasa oleh umat Islam sebagai pijakan yang menembus ruang dan waktu.

Islam Nusantara, bukan berarti kita merubah bahasa Arab di dalam shalat ke bahasa Lokal. Bukan pula membaca al-Qur’an yang berbahasa Arab ke versi bahasa Indonesia. Islam Nusantara sejauh yang saya pahami adalah Islam yang menyelaraskan antara kebudayaan lokal dengan ajaran Islam sehingga tidak terkesan kontradiktif. Islam tidak anti budaya lokal, karena Islam bukan hanya agama bagi bangsa Arab. Prinsip Islam Nusantara adalah Almuhafadzah alaa al-Qadiim al-Shaleh wal al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah (Mempertahankan tradisi lama yang baik, dan mengadobsi tradisi baru yang lebih baik). Semoga bermanfaat!

Oleh : Mohammad Khoiron
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama DKI Jakarta

via Kompasiana

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News