Top News :
Home » » Kontribusi Pesantren NU

Kontribusi Pesantren NU

Posted on Tuesday, 12 May 2015 | garis 17:24

Muslimedianews.com ~

Oleh: Abdul Aziz el-Martani


Impian umat Islam untuk mengislamisasi masyarakat dan mewujudkan masyarakat yang Islami akan dapat terwujud salah satunya dengan merespon dunia pendidikan. Seorang yang terdidik secara otomatis akan merubah pola pikirnya, sehingga terealisasikan dalam kehidupan sehari-hari kehidupan yang bermoral dan berintelektual. Salah satu lembaga pendidikan yang menanamkan moral dan intelektual adalah pesantren. Dimana pesantren adalah bagian dari karakteristik penting yang terdapat dalam ormas Islam Nahdlatul Ulama.   

Kehidupan pendidikan berpesantren merupakan salah satu ciri khas dari ormas Islam terbesar di Indonesia ini. Bahkan pantas saja jika dikatakan, bukan orang NU kalau dia bukan alumni pesantren (santri). Karena hampir mayoritas masyarakat NU adalah masyarakat yang berkecimbung didunia pesantren. Kalaupun ia bukan santri yang tinggal dipondok pesantren, seperti mondok pada umumnya, setidaknya orang NU biasanya nyantri kalong (belajar atau ngaji di pesantren, namun tinggalnya tetap dirumah sendiri). Oleh karena itu, bisa dikatakan kalau NU dengan karakteristik pesantrennya masih sangat kental. Walaupun di era globalisasi kini lumayan sedikit sudah menurun dibandingan abad sebelumnya. 


Adanya pesantren (walaupun sering dibilang sebagai lembaga pendidikan bercorak tradisional) dalam tubuh NU merupakan salah satu kelebihan yang ada pada NU itu sendiri. Berbeda dengan Muhammadiyah yang lebih menekankan perluasan dan pemajuan umat melalui pendidikan umum atau madrasah modern. Perbedaan pandangan dalam membangun umat diantara kedua ormas yang bersaudara kandung itu pada prinsipnya tidak perlu untuk dipersulit. Karena masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Bahkan dengan adanya perbedaan tersebut, dapat saling melengkapi dan menyempurnakan. Sehingga dapat terwujud masyarakat yang madani.

Masih relevan dari apa yang dinyatakan oleh Azyumardi Azra (2000: 118) bahwa pesantren sebagai sebuah manifestasi dari kehidupan bersosial yang sesungguhnya akan lebih mampu mencapai sofistikasi yang tinggi, yang kaya dengan nuansa religius dan sosio-kultural. Oleh karena itu, pendidikan tradisional ini bukan hanya mampu menghasilkan ulama berkaliber besar, tetapi setidaknya juga melahirkan anggota-angota komunitas Muslim yang mandiri. 

Lebih lanjut lagi Azyumardi Azra mengemukakan bahwa NU yang secara umum dikenal sebagai organisasi “tradisionalis”, yang notabene bertujuan untuk meneruskan dan memelihara tradisi “Aswaja” –Ahlus Sunnah Wal Jama’ah- dalam lingkup keempat madzhab fikih Sunnah dan aliran teologi Asy’ari. Karena NU pengikut Asy’ari yang terkenal dengan sikap tawassuth-nya, maka tidaklah mengejutkan jika terlahir ulama-ulama maupun cendikiawan Muslim NU yang cenderung bersifat inklusif (merangkul dan menyerap keragaman di dalam Sunni itu sendiri), ketimbang bersifat eksklusif, yakni memposisikan diri dalam salah satu aliran Sunni. Dengan sifat inklusifnya, NU sangat menghargai warisan dan tradisi ulama. Baik yang ditransmisikan secara lisan maupun praktikal, apalagi secara tertulis melalui kitab kuning (turath).

Tidak hanya itu, konsekwensi yang didapat dalam tubuh NU sendiri pun tambahnya Azyumardi Azra, menyebabkan NU memiliki kekayaan warisan keagamaan yang luar biasa, yang tersimpan dalam sekian banyak kitab kuning, yang memberinya kemungkinan ruang gerak lebih luas dalam merespons berbagai perkembangan, bukan hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam bidang sosial, politik, kultural dan lain sebagainya. 

Pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis Islamic Boarding School, hingga kini masih sangatlah perlu untuk dilestarikan. Tidak untuk direkonstruksi metode pendidikannya, namun yang perlu diperbarui hanyalah infrastruktur dan alat-alat yang digunakan para santri untuk belajar. Dengan demikian perkembangan teknologi dan informasi dapat termanfaatkan dengan baik dan benar. Sebab bagaimanapun juga di dalam pesantren yang masih terdapat sikap zuhud dan wara’ masih sangat diperlukan oleh masyarakat abad ini, terutama oleh para pemuda-pemudi Islam Indonesia. Kedua sikap tersebut dapat menjadi kendali dalam menghadapi kehidupan yang serba modern ini.

Abdul Aziz el-Martani
*Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadis Institut Agama Islam Negeri Surakarta



Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News