Top News :
Home » , » KH. Ali Mustofa Ya'kub : Islam Sangat Lentur, yang bikin 'Sumpek' orang Islamnya

KH. Ali Mustofa Ya'kub : Islam Sangat Lentur, yang bikin 'Sumpek' orang Islamnya

Posted on Tuesday, 2 June 2015 | garis 06:00

Muslimedianews.com ~ Berikut ini merupakan sebagain daripada transkip penjelasan Imam Masjid Besar Istiqlal Jakarta KH. Ali Mustofa Ya'kub tentang Budaya dalam Islam. Sebelum baca: KH. Ali Mustoya Ya'kub: Sorban itu Budaya Arab.  

Berikut lanjutannya:

*****
Nabi pernah bersabda dan ini haditsnya shahih "Umumkanlah nikah itu dengan memukul rebana". Rebana itu adalah alat musik yang dikenal pada masa Rasulullah Saw. Maka saya mengatakan, itu adalah budaya. Maka orang mau nikahan, kemudian mau mendatangkan group rebana itu juga boleh, tapi itu tidak wajib. Tidak menggunakan rebana tapi menggunakan alat musik lokal itu tidak apa-apa. Sebab yang disampaikan Nabi itu bukan berkaitan dengan masalah agama, tetapi itu berkaitan dengan masalah budaya.

Jadi, ada dua hal yang penting. Pertama, apa yang berasal dari Rasulullah Saw dan itu tidak merupakan ajaran agama, tetapi yang berkaitan dengan sosial budaya, kita boleh mengikuti dan boleh tidak mengikuti.


Disisi lain, ketika kita berhadapan dengan budaya-budaya lokal, maka kita pun harus arif, bahwa budaya lokal sepanjang tidak bertentangan dengan agama Islam maka tidak harus kita tolak budaya lokal itu.

Saya mencontohkan, menari atau menyanyi. Itu kalau kita cari dalil yang mengharamkan sulit. Sulit untuk mencari dalil yang mengharamkan misalnya menari. Maka seorang istri boleh saja menari dihadapan suaminya didalam kamar sampai "elek" lah begitu. Nggak apa-apa. Ngk ada dalil yang mengharamkan. Itu masuk wilayah namanya mu'amalah, dan al-Ashlu fil Mu'amalah al-Ibahah. Menyanyi juga demikian. tetapi kalau menyanyi itu syaiar-syairnya adlaah kalimat-kalimat yang batil, mengandung kemusyrikan, penampilan perempuannya dengan busaya yang sangat minimalis dan ditonton oleh mata-mata lelaki, apalagi sampai melupaan shalat. Maka yang demikian itu jelas sekali keharamannya.

Dan inilah barangkali perlu kearifan dengan budaya-budaya lokal, jangan kemudian dengan alasan "ini adalah produk dari non-muslim harus kita tolak".

Ada sebuah hadits, dan haditsnya shahih. Orang-orang sering menyebutkan Man Tasyabbaha bi-qaumin fahuwa Minhum, selalu 'Qaumin' disini konotasinya adalah orang-orang kafir. (sehingga dimaknai) "orang-orang yang menyerupai orang-orang kafir (begitu), maka dia termasuk kafir". Makanya dari hadits ini, ada yang mengharamkan kita memakai dasi, kataya menyerupai orang kafir, pakai jas menyerupai orang kafir, padahal kita juga pakai celana, orang kafir juga pakai celana. Makanya saya katakan, kalau tidak ingin menyerupai, jangan pakai sepatu, kaos kaki dan celana, lalu pakai apa? Sarung?. sarung itu juga pakaian orang hindu di India, baju koko itu dari China (orang konghuchu). Tetapi lama-lama kita naik mobil juga menyerupai orang kafir. Ini, orang-orang yang ketat seperti itu, dengan dalih ingin mengikuti Rasulullah Saw dengan semaksimal mungkin.

Hadits "Man Tasyabbaha bi-Qaumin fahuwa Minhum", itu hadits bermasalah. Sebagian mengatakan shahih, sebagian mengatakan hadits tidak shahih. Kalau pun itu shahih, maka yang dimaksud adalah menyerupai orang-orang kafir dalam pakaian dan perbuatannya yang khusus. Tetapi ada yang shahih yang tidak pernah disampaikan oleh sementara orang, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari bersumber dari shahabat Abdullah bin Abbas, beliau mengatakan

كان النبي - صلى الله عليه وسلم - يحب موافقة أهل الكتاب فيما أي في أمر لم يؤمر فيه
Rasulullah itu menyukai untuk menyamai orang-orag Yahudi dan Nasrani (ahli kitab) selama tidak ada perintah untuk menjauhi, atau dengan kata lain, selama tidak ada larangan.

Contohnya oleh sahabat Ibnu Abbas, Rasulullah Saw. itu pada awalnya kalau menyisir rambut itu memakai jambul didepan, dan itu tradisi orang-orang musyrikin, tetapi kemudian Rasulullah Saw mengubah cara menyisir rambut dengan dibelah ke kanan dan ke kiri, dan itu adalah tradisi orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan Rasulullah menyukai yang kedua itu, maka Ibnu Abbas mengatakan Rasulullah suka menyamai Ahl kitab selama tidak ada larangan.

