Top News :
Home » , » Masih Ingat Metode Ngaji Al-Baghdadiyah? sebelum Iqra'

Masih Ingat Metode Ngaji Al-Baghdadiyah? sebelum Iqra'

Posted on Monday, 18 May 2015 | garis 13:01

Muslimedianews.com ~ Masih ingat cara mempelajari bacaan Al Qur'an dgn metode turutan atau yg dikalangan pesantren disebut Sorongan atau yg lebih dikenal dgn metode Al Baghdadiyah?

Bagi generasi santri thn 80'an pasti pernah mempelajari metode mengaji seperti ini sebelum akhirnya diganti dgn metode Iqro ketika memasuki awal 90'an oleh Kementerian Agama pada saat itu.

Metode turutan ini adalah cara mempelajari Al Qur'an dgn menggunakan kitab panduan yg dulu lebih populer disebut Ngaji Juz Amma. Sekedar menambah wawasan bagi para generasi muslim kelahiran 90'an yg tdk tahu cara Mengaji Al Qur'an terbaik di dunia yg pernah ada di Indonesia.


Cara mengaji turutan ini biasanya memakan waktu lama, seorang santri tdk diperkenankan pindah ke bab selanjutnya jika pada Bab pelafalan Makhraj atau lebih terkenal dgn Alif-alifan, santri tersebut belum fasih melafalkan setiap huruf hijaiyah. Perlu waktu lama bagi seorang santri utk benar-benar fasih melafalkan huruf hijaiyah dgn baik dan benar. Ini tentu berbeda dgn metode Iqro yg hanya sekedar tahu huruf hijaiyah namun tdk fasih melafalkannya karena memang metode iqro hanya mengandalkan hafalan saja bukan teknik membaca.

Dari sini saja kita bisa membedakan bahwa generasi turutan bacaan Al Qur'an nya jauh lebih baik dari para generasi iqro baik dari segi makhroj dan tajwidnya, karena bagi generasi turutan membaca Al Qur'an bukan seperti membaca koran atau novel.

Dahulu ketika para santri akan mengkhatamkan bacaan Al Qur'an metode turutan ini, biasanya madrasah tempat para santri ini belajar akan mengadakan ujian bacaan utk mengetahui seberapa bagus cara bacaannya. Dalam acara itu biasanya madrasah mengundang beberapa ulama ahli qira'at, pemerintahan desa dan tentu saja semua masyarakat desa.

Satu persatu santri maju utk membaca kpd ustadz yg ditunjuk utk mengujinya. Setelah dinyatakan lulus maka santri itu akan diarak memakai becak atau kuda sebagai tanda penghormatan kepadanya, sementara bagi santri yg tdk lulus bisa mengulangnya tahun depan.

Bagi santri yg lulus ini biasanya akan diminta oleh ulama ahli qira'at utk mengaji kepadanya dan meminta idzin kpd kedua orangnya utk dididik cara membaca Qira'at Sab'ah yg sebenarnya.

Itulah generasi turutan para pembaca Al Qur'an terbaik negeri ini. Walaupun kini metode turutan sdh jarang dipakai namun dibeberapa daerah kantong NU seperti Kudus dan Demak masih bisa dijumpai para ustadz mengajar dgn metode ini.

Oleh : Hamim Jazuli

Share this post
:
Comments
1 Comments

+ comments + 1 comments

Musafa Umarela
18 May 2015 at 13:20

di TPQ daerah saya sudah diperkenalkan dan menggunakan metode Yanbu'a, bagaimana menurut admin tentang metode tersebut??

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News