Top News :
Home » , » JK Larang Putar Kaset Ngaji di Masjid ? Ini Transkip Paparan Wapres yang Diplintir

JK Larang Putar Kaset Ngaji di Masjid ? Ini Transkip Paparan Wapres yang Diplintir

Posted on Friday, 12 June 2015 | garis 23:42

Muslimedianews.com ~ Dalam beberapa media, termasuk media yang mengaku 'Islam', diberitakan bahwa Wakil Presiden (Wapres) Indonesia Jusuf Kalla (JK) melarang mengaji atau qira'ah via kaset di Masjid. Diberitakan pula, JK mengatakan hal tersebut sebagai polusi suara.

Tetapi dalam pemaparan lengkap JK tentang berbeda dengan apa yang diberitakan oleh beberapa media.

Berikut transkip lengkap pemaparan JK saat menghadiri pembukaan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia di Pondok Pesantren Attauhidiyah, Tegal, Jawa Tengah, Senin (8/6/2015). Diposting di situs Arrahmah.co.id (Arrahman Aswaja), Padhang-mbulan.org, dan diinformasikan via WA.:

JK mengatakan sebagai berikut:

*****

"Sebagai Ketua Umum Dewan Masjid, ada satu hal yang saya ingin minta pendapat kepada Ijtima' Fatwa MUI ini. Kemarin saya ke kampung saya di Bone, jam 4 saya sudah dibangunkan oleh 4 masjid yang ada di sekitar rumah saya, Masya Allah! Padahal waktu Shubuh di sana adalah jam 5 kurang 10. Jadi 50 menit saya dihajar oleh segala macam pengajian dan tarhim yang tidak keruan. Kenapa saya bilang tidak keruan? Karena ke-4-nya saling bersaing suara dan tabrak-tabrakan di udara, akhirnya tidak jelas apa itu yang dibacanya.

Yang jadi masalah, yang ngaji itu kaset, atau tape recorder. Kalau orang yang mengaji memang dapat pahala, tapi kalau kaset dapat pahala tidak? Karena dia mengganggu saja, dan ini adalah polusi suara di udara. Bukan hanya umat lain yang terganggu, kita sebagai umat merasa terganggu. Akhirnya waktu saya pergi shalat Ashar di situ, saya panggil marbotnya yang lagi putar kaset dan bilang: "Hey turunkan volumenya itu. Apa urusannya ini Anda kasih mengaji pakai kaset, dan orang susah dengar juga karena kalian tabrak-tabrakan. Dan yang kedua kasi mengaji kaset itu apa dapat pahala? Kalaupun ada, pahalanya pasti orang Jepang yang dapat, karena yang kau pakai putar itu kaset pasti produksi Jepang."

Jadi menurut saya dia tidak dapat pahala. Yang kedua kita juga tidak tahu apa yang dia perdengarkan (suara saling tabrakan). Ketiga mereka berdosa juga karena ganggu kita yang lagi istirahat. Kita sudah bikin rumusan di DMI, pertama tarhim itu tidak boleh pakai kaset, harus mengaji langsung, itu baru dapat pahala. Sebenarnya kalau kita yang sudah pernah ke Mekkah, di sana itu tidak ada pengajian yang keras-keras. Hanya adzan saja dua kali, sudah cukup itu.

Saya sudah hitung semuanya, di Indonesia ini ada sekitar 800 ribu masjid. Artinya tiap 500 meter ada masjid atau mushalla. Bahwa orang jalan kaki dari rumah ke masjid, itu maksimum 10 menit. Jadi tak usah bangunkan orang 1 jam sebelumnya. Jadi pengajian itu 5 menit saja sudah cukup. Kemudian tarhim 3 menit, kemudian adzan 2 menit, iqamat 1 menit. Kemudian kasih kesempatan orang shalat sunnah 3 menit, saya rasa sudah cukup itu waktunya. Baru bisa aman negeri ini, kalau tidak begitu akan polusi suara di mana mana.

Saya sudah marahi itu marbot di kampung saya, saya bilang: "Kau ini kau kasih mengaji masjid keras-keras jam 4 Shubuh setelah itu kau tidur. Kita semua yang kena. Anda enak memang, karena habis shalat Shubuh Anda bisa tidur sampai jam 10, sementara kita ini harus pergi kerja. Bagaimana Anda ini?"

Jadi ini bisa menghambat, pekerjaan bisa ngantuk semua di kantor kalau bangunnya jam 4. Saya selalu bangunnya jam 5 saja, itu sudah cukup.

Jadi mudah-mudahan bisa dibicarakan di sini (Ijtima' Fatwa MUI), apakah pengajian lewat kaset itu dapat pahala atau tidak? Karena menurut saya tidak ada amalnya. Karena itu di DMI kita bikin peraturan tidak ada lagi pengajian lewat kaset, harus pengajian orang langsung. Kalau begitu kan tidak juga ustadz yang datang mau mengaji jam 4 Shubuh di masjid, biasanya jam setengah 5 lebih sedikit baru mereka datang. Dan lagian juga mana dia sanggup mengaji yang baik lebih dari setengah jam. Kalau kaset 1 jam lebih pun masih sanggup.

Dan itu kenyataan yang saya temukan, itu marbot putar kaset mengaji jam 4 dan dia sendiri tidur (di masjid). Dan di Jakarta juga masih banyak yang begitu. Kalau di Masjid al-Markaz dan Masjid Raya Makassar saya memang sudah mengatur, pengajian tidak boleh lebih dari 5 menit. Saya sudah preteli semua itu alat-alat pemutar kasetnya. Jadi kalau ada yang mau mengaji, harus orang langsung. Jangan Sudais saja yang diperdengarkan ke kita setiap hari, sementara Sudais sendiri sudah tidak ada. Ini hal yang kelihatannya memang tidak penting, tapi dari sini juga kita bisa memperbaiki kebangsaan dan produktivitas bangsa.

Belum lagi mereka yang bertugas sampai malam, misalnya polisi yang kadang pulang tengah malam, kalau dia dibangunkan jam 4, bagaimana dia mau kerja baik. Jadi itu mohon Pak Din (Syamsuddin) ini dibahas juga. Ini penting karena 200 juta orang di Indonesia yang kena hal seperti ini setiap hari."
*****

red. Ibnu Manshur

Share this post
:
Comments
1 Comments

+ comments + 1 comments

sartono
15 June 2015 at 18:40

Maksud Pak JK ya ada baiknya,kali ya...?

1. Kadang memang terlalau dini dibunyikan pagi.
2. Biar ngaji hidup. Artinya dibaca oleh orang
yang punya kemampuan baca AlQuran
dengan baik dan benar.
3. Lama lama orang baca Al Quran di Masjid hilang
sebab pakai kaset terus.

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News