Top News :
Home » , » Islam dan Politik Dua Sisi yang Sangat Kontradiktif?

Islam dan Politik Dua Sisi yang Sangat Kontradiktif?

Posted on Wednesday, 13 May 2015 | garis 06:19

Muslimedianews.com ~ Dalam sejarah penyebaran agama-agama besar di dunia, tidak sedikit dari para pemuka agama yang meminjam kendaraan para elit penguasa saat itu dalam menyebarkan ajaran suatu agama tertentu. Begitupun dengan penguasa, demi untuk menguatkan posisinya sebagai penguasa, ia meminjam kendaraan para pemuka agama, sehingga hubungan simbiosis mutualisme menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari keduanya. Dengan kata lain antara ulama dan umara mempunyai peran penting dalam menjaga keberlangsungan suatu agama dan ajaran tertentu.

Begitupun dengan penyebaran agama Islam, kita tidak bisa menyangkal bahwa Islam berkembang dan menyebarkan pengaruhnya ke penjuru dunia, karena adanya sistem politik yang telah dikonsep sedemikian rupa. Oleh sebab itu politik yang menurut asumsi sebagian orang bukanlah bagian daripada agama, pada kenyataanya merupakan satu sisi yang tidak bisa kita pungkiri eksistensinya di dalam tubuh agama itu sendiri.

Berangkat dari fenomena itulah, J. Philip Wogemen menguraikan betapa eratnya hubungan antara agama dan politik terlebih dalam konteks modern. Menurutnya, relasi antara politik dan agama terbagi menjadi 3 pola umum: (1) Pola teokrasi, di mana agama menguasai negara, yang ke (2) erastianisme di mana negara menguasai negara, dan yang ke (3) antara agama dan negara sama-sama menguasai dan tidak terlepas satu sama lain, mengingat kehidupan beragama dan bernegara sama-sama memiliki dimensi, yaitu dimensi sosial.

Lain halnya dengan Donal Uegene Smith, ia menguraikan hubungan agama dan politik sejatinya tidak terlepas dari tiga hal, yaitu (1) otoritas dogmatis di mana kebenaran diklaim sebagai sesuatu yang bersifat mutlak, (2) otoritas terarah atau pengaturan dan ketentuan yang telah diformat dengan baik dan bagus, dan (3) pelembagaan otoritas atau integrasi yang rapih antara ajaran agama dan politik.

Kaitan antara Islam dengan tiga hal yang telah dirumuskan oleh Smith di atas adalah bahwasanya Islam yang merupakan ajaran yang diyakini mutlak kebenarannya tanpa ada keraguan sedikitpun tertuang dalam sebuah kitab suci, yaitu al-Qur’an. Ia berisi undang-undang dan regulasi yang telah ditetapkan Allah selaku Tuhan, di mana ketetapan tersebut dikemas dalam sebuah yurisprudensi komprehensif yang dikenal dengan syariat.

Syariat di sini cakupannya sangat luas dan menembus beberapa dimensi, baik dimensi agama, sosial, budaya, dan politik. Dalam kaitannya dengan pemaparan Smith pada poin ketiga, tatkala Rasulullah tiba di Madinah pasca hijrah dari Mekkah adalah dengan membentuk suatu lembaga untuk menampung kekuatan Islam, yang mana lembaga tersebut kemudian dikenal sebagai negara Madinah dengan undang-undangnya yang tertuang dalam piagam Madinah.

Dari piagam Madinah itulah kemudian Rasulullah s.a.w. membentuk Negara kota atau City State yang menjadi cikal bakal dari Negara bangsa atau Nation State, satu-satunya Negara yang mampu menyaingi dan mengalahkan konsep tata Negara emperium Romawi dan Persia. Keberhasilan Rasulullah ini tidak lepas dari kemampuan beliau dalam meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi dan sosial di tengah-tengah masyarakat multikultural seperti Madinah. Kemudian dari Madinah inilah Islam menyebar ke seluruh pelosok negeri hingga ke Eropa, Asia dan Afrika, menjadi sebuah agama yang mampu menghipnotis sebagian besar penduduk bumi hingga saat ini.

Kesimpulannya adalah bahwa Islam dan politik merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, bak dua sisi mata uang yang saling melekat satu sama lain. Dari sisi ideologi, Islam dan politik merupakan dua wajah yang sifatnya sangat fundamental dalam kehidupan manusia, sehingga hal ini menjadi bahan diskusi dan perdebatan di kalangan pakar politik dan agama, begitu juga beberapa teori tentang agama dan politik telah dipaparkan oleh para ilmuan sepanjang sejarah, karena kajiannya yang menarik sehingga teori tersebut semakin berkembang sampai saat ini. bahkan di beberapa perguruan tinggi, disiplin ilmu politik dan agama seringkali dipadukan sehingga dengannya diharapkan adanya perpaduan yang harmonis antara agama dan politik tanpa harus memahami keduanya secara terpisah. Wallahu A’lam…!

Penulis : Mohammad Khoiron
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah IPNU DKI Jakarta

via /politik.kompasiana.com

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News