Top News :
Home » , » Kampus Wahhabi STAI Ali bin Abi Thalib Mengusik Kedamaian Umat Islam Surabaya

Kampus Wahhabi STAI Ali bin Abi Thalib Mengusik Kedamaian Umat Islam Surabaya

Posted on Wednesday, 6 May 2015 | garis 21:51

Muslimedianews.com ~ Surabaya khususnya kawasan utara bergolak. Sejumlah warga di wilayah Sidotopo mempersoalkan keberadaan STAI Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib. Kampus di bawah Yayasan Al-Iskan ini telah menyulut amarah warga lantaran mengeluarkan selebaran yang menghina amaliyah salafus shalih.


Selebaran berupa buletin Al-Iman edisi 205 tahun ke-5 no 9 untuk bulan Rabiul Awal 1436 H tersebut sebagai “balasan” atas kegiatan masyarakat setempat yang mengundang KH Marzuki Mustamar dalam acara maulid Nabi Muhammad SAW pertengahan bulan Maret, serta istigatsah yang dilangsungkan akhir April lalu.

Dalam selebaran itu dikatakan bahwa apa yang dilakukan masyarakat dengan menyelenggarakan maulid Nabi Muhammad sebagai kegiatan bid’ah dan tindakan syirik yang tentu saja akan membawa pelakunya masuk neraka.

Terang saja apa yang pandangan pimpinan kampus yang diteruskan dalam selebaran tersebut menyulut amarah warga. Sebenarnya emosi masyarakat sudah tidak bisa dikendalikan, namun tokoh masyarakat setempat masih mencoba meredam, termasuk melakukan komunikasi dengan pihak keamanan. Konsultasi kepada PWNU Jawa Timur juga dilakukan agar ditemukan solusi terbaik.

Puluhan tokoh agama Sidotopo Surabaya yang intensif melakukan konsultasi. H Sulthon dari Forum Warga Sidotopo, Hafidh Sanafi (Ketua MWC NU Semampir), Ustadz Ismail, H Abdurrahman, KH Magrobi serta KH Rasyidi bersama tokoh setempat melakukan konsultasi kepada KH Miftachul Akhyar, Rais PWNU Jawa Timur beberapa waktu berselang.

“Kami meminta PWNU Jawa Timur bisa melakukan langkah-langkah kongkrit agar keberadaan kampus yang meresahkan warga ini,” kata H Sulthon kepada media ini, Selasa (5/5).


Secara  lebih rinci, pria berperawakan tinggi tegap ini menceritakan bahwa awal gejolak di kawasan Sidotopo dimulai dengan beredarnya Bulettin Al-Iman edisi 205 tahun ke 5 nomor 9 bulan terbit Rabiul Awal 1436 H.

“Secara umum, bulletin tersebut dengan sengaja dan sadar telah memberikan predikat kepada umat Islam yang melakuklan maulid nabi dan acara l;ainnya seperti Isra’ Mi’raj, hari Asura, Nuzulul Qu’an sebagai kegiatan bid’ah,” katanya. Demikian juga kelompok ini memberikan vonis, apa yang dilakukan warga sebagai perbuatan musyrik dan akan masuk neraka, lanjutnya.

Sebagai reaksi spontan atas beredarnya bulletin tersebut, ratusan masyarakat melakukan unjuk rasa ke kampus setempat. “Prinsipnya masyarakat meminta pertanggungjawaban kampus terkait karena apa yang telah disebarkan menimbulkan keresahan bagi masyarakat,” ungkapnya.

Beberapa tokoh masyarakat mencoba menenangkan suasana. “Bahkan ada yang sudah menguhubungi pihak keamanan agar diselengarakan musyawarah dengan pihak kampus tersebut,” kata KH Abdurrahman. Dan akhirnya terjadilah dialog yang mempertemukan kedua belah pihak yang difasilitasi pihak di Kodim setempat.

“Dalam pertemuan tersebut ternyata pihak kampus masih tetap bersikukuh dengan pendapatnya,” kenang Ustadz Ismail yang saat itu juga memberikan keterangan. Bahkan dengan sangat jelas mereka menyatakan bahwa antara masyarakat Sidotopo dengan kampus tersebut beda paham.

Tidak berhenti sampai di situ yang dilakukan kampus tersebut. Bahkan selama tiga hari yakni 7, 8 dan 9 Mei mendatang mereka akan menyelenggarakan daurah dengan mengundang tokoh nasional. “Para ikhwan atau jamaah mereka dari berbagai daerah juga diundang,” katanya.

Bagi tokoh masyarakat, apa yang dilakukan oleh pihak kampus sebagai tindakan arogan dan terkesan ingin unjuk kekuatan. “Diajak dialog saja mereka mengatakan beda paham, dan kemudian  ditambah dengan menyelenggarakan kegiatan daurah,” kata Ustadz Amir.

Bagi tokoh masyarakat Sidotopo ini, apa yang telah dilakukan kampus tersebut sebagai tindakan arogan yang juga terkesan menantang. “Padahal mayoritas masyarakat, termasuk umat Islam di wilayah kami sangat menghargai ukhuwah, dan hidup penuh kedamaian,” terangnya.

Justru dengan kehadiran komunitas muslim yang terkesan tertutup ini, Islam toleran dan menghargai perbedaan menjadi tercoreng. “Bahkan bila tidak ada tindakaan riil, bukan tidak mungkin pada saatnya akan ada konflik horizontal di akar rumput,” katanya.

