Top News :
Home » , » Bongkar Wahabi Tidak Punya Aturan Dalam Memahami Nash Al-Quran

Bongkar Wahabi Tidak Punya Aturan Dalam Memahami Nash Al-Quran

Posted on Saturday, 16 May 2015 | garis 07:00

Muslimedianews.com ~  Allah ta'ala berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ
“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi “ (Q.S. as-Syura:11)

Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur'an yangmenjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya dari segi apapun, berikut penjelasannya :

Secara Nahwu :

Lafadz “ syaiun “(شَيْئٌ) dalam ayat itu disebutkan dalam bentuk isim Nakirah setelah susunan Nafyun (penafian) (لَيْسَ), sedangkan isim Nakirah jika disebutkan setelah Nafyun, menjadi makna yang menyeluruh, artinya Allah menafikan keserupaan dan kesamaan Dzatnya dengan semua apapun dari makhluk-Nya.

Secara Balaghah :
Dalam ayat tersebut, kalimat tasybih Kaaf dan Mitsl menjadi satu. Jika kedua kalimat tasybih ini menjadi satu dalam konteks penafian, maka berfaedah menafikan sekecil-kecilnya penyerupaan.

Tasybih yang dibuang huruf tasybihnya, maka disebut tasybih muakkad, contoh : Zaidun Asadun (Zaid adalah singa). Dan tasybih yang disebutkan huruf tasybihnya, maka disebut tasybih mursal, contoh : Zaidul kal asadi (Zaid seperti singa).

Tasybih muakkad lebih kuat daripada tasybih mursal. Dan tasybih mursal lebih lemah daripada tasybih muakkad. Zaid adalah singa lebih kuat arah penyerupaannya ketimbang Zaid seperti singa. Dan tiap kali huruf tasybih ditambah, maka akan semakin lemah arah penyerupaannya. Zaid kal asad (zaid seperti singa) lebih kuat ketimbang zaid kamitslil asad (zaid seperti umpama singa) karena ada tambahan huruf kaf dan mistl.

Kemudian jika tasybih yang paling lemah dimasukkan huruf nafyin (penafian), maka faedahnya adalah menafikan sekecil apapun dari keserupaan yakni menafikan arah penyerupamaan dari segala sudut.

Maka ayat di atas maknanya sesungguhnya Allah tidak ada satu pun makhluk yang menyerupainya dari segi apapun. Huruf kaf dalam ayat menafikan mumatsalah (persamaan) dan huruf mitsl menafikan musyabahah (penyerupaan). Maka ayat di atas menafikan mumtasalah dan musyabahah secara bersamaan. Contoh :

Jika kita berkata : (زيدٌ ليس كالأسد) maka kalimat itu berfaedah bahwa Zaid tidak menyerupai singa dari sebagian sisinya.

Tapi jika kita katakan : (زيدٌ ليس مثل الأسد) maka kalimat itu berfaedah bahwa Zaid tidak menyerupai singa dari semua sisi.

Dan jika kita katakan : (زيد ليس كمثل الأسد) maka kalimat itu faedahnya lebih sempurna dan mencangkup artinya sesungguhnya Zaid tidak sama dan tidak serupa dengan singa dari sisi manapun.


Jika kita artikan lafadz Mitsl dalam ayat itu berfungsi sebagai shifat, maka terkandung peringatan bahwasanya Allah Ta’ala walaupun disifati dengan banyak sifat-sifat manusia, maka persekutuan dalam sifat-sifat itu hanyalah dari segi lafadz bukan secara hakikatnya. Dan jika kita artikan mistl di situ sebagai syabih (serupa), maka itu adalah peringatan bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya.


Dan lafadz Mitsl dalam ayat tersebut adalah lafadz-lafadz yang paling umum bagi penyerupaan. Al-Imam ahli lughah Fairus Abadi mengatakan :

أن الند يقال فبما يشاركه في الجوهرية فقط , والشكل يقال فيما يشاركه في القدر والمساحة , والشبه يقال فيما يشاركه في الكيفية فقط , والمساوي يقال فيما يشاركه في الكمية فقط , والمثل عام في جميع ذلك , ولهذا لما أراد الله نفي التشبيه من كل وجه خصه بالذكر , فقال تعالى في سورة الشورى : "ليس كمثله شيء
“ Sesungghnya Nidd itu sesuatu yang menyerupai di dalam materinya saja. Syakl menyerupai di dalam kadar dan batasan. Syabah menyerupai di dalam kaifiyyah saja. Al-Musawi menyerupai di dalam al-kumyah saja. Dan Mistl menyerupai secara umum di semua itu. Oleh sebab itu ketika Allah hendak menafikan tasybih dari segala sisi, Allah memilih secara khusus lafadz mitsl, maka Allah berfirman dalam surat asy-Syura, “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi “

Kesimpulannya : Ayat di atas menunjukkanbahwasanya Allah Maha Suci dari segala bentuk keserupaan atas makhluk-Nya. Maka persekutuan / perkongsian antara sifat Allah dan sifat Makhluk-Nya hanyalah persekutuan secara lafadznya saja bukan secara hakikatnya.

Al-Imam Baihaqi mengatakan :

ثم يعلم أن صانع العالم لا يشبه شيئا من العالم لأنه لو أشبه شيئا من المحدثات بجهة من الجهات لأشبهه في الحدوث من تلك الجهة , ومحال أن يكون القديم محدثا أو يكون قديما من جهة حديثا من جهة
“ kemudian hendaknya mengetahui, sesungguhnya Pencipta Alam tidaklah menyerupai akan sesuatu apapun dari alam ini. Karena jika Dia menyerupai sesuatu dari perkara yang baru (makhluk) dengan suatu arah, maka niscaya Allah akan menyerupai makhluk itu dalam kebaruannya dari arah itu. Dan mustahil Dzat yang Maha Dahulu itu bersifat baru atau bersifat Maha Dahulu dari segi satu arah dan bersifat baru dari segi arah lainnya “. (Al-I’tiqad : 37)


Oleh : Ust. Ibnu 'Abdillah Al-Katibi


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News