Top News :
Home » , » Syekh Mahfudz Termas Sang Pioner Ilmu Sanad

Syekh Mahfudz Termas Sang Pioner Ilmu Sanad

Posted on Wednesday, 20 May 2015 | garis 07:17

Muslimedianews.com ~ Berbicara mata rantai keilmuan atau sanad maka secara otomatis pikiran kita tertuju pada Syeikh Yasin al-Fadani. Yupz itu benar.

Salah satu spesialisasi Syekh Yasin al-Fadani adalah di bidang sanad, maka tak pelak beliau dijuluki musnidud dunya fi zamaanih.

Hampir bisa dipastikan para ulama di dunia saat ini pernah mengambil jalur sanad kepada beliau, dan hal itu tidak terbantahkan.

Namun sebelum Syaikh Yasin, ada nama besar ulama yang mempunyai jalur sanad keilmuan yang banyak. Dialah Syekh Mahfudz Termas.

Pada malam ini saya sedikit mengulas biografi Syekh Mahfudz Termas berikut sanad keilmuan beliau yg saya rangkum dari Kifaytul Mustafidz.


Kifayatul mustafidz limaa alaa minal asaanid adalah kitab yg berisi kumpulan sanad2 keilmuan Syekh Mahfudz Termas. Kitab ini dita'liq, ditahqiq, dan diberi komentar oleh Syekh Yasin al-Fadani.

Baik sebelumnya saya akan memulai dari biografi beliau dulu. Syekh Mahfudz Termas atau Muhammad Mahfudz bin Abdullah bin Abdul Mannan.

Adalah ulama Indonesia kelahiran Termas, Pacitan, Jawa Timur, pada tgl 12 J. Ula tahun 1285 H. Saat beliau lahir ayahandanya tidak ada.

Saat beliau lahir, ayahnya berada di Mekkah. Semasa kecil beliau diasuh oleh ibu dan bibinya. Pada tahun 1291 H, beliau pergi ke Mekkah.

Tujuannya tidak lain untuk menemui ayahnya, dan menetap di sana. Saat di Mekkah itulah Syekh Mahfudz kemudian belajar beberapa disiplin ilmu

Namun tdk berapa lama kemudian, syekh mahfudz kembali lagi ke Jawa ditemani ayahnya. Di jawa inilah ia belajar kepada Syekh Shaleh bin Umar.

Syekh Saleh bin Umar atau yang dikenal dengan Kyai Saleh Darat, merupakan ulama pakar tafsir, ia juga guru dari RA. Kartini.

Di dalam kitab kifayatul musatafid dijelaskan bahwa Syekh Mahfudz Termas belajar beberapa kitab kepada Kyai Saleh darat, di antaranya.

Tafsir Jalalain, Syarah Syarqawi ala al-Hikam, Wasilatut Thullab, Syarah al-Maradini fi al-Falak.

Setelah dirasa cukup belajar kepada Kyai Salwh Darat, kemudian syaikh mahfudz kembali lagi ke Mekkah untuk kedua kalinya.

Di mekkah inilah kemudian beliau belajar memantapkan apa yg didapat kepada para masyayikh semisal Syaikh Umar Barakat al-Syami.

Daj beberapa Masyayikh lainnya. Namun di antara para masyayikh yg ada, Syekh Mahfudz lebih dekat sama Syekh Abu Bakar Syatha al-Dhimyathi.

Beliau Syekh Abu Bakar Syatha adalah pengarang kitab I'anah Thalibin, muris dari Syaikh Zaini Dahlan, pengarang kitab Mukhtashar Jiddan.

Sanad keilmuan Syekh Mahfudz terbagi ke dalam beberapa disiplin ilmu, di antaranya Ilmu Tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu alat,  Ilmu Ushulain, yaitu Ushuluddin dan Ushulul Fiqh, serta ilmu tasawuf&aurad. Pada masing-masing ilmu itu terbagi ke dalam be2rapa kitab.

Di dalam ilmu Tafsir, sanad beliau bersambung pada kitab tafsir jalalain, al-Baidhawi, al-Razi, al-Baghawi, dan tafsir al-Khatib.

Dalam ilmu hadits sanad beliau bersambung pada kitab shahih bukhari, muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasai, Sunan Ibnu Majah, Muwatta' Imam malik, musnad Imam Syafii, Musnad Imam Abu Hanifah, Musnad Imam ahmad bin Hanbal, Mukhtashar ibnu Abi Jamrah, al-Syifa', Arbai'in nawawiyah, al-Syamayil, al-Jaami' al-Shaghir dan lain sebagainya. Kemudian dilanjut pada ilmu fiqih.

Di dalam ilmu fiqih, sanad Syekh Mahfudz Termas bersambung pd kitab karya ibnu Hajar al-Haitami, karya2 al-Ramli, karya2 khatib al-Syirbini.

Karya2 Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari, karya2 imam nawawi, imam Rofii dan karya imam syafii. Semua sanad beliu bersambung.

Oleh karena itu dalam hierarki ilmu sanad yang sudah dikodifikasi, nama Syekh Mahfudz Termas adalah pionernya. Dilanjutkan setelahnya oleh Syekh Muhammad Husain bin Ibrahim al-Maliki, kemudian Syekh Yasin al-Fadani, Dan yang terakhir oleh Syaikh Abu al-Hasan al-Nadwi yg mana mata rantai sanad beliau terkumpul dalam Nafahaatul Hindi wal Yaman.

Mata rantai sanad ketiga ulama di atas bukan hanya dalam wilayah hadita saja, namun semua disiplin ilmu.

Sebelum mengakhiri kultwit ini, saya kutipkan pernyataan Ibnu al-Mubarak: Sanad itu bagian dari agama, kalau tanpa sanad niscaya orang akan mengatakan semaunya apa yg dimau. Semoga bermanfaat. Wassalamualaikum wr wb.

Oleh : Mohammad Khoiron, @MohKhoiron, 19/5/2015

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News