Top News :
Home » , » Artis Menjadi Sasaran Aliran Radikal

Artis Menjadi Sasaran Aliran Radikal

Posted on Sunday, 7 June 2015 | garis 10:22

Muslimedianews.com ~ Penyebaran paham dan aliran radikal semakin mencemaskan. Tak hanya menyasar generasi muda, paham Islam garis keras sudah melebar ke kalangan profesional bahkan publik figur seperti artis.

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Adnan Anwar, di Jakarta, Kamis (4/6), mengatakan paham radikal sudah membahayakan bahkan mengerikan saat ini. Dari data yang dimiliki PBNU, ada sejumlah arti yang disasar kelompok radikal untuk menjadi pengikut saat ini.

"Artinya, radikalisme itu mengancam seluruh lapisan masyarakat sehingga kita tidak boleh hanya bertahan, tetapi harus bisa melawan dan memberantasnya," katanya. Karena itu, PBNU tidak akan pernah berhenti melawan gerakan radikal. Namun, upaya ini harus didukung pemerintah dan berbagai organisasi kemasyarakatan lain.

Masalah ini sangat krusial karena dipicu kondisi bangsa Indonesia yang belum stabil. Adnan melanjutkan, penyebar paham radikal kini mulai menggerayangi kalangan menengah, seperti pegawai negeri sipil, aparat TNI, Polri, bahkan petugas lembaga pemasyarakatan. “Ini fakta yang tidak bisa dibantah sehingga harus ada gerakan nyata untuk melawan mereka. Saya khawatir bila dibiarkan seperti ini artinya pemerintah tidak menyiapkan instrumen hukum yang pasti, kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia ini bakal terancam," tuturnya.

Menurutnya, mobilisasi propaganda di kalangan menengah saat ini sangat kuat. Pelaku propaganda menempuh berbagai cara dan untuk sementara yang paling masif adalah menggunakan media sosial. “Ada profesor, doktor, insinyur, bahkan jurnalis. Merekalah yang justru paling berbahaya. Kalau martir-martirnya mudah diatasi," ucapnya.

Ketua PBNU, Said Aqil Siradj kepada SH beberapa waktu lalu mengungkapkan, ada upaya pihak tertentu untuk memindahkan konflik aliran dari Timur Tengah ke Indonesia. Para penyebar kelompok aliran Islam radikal Timur Tengah memandang Indonesia sebagai negara yang berpotensi besar mendapat banyak pendukung karena situasi ekonomi masih belum stabil. “Mereka bergerak dengan uang yang mereka miliki dari hasil penjualan minyak,” kata Said Aqil Siradj.
Cara Orde Baru

Mantan aktivis Jemaah Islamiyah (JI), Abdurrahman Ayub, mengemukakan pemerintah perlu menerapkan cara-cara pemberantasan paham radikal dan teror seperti yang digunakan rezim Orde Baru. Di era itu pelaku teror seperti dirinya tidak bisa hidup dan tidur nyenyak. Hal ini membuat para pengajar paham radikal lari ke negara lain, seperti Malaysia, Pakistan, dan Afganistan. "Bagaimana kami tidak pergi. Saat itu RT atau RW bisa menjadi intel sehingga tidak ada ruang bagi teroris untuk menjalankan kegiatannya," ujar mantan pemimpin JI Australia tersebut.

Ia mengatakan, zaman sudah semakin canggih. Namun, hal terpenting adalah tidak boleh memberi ruang gerak fisik bagi para pelaku teror dan penganut paham radikal. “Bayangkan Aman Abdurraham bisa dibaiat pemimpin ISIS Abubakar Al Baghdadi hanya melalui kecanggihan alat telekomunikasi. Nah, kalau mereka punya ruang gerak bisa berbahaya. Harus tutup ruang geraknya,” katanya.

Sumber : Sinar Harapan Cetak, via sinarharapan.co



Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News