Top News :
Home » , » Ali bin Abi Thalib Khalifah Pertama dari Bani Hasyim

Ali bin Abi Thalib Khalifah Pertama dari Bani Hasyim

Posted on Friday, 10 July 2015 | garis 10:16

Muslimedianews.com ~ Ali bin Abi Thalib. Dia adalah khalifah pertama dari Bani Hasyim, dia dipanggil Abul Husein dan Abu Turab oleh Rasulullah SAW. Ali bin Abi Thalib adalah salah satu dari sepuluh orang yg mendapat jaminan dari Rasulullah untuk masuk surga. Dia adalah menantu Rasulullah karena Ali menikahi putrinya Sayyidah Fathimah.

Abu Ya'la meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, bahwa ia berkata: “Rasulullah diangkat menjadi Rasul pada hari Senin, sedangkan saya masuk Islam pada hari Selasa.” Ali bin Abi Thalib adalah seorang pejuang gagah berani, seorang zuhud yang terkenal, seorang orator ulung. Postur tubuh Ali tidak begitu tinggi, badannya besar, jenggotnya lebat memenuhi kedua bahunya, putih laksana kapas, kulitnya sawo matang. Ali bin Abi Thalib mengikuti Rasulullah pada perang Badar, Uhud dan perang-perang lain kecuali Tabuk sebab Rasulullah waktu itu memerintahkannya untuk menjadi Khalifah untuk sementara di Madinah, dalam setiap peperangan dia memiliki kisah-kisah yang sangat terkenal.

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Umar dia berkata: Rasulullah mempersaudarakan para sahabat antara kaum Muhajirin dan Anshar (yakni saat beliau datang ke Madinah). Kemudian Ali datang menemui Rasulullah dengan kedua mata berlinang dan berkata: “Wahai Rasulullah, kau telah mempersaudarakan antara sahabatmu yang satu dengan yang lain, namun sampai kini engkau belum mempersaudarakan aku dengan salah seorang sahabatmu. Rasulullah bersabda, “Kau adalah saudaraku di dunia dan akhirat.”

Imam Tirmidzi serta Al Hakim meriwayatkan dari Ali, Rasulullah bersabda: “Saya adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya.” Al Hakim meriwayatkan dari Ali, dia berkata: Rasulullah mengutusku ke Yaman, saya katakan kepada Rasulullah; “Wahai Rasulullah, kau utus saya ke Yaman padahal saya masih muda dan saya harus menyelesaikan masalah di antara mereka padahal saya tidak tahu bagaimana cara memutuskan perkara mereka.” Lalu Rasulullah menepuk dada saya dan berkata; “Allahummahdi Qalbihi wa Tsabbits Lisanahu” (Ya Allah berilah hidayah kepada kalbunya, dan kokohkan lisannya!) Demi Dzat yang merekahkan biji-bijian sejak itulah saya tidak pernah ragu dalam mengambil keputusan antara orang yang berselisih Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari Ali bahwa telah ditanyakan kepadanya: “Mengapa engkau menjadi sahabat Rasulullah yang banyak meriwayatkan Hadits Rasulullah? Ali berkata: Sesungguhnya jika saya menanyakan satu hal kepada Rasulullah, maka dia menjawab pertanyaanku dan jika aku diam, maka dia memulai pembicaraan lebih awal.

Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari Sa'id bin Al-Musayyib dia berkata, "tidak ada seorang sahabat pun yang berani berkata: “Bertanyalah kepada saya tentang apa saja, kecuali Ali.”

Abdullah bin 'Iyasy bin Abi Rabi'ah berkata:“Ali memiliki ketajaman dlm ilmu, luas dalam pergaulan, memiliki kepahaman tentang sunnah dan keberanian dalam perang serta pemurah dalam harta.”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas dia berkata: Tiga ratus ayat telah turun mengenai Ali. Imam Ath-Thabarani dan Al Hakim meriwayatkan dari Ummu Salamah dia berkata:“Jika Rasulullah sedang marah, maka tak ada seorang pun yang berani berbicara dengannya kecuali Ali bin Abi Thalib.”

