Top News :
Home » » Citra KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Citra KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Posted on Sunday, 19 July 2015 | garis 23:27

Muslimedianews.com ~ “Saya ini korban pencitraan”, kata Gus Mus.

1970-an, sekelompok anak muda NU intens berkonsolidasi. Bediskusi, bergerak, menulis, bicara di berbagai forum, membangun jaringan, merintis tapak menuju masa depan yang lebih baik bagi NU dan Indonesia. Dipimpin Gus Dur, Gus Mus termasuk salah seorang di antara mereka.

Publik pun lantas mengenal mereka sebagai “kelompok muda NU”, suara kaum muda, pemimpin-pemimpin muda. Atribut “muda” itu begitu kuat melekat pada citra diri mereka sehingga kehadiran mereka senantiasa “terasa muda”.

“Sekarang ini orang lupa kalau aku sudah tua. Dikiranya muda terus…” kata Gus Mus.

Pada mulanya Gus Dur mengajak Gus Mus ikut tampil membacakan puisi-puisi karya penyair-penyair Palestina dalam sebuah pentas solidaritas penyair-penyair Indonesia untuk Bangsa Palestina. Sejak saat itu, orang memandang Gus Mus sebagai penyair.

“Karena terlanjur dianggap penyair, terpaksa saya juga menulis puisi-puisi”, kata Gus Mus.

Kokohlah citra Gus Mus sebagai penyair, seniman, dan budayawan. Pentas-pentas baca puisi, seminar-seminar dan diskusi-diskusi ilmiah ala intelektual kota dilalapnya.

Orang menjadi lupa-lupa ingat bahwa Gus Mus terlahir sebagai santri kendil. Hidup sebagai santri kendil, menyikapi hidup dengan naluri santri kendil, menjalaninya ala santri kendil. Saya pernah dimarahi habis-habisan gara-gara membuat proposal permintaan bantuan dana kepada Pemerintah untuk bangunan pondok.

“Hati-hati mencari uang!” katanya, “Abahmu dan embahmu tidak pernah mementingkan bangunan yang bagus-bagus. Apa pun adanya, yang penting barokah!”

Ketika anak sulungnya, Ienas Tsuroyya, mencapai umur matang untuk berumah tangga, Sang Ayah menikahkannya, persis secara santri kendil. Yakni dengan mengatur perjodohan di antara sesama kyai santri kendil. Hingga tercapailah kata sepakat dengan Kyai Abdullah Rifa’i dari desa Cebolek, Pati. Ienas pun, dengan kesadaran seorang puteri santri kendil, menurut saja dinikahkan dengan Ulil Abshar Abdalla yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

Si Mantu ndilalah orang terkenal juga. Pemikir muda yang kontroversial. Pendiri Jaringan Islam Liberal. Rajin bikin kaget kalangan pesantren tradisional. Reputasi Ulil menanjak sedemikian rupa sampai-sampai berpengaruh terhadap citra mertuanya. Hanya karena bermenantukan Ulil si pendiri JIL, segelintir manusia pendek akal pun menisbatkan Gus Mus pula kepada JIL. Apalagi Gus Mus memilih cara dakwah penuh kelembutan dan mengecam orang-orang yang gemar bawa pentungan sambil teriak takbir.

Orang lupa bahwa Gus Mus memperoleh predikat kyai karena pengetahuan dan kesetiaannya kepada syari’at. Macam-macam label yang ditempelkan orang kepada pribadi Gus Mus, tak lebih dari hiasan remeh-temeh dibanding intensitasnya menggeluti fiqih. Kumpulan tulisannya dari rubrik-rubrik tanya-jawab di sejumlah media telah diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul “Fikih Keseharian Gus Mus”. Bersama Kyai Sahal Mahfudh, Gus Mus juga menerjemahkan sebuah buku babon berjudul “Ensiklopedia Fikih”.

Sebagai faqiih, Gus Mus bahkan tergolong kolot. Seumur hidup tak pernah ia mau menyentuh kepiting. Bukannya Gus Mus tak tahu bahwa menurut kyai-kyai Kajen (Pati) kepiting itu halal. Gus Mus memilih meneguhi pendapat kakeknya, Kyai Kholil Harun, yang mengharamkan kepiting.

Asy Syaikh As Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al Maliki Al Hasani pernah menyatakan, betapa beliau mengagumi pemikiran-pemikiran fiqih Iman Syafi’i.

“Seandainya tidak turun-temurun keluargaku mengikuti Madzhab Maliki, niscaya aku menjadi Syafi’iy dengan senang hati”, demikian Sayyid Muhammad berkata.

Beliau memegangi Madzhab Maliki sebagai amanat leluhur. Persis dengan itu, Gus Mus memegangi amanat fiqih kakeknya.

Kini Gus Mus sudah 70 tahun. Sebagai Pejabat Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, ia masih harus mengerahkan sisa-sisa tenaga bagi khidmah kepada 100 juta warga dibawah tanggung jawabnya. Itu juga soal biasa. Semua kyai NU ya begitu itu. Sampai tiba saatnya Tuhan mengirim pembawa kabar gembira.

Athaalallaahu baqaa-ahu wa hafidhahu.

Oleh : Yahya Cholil Staquf
Katib Syuriah PBNU dan Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News