Top News :
Home » , , » Hubungan Sunni dan Syi'ah di Saudi Ternyata Dekat, Penting Dibaca!

Hubungan Sunni dan Syi'ah di Saudi Ternyata Dekat, Penting Dibaca!

Posted on Saturday, 9 May 2015 | garis 05:45

Muslimedianews.com ~ Tulisan ini dimuat di Gatra.com degan judul "Sumanto Al Qurtuby: Relasi Sunni-Syiah di Arab Saudi". Diterbitkan dalam Kolom Majalah GATRA, Edisi 27 tahun XXI, Beredar Kamis, 7 Mei 2015.

Sumanto Al Qurtuby adalah seorang Profesor antropologi dan sosiologi di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi. Ia memperoleh gelar doktor dari Boston University. Ia juga disebut-sebut sebagai salah seorang kader Nahdlatul Ulama (NU).

Berikut paparannya: 
*** ***********
1. Relasi Sunni-Syiah di Arab Saudi

Fenomena dan gerakan anti-Syiah kembali marak di Indonesia. Syiah dikepung dari berbagai penjuru angin dengan berbagai dalil dan dalih: dari teologi-keagamaan (seperti ajaran-ajaran Syiah yang dianggap “menyimpang” dari kanon resmi Islam) sampai politik kekuasaan (misalnya bahaya laten revolusi Syiah bagi NKRI).

Jika dulu, pada masa Orde Baru, gerakan anti-Syiah didengungkan oleh negara karena kekhawatiran “virus revolusi politik” Syiah Iran tahun 1979 akan menular di Indonesia, kini gerakan anti-Syiah dikomandoi oleh sejumlah tokoh Muslim dan ormas Islam yang tidak hanya didasari oleh kekhawatiran berlebihan—dan mengada-ada—terhadap “efek domino” politik Syiah Timur Tengah di Indonesia tetapi juga dilandasi oleh tuduhan penyimpangan teologi-keagamaan Syiah.

Sayangnya, Syiah tidak hanya menjadi sasaran kritik sejumlah kelompok Islam konservatif tetapi juga target kekerasan fisik seperti terjadi di Sampang, Bogor, dan Lombok.

Banyak pihak menyebut Saudi-Wahabi sebagai “dalang” di balik gerakan anti-Syiah di Tanah Air. Tetapi menariknya, di Saudi sendiri gerakan anti-Syiah tidak sevulgar dan semarak di Indonesia. Tidak ada poster, spanduk, atau selebaran-selebaran provokatif kontra Syiah.


Juga tidak ada pengajian-pengajian akbar anti-Syiah yang bergemuruh. Para khatib Jumat memang sering menekankan umat Islam untuk menghindari praktek bid’ah dan khurafat serta menjalankan ajaran Islam yang “murni dan konksekuen” yang sebetulnya merupakan kritik terhadap Syiah tetapi tidak menyebut secara langsung kesesatan Syiah.

Yang sering menyebut Syiah secara terang-terangan sebagai heretik, rafidah, dan murtad adalah para ulama Wahabi ultrakonservatif.

Hal menarik lain di Arab Saudi dewasa ini adalah tidak adanya gerakan masif dari tokoh dan ormas Islam untuk memobilisasi massa guna menyerang kantong-kantong Syiah seperti terjadi di Indonesia. Kekerasan terhadap Syiah di Saudi lebih banyak dilakukan oleh “oknum” negara dan sayap ultraradikal Wahabi. Perlu dicatat tidak semua pengikut Wahabi adalah radikal dalam tindakan, meskipun mereka tentu saja radikal dan konservatif dalam pandangan dan pemikiran keislaman.

Ada banyak teman-teman saya yang Wahabi yang tidak setuju dengan pandangan-pandangan keagamaan Syiah yang dinilai melecehkan Islam, Al-Qur’an, Nabi Muhammad, dan para sahabat, serta dianggap menyimpang dari ajaran fundamental Islam. Tetapi mereka menolak untuk melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap komunias Syiah. Mereka bahkan menuding kekerasan anti-Syiah di distrik Dalwah di Saudi timur, yang dilakukan oleh para penembak bertopeng pada November 2014, lalu dilakukan oleh ekstremis Islamic State (baca ISIS—Islamic State of Iraq and Syria) yang ingin mengusik stabilitas politik Saudi.

2. Raja Fahd dan Rekonsiliasi Terhadap Syiah

Pula, tidak semua rezim Saudi adalah anti-Syiah. Mendiang Raja Fahd (1921-2005) dan Raja Abdullah (1924-2015), misalnya, adalah sosok pemimpin liberal-moderat yang proaktif menggalang toleransi, perdamaian, dan rekonsiliasi terhadap Syiah.

