Top News :
Home » , , , » Ini Tanggapan Komisi Fatwa Mesir tentang Baca Qur'an Langgam Jawa

Ini Tanggapan Komisi Fatwa Mesir tentang Baca Qur'an Langgam Jawa

Posted on Thursday, 21 May 2015 | garis 19:35

Muslimedianews.com ~ Apa Tanggapan Komisi Fatwa Mesir tentang Pembacaan Alquran dengan Langgam Jawa?

Setelah memberitakan pendapat tiga ulama Al-Azhar tentang hukum membaca Alquran dengan langgam Jawa, beberapa pihak menganggap bahwa pendapat tersebut harus kembali dikonfirmasi kepada Al-Azhar untuk memastikan kesahihannya.

(Baca sebelumnya: Masyaallah ! Ulama Al-Azhar Puji Bacaan Al-Qur'an Langgam Nusantara)

Oleh sebab itu, Rabu (20/5) tim dari Suara Al-Azhar mencoba menyambangi Dar al-Ifta' Al-Mishriyyah (Komisi Fatwa Mesir) untuk menanyakan secara lebih mendetail tentang hukum membaca Alquran dengan langgam Jawa tersebut. Berikut kami sampaikan hasil pembicaraan kami yang disambut langsung oleh anggota Komisi Fatwa Mesir, Syekh Fahmy Abdul Qawi.

Pada awalnya, kami menjelaskan bahwa ada kontroversi dikalangan umat Islam Indonesia tentang kebolehan pembacaan Alquran dengan langgam Jawa. Setelah itu, kami memperlihatkan video pembacaan Alquran tersebut lalu kami menanyakan beberapa hal kepada beliau.

HUKUM BACA AL-QUR'AN LANGGAM JAWA


Suara Al-Azhar (SA): Irama pembacaan Alquran ini biasanya digunakan dalam pertunjukan adat salah satu daerah yang ada di Indonesia. Setelah itu, ada keinginan dari pemerintah Indonesia untuk menyatukan pembacaan Alquran dengan menggunakan budaya asli Indonesia tersebut. Bagaimana menurut Anda mengenai hal ini?

Syekh Fahmy Abdul Qawi: Pembacaan Alquran dengan menggunakan cara ini sama sekali tidak masalah. Sebab Sang Qari memberikan hak kepada setiap huruf yang dia baca serta tetap menjaga hukum-hukum tajwid dan tilawah

BENARKAH LANGGAM JAWA PENGHINAAN ?



SA: Ada yang mengatakan bahwa cara membaca Alquran seperti ini merupakan bentuk penghinaan terhadap pembacaan Alquran. Bagaimana tanggapan Anda?

Syekh Fahmy:
Tidak sama sekali. Tidak ada bentuk penghinaan terhadap Alquran dengan menggunakan langgam ini. Sang Qari membaca Alquran dengan sangat baik dan tetap menjaga hukum-hukum tajwidnya bahkan Sang Qari menghiasi Alquran tersebut dengan suaranya.

SA: Syekh, kami ingin memastikan lagi bahwa permasalahan yang timbul sebenarnya adalah dari langgam atau irama yang digunakan oleh Sang Qari yang biasanya digunakan untuk pertunjukan budaya di Indonesia. Apakah pembacaan Alquran seperti ini sama sekali dibolehkan dalam Islam?

Syekh Fahmy: Alquran itu bukan hanya diturunkan orang Arab saja, namun untuk seluruh umat manusia.

SA: Jadi, pembacaan Alquran seperti ini sama sekali tidak ada masalah sedikitpun?

Syekh Fahmy: Iya, tidak masalah sedikitpun. Semoga Allah memberikan pahala kepada Sang Qari dan memuliakannya karena Sang Qari telah, meskipun ia bukan orang Arab, ia telah membaca Alquran dengan sangat baik.

SA: Dalam hal ini, ada usaha untuk menggabungkan budaya Indonesia dengan pembacaan Alquran. Apakah hal ini dibolehkan atau diharamkan?

Syekh Fahmy: Kita sama sekali tidak memiliki kaitan dengan faktor ini. Yang penting bacalah Alquran dengan cara yang benar meskipun dengan irama seperti ini, irama Hadr, irama Nahwan, irama Kurdi, ataupun dengan irama non-arab apapun. Tidak ada masalah.

TENTANG MENTERI AGAMA RI LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN AKAN LOMBAKAN BACA AL-QUR'AN DENGAN LANGGAM JAWA

SA:
Dari beberapa sumber kami mengetahui bahwa Mentri Agama Indonesia akan mengadakan perlombaan dengan menggunakan langgam yang ada di seluruh Indonesia. Apakah ini dibolehkan?

Syekh Fahmy: Selama ia tidak mengajak untuk melakukan sesuatu yang diharamkan, maka usulan tersebut tidak dipermasalahkan.


Demikianlah hasil perbincangan tim Suara Al-Azhar langsung dengan Syekh Fahmy Abdul Qawi, anggota Komisi Fatwa Mesir. Kami, tim Suara Al-Azhar tidak memiliki motif apapun--apalagi motif politik--kecuali hanya untuk mejelaskan permasalahan ini kepada masyarakat luas. Oleh sebab itu, perlu kami sampaikan bahwa tulisan ini bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dalam hal ini kami ingin menambahkan bahwa meskipun irama atau langgam ini digunakan untuk ajang pertunjukan budaya di Indonesia, hal ini tidak serta merta bahwa langgam ini diharamkan. Pada dasarnya yang menjadi patokannya adalah objek yang menjadi inti dengan penggunaan langgam ini, bukan langgam itu sendiri karena langgam hanyalah cara (irama) untuk membaca Alquran.

Artinya, jika langgam ini digunakan untuk pertunjukan budaya, maka hal itu hanya sebatas pertunjukan budaya biasa meskipun tetap harus dihormati. Namun, jika langgam ini digunakan untuk membaca Alquran, maka langgam tersebut mengikut kepada Alquran yang harus sangat dihormati dan diagungkan. Jadi tidak bisa dikatakan pembacaan Alquran seperti ini merupakan bentuk penghinaan. Wallahu A'lam.

Sumber via Suara Al Azhar

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News