Top News :
Home » » Penjelasan mengenai Ahlul Halli wal Aqdi di NU

Penjelasan mengenai Ahlul Halli wal Aqdi di NU

Posted on Thursday, 16 July 2015 | garis 09:18

Muslimedianews.com ~ SEPUTAR ASAL-MUASAL, ALASAN-ALASAN SERTA PROSES TERCAPAINYA KEPUTUSAN TENTANG AHLUL HALLI WAL ‘AQDI

Diskusi tentang “Ahlul Halli Wal ‘Aqdi” telah dimulai sejak 2012. Latar belakangnya adalah keprihatinan tentang realitas proses pemilihan kepemimpinan NU di berbagai tingkatan yang semakin kuat dicampuri oleh pihak-pihak dari luar NU demi kepentingan-kepentingan politik sesaat. Misalnya: calon-calon pilkada yang bertarung mendukung calon pimpinan NU dari kubu masing-masing. Lebih memprihatinkan lagi, pertarungan-pertarungan dalam forum-forum permusyawaratan Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatan itu hampir selalu melibatkan politik uang untuk jual-beli suara. Hal itu jelas akan menjurus kepada kerusakan moral yang luar biasa dalam jajaran kepemimpinan Nahlatul Ulama.


Pada waktu itu, PWNU Jawa Timur hendak menerapkan model Ahlul Halli Wal ‘Aqdi itu dalam Konferensi Wilayah mereka. Tapi karena belum ada payung hukum yang memadai, PBNU meminta agar maksud itu ditunda. Selanjutnya, dalam Rapat Pleno ke-2 PBNU di Wonosobo, tanggal 6 – 8 September 2013, Rais ‘Aam K.H. M. A. Sahal Mahfudh rahimahullah memerintahkan agar PBNU segera memproses gagasan tentang Ahlul Halli Wal ‘Aqdi itu menjadi aturan yang dapat diterapkan dalam pemilihan kepemimpinan di seluruh jajaran kepengurusan NU.

Berdasarkan perintah Rais ‘Aam tersebut kemudian dibentuklan satu tim khusus, dipimpin oleh K.H. Masdar F. Mas’udi (Rais Syuriah PBNU) dan Drs. Abdul Mun’im DZ (Wakil Sekjen PBNU). Tim itu segera melaksanakan penelitian dan kajian-kajian hingga dihasilkan suatu naskah akademis yang cukup mendalam, mencakup landasan nilai-nilai keagamaan, dasar-dasar filosofis, acuan historis hingga pertimbangan-pertimbangan terkait dinamika sosial-politik mutakhir yang mengharuskan diterapkannya model Ahlul Halli Wal ‘Aqdi itu.

Naskah akademis tersebut kemudian dibahas dalam Munas dan Konbes ke-2 pada tanggal 2 -3 Nopember 2014 di Jakarta. Hasilnya adalah kesepakatan bahwa:
  1. Munas dan Konbes menyepakati dan menetapkan digunakannya sistem Ahlul Halli Wal ‘Aqdi dalam pemilihan kepemimpinan NU, tapi penerapannya dilaksanakan dengan cara bertahap untuk mengidentifikasi hal-hal yang perlu disempurnakan di masa depan, dimulai dengan pemilihan/penetapan Rais ‘Aam dan rais-rais syuriah di semua tingkatan. Sedangkan untuk Ketua Umum dan ketua-ketua tanfidziah masih dengan pemilihan langsung;
  2. Munas dan Konbes memberi mandat kepada PBNU untuk menyusun aturan operasional bagi penerapannya untuk dibahas lebih lanjut menjadi produk aturan yang berlaku efektif.
Maka Munas Alim Ulama ke-3 pada tanggal 14 – 15 Juni 2015 di Jakarta diselenggarakan sebagai pelaksanaan mandat/perintah dari keputusan Munas dan Konbes ke-2 tahun 2014 tersebut.
Jelas bahwa gagasan tentang Ahlul Halli Wal ‘Aqdi ini tidaklah muncul tiba-tiba. Apalagi jika dikatakan semata-mata manuver sesaat dalam rangka perebutan kepemimpinan Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-33 nanti. Gagasan Ahlul Halli Wal ‘Aqdi ini telah melalui proses penelitian, kajian-kajian dan diskusi-diskusi serta pembahasan dalam forum-forum permusyawaratan Nahdlatul Ulama tingkat Nasional sejak bertahun-tahun yang lalu (2012). Lebih dari itu, berebut jabatan amatlah bertentangan dengan nilai-nilai ideal Nahdlatul Ulama dan sangat tidak pantas dilakukan oleh kader-kadernya, terlebih lagi oleh para ulamanya.
Dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama ke-3 tanggal 14 – 15 Juni 2015 di Jakarta tersebut disepakati wawasan bersama sebagai berikut:

