Top News :
Home » , » Twit Menag tentang Hormati orang yang tak wajib Puasa disalah pahami

Twit Menag tentang Hormati orang yang tak wajib Puasa disalah pahami

Posted on Thursday, 11 June 2015 | garis 12:24

Muslimedanews.com ~ Hormat menghormati merupakan bagian daripada akhlak umat Islam, bahkan termasuk kepada non-muslim sekalipun.

Dibulan Ramadlan, umat Islam diwajibkan melaksanakan puasa selama 1 bulan. Kewajiban itu hanya ditujukan kepada umat Islam, bukan lainnya. Selain itu, tidak semua umat Islam dibebankan kewajiban berpuasa. Ada orang-orang Islam yang tak berkewajiban berpuasa, seperti orang yang sedang melakukan perjalanan (musafir), orang yang sangat tua tak mampu berpuasa, wanita yang sedang junub, hamil, menyusui dan sebagainya.


Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam twitnya (5/6) lalu, meminta agar menghormati hak orang-orang yang tak berkewajiban berpuasa dan tak sedang berpuasa. Orang yang tidak berkewajiban puasa tentu berhak untuk makan.

Dalam hal itu, Menag juga mengatakan bahwa warung-warung tidak perlu dipaksa tutup. Pemaksaan memang merupakan sesuatu hal yang tidak etis. Tetapi walaupun warung tidak ditutup, namun sebaiknya gunakan tirai atau semacamnya sebagai penutup.

Bila warung-warung dipaksa tutup atau tidak berjualan, lalu bagaimana dengan hotel-hotel yang tetap menyediakan makan, restoran-restoran mewah, cafe di mal-mal dan sebagainya. Apakah akan dipaksa tutup juga?. Tentu tidak, yang perlu dibenahi atau didakwahi adalah bagaimana umat Islam menjalankan kewajibannya dengan baik. Sehingga walaupun ada cafe, restoran, hotel yg menyediakan makanan, warung dan sebagainya, tidak akan menggangu puasa mereka. Selain itu, bila dakwah sudah dibenahi maka umat Islam pun akan dengan sendirinya menutup lapak mereka.

"Warung2 tak perlu dipaksa tutup. Kita hrs hormati juga hak mrk yg tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa.", tulis Menag dalam twitnya.

Twit menag tersebut ternyata disalah pahami, bahkan di telah di ubah kalimatnya, sehingga Menag kembali memberikan penjelasan terkait twitnya tersebut :

*****
1/12. Berikut ini tanggapan atas twit saya yg telah diubah kalimatnya sedemikian rupa sehingga berubah makna.

2/12. Twit asli: "Warung2 tak perlu dipaksa tutup. Kita hrs hormati juga hak mrk yg tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa..".

3/12. Twit saya itu muncul sebagai tanggapan atas adanya pandangan yg kehendaki agar warung2 ditutup saja di bulan puasa. #ubahtwit

4/12. Ada 2 hal yg ingin saya sampaikan lewat twit itu. Pertama; tak perlu ada paksaan untuk menutup warung di bulan puasa. #ubahtwit

5/12. Bila ada yg sukarela menutup warungnya, tentu kita hormati. Tapi muslim yg baik tak memaksa org lain menutup sumber mata.. #ubahtwit

6/12. ..pencahariannya demi tuntutan hormati yg sedang puasa. Saling menghormati adalah ideal. Tapi jangan paksa satu kpd yg lain. #ubahtwit

7/12. Kedua; kata 'juga' pada "kita harus hormati juga" secara implisit mengandung makna: selain menghormati yg sedang berpuasa, #ubahtwit

8/12. kita juga dituntut hormati hak mereka (dalam mendapatkan makanan/minuman) yg tak wajib berpuasa karena bukan muslim. #ubahtwit

9/12. Juga menghormati hak muslim/ah yg tak sedang berpuasa karena keadaan (musafir, sakit, perempuan haid, hamil, menyusui). #ubahtwit

10/12. Tapi kalau kalimat twit saya itu diubah jadi: "Kita harus hormati yang tak puasa", tentu maknanya jadi berbeda sama sekali. #ubahtwit

11/12. Saya tak tahu penyebab pengubahan kalimat twit saya itu karena ketidaktahuan, ketaksengajaan, atau memang ada motif lain. #ubahtwit

12/12. Apapun penyebabnya, saya maklum. Moga ini bisa bikin terang konteks dan maksud dari twit saya yg diplintir itu. ;) Sekian. #ubahtwit

*****
red. Ibnu Manshur

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News