Top News :
Home » , » Islam Nusantara dan Islam Sehari-hari

Islam Nusantara dan Islam Sehari-hari

Posted on Friday, 17 July 2015 | garis 16:43

Muslimedianews.com ~
Islam Nusantara dan Islam Sehari-hari
(Potret Respon dan Tantangan Gagasan Islam Nusantara di Desa)

Oleh : Faisol Ramdhoni *

Berawal dari Deklarasi “Islam Nusantara” sebagai tema Muktamar NU ke-33 saat Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU) di Masjid Istiqlal (14/6/2015) sampai saat ini gagasan ini ramai dalam perbincangan. Tudingan,pembelaan, ledekan berikut aneka bentuk tanggapan bermunculan mewarnai jagad pemikiran keIslaman di Indonesia. Tidak hanya di media massa, lalu lintas perdebatan malah lebih gaduh di medan sosial media.

Menariknya, walaupun gagasan Islam Nusantara ini dikumandangkan oleh NU namun di sebagian internal komunitas Nahdliyin masih menuai kritikan dan penolakan.  Sejumlah kyai/Ulama NU, pesantren NU serta warga NU lainnya  terkesan masih kurang menerima dengan pengistilahan Islam Nusantara tersebut. Akibatnya, sikap pro kontra tidak hanya terjadi di komunitas di luar NU namun juga terjadi di internal NU sendiri.

Di tengah hingar bingar sikap pro kontra di internal NU terkait gagasan Islam nusantra tersebut, tak ada salahnya untuk sejenak menengok respon dan sikap warga nahdliyin. Bagi penulis upaya ini cukup reflektif  untuk mengukur sejauh manakah jamaah NU di pedesaan merespon dan memahami gagasan Islam Nusantra tersebut?. Sebab, di desa lah kekuatan transformasi gerakan NU bertempat dan memiliki basis kekuatan.  Legitimasi kebesaran NU berangkat dari amaliyah NU yang dipraktekkan warga Nahdliyin di desa seperti: tahlilan, yasinan, manaqiban, dibaan, sholawatan dan sebagainya.

Tulisan ini mencoba mengungkapkan catatan-catatan reflektif hasil perjumpaan dengan  jamaah NU di desa. Rangkuman sederhana dari hasil berinteraksi dengan komunitas Nahdliyin di Desa Karanggayam dan Desa Bluuran Kabupaten Sampang.  Sebagaimana diketahui bersama, dua desa ini merupakan basis NU yang fanatik dan dikenal sebagai bekas terjadinya konflik sunni-syiah. Selain itu, faktor kedekatan penulis dengan tokoh dan  warga setempat sangat membantu dalam proses berkomunikasi lebih dalam. Walaupun dilakukan dengan cara yang bisa dibilang “tidak ilmiah” namun proses yang bergulir secara alamiah dengan  silaturrahmi, berdialog, berdiskusi dan terlibat langsung dengan kegiatan-kegiatan keagamaan warga kiranya dapat dinilai cukup respentatif untuk menggambarkan realitas yang sebenarnya dalam konteks respon terhadap Islam nusantara.

Islam Sehari-hari


Sebagaimana masyarakat Madura pada umumnya, Agama bagi warga dua desa ini  adalah Islam. Agama ini sudah meresap dan mewarnai kehidupan sosial, mulai dari cara berprilaku, berpakaian, cara makan, bahkan cara tidurpun mengikuti ajaran agama. Posisi tidur warga seperti posisi mayat membujur ke utara dan menghadap arah kiblat. Islam telah benar-benar menjadi ruh, sehingga belum diketemukan di kedua desa tersebut ada warga yang   menyatakan diri bukan muslim, atau menyatakan diri pindah dari agama Islam ke  agama lain, sekalipun keislaman mereka  hanya bertaraf Islam KTP bukan Islam ongghu (Islam sejati, Islam maksimalis).

kepatuhan, ketaatan, atau kefanatikan warga  pada agama Islam yang dianut sudah lama terbentuk. Mereka sangat patuh menjalankan syariat agama Islam seperti: melakukan shalat lima waktu, berpuasa, zakat, bersedekah dan bersungguh-sungguh dalam hal agama. Hasrat mereka untuk naik haji sedemikian besar, sama dengan hasrat mereka memasukkan putranya ke pesantren. Itulah sebabnya mengapa seorang kiai dan haji sebagai guru panutan mendapat tempat terhormat di mata warga.