Pertama, bahwa Rais ‘Aam adalah jabatan “shohibul maqom”, tidak boleh ditempati kecuali oleh orang yang memang telah mencapai maqom yang sesuai. Didalam maqom itu terkandung kriteria: faqiih (memiliki penguasaan yang mendalam atas ilmu-ilmu syari’at) dan mutawarri’ (terjaga martabat keulamaannya dari akhlak dan haaliyyah yang tidak pantas, termasuk keterlibatan yang terlampau vulgar dalam politik praktis). Hal itu dikarenakan Nahdlatul Ulama bukan sekedar organisasi biasa, tapi merupakan “qiyaadah diiniyyah”, yaitu acuan keagamaan bagi warganya. Maka Rais ‘aam sebagai pemimpin dan penanggung jawab tertinggi dari tuntunan dan bimbingan keagamaan yang diberikan oleh Nahdlatul Ulama kepada warganya haruslah seorang yang sungguh-sungguh menguasai seluk-beluk ajaran keagamaan yang menjadi haluan Nahdlatul Ulama, terutama dalam bidang syari’at.

Hadlratusysyaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari telah sejak awal menekankan nilai-nilai kepemimpinan keagamaan tersebut kepada para Ulama Nahdlatul Ulama, sebagaimana yang beliau nyatakan dalam Qanun Asasi:

فيا أيها العلماء والسادة الأتقياء من أهل السنة والجماعة أهل مذاهب الأئمة الأربعة أنتم قد أخذتم العلوم ممن قبلكم ومن قبلكم ممن قبله باتصال السند إليكم وتنظرون عمن تأخذون دينكم فأنتم خزنتها وأبوابها ولا تؤتوا البيوت إلا من أبوابها فمن أتاها من غير أبوابها سمي سارقا … قول رسول الله صلى الله عليه وسلم … لا تبكوا على الدين إذا وليه أهله وابكوا على الدين إذا وليه غير أهله
“Wahai ulama dan para pemimpin yang bertaqwa di kalangan Ahlussunnah wal Jamaa’ah keluarga madzhab Imam Empat; Anda sekalian telah menimba ilmu-ilmu dari orang-orang sebelum anda, dan orang-orang sebelum anda menimba dari orang-orang sebelum mereka, dengan jalinan sanad yang bersambung sampai kepada Anda sekalian. Dan anda sekalian selalu meneliti dari siapa Anda menimba ilmu agama Anda itu. Maka Anda-lah para penjaga dan pintu gerbang ilmu-ilmu itu. Jangan memasuki rumah-rumah kecuali dari pintu-pintunya. Barangsiapa memasukinya tidak lewat pintu-pintunya, akan disebut pencuri…. Sabda Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam… ‘Janganlah kau menangisi agama ini bila ia berada di tangan ahlinya. Tangisilah agama ini bila ia berada di tangan orang yang bukan ahlinya”.

Rais ‘Aam juga merupakan simbol utama martabat Jam’iyyah Nahdlatul Ulama secara keseluruhan. Maka seorang Rais ‘Aam haruslah memiliki martabat yang luhur yang sungguh-sungguh tercermin dalam akhlaknya, sebagai pengejawantahan maqom rohani yang matang.

Selanjutnya, karena Nahdlatul Ulama harus dikelola sebagai organisasi, maka seorang Rais ‘Aam juga dituntut untuk memainkan peran kepemimpinan sebagai munadhdhim (mampu memimpin manajemen organisasi), dan muharrik (mampu menggerakkan dinamika jam’iyyah).

