Top News :
Home » » Apa yang Harus Dilakukan Bila Menemukan Barang? Bisakah Dimiliki ?

Apa yang Harus Dilakukan Bila Menemukan Barang? Bisakah Dimiliki ?

Posted on Monday, 6 July 2015 | garis 14:00

Muslimedianews.com ~ Tanpa sengaja, kadang ada orang menemukan sesuatu yag berharga tanpa mengetahui siapa pemiliknya. Bagaimana Islam melalui perangkat fiqh mengurai hal ini?. Apa yang harus dilakuka bila menemuka barang? Bisakah barang temuan menjadi hak milik penemu barang?

Berikut petikan dalam kitab Fathul Qarib mengenai pengertian barang temuan beserta hukum-hukumnya yang perlu diketahui umat Islam. Sebab Islam sendiri sangat mengharga hak milik orang lain.

****
(فَصْلٌ) فِيْ أَحْكَامِ اللُّقَطَةِ
(Fasal) menjelaskan hukum-hukum luqathah.


وَهِيَ بِفَتْحِ الْقَافِ اسْمٌ لِلشَّيْئِ الْمُلْتَقَطِ
Luqathah, dengan dibaca fathah huruf qafnya, adalah nama sesuatu yang ditemukan.

وَمَعْنَاهَا شَرْعًا مَالٌ ضَاعَ مِنْ مَالِكِهِ بِسُقُوْطٍ أَوْ غَفْلَةٍ وَنَحْوِهِمَا
Makna luqathah secara syara’ adalah harta yang tersia-sia dari pemiliknya sebab jatuh, lupa dan sesamanya.

(وَإِذَا وَجَدَ) شَخْصٌ بِالِغًا أَوْ لَا مُسْلِمًا كَانَ أَوْ لَا فَاسِقًا كَانَ أَوْ لَا (لُقَطَةً فِيْ مَوَاتٍ أَوْ طَرِيْقٍ فَلَهُ أَخْذُهَا وَتَرْكُهَا
Ketika ada seseorang baik baligh atau belum, muslim atau bukan, fasiq ataupun tidak, menemukan barang temuan di bumi mawat ataupun di jalan, maka bagi dia diperkenankan mengambil atau membiarkannya.

وَ) لَكِنْ (أَخْذُهَا أَوْلَى مِنْ تَرْكِهَا إِنْ كَانَ) الْآخِذُ لَهَا (عَلَى ثِقَّةٍ مِنَ الْقِيَامِ بِهَا)
Akan tetapi mengambilnya lebih utama daripada membiarkannya, jika orang yang mengambilnya percaya bahwa dia bisa menjaganya.

فَلَوْ تَرَكَهَا مِنْ غَيْرِ أَخْذٍ لَمْ يَضْمَنْهَا
Seandainya ia membiarkannya tanpa mengambil / memegangnya sama sekali, maka ia tidak memiliki tanggungan apa-apa.

وَلَا يَجِبُ الْإِشْهَادُ عَلَى الْتِقَاطِهَا لِتَمَلُّكٍ أَوْ حِفْظٍ
Tidak wajib mengangkat saksi atas barang temuan baik karena untuk dimiliki ataupun hanya untuk dijaga.
  
#. Orang Yang Menemukan Fasiq

وَيَنْزَعُ الْقَاضِي اللُّقَطَةَ مِنَ الْفَاسِقِ  وَيَضَعُهَا عِنْدَ عَدْلٍ
Bagi seorang qadli harus mengambil barang temuan dari orang yang fasiq dan menyerahkannya pada orang yang adil.

وَلَا يَعْتَمِدُ تَعْرِيْفَ الْفَاسِقِ اللُّقَطَةَ بَلْ يَضُمُّ الْقَاضِيْ إِلَيْهِ رَقِيْبًا عَدْلًا يَمْنَعُهُ مِنَ الْخِيَانَةِ فِيْهَا
Pengumuman orang fasiq atas barang temuan tidak bisa dibuat pegangan, bahkan qadli harus menyertakan seorang pengawas yang adil pada orang fasiq tersebut agar bisa mencegahnya dari berhianat pada barang temuan tersebut.
  
#. Anak Kecil yang Menemukan Luqathah

وَيَنْزِعُ الْوَلِيُّ اللُّقَطَةَ مِنْ يَدِّ الصَّبِيِّ وَيُعَرِّفُهَا
Seorang wali harus mengambil barang temuan dari tangan anak kecil dan mengumumkannya.

