Top News :
Home » » Mana yang Lebih Utama Shalat Ied di Masjid atau di Lapangan ?

Mana yang Lebih Utama Shalat Ied di Masjid atau di Lapangan ?

Posted on Thursday, 16 July 2015 | garis 15:59

Muslimedianews.com ~ Pokok dalam hal ini adalah bahwa pelaksanaan shalat ‘Ied boleh dilakukan di masjid ataupun di al-mushalla (tempat shalat) yaitu al-shahra’ (tanah lapang / lapangan). Sehingga pada dasarnya, baik masjid maupun al-mushalla, tidak ada masalah. Imam Nawawi rahimahullah didalam kitabnya Al Majmu' mengatakan :

“Ulama kami berkata, boleh shalat hari raya di al-shohra’ dan juga boleh shalat di jami’ (masjid). Jika berada di Kota Makkah maka shalat di masjidil Haram itu lebih afdlal tanpa ada perselisihan”.
 

Berbeda lagi jika berada di Baitul Maqdis, maka yang lebih utama adalah shalat di Masjid Al Aqsha, menurut pendapat Imam Al Shaidalaniy dan Al Bandanijiy.

Adapun istilah mushalla yang dimaksud disini bukan seperti langgar atau surau seperti yang dikenal di negeri melayu, melainkan berupa sebuah tanah lapang atau al-shohra’. Didalam hadits shahih disebutkan

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى المُصَلَّى، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ، وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ، وَيُوصِيهِمْ، وَيَأْمُرُهُمْ، فَإِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ، أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ
“Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam keluar pada ‘Idul Fitri dan Adlha menuju Mushalla, yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat, lalu berpaling dan kemudian berdiri di hadapan manusia sedang mereka duduk di shaf-shaf mereka. Kemudian beliau menasehati dan memberi wasiat kepada mereka serta memberi perintah kepada mereka. Bila beliau ingin mengutus suatu utusan maka beliau utus, atau ingin memerintahkan sesuatu maka beliau perintahkan, lalu beliau pergi”. [HR. Al Bukhari]


عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتْ: «أَمَرَنَا - تَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنْ نُخْرِجَ فِي الْعِيدَيْنِ، الْعَوَاتِقَ، وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ
“Dari Ummu ‘Athiyyah, ia berkata : Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam memerintahkan kami untuk keluar pada hari raya (Fithri dan Adlha), gadis-gadis, wanita yang dipingit, dan beliau memerintahkan wanita yang sedang haidl menjauh dari mushalla kaum Muslimin”. (HR. Muslim)

Dalam hadits-hadits ini, menunjukkan bahwa al-mushalla (tempat shalat) yang disebutkan merupakan mushalla tertentu yang digunakan untuk shalat, bukan tempat yang sembarangan,  bahkan dikatakan mushalla al-muslimin (tempat shalat orang-orang Islam), sebuah tempat yang terpelihara kehormatannya hingga wanita haidl pun dihimbau untuk tidak mendekatinya. Masyarakat juga mengenal tempat tersebut sebagai tempat yang memang digunakan untuk shalat ‘ied. Menurut Imam Ibnu Hajar Al Asqalani didalam Kitab Fathul Bari, Al-Sha’naniy didalam Subulus Salam, Al Syaukani didalam Nailul Authar, Badruddin Al-‘Ayni didalam Umdatul Qari ;

“Al-Mushalla (yang dimaksud didalam hadits) merupakan sebuah tempat di Madinah yang sudah ma’ruf (dikenal masyarakat), yang jaraknya antara mushalla dan pintu masjid Nabawi kira-kira 1000 dira’. Umar ibnu Syaibah telah mengatakannya didalam Akhbarul Madinah dari Ghassan Al Kitaniy shahibu Malik”.  

Dari hadits Abu Sa’id Al Khudri diatas, Imam An-Nawawi rahimahullah berkata : “Sunnah melaksanakan shalat ‘ied di mushalla  (tanah lapang) jika masjid sebuah wilayah itu ukurannya sempit, berdasarkan riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wa Sallam {“berangkat shalat ‘ied ke mushalla”} dan juga karena banyaknya kaum Muslimin yang melakukan shalat ‘Ied, sebab apabila keadaan masjid sempit maka akan menyakiti (membuat tidak nyaman) mereka”.  

Imam Al Imraniy didalam kitab Al Bayan juga mengatakan : “Apabila masjid suatu negeri ukurannya sempit maka yang mustahab (sunnah) adalah shalat ‘ied di mushalla, namun jika ukuran masjidnya luas maka yang afdlal (lebih utama) adalah shalat ‘ied di masjid. Asal dalam hal ini adalah {“bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam shalat ‘ied di al mushalla”}, keadaan yang seperti itu karena masjid Madinah (dulu) kecil tidak mampu menampung manusia, sedangkan para imam di Makkah melaksanakan shalat ‘ied di masjid, karena ukurannya disana luas”.