Jadi Islam itu sangat lentur (fleksibel) sekali sebenarnya. Yang bikin sumpek dan kaku itu hanya sebagain orang Islam, ada unsur yang namanya 'tasyaddud', mempersulit diri.

Makanya saya diberbagai daerah, apakah di Bali, Papua, daerah Dayak, saya sering 'menyentil', "anda bangun masjid (di Bali), kenapa nggak anda adobsi itu budaya-budaya Bali?". Perlunya apa? orang Bali ketika masuk masjid tidak akan merasa asing. Inilah pendekatan budaya; orang tidak akan merasa asing sebab itu adalah budaya sendiri. Kami sebut juga (yang demikian) ketika berkunjung ke Tarakan, Nunukan dan lain-lain. "Kenapa ornamen-ornamen Dayak tidak kamu masukkan kedalam masjid?". Mungkin anggapannya haram, dan (mengira) bahwa masjid itu harus pakai kubah. Saya mengatakan: kubah itu tidak berasal dari Islam, coba sebutkan darimana dalil bahwa dalam Islam itu harus membentuk kubah?. Saya sekarang mengatakan, yang namanya Kubah itu berasal dari Gereja.

Ketika Islam masuk ke Konstantinopel, pada sekitar abad ke-9 (kalau tidak salah), itu yang membawa kesana adalah Sultan Muhammad Al Fatih al-Tsani dari dinasti Utsmaniyah. Di Konstantinopel yang kemudian diubah namanya menjadi Istanbul, ada gereja yang sangat besar yaitu gereja Aya Sofia. Gereja ini kemudian diubah fungsinya menjadi Masjid, sekarang jadi museum. Kemudian Sultan Ahmad dari khilafah Utsmaniyah berkeinginan membuat masjid yang megahnya seperti Gereja Aya Sofia, maka dibangunlah Masjid Sultan Ahmad yang kemudian kondang dengan sebutan Masjid Biru. Kemegahan itulah, bentuk-bentuk kubah yang mengadobsi dari gereja romawi timur menyebar ke negara-negara Arab; Mesir dan sebagainya, dari itu kemudian menyebar ke Indonesia, ke Istiqlal, ke Priuk, dan sebagainya.

Jadi kalau dilacak aslinya, kubah itu darimana? itu dari Gereja. Tetapi tidak ada orang mengatakan kubah ini haram, karena apa? karena sudah terpatri (dalam benak umat) bahwa kubah ini berasal dari Islam.

Seperti itu juga misalnya, saya pernah disuatu masjid, dengan tenang aja suatu masjid memutar nyanyian Ummi Kultsum. Katanya itu mendapat pahala, karena lagunya pakai bahasa Arab. Tetapi kalau lagu Ludruk, itu ada perasaa berdosa, karena terlanjur salah persepsi. Seolah-seolah apa yang adari arab itu mesti Islam, padahal itukan budaya. Kalau sama-sama budaya, apa bedaya budaya arab dengan budaya Jawa, sama sebenarya dari sisi budaya, yaitu dari sisi bahwa itu tidak ada dalil yang melarang dalam agama.

Tadi kami sampaikan, soal busana. Sebenarnya dalam Islam itu hanya mengamatkan 4 hal saja, yang kami rumuskan dalam 4 T, yaitu Tutup aurat, Tidak transparan, Tidak ketat, dan Tidak menyerupai pakaian lawan jenis. Itu (nilai) Islam, adapun modelnya mau seperti apa, silahkan saja. Asal 4 sudah terpenuhi, maka model apapun boleh.

Sekarang kita perlu membedakan, mana yang datang dari Nabi Muhammad Saw yang berupa ajaran agama dan mana yang berupa budaya yang kita boleh ikut dan boleh tidak?. Ada tanda-tanda begini, hal-hal yang bersifat budaya, itu selain Rasulullah juga dikerjakan oleh yang lain. Beda dengan yang berupa ajaran agama, orang-orang non-muslim tidak mengerjakan. Makan itu budaya, seperti makan roti dan sebagainya. Nah unsur agamanya dimana? memulai dengan baca Basmalah, memakainya dengan tangan kanan, dan ditutup dengan Hamdalah, tidak isrof (berlebih-lebihan), nah unsur agamanya disitu. Itulah yang harus kita ikuti. Adapun bentuknya, roti, dll, itu terserah budaya masing-masing.

... Disini lain, budaya-budaya yang sifatnya lokal dapat diadobsi oleh Islam dan tidak harus kita tolak hanya karena alasan itu tidak berasal dari Islam. Sebab kadang-kadang menjadi keliru, Islam itu artikan Arab, pokoknya apa yang dari Arab dianggap sebagai Islam. Sehingga kadang Rebana diambil sedangkan Gending ditolak, itu yang kami tidak pas. Kalau rebana kita ambil, kenapa Gending kita tolak?!.

Suatu saat kami datang di Papua, kami sampai berbicara kepada Bupaya Keimana waktu itu, "kenapa menyambut tamu harus menyambut tamu?, kenapa tidak pakai bunyi-bunyian orang Papua?". Pak Bupati waktu itu menjawab ; "Pak, Rebana itu disini sudah menjadi milik orang Papua".
*****

Simak selengkapnya dalam video berjudul "Ali Mustafa Yaqub - Sarasehan Seniman & Budaya Islam " https://www.youtube.com/watch?t=26&v=wEeVcqvgRkc , 2012 lalu.


red. Ibnu Manshur


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News