Top News :
Home » » Klaim berjumlah 500 ribu, Ahmadiyah: Kami adalah Bagian dari Islam

Klaim berjumlah 500 ribu, Ahmadiyah: Kami adalah Bagian dari Islam

Posted on Thursday, 16 July 2015 | garis 07:38

Muslimedianews.com ~  Juru Bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Ahmad Mubarik mengungkap, saat ini tercatat ada sekitar 500 ribu warga Ahmadiyah tersebar di seluruh Indonesia.

Yang paling banyak, Mubarik menjelaskan berada di daerah Bandung Selatan. "Keberadaan kami sah, tercatat secara hukum. Dan kami bukan organisasi terlarang.  Sah badan hukumnya sejak tahun 1953 (SK Menteri Kehakiman R1 No. JA5/23/13 Tgl. 13-3-1953). Janganlah kemudian ada yang melarang kami untuk berorganisasi. Kami adalah bagian dari Islam," kata Mubarik mengawali pembicaraan dengan tribun, Selasa (15/02/2011).

Mubarik menjelaskan, kini banyak warga Ahmadiyah yang sudah mendedikasikan dirinya bagi nusa dan bangsa.

Pahlawan nasional seperti Arief Rahman Hakim, juga warga Ahmadiyah. Pencipta lagu Indonesia Raya, menurut Mubarik berdasar penelusuran kemudian berani dipastikan, juga bagian dari warga Ahmadiyah.

Dalam peneluran di dunia maya yang dilakukan Tribunnews terungkap, pada tahun 1932, Soepratman mendapat sakit urat saraf disebabkan lelah bekerja keras. Setelah beristirahat selama dua bulan, di Cimahi, Soepratman kembali ke Jakarta untuk mengikuti aliran Ahmadiyah.

"Banyak sekali warga Ahmadiyah yang mendedikasikan untuk bangsa ini seperti WR Soepratman, meski berbeda profesi. Kini, ada warga Ahmadiyah yang jadi kepala desa, bupati, ada yang jadi lurah. Ada juga yang jadi anggota DPR sampai Dirut BUMN. Ada jendral bintang empat," cerita Mubarik.

"Saya ingin menegaskan kembali bahwa kami bukanlah organisasi terlarang. Kami tunduk, dan hormat dengan Undang-undang,"
tegasnya.

Kisruh yang terjadi, sampai adanya pembantaian terhadap warga negara, disebabkan sikap pemerintah yang dianggap gagal dalam menegakkan konstitusi.

Dulu, warga Ahmadiyah, bisa hidup leluasa, tidak seperti sekarang. "Mungkin warga Ahmadiyah yang pada Pilpres lalu memilih Pak SBY, menyesal. Termasuk saya, tapi saya masih berharap pada beliau. Dan saya juga tak ingin sampai Pak SBY dimakzulkan. Saya, adalah orang pertama yang akan mencegah kalau sampai presiden kita dijatuhkan," tandas Mubarik.

Meski kenyataannya sekarang, Mubarik mencontohkan kasus berdarah di Cikeusik, negara seakan membiarkan orang-orang kirminal melegalkan aksinya. Negara, katanya lagi, seakan melindungi para kriminal.

"Kalau saja saya Kapolres, aksi kekerasan itu tak bakal terjadi, sudah diantisipasi sejak dini. Tapi kenyataannya, negara seakan kalah dengan para pelaku kriminal. Padahal para penegak hukum bekerja dibayar oleh rakyat untuk tegakkan hukum,"
sesal Mubarik.

Mubarik kemudian meminta kepada pihak-pihak tertentu, untuk tidak memaksakan Ahmadiyah, membentuk organisasi baru di luar Islam. Negara, kata Mubarik, juga tak berhak melarang keyakinan warga Ahmadiyah.

"Jangan paksa kami keluar dari Islam. Jangan larang keyakinan kami. Bagi kami, lucu sekali kalau sampai negara memaksa kami untuk membikin untuk membuat agama sendiri. Kalau kami keluar dari Islam, siapa yang kami sembah,"
kata Mubarik.

sumber tribunnews

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News