ثُمَّ بَعْدَ التَّعْرِيْفِ يَتَمَلَّكُ اللُّقَطَةَ لِلصَّبِيِّ إِنْ رَأَى الْمَصْلَحَةَ فِيْ تَمَلُّكِهَا لَهُ
Kemudian setelah mengumumkan, wali berhak mengambil kepemilikan barang temuan tersebut untuk si anak kecil, jika ia melihat ada maslahah dalam mengambil kepemilikan barang temuan tersebut untuk si anak kecil.
  
#. Konsekwensi Menemukan Luqathah

(وَإِذَا أَخَذَهَا) أَيِ اللُّقَطَةَ (وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفَ) فِيْ اللُّقَطَةِ عَقِبَ أَخْذِهَا (سِتَّةَ أَشْيَاءَ
Ketika seseorang mengambil barang temuan, maka wajib bagi dia untuk mengetahui enam perkara pada barang temuan tersebut setelah mengambilnya.

وِعَاءَهَا) مِنْ جِلْدٍ أَوْ خِرْقَةٍ مَثَلًا
Yaitu wadahnya, apakah dari kulit atau kain semisal.

(وَعِفَاصَهَا) هُوَ بِمَعْنَى الْوِعَاءِ  
‘ifash-nya, yaitu yang bermakna wadah.

(وَوِكَاءَهَا) بِالْمَدِّ وَهُوَ الْخَيْطُ الَّذِيْ تُرْبَطُ بِهِ
Dan talinya. Lafadz “wika’” dengan dibaca panjang. Wika’ adalah tali yang digunakan untuk mengikat barang temuan tersebut.

(وَجِنْسَهَا) مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ (وَعَدَدَهَا وَوَزْنَهَا)
Dan jenisnya, dari emas atau perak. Jumlahnya dan timbangannya.
  
وَيَعْرِفَ بِفَتْحِ أَوَّلِهِ وَسُكُوْنِ ثَانِيْهِ مِنَ الْمَعْرِفَةِ لَا مِنَ التَّعْرِيْفِ
Lafadz “ya’rifa”, dengan dibaca fathah huruf awalnya dan dibaca sukun huruf yang kedua, itu diambil dari masdar “ma’rifah (mengetahui)” bukan dari masdar “ta’rif (Mengumumkan)”.

(وَ) أَنْ يَحْفَظَهَا) حَتْمًا (فِيْ حِرْزِ مِثْلِهَا)
Dan wajib untuk menjaganya ditempat penyimpan barang sesamanya.
  
#. Ketika Ingin Memiliki Luqathah

ثُمَّ بَعْدَ مَا ذُكِرَ(إِذَا أَرَادَ) الْمُلْتَقِطُ (تَمَلُّكَهَا عَرَّفَهَا) بِتَشْدِيْدِ الرَّاءِ مِنَ التَّعْرِيْفِ لَا مِنَ الْمَعْرِفَةِ (سَنَةً عَلَى أَبْوَابِ الْمَسَاجِدِ) عِنْدَ خُرُوْجِ النَّاسِ مِنَ الْجَمَاعَةِ
Kemudian setelah apa yang telah dijelaskan tersebut, ketika penemu ingin memiliki barang tersebut, maka wajib baginya mengumumkan selama setahun di pintu-pintu masjid saat orang-orang keluar habis sholat berjama’ah. Lafadz “’arrafa” dengan ditasydid huruf ra’nya, diambil dari masdar “ta’rif (mengumumkan)” tidak dari masdar “ma’rifah (mengetahui)”.

(وَفِيْ الْمَوْضِعِ الَّذِيْ وَجَدَهَا فِيْهِ)
Dan di tempat ia menemukan barang tersebut.
  
وَفِيْ الْأَسْوَاقِ وَنَحْوِهَا مِنْ مَجَامِعِ النَّاسِ
Di pasar-pasar dan sesamanya yaitu tempat-tempat berkumpulnya manusia.
  
#. Masa Mengumumkan

وَيَكُوْنُ التَّعْرِيْفُ عَلَى الْعَادَةِ زَمَانًا وَمَكَانًا
Mengumumkan itu disesuaikan dengan kebiasaan, waktu dan tempatnya.