Kedua, jelas bahwa kriteria Rais ‘Aam tersebut diatas menyangkut hal-hal yang tidak mudah ditandai dan diukur denagn kaca mata orang kebanyakan. Kriteria faqiih, misalnya, yang berkaitan dengan tingkat penguasaan ilmu, hanya bisa diniliai oleh orang-orang yang juga berilmu. Karena, laa ya’riful ‘aalim illal ‘aalim, tidak dapat mengukur kealiman seseorang kecuali orang yang alim. Apalagi kriteria yang berkaitan dengan kematangan rohani. Maka hanya orang-orang yang memenuhi syarat-syarat tertentu saja yang bisa memilih dengan benar, yaitu orang-orang yang ‘alim/faqih, ahlul wara’, zuhud, mengerti kebutuhan organisasi dan sungguh-sungguh memahami ketentuan-ketentuan agama dalam memilih pemimpin. Orang-orang dengan syarat-syarat seperti itulah yang nantinya akan dipilih untuk menjadi anggota-anggota Ahlul Halli Wal ‘Aqdi;

Sistem Ahlul Halli Wal ‘Aqdi ini dengan sendirinya akan menyumbat intervensi pihak luar dalam pemilihan kepemimpinan NU karena pemegang wewenangnya adalah para ulama yang paling matang secara keilmuan dan maqom rohaninya, yang tak dapat digoda dengan bujukan-bujukan duniawi.

