Top News :
Home » , » Kenalilah Islam Nusantara, Andai Al-Farabi Hidup Dimasa Kini

Kenalilah Islam Nusantara, Andai Al-Farabi Hidup Dimasa Kini

Posted on Monday, 29 June 2015 | garis 06:02

Muslimedianews.com ~ Peradaban adalah keseluruhan budaya, kreasi dan peri hidup masyarakat. Peradaban pasti mewadahi keragaman. Semakin beraneka keragamannya, semakin besar peradabannya, asalkan masyarakat yang bersangkutan menghidupi keragaman itu dalam kedamaian. Walaupun mengandung keragaman, setiap peradaban memiliki konstruksi yang khas dan unik berdasarkan elemen-elemen utama yang menyusun sendi-sendinya.

Yang diklaim sebagai peradaban Islam adalah peradaban yang sendi-sendi utamanya dapat dinisbatkan kepada Islam. Dalam hal ini, ukurannya bukanlah ortodoksi, bukan keabsahan madzhab, bukan batas sunnah dan bid’ah, bukan otoritas fatwa. Ukurannya adalah “nuansa Islam”, yakni segala kreasi yang mendapatkan inspirasinya dari Islam.

Abū Naṣr Muḥammad ibn Muḥammad Al Fārābī adalah filsuf besar yang oleh dunia filsafat disaluti sebagai “Guru Kedua” setelah Aristoteles. Seorang ahli manthiq, kosmologi, dan musik. Muridnya, Abū ʿAlī al-Ḥusayn ibn ʿAbd Allāh ibn Al-Hasan ibn Ali ibn Sīnā, Bapak Kedokteran Dunia. Karya-karya besarnya meliputi bidang-bidang ilmu pengetahuan yang menyamudera: filsafat, astronomi, kimia, geologi, psikologi, ilmu kalam, manthiq, matematika, fisika dan sastra. Keduanya adalah tokoh-tokoh kebanggaan Islam dari zaman keemasan peradabannya di Timur Tengah. Setiap muslim pasti mendaku mereka sebagai putera-putera terbaik Islam yang pernah ada dalam sejarah. Dan tak terima kalau ada yang bilang mereka bukan tokoh Islam.

Tapi, secara kategoris, mereka bukan ahlus sunnah wal jama’ah menurut definisi yang mu’tabar. Mereka itu neo-platonis. Aqidah mereka bertentangan dengan madzhab Asy’ari maupun Maturidi. Seandainya Al Farabi hidup hari ini dan membuka pesantren di Sampang, pesantrennya akan dibakar orang. Kalau Ibnu Sina buka majelis ta’lim di Cikesik, boleh jadi akan dipukuli sampai mati!

Sebagaimana risalah Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam adalah risalah peradaban, para ulama dan wali-wali Jawi (Nusantara) berjuang membangun peradaban. Perjuangan mereka telah membuahkan apa yang secara kategoris dapat kita sebut sebagai Peradaban Islam Nusantara. Boleh dikata, masyarakat Nusantara memasuki era moderen sebagai Peradaban Islam Nusantara.

Peradaban Islam Nusantara itu memuat sarwa ragam aneka warna, dan dalam dinamika pergulatan sejarahnya terus-menerus melahirkan ragam tak henti-hentinya. Sebagaimana Syaikh Muhammad Nawawi Al Bantani, Syaikh Mahfudh At Tarmisi dan Syaikh Ihsan Al Jampesi adalah anak-anak Peradaban Islam Nusantara, begitu pula Ki Ronggowarsito, Ki Ageng Suryomentaram dan Kyai Samin. Sebagaimana Kaasyifatus Sajaa, Al Badrul Muniir dan Siroojut Tholibiin adalah buah-buah Peradaban Islam Nusantara, begitu pula Serat Kalatida, Kawruh Begja dan ajaran Samin. Sebagaimana Kyai Abdul Wahid Hasyim, Kyai Mas Mansoer dan Meester Mohammad Natsir adalah anak-anak Peradaban Islam Nusantara, begitu pula Soekarno, Alimin dan Tan Malaka. Sebagaimana Nahdlatul Ulama, Muhammadiyyah dan Masyumi adalah kekayaan Peradaban Islam Nusantara, begitu pula, PNI, PKI dan Murba!

Kata Gus Dur, sejarah adalah peristiwa-peristiwa membuang dan menyimpan. Maka peradaban adalah gudang-gudang hartanya. ()

Oleh : KH. Yahya Cholil Staquf


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News