Top News :
Home » » Ini Tata Cara Melaksanakan Shalat Ied (Hari Raya)

Ini Tata Cara Melaksanakan Shalat Ied (Hari Raya)

Posted on Thursday, 16 July 2015 | garis 10:20

Muslimedianews.com ~ Shalat ‘Id dilakukan sebanyak 2 raka’at, tidak ada perselisihan atas hal ini, ulama telah sepakat. Berdasarkan riwayat Sayyidina Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anh, bahwa ia berkata :

صلاة الأضحى ركعتان، وصلاة الفطر ركعتان، وصلاة السفر ركعتان، وصلاة الجمعة ركعتان، تمام غير قصر على لسان نبيكم، وقد خاب من افترى
“Shalat ‘idul Adlha 2 raka’at, shalat idul Fithri 2 rakat, shalat ketika safar 2 raka’at, shalat jum’at juga 2 raka’at, sempurna tanpa qashar berdasarkan dari lisan Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam”.

Menurut Imam Nawawi hadits tersebut hadits Hasan, telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam An-Nasaa’i dan yang lainnya.

Sunnah melaksanakan shalat ‘ied secara berjama’ah karena ulama khalaf mengambil hal ini dari para salafush shaleh. Adapun rincian pelaksanaan shalat ‘ied sama halnya seperti pelaksaan shalat sunnah dua raka’at yang lainnya, hanya berbeda dalam hal niat dan beberapa masalah kesunnahan.

Raka’at Pertama Takbir 7 Kali, Raka’at Kedua 5 Kali

Shalat ‘ied dimulai dengan takbiratul Ihram yang disertai dengan niat, yaitu niat shalat ‘Ied. Kemudian membaca do’a iftitah dan melakukan takbir sebanyak 7 kali dengan cara mengangkat tangan. Untuk raka’at kedua, sebanyak 5 kali selain takbir ketika hendak berdiri. Imam Ibnu Qasim Al Ghazi didalam kitab Fathul Qarib memberikan perincian tatacara shalat ‘ied sebagai berikut :

“Shalat ‘ied dilakukan sebanyak 2 raka’at, melakukan takbir dengan niat shalat ‘idul fithri atau niat shalat ‘idul adlha, kemudian membaca do’a iftitah, kemudian bertakbir sebanyak 7 kali pada raka’at pertama selain takbiratul Ihram, kemudian membaca ta’awudz, membaca surah Al Fatihah, kemudian membaca surah Qaf secara jahr (dikeraskan), dan takbir pada raka’at kedua sebanyak 5 kali selain takbir qiyam (takbir ketika hendak berdiri), kemudian membaca ta’awudz, surah Al Fatihah dan surah Al Qamar secara jahr”.

Imam Al Imraniy didalam kitabnya Al Bayan mengatakan : “Dan ketika telah selesai membaca do’a Iftitah, maka bertakbir sebanyak 7 kali pada raka’at pertama sebelum membaca surah Al Fatihah, dan pada raka’at kedua sebanyak 5 kali sebelum membaca surah Al Fatihah, ini juga pendapat para sahabat Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, ‘’Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Sayyidah ‘Aisyah, dan Abu Hurairah -radliyallahu ‘anhum-, serta dari kalangan Fuqaha’ seperti Al-Awza’iy, Imam Ahmad dan Ishaq”.

Imam Al Syairaziy didalam Al Muhadzdzab mengatakan : “Sunnah bertakbir 7 kali pada raka’at pertama selain takbiratul Ihram dan takbir untuk ruku’, sedangkan pada raka’at kedua sebanyak 5 kali selain takbir qiyam (takbir untuk berdiri) dan takbir untuk ruku’”.

Hal ini berdasarkan riwayat :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى، فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا
“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bertakbir pada shalat ‘idul Fithri dan idul Adlha, pada raka’at pertama sebanyak 7 kali dan pada raka’at kedua sebanyak 5 kali”. (HR. Abu Daud dan Imam Al Baihaqi didalam Ma’rifatus Sunani wal Atsar )


Al Muthi’iy didalam Takmilah Al-Majmu’ syarh Al Muhadzdzab mengatakan bahwa hadits tersebut shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud dan yang lainnya dengan sanadnya yang hasan. Takbir-takbir sebagaimana disebutkan diatas, dilakukan sebelum membaca surah Al Fatihah, didalam Takmilah Al Majmu’ dikatakan :

“Takbir-takbir tersebut dilakukan sebelum bacaan (surah Al Fatihah dan surah lainnya), berdasarkan riwayat Katsir bin Abdullah, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata :

أن النبي صلى الله عليه وسلم " كان يكبر في العيدين في الركعة الاولى سبعا وفى الثانية خمسا قبل القراءة
“Nabi shallallahu ‘alayhi wa Sallam bertakbir ketika shalat dua hari raya pada raka’at pertama 7 kali dan pada raka’at kedua sebenyak 5 kali sebelum Qira’ah”.