Raja Fahd pernah menginstruksikan untuk menghapus semua kata dan istilah yang mengandung nuansa penghinaan dan pelecehan terhadap Syiah dari buku-buku teks yang dipakai di sekolah-sekolah untuk kemudian diganti dengan istilah-istilah yang lebih toleran dan bersahabat.

Ia juga memerintahkan untuk menghilangkan segala kebijakan diskriminatif anti-Syiah, membolehkan pengikut Syiah Saudi di pengasingan untuk pulang, melepaskan para pemimpin Syiah dari tahanan, membolehkan warga Syiah untuk bekerja di lembaga-lembaga pemerintahan dan sektor swasta, serta aneka policy progresif lain untuk memperbaiki kondisi warga Syiah di Saudi.

Di universitas milik Kerajaan Saudi tempat saya mengajar saat ini, King Fahd University, juga banyak dijumpai para profesor Syiah dan beberapa di antaranya menduduki jabatan sebagai dekan atau ketua departemen seperti Samier Al-Bayat, Badr Al-Humaidi, Jaafer bin Moosa, dan lain sebagainya.

Raja Fahd bahkan pernah memecat Imam Masjid Nabawi di Madinah karena melakukan propaganda anti-Syiah pada waktu khutbah Jum’at ketika ada kunjungan Ayatullah Akbar Hashemi Rafsanjani.

Raja Abdullah juga menerapkan kebijakan yang tidak kalah spektakuler dengan pendahulunya, Raja Fahd, seperti membolehkan warga Syiah untuk menggunakan buku-buku Syiah di sekolah-sekolah mereka. Ia juga merevisi kurikulum nasional dan memasukkan materi-materi non-Wahabi ke dalam kurikulum agar para siswa bisa mempelajari dan memahami aneka ragam pandangan keislaman.

Raja Abdullah juga aktif menggalang dialog dengan para tokoh Syiah Saudi kharismatik seperti Sheikh Hassan al-Saffar. Singkatnya, almarhum Raja Abdullah, seperti ditulis Rob Sobhani dalam buku: King Abdullah of Saudi Arabia: A Leader of Consequence, dengan berbagai kebijakan pluralis-progresifnya di bidang pendidikan, perdamaian, politik-ekonomi, keagamaan, emansipasi perempuan.

Berbagai upaya dan kebijakan yang sering kali mendapat protes, kritik, dan tantangan dari kubu konservatif-radikal Wahabi—turut membantu menciptakan stabilitas politik Arab Saudi meskipun berbagai negara Arab dan Timur Tengah diguncang kekacauan sosial dan revolusi politik sejak 2010.

Sejumlah tokoh dan ulama Syiah Saudi yang saya wawancarai seperti Sheikh Ibrahim al-Battat, Sayyid Hashim bin Muhammad bin Nasr al-Salman, dan Sheikh Humaidan al-Qatifi juga mengekspresikan rasa simpati dan hormatnya kepada Raja Abdullah yang menerapkan sejumlah kebijakan positif-konstruktif terhadap Syiah.


3. Sejarah Kelam Syiah di Arabia
Upaya pembangunan perdamaian, relasi positif, dan rekonsiliasi Sunni-Syiah di Saudi—dan juga negara-negara lain di Arab dan Timur Tengah—bukanlah perkara mudah mengingat perseteruan kedua kelompok Islam ini sudah “mengerak” dan berlangsung sejak ratusan tahun silam.

Syiah juga memiliki sejarah kelam di Arabia. Sejarah dan asal-usul Syiah di kawasan ini sering dikaitkan dengan sekte Qaramitah, sebuah kelompok agama sinkretik yang memadukan elemen-elemen Syiah Ismailiyah dengan mistisisme Persia, yang berpusat di al-Ahsa (Hasa) di Provinsi Ash-Syarqiyah.

Pada 899 M, kelompok ini pernah mendirikan sebuah negara utopis berbasis agama. Sekte vegetarian ini—karenanya sering disebut al-Baqliyyah—juga pernah melakukan pemberontakan terhadap Dinasti Abbasiyah. Pemimpin sekte ini, Abu Tahir al-Jannabi, pada tahun 930, pernah memimpin pengepungan kota Makah, mencuri dan memindahkan Hajar Aswad ke al-Ahsa, serta mengotori sumur Zamzam dengan tumpukan mayat.

Sekte Qaramitah sudah tenggelam dalam limbo sejarah. Kaum Syiah masa kini yang menempati Saudi adalah pengikut Imamiyah (Itsna Ashariyah) sebagai mayoritas yang kebanyakan tinggal di Provinsi Ash-Syarqiyah di ujung timur Saudi, khususnya Ahsa, Qatif, Khobar, dan Dammam yang merupakan daerah kaya minyak dan pusat industri.