KH Miftachul Akhyar sangat prihatin dengan kondisi ini. “Saat NU ingin menyebarkan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan penyebarannya tidak merata, ternyata hal itu masih diganggu ulah masyarakat muslim sendiri,” ungkapnya.

Rais Syuriah PWNU Jawa Timur ini mengingatkan pemerintah untuk bisa responsif melihat permasalah ini. “Karena kalau terjadi kekacauan di kawasan tertentu, maka yang akan rugi adalah pemerintah sendiri lantaran dianggap gagal memberikan rama aman bagi masyarakatnya,” tandas Pengasuh Pondok Pesantren Miftahussunnah Kedungtarukan Surabaya ini.

Kiai Miftah, sapaan akrabnya bahkan mengistilahkan para pengganggu amaliyah warga ini dengan istilah “begal akidah”. Padahal sebagai organisasi sosial keagamaan, Nahdlatul Ulama ingin agar ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah dapat lestari di Indonesia. Namun dalam kenyataannya, ada sejumlah kelompok masyarakat muslim yang justru mempersoalkan bahkan mengkafirkan amaliyah warisan para ulama terdahulu tersebut.

Sebagai solusi,maka Kiai Miftah sepakat dengan tuntutan warga agar keberadaan kampus ini bisa dipindah atau ditutup. “Ya, tuntutannya hanya dua, relokasi atau kampus tersebut ditutup karena keberadaannya mengganggu ketertiban umum,” terangnya.

sumber aswaja center jatim

Share this post
:
Comments
7 Comments

+ comments + 7 comments

salafiyin
7 May 2015 at 03:38

ini ni.....islam nusantara......yg jauh dari ajaran nabi yg sebenarnya.......coba anda berfikir dan buka dalil siapakah yg mengatakan BID'AH dan sesat....??? ternyata nabi sendiri kan yg mengatakannya......jadi kalau mau protes ...protes dan demo saja nabi kalau memang anda sekalian bukan umat nabi Muhammad SAW........tapi saya ragu anda itu masih umat nabi Muhammad apa bukan........karena anda membuat buat ibadah sendiri tanpa tuntunan nabi.....!!!

Shanuer Mercury
7 May 2015 at 05:54

Onta merakbal macam wahaboys.
Kagak pernah sholat karena gak tau makna isra miraj, kedua gak memahami maulidur rasul tapi melaksanakan ulang tahun ala orang Kafir.
Ketiga, para shahabat dianggap ahli bidah.
Keempat, ilmu merasa lebar padahal sesempit gang dolly karena gampang teriak sesat sebelum mendalami.

Shanuer Mercury
7 May 2015 at 05:55

Merakbal betul komentar ente..
Merasa dekat dengan nabi yak

salafiyin
7 May 2015 at 06:07

Shanuer Mercury ....ente bahlul......siapa yg punya ISLAM ....??? yg punya Islam Allah dan nabi nya........selama mengaku sebagai umat nabi konsekwensinya harus ikuti apa yg di ajarkan nabi dan di contohkan sahabatnya diluar dari itu semua tanpa dalil dan contoh maka jelas sudah terjerumus ....dan memang IBLIS paling senang dengan ahli bid'ah karena mereka menganggap diri mereka benar dengan memperbanyak ibadah di luar tuntunan ......tidak ada salaf menganggap sahabat nabi ahli bid'ah karena kami mencontoh apa yg di lakukan sahabat dan 3 genaresi awal islam itulah jamaah yg sebenarnya.....ahlu sunnah wal jamaah adalah melaksanakan sunah nabinya sesuai apa yg di lakukan jamaah 3 generasi awal islam itulah jamaah yg sebaik baiknya.....banyak belum tentu benar ingat itu....!!! dan sesuai dengan hadist nabi yg mengatakan bahwa islam awalnya asing dan pada akhirnya juga asing dan berbahagialah orang yg asing karena mereka memegang kuat sunah rasul NYA.

adam
8 May 2015 at 12:11

Gak bisa jawab ye

diskus
11 May 2015 at 06:54

warga yang protes ga bisa nunjukkin pakai argumen ilimiah. Ini tanda kalau memang mereka gerak karena kebid'ahan mereka ketahuan.

Antek Saudi
21 May 2015 at 01:12

Oh ... ternyata pembela Asura (Syiah). Pantesan kebakaran jenggot pakek mengerahkan preman-preman. "Wahabi" gak pernah deh pakai cara-cara preman seperti ini. "Nyawa balas nyawa","ilmu balas ilmu","dalil balas dalil" itu baru namanya GENTLE.

Asiknya lagi, STAI Ali Bin Abi Thalib didukung oleh Oma Risma. Rishma "Wahabi" dong??? Trus ngundang mantan jendral, polri, patrialis akbar (yg brewokan itu...). Nyaris membungkam mulut-mulut preman-preman syiah yg mengaku NU (tapi yg disayangkan, NU juga terprofokasi sama propaganda syiah). Padahal 90% isi kitab pendiri NU Hasyim Ayari sama dengan aqidah "wahabi".

Nampak-nampaknya Syiah harus bekerja ekstra lebih keras lagi untuk membungkam mulut "wahabi", yg pastinya dengan cara-cara preman, bukan dengan cara dialog, debat ilmiah). Apalagi, setelah Syiah di yaman dibantai negara "wahabi"

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News