Ketika misalnya terjadi keadaan seperti diatas, sehingga shalat ‘ied dilakukan di mushalla, maka bukan berarti masjid harus dikosongkan begitu saja, sebaliknya dianjurkan untuk menunjuk seseorang menjadi imam shalat di masjid agar shalat bersama orang-orang dlu’afa’ dan orang-orang yang tidak keluar ke mushalla atau shohra’.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan : “Apabila ada yang dlu’afa (orang yang lemah) maka menunjuk seorang untuk shalat bersama mereka di masjid, berdasarkan riwayat bahwa Sayyidina ‘Ali radliyallahu ‘anh menunjukkan Abu Mas’ud Al Anshoriy radliyallahu ‘anh untuk shalat bersama dengan orang-orang lemah (dlu’afa’) di masjid”.

Hadits tentang Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib yang menunjuk Abu Mas’ud Al Anshoriy sebagai Imam untuk shalat di masjid, diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dengan sanad yang shahih. Hal senada di tuturkan oleh Imam Al Imraniy didalam Al Bayan :

“Apabila shalat ‘ied dilakukan di al-mushalla, dan pada negeri/wilayah tersebut ada dlu’afa’ yang tidak mampu keluar menuju al-mushalla, maka disunnahkan bagi seorang imam menunjuk seorang untuk shalat bersama mereka di masjid pada negeri/wilayah tersebut, berdasarkan riwayat {“bahwa ‘Ali bin Abi Thalib menunjuk Abu Mas;ud Al-Anshariy suapaya shalat ‘ied bersama dlu’afaa di masjid”}.
 

Imam Zainuddin Zakariyya Al Anshoriy didalam Fathul Wahab : “Melaksanakan shalat ‘ied di masjid itu lebih utama (afdlal), karena kemulyaan masjid serta karena tidak ada udzur seperti ukuran masjid yang sempit. (Jika masjid itu sempit) maka makruh shalat ‘ied didalamnya karena orang-orang akan terganggu disebabkan berdesak-desakan. Apabila terjadi hujan atau udzur lainnya sedangkan masjidnya sempit maka imam (pemimpin) tetap shalat ‘ied didalam masjid tersebut dan ia juga menunjuk orang sebagai imam shalat untuk melakukan shalat ‘ied bersama masyarakat lainnya di tempat yang berbeda.

Apabila (imam/pemimpin) keluar ke tempat selain masjid, maka ia disunnahkan menunjuk orang untuk shalat ‘ied sekaligus berkhutbah di masjid bersama orang yang tertinggal, baik dlu’afa’ dan selain mereka seperti syuyukh (orang-orang tua), orang yang sakit, serta sebagian orang-orang yang memang mampu, sebagaimana Sayyidina ‘Ali radliyallahu ‘anh menunjuk Abu Mas’ud Al Anshoriy pada hal yang demikian, Imam Al Syafi’i telah meriwayatkan hal tersebut dengan sanad yang shahih”.

Selanjutnya, bila terjadi hujan, tanah lapang keadaannya becek, kotor, tidak terpelihara, adanya kekhawatiran atau ketakukan terhadap sesuatu, turun salju, atau hal-hal lain yang semacam ini, maka tidak ada perselihan bahwa yang bagus adalah shalat di masjid. Demikian juga jika sebuah masjid itu luas, maka yang utama adalah shalat di masjid karena masjid terjamin kebersihannya, masjid juga merupakan tempat yang mulya.

Imam Nawawi rahimahullah dengan sangat detail telah menjelasan masalah-masalah seperti ini didalam kitab Al Majmu’, bahkan beliau juga secara arif dan bijak menyampaika beberapa pendangan ulama. Disebutkan didalam kitab beliau :

“Dan jika pada hari itu terjadi hujan maka shalat di masjid, berdasarkan riwayat Abu Hurairah radliyallahu ‘anh, ia berkata {“Hujan datang pada kami pada hari raya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam shalat bersama kami di Masjid”}, dan riwayat bahwa Umar bin Khaththab dan Utsman bin ‘Affan radliyallahu ‘anhumaa keduanya shalat di Masjid pada saat hujan,

“Dan jika di masjidnya luas maka shalat dimasjid lebih utama daripada mushalla (tanah lapang / shohra') karena para aimmah (imam-imam) tidak pernah meninggalkan melaksanakan shalat ‘ied di Makkah didalam masjid, dan karena masjid lebih mulya dan lebih bersih”.


