Top News :
Home » » Halau Paham Islam Radikal, Pusat Studi Al-Qur'an Gelar Jum'atan di Mal

Halau Paham Islam Radikal, Pusat Studi Al-Qur'an Gelar Jum'atan di Mal

Posted on Tuesday, 7 July 2015 | garis 09:57

Muslimedianews.com ~ Satu hal yang mungkin belum diketahui banyak orang adalah Pusat Studi al-Quran (PSQ) sudah beberapa bulan terakhir ini memiliki program baru. Program itu adalah menggelar pelaksanaan Salat Jumat di Mal Bellagio, Kuningan, Jakarta.

Sejak Maret 2015 lembaga yang didirikan pakar ilmu al-Quran, Quraish Shihab, itu diminta para eksekutif yang bekerja di kawasan segitiga emas itu untuk menggelar pelaksanaan Salat Jumat. Permintaan itu utamanya datang dari kantor pengacara Assegaf Hamzah Patners (AHP), yang salah satu pemiliknya adalah kolega Quraish Shihab.

Faried F. Saenong, satu dari sekian Dewan Pakar PSQ, menuturkan bahwa pelaksanaan Salat Jumat di Mal Bellagio itu adalah program yang bersifat aksidental. Artinya, program itu dimunculkan belakangan karena adanya permintaan dari masyarakat. Bukan program yang telah dirancang sejak awal.

“Kami memulai program pelaksanaan Salat Jumat di Mal Bellagio benar-benar dari nol. Namun untuk hal-hal tertentu kami dibantu AHP,” terang Faried kepada Redaksi Madina Online. Untuk bisa menggelar Salat Jumat ballroom lantai I mal itu, AHP yang mengajukan perizinannya. Sementara untuk beban sewa ruangan itu dibagi secara merata antara AHP dan PSQ.

Pada minggu-minggu pertama, satu sekat ruangan ballroom disewa untuk estimasi sekitar 30 sampai 40 jamaah. Namun, secara berangsur ruangan lain ballroom disewa lagi mengingat antusiasnya jamaah yang ingin Salat Jumat di sana. Hingga sekarang, seluruh ruangan ballroom itu telah disewa dan mampu menampung sampai 600 jamaah. Itu pun masih ada jamaah yang tidak tertampung. Setiap minggu, PSQ dan AHP harus mengeluarkan uang sebesar 5 juta Rupiah untuk menyewa seluruh ruangan ballroom itu.

Diakui Faried, sebelum PSQ menggelar Salat Jumat di Bellagio, para eksekutif yang hendak Salat Jumat umumnya mendatangi dua lokasi. Satu, di masjid yang ada di Kuningan. Dua, di ballroom di salah satu gedung di Kuningan. Namun daya tampung dua tempat itu pun belum mampu mengimbangi jumlah jamaah Salat Jumat. Karena itulah Salat Jumat di Bellagio dilaksanakan.

Tapi di luar urusan daya tampung, ada hal lain yang membuat PSQ bersemangat menggelar Salat Jumat di Kuningan. PSQ hendak menghalau pandangan-pandangan Islam radikal yang disampaikan saat khutbah Jumat di lokasi Salat Jumat yang kedua.

“Ketika pihak AHP sedang meeting dengan kami untuk pelaksanaan program ini, disebutkan secara eksplisit bahwa mereka khawatir para eksekutif yang bekerja di Kuningan bisa terpengaruh pandangan-pandangan Islam radikal,” papar Faried.

Terpicu dengan kenyataan itu, tim PSQ secara bergantian meminta para Dewan Pakar PSQ yang sudah punya nama di tengah masyarakat untuk menjadi Khatib Jumat untuk menarik perhatian para eksekutif. Di Jumat-Jumat pertama, Dewan Pakar PSQ diminta untuk menyampaikan dalam khutbahnya pembahasan tentang pandangan-pandangan tentang Islam moderat, pandangan keislaman yang dipegang PSQ, seperti nilai kasih-sayang dan perdamaian. Dengan cara begitu, pandangan-pandangan Islam yang radikal diharapkan tidak relevan dengan sendirinya bagi jamaah.

Pada Jumat selanjutnya, isi khutbah disesuaikan dengan kebutuhan audiens yang umumnya eksekutif, seperti pandangan Islam tentang etos kerja, tentang ibadah ritual dan ibadah sosial, dan lain sebagainya. Dari tema-tema khutbah itu, benang merah pandangan Islam moderat sangat kuat dirasakan.

Faried menyadari PSQ tidak bisa sepenuhnya menghalau pandangan-pandangan Islam radikal. Namun, dari Khutbah Jumat tandingan di ballroom Bellagio itu, ia berharap para eksekutif bisa mendapatkan pandangan alternatif tentang Islam. Bahwa Islam bukan ajaran yang berisi kekerasan dan penuh kebencian, sebagaimana yang disampaikan dalam khutbah Jumat di lokasi Salat Jumat kedua.

