Top News :
Home » » Maha Guru Sang Sultan yang Terlupakan

Maha Guru Sang Sultan yang Terlupakan

Posted on Friday, 15 May 2015 | garis 02:33

Muslimedianews.com ~

Oleh: Abdul Aziz*

Kontribusi Islam

Perkembangan Islam di Indonesia yang berlangsung secara evolusi telah berhasil menanamkan aqidah Islamiyah dan syari’ah shahihah, memunculkan cipta, rasa dan karsa oleh penduduk-penduduknya. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat telah memeluk agama yang berkembang secara evolusi pula, baik dari penduduk asli (yang menganut animisme, dinamisme, veteisme dan sebagainya) maupun pengaruh dari luar (Hindu-Budha). M. Abdul Karim dalam bukunya Islam Nusantara juga menjelaskan bahwa agama Islam dalam sejarah tercatat sebagai agama yang telah memberikan kontribusi besar dalam mengorbankan semangat perjuangan rakyat untuk memancarkan budaya dan pemikirannya dalam membina kemaslahatan-kemaslahatan di Indonesia.
Tunggak Kayu Laban (tempat semedi Sultan Hanyokro Kusuma, murid kesayangan Syekh Mubin)

Teori tersebut menurut saya memang patut untuk dibenarkan karena, jika melihat sejarah Islam di Indonesia terutama di Jawa memang telah membawa pengaruh yang cukup signifikan baik dalam aspek sosial, ekonomi maupun politik (kekuasaan). Dalam bidang politik misalnya, Islam yang berkembang di Jawa membawa kerajaaan-kerajaan yang bercorak non-Islam menjadi bersyahadat dan akhirnya memeluk Islam, sebagaimana Kerajaan Mataram. Kita tahu bahwa awalnya Kerajaan Mataram bukanlah Kerajaan bercorak Islam. Ketika abad ke-VIII sebelum adanya Kerajaan Demak dan Pajang, pada masa itu telah berdiri Kerajaan Mataram Kuno. Tentunya hal ini menjadi cukup alasan mengenai pengaruh Islam terhadap kekuasaan kala itu. Walhasil, Mataram Islam khususnya pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma pada abad ke-XVI berhasil membawa umatnya pada puncak keemasan baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial maupun islamisasi.

Tidak hanya itu, empat abad setelah pemerintahan Mataram Islam usai, Islam di Nusantara juga berhasil mengantarkan Indonesia mengibarkan bendera merah-putihnya (baca: merdeka) dan selanjutnya dapat mempertahankan kemerdekaannya. Ketika itu yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia khususnya di Pulau Jawa bukan hanya TNI ataupun yang sejenisnya, namun para ulama dan kaum santri juga sangat berperan penting dalam mengusir kolonial. Katakanlah seperti seperti AOI (Angkatan Oemat Islam) di Kebumen, laskar Hizbullah, Kuda Putih dan lain sebagainya. Itulah ilustrasi kecil mengenai jasa-jasa Islam yang ada di Indonesia.

Guru Spiritual Sultan Agung
Jika berbicara mengenai Sultan Agung (Raja Mataram Islam ke-3) yang mempunyai kekuatan besar baik di bidang politik, sosial maupun islamisasi,  demikian begitu hebat dan besarnya jasa-jasanya hingga julukan “Agung” ditancapkan pada dirinya. Tentu dibalik itu semua terdapat seorang guru yang sangat berjasa dalam mengantarkan Sang Sultan menjadi pemeluk Islam yang hebat. Guru tersebut salah satunya adalah Syekh Muhammad Najmuddin ‘Ali Mubin, seorang ‘alim ulama asal negeri “Mahabarata” (Gujarat, India).

Syekh Muhammad Najmuddin ‘Ali Mubin atau dikenal dengan Syekh  Mubin (masyarakat Jawa menyebutnya Mbah Mubin) datang ke Jawa pada abad ke-XVII. Menurut Susdarto Saeful Wahid (43) selaku Juru Kunci Makam Syekh Mubin, menuturkan; “waktu itu Syekh Mubin datang ke Jawa dengan menggunakan Kapal melalui Samudera Hindia dan mendarat di Pantai Ambal, Kebumen”,tutur Susdarto.

