Top News :
Home » » Buya Syafi'i : NU dan Muhammadiyah Menjadi Merk Paten Islam-Moderat

Buya Syafi'i : NU dan Muhammadiyah Menjadi Merk Paten Islam-Moderat

Posted on Sunday, 14 June 2015 | garis 20:52

Muslimedianews.com ~ Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif belakangan ini sibuk oleh kegiatan bedah buku terbarunya, “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”. Buku utuh yang bicara tentang ketiga hal dari suduh pandangan sejarah tersebut merupakan sebuah ikhtiar yang bisa dibilang ambisius untuk mengawal eksistensi bangsa Indonesia melalui basis gerakan Islam Indonesia.

Dua kelompok besar Islam, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), sekalipun dengan kekurangan di sana-ini, menurut cendekiawan yang akrab dipangil Buya tersebut telah menjadi merek paten bagi gerakan Islam moderat, modern, terbuka dan konstruktif.   Hanya saja menurutnya, tidak berarti bebas dari oknum-oknum radikal dalam arus besar ini.

“Mereka tidak menentukan, dan biasanya tersingkir dari kepengurusan inti. Hal tersebut disebabkan kimia pemikirannya terasa asing untuk dapat menyatu dengan arus utama yang bercorak keIndonesiaan dan dalam bingkai Islam yang ramah,” paparnya dalam halaman 315.

Dalam buku itu, Buya kemudian menceritakan latarbelakang historis Islam di Nusantara lebih disebabkan oleh kuatnya model gerakan sosial-kultural ketimbang politik. Oleh sebab itu, dinamika panjang penyebaran Islam di Nusantara juga perlu dilihat secara khusus, termasuk pengalaman keberhasilan NU dan Muhammadiyah.

“Dulu gerakan Islam puritan yang dimulai abad ke-19 di Sumatera Barat menemui banyak kesulitan kultural dalam menghadapi lapisan nilai-nilai lama yang telah bertapak kukuh sebelumnya. Proses pergumulan ini masih berlangsung sampai sekarang, tetapi hampir tidak lagi menimbulkan keguncangan-keguncangan sosial yang berarti,” jelasnya.

Buya melanjutkan, puritanisme agresif yang tampak pada Gerakan Paderi di Sumatera Barat (Ranah minang)  telah semakin ditinggalkan, diganti dengan pendekatan-pendekatan kultural yang lebih mencerahkan dan persuasif.  Buya menceritakan, Muhammadiyah lahir pada awal dasawarsa kedua abad ke-20 di Yogyakarta, pusat kebudayaan Jawa, dan kemudian berkembang dengan sangat cepat di Ranah minang.

Disamping mengusung bendera puritanisme moderat, kegiatan konkretnya di lapangan pendidikan dan kesehatan telah mengukuhkan dirinya sebagai gerakan Islam yang berorientasi amal, yang terkemuka di muka bumi. Setidak-tidaknya, pada tataran jumlah, hampir tidak ada gerakan Islam yang bisa menandinginya.

Sementara NU menurut Buya, lebih mendaratkan gerakan Islam dalam tradisi, lahir tahun 1926, yang semula ingin membendung pengaruh puritanisme dan lebih menenggang tradisi dan nilai-nilai lama, dalam perkembangan belakangan bahkan semakin dekat dengan Muhammadiyah dalam arti telah membuka diri secara lebar terhadap pemikiran-pemikiran baru Islam.

“Bahkan boleh jadi anak-anak muda NU lebih “maju” dari Muhammadiyah dalam hal penyerapan hasil-hasil pemikiran baru yang muncul di Dunia Islam, diawali sejak akhir abad ke-20. Bagi saya, perkembangan semacam ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan dicemaskan sebab sebuah “perlombaan” dalam menebarkan nilai-nilai baik dan pencerahan, tetapi harus disikapi secara positif, siapa pun yang melakukan.”

