Top News :
Home » , » Awas Buku Aqidah Akhlak untuk MI/SD Islam kelas 5 Ini disisipi Ajaran Sesat

Awas Buku Aqidah Akhlak untuk MI/SD Islam kelas 5 Ini disisipi Ajaran Sesat

Posted on Tuesday, 9 June 2015 | garis 21:26

Muslimedianews.com ~ Tawassul merupakan salah satu cara berdo'a didalam Islam, yaitu memohon kepada Allah dengan membawa sesuatu yang disukai atau cintai oleh Allah SWT baik berupa amal-amal kebajikan, orang-orang shalih, para Nabi dan sebagainya.


Namun, ajaran Islam berupa tawassul ini ternyata ditolak oleh segelintir umat Islam yang beraliran Wahhabi dan mengangapnya sebagai kesyirikan, padahal ulama membolehkan berdo'a yang mengandung tawassul. Misal "Ya Allah dengan kemulyaan Nabi Muhammad, kabulkanlah hajat-hajat kami...", dan sebagainya.

Ajaran sesat Wahhabi ternyata juga telah menyebarkan dan disisipkan dalam buku pelajaran siswa sekolah dasar.

Beredar sebuah buku berjudul "Aqidah Akhlak untuk MI/SD Islam kelas V" yang didalamnya mensesatkan salah satu cara berdo'a dengan bertawassul.

Dalam buku cetakan DarSyafii tersebut, memasukkan berdo'a dengan tawassul sebagai salah satu yang bisa membatalkan syahadat atau menyebabkan seorang muslim menjadi kafir. Na'udzibillah min Dzalik.
"Hal-Hal Yang Membatalkan Syahadatain .... 2. Menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai perantara (tawasul) dalam berdo'a dan meminta syafa'at. "
Pada halaman lain: "Hal-hal yang dapat membatalkan syahadatain ialah ... 2. Tawasul dalam berdo'a"

Memasukkan tawassul sebagai salah satu pembatal syahadat merupakan bentuk kebodohan nyata dari penulis buku tersebut sehingga umat Islam patut mewaspadai buku-buku yang ditulis dan diajarkan oleh orang-orang yang kurang memiliki pengetahuan dalam Islam.

Pakar Aswaja Indonesia Ust. Muhammad Idrus Ramli pernah mengatakan "Tawassul dengan para nabi dan wali diperbolehkan baik di saat mereka masih hidup atau mereka sudah meninggal. Karena seorang mukmin yang ber-tawassul, tetap berkeyakinan bahwa tidak ada yang menciptakan manfaat dan mendatangkan bahaya secara hakiki kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Para nabi dan para wali tidak lain hanyalah sebab dikabulkannya permohonan hamba karena kemuliaan dan ketinggian derajat mereka. Ketika seorang nabi atau wali masih hidup, Allah subhanahu wa ta’ala yang mengabulkan permohonan hamba. Demikian pula setelah mereka meninggal, Allah subhanahu wa ta’ala juga yang mengabulkan permohonan seorang hamba yang ber-tawassul dengan mereka, bukan nabi atau wali itu sendiri." Sebagaimana dilaman pribadinya.





Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News