وَابْتِدَاءُ السَّنَةِ يُحْسَبُ مِنْ وَقْتِ التَّعْرِيْفِ لَا مِنْ وَقْتِ الْاِلْتِقَاطِ
Permulaan setahun dihitung sejak waktu mengumumkan, bukan dari waktu menemukan barang tersebut.

وَلَا يَجِبُ اسْتِيْعَابُ السَّنَةِ بِالتَّعْرِيْفِ
Tidak wajib mengumumkan selama setahun secara penuh.
  
بَلْ يُعَرِّفُ أَوَّلًا كُلَّ يَوْمٍ مَرَّتَيْنِ طَرَفَيِ النَّهَارِ لَا لَيْلًا وَلَا وَقْتَ الْقَيْلُوْلَةِ
Akan tetapi pertama mengumumkan setiap hari dua kali, pagi dan sore tidak malam hari dan tidak pada waktu qailulah (istirahat siang).

ثُمَّ يُعَرِّفُ بَعْدَ ذَلِكَ كُلَّ أُسْبُوْعٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ
Setelah itu kemudian mengumumkan setiap minggu satu atau dua kali.
  
#. Praktek Pengumuman

وَيَذْكُرُ الْمُلْتَقِطُ فِيْ تَعْرِيْفِ اللُّقَطَةِ بَعْضَ أَوْصَافِهَا
Saat mengumumkan barang temuan, si penemu hanya boleh menyebutkan sebagian dari ciri-ciri barang temuannya.
فَإِنْ بَالَغَ فِيْهَا ضَمِنَ
Sehingga, jika ia terlalu banyak menyebutkan ciri-cirinya, maka ia terkena beban untuk menggantinya (dlaman).

وَلَا يَلْزَمُهُ مُؤْنَةُ التَّعْرِيْفِ إِنْ أَخَذَ اللُّقَطَةَ لِيَحْفِظَهَا عَلَى مَالِكِهَا
Bagi si penemu tidak wajib mengeluarkan biaya pengumuman jika ia mengambil barang temuan tersebut dengan tujuan menjaganya karena pemiliknya.

بَلْ يُرَتِّبُهَا الْقَاضِيْ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ أَوْ يَقْتَرِضُهَا عَلَى الْمَالِكِ
Bahkan bagi qadli mengambilkan biayanya dari baitulmal atau si penemu hutang biaya tersebut atas nama si pemilik barang.
  
وَإِنْ أَخَذَ اللُّقَطَةَ لِيَتَمَلَّكَهَا وَجَبَ عَلَيْهِ تَعْرِيْفُهَا وَلَزِمَهُ مُؤْنَةُ تَعْرِيْفِهَا سَوَاءٌ تَمَلَّكَهَا بَعْدَ ذَلِكَ أَمْ لَا
Jika ia mengambil barang temuan tersebut untuk dimiliki, maka wajib baginya mengumumkan dan wajib mengeluarkan biaya pengumumannya. Baik setelah itu ia memang memilikinya ataupun tidak.
  
وَمَنِ الْتَقَطَ شَيْئًا حَقِيْرًا لَا يُعَرِّفُهُ سَنَةً بَلْ يُعَرِّفُهُ زَمَنًا يَظُنُّ أَنَّ فَاقِدَهُ يُعْرِضُ عَنْهُ بَعْدَ ذِلِكَ الزَّمَنِ
Barang siapa menemukan barang yang remeh, maka ia tidak wajib mengumumkan selama setahun, bahkan cukup mengumumkan dalam selang waktu yang ia sangka bahwa pemiliknya sudah tidak memperdulikan barang tersebut setelah waktu itu.

(فَإِنْ لَمْ يَجِدْ صَاحِبَهَا) بَعْدَ تَعْرِيْفِهَا سَنَةً (كَانَ لَهُ أَنْ يَتَمَلَّكَهَا بِشَرْطِ الضَّمَانِ) لَهَا
Kemudian, jika ia tidak menemukan pemiliknya setelah mengumumkannya selama setahun, maka baginya diperkenankan untuk memiliki barang temuan tersebut dengan syarat akan menggantinya -saat pemiliknya sudah ditemukan-.