Pun begitu dengan tradisi kegamaan yang mereka jalankan, praktek-praktek amaliyah NU menjadi pemandangan yang memenuhi kegiatan keagamaan warga sehari-hari. Kelompok-kelompok yasinan, dibaan maupun sholawatan begitu banyak jumlahnya. Acara ritual-ritual kegamaan seperti selametan,mauludan dan sebagainya yang dikatakan banyak pihak sebagi praktek-praktek tradisi “Islam Nusantara” tersebut amat lazim ditemukan di rumah-rumah warga.

Tidak hanya itu, praktek-praktek tradisi lokal seperti tradisi mukka’ bumih (selametan saat mau bangun rumah), tradisi nampaneh pasah (selamatan awal ramadhan), tradisi ter- ater saat idul fitri dan  lainnya kerap dilakukan warga. Meskipun tidak sesemarak dulu-sebagaimana diungkapkan salah satu tokoh agama di desa tersebut—namun mayoritas warga masih meyakini bahwa praktek-praktek adet (adat/tradisi lokal) itu berkaitan erat dengan doktrin agama tentang pahala dan surga. Dalam artian, ketika mereka mampu menyelenggarakannya maka keyakinan akan medapatkan tambahan pahala dan perlindungan dari Allah SWT sehingga bisa selamat dunia akhirat dan akhirnya masuk surga.

Praktek ibadah dan tradisi kegamaan sebagaimana diungkapkan di atas itulah, oleh warga kemudian disebut  dengan istilah “Islam Sehari-hari”.  Bagi mereka, istilah “Islam sehari-hari” ini memberikan pengertian pelaksanaan ajaran Islam baik terkait  tata cara peribadatan, ritual maupun tradisi keagamaan lainnya yang telah dilakukan dan diturunkan serta ditanamkan oleh para leluhur maupun pendahulu mereka dalam praktek-praktek kegamaan keseharian masyarakat .

 “Islam sehari-hari”  merupakan ajaran Islam yang didapatkan dari Ulama/kyai  saat leluhur mereka, orang tua mereka bahkan mereka sendiri yang saat ini masih hidup menimba ilmu agama Islam di pesantren.  Segenap doktrin dan  ajaran yang telah didapatkan kemudian diterapkan secara turun temurun tanpa banyak mengalami modifikasi. Bahkan telah menjadi “syariat” dalam beragama dan menjalani kehidupan keagamaan yang amat lazim dan kuat dalam konstruksi pengetahuan dan pengamalan ajaran Islam di desa. Sehingga wajar jika di kemudian hari didapati perilaku dan ekspresi keagamaan dari induvidual maupun kelompok berbeda dengan “syariat Islam Sehari-hari” ini bisa memunculkan reaksi dari warga. Sebab, warga secara ramai akan menilainya sebagai ajaran yang menyimpang.

Nah, berangkat dari titik inilah penulis akan  mengungkapkan respon dan pemahaman warga  NU di tingkat terbawah terhadap gagasan Islam Nusantara yang dikumandangkan oleh NU di tingkatan atas.  Sebagaimana ditulis dan diungkapkan oleh banyak pihak, Gagasan Islam Nusantara ini bukanlah hal yang baru di Indonesia. Konsepsi Islam Nusantara dikatakan sebagai  sebuah model penyebaran Islam yang telah dilakukan oleh wali songo,para kyai/ulama terdahulu tidak dengan jalan peperangan, tapi bil himah wal mau’idhatil hasanah. Islam Nusantara merupakan  proses Islamisasi di Indonesia dengan jalan merangkul, melestarikan dan menghormati serta tidak  memberangus budaya dan tradisi yang sudah ada sebelumnya. Proses Islamisasi seperti inilah yang sekarang kita nikmati, dimana sekitar 87 persen penduduk Indonesia beragama Islam.