Imam Ath-Thabarani dan Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud dia berkata, bahwa Rasulullah bersabda; “Melihat Ali itu adalah Ibadah.”.

Ibnu Asakir juga meriwayatkan Hadits senada dari Hadits Abu Bakar, Utsman, Muadz, Anas, Jabir dan 'Aisyah. Ibnu Sa'ad berkata: Ali dibaiat sebagai khalifah sehari setelah terbunuhnya Utsman di Madinah. Semua sahabat membai'atnya sebagai khalifah, disebutkan bahwa Thalhah dan Zubair membaitnya dengan sangat terpaksa dan bukan dengan suka rela. Kemudian keduanya keluar pergi menuju Makkah yang juga disertai 'Aisyah. Mereka kemudian pergi ke Bashrah untuk menuntut mati pembunuh 'Utsman, Kabar ini sampai ke telinga Ali, dia kemudian pergi ke Irak.

Ali berhasil menemui Thalhah, Zubair dan Aisyah serta orang-orang yang menyertai mereka. Peristiwa ini dalam sejarah dikenal dengan Perang Jamal. Peristiwa ini terjadi pada tahun 36 H. Pada perang itu Zubair dan Thalhah terbunuh. Ali sendiri berada di Bashrah selama 15 hari, kemudian kembali ke Kufah, setelah itu muncul pemberontakan yang dilakukan oleh Mu'awiyah di Syam, setelah berita itu sampai ke Ali maka dia meluncur menyambut para pemberontak, mereka bertemu di Shiffin pada bulan Shafar tahun 37 H.

Perang antara dua pasukan berlangsung selama beberapa hari.  Kemudian orang-orang yang datang dari Syam mengangkat Al Qur'an dan mereka mengajak semua pihak untuk berhukum pada Al Qur'an. Ini adalah tipu muslihat yang dilakukan oleh 'Amr bin Al-'Ash. Orang-orang yang sedang bertempur akhirnya segan untuk melanjutkan perang dan mereka menyerukan untuk segera melakukan perdamaian dan perundingan untuk menyelesaikan masalah ini.

Ali mengutus Abu Musa sebagai juru runding, sedangkan Mu'awiyah mengutus 'Amr bin Al-'Ash sebagai juru runding dari pihaknya. Mereka menulis kesepakatan agar mereka bisa ketemu di Adzruah (satu desa di Syam) di penghujung tahun, pasukan ini kemudian berpencar. Mu'awiyah kembali ke Syam sedangkan Ali kembali ke Kufah. Namun ada kaum yg sebelumnya pengikut Ali, menyatakan memisahkan diri dari Ali. mereka inilah kaum Khawarij, dan mereka menyatakan bahwa mereka tidak setuju untuk ber-tahkim (proses pengambilan keputusan) kecuali dengan hukum Allah, mereka membuat basis pasukan di Harura'. Ali kemudian mengutus Ibnu Abbas untuk menemui mereka.

Dalam adu argumentasi tentang proses tahkim, Ibnu Abbas mampu mengalahkan mereka sehingga banyak di antara mereka yang kembali dengan pasukan Ali. Namun ada juga yang tetap, lalu mereka itu berangkat menuju Nahwaran.

Pasukan Ali mengejar mereka ke Nahrawan dan mampu menumpas mereka di sana, di antara yang terbunuh adalah Dzu Ats-Tsadyah Pada bulan Sya'ban tahun 38 H - sesuai dengan kesepakatan- kedua utusan bertemu di Adzruah 'Amr bin Al 'Ash meminta Abu Musa untuk melakukan pidato pertama kali sebagai muslihat darinya, dia Abu Musa berbicara dan menyatakan memecat Ali, lalu Amr bin Al 'Ash maju dan membaiat Mu'awiyah sebagai Khalifah, kemudian yang hadir terpecah dengan keputusan “kudeta” ini. dan Ali kini menghadapi konflik di kalangan sahabat-sahabatnya.