Hadits ini diriwayat oleh At-Turmidzi, Ibnu Majah dan At-Thabraniy. Imam A-Turmidzi mengatakan bahwa hadits kakeknya Katsir bin Abdullah adalah hadits hasan, dan itu merupakan hadits yang paling hasan yang diriwayat dari Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pada bab tersebut.

Disunnahkan mengangkat tangan sebagaimana takbiratul Ihram serta meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri. Disebutkan didalam Takmilaj Al Majmu’ :

“Dan mustahab (dianjurkan) mengangkat tangan sejajar bahunya pada setiap kali melakukan takbir-takbir tambahan tersebut, dan meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya diantara dua takbir tersebut”.  

Dzikir Diantara Takbir-Takbir Tambahan
 

Diantara takbir yang satu dengan takbir yang lain (diantara dua takbir) dipisah atau berdiam sejenak kira-kira kadar lamanya membaca 1 ayat Al-Qur’an, tidak panjang, juga tidak pendek, seraya membaca dzikir. Dalam Takmilah Al Majmu’ disebutkan :

“Imam Al Syafi’i dan ashhab kami berkata ; disunnahkan berdiam diantara dua takbir-takbir tambahan kira-kira kadar lamanya membaca satu ayat, tidak panjang dan tidak pendek, sambil bertahlil kepada Allah, mengucapkan takbir, mengucapkan hamdalah dan memuji Allah (ويمجده), Ini merupakan lafadz Imam Al-Syafi’I didalam kitab Al Umm dan juga Mukhtashar Al Muzanniy, akan tetapi didalam Al Umm tidak ada lafadz “memuji Allah (ويمجده)”. Jumhur ulama Syafi’iyah mengucapkan :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر

Dan jikalau menambahkannya (dengan dzikir lain) maka boleh. Imam Al-Shaidalaniy, salah seorang ashhab Syafi’i berkata, (boleh) mengucapkan :

لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد بيده الخير وهو على كل شئ قدير

Ibnu Al-Shabbagh berkata : seandainya mengucapkan dengan apa-apa yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat seperti lafadz

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا وصلى الله على محمد وآله وسلم كثيرا

Maka itu juga hasan (bagus). Dan Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin Mas’ud Al Mas’udiy, bagian dari ashhab/ulama kami, yakni ashhab al-Qaffal, ia berkata ; (boleh) mengucapkan :

سبحانك اللهم وبحمدك تبارك اسمك وتعالى جدك وجل ثناؤك ولا إله غيرك

Bacaan Surah Dalam Shalat Hari Raya

Surah yang dibaca sesudah membaca surah Al Fatihah adalah surah Qaf  (ق) pada raka’at pertama dan pada raka’at kedua membaca surah Al Qamar (اقتربت). Dalam sebuah riwayat disebutkan,

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ أَبَا وَاقِدٍ اللَّيْثِيَّ: مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى؟ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِـ {ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ} و {اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ}
“Bahwa Umat bin Khaththab bertanya kepada Abu Waqid Al-Laitsiy: Apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam baca pada shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adlha ?. Ia menjawab : “Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam membaca surah Qaf {Qaf wal Qurnanil Majid} dan surah Al Qamar {Iqtarabis Sa’ah wan-syaqqal Qamar}”. (HR. Ibnu Hibban didalam shahihnya).

