Top News :
Home » » Masjid Sayyidina Husein : Simbol Politik dan Kesyahidan

Masjid Sayyidina Husein : Simbol Politik dan Kesyahidan

Posted on Sunday, 10 May 2015 | garis 13:29

Muslimedianews.com ~ "Di tempat manapun kepala dan jasad Husein berada, ia senantiasa tinggal di hati-hati dan jiwa-jiwa, senantiasa bersemayam di asrâr dan khawâthir." (Sibth al-Jauzi dalam Tadzkirah Khawâshsh al-Ummah)
I
Masjid adalah salah satu simbol Islam yang paling menonjol. Masjid bagi Islam, meminjam istilah Rusmir Mahmutcehajic, adalah The Heart of Submission, Jantung Ketundukan. Ia bukanlah semata bangunan. Ia masjid, tempat sujud. Ia lebih mencerminkan tempat, tempat apapun itu, untuk berserah dan tunduk kepada Allah swt. dalam menjalankan shalat dan ibadah lain, baik yang wajib maupun sunnah; penyerahan dan ketundukan kepada Dzat Agung Yang tidak berada di tempat manapun dan pada waktu kapanpun, Dzat Indah Yang tidak bisa dibayang oleh akal dan diangan oleh khayal. Mungkin sebab sifat yang lebih dari sekadar “supranatural” ini, proses ketundukan ini tak bisa dipakem di suatu tempat, bukan tempat yang lain, misalnya. Maka masjid bagi Islam, berbeda dengan agama samawi yang lain, adalah seluruh hamparan suci di muka bumi ini.


Masjid adalah tempat sentral bagi seluruh kegiatan keagamaan dalam Islam. Sejak Masjid Nabawi dibangun oleh Rasul saw. di Madinah, masjid menjadi simbol persatuan sosial dan pendidikan serta peribadatan. Termasuk di dalamnya soal tempat pemakaman di dalam masjid.

“Tren” pemakaman orang yang syahid di jalan Allah (masyhad) di dalam masjid bermula sejak Nabi Muhammad saw. memerintahkan untuk dimakamkan di rumah beliau sendiri yang berdampingan dengan Masjid Nabawi. Pada gilirannya Masjid Nabawi diperluas hingga mencakup makam Nabi saw. Kemudian tren masyhad model ini dilanjutkan oleh Sahabat, Tabiin, dan Tabiut Tabiin, serta para ulama sepanjang zaman di seluruh wilayah di mana Islam ditegakkan dan ritual-ritualnya dijalankan.

Termasuk salah satu peninggalan tren ini adalah Masjid dan Masyhad Sayyidina Husein di Kairo, Mesir.

II
Dari ratusan, bahkan mencapai nominal ribu, masjid yang tersebar di seluruh sudut negeri Mesir, tak berlebihan bila disimpulkan hanya ada satu bintang. Semua bintang terang, tapi hanya ada satu yang paling terang. Itulah masjid dan masyhad kepala Sayyidina Husein ra. Kata Budayawan Abbas al-‘Aqqad, “Seorang Bapak Syuhada (Abu al-Syuhadâ`)”; seorang yang kisah pemenggalan kepalanya ditebas pedang prajurit bayaran Yazid bin Mu’awiyah (pada 60 Hijriah) begitu tragis dan selalu menggetarkan sepanjang sejarah Islam; kisah yang menandai kegamangan para ulama Ahlussunnah dalam memandang status kesalehan atau kefasikanYazid yang “ceroboh” itu.

Seluruh tarekat di Mesir menganggap masyhad Husein sebagai pusat ritual spiritual di hari-hari besar Islam. Terutama Maulid dan Haul Sayyidina Husein. Bahkan kepindahan kepalanya yang mulia ke Kairo ini diperingati besar-besaran.

Ya, kepala mulia ini memang tidak sejak awal berada di Kairo seperti sekarang. Ia berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain, lantaran politik dan perang, sebelum akhirnya berada di Mesir. Tapi, kebenaran tempat terakhir ini konon menyisakan perselisihan antar para sejarawan dan arkeolog. Dr. Su’ad Mahir, penulis ensiklopedia Masâjid Mishr wa Auliyâuhâ ash-Shâlihûn, merangkum perselisihan riwayat itu jadi 8 tempat di 6 negeri, sebelum akhirnya didiskusikan dan disimpulkan.

Kedelapan tempat itu adalah Karbala, Madinah, Damaskus, Aleppo, Moro, ‘Asqalan, Kairo, dan Rakka.
Kepala mulia itu tak mungkin berada di Madinah kini, berdasar riwayat al-Mas’udi dalam Yâqût-nya bahwa pada abad ke-4 H. ditemukan pualam komplek makam Baqi’ bertuliskan: Ini makam Fathimah, Hasan, ‘Ali bin Husein bin ‘Ali, Muhammad bin Ja’far bin Muhammad. “Seandainya kepala mulia itu ada di sana, pasti nama Bapak Syuhada yang tersohor itu tak luput disebut”, pungkas al-Mas’udi.

Tak berada di Karbala seperti klaim Syiah Imamiah Itsna ‘Asyariah, lantaran itu hanya akan menjadi bumerang bagi Yazid bin Mu’awiyah sendiri di salah satu pusat Syiah pecinta Sayyidina Husein tersebut. Khalifah al-Mutawakkil konon pernah memerintahkan untuk menggarong makam itu dan menghancurkannya, tapi tak menemukan sisa belulang apapun di liang lahad tempat diduga kepala itu bersemayam. Lenyapnya belulang mulia itu terlalu dini untuk lahan berpasir sekelas Karbala.