PESAN UNTUK GENERASI MUDA
Kepada kaum intelektual muda Muhammadiyah dan NU, Buya sangat berharap agar generasi muda memikirkan sebuah bangunan Islam Indonesia dalam paradigma pasca-Muhammadiyah dan pasca-NU, terutama dalam orientasi pemikiran inovatif dan kreatif.

Dalam buku tersebut Buya menilai, potensi untuk menjaga keutuhan bangsa ini di kalangan NU dan Muhammadiyah termasuk luar biasa. Adapun perkara pimpinan yang lebih tua terkadang merasa tidak nyaman dengan kiprah anak-anak muda ini, bukan perkara aneh.

“Bukankah setiap terobosan pemikiran yang “maju” hampir pasti akan menimbulkan guncangan dan mungkin kecurigaan, tetapi secara diam-diam diikuti dengan syarat landasan pemikiran yang ditawarkan cukup kuat secara agama dan akal sehat,” terangnya.

Menurut Buya, perbedaan dua generasi tersebut sebenarnya lebih karena masalah kesenjangan bacaan, informasi, dan luas sempitnya radius pergaulan. Anak-anak Muda menurut Buya, lebih “rakus” dalam melalap bacaan-bacaan baru yang lebih segar, sementara yang tua masih terpaku dengan khazanah yang serba klasik yang relevansinya belum tentu sesuai dengan perkembangan baru. Gejala semacam ini tampaknya seakan-akan telah menjadi kecenderungan sejarah hampir di semua negeri Muslim.

“Peradaban Islam tidak boleh dibiarkan seperti “kerakap di atas batu, mati tidak, hidup pun  enggan”. Harus ada keberanian untuk melakukan terobosan dengan berpijak atas dalil-dalil agama yang dipahami secara benar dan cerdas, tekstual sekaligus kontekstual. Penafsiran Islam klasik jangan dijadikan “berhala”, sehingga hilang keberanian untuk menafsirkan Islam dengan cara baru, segar dan bertanggungjawab. Tafsiran baru ini harus benar dalam perspektif ilmu, tetapi tetap berada dalam parameter iman yang tulus,” terangnya.

“Sampai batas-batas tertentu, saya telah sering berdialog dan bergaul dengan anak-anak muda arus besar ini. Kesimpulan saya adalah bahwa sikap mereka sudah sangat terbuka, berbeda dengan generasi tua mereka yang sering kali saling menutup diri. Hendaklah dipahami bahwa Muhammadiyah dan NU bukanlah agama, melainkan gerakan untuk mencapai tujuan Islam yang meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia, demi tegaknya keadilan, persaudaraan, dan kebersamaan di kalangan masyarakat Indonesia yang plural,” pesannya.

Dengan situasi itu, Buya berpesan agar generasi muda harus bersikap bijak dengan tetap berada di dalam gelombang arus besar itu dengan memelihara daya kritisme yang tinggi, tetap sopan sambil menciptakan ranah yang kondusif bagi tampilnya generasi kepemimpinan baru yang lebih segar, dengan integritas moral-intelektual yang diakui semua pihak, apapun parameter yang dipakai.

Dalam pandangan Buya, ada keharusan anak-anak muda NU dan Muhammadiyah senantiasa melakukan dialog intensif dalam upaya merumuskan dan mendudukkan secara apik mengenai format hubungan Islam dan keindonesiaan. Sebab, gerak ke arah itu sudah dimulai, tetapi masih memerlukan visi yang lebih tajam lagi sehingga citra Islam yang tampil adalah Islam yang mengayomi semua pihak.

“Genderang perang yang ditabuh oleh segelintir orang harus dihadapi dengan menabuh genderang perdamaian, keadilan, kesopanan, inklusifisme, dan pluralisme dengan cara yang penuh wibawa karena kita yakin pada prinsip kebenaran yang kita pegang,” terangnya.[Hafid/Civicislam)


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News