TOKOH-TOKOH ULAMA YANG DIREKOMENDASIKAN OLEH PBNU UNTUK DIPERTIMBANGKAN DAN DIUSULKAN SEBAGAI AHLUL HALLI WAL ‘AQDI

Berdasarkan kriteria tersebut di atas, Rapat Syuriyah dan Mustasyar PBNU tanggal 30 Juni 2015 merekomendasikan nama-nama calon anggota Ahlul Halli Wal ‘Aqdi sebagai berikut:
  1. KH MUCHITH MUZADI, JEMBER JAWA TIMUR
Lahir di Tuban tahun 1925. Ia adalah salah satu santri KH Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng yang masih hidup. Kiai Muchit merupakan salah seorang konseptor kembalinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ (NU) ke kancah perjuangan keagamaan, meninggalkan dunia politik praktis yang secara resmi diumumkan pada Muktamar tahun 1984 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo, Situbondo. Di usianya yang sudah sepuh 90 tahun, kakak kandung mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi ini selalu setia menghadiri beberapa forum NU dan menyampaikan pokok-pokok pikirannya. Beliau berdomisili di Jember, Jawa Timur.
  1. KH THOLHAH HASAN, MALANG JAWA TIMUR
Lahir di Tuban Jawa Timur pada 1936, 79 tahun silam. Ia merupakan seorang tokoh yang multidimensi: sebagai ulama, tokoh pendidikan, pegiat organisasi yang tekun. Kiai ini berdomisili di Malang dan merintis lembaga-lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Agama Islam (YPAI) yang membawahi lembaga-lemabaga mulai dari SD/MI, SMP/MTs, SMA, MA dan SMK yang maju saat ini di kabupaten Malang. Termasuk Universitas Islam Malang (Unisma yang dirintisnya juga menjadi Perguruan Tinggi Percontohan NU. Perannya dalam pemerintahan ia tunjukkan dengan pengalamannya sebagai Menteri Agama di era Gus Dur, dan ia juga pernah menjabat sebagai Badan Wakaf Indonesia (BWI). Di PBNU, KH Tholhah Hasan pernah mengemban amanah sebagai Wakil Rais Aam PBNU mendampingi KH. M.A. Sahal Mahfudh.
  1. KH NAWAWI ABDUL JALIL, SIDOGIRI JAWA TIMUR
Ia adalah Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Pesantren ini merupakan salah satu Pesantren tertua di Nusantara. Didirikan tahun 1718 oleh Sayyid Sulaiman Bin Abdurrahman Basyaiban, yang berasal dari Cirebon dan masih keturunan Sunan Gunung Djati dari sisi Ibu. Kiai Nawawi adalah generasi ke 12 pimpinan Pondok Pesantren Sidogiri yang didaulat menjadi Pengasuh Pesantren sejak tahun 2005. Dalam berbagai kesempatan, Kiai Nawawi selalu menekankan kepada para santrinya tentang pentingnya menjaga marwah Ulama dan komitmen pengabdian terhadap Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Tak heran jika kemudian para santri Sidogiri yang banyak mendirikan Pesantren Modern, selalu melabeli pesantrennya sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama yang memadukan metode pendidikan modern dan mempertahankan kajian kitab klasik.
  1. KH ANWAR MANSHUR, KEDIRI JAWA TIMUR
Adalah pengasuh pondok pesantren Lirboyo Kediri, dan saat ini menjadi pemimpin di salah satu pesantren terbesar di Indonesia yang didirikan sejak 1910 ini. Di kalangan para kiai Lirboyo, ia lebih sering berada di pesantren, mengaji dan memimpin shalat berjamaah Jum’at.
  1. KH. SOLEH QOSIM, SIDOARJO JAWA TIMUR
Pengasuh Pondok Pesantren Bahauddin Ismailiyah Ngelom Sidoarjo ini dikenal sebagai salah satu ulama Khos Jawa Timur. Pada Tahun 2007, Kiai Soleh bersama Kiai Abdullah Faqih, Kiai Ma’ruf Amin, Kiai Idris Marzuki dan sejumlah kiai lain mendeklarasikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Dalam setiap momentum politik, para calon Kepala Daerah, Calon Legislatif hingga Calon Presiden selalu meminta do’a restu dari Kiai sepuh ini.
  1. KH. MAEMUN ZUBAIR , SARANG, REMBANG JAWA TENGAH
Adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar di Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Ia adalah salah seorang ulama sepuh (78 tahun) yang sangat disegani, terutama dalam bidang ilmu tafsir. Saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Syariah PPP, dan juga sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBN). Keulamaannya diikuti berbagai kalangan di lingkungan NU dan menjadi rujukan para kiai muda dan masyarakat mengenai berbagai persoalan hukum Islam.
  1. KH DIMYATI ROIS, KENDAL JAWA TENGAH
Pendiri dan pengasuh pondok pesantren Al-Fadlu wal Fadilah di Kampung Djagalan, Kutoharjo, Kaliwungu, Kendal ini adalah salah satu kiai sepuh yang dihormati di lingkungan NU. Ia merupakan profil seorang kiai yang mempunyai ilmu agama tinggi, kharismatik, dan disegani masyarakat. Ia juga sekaligus guru spiritual bagi para politisi nasional, terutama dalam PKB. Meski disegani oleh para elit politik, kiai ini juga menghabiskan banyak waktunya untuk melayani kepentingan umat dan membimbing serta membekali para santrinya dalam segala bidang, baik bidang agama, pertanian dan tambak ikan. Kiai ini juga aktif melakukan gerakan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
  1. KH SYA’RONI AHMADI, KUDUS JAWA TENGAH
Ia adalah salah seorang mustasayar atau dewan penasihat PBNU yang berasal dari Kota Kudus Jawa Tengah. Namanya tidak asing bagi warga Nahdliyin sebagai salah satu kiai sepuh yang multitalent. Nasihat-nasihatnya selalu diterima berbagai lapisan masyarakat baik dari kalangan NU maupun di luar NU. Meski usianya sudah senja, kiai ini senantiasa membimbing umat. Pengajian-pengajian umum yang diasuhnya selalu diikuti oleh ratusan bahkan ribuan warga Kudus dan sekitarnya.
  1. KH AHMAD SAIDI, GIREN, TEGAL JAWA TENGAH
Ia adalah Pengasuh Pondok Pesantren Attauhidiyah, Giren Tegal, menjadi panutan masyarakat di Jawa Tengah. Konsistensinya melanjutkan perjuangan sang Ayah, Syekh Said Bin Armiya, dalam mengajarkan kitab-kitab Tauhid bermanhaj Ahlusunnah Wal-Jama’ah menjadi rujukan para Ulama dan Habaib se Nusantara. Alm. Habib Mundzir Al-Musawwa dan Mursyid Thariqah Tijaniyah, Syekh Ali Basalamah Tegal, kerap sowan kepada Kiai NU ini. Pengajian di pesantrennya didatangi para jamaah yang menyemut di sisi-sisi dan lorong-lorong pesantren.
  1. KH. HASBULLAH BADAWI, CILACAP JAWA TENGAH
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihya ‘Ulumuddin, Cilacap, Jawa Tengah ini dinilai berhasil mengimplementasikan ajaran Tasawwuf dalam kurikulum pendidikan pesantren. Mudir Tsani Dewan Ifta’ (Pengajar dan Dewan Fatwa) Jam’iyah Thariqah An-Nahdliyah (Jatman) ini memadukan pengajaran ilmu alat, kitab fiqh salafiyah dan metode penempaan tasawwuf berupa riyadhah khusus.
  1. KH MAHFUD RIDLWAN, SALATIGA JAWA TENGAH
Pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro, Salatiga Jawa Tengah ini konsisten dalam membina generasi muda NU di Jawa Tengah. Para aktivis Ansor dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) rutin sowan kepada Kiai Mahfudz dalam setiap kaderisasinya. Sahabat dari Alm K.H Sahal Mahfudz dan K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini juga menjadi penaung seluruh masyarakat Cilacap yang mendorong terwujudnya kerukunan Ummat di Jawa Tengah.
  1. KH A. MUSTOFA BISRI, REMBANG JAWA TENGAH
Lahir di Rembang 10 Agustus 1944 silam. Ia memimpin Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah dan mengasuh pengajian rutin di pesantren yang dihadiri warga masyarakat sekitar. Ia menggantikan KH Sahal Mahfudh sebagai pejabat Rais Aam setelah beliau wafat awal tahun 2014 lalu. Gus Mus, panggilan akrabnya merupakan profil kiai yang low profil, rendah hati dan mengindari segala macam konflik. Ia juga dikenal cukup nyentrik sebagai seniman dan budayawan kelas nasional. Ia juga aktif menyampaikan taushiyah melalui media sosial dan berkomunikasi dengan anak-anak muslim generasi baru.