Tak berada di Moro di Khurasan, lantaran Abu Muslim al-Khurasani, seorang yang disebut-sebut sebagai yang memindahkan kepala Husein dari Damaskus ke Moro, ketika itu tidak sedang berada di Damaskus. Juga tak sesuai dengan logika, bahwa bila sang Khalifah Abdullah ibn ‘Ali bin ‘Abbas berhasil mendapatkan kepala mulia itu, niscaya akan memproklamirkannya, demi menambah kemarahan Bani Umaiah.

Kemungkinan kepala mulia ini berada di gudang senjata di Damaskus nampaknya paling mendekati kebenaran. Lantaran tempat itu paling aman dan strategis meredam timbulnya fitnah di banyak kalangan. Kepala itu masih berada di sana, hingga masa Sulaiman bin ‘Abd al-Malik berkuasa tahun 96 H. kepala itu lantas dibawa, dibungkus kain dan dilumuri wewangian. Kemudian disholati berjamaah dan dikuburkan kembali di pemakaman Islam umum.

Tapi riwayat soal ini belum berakhir, masih ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa dari pemakaman umum itu kepala mulia itu digarong dan dibawa ke ‘Asqalan, Palestina, untuk sementara. Tempat ini dipilih sebagai pemakaman sementara karena paling strategis, dekat dari Baitil Maqdis di satu sisi dan dekat pula dari tepi pantai di sisi yang lain. Kenapa dipindahkan lagi dari Damaskus? Karena posisi Syiah zaman Umaiah dan berlanjut zaman Abbasiah, apalagi pada waktu itu, sangat mengkhawatirkan. Nah, dari ‘Asqalan ini dipindahkan lagi ke Mesir, tempat di mana Syiah berkuasa zaman Fathimiah.

Berdasar riwayat al-Maqrizi, kepala yang mulia itu dibawa oleh Amir Saif al-Mamlakah dan Kadi Ibn Miskin masuk Kairo pada Senin, Jumadil Akhirah, tahun 548 Hijriah. Sampai di Bab Zuwaila pada hari Selasa Jumadil Akhirah. Lantas dikubur di sana. Setahun kemudian, setelah bangunannya dipersiapkan, kepala ini dipindah lagi ke depan Bab Zuwaila, tepat di persimpangan antara Masjid al-Azhar dan Khan Khalili, tempat di mana masyhad ini ramai diziarahi hingga sekarang. Dan ini riwayat yang paling meyakinkan, menurut Dr. Su’ad Mahir.

III
Itulah sekelumit sejarah kepala mulia yang penuh lika-liku itu, yang panjang membentang sejak abad pertama hingga abad keenam hijriah. Kita sebagai orang yang bukan saksi sejarah, bukan orang yang hidup antara abad-abad ketika kepala mulia itu dipindahkan dari satu negeri ke negeri yang lain, pada akhirnya hanya bisa menerima dan percaya dengan analisis dan kesimpulan para ahli–dengan berjarak, tentu saja. Tapi itu bukan alasan bagi kita bersikap antipati seperti sikap sebagian musuh tradisi sufisme secara umum dan tarekat secara khusus yang ada di Mesir, negeri para sufi dan tarekat subur berkembang. Itu tak memberi manfaat apapun yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ketiadaan bukti secara kasat mata tak menjadi petunjuk yang benar-benar tepat bahwa ia tak ada dan tak pernah terjadi.

Bahkan logika ini ternyata telah dibuktikan secara empiris. Dr. Su’ad Mahir menukil dari kitab al-‘Adl al-Syâhid fî Tahqîq al-Masyâhidbahwa konon seseorang yang bernama ‘Abdurrahman Katakhda al-Fazdaghli ketika hendak memperluas masjid yang berdampingan dengan masyhad Husein, tergelitik hatinya oleh cibiran orang bahwa di sana tak benar-benar ada kepala mulia itu. Ia ingin menverifikasinya. Ia ingin membuktikannya seraya dihadiri banyak orang. Yang bertugas turun menyingkap masyhad dan peti di mana kepala mulia itu ditanam dengan tenang adalah dua ulama besar yang terkenal takwa dan wara’nya (‘âmilîn): al-Ustadz al-Jauhari al-Syafi’i dan al-Ustadz al-Syaikh al-Mulawwi al-Maliki. Mereka berdua turun dan menverifikasinya dengan kepala mereka sendiri, lantas mengabarkan kebenaran fakta sejarah yang dipercayai banyak orang tersebut.

Dengan begitu hilang sudah semua keraguan yang menghalang-halangi orang untuk yakin dan beritual di masyhad yang mulia ini. Seandainya pun usaha verifikasi itu berbuah kebohongan, tetap saja tak menghalangi seseorang beritual dengan tata cara yang sudah diatur oleh Islam. Karena al-Quran meyakinkan bahwa orang-orang yang mati syahid di jalan Allah itu tak benar-benar mati. Mereka hidup di alam sana, dan masih bisa berhubungan dengan kehidupan dunia ini secara ruhaniah. Indah sekali untaian Sibth Ibn al-Jauzi mengomentari perselisihan lokasi kepala mulia yang sebenarnya ini: “Di tempat manapun kepala dan jasad Husein berada, ia senantiasa tinggal di hati-hati dan jiwa-jiwa, senantiasa bersemayam di asrâr dan khawâthir.”

Oleh : Ust. M. Nova Burhanuddin, Lc.,
via RuwarAzhar

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News