Sebagaimana ulama-ulama dari Timur Tengah, India maupun Persia, ia melakukan perjalanan ke Jawa dengan menggunakan kapal. Jika ditelusuri dalam kaca mata sejarah jalur kelautan (pelayaran) di Indonesia, memang tidak maksud akal. Sebab pada umumnya para saudagar Timur Tengah maupun India bahkan sewaktu Portugis mendarat di Jawa pun mereka tidak melalui jalur Samudera Hindia (baca: Laut Selatan Jawa). Namun, seperti biasa mereka melalui selat Malaka kemudian berlayar hingga mendarat di pesisir pantai Utara pulau Jawa (Cirebon, Demak, Rembang, Gresik, Tuban dan sebagainya). Tentunya hal ini menjadi karakteristik tersendiri bagi Sang Syekh. Laut Selatan yang terkenal ombaknya paling ganas ini telah menjadi saksi betapa kerasnya perjuangan Syekh Mubin dalam melakukan perjalanan dari India hingga Jawa.

Menurut ayah, kakek dan juga riwayat turun-temurun dari keluarga Susdarto yang terdahulu, Syekh Mubin adalah salah satu buyut dari wali sekaligus ulama sejagat raya yang sering dikirim do’a oleh kaum muslimin yakni Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Jadi, urutan silsilahnya adalah dari Syekh Mubin bin Syekh Musa bin Syekh Wahab bin Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Itu berarti secara tidak langsung Syekh Mubin juga keturunan dari Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Sebab Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga masih keturunan Nabi Muhammad SAW. Syekh Mubin biasa di khaul-kan setiap bulan Rawah Minggu pertama (tepatnya tanggal 1 Rawah). Namun, karena tanggal 1 Rawah tidak pasti harinya bertepatan dengan hari Minggu, maka untuk memudahkannya adalah dengan menetapkan khaul Syekh Mubin setiap Minggu pertama pada bulan Rawah.

Dalam sejarahnya selama di Jawa, Syekh Mubin telah dikenal oleh para penduduk mulai dari kalangan bawah, menengah hingga kalangan atas (Raja). Masih dalam wawancara saya dengan Susdarto, ia menjelaskan bahwa, “sekitar tahun 1646 Syekh Mubin telah menjadi guru spiritual pribadi Sultan Agung. Bahkan menurut riwayat, Sultan Agung adalah murid kesayangan Syekh Mubin. Awal mula keduanya dapat saling bertemu dan bersapa adalah disebabkan dari ulama India yang telah memberikan wilayah teritorial berdakwah kepada Syekh Mubin diantara dua sungai besar yang ada di Jawa yakni sungai Progo (di Kulonprogo, Yogyakarta) dan sungai Serayu (di Cilacap). Karena pusat Mataram Islam terletak di Yogyakarta, maka pada akhirnya Syekh Mubin dan Sultan Agung dapat bertemu hingga Sang Sultan memutuskan untuk berguru kepada beliau.” Boleh jadi yang dimaksud oleh Susdarto disana pada tahun 1646 adalah rantai terputusnya keilmuan Sultan Agung dengan Syekh Mubin, karena tahun tersebut merupakan sekitar tahun wafatnya dari Sultan Agung sendiri. Karena mengenai tahun wafat Sultan Agung Hanyakrakusuma memang telah terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan Sultan Agung wafat tahun 1945, ada pula yang berpendapat tahun 1946. Sultan Agung di makamkan di Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Pengaruh
Tidak begitu urgen mengenai tahun tepatnya Sultan Agung menjadi santri setia Sang Syekh, namun yang terpenting adalah pengaruhnya dalam lingkungan Kerajaan Mataram Islam sangat signifikan. Sultan Agung yang memerintah tahun 1613-1645, telah memberikan kontribusi yang besar dalam Islam dan Budaya Jawa di Indonesia. Salman Iskandar (2009:76) menuliskan beberapa kontribusi Sultan Agung bagi Islam di Indonesia diantaranya seperti, memperluas wilayah Islam ke seluruh Pulau Jawa, memerangi VOC dan yang paling monumental adalah ia memadukan budaya Islam dengan kebudayaan Jawa, bahkan kebudaayn pra-Islam. Bukti ontentiknya ialah adanya penetapan penanggalan Jawa yang merupakan hasil perpaduan antara Kalender Saka dan penanggalan Islam (penanggalan Hijriah). Sekali lagi saya kemukakan, bahwa itu semua tidak terlepas dari pengaruh pemikiran para ulama yang selalu setia dalam mendampingi Sultan Agung, terutama Syekh Mubin. Dengan demikian, proses islamisasi lebih mudah untuk diluncurkan kepada masyarakat di Pulau Jawa pada umumnya dan masyarakat Kebumen pada khususnya.
Dua Makam istri Syekh Mubin. Sebelah Kiri istri asli dari India, sedangkan yang kanan dari Jawa.
Makam Syekh Muhammad Najmuddin ‘Ali Mubin (Mbah Mubin)
Ditulis oleh Abdul Aziz,
*Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadis Institut Agama Islam Negeri Surakarta


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News