Top News :
Home » , » Biografi Muhammad ibn ʿAbd al-Wahhāb dalam Encyclopædia Britannica (EB)

Biografi Muhammad ibn ʿAbd al-Wahhāb dalam Encyclopædia Britannica (EB)

Posted on Saturday, 9 May 2015 | garis 16:25

Muslimedianews.com ~ Encyclopaedia Britannica (EB) adalah ensiklopedia umum berbahasa Inggris yang diterbitkan oleh Encyclopædia Britannica, Inc. dan merupakan ensiklopedia tertua di dunia yang masih terbit. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1768 di Edinburgh, Skotlandia.

Dianggap oleh banyak pihak sebagai otoritas tertinggi dalam bidang ini, artikel-artikelnya biasanya dianggap akurat, tepercaya, dan ditulis dengan baik. Artikel dan gambarnya berjumlah sekitar 100.000 dengan sekitar 4000 orang sebagai kontributor.  Pada edisi ketiga yang diterbitkan pada tahun 1801, ensiklopedia ini tersusun hingga 21 jilid. Pada tahun 1901, penerbitan Encyclopædia Britannica berpindah ke Amerika Serikat. Di masa kini, ensiklopedia ini juga sudah membuka situs web ensiklopedia online yang diperbarui setiap harinya dan bisa didapatkan dalam bentuk DVD-ROM maupun CD-ROM.

Anak-anak sekolah zaman sekarang mungkin sudah tidak banyak atau bahkan tidak ada yang mengenal EB. Mereka kini lebih akrab dengan Google atau wikipedia sebagai salah satu sumber informasi dan referensi.

Nah, bagaimana Encyclopædia Britannica menuturkan tentang pendiri Wahhabi Syaikh Muḥammad ibn ʿAbd al-Wahhāb. Berikut redaksi dalam bahasa Inggris dan terjemahan dalam bahasa Indonesia.
*****

Muhammad Ibn Abdul Wahhab
Muḥammad ibn ʿAbd al-Wahhāb, (born 1703, ʿUyaynah, Arabia [now in Saudi Arabia]—died 1792, Ad-Dirʿīyah), theologian and founder of the Wahhābī movement, which attempted a return to the “true” principles of Islam.

Having completed his formal education in the holy city of Medina, in Arabia, ʿAbd al-Wahhāb lived abroad for many years. He taught for four years in Basra, Iraq, and in Baghdad he married an affluent woman whose property he inherited when she died. In 1736, in Iran, he began to teach against what he considered to be the extreme ideas of various exponents of Sufi doctrines. On returning to his native city, he wrote the Kitāb at-tawḥīd (“Book of Unity”), which is the main text for Wahhābī doctrines. His followers call themselves al-Muwaḥḥidūn, or “Unitarians”; the term Wahhābī is generally used by non-Muslims and opponents.

ʿAbd al-Wahhāb’s teachings have been characterized as puritanical and traditional, representing the early era of the Islamic religion. He made a clear stand against all innovations (bidʿah) in Islamic faith because he believed them to be reprehensible, insisting that the original grandeur of Islam could be regained if the Islamic community would return to the principles enunciated by the Prophet Muhammad. Wahhābī doctrines, therefore, do not allow for an intermediary between the faithful and Allah and condemn any such practice as polytheism. The decoration of mosques, the cult of saints, and even the smoking of tobacco were condemned.
When the preaching of these doctrines led to controversy, ʿAbd al-Wahhāb was expelled from ʿUyaynah in 1744. He then settled in Ad-Dirʿīyah, capital of Ibn Saʿūd, a ruler of the Najd (now in Saudi Arabia).

The spread of Wahhābīsm originated from the alliance that was formed between ʿAbd al-Wahhāb and Ibn Saʿūd, who, by initiating a campaign of conquest that was continued by his heirs, made Wahhābīsm the dominant force in Arabia since 1800.
*****
Terjemahan :
Muhammad bin ʿAbd al-Wahhab, (lahir 1703 M / 1115 H, ʿUyaynah, Saudi [sekarang Arab Saudi]-meninggal 1792 M/1206 H, Ad-Dirʿ iyah), seorang teolog dan pendiri gerakan Wahhabi, yang berusaha kembali kepada prinsip-prinsip Islam yang “benar”.

Setelah menyelesaikan pendidikan formalnya di kota suci Madinah, di Arabia, ʿ Abd al-Wahhab tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun. Dia mengajar selama empat tahun di Basra, Irak, dan di Baghdad ia menikahi seorang wanita kaya yang memiliki properti yang ia warisi ketika wanita itu meninggal. Pada tahun 1736, di Iran, ia mulai mengajar dan menentang terhadap apa yang dia anggap sebagai gagasan ekstrim dari berbagai ajaran Sufi. Ketika kembali ke kota asalnya, ia menulis sebuah kitab at-Tauhid ("Kitab tentang Keesaan Allah"), yang merupakan teks utama bagi Doktrin Wahhabi. Para pengikutnya menyebut diri mereka sebagai al-Muwaḥḥidūn, atau "Unitarian", yaitu istilah Wahhabi yang biasa digunakan oleh non-Muslim dan lawan-lawannya.

Ajaran ʿAbd al-Wahhab dikarakteristikkan sebagai ajaran yang bersifat puritan dan tradisional, seperti pada masa permulaan agama Islam. Di dalam akidah Islam dia dengan terang-terangan menentang segala seauatu yang berbau bid’ah (innovasi). Dia berkeyakinan bahwa semua bid’ah itu tercela (sesat). Dia bersikeras mengatakan bahwa kemegahan murni Islam bisa diraih kembali jika masyarakat Islam kembali kepada ajaran-ajaran sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad. Oleh karena itu, doktrin Wahhabi tidak mengakui adanya perantara (tawassul) antara keyakinan terhadap sesuatu dan Allah, dan mengutuk setiap praktek yang berbau syirik (politheisme). Dekorasi masjid, ziarah ke makam-makam orang suci (seperti Nabi, waliyullah, orang shaleh dsb), dan merokok pun dikutuknya.

Ketika dia berkhutbah mengajarkan tentang doktrin-doktrin ini yang mengarah kepada kontroversi, ʿAbd al-Wahhab diusir dari ʿUyaynah pada tahun 1744. Kemudian, dia menetap di ad-Dir’ iyah, ibukota Ibnu Saʿud, penguasa Najd (sekarang Arab Saudi).

Penyebaran Wahhabisme berasal dari aliansi yang dibentuk antara Ibn Abd al-Wahhab dan Ibn Saʿud, yang dengan tegas dia mengkampanyekan penaklukan yang kemudian dilanjutkan oleh ahli warisnya, sehingga menjadikan Wahhabisme sebagai kekuatan dominan di Arabia sejak tahun 1800.

Sumber EB / britannica.com, via thobary.com

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News