Top News :
Home » » Anti Arab atau Anti Islam Sih ?

Anti Arab atau Anti Islam Sih ?

Posted on Sunday, 5 July 2015 | garis 12:36

Muslimedanews.com ~ Anti-Arab (anti-arabism), disebut pula dengan Arabophobia yaitu sebuah bentuk diskriminasi, upaya pemusnahan, permusuhan, kebencian dan pembersihan etnis atau genosida terhadap orang-orang Arab.

Arab adalah orang-orang yang bahasa ibunya menggunakan bahasa Arab. Meskipun mereka tinggal di Eropa atau Afrika dan menggunakan bahasa Inggris, Francis atau lainnya, tetapi mereka sering mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Arab.


Dan disebabkan luasnya ajaran Islam yang dipraktekkan didunia Arab atau oleh populasi Arab, sering kali Anti-Arabisme diidentikkan dengan Anti-Islam atau Islamophobia. Meskipun non-muslim sebenarnya cukup banyak didunia Arab, seperti Kristen di Mesir, Lebanon, Palestina, Suriah, Yordania, Irak, Kuwait dan sebagainya.

Sikap anti-Arab dipicu oleh banyaknya peristiwa dalam sejarah saling menaklukkan. Dalam The Arabic Language and National Identity: a Study in Ideology, disebutkan ada beberapa gerakan anti-Arab, seperti gerakan Turkification di Kekaisaran Ottoman, ekstrim-nasionalis dan Pan-Iranist di Iran dan komunisme. Tujuan anti-Arabisme untuk menyerang nasionalisme Arab, memutarbalikkan sejarah, menekankan regresi Arab, menyangkal budaya Arab, dan umumnya menjadi bermusuhan dengan segala sesuatu yang berbau Arab.

Anti-Arab, Anti-Islam dan Islam Nusantara?
Anti-Arab merupakan bentuk diskriminasi permusuhan terhadap etnis Arab. Sikap yang demikian tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Namun, tidak bisa dikatakan bahwa Anti-Arab berarti Anti-Islam. Islam merupakan agama, sedangkan Arab adalah etnis atau bangsa yang mendiami kawasan tertentu walaupun keduanya tidak bisa dipisahkan, sebab Islam datang dari dunia Arab.

Kaitannya dengan Islam Nusantara yang sering disalah pahami atau sengaja disalah pahami atau tidak mau memahami, bahwa Islam Nusantara merupakan gerakan anti Arab, dan ujung-ujungnya dituduh anti-Islam. Bahkan, Islam Nusantara dianggap sebagai aliran baru atau mazhab baru. Ada pula yang menuduh sebagai bentuk sinkretis antara Islam dan agama Jawa.

Berkaitan isu tersebut, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan apa yang dikatakan orang-orang tersebut sama sekali tidak benar. “Ini bukan aliran baru, kita tetap Islam aswaja yang berpegang teguh pada mazhab Asy’ari dan Syafii,” katanya di gedung PBNU, Jum’at (3/7) sebagaimana dilansir situs resmi Nahdlatul Ulama, NU Online.

Ia menjelaskan, Islam Nusantara merupakan Islam yang menghargai budaya lokal. Secara umum, masyarakat Nusantara sudah memiliki budaya yang beragam, tradisi yang beragam sebelum kedatangan Islam.  “Islam datang tidak menghapus budaya, tidak memusuhi khazanah peradaban. Tidak menyingkirkan tradisi yang ada, asalkan jelas tidak bertentangan dengan Islam. Kalau ritual hubungan seks bebas atau minum arak, itu kita tidak menerima.”

“Selama tradisi tidak bertentangan dengan prinsip kita, maka Islam melebur dengan tradisi tersebut karena dakwah di Nusantara itu pendekatannya pendekatan budaya, bukan pendekatan senjata seperti di Timur Tengah,” tandasnya.


Dengan strategi dakwah kebudayaan seperti itu, pelan-pelan budaya yang ada di Nusantara sekarang sudah bernapaskan Islam. “Islam menjadi kuat karena menyatu dengan budaya, budaya menjadi Islami karena disitu ada nilai Islam.”

Ia mencontohkan transformasi tradisi non Islam yang kemudian diislamkan seperti pemberian sesajen kepada para dewa yang kemudian menjadi slametan. Slametan tujuh bulan kehamilan tadinya budaya Jawa, kemudian diislamkan dengan nilai Islam, salah satunya dengan membacakan surat Lukman pada peringatan tujuh bulan tersebut, supaya anaknya baik, taat pada orang tua sebagaimana Lukmanul Hakim dalam kisah Al-Qur’an.

“Jadi budaya yang sudah ada kita masuki dengan nilai Islam. Ini berangkat dari sinergi antara teologi dan budaya, maka NU memberi nama Islam Nusantara,” tegasnya

Dari penjelasan KH. Said Aqil Siraj tersebut, justru Islam Nusantara merupakan upaya untuk senantiasa membumikan Islam di Nusantara, tidak ada kaitannya dengan Anti-Arab, apalagi Anti-Islam. Tidak anti keduanya. 

Kedatangan Islam ke Nusantara pun berhasil memasukkan ribuan kata sebagai bahasa Nusantara. Sebagaimana pernah dikatakan pula oleh KH. Said Aqil Siraj, dalam kesempatan ceramahnya. " Para habaib, para sadah dulu datang kesini membawa ilmu, membawa akhlak, sambil berdagang, sambil bergaul memberi contoh yang baik, sampai-sampai memasukkan ribuan kata bahasa arab menjadi bahasa Indonesia. Itu jasanya para habaib dulu.", tutur Kiai Said.

"Misal, majelis, dewan, wakil, musyawarah, rakyat, bahasa arab semua itu. Sabtu ahad senin selasa rabu kamis jum'at, bahasa Arab semua itu. Lezat hebat dahsyat melarat juga (asalnya) bahasa arab. Selama ribuan kata asli bahasa arab itu kita pakai, selama ini pula Islam masih ada. Dulu cara berjuangnya seperti itu.", lanjutnya.

Oleh : Ibnu L' Rabassa
Referensi: NU Online, Wikipedia, Video Ceramah Kiai Said

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News