“Imam Syafi’i rahimahullah berkata : Jika masjidnya luas maka shalat di shahro’ (tanah lapang) adalah tidak apa-apa, namun jika masjidnya sempit dan tetap shalat didalamnya, tidak keluar ke shohro’ maka aku memakruhkan; karena jika meninggalkan masjid dan shalat di shahra’, tidak ada dloror / masalah bagi mereka. Namun ketika meninggalkan shahra’ dan shalat di masjid yang sempit maka akan mengganggu (menyakiti) mereka dengan kerumuman / berdesakan dan kemungkinan sebagian mereka tidak kebagian ruang shalat, maka itu dimakruhkan”.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa jika berada di Makkah, maka shalat di Masjidil Haram itu lebih utama, demikian juga ketika berada di Baitul Maqdis, maka shalat di Masjid Al Aqsha itu lebih utama, menurut beberapa ulama. Namun, bagaimana dengan tempat lainnya ?. Imam Al Nawawi juga telah memberikan perincian lanjutan tentang masalah ini. Kata Imam Nawawi :

“Jika di negeri lainnya, apabila mereka memiliki udzur (halangan) untuk keluar ke shahra’ dan mushalla (tempat shalat) untuk shalat ‘ied maka tidak ada perselisihan bahwa mereka bagusnya shalat di masjid, diantara hal-hal yang termasuk udzur adalah hujan, becek (kotor), takut, salju dan seumpama hal ini. Namun jika tidak ada udzur tersebut dan masjidnya sempit, maka tidak ada perselisihan bahwa keluar shahra’ (tanah lapang) itu lebih utama”.
 

“Jika masjidnya luas dan tidak ada udzur, maka dalam hal ini ada dua pandangan. Pertama, yang lebih shahih, merupakan nas-nas dalam Al-Umm Imam Syafi’i, dan mushannif (Imam Nawawi) memilahnya bahwa jumhur ulama Iraqiyyun (Irak), Imam Al Baghawi dan yang lainnya menyatakan shalat di masjid tetap lebih utama. Pendapat kedua, pendapat yang ashoh menurut sekelompok ulama Khurasan (Khurasaniyyun), sebagian dari mereka memilah bahwa bahwa shalat di shahra’ lebih utama karena “Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam rutin melaksanakan shalat ‘ied dilapangan”, maka kelompok yang pertama menjawab hal ini bahwa masjid ketika itu masih sempit disebabkan banyaknya orang yang mendatanginya, maka yang ashoh merajihkan pendapat yang mengatakan shalat didalam masjid, dan telah mushannif tuturkan, maka atas hal ini  ; jika meninggalkan masjid yang luas dan shalat di shahra (tanah lapang) maka itu telah menyelisihi yang lebih utama (khilaful aulaa) namun tidak makruh, sebaliknya jika shalat di masjid yang sempit tanpa ada udzur maka makruh”.

Imam Al Syairazie rahimahulah didalam kitab At Tanbih mengatakan : “Dan sunnah mendirikan shalat ‘ied di Jami’ (masjid). Apabila masjidnya sempit bagi mereka maka mereka shalat di shohra’, dan Imam / pemimpin dianjurkan menunjuk seseorang untuk tetap dilaksanakan shalat 'ied di Jami’ (masjid) bersama masyarakat yang lemah (dlu’afa’)”.

Imam Al Ghazali rahimahullah didalam kitab Al Wasith fil Madzhab mengatakan : “Dan shalat di shahra’ (tanah lapang) lebih utama kecuali di Makkah. Namun apabila masjidnya di selain Makkah tersebut ukurannya luas, maka dalam hal ini ada 2 pandangan ; Pertama, shalat di masjid tetap lebih utama (aula) sebagaimana masjid di Makkah. Kedua, tidak di masjid, sebab  berbeda dengan Makkah, kalau Makkah memang tempat khusus yang mulya”.
 

Selanjutnya, mari kita sedikit melihat pendangan-pandangan ulama lainnya agar semakin terbuka dan tertanam sikap toleran dan saling menghargai didalam setiap adanya pandangan yang berbeda. Sebagaimana disebutkan didalam Al Fiqhu ‘alaa Madzahibil Arba’ah karya Al Jaziriy. Didalam kitab tersebut, dijelaskan bahwa Malikiyah menghukumi mandub (dianjurkan) melaksanakan shalat ‘ied di shohra’ namun bukan sunnah. Disini ulama Maliki membedakan antara mandub dan sunnah. Sedangkan didalam madzhab Syafi’iyah mandub, sunnah, mustahab dan al-nafl memiliki makna yang sama. Ulama Maliki makruh melaksanakan shalat ‘ied di masjid jika tanpa ada udzur, kecuali di Makkah, maka kalau di Makkah melaksanakannya di Masjidil Haram karena mulyanya tempat tersebut serta melihat langsung Baitullah.

Ulama Hanabilah menyatakan sunnah melaksanakan shalat ‘ied di shohra’ dengan syarat jaraknya dekat dengan rumah-rumah penduduk, ulama Hanabilah memakruhkan shalat di masjid tanpa ada udzur kecuali di Makkah, sama seperti pendapatnya ulama Malikiyah. Adapun ulama Hanafiyah tidak mengecualikan masjid Makkah.

Sedangkan pendapat ulama Syafi’iyah, sebagaimana diatas bahwa melaksanakan shalat ‘ied di masjid itu lebih utama (afdlal) karena masjid adalah tempat mulya, terkecuali ada udzur seperti masjidnya kecil atau sempit, maka di makruhkan shalat di masjid yang sempit sebab akan berdesakan sehingga jika kejadiannya seperti itu maka disunnahkan agar shalat di shohra’ (tanah lapang).

Penulis : Abdurrahim
via madinatuliman.com

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News