Respon Terhadap Islam Nusantara

Dengan konsepsi yang demikian, maka bisa dikatakan bahwa sebenarnya proses penyebutan “Islam Sehari-hari” yang terungkap dari pikiran  warga desa tersebut merupakan isi dari konsepsi Islam Nusantara. Praktek-praktek keagamaan yang dijalankan adalah pengenjawantahan dari nilai-nilai Islam Nusantara. Semestinya tatkala Gagasan Islam Nusantara ini disebarluaskan semestinya warga-warga NU di dusun,di desa, di daerah amat mudah untuk mencerna dan memahaminya.

Namun, hasil penghampiran pada beberapa tokoh agama dan warga NU di desa justru melahirkan respon yang beragam. Hasilnya, secara sederhana bisa disimpulkan bahwa respon warga NU Desa berada dalam kisaran tiga sikap yakni tidak mau tahu, tidak tahu dan tidak mau. Bila lebih disederhanakan lagi, maka respon tersebut membentuk dua kelompok besar yang  banyak dipengaruhi oleh  faktor pendidikan, tingkat akses informasi dan mobilitas warga NU desa.
Adapun penjelasan terkait dua kelompok respon warga NU desa tersebut, sebagai berikut: Pertama, Warga NU Desa yang mengaku tidak mau tahu dan tidak tahu. Respon ini banyak didapatkan dari warga yang tidak melek internet, jarang beraktivitas di luar , jarang berinteraksi dengan komunitas luar desa, tidak pernah baca koran/majalah, dan tidak pernah mengikuti perkembangan informasi apapun.

Rupanya kelompok ini lebih mengenal dan memahami konstruksi konsepsi “Islam Sehari-hari” daripada Islam Nusantara. Mereka seakan tidak mau tahu atau malah memang tidak tahu tatkala dikatakan bahwa praktek-praktek keagamaan yang mereka persepsikan sebagai “Islam sehari-hari “ sama dengan konsepsi Islam Nusantara. Bagi kelompok ini, ajaran “Islam sehari-hari” rupanya telah menjadi alat ukur yang sederhana,jelas dan tegas untuk memberikan dukungan atau penolakan pada sebuah ajaran yang berkembang di masyarakat. Secara tersirat, seakan mereka berkata walaupun tanpa istilah yang aneh-aneh selama tidak berbeda dengan ajaran dan praktek “Islam sehari-hari” maka warga akan mendukungnya namun jika berbeda maka hampir bisa dipastikan akan ada gerakan penolakan.

Beda halnya, saat mereka diajak dialog dengan dengan menggunakan istilah lain seperti Islam NU atau Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah ternyata mereka lebih mudah mencerna dan memahami bahkan secara spontan mereka mengatakan sebagai pengikut ajaran Islam NU atau Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Selain itu, mereka pun menyatakan bahwa “Islam sehari-hari” yang mereka persepsikan selama ini merupakan ajaran Islam NU atau Islam Ahlussunah Wal Jamaah yang turun temurun.

Kedua, Warga NU Desa yang menyatakan kurang menerima dengan kata lain menolak pengistilahan Islam Nusantara. Kebalikan dari sebelumnya, respon penolakan ini bersumber dari tokoh/warga NU di desa yang sudah melek internet, sering berinteraksi dengan komunitas luar desa, memiliki akses informasi serta mengikuti perkembangan keadaan. Bahkan dari kelompok ini, penolakan atas pengistilah Islam Nusantara sangat kencang dirasakan. Pemikiran yang berasal  baik dari induvidu maupun kelompok yang selama ini sangat getol  menentang konsepsi Islam Nusantara dan terpublikasikan melalui situs-situs internet, sosial media maupun majalah-majalah Islam dengan mengatakan “Islam itu satu”, “ Tidak ada dalilnya di Al Quran” “ Liberal” dan lainnya cenderung lebih diterima dalam alam pikiran kelompok ini.

Apalagi di kelompok-kelompok penentang itu terdapat nama-nama pesantren besar maupun  kyai/ulama NU yang selama ini menjadi patron bagi kelompok ini. Bahkan sebagian besar dari warga NU Desa yang menjadi kyai lokal,guru ngaji dan ustad merupakan alumni dari pesantren tersebut. Walhasil, interaksi sesama jaringan alumni pesantren yang sama menjadi media komunikasi sekaligus akses informasi untuk membangun solidaritas sikap.  Beragam analisis mulai politis sampai idiologis menjadi argumentasi penolakan yang kemudian menyebar dan mendominasi.