Riwayat lain menyebutkan ;

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ، وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ» ، قَالَ: «وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ، فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ
“Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam membaca surah al-A’laa dan al-Ghasyiyah pada shalat hari raya dan shalat jum’at”, ia berkata : apabila shalat ‘ied dan shalat jum’at berkumpul pada hari yang sama, maka tetap membaca kedua surat tersebut pada keduanya”.[HR. Muslim]

Al-Muthi’i didalam Takmilah Al Majmu’ syarh Al Muhadzdzab mengatakan : “Kemudian setelah membaca ta’awudz, membaca surah Al Fatihah, kemudian surah Qaf, dan pada raka’at kedua setelah membaca surah Al Fatihah, membaca surah Al Qamar (اقتربت الساعة)”. Dan juga telah tsabit didalam Shahih Muslim pada riwayat An-Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa Sallam didalam shalat ‘Ied membaca surah Al-A’laa dan Al-Ghasyiyah. Keduanya sama-sama sunnah, Wallahu A’lam”.

Adzan, Iqamah dan Nida’ Pada Hari Raya

Didalam shalat hari raya, tidak ada adzan dan iqamah. Disebutkan didalam Takmilah Al Majmu’ :

“Tidak ada adzan pada shalat ‘ied, tidak pula iqamah, berdasarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma, ia berkata :

شهدت العيد مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ومع أبي بكر وعمر وعثمان رضي الله عنهم فكلهم صلى قبل الخطبة بغير اذان ولا اقامة
“Aku menyaksikan shalat ‘ied bersama Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, dan juga bersama Abu bakar Ash-Shiddiq, Umar, Utsman –radliyalahu ‘anhum-, mereka semua shalat ‘id sebelum khutbah tanpa adzan dan tanpa iqamah”.

Dan sunnah mengucapkan nida’ pada shalat hari raya “Ash-Shalatu Jami’ah”, berdasarkan riwayat dari Az-Zuhri bahwa ia mengucapkan nida’ seperti itu”.


Hadits Ibnu Abbas diatas adalah shahih, telah diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanadnya yang shahih berdasarkan kriteria Al Bukhari dan Muslim. Imam Al Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayat bahwa tidak ada adzan dan iqamah pada shalat ‘ied, didalam shahih Muslim disebutkan :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيدِ، فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ، بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ
“Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : Aku menyaksikan shalat ‘ied bersam Rasulullah, shalat di mulai sebelum khutbah, tanpa adzan dan iqmah”.

Disebutkan didalam Takmilah Al Majmu’ : “Imam Syafi’i dan ashhab (para ulama Syafi’iyyah) berkata bahwa tidak ada adzan dan iqamah pada shalat ‘ied, dan ini juga pandangan jumhur ulama dari kalangan para sahabat, para tabi’in dan ulama-ulama yang datang setelah mereka, dan umat Islam telah beramal seperti ini disetiap masa, berdasarkan hadits-hadits shahih yang telah kami sebutkan”.

Namun kalau melihat dari sisi sejarah, dulu pernah ada yang melakukan adzan dan iqamah untuk shalat ‘ied, sebagain riwayat mengatakan Ibnu Az-Zubair melakukan adzan dan iqamah untuk shalat ‘ied, ada juga yang mengatakan bahwa yang pertama kali mengada-adakan adzan untuk shalat ‘ied adalah Ziyad, ada juga yang mengatakan dilakukan oleh Mu’awiyah di negeri Syam, ada pula yang mengatakan dilakukan oleh orang lain.

Tentang Nida’ sendiri, didalam kitab Al Fiqhu alaa Madzahibil Arba’ah, disebutkan : “Tidak ada adzan untuk dua shalat hari raya, tidak pula ada iqamah. Akan tetapi dianjurkan mengucapkan nida’, dengan ucapkan : {“Ash-Shalatu Jami’ah”} berdasarkan ittifaq / kesepakatan dari imam 3 (yakni Abu Hanifah, Syafi’i dan Imam Ahmad), berbeda halnya dengan Malikiyah, mereka mengatakan : Nida’ dengan ucapkan {“Ash-Shalatu Jami’ah”} atau seumpamanya hukumnya makruh atau menyelisihi yang lebih utama (khilaful aulaa), namun sebagain dari Malikiyah mengatakan : sesungguhnya nida’ dengan yang seperti itu tidaklah makruh, kecuali berkeyaqinan bahwa hal itu sebagai sebuah anjuran, namun jika tidak, maka tidaklah makruh”.

