Top News :
Home » , » Ideologi Dasar Kelompok Radikal Takfiri

Ideologi Dasar Kelompok Radikal Takfiri

Posted on Sunday, 10 May 2015 | garis 06:16

Muslimedianews.com ~ Salah satu kesalahan terbesar yang menjadi dasar ideologi Ikhwanul Muslimin dan kelompok-kelompok radikal lainnya adalah mengkafirkan seluruh orang atau pemerintahan yang memutuskan perkara dengan tidak didasarkan kepada Syariat Islam. Hal itu tergambar dari penafsiran Sayyid Qutb yang menjelaskan tentang surat Al-Maidah ayat 44 yang berbunyi:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah (syari’at islam), mereka itulah orang-orang kafir.”


Sayyid Qutb dalam bukunya Fi Zhilal al-Quran manafsirkan ayat di atas sejalan dengan pemahamam Al-Maududi yang mengatakan bahwa siapapun yang tidak memutuskan perkara dengan tidak menggunakan Hukum Islam maka orang tersebut langsung dihukum kafir meski orang tersebut meyakini bahwa hal itu (memutuskan perkaran dengan Hukum Islam) adalah kebenaran dan wahyu dari Allah bahkan meskipun ada halangan untuk menerapkan Hukum Islam tersebut.

Pemahaman di atas adalah pemahaan yang ganjil karena dengan mudahnya mengkafirkan orang lain tanpa melihat keadaan, situasi dan kondisi secara detail dan menganggap masalah ini masuk ke dalam bagian aqidah. Pemahaman ini tidak lain dan tidak bukan adalah pemahamam Khawarij.

Sementara itu, pendapat yang paling kuat menurut ulama umat Islam dari generasi awal hingga sekarang mengatakan bahwa orang yang benar-benar kafir dalam ayat tersebut adalah dia yang tidak menjalankan hukum Allah karena enggan dan mengingkari bahwa ayat di atas merupakan wahyu dari Allah. Namun, bagi siapa saja yang meyakini bahwa ayat di atas adalah sebuah wahyu dan kebenaran dari Allah, namun ia tidak mampu menerapkannya maka orang tersebut tidak bisa dikatakan kafir.

Melencengnya pemahaman Sayyid Qutb dari seluruh ulama di dunia Islam disebabkan karena beliau tidak memiliki keahlian di dalam ilmu agama. Beliau tidak memiliki alat-alat dan sistem pemikiran yang telah dibangun dan dijalankan oleh para ulama semenjak zaman Rasulullah Saw. hingga sekarang. Jadi, meski beliau pakar dalam bidang Bahasa Arab, hal itu tidak bisa dijadikan modal untuk menjelaskan kandungan isi Alquran.

Fenomena takfiri yang kita lihat saat ini telah diperingatkan oleh Rasulullah Saw. dalam hadis beliau yang berbunyi:

إن ما أتخوف عليكم رجل قرأ القرآن حتى إذا رئيت بهجته عليه وكان ردئا للإسلام غيره إلى ماشاء الله فانسلخ منه ونبذه وراء ظهره وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك، قال قلت يا نبي الله أيهما أولى بالشرك المرمي أم الرامي قال بل الرامي
"Sesungguhnya sesuatu yang aku takutkan atas kalian adalah seorang laki-laki yang membaca Alquran, sehingga setelah ia kelihatan indah karena Alquran dan menjadi penolong agama Islam, ia merubahnya pada apa yang telah menjadi kehendak Allah. Ia melepaskan dirinya dari Alquran, melemparnya ke belakang dan menyerang tetangganya dengan pedang dengan alasan telah syirik."

Aku bertanya: "Wahai Nabi Allah, siapakah di antara keduanya yang lebih berhak menyandang kesyirikan, yang dituduh syirik atau yang menuduh?"

Beliau menjawab: "Justru orang yang menuduh syirik [yang lebih berhak menyandang kesyirikan]."


Berikut perbandingan pehamaman Sayyid Qutb mengenai surat Al-Maidah ayat 44 dengan mayoritas ulama-ulama Islam dari generasi sahabat hingga (masa kontemporer ini) Syekh Sya'rawi.


Disarikan dari kitab "Al-Haqqu Al-Mubin fi Ar-Raddi 'Ala Man Tala'aba bi Ad-Din" karya Dr. Usamah Sayyid Al-Azhari, via Suara Al Azhar



Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News