Top News :
Home » , » Madzhab Fiqih Ahli Hadits, Apa Saja Kitabnya ?

Madzhab Fiqih Ahli Hadits, Apa Saja Kitabnya ?

Posted on Wednesday, 20 May 2015 | garis 14:30

Muslimedianews.com ~ Madzhab fiqih ahli hadits, tentu nama yang sangat menawan. Bagaimana tidak? Memangnya ada umat Islam yang tak ingin mengikuti ajaran nabinya?

Tak ada satupun ahli fiqih yang tak ingin mengikuti nabinya. Representasi dari nabi itu sendiri adalah hadits-hadits nabi. Tak disebut ahli fiqih jika tak tahu hadits-hadits nabi. Maka sejak dahulu, ulama fiqih sangat memperhatikan hadits-hadits nabi dalam pengambilan sebuah produk hukum. Baik ulama fiqih dari Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali bahkan Madzhab Ahli Dzahir.


Hanya saja ada kecenderungan sebagian kalangan, yang menganggap bahwa mengikuti madzhab fiqih dari ulama madzhab yang telah ada itu artinya mengikuti manusia, yang mungkin salah dan benar. Berbeda dengan mengikuti madzhab ahli hadits, pasti benar karena sandarannya bukan lagi manusia tetapi langsung hadits Nabi.

Benarkah demikian? Siapa dan bagaimanakah sebenarnya madzhab ahli hadits? Apakah para ahli hadits itu mempunyai satu model fiqih tersendiri, yang berbeda dengan ulama madzhab fiqih?

Nama dan Arti Sebuah Nama
Dahulu Mu’tazilah mengaku dan menamai diri mereka dengan Ahli Adil dan Tauhid. Syiah mengaku dan menamai diri mereka dengan sebutan golongan Ali bin Abi Thalib dan pecinta Ahli Bait. Ada pula kelompok yang menamai diri mereka dengan Ahlu al-Qur’an atau Qur’aniyyun, padahal sebenarnya mereka adalah Inkar as-Sunnah atau tidak percaya terhadap hadits nabi dan hanya percaya al-Qur’an. Bisa jadi Khawarij nanti menamai diri mereka dengan mujahidin.

Namanya saja menamai diri sendiri, tentu dengan nama-nama yang baik. Tapi nama diri tak selalu identik dengan arti dari sebuah nama. Tak selalu orang yang namanya ‘Jamil’ itu orangnya ganteng, dan tak selalu orang yang namanya ‘Selamet’ itu selalu selamat dari marabahaya. ‘Toko Murah’ juga belum tentu harganya selalu murah. Seharusya kita cukup jeli agar tidak terkecoh oleh sebuah nama atau jargon.

Jika ada warung makan dengan nama ‘Warung Nasi Padang’, tetapi masakan yang dijual malah masakan Tegal, tentu kita akan susah percaya bahwa warung itu benar-benar warung nasi padang.

Kita juga susah percaya jika ada Pesantren dengan nama ‘Pesantren Imam Syafi’i’, tetapi shalat tarawihnya tidak 23 raka’at, qunut shubuh dianggap bid’ah, adzan dua sebelum khutbah dianggap bid’ah, yang dikaji bukannya kitab ulama madzhab Syafi’i, tetapi madzhab Hanbali.

Atau jika ada sebuah kajian dengan tema ‘Kajian Kitab Fathu al-Qarib’ karya Syeikh Muhammad bin Qasim al-Ghazi as-Syafi’i (w. 918 H), tetapi isi kajiannya malah melemah-lemahkan pendapat madzhab Syafi’i, mengkritisi dan malah menguatkan pendapat Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), kita patut katakan, “Kenapa tidak langsung mengkaji kitabnya Ibnu Taimiyyah saja?”. Sepertinya memang nama itu digunakan hanya untuk melariskan jualan saja.

Maka, nama tak serta merta mewakili makna dan hakekat dari nama tersebut.

Fiqih dan Hadits
Fiqih adalah buah, hadits itu pohonnya. Bagaimana mungkin buah tak membutuhkan pohon, atau buah bertentangan dengan pohonnya. Fiqih bisa dikatakan hasil dari pemahaman para mujtahid terhadap teks-teks syariah, dengan metodologi yang disebut dengan ushul fiqih.