  1. KH ABUYA MUHTADI, PANDEGLANG BANTEN
Lahir di Pandeglang, 26 Desember 1953. Ia dikenal dengan sapaan Abuya Muhtadi. Pengasuh Pondok Pesantren Cidahu, Pandeglang ini diyakini sebagai penerus kepemimpinan spiritual Banten yang memiliki sanad keilmuan muttasil kepada Syaikh Nawawi Al-Bantani. Putera pertama dari Abuya Dimyathi Amin ini juga memimpin Majelis Mudzakarah Muhtadi Cidahu Banten (M3CB), wadah Bathsul Masa’il para Kiai Banten. Beberapa Fatwa fenomenal yang dihasilkan M3CB diantaranya : Haramnya daging sapi Australia yang dieksekusi dengan ditembak, baru kemudian disembelih. Satu lagi Fatwa menghebohkan Kiai Muhtadi adalah Haramnya Hizbut Tahrir dan temuan adanya ratusan kitab yang di-tahrif (diubah huruf dan kata-katanya sehingga menyelewengkan susbstansi makna sesungguhnya). Tahrif kitab yang dilakukan oleh HTI dan para penerbit Wahabi itu membuat Kiai Muhtadi murka dan melayangkan surat kepada PBNU untuk mewaspadai upaya-upaya busuk tersebut.


