Top News :
Home » » Hukum Memutar Kaset Qira'ah Sebelum Adzan Subuh

Hukum Memutar Kaset Qira'ah Sebelum Adzan Subuh

Posted on Thursday, 11 June 2015 | garis 08:51

Muslimedianews.com ~
"Ramai diberitakan, Wapres Jusuf Kalla larang masjid putar kaset mengaji. Pemberitaan media beragam. Pun, beberapa media nasional mengarahkan statemen Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu pada sudut pandang atau angle berbeda."
Judul pemberitaan yang mengemuka, antara lain: ‘JK Larang Kaset Mengaji Diputar di Masjid, Sebabkan Polusi Udara’, ‘Jelang Puasa, JK Larang Masjid Putar Kaset Mengaji’, ‘JK: Mengaji di Masjid Tidak Boleh Pakai Kaset’.

Dari tiga contoh judul itu saja, sudah ada alasan berbeda. Dilarang karena sebabkan polusi udara (mengganggu), atau karena kasetnya, sebab tidak berpahala, maka pengajian tidak boleh lagi menggunakan kaset, tetapi langsung pengajian yang dibacarakan orang? Lalu, kalau dibaca langsung oleh orang, meski mengganggu alias polusi udara, apa tidak mengapa?

Pada ranah ini, sementara saya masih gagal paham. Dan lagi, kebenaran berita dari media massa itu nisbi. Al-Khabar yahtamilus-shidqi wal-kidzb, berita itu berpotensi mengandung kebenaran dan kebohongan. Terkadang sesuatu itu sesuai fakta, namun juga masih tergantung mau diarahkan ke mana. Contohnya, ada telur setengah matang di jamuan presiden. Bagi jurnalis yang ‘berarilan soft’, dia akan memberitakan, “Presiden disuguhi menu telur setengah matang.” Bagi yang berarilan ‘agak ekstrim’, akan dibikin ramai: “Presiden disuguhi menu telur setengah mentah!”

Secara fakta, hakikat kedua diksi itu sama. Telur setengah matang itu ya telur setengah mentah. Kata orang Arab, “Syarrul akhbar ruwwatuha”, jeleknya berita itu ada pada perawinya. Pembahasan ini saya jabar di buku Fikih Jurnalistik, dalam dua bagian: pertama tentang “Kejujuran Berita” yang meliputi 5W+1H – dan itu tidak cukup, bila tak dilengkapi dengan – kedua, yaitu “Kejujuran dalam Menghukumi Berita”, yang meliputi ‘so what’ dan keadilan dalam menentukan sudut pandang atau angle berita.

Nah, untuk sementara, sebatas sumbangsih dalam menyikapi alasan larangan pemutaran kaset karena ‘polusi udara dan mengganggu’, ditemukan keterangan ulama di kitab al-Fiqhu ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, sebagai berikut:

أما التسابيح والاستغاثات بالليل قبل الأذان فمنهم من قال: إنها لا تجوز، لأن فيها إيذاء للنائمين الذين لم يكلفهم الله، ومنهم من قال: إنها تجوز لما فيه من التنبيه، فهي وإن لم تكن من الأحكام الشرعية فليست سنة ولا مندوبة لكن التنبيه للعبادة مشروع بشرط أن لا يترتب عليها ضرر شرعي، والأولى تركها، إلا إذا كان الغرض منها إيقاظ الناس في رمضان، لأن في ذلك منفعة لهم.
“Adapun bacaan tasbih-tasbih dan doa-doa istighatsah di malam hari sebelum adzan (Subuh), di antara ulama ada yang mengatakan, hukumya tidak boleh, karena mengganggu orang tidur yang tidak diberi beban hukum oleh Allah. Namun ulama lain memperbolehkan, karena mengandung pengingat (untuk ibadah). Meskipun hal ini bukan termasuk hukum syariat, maka bukan sunnah atau nadb, namun mengingatkan orang untuk beribadah itu adalah sesuatu yang syar’i, dengan syarat tidak menimbulkan mudarat dalam tinjauan syariat. Lebih utama hal ini ditinggalkan, kecuali jika tujuannya untuk membangungkan orang di bulan Ramadhan, karena hal itu bermanfaat bagi mereka.” [Abdurrahman bin Muhammad al-Jaziri, al-Fiqhu ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah (Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2003), Vol. 1, 296]

Menurut penjelasan ini, pemutaran kaset mengaji, atau juga ‘tarhim’ yang biasa dilakukan menjelang adzan Subuh, para ulama berbeda pendapat dalam menghukuminya. Pertama, tidak boleh, sebab keberadaannya dapat mengganggu orang tidur yang bukan termasuk mukallaf (dibebani hukum). Kedua, boleh, sebab keberadaannya dapat mengingatkan masuknya waktu shalat Subuh. Hal ini bukan termasuk hukum syar’i, jadi bukan perkara sunnah. Namun mengingatkan orang untuk berbuat ibadah adalah perbuatan yang disyariatkan, dengan syarat tidak menimbulkan mudarat syar’i. (Lihat: Fiqh Masjid, hal. 107) Dalam keterangan kitab tersebut ditambahkan, pemutaran kaset itu pada bulan Ramadhan lebih direkomendasikan, sebab amat bermanfaat untuk membangunkan orang tidur. Wallahu a’lam.

Kutipan kitab ini saya ambil dari Draft Buku Risalah Masjid: Melestarikan Rumah Allah dengan Tuntunan dan Amaliah Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Buku setebal 113 halaman ini sempat saya rencanakan untuk diberi Kata Pengantar oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia. Namun, saya tidak punya link ke lingkaran RI-2. Selain itu, apa beliau mau? Hehe.

Selasa, 9 Juni 2015.
Oleh : Ustadz Faris Khoirul Anam


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News