Semua ulama fiqih dari madzhab empat menggunakan hadits sebagai salah satu dalil hukum. Bahkan Imam Abu Hanifah (w. 150 H) yang terkenal sebagai Imam Ahlu ar-Ra’yi berkata:

سمعت أبا حنيفة، يقول: «ما جاء عن رسول الله صلى الله عليه وسلم فعلى الرأس والعين، وما جاء عن الصحابة اخترنا، وما كان من غير ذلك فهم رجال ونحن رجال»
Abu Hanifah (w. 150 H) berkata: Apa saja yang datang dari Rasulullah maka ‘dengan kepala dan mata’ (pent: diterima dengan penghormatan), jika datang dari shahabat Nabi maka kita akan pilih. Jika datang dari selain itu, maka mereka rijal kita juga rijal (pent: karena mereka satu level) (Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Manaqib al-Imam Abi Hanifah wa Shahibaihi, h. 32)

Hadits Nabi dilihat dari sedikit banyaknya periwayat terbagi menjadi dua; mutawatir dan ahad. Hadits mutawatir berfaedah yakin, karena para perawinya tak mungkin untuk berbohong. Sedangkan hadits Ahad adalah selain hadits mutawatir.

Hadits ahad terbagi menjadi shahih, hasan dan dhaif. Disinilah nanti para ahli fiqih berbeda pendapat, dalam hal syarat diterimanya hadits ahad sebagai hujjah, terlebih ketika bertentangan dengan dalil-dalil lain. Ulama Hanafiyyah dan Malikiyyah memiliki syarat-syarat yang cukup ketat dalam menerima hadits ahad menjadi hujjah. Kita akan bicarakan di lain kesempatan.

Dua Model Madrasah Fiqih
Kita akan merunut seperti apa itu Madzhab Fiqih Ahli Hadits. Ibnu Khaldun (w. 808 H) sebagai seorang cendikiawan muslim, sejawaran sekaligus ahli ilmu sosial menuliskan dalam kitab Tarikh-nya:

وكمل الفقه وأصبح صناعة وعلما فبدّلوا باسم الفقهاء والعلماء من القرّاء. وانقسم الفقه فيهم إلى طريقتين: طريقة أهل الرّأي والقياس وهم أهل العراق وطريقة أهل الحديث وهم أهل الحجاز
Ketika fiqih setelah menjadi cabang ilmu tersendiri, para ulama yang dahulunya disebut dengan Qurra’ diganti dengan sebutan ulama atau fuqaha’. Lantas fiqih mereka terbagi menjadi dua kecenderungan dua metodologi: Pertama, metodologi ahli ra’yu dan qiyas, mereka adalah penduduk Irak. Kedua, metodologi ahli hadits, mereka adalah penduduk Hijaz. (Ibnu Khaldun w. 808 H, Tarikh Ibn Khaldun, h. 1/ 564)

Jadi fuqaha’ dan ulama dahulu, sebelum ilmu fiqih menjadi satu cabang ilmu tersendiri disebut dengan Qurra’. Ahli hadits menurut Ibnu Khaldun (w. 808 H) adalah salah satu madrasah dalam memahami fiqih. Mereka kebanyakan di Hijaz, sebagai perbandingan dari madrasah ahli ra’yu yang berada di Irak.

Ibnu Khaldun (w. 808 H) melanjutkan:

وإمام أهل الحجاز مالك بن أنس والشّافعيّ من بعده
Imam Ahli Hijaz awalnya adalah Imam Malik (w. 179 H), lalu dilanjutkan oleh Imam Syafi’i (w. 204 H). (Ibnu Khaldun w. 808 H, Tarikh Ibn Khaldun, h. 564)

Maka, ahli hadits adalah mereka yang mengikuti Imam Malik bin Anas dan Imam Syafi’i. Masih tidak yakin? Kita akan baca pernyataan dari Imam Ahmad bin Hanbal (w. 204 H).

Qadhi Iyadh bin Musa (w. 544 H) menukil perkataan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) tentang Imam Syafi’i (w. 204 H):

قال أحمد بن حنبل ما زلنا نلعن أهل الرأي ويعلنوننا حتى جاء الشافعي فمزج بيننا
Ahmad bin Hanbal pernah berkata: Dahulu kita menjelek-jelekkan ahli ra’yu, begitu pula sebaliknya. Sampai datanglah Imam Syafi’i, beliau menggabungkan keduanya (Qadhi Iyadh bin Musa w. 544 H, Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik, h. 1/ 91)

Maka setelah itu, ahli hadits dan ahli ra’yu paham bahwa masing-masing saling membutuhkan. Qadhi Iyadh (w. 544 H) melanjutkan:

فعلم أصحاب الحديث أن صحيح الرأي فرع الأصل، وعلم أصحاب الرأي أنه لا فرع إلا بعد الأصل، وأنه لا غنى عن تقديم السنن وصحيح الآثار أولاً
Para ahli hadits akhirnya tahu bahwa ra’yu yang benar itu cabang dari asal (pent: al-Qur’an dan hadits), sedangkan ahlu ra’yi tahu bahwa tak ada cabang jika tak ada asal, tak ada alasan untuk tidak mendahulukan sunnah dan atsar yang shahih. (Qadhi Iyadh bin Musa w. 544 H, Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik, h. 1/ 91)

Maka pertentangan antara ahli hadits dan ahli ra’yu sebenarnya berakhir saat Imam Syafi’i (w. 204 H) menggabungkan dua metodologi memahami fiqih itu.