  1. KH. ABDULLAH MUKHTAR, SUKABUMI JAWA BARAT
Pengasuh Pondok Pesantren Annidzom, Panjalu, Sukabumi, Jawa Barat, ini dikenal dengan sapaan Buya Mukhtar. Salah satu murid kesayangan Habib Syekh Bin Salim Al-Athas ini adalah tokoh Thariqat Syadziliyah, yang menjadi salahsatu rujukan para ahli tasawwuf saat ini. Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki, Imam Besar Masjidil Haram, yang juga pengajar di King Abdul Aziz University kerap berkunjung kepada Buya Mukhtar untuk tabarrukan.
  1. KH MAKHTUM HANNAN, CIREBON JAWA BARAT
Pengasuh Pondok Pesantren Masyariqul Anwar (PPMA) Babakan Ciwaringin Cirebon (Bacicir), salah satu sesepuh Kiai di Cirebon ini dikenal dengan untaian kata-kata hikmah dan ketinggian spiritualnya. Usia senja tak menghalangi berbagai aktivitas Kiai Mahktum di Pesantren Bacicir. Setiap Jumat, Kiai Makhtum memimpin Istighotsah di Maqbaroh Kiai Hannan, tempat sang Ayah serta para Kiai Bacicir lain dimakamkan. Sebagai Kepala Madrasah Al-Hikamus Salafiyah (MHS) Tingkat Aliyah, Kiai Makhtum menjadi rujukan para santri senior dalam hal kajian spiritual, sufisme, dan ilmu hikmah yang biasanya berisi ijazah amalan-amalan, doa maupun amalan tertentu untuk meningkatkan kadar kepekaan batin seseorang. Karenanya, mereka yang mengaji kepada Kiai Makhtum haruslah santri yang telah menguasai ilmu-ilmu dasar kepesantrenan dari bidang Fiqh, Tauhid, Ahlaq, Tafsir, Hadist, dan tentu saja Ilmu ‘alat dan Balaghah. Satu lagi aktivitas rutin beliau adalah melatih para santri senior untuk bertanding Sepak Bola Api. Sekali lagi, Sepak Bola Api. Sebuah permainan bola sepak yang tak lumrah. Karena bola yang digunakan berasal dari buah kelapa yang telah direndam dalam minyak atau bensin, kemudian dibakar dan menjadi obyek permainan.
  1. KH ALI YAFIE, JAKARTA
Lahir di Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926 (umur 89 tahun). Ia adalah ulama fiqh dan tokoh utama NU, bahkan pernah mendapat amanah sebagai pejabat sementara Rais Aam PBNU (1991-1992). Ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Dakwah Al Irsyad, Pare-Pare, Sulawesi Selatan tahun 1947, saat ini tinggal di Jakarta. Kiai ini dikenal mempunyai pergaulan yang sangat luas dan disegani berbagai kalangan di dalam dan di luar NU. Ia pernah menjadi Ketua Umum MajelisUlama Indonesia, dan dewan penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Di NU, saat ini beliau menjabat sebagai Mustasyar PBNU.
  1. KH MA’RUF AMIN, JAKARTA
Lahir di Tangerang, Banten, 11 Maret 1943 (72 tahun), pernah mengeyam pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain berwawasan keulamaan tinggi, ia dikenal sebagai seorang kiai politikus Indonesia yang memegang jabatan politik tinggi. Ia sempat menjabat Ketua Umum Dewan Syuri DPP PKB, dan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Di NU ia pernah menjabat Rais Syuriyah PBNU dan banyak mewarnai berbagai forum-forum Munas Alim Ulama dan Muktamar NU. Kiai ini juga aktif sebagai motor Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan tokoh penting di balik sertifikasi halal dan pengembangan ekonomi syariah. Di NU, saat ini beliau menjabat sebagai Mustasyar PBNU.
  1. DR. KH. CHOTIBUL UMAM, JAKARTA
Ia adalah seorang kiai yang mengabdikan diri di dunia formal akademis. Ia adalah guru besar bahasa dan sastra Arab di UIN Syarief Hidayatullah Jakarta dan mantan rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta. Keahliannya dan pengabdiannya kepada dunia pendidikan bahasa dan sastra Arab ditunjukkan dari daftar panjang karya tulisnya yang berupa 240-an judul buku, 70-an makalah dalam berbagai seminar Bahasa Arab dalam dan luar negeri, dan puluhan artikelnya di berbagai jurnal ilmiah dan media massa. Ia yang juga pernah mendapat amanah sebagai Rais Syuriyah PBNU dan penasehat Lajnah Falakiyah PBNU. Di NU, saat ini beliau menjabat sebagai Mustasyar PBNU.
  1. KH. SYUKRON MAKMUN, JAKARTA
Lahir di Sampang, 21 Desember 1941 (74 tahun). Ia adalah pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta yang merupakan salah satu pendiri Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia dan pernah menjabat Ketua Umum partai tersebut. Ia merupakan kiai NU yang sangat vokal dalam menyampaikan ceramah agama dan mengeluarkan fatwa hukum terutama pada tahun 1980-1990-an.
  1. KH. SAIFUDDIN AMSIR, JAKARTA
Lahir di Jakarta pada tanggal 31 Januari 1955, ia adalah seorang kiai Betawi yang sangat mumpuni, terutama di bidang fikih dan sastra Arab. Ia mendapatkan amanah sebagai Rais Syuriyah PBNU beberapa periode sejak 2004 dengan tahun 2015. Atas keteguhan dan keistiqomahan di bidang fikih, ia sempat dianugerahi “Fikih Award” oleh salah satu penerbit Islam terkemuka dan diangkat sebagai “Duta Fikih Indonesia” untuk menjadi tokoh pembicara utama di bidang fikih.
  1. KH. AGH. SANUSI BACO, MAKASSAR SULAWESI SELATAN
Lahir Maros, 4 April 1937 dengan nama Sanusi. Ia adalah ulama terkemuka di Sulawesi Selatan yang bergelar Anre Gurutta, biasanya istilah ini ditujukan kepada tokoh Ulama yang telah menempati status sosial yang sangat tinggi dan telah mendapat tempat dan kedudukan terhormat di mata masyarakat Bugis Makassar. Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan juga dipercaya sebagai Ketua MUI Sulawesi Selatan, Ketua Umum Yayasan Masjid Raya Makassar serta mengasuh pesantren Nahdlatul Ulum, salah satu Pesantren milik Nahdlatul Ulama di Kabupaten Maros. Ketertarikannya untuk aktif dalam organisasi NU dimulai dari pertemanannya dengan Gus Dur sewaktu belajar di Mesir.