وَلَا يَمْلِكُهَا الْمُلْتَقِطُ بِمُجَرَّدِ مُضِيِّ السَّنَةِ بَلْ لَا بُدَّ مِنْ لَفْظٍ يَدُلُّ عَلَى التَّمَلُّكِ كَتَمَلَّكْتُ هَذِهِ اللُّقَطَةَ
Si penemu tidak bisa langsung memiliki barang temuan tersebut hanya dengan lewatnya masa setahun, bahkan harus ada kata-kata yang menunjukkan pengambilan kepemilikan seperti, “saya mengambil kepemilikan barang temuan ini.”
  
#. Jika Pemiliknya Datang

فَإِنْ تَمَلَّكَهَا وَظَهَرَ مَالِكُهَا وَهِيَ بَاقِيَةٌ وَاتَّفَقَا عَلَى رَدِّ عَيْنِهَا أَوْ بَدَلِهَا فَالْأَمْرُ فِيْهِ وَاضِحٌ
Jika ia sudah mengambil kepemilikan barang temuan tersebut dan ternyata pemiliknya datang saat barang tersebut masih tetap seperti semula dan keduanya sepakat untuk mengembalikan barang itu atau sepakat mengembalikan gantinya, maka urusannya sudah jelas.

وَإِنْ تَنَازَعَا فَطَلَبَهَا الْمَالِكُ وَأَرَادَ الْمُلْتَقِطُ الْعُدُوْلَ إِلَى بَدَلِهَا أُجِيْبَ الْمَالِكُ فِيْ الْأَصَحِّ
Jika keduanya berbeda pendapat, si pemilik menginginkan barang tersebut dan si penemu ingin pindah pada gantinya, maka yang dikabulkan adalah sang pemilik menurut pendapat al ashah.

وَإِنْ تَلِفَتِ اللُّقَطَةُ بَعْدَ تَمَلُّكِهَا غَرَمَ الْمُلْتَقِطُ مِثْلَهَا إِنْ كَانَتْ مِثْلِيَّةً
Jika barang temuan tersebut rusak setelah diambil kepemilikan oleh si penemu, maka ia wajib mengganti barang sesamanya jika memang barang temuan tersebut berupa barang mitsl.

أَوْ قِيْمَتَهَا إِنْ كَانَتْ مُتَقَوَّمَةً يَوْمَ التَّمَلُّكِ لَهَا
Atau mengganti harganya jika barang tersebut berupa barang yang memiliki harga, dengan ukuran harga saat mengambil kepemilikan.

وَإِنْ نَقَصَتْ بِعَيْبٍ فَلَهُ أَخْذُهَا مَعَ الْأُرْشِ فِيْ الْأَصَحِّ
Jika barang temuan tersebut menjadi kurang sebab cacat, maka bagi si pemilik diperkenankan mengambilnya beserta ganti rugi dari kekurangan tersebut menurut pendapat al ashah.
  
#. Pembagian Barang Temuan

(وَاللُّقَطَةُ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَجُمْلَةُ اللُّقَطَةِ (عَلَى أَرْبَعَةِ أَضْرُبٍ)
Barang temuan, dalam sebagian redaksi menggunakan “jumlah barang temuan”, terbagi menjadi empat macam.

أَحَدُهَا (مَا يَبْقَى عَلَى الدَّوَامِ) كَذَهَبٍ وَفِضَّةٍ
Salah satunya barang yang utuh dalam jangka waktu lama seperti emas dan perak.
  
(فَهَذَا) أَيْ مَا سَبَقَ مِنْ تَعْرِيْفِهَا سَنَةً وَتَمَلُّكِهَا بَعْدَ السَّنَةِ (حُكْمُهُ) أَيْ حُكْمُ مَا يَبْقَى عَلَى الدَّوَامِ
Maka hal ini, maksudnya keterangan yang sudah lewat yaitu mengumumkan selama setahun dan mengambil kepemilikkan setelah melewati setahun, adalah hukumnya, maksudnya hukum barang yang utuh dalam jangka waktu lama.

(وَ) الضَّرْبُ (الثَّانِيْ مَا لَا يَبْقَى) عَلَى الدَّوَامِ (كَالطَّعَامِ الرَّطْبِ
Macam kedua adalah barang temuan yang tidak tahan lama seperti makanan basah.

فَهُوَ) أَيِ الْمُلْتَقِطُ لَهُ (مُخَيَّرٌ بَيْنَ) خَصْلَتَيْنِ
Maka penemu barang tersebut diperkenankan memilih antara dua hal.

