Top News :
Home » » Gus Dur dan Kisah NU berbeda dengan Pemerintah soal Hari Raya

Gus Dur dan Kisah NU berbeda dengan Pemerintah soal Hari Raya

Posted on Thursday, 16 July 2015 | garis 16:53

Muslimedianews.com ~ Pada tanggal 29 Ramadlan selepas dluhur, seperti saat ini, saya selalu teringat GD. Pada tanggal dan jam yang sama dulu GD selalu ngantor sendiri di PBNU, karena fungsionaris PBNU yang lain sudah tidak ngantor dan staf sekretariat sudah pada mudik.

Saya selalu diminta menemani, karenanya tak bisa mudik sebelum Idul Fitri. Kami menunggu laporan hasil ru'yah yang dilakukan Lajnah Falakiyah NU di seluruh wilayah Indonesia.

Sambil menunggu hasil ru'yah saya menyiapkan dua surat ikhbar (pemberitahuan) PBNU; yakni surat terlihatnya hilal dan tidak terlihatnya hilal. Sekitar pukul 16:00 WIB mulai masuk laporan dari wilayah timur Indonesia, kemudian berturut2 dari daerah yang berada di wilayah WITA. Laporan ditunggu hingga sekitar pukul 18:00 WIB, saat matahari tenggelam di wilayah WIB.

Saat ada petugas ru'yah yang lapor melihat hilal, maka GD meminta saya menghubungi Ketua Lajnah Fakaliyah PBNU yang sudah berada di ruang rapat itsbat kementerian agama untuk memberitahu dan meminta keputusan.

Biasanya kalau terlihat hilal diputuskan 1 Syawwal jatuh pada keesokan harinya. GD meminta surat ikhbar terlihatnya hilal dan penetapan 1 Syawwal untuk ditandatangani.

Seperti biasa saya segera mengirim surat tersebut ke PWNU via fax (saat itu belum ada belum ada HP dan internet). Seringkali pengiriman surat via fax tertunda karena banyaknya telpon yang masuk minta informasi mengenai ikhbar PBNU, maklum telepon jadi satu dengan fax.

Selain itu orang-orang yang berdatangan entah dari mana ke PBNU juga memperlama proses pengiriman ikhbar ke PWNU. Permintaan tidak hanya datang dari pengurus NU di daerah, tapi juga perorangan dan jamaah umat Islam di luar negeri. Itu sebabnya seringkali ikhbar ke PWNU baru sampai menjelang tengah malam dan PWNU mengikhbarkan ke PCNU sampai shubuh, kadang sampai matahari terbit.

Harus diakui, ini menyulitkan teknis pembayaran zakat fitrah dan penyelenggaraan shalat Id. Di daerah banyak warga NU yang menyelenggarakan shalat Id menjelang dluhur.

Jauh berbeda dengan sekarang, ketika teknologi informasi dan komunikasi sedemikian maju. Banyak media yang bisa dipergunakan untuk menyebarluaskan penetapan 1 Syawwal. Bahkan hampir semua stasiun televisi sudah menyiarkan penetapan 1 Syawwal jauh hari, sehingga yang akan mengikuti penetapan itu sudah tahu jauh hari pula.

Shalat Id yang berbeda dengan penetapan pemerintah juga diliput media massa. Begitu juga tokoh2 yang melontarkan kecamannya terhadap pemerintah yang tetap menunggu hasil ru'yah dan sidag itsbat disiarkan dengan gancar oleh media, baik cetak, elektronik maupun internet.

Dulu tak ada satu pun media yang berani memuat ikhbar PBNU. Banyak masjid dikunci oleh aparat pemerintah sehingga warga NU tidak bisa melaksanakan shalat Id. Media massa pun tak berani menyiarkan shalat Id warga NU yang berbeda dengan pemerintah.

Sehingga kesannya, Idul Fitri di Indonesia satu, berbarengan, bersamaan, tidak ada perbedaan. Kalau memang ada perbedaan kenapa harus ditutup2i?

 Bagi saya pribadi, lebih heroik NU yang berbeda dengan pemerintah dalam penetapan 1 Syawaal, karena kesulitan2, hadangan2 dan tekanan2 yang dihadapi dan dialami dibanding pihak yang berbeda saat ini yang lancar jaya.


KH. Arifin Junaidi (PP Ma'arif NU)


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News