  1. KH. SYEKH ALI AKBAR MARBUN, MEDAN SUMATERA UTARA
Ia adalah putera Batak yang banyak berguru kepada para Ulama di Serdang, Tapanuli hingga berbaiat Thariqah Naqsabandiyah kepada Syekh Muhammad Said di Kota Bonjol Sumatera Barat. Setelah menuntaskan pendidikan Pesantrennya di Wilayah Sumatera, Syech Ali Akbar melanjutkan pendidikannya ke Makkah Al Mukarramah selama lima tahun, dan berguru kepada Al-Fadhil Al-Alim Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani, seorang alim dan terpandang di tanah suci Mekkah dan termasyhur dalam bidang Hadits. Dan juga belajar kepada Sayyid Amin Al Kutbi, Sayyid Al-Arabi, Syech Thaha Yamani, Syech Muhammad Hindi, beliau juga belajar kepada Sayyid Hasan Fad’aq, Syech Muhammad Nur Saif, Syech Thaha As Syaibi, Sayyid Hamid Al-Kaff. Ia mengasuh Pondok Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar yang berdiri sejak 1985 terletak Jl Pelajar Timur No 264 Medan, Sumatera Utara. Pesantren ini mempunyai 700-an santri aktif dan telah meluluskan santri sebanyak 23 angkatan sejak pertama kali berdiri. Pesantren ini menjadi tuan rumah kegiatan pra Muktamar NU, Mei 2015 lalu. Saat ini beliau juga menjabat sebagai Mustasyar PWNU Sumatera Utara.
  1. KH MAHMUDIN PASARIBU, MEDAN SUMATERA UTARA
Pengasuh Pondok Pesantren Musthafawiyah, Purba Baru, Sumatera Utara ini menjabat Rais Syuriah PWNU Sumatera Utara masa khidmat 2012-2017. Ulama dari Kabupaten Mandailing Natal (Madina) ini dikenal gigih dalam menyebarkan ajaran Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dan diakui kehandalannya dalam mendidik para da’I serta pemikir Islam di Sumatera Utara.
  1. KH AHMAD SODIQ, LAMPUNG TIMUR
Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah Wilayah Lampung ini dikenal sebagai sosok bersahaja. Ulama yang lahir di Desa Kencong, Kediri Jawa Timur ini memulai Dakwahnya di Way Jepara Lampung Timur pada tahun 1964, dengan bertani dan mendirikan Musholla di kawasan pusat perjudian di Lampung Timur. Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Lampung Timur ini pernah menjadi hansip di era pergolakan kepemimpinan nasional tahun 1966 hingga tahun 1967. Murid dari Alm. K.H Adlan Ali (Pondok Pesantren Cukir, Jombang, Jawa Timur) dan Alm. K.H Romli Tamim ((Pondok Pesantren Darul Ulum Rajoso, Jombang) ini juga dikenal dengan kemampuan olah spiritualnya. Sehingga setiap tahun ratusan Calon Anggota Barisan Serbaguna Ansor (Banser) di Lampung Timur harus mendapat gemblengan dari Sang Mursyid sebelum resmi menggunakan seragam Banser. Uniknya, meski telah berhasil melakukan kaderisasi Ulama sehingga banyak Pesantren di Lampung didirikan oleh santri-santrinya, Kiai Ahmad Sodiq tetap bertani sambil mengasuh ribuan santrinya di Ponpes Darissalam.
  1. KH. ABDURROHMAN MUSTOFA, NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)
Ia lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 07 Juli 1938, Abdurahman Mustafa seorang Kiai dan ulama besar lahir dari perkampungan Islam tertua, yaitu Kampung Air Mata, Kelurahan Air Mata, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Seorang tokoh ulama pejuang sejak masa orde lama menyebarkan ahlusunah waljama’ah di kota Kupang maupun di beberapa kabupaten kota di wilayah pulau Flores, wilayah Pulau Timor dan wilayah pulau Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selaku imam kelima masjid tertua NTT Masjid Baitul Kodim Airmata Kota Kupang, tetap mempertahankan ahlus sunah wal jama’ah.
  1. KH. TG. TURMUDZI BADRUDIN, NUSA TENGGARA BARAT (NTB)
Lahir pada tahun 1935 di Dusun Bagu Barat Desa Bagu Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah dikenal sebagai tokoh ulama yang kharismatik di kalangan Nahdliyin Nusa Tenggara Barat. Ia tergolong sukses membangun pendidikan formal, dimulai dengan membangun pendidikan diniyah pada tahun 1962 dengan murid sekitar 200 orang. Setetah itu ia tambahkan pendidikan MI, MTs, MA di bawah yayasan Qomarul Huhada Bagu. Setelah ketiga jenjang pendidikan itu sukses berjalan lalu ia berangkat ke Mesir selama 6 tahun. Lalu pada tahun 1983 lalu kembali mengurus lembaga pendidikan SMK kesehatan, kemudian mendirikan PTS Institut Agama Islam Qomarul Huda. Salah seorang Mustasyar PBNU ini dikenal sangat dekat dengan Gus Dur.
  1. KH. BAGINDO M LETER, PADANG SUMATERA BARAT
Drs. Tuanku Bagindo H. Muhammad Leter atau yang akrab dipanggil Buya Bagindo Leter (lahir 16 April 1934) adalah seorang ulama Indonesia yang berasal dari  Sumatera Barat. Ia dikenal karena cukup sering memberikan ceramah agama di media elektronik, terutama TVRI. Ia dianggap sebagai sesepuh Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), dan aktif sebagai salah satu pengurus di Dewan Penasihat IPHI. Ia mendapatkan gelar Sarjana S2-nya dari Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kiprahnya di Organisasi antara lain; Mustasyar PBNU, Ketua Ikatan Pesantren Sumatera Barat, Ketua Badan Koordinasi Persaudaraan Haji Sumatera Barat, Sekretaris MUI Sumatera Barat, Ketua IPHI Sumatera Barat, Ketua Ikatan Mubaligh Sumatera Barat dan Anggota Dewan Pembina IPHI.