Tantangan Islam Nusantara

Berpijak dari potret respon di dua desa di atas, penulis melihat sebuah medan tantangan yang tidak mudah untuk dilalui namun mesti direspon dan teratasi oleh NU. Jika kemudian konsepsi Islam Nusantara menjadi kesepakatan besar dan bersama sebagai platform gerakan keislaman NU ke depan maka sudah selayaknyalah bisa dijalankan secara massif hingga ke pelosok-pelosok desa. Isi dan ekspresi Islam Nusantara tidak bisa hanya dimiliki kalangan NU di Jakarta namun harus dengan mudah untuk dicerna, dipahami dan diterima oleh warga NU di desa.

Jembatan penyambung dan saluran komunikasi yang efektif haruslah dibangun agar gerakan Islam Nusantara tidak bersifat elitis dan kurang mendapat dukungan penuh dari basis massa NU di bawah yang notabene merupakan penyokong utama NU. Transformasi gagasan Islam Nusantara hendaknya dilakukan secara terus menerus agar tidak terjadi ketimpangan dalam gerakannya.  Penciptaan ruang-ruang sosialisasi dan konsolidasi mutlak dibutuhkan baik secara struktural maupun kultural.

Langkah ini menjadi penting, mengingat term “Islam Nusantara” ini sangatlah strategis  untuk didudukkan sebagai momentum penyatuan visi dan arah serta langkah-langkah NU ke depan dalam menghadapi medan pertarungan idiologis. Lontaran gagasan Islam Nusantra ini cukuplah taktis untuk dijadikan sebagai petarung dalam merebut kepemimpinan gerakan keagaaman di Indonesia. Wacana Islam Nusantara sangatlah efektif untuk mengcounter ekspansi wacana “Khilafah Islamiyah” yang diusung oleh Hizbut Tahrir Indonesia, melawan upaya hegemoni wacana “Islam Murni” yang dibawa kelompok wahabi serta untuk menghentikan gerakan salah kaprah wacana “Jihad Islam” yang didoktrinkan oleh kelompok-kelompok Islam radikal.

Apalagi saat ini, telah terjadi pembiasaan makna terhadap tema-tema Ahlussunah Wal Jamaah dan Islam Rahmatan Lil Alamin  yang pernah diusung dan digerakkan pertama kali oleh NU. Sebab, tema-tema tersebut sekarang sudah banyak diklaim dan dijadikan sebagai identitas oleh  kelompok-kelompok gerakan Islam yang nyata-nyata dalam prakteknya justru tidak rahmatan lil alamin, tidak sesuai dengan nilai-nilai ke NU an bahkan menyerang NU.

Oleh karenanya,  hadirnya tema Islam Nusantara membawa harapan baru untuk merekonstruksi gerakan baru di NU dalam kancah pertarungan idiologis yang belakangan ini nampak semakin sengit. Namun, harapan pada Islam Nusantara ini harus disertai kesepahaman dan kesadaran kolektif  dari semua warga NU di segala lapisan. Dan semuanya bisa dicapai apabila gagasan Islam Nusantara mampu dijelaskan dan dibuktikan kepada jamaah dan jamiyah NU terutama di tingkat bawah bahwa Islam Nusantara bukan Liberal, Islam Nusantara sama dengan Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, Islam Nusantra bukan agama baru serta Islam Nusantara itu ajaran para Ulama-Ulama NU.

* Faisol Ramdhoni
Ketua Lakpesdam NU Sampang

Share this post
:
Comments
1 Comments

+ comments + 1 comments

Salim Al Fatih
24 July 2015 at 14:43

Rekonstruksi Islam yang sebaiknya dilakukan untuk menyelesaikan problematika sosial kehidupan Islam adalah dengan mengembalikan kehidupan Islam yang sesuai dengan Quran dan Sunnah, dengan pemahaman sebagaimana para Shahabat memahaminya. Bukan dengan menggabungkan Islam dengan budaya lokal yang belum tentu adalah formulasi tepat.

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News