(أَكْلِهِ وَغَرْمِهِ) أَيْ غَرْمِ قِيْمَتِهِ (أَوْ بَيْعِهِ وَحِفْظِ ثَمَنِهِ) إِلَى ظُهُوْرِ مَالِكِهِ
Memakan dan menggantinya, maksudnya mengganti harganya. Atau menjualnya dan menjaga hasil penjualannya hingga jelas siapa pemiliknya.

(وَالثَّالِثُ مَا يَبْقَى بِعِلَاجٍ) فِيْهِ (كَالرُّطَبِ) وَالْعِنَبِ
Yang ketiga adalah barang yang tahan lama dengan cara diproses seperti kurma basah dan anggur basah.

(فَيَفْعَلُ مَا فِيْهِ الْمَصْلَحَةُ مِنْ بَيْعِهِ وَحِفْظِ ثَمَنِهِ أَوْ تَخْفِيْفِهِ وَحِفْظِهِ) إِلَى ظُهُوْرِ مَالِكِهِ
Maka si penemu melakukan hal yang maslahah, yaitu menjual dan menjaga hasil penjualannya, atau mengeringkan dan menjaganya hingga jelas siapa pemiliknya.
  
(وَ الرَّابِعُ مَا يَحْتَاجُ إِلَى نَفَقَةٍ كَالْحَيَوَانِ وَهُوَ ضَرْبَانِ)
Yang ke empat adalah barang temuan yang butuh nafkah seperti binatang. Dan bagian ini ada dua macam,

أَحَدُهُمَا (حَيَوَانٌ لَا يَمْتَنِعُ بِنَفْسِهِ) مِنْ صِغَارِ السِّبَاعِ كَغَنَمٍ وَعَجْلٍ
Salah satunya adalah binatang yang tidak bisa menjaga diri dari binatang pemburu yang kecil, seperti kambing dan anak sapi.

(فَهُوَ) أَيْ مُلْتَقِطُهُ (مُخَيَّرٌ) فِيْهِ (بَيْنَ) ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ (أَكْلِهِ وَغَرْمِ ثَمَنِهِ أَوْ تَرْكِهِ) بِلَا أَكْلٍ. (وَالتَّطَوُّعِ بِالْإِنْفَاقِ عَلَيْهِ أَوْ بَيْعِهِ وَحِفْظِ ثَمَنَهِ) إِلَى ظُهُوْرِ مَالِكِهِ
Maka bagi penemunya diperkenankan memilih diantara tiga perkara, memakan dan mengganti harganya, membiarkan tidak memakannya dan dan bersedekah dengan memberi nafkah padanya, atau menjual dan menjaga hasil penjualannya hingga jelas siapa pemiliknya.

(وَ) الثَّانِيْ (حَيَوَانٌ يَمْتَنِعُ بِنَفْسِهِ) مِنْ صِغَارِ السِّبَاعِ كَبَعِيْرٍ وَفَرَسٍ
Yang kedua adalah binatang yang bisa menjaga diri dari binatang-binatang pemburu yang kecil seperti onta dan kuda.

(فَإِنْ وَجَدَهُ) الْمُلْتَقِطُ (فِيْ الصَّحْرَاءِ تَرَكَهُ) وَحَرُمَ اِلْتِقَاطُهُ لِلتَّمَلُّكِ
Maka, jika si penemu menemukannya di alam bebas, maka harus membiarkannya, dan haram mengambilnya untuk dimiliki.

فَلَوْ أَخَذَهُ لِلتَّمَلُّكِ ضَمِنَهُ
Sehingga, seandainya ia mengambilnya untuk dimiliki, maka ia memiliki beban untuk menggantinya (dlamman).

(وَإِنْ وَجَدَهُ) الْمُلْتَقِطُ (فِيْ الْحَضَرِ فَهُوَ مُخَيَّرٌ بَيْنَ الْأَشْيَاءِ الثَّلَاثَةِ فِيْهِ)
Jika si penemu menemukannya di pemukiman, maka ia diperkenankan memiliki di antara tiga hal pada binatang tersebut.

وَالْمُرَادُ الثَّلَاثَةُ السَّابِقَةُ فِيْمَا لَا يَمْتَنِعُ
Yang dikehendaki adalah tiga hal yang telah dijelaskan dalam permasalahan binatang yang tidak bisa menjaga diri.
  
Fathul Qaribul Mujib via contohdakwahislam.blogspot.com

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News