Top News :
Home » » Ketua PWNU Jabar tanggapi Pernyataan Menag di Twitter

Ketua PWNU Jabar tanggapi Pernyataan Menag di Twitter

Posted on Thursday, 11 June 2015 | garis 19:43

Muslimedianews.com ~ Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) baru-baru ini membuat pernyataan yang kontroversial terkait dengan perlunya menghormati orang-orang yang tidak berpuasa. Lukman juga menyatakan pada akun Twitternya @lukmansaifuddin, “warung-warung tak perlu dipaksa tutup. Kita harus hormati juga hak mereka yang tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa,” tulisnya pada Selasa, 9 Juni 2015.

Tetapi kemudian timbul kontroversi karena ada yang mengubah teks dari twitter tersebut menjadi “Kita harus hormati yang tak puasa” sehingga timbul prasangka, ucapan Menag tersebut sebatas menghormati orang yang tidak berpuasa. Karena itu melalui akun twitter tersebut Menag juga menjelaskan secara detail dengan menyatakan, “tapi kalau kalimat twit saya itu diubah jadi: “Kita harus hormati yang tak puasa”, tentu maknanya jadi berbeda sama sekali,” kata Menteri Agama Lukman seperti dikutip situs Kemenag.go.id.

Sikap Ketua NU Jabar
Menanggapi persoalan tersebut, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, KH. Dr. Eman Suryaman berpendapat, bahwa intisari yang disampaikan Menteri Agama tersebut tergolong bijaksana.

“Beliau ingin orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa sama-sama saling menghormati. Ini kan wajar. Mengapa? Karena dalam syariat puasa, itu ada golongan yang tidak mendapatkan kewajiban berpuasa, bahkan bagi orang Islam sendiri,” katanya kepada Katakini.com, Rabu 10 Juni 2015 di Kantor PWNU Jawa Barat.

Eman menjelaskan, dalam orang Islam sendiri tidak semua diwajibkan berpuasa. Misalnya anak-anak yang belum usia baligh, orang tidak “berakal”, maksudnya tidak seratus persen dalam kondisi sehat akliyahnya, seperti orang gila dan pikun. Ada juga orang yang tidak memiliki kemampuan secara fisik melaksanakan karena sakit, sedang dalam situasi kepayahan perjalanan, yakni musafir, ibu-ibu menyusui yang lebih mengutamakan kesehatan janinnya, termasuk perempuan sedang haid.

“Melihat kategori syar’iyah itu saja, maka kita bisa membayangkan, ternyata banyak orang yang membutuhkan pelayanan makanan. Misalnya, kemarin saya lewat kawasan pabrik di Karawang. Wah, di sana ribuan buruh pabrik perempuan. Sekian ratusnya pasti banyak yang haid dan tentu butuh makan. Mengapa warung harus tutup?. Tidak ditutup pun mereka membatasi berjualan karena pembeli di siang hari pasti sedikit. Kemudian banyak anak-anak yang butuh warung juga, tak terkecuali musafir,” terangnya.

Dalam pandangan Eman, apa yang dikatakan Menag Lukman Hakim tersebut adalah wajar. Di kalangan pesantren sendiri juga sudah tahu masalah itu sehingga para santri pastinya bisa paham arah pikiran Menag.

“Cuma, memang sekarang ini banyak orang yang terlalu tergesa-gesa dalam bersikap. Sampai-sampai DPR-RI segala harus mempertanyakan soal pernyataan pak Menag. Kalau paham maksudnya kan sudah tidak perlu mengurusi hal seperti itu,” ujarnya.

Eman berpesan, masyarakat dalam menyambut Ramadan jangan terjebak pada olok-olokan. Puasa itu selain mengekang hawa nafsu, menahan diri, juga bermakna untuk menata pola hidup yang sederhana. Nah, pada situasi Ramadan nanti, Eman berpesan masyarakat perlu perbanyak belajar, termasuk belajar detail pengetahuan puasa.-Hamzah/Ari.

sumber katakini.com

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News