Ahli Hadits Sekarang Berbicara Dengan Lisan Syafi’i
Testimoni yang hampir mirip juga diungkapkan oleh Imam Muhammad bin Hasan as-Syaibani al-Hanafi (w. 189 H); salah seorang murid terbaik dari Imam Abu Hanifah (w. 150 H). Beliau berkata:

قال محمد بن الحسن: إن تكلم أصحاب الحديث يوما فبلسان الشافعي
Muhammad bin Hasan berkata, “Jika ahli hadits sekarang berkata satu hal, maka sebenarnya itu dengan lisan Syafi’i (Ibnu Asakir ad-Dimasyqi w. 571 H, Tarikh Dimasyq, h. 51/ 328)

Hal ini cukup beralasan. Ahli hadits yang hidup setelah Imam Syafi’i (w. 204 H) banyak mengambil pemikiran beliau dalam menetapkan hadits seperti apa yang bisa dijadikan hujjah. Maka tak heran jika ada ulama yang menjadikan kitab ar-Risalah karya Imam Syafi’i (w. 204 H) sebagai kitab pertama yang membahas tentang ilmu musthalah hadits. Selain itu Imam Syafi’i (w. 204 H) juga mempunyai kitab Ikhtilaf al-Hadits. Tak ada yang meragukan juga bahwa Imam Syafi’i (w. 204 H) mendapat gelar nashiru as-sunnah. Nantinya banyak juga ulama hadits yang secara fiqih mengikuti Imam Syafi’i.

Kesimpulan sementara kita adalah Imam Syafi’i (w. 204 H) termasuk Imam Ahli Hijaz setelah Imam Malik bin Anas, sebagai representasi dari Madzhab Fiqih Ahli Hadits.

APA SAJA KITAB FIQH MADZHAB AHLI HADITS?


Sebagaimana pada tulisan sebelumnya, tak ada satupun ahli fiqih yang tak ingin mengikuti nabinya. Representasi dari nabi itu sendiri adalah hadits-hadits nabi. Tak disebut ahli fiqih jika tak tahu hadits-hadits nabi. Maka sejak dahulu, ulama fiqih sangat memperhatikan hadits-hadits nabi dalam pengambilan sebuah produk hukum. Baik ulama fiqih dari Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali bahkan Madzhab Ahli Dzahir.

Apakah Imam Abu Hanifah (w. 150 H) Bukan Ahli Hadits?
Tentu pernyataan yang sangat berani, jika kita katakan bahwa Imam Abu Hanifah (w. 150 H) bukan ahli hadits. Sebuah pemahaman yang keliru jika karena Imam Abu Hanifah itu sebagai Imam Ahli ra’yu lantas beliau meninggalkan hadits. Begitu juga sebaliknya, ahli hadits juga tak meninggalkan ra’yu.

Sebelum kita mengklasifikasi ahli hadits atau bukan, harusnya kita sepakat dahulu apa itu kategori ahli hadits. Apakah mereka yang hanya sudah menulis kitab hadits? Ataukah ulama yang menjadi perawi hadits? Atau setiap ulama yang intens berbicara tentang hadits?

Imam Abu Hanifah (w. 150 H) hidup di zaman yang ‘benar-benar’ salaf. Tercatat dalam sejarah bahwa jumlah guru Imam Abu Hanifah mencapai 4.000 Ulama’ (Ibnu Hajar al-Haitsami w. 974 H, Al-Khairat al-Hisan, h. 36) . Guru paling berpengaruh Imam Abu Hanifah adalah Hammad bin Abu Sulaiman (w. 120 H) dan Atha’ bin Abi Rabah, ahli fiqih di Makkah (w. 114 H).

Suatu ketika Abu Hanifah berkunjung kepada Khalifah Abu Ja’far (w. 158 H), khalifah bertanya kepada Abu Hanifah, dari siapakah engkau mengambil ilmu? Abu Hanifah menjawab: dari Hammad bin Abu Sulaiman dari Ibrahim an-Nakhai dari ashab/ murid-murid Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas radliyaAllahu anhum ajma’in. (Al-Khatib al-Baghdadi w. 463 H, Tarikh Baghdad, juz 13, h. 334).