Didalam Takmilah Al Majmu’ disebutkan : “Dianjurkan (yustahabb) mengucapkan “Ash-shalatu Jami’ah” sebagaimana telah disebutkan, ini diqiyaskan dengan shalat Kusuf. Imam Syafi’i didalam Al Umm berkata :  aku menyukai seorang imam memerintahkan muadzdzin pada hari-hari raya dan pada perkumpulan-perkumpulan shalat supaya mengucapkan : {Al-Shalatu Jami’ah / الصلاة جامعة }, atau  {Ash-Shalaah / الصلاة }. Jika misalnya mengatakan {Datanglah menuju shalat / هلم إلى الصلاة } maka tidak kami makruhkan, Jika mengucapkan {حي على الصلاة } maka tidak apa-apa. Namun jika  aku suka untuk menghindari mengucapkan yang seperti itu karena itu bagian dari lafadz Adzan, aku menyukai untuk menghindari semua ucapan yang mengandung lafadz-lafadz Adzan. Dan jika seandainya dilakukan adzan dan iqamah untuk shalat ‘ied, maka aku memakruhkannya dan tidak menjadikan sebagai kebiasaan, inilah kalam Imam Syafi’i. Shahibu al-‘Iddah mengatakan : seandainya mengucapkan { حي على الصلاة } pun juga tidak apa-apa, bahkan itu mustabah (sunnah). Namun, Ad-Darimiy mengatakan : seandainya mengucapkan { حي على الصلاة } maka makruh, karena itu bagian dari lafadz Adzan. Dan yang showab / benar adalah sebagaimana nash Imam Syafi’i bahwa beliau tidak memakruhkannya, dan sungguh yang aulaa (lebih utama) adalah menghindarinya dan menghindari penggunaan seluruh lafadz-lafadz Adzan”.

Imam Al Baihaqi didalam kitabnya Ma’rifatus Sunani wal Atsar meriwayatkan perkataan Imam Syafi’i :

قال الشافعي: قال الزهري: وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأمر في العيدين المؤذن فيقول: «الصلاة جامعة»
“Imam Syafi’i berkata : Az-Zuhri berkata ; Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam memerintahkan mu’adzdzin pada shalat dua hari raya agar mengucapkan : {Ash-Shalatu Jami’a / Nida’}”

Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat ‘Ied

Dijelaskan didalam kitab Takmilah Al Majmu’, Al Muthi’i : “Boleh bagi selain imam melakukan shalat al-nafl (sunnah) pada hari raya sebelum shalat ‘ied maupun setelah shalat ‘ied, baik dirumahnya, di sebuah jalan dan di mushalla (tempat pelaksanan shalat ‘ied) sebelum hadirnya imam namun bukan dengan maksud shalat untuk shalat ‘ied (bukan shalat qabliyah / ba’diyah ‘ied) dan tidak makruh pada yang demikian”.

“.... Dimakruhkan bagi imam melakukan shalat sebelum shalat ‘ied atau pun setelahnya di mushalla (tempat shalat) sebab jikalau melakukan shalat maka akan diduga itu sunnah padahal bukan sunnah”.
 

Dijelaskan pula didalam Takmilah Al Majmu’ mengenai pendangan-pandangan ulama tentang shalat shunnah / al-nafl sebelum shalat ‘ied dan sesudahnya (qabliyah dan ba’diyah) : “Ulama bersepakat (ijma’) bahwa tidak ada shalat sebelum dan sesudah shalat ‘ied bukanlah sunnah, namun mereka berbeda pandangan tentang kemakruhan shalat al-nafl sebelum dan sesudah shalat ‘ied. Madzhab Syaf’i menyatakan bahwa tidak makruh shalat al-nafl sebelum shala ‘ied dan setelahnya, dirumah maupun di mushalla, bagi selain imam, dengan hal ini berpendapat Anas bin Malik, Abu Hurairah, Rafi’ bin Hudaij, Sahl bin Sa’ad, Abu Burdah, Al hasan Al Bashri beserta saudaranya Sa’id bin Abul Hasan, Jabir bin Zaid, Urwah bin Az-Zubair, Ibnu Al Mundzir”.

Ulama lainnya mengatakan makruh baik sebelum maupun setelahnya. Ada juga yang mengatakan makruh melakukan shalat setelahnya, namun tidak makruh bila sebelumnya. Ada juga yang berpendapat makruh shalat al-nafl sebelum shalat ‘ied maupun setelahnya apabila di mushalla (maksudnya shohra’) namun tidak bila di tempat lainnya.

sumber madinatuliman com

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News