Sementara itu kaum Khawarij sedang merencanakan sesuatu, mereka berkumpul di Makkah. Kaum Khawarij mengambil tiga orang sebagai wakil mereka, mereka ialah Abdurahman bin Muljam Al Muradi, Al Burak bin Abdullah at Tamimi serta 'Amr bin Bakir at Tamimi. Mereka bertiga sepakat untuk membunuh 3 orang: Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dan 'Amr bin Al 'Ash Menurut mereka, kaum muslimin akan tenteram dengan matinya ketiga orang tersebut Ibnu Muljam berkata, “Saya akan menjadi wakil kalian membunuh Ali!.”

Al-Burak berkata, “Saya akan membunuh Mu'awiyah!.” Sedang Amr bin Bakir berkata, “Saya yang akan membunuh 'Amr bin Al Ash!.” Ketiganya sepakat bahwa pembunuhan itu hendaknya dilakukan pada tanggal 11 atau 17 Ramadhan Ketiganya segera bergerak ke kota-kota tempat target itu berada.

Ibnu Muljam menuju Kufah, dia bertemu dengan kawan-kawannya dari kalangan Khawarij dan dia meminta agar mereka tidak membocorkan rahasianya hingga tanggal 17 Ramadhan Ali bangun menjelang Subuh. Lalu ia berkata kepada putranya Al Hasan, “Saya semalam mimpi bertemu Rasulullah saya katakan kepadanya “Wahai Rasulullah, saya telah mendapatkan dari umatmu beban dan pertengkaran yang keras.” Maka Rasulullah bersabda kepada saya; “Doakan mereka!” Lalu saya berkata; “Ya Allah, gantikanlah untukku orang yang lebih baik bagiku dari mereka, dan gantikanlah buat mereka orang yang lebih jelek dari aku!” Saat itulah Ibnu Nabbah sang Muadzdzin datang mengetuk pintu Ali. Dia berkata, “Shalat, Shalat!” Ali keluar dari pintunya dan berseru, “Wahai manusia, Shalat! Shalat!, saat itulah Ibnu Muljam datang dan segera membacoknya dengan pedang, sabetan pedangnya mengenai kening dan muka Ali hingga ke otaknya.

Lalu orang-orang mengepung pembunuh itu dari segala arah. Ali sempat bertahan selama dua hari, Jum'at dan Sabtu. Dia meninggal pada malam Ahad, yang memandikan jenazahnya adalah Al Hasan, Al Husein dan Abdullah bin Ja'far. Al Hasan menjadi Imam Shalat jenazahnya.Dia disemayamkan di perumahan pemerintah di Kufah pada malam hari.

Sedangkan Ibnu Muljam dihukum dengan cara dipotong semua tangan kaki dan tangannya, lalu diikat pada pohon kurma, lalu dibakar. Mengenai peristiwa ini, semua adalah riwayat dari Ibnu Sa'ad.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Uqbah bin Abi Shahba' dia berkata: Setelah Ibnu Muljam membacok Ali, Al Hasan datang menemuinya sambil menangis, Ali bin Abi Thalib berkata kepadanya:“Wahai anakku jagalah empat perkara dari empat perkara yang lain.” “Apakah itu wahai Ayahanda” tanya Al Hasan. Ali berkata, “Sesungguhnya kekayaan yang baik adalah akal, kefakiran terbesar adalah kebodohan, kebiadaban terkeji adalah ujub dan semulia-mulianya pekerjaan adalah baik budi.” “Lalu empat yang lain wahai ayahanda?” Tanya Al Hasan lebih lanjut, Ali bin Abi Thalib menjawab, “Hati-hati janganlah engkau bersahabat dengan orang bodoh, sebab dia ingin menyenangkanmu, namun justru membuatmu sengsara karena kebodohannya. Janganlah kamu bersahabat dengan pembohong, sebab dia akan menjauhkan sesuatu yang dekat denganmu dan mendekatkan sesuatu yang jauh darimu, jangan pula kamu bersahabat dengan orang kikir, karena dia tidak akan peduli kepadamu pada saat kamu sangat membutuhkannya dan jangan pula bersahabat, dengan para pendosa sebab dia akan menjualmu dengan harga murah.


Penulis : Iqbal Kholidi

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News