Jika Imam Malik bin Anas (w. 179 H) mempunyai silsilah emas; Imam Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, maka Abu Hanifah (w. 150 H) juga hampir sama, yaitu Abu Hanifah dari Atha’ bin Abi Rabah (w. 117 H) dari Ibnu Abbas. (Muhammad bin Abdurrasyid al-Pakistani w. 1420 H, Makanat al-Imam Abi Hanifah fi al-Hadits, h. 18)

Bahkan Ahli hadits sekelas Imam Abu Daud Sulaiman bin Asy’ats as-Sajistani (w. 275 H); penulis kitab Sunan Abi Daud menganggap Imam Abu Hanifah itu sebagai Imam. Hal ini dinulik oleh Imam Ibnu Abdil Barr al-Qurthubi (w. 463 H):

حدثني عبد الله بن محمد بن يوسف قال: ثنا ابن رحمون قال: سمعت محمد بن بكر بن داسة يقول: سمعت أبا داود سليمان بن الأشعث السجستاني يقول: «رحم الله مالكا كان إماما، رحم الله الشافعي كان إماما، رحم الله أبا حنيفة كان إماما»
Abu Daud bin Asyats as-Sajistani (w. 275 H) berkata, “Semoga Allah merahmati Imam Malik, beliau adalah imam. Dan merahmati Imam Syafi’i, karena beliau imam. Juga merahmati Imam Abu Hanifah, karena beliau imam. (Ibnu Abdi al-Barr al-Qurthubi w. 463, Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhlihi, h. 2/ 1113). 
Bagaimana Dengan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)?
Tak diragukan lagi beliau menulis kitab hadits yang cukup tebal, Musnad Imam Ahmad. Hanya saja, kita tak bisa dengan mudah membaca fatwa fiqih dari kitab Musnad, karena memang bukan kitab fiqih dalam pengertian sebenarnya.

Sebenarnya selain Musnad Imam Ahmad, masih banyak lagi kitab musnad yang lain. Sebut saja Musnad Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H), Musnad Abdullah bin Mubarak (w. 181 H), Musnad Abu Daud at-Thayalisi (w. 204 H), Musnad al-Humaidi (w. 219 H), Musnad Khalifah bin Khayyath (w. 240 H), Musnad Ibn al-Ja’d (w. 230 H), Musnad Ibn Abi Syaibah (w. 235 H), dll.

Darimana kita bisa mengatahui fiqih Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)? Biasanya ulama menggali fiqih Imam Ahmad dari buku masa’il beliau. Seperti kitab Masa’il Imam Ahmad riwayat Abu Daud as-Sajitani, Masa’il Imam Ahmad riwayat anak beliau; Abu al-Fadhl Shalih, Masa’il Imam Ahmad riwayat anak beliau; Abdullah, dan Masa’il Imam Ahmad wa Ishaq bin Rahawaih karya Abu Ya’qub al-Kausaj (w. 251 H).

Secara fiqih, Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) cukup dekat dengan madzhab Syafi’i, terlebih ketika Imam Syafi’i berada di Baghdad. Karena Imam Ahmad bin Hanbal termasuk murid kesayangan dari Imam Syafi’i, dan juga Imam Syafi’i adalah guru idola dari Imam Ahmad bin Hanbal.

Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) pernah dikritik seseorang gara-gara hadits yang beliau jadikan hujjah dianggap tidak shahih. Apa jawab Imam Ahmad bin Hanbal?

حدثنا أبو تراب حميد بن أحمد البصري قال كنت عند أحمد بن حنبل نتذاكر في مسألة فقال رجل لأحمد يا أبا عبد الله لا يصح فيه حديث فقال إن لم يصح فيه حديث ففيه قول الشافعي وحجته أثبت شئ فيه
Abu Turab Humaid pernah bersama Imam Ahmad bin Hanbal saat sedang berdiskusi terhadap suaru hal. Ada salah seorang menyela, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), haditsnya tidak shahih!” Imam Ahmad menjawab, “Meski haditsnya tidak shahih, tetapi ada perkataan dari Imam Syafi’i (w. 204 H) dalam hal ini. Dan perkataan Imam Syafi’i disini menjadi hujjahnya. (Ibnu Asakir ad-Dimasyqi w. 571 H, Tarikh Dimasyq, h. 51/ 351)

