Top News :
Home » , , » Ulama Wahabi Syaikh Al-Utsaimin Tidak Tegas Kafirkan Syi'ah

Ulama Wahabi Syaikh Al-Utsaimin Tidak Tegas Kafirkan Syi'ah

Posted on Friday, 8 May 2015 | garis 20:33

Muslimedianews.com ~ Sebagian pengikut wahhabi di Indonesia ada yang secara membabi buta mengkafirkan Syi'ah. Mereka gencar 'mempromosikan' #SyiahBukanIslam atau #SyiahKafir. Pandangan Wahhabi tersebut berbeda dengan pandangan Aswaja yang tidak membabi buba mengkafirkan Syi'ah.

Di negara Saudi Arabia, jumlah Syi'ah sebenarnya cukup banyak. Beberapa sumber menyebutkan jumlah Syi'ah di Saudi mencapai 15% dari total jumlah populasi.  (Baca: Berapa Jumlah Penganut Syi'ah di Arab Saudi ? Ini Data Mereka).  Bahkan ada penganut Syi'ah yang diangkat sebagai menteri di Saudi. (Baca: Menteri Arab Saudi Muhammad Abu Saq dari Syi'ah).


Hal diatas bisa dijadikan sebagai salah satu jawaban atas pertanyaan "kalau Syi'ah kafir, mengapa diperbolehkan melaksanakan ibadah Haji ?". Tentu saja karena mereka tidak bisa dipastikan kafir begitu saja, dan Syi'ah pun hidup di Saudi.

Ternyata ulama Saudi pun, Syaikh Muhammad bin Shalih bin Muhammad al-'Utsaimin (w. 1421 H), atau Syaikh al-Utsaimin tidak dengan tegas mengkafirkan Syi'ah. Artinya tidak semua dianggap kafir.

Fatwa Syaikh al-Utsaimin itu tercatat dalam buku Liqa' al-Bab al-Mabtuh ( لقاء الباب المفتوح), sebuah buku yang mencatat hasil liqa' (mengaji) bersama Syaikh al-Utsaimin dikediamannya, setiap hari Kamis, dimulai sejak akhir Oktober 1412 H dan berakhir pada Kamis 14 Februari 1321 H.
***
Saat itu Syaikh al-Utsaimin ditanya apakah Syi'ah yang ada saat ini semuanya kelompok Rafidloh dan bagaimana memperlakukan mereka. Syaikh Al-Utsaimin memberikan jawaban bahwa Syi'ah adalah mereka yang mengklain sebagai pembela Ahlul Bait, mereka banyak dan terpecah-pecah, bahkan ulama mengatakan sampai 20 firqah.

Kata Syaikh al-Utsaimin, kita tidak mungkin menghukumi mereka seluruhnya secara membabi buta atau menyama-ratakan hukumnya (satu hukum). Tetapi kita harus memperhatikan apa yang mereka perbuat dan keyakinan mereka terhadap Nabi Muhammad Saw, serta keyakinan mereka terhadap sahabat Nabi Saw.

Misal: bila mereka berkata: "kami berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan/Rabb", sebagaimana disebutkan dari Abdullah bin Saba' yang berjumpa dengan Ali ra. dengan bertatap muka secara jelas, ia berkata: engkau adalah Allah. Kemudian Ali membakar mereka. Wal-'Iyadzu Billah. Seperti itu juga orang yang mengatakan, bahwa para sahabat telah murtad (kafir) pasca Nabi Saw, kecuali beberap orang saja, maka mereka kafir. Karena itu mengarah pada bentuk memfitnah dan mencela didalam syari'at. Apabila termasuk suatu pencelaan didalam syari'at maka dia kufur kepada Allah dan kufur berdasarkan syariat.

Dan orang yang berkata, bahwa Ali adalah Wali, lebih utama daripada Nabi Muhammad Saw maka dia kafir. karena umat Islam ber-ijma' bahwa Nabi Muhammad Afdlolul Basyar (manusia paling utama).


Lalu Syaikh al-Utsaimin memberikan semacam kaidah penting sebagai berikut:

والمهم أن ننظر إلى عقيدة هذا الرافضي أو الشيعي، فإذا كانت تقتضي الكفر حكمنا بكفره، وإذا كانت لا تصل إلى الكفر بل هي بدعة تجعله فاسقاً لا كافراً حكمنا بما تقتضيه بدعته.
Yang yang paling penting, kita perhatikan aqidah Rafidli dan Syi'i ini, apalabila memang mengarah kepada kekafiran, maka kita hukumi kekafirannya. Tetapi apabila tidak sampai pada derajat kekafiran melainkan cuma bid'ah yang menjadikannya fasiq tapi tidak kafir, maka kami hukumi apa yang mengarah kepada bid'ahnya saja."
***

Oleh : Ibnu Manshur


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News