Membangun Keberagaman Berbasis al-Quran
PSQ didirkan oleh Yayasan Lentera Hati yang dipimpin Quraish Shihab. Selain Quraish, PSQ diisi oleh tim inti yang disebut dewan pakar. Umumnya Dewan Pakar PSQ adalah Guru Besar Tafsir Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat, yang lokasinya tak jauh dari PSQ. Lembaga studi yang berlokasi di Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan itu diresmikan pada medio September 2004.

“Tujuannya untuk membumikan al-Quran kepada masyarakat yang pluralistik. Dan yang lebih penting ingin menciptakan kader mufasir (ahli tafsir) al-Quran yang profesional,” kata Quraish dalam sambutan peresmian pendirian PSQ.

Ada alasan tertentu mengapa PSQ dibangun di Ciputat. Quraish ingin memberikan dukungan dan fasilitas bagi mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah yang berminat untuk mempelajari al-Quran. Karena itu Quraish bermimpi agar PSQ dapat menampilkan al-Quran dengan mudah, informasinya mudah dijangkau orang, dan orang dapat mengenal al-Quran melalui tingkah laku dan pengalaman orang-orang yang memahami al-Quran.

Untuk dua tujuan besar di atas, PSQ memiliki sejumlah program yang menyasar anak-anak hingga orang dewasa. Program-program itu mencakup pendidikan, pelatihan, pengembangan kajian, dan publikasi al-Quran. Belakangan, PSQ menjalin kerjasama dengan sejumlah media, baik radio maupun televisi, untuk membuat program talkshow keislaman.

 Asistensi Masjid

 Sebelum diminta menggelar pelaksanaan Salat Jumat di Mal Bellagio, Faried bercerita bahwa PSQ juga pernah diminta perusahaan Taksi Blue Bird dan pabrik Panasonic untuk mengelola masjid yang ada di dalam lingkungan dua perusahaan tersebut.

Pimpinan dua perusahaan itu gundah setelah mengetahui bahwa masjid di lingkungan perusahaan mereka sudah dipengaruhi kelompok-kelompok Islam radikal. Padahal masjid yang diperuntukan bagi para karyawan Muslim dan masyarakat sekitar itu tidak hanya digunakan sebagai tempat melaksanakan salat wajib saja, tapi juga menggelar pengajian-pengajian mingguan.

“Beberapa tahun yang lalu mereka sharing kepada kami tentang apa yang terjadi pada masjid di lingkungan perusahaan mereka. Mereka khawatir pengaruh pandangan Islam yang radikal itu dapat merusak budaya kerja dan hubungan sosial di lingkungan perusahaan,” ungkap Faried.

Untuk menjawab permasalahan itu, PSQ menerjunkan tim yang bertugas melakukan studi lapangan terhadap dua masjid itu. Tujuannya untuk mengecek kebenaran atas apa yang dikhawatirkan pimpinan perusahan. Hasil temuan PSQ menunjukkan bahwa pengaruh Islam radikal terasa bila dilihat dari apa yang disampaikan di pengajian mingguan, saat khutbah Jumat, bahkan dari pikiran-pikiran sebagian takmir masjid saat berdiskusi untuk isu-isu tertentu dengan tim PSQ.

“Sejujurnya kami diberikan wewenang penuh untuk melakukan perubahan atas apa yang terjadi,” kata Faried. “Namun kami sadar untuk mewujudkan perubahan itu, kami ingin memulainya dengan pendekatan persuasif, khususnya kepada takmir masjid yang memiliki pandangan Islam radikal”.

Terhadap takmir masjid yang memiliki pandangan Islam radikal itu, tim PSQ menggelar rangkaian diskusi dengan mereka. Tujuannya untuk mendorong mereka pada pandangan Islam yang moderat, pandangan keislaman yang diyakini PSQ dan ormas keislaman terbesar di Indonesia, seperti Muhammadiyah dan NU.

Namun, tidak semua takmir masjid yang berpandangan Islam radikal bisa didorong ke ‘tengah’. Kepada takmir masjid kelompok ini, tim PSQ terpaksa harus mencopot jabatan mereka. Bersama takmir masjid yang baru, tim PSQ menyusun tema pengajian dan khutbah Jumat selama setahun. Tim gabungan ini juga menyeleksi mana khatib dan narasumber yang bisa mendukung iklim pandangan Islam yang moderat di lingkungan perusahaan.

Di bawah asistensi PSQ, pimpinan perusahan merasakan ada perubahan terhadap masjid mereka. Mereka tidak lagi mendengar pandangan-pandangan Islam radikal yang disampaikan dari dalam masjid. Materi khutbah Jumat dan pengajian mingguan kini lebih terasa meneduhkan dan mencerahkan. Berbeda dari sebelumnya yang membakar dan menebar kebencian.

Genap setahun, dengan sepengetahuan pimpinan perusahaan, tim PSQ menyerahkan sepenuhnya wewenang dua masjid itu kepada takmir masjid yang baru. Tim PSQ sudah cukup yakin bahwa takmir masjid itu mampu menjaga semangat Islam moderat. Meski begitu, tim PSQ tetap sesekali memantau situasi kedua masjid itu secara berkala.

Irwan Amrizal
via ]madinaonline.id]

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News