Ada juga pengikut Syiah Imamiyah di Madinah yang menamakan diri Nakhawila. Pengikut Syiah lain, seperti Zaidiyah dan Ismailiyah, kebanyakan tinggal di Provinsi Najran di Saudi selatan yang berbatasan dengan Yaman. Tidak ada data statistik resmi tentang jumlah kaum Syiah di Saudi tetapi sejumlah pengamat memperkirakan sekitar 10% dari total warga negara Saudi yang kini berjumlah sekitar 20 juta jiwa (ditambah sekitar 10 juta kaum migran).

Mayoritas penduduk Saudi adalah pengikut Sunni non-Wahabi yang tersebar hampir merata di berbagai kawasan. Sementara itu pengikut Wahabi sebagian besar hanya terkonsentrasi di Provinsi Riyadh dan Qasim di Saudi bagian tengah.

Meskipun sekte Qaramitah yang brutal itu sudah menjadi sejarah masa lalu, tetapi memori masyarakat Islam Sunni modern di Saudi terhadap sejarah gelap sempalan Syiah Ismailiyah ini masih begitu kuat sekuat memori kaum Syiah kontemporer atas tragedi pembantaian Husein bin Ali oleh Khalifah Yazid I di Padang Karbala pada 680 M.

Sejak Perang Karbala itu, kecurigaan, ketegangan, konflik, dan kekerasan antara pengikut Sunni dan Syiah terus berlanjut hingga berdirinya Kerajaan Saudi modern pada tahun 1932. Tetapi satu hal yang penting untuk dicatat bahwa perseteruan dan perpecahan umat Islam ke dalam Sunni dan Syiah itu semula berakar pada konflik politik-kekuasaan, bukan teologi-keagamaan.

Memang perseteruan politik-kekuasaanlah yang membuat relasi kedua kelompok ini terus menegang dan meruncing. Dalam konteks sejarah Saudi modern, meskipun Ahsa sebagai salah satu basis Syiah sudah ditaklukkan oleh tentara Saudi sejak 1913, ketegangan dengan kelompok ini meruncing sejak Imam Khumaini sukses memimpin Revolusi Islam Iran dan menggulingkan Shah Pahlevi pada tahun 1979.

4. Penggulingan “Dinasti Saudi-Wahabi”
Merasa mendapat momentum, Iran sendiri berambisi mengekspor spirit dan ideologi revolusinya ke negara-negara lain di Timur Tengah, termasuk Saudi. Seruan-seruan anti dan penggulingan “Dinasti Saudi-Wahabi” dan dukungan terhadap Republik Islam Iran pun ditebar melalui pamflet, kaset tape, dan radio. Salah satu tokoh Syiah Saudi dan dianggap sebagai “perpanjangan tangan Iran”—yang gencar mengkritik pemerintah adalah Nimr Baqr al-Nimr.

Kekerasan terhadap Syiah pun beberapa kali meledak yang berbuntut pada pemenjaraan dan penangkapan tokoh-tokoh Syiah yang di kemudian hari dibebaskan oleh Raja Fahd setelah naik tahta pada 1982. Hingga kini, Saudi dan Iran sama-sama berambisi menjadi “penguasa regional” Timur Tengah yang berbuntut pada perang di berbagai tempat. Perang di Yaman, Syria, atau Irak hanyalah contoh kecil dari “adu dominasi” dua negara ini.

Meskipun relasi harmoni kedua kelompok ini sering diusik oleh kepentingan politik, masyarakat akar rumput Sunni dan Syiah sering kali tidak memperdulikannya. Mereka biasa saja bergaul membaur dan bersenda gurau di pasar-pasar tradisional, kedai kopi, warung teh, rumah makan, dan ruang-ruang publik lain.

Di kawasan Al-Mobarroz, Ahsa, warga Sunni dan Syiah bahkan membangun masjid-masjid dan rumah-rumah mereka berjejer-jejer. Sejumlah warga dan tokoh masyarakat setempat juga menuturkan kepada saya kalau mereka sudah biasa bekerja sama dalam berbagai urusan sosial-kemasyarakatan.

Mereka juga saling membantu dan mengunjungi acara pengajian dan keagamaan yang diadakan masing-masing kelompok serta tidak sedikit dari mereka yang mempraktekkan kawin-mawin, sebuah traidisi yang sudah berlangsung ratusan tahun.

Perbedaan pandangan keagamaan dan konflik elit tidak menghalangi mereka untuk menjalin persaudaraan dan mewujudkan perdamaian.
*** ***********
[Sumanto Al Qurtuby]
Profesor antropologi dan sosiologi di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi. Ia memperoleh gelar doktor dari Boston University
Kolom Majalah GATRA, Edisi 27 tahun XXI, Beredar Kamis, 7 Mei 2015, via Gatra.com


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News