Top News :
Home » , » Legitimasi Keilmuan Islam Ala Pesantren

Legitimasi Keilmuan Islam Ala Pesantren

Posted on Tuesday, 2 June 2015 | garis 00:01

Muslimedianews.com ~ (1) Berikut adlh kultwitku ttg "Legitimasi Keilmuan Islam ala Pesantren." #AyoMondok

(2) Kalo pengen mendapat keabsahan dlm penguasaan ilmu2 Islam (tafaqquh fid din), Pesantren adlh tempat yg pas. Kenapa?

(3) Yg saya tekankan di sini bukan hanya penguasaan ilmu2 keislaman, tp juga keabsahannya.

(4) Keabsahan penguasaan keilmuan Islam sangat ditekankan di pesantren, karena sejumlah faktor berikut.

(5) Keberkahan inilah saya kira yg menjadi ciri utama etos keilmuan pesantren. Berkah bisa dicapai setidaknya dgn dua cara.

(6) Pertama: niat mencari ilmu itu semata2 utk ridla Allah. Artinya, berorientasi ke dalam: pengembangan kualitas spiritual diri sendiri.

(7) Di pesantren, mahir ilmu agama sangat dihargai, tp itu dianggap sia2 kalo niat dan motivasinya duniawi belaka.


(8) Penekanan dimensi olah batin sbg aspek krusial dalam mengaji ini, saya kira, menunjukkan kuatnya tasauf mewarnai sistem etika pesantren.

(9) Yg ngaji Kitab Ihya' pasti tau ttg kecaman keras Ghazali thd Ulama al-su' (ulama busuk). Ulama yg aspek ruhaninya korup.

(10) Lebih jauh ttg Al-Ghazali ttg Ulama al Su' (Ulama busuk), simak kultwiku >> BACA:..     Ulama Su' dalam Pandangan Imam Al-Ghazali

(11) Pelajaran yg bisa kita ambil dari Ulama al Su': integritas moral Ulama lebih penting ketimbang kemahiran keilmuannya.

(12) Pengolahan batin inilah yg sangat ditekankan sbg hal yg hrs jadi niat mengaji di pesantren, agar dapat ilmu yg berkah.

(13) Hal lain agar dapat ilmu berkah: ilmu yg kita pelajari nyambung sanadnya ke pengarang, dan terutama ke Rasulullah.

(14) Ulama pewaris Nabi. Kalo mau Islam yg nyambung ke Nabi, belajarlah dgn Ulama. Tp gimana taunya kalo kita belajar dgn ulama yg bener?

(15) Salah satu caranya: memastikan bahwa guru ngaji kita punya mata rantai keilmuan yg bersambung ke ulama pengarang kitab.

(16) Para kiai pesantren diyakini punya mata rantai keilmuan yg nyambung ke ulama pengarang kitab. Makanya kita ngaji ke mrk.

(17) Dgn mata rantai kelimuan tsb, para santri mendapat "ijazah" yg asli. Kalo ngajinya dgn Syeikh Google, dapetnya "ijazah' palsu :)

(18) Kalo kita ngaji, misal, Tafsir Jalalain, Sahih Muslim, Ihya, Wahhab dll di pesantren, yg kita dapet bkn hanya ilmu, tp sanad ilmu tsb.

(19) Jadi ciri keilmuan di pesantren terdiri dua aspek utama: mengejar kemahiran ilmu, dan keberkahannya.

(20) Di pesantren2 besar (misal Ploso, Lirboyo, Sarang), pengembangan kemahiran ilmu bukan hanya dgn mengaji, tp jg dgn diskusi dan debat.

(21) Forum diskusi dan debat di pesantren tsb diikuti santri2 senior, di kelas musyawarah atau munadzarah.

(22) Di kelas musyawarah, para santri berlatih "bahtsul masa'il", menjawab masalah2 aktual dari perspektif fikih.

(23) Saat saya mondok di Ploso Kediri, saya ikut kelas musyawarah Taqrib. Tiap hari debat, adu argumen, adu rujukan kitab2.

(24) Kelas Musyawarah melatih para santri utk riset pustaka, menelusuri teks2 kitab fikih yg semuanya gundul (tanpa harakat).
(25) Di kelas musyawarah, teks rujukan yg sama aja bisa disimpulkan berbeda, apalagi kalo teks rujukannya beda.

(26) Kitab2 kuning semunya mengacu ke sumber yg sama: Qur'an dan hadits, tp cara pandang thd suatu masalah bisa aja gak sama.

(27) di Kelas Musyawarah para santri diajari utk woles: beda pandangan sbg hal yg lazim dlm fikih. Gak kagetan dgn keragaman.

(28) Di Kelas Musyawarah, para santri tak langsung begitu saja mengacu pada dalil Quran hadits, tp melalui perantara ulama yg otoritatif.

(29) Qur'an hadits sumber utama hukum Islam, tp sumber itu masih berupa bahan mentah yg perlu diolah dgn metodologi2 tertentu.

(30) Para santri mengacu ke Qur'an hadits via kitab kuning, krn ulama pengarangnya mumpuni dlm metodogi (Ushul fiqh, Qaidah fikih, dll),

(31) Mengacu langsung ke Qur'an hadits tanpa disertai kompetensi dlm ilmu2 penunjangnya justru problematis, krn dua alasan.  

(32) Pertama, cara seperti itu bisa menghasilkan keputusan hukum yg terlepas/ terputus dari gambar besar sistem hukum Islam itu sendiri.

(33) Menukil satu dua hadits tanpa tahu perspektif komprehensif hukum Islam cenderung berujung pada pemahaman yg parsial dan distortif.

(34) Mengacu langsung ke Qur'an hadits tanpa kompetensi ilmu2nya jg berpotensi hasilkan 'salah paham', yg bisa berujung pd 'paham salah.'

(35) Bisa baca Qur'an hadits tak lantas jadi ahli Qur'an hadits, seperti halnya bisa baca buku2 kedokteran tak lantas absah jadi dokter.

(36) Ironisnya, makin banyak orang islam yg hanya bermodal satu dua ayat atau hadits, itupun terjemahan, tp merasa berhak utk berhukum.

(37) Tak semua orang Islam harus menjadi ahli Islam. Keahilan orang beda2. Tp kalo awam tp sok tau dan belagu, di situ saya merasa eneg.

(38) Kompetensi dlm soal2 keislaman iniah yg mestinya jadi salah satu agenda gerakan #AyoMondok. Sekian.


Oleh : akhmad sahal @sahaL_AS, 01/06/2015


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News