Top News :
Home » » Berbicara NU Adalah Berbicara Perjuangan

Berbicara NU Adalah Berbicara Perjuangan

Posted on Tuesday, 5 May 2015 | garis 08:30

Muslimedianews.com ~ Saya agak mengerti tentang NU adalah dari ayah dan ibu saya sendiri. Sejak kecil, sewaktu masih hidup di pedesaan bersama  kedua orang tua, saya selalu diberi contoh menjadi NU yang seharusnya. Organisasi yang dipimpin oleh  para ulama ini,  menurut ayah saya,  adalah bertujuan untuk memperjuangkan agar Islam menjadi pedoman hidup di tengah-tengah masyarakat. Ayah selalu menggambarkan bahwa Islam itu indah, oleh karena itu orang harus diajak  untuk menjalani hidup yang indah itu. 

Ayah saya selalu berbicara tentang tabligh, yaitu mengajak orang agar  sehari-hari menjalankan ajaran Islam.  Bertabligh itu, masih kata ayah saya, tidak gampang. Sekalipun Islam itu disebut sebagai  ajaran, yang jika dijalankan, menyejukkan dan indah, akan tetapi tidak semua orang segara menyambutnya dengan baik. Tabligh itu harus disampaikan dengan hati-hati, sabar, dan juga arif. Ayah menjelaskan, bahwa  bertabligh itu bagaikan menyuapi anak kecil.

Siapapun, tidak terkecuali  anak kecil membutuhkan makanan, tetapi belum tentu mereka sedemikian mudah disuapi.   Untuk menyuapi anak kecil tidak perlu ia diajak duduk di ruang makan,  tetapi akan lebih tepat justru  dibawa ke tempat yang menyenangkan. Bahkan, jika perlu, anak  kecil dimaksud harus  digendong.  Mereka dihibur, diajak menyanyi, ditunjuki binatang atau apa saja agar senang. Di tengah suasana gembira itu,  nasinya disuapkan. Pekerjaan itu harus telaten, kadang hingga berjam-jam, baru nasinya habis.

Bertabligh atau berdakwah,  kata ayah saya, harus seperti menyuapi anak kecil itu. Tidak boleh dipaksakan.  Mengajak seseorang pada Islam harus dilakukan dengan bijak. Para wali songo dulu dalam berdakwah hingga berhasil juga lewat berbagai cara, di antaranya lewat seni. Cerita pewayangan, syi’ir,  berbagai jenis tembang, dan lain-lain  digunakan untuk berdakwah. Pada akhir-akhir ini, di beberapa kota, para kyai berdakwah melalui  kegiatan dzikir bersama. Lewat cara itu, maka nilai-nilai Islam masuk pada alam kesadaran sehingga, ——-bisa saja, tidak dirasakan.

Para kyai pada umumnya dalam bertabligh menempuh cara sebagaimana yang dilakukan oleh seseorang yang sedang  menyuapi bayi. Oleh karena itu, dakwah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu tidak mendapatkan resistensi. Para ulama atas pendekatannya yang sabar, telaten, ikhlas, dan arif, mereka  justru menjadi dihormati. Para kyai  dianggap benar-benar sebagai orang yang diperlukan. Mereka hadir untuk mengajak kepada kebaikan dan keselamatan.  Dalam berdakwah, para kyai tidak memasang target tentang keberhasilannya. Tabligh itu secara terus menerus dijalankan, sedangkan keberhasilannya, mereka bertawakkal, menyerahkan kepada Dzat Pemberi Hidayah.

Oleh karena peran  kyai  adalah memberikan bimbingan dan juga ketauladanan,   maka di dalam organisasi NU  tidak dikenal adanya persaingan dan apalagi perebutan untuk menjadi pengurus  atau  pemimpinnya. Atas kenyataan dan pandangan seperti itu, seseorang yang telah menjadi pengurus NU biasanya tidak diganti-ganti sebelum yang bersangkutan wafat  atau mengundurkan diri  dari jabatannya dan atau meminta diganti.  Tugas kyai  dalam bertabligh memang tidak harus dijalankan setelah yang bersangkutan menjadi pengurus organisasi. Siapa saja boleh, asalkan mampu menjalankannya.

Selain itu, di kalangan para ulama atau kyai terdapat adab yang selalu dipegangi tatkala akan menjadi pemimpin. Kepemimpinan, termasuk di organisasi NU adalah dianggap sebagai amanah yang tidak ringan. Pemimpin adalah  orang yang dijadikan panutan, didengarkan nasehatnya, dijadikan contoh,  dan dituakan dengan berbagai beban sosialnya. Selain itu, dalam konsep NU,  amanah tidak boleh dicari dan apalagi harus diperebutkan. Bagi kebanyakan kyai, amanah itu diberikan saja,  tidak selalu segera diterimanya, dan bahkan kadang sebaliknya, harus  dipaksa untuk menerima.  Kyai tidak  segera menerima amanah kepemimpinan,  jika masih ada yang lain yang diangap lebih sepuh  dan lebih alim.

NU  adalah organisasi para kyai yang  sebenarnya  merupakan  tempat  berjuang untuk menyeru kepada  orang lain agar berperilaku sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, dengan pedoman al Qur’an dan hadits.  Orang yang dijadikan sebagai  sasaran tabligh  hingga menjadi muslim atau meningkat kualitas keberagamaannya,   bukan melalui  tekanan atau paksaan, tetapi atas  kesadarannya sendiri.  Mereka  diajak dengan cara yang santun,  berhati-hati,  dan juga arif.  Tugas  mengajak, mendidik atau menyeru kepada kebaikan itu juga atas dasar keikhlasan, merupakan panggilan hati nurani, dan memenuhi ajaran  agamanya.

Oleh karena NU adalah kumpulan  para kyai yang sehari-hari beraktifitas  menyeru pada kebaikan, maka  berbicara NU adalah berbicara perjuangan. Selanjutnya, sebagaimana lazimnya orang berjuang juga selalu diikuti dengan pengorbanan. Atas  pemahaan seperti itu,  adalah   wajar,  menjelang  muktamar yang akan dilaksanakan pada tanggal 1-5 Agustus 2015  yang akan datang,  seumpama   terjadi  pembicaraan tentang siapa yang seharusnya memimpin NU ke depan,  bukan dalam konteks   memilih antara yang baik dan tidak baik, atau antara yang disukai atau yang tidak, melainkan memilih di antara calon pemimpin yang  secara total dan maksimal memiliki kesediaan  berjuang dan sekaligus berkorban itu.  Sebab,  berbicara NU sebenarnya adalah berbicara tentang  perjuangan dan pengorbanan. Wallahu a’lam.     

Oleh : Imam Suprayogo

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News