Maka tak heran jika Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) pernah menyuruh Yahya bin Main (w. 233 H); salah seorang pakar ahli hadits dalam al-Jarh dan at-ta’dil untuk ikut ngaji kepada Imam Syafi’i. Ibnu Asakir ad-Dimasyqi (w. 571 H) menceritakan:

عن أبي القاسم بن منيع قال لي صالح ابن أحمد بن حنبل ركب الشافعي حماره فجعل أبي يسايره يمشي والشافعي راكب وهو يذاكره فبلغ ذلك يحيى بن معين فبعث إلى أبي فبعث إليه إنك لو كنت في الجانب الآخر من الحمار كان خيرا لك هذا أو معناه
Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal memegangi keledai Imam Syafi’i saat beliau menaikinya. Imam Ahmad berada disamping kiri keledai. Hal ini sampai kepada Yahya bin Main (w. 233 H), dan beliau mengkritiknya. Maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Kalau saja Yahya bin Main mau berada disisi yang lain dari keledai ini, maka itu malah lebih baik untuknya.” (Ibnu Asakir ad-Dimasyqi w. 571 H, Tarikh Dimasyq, h. 51/ 354)

Disini kita dapati sedikit gambaran bahwa ternyata memang para imam madzhab itu juga ahli hadits, tentu dengan porsinya masing-masing.

Terlebih dalam memandang madzhab fiqih Islam, tentu kita tak bisa hanya memandang dari imam madzhabnya saja. Madzhab fiqih yang sampai kepada kita sekarang adalah hasil kerja bareng dan berkesinambungan dari para pakar Islam dari semua bidang ilmu, termasuk ilmu hadits.

Para ulama itu bukan orang yang bodoh yang hanya taklid buta saja kepada para imam madzhab. Mereka menghabiskan umurnya untuk mengkaji ulang, menggali lagi, mengkritisi dan mengoreksi setiap pendapat ulama madzhab.

Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits
Okelah, jika memang ingin merumuskan kembali madzhab fiqih ahli hadits. Tentu hal itu tidak dilarang, hukumnya sah-sah saja.

Hanya saja dalam pembahasan ‘fiqih perbandingan madzhab’, biasa kita temukan kitab-kitab representatif dari masing-masing madzhab fiqih; baik Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanbaliyyah maupun Dzahiriyyah.

Nah, Kira-kira kitab ushul fiqih mana dan karangan siapa yang memang representatif untuk mewakili ‘ushul fiqih madzhab ahli hadits’ rumusan baru ini?

Kira-kira kitab fiqih mana dan karangan siapa yang memang representatif untuk mewakili ‘fiqih madzhab ahli hadits’ rumusan baru ini? Apakah kitab hadits Shahih Bukhari? Kitab hadits Shahih Muslim? Shahih Ibnu Huzaimah? Sunan at-Tirmidzi? Atau malah kitab-kitab karangan ulama kontemporer saja?

Perlu diketahui, ternyata hampir semua pensyarah kitab hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah ulama yang mengikuti salah satu madzhab fiqih empat. Diantaranya sebagai berikut:

Syarah Shahih Bukhari:
  • Syarhu Shahih al-Bukhari karya Ibnu Batthal al-Maliki (w. 449 H), 
  • Fathu al-Bari karya Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H), 
  • Umdatul Qari karya Badruddin al-Aini al-Hanafi (w. 855 H), 
  • Fathu al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani as-Syafi’i (w. 852 H), 
  • Irsyadu as-Sari karya Syihabuddin al-Qasthalani as-Syafi’i (w. 923 H).

Syarah Shahih Muslim:
  • Al-Mu’lim bi Fawaid Muslim karya Muhammad bin Ali al-Mazari al-Maliki (w. 536 H), 
  • Ikmal al-Mu’lim bi Fawaid Muslim karya Qadhi Iyadh bin Musa al-Maliki (w. 544 H), 
  • Shiyanat Shahih Muslim karya al-Hafidz Ibnu as-Shalah as-Syafi’i (w. 643 H), 
  • Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj atau yang terkenal dengan sebutan Syarh Shahih Muslim karya Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi as-Syafi’i (w. 676 H), 
  • Ad-Dibaj ala Shahih Muslim bin al-Hajjaj karya al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi as-Syafi’i (w. 911 H).

Sebuah wacana baru dalam kajian yurisprudensi Islam tentu tidaklah dilarang. Apalagi memang jika tujuannya baik. Hanya sebuah wacana itu seharusnya layak dan mau untuk diuji publik dan waktu. Tentu pengujian itu tidak serta merta dalam rangka menjelek-jelekkan atau menentang. wallahua'lam bisshawab

Oleh : Hanif Luthfi, Lc ,


via rumah fiqh

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News