  1. ABUN BUNYAMIN (CIPASUNG)
  2. A. Bunyamin Ruhiat dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana, raut wajahnya begitu sejuk mendamaikan. Namun dibalik kesederhanaanya beliau adalah sosok yang memiliki kedalaman spiritual dan keluasan ilmu yang tak diragukan lagi.
Sebagai pengasuh pesantren Cipasung yang membawa berbagai jenjang pendidikan mulai dari TK sampai pasca sarjana tentu banyak menyita waktu KH. A. Bunyamin Ruhiat. Namun kesibukannya mengurus pesantren tidak lantas membuat beliau tidak bisa aktif di organisasi NU. Di jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama beliau dipercaya sebagai salah satu A’wan.


  1. NUR ADAWAMI, GARUT JAWA BARAT
KH Muhammad Nuh Ad-Dawami lahir Garut, Jawa Barat tahun 1946. Sejak usia 12 tahun, ia nyantri ke berbagai pesantren, mulai Pesantren Kubang, Munjul, Al-Huda (Garut), Cikalama (Sumedang), Sadang (Garut), Cibeureum (Tasikmalaya). Saat ini beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Cisurupan Garut.
  1. Muhammad Nuh Addawami merupakan sosok yang sederhana. Keikhlasannya mengabdi di NU tak bisa diragukan lagi, kiprahnya di NU dimulai sejak ranting sampai kemudian didaulat menjadi salah satu Wakil Rais PWNU Jawa Barat.
Kehebatan intelektual dan ketajaman mata batinnya tak bisa sangkal. Banyak karya yang lahir dari beliau, mulai dari yang berbahasa Sunda sampai berbahasa Arab.Beliau menulis sejak tahun 1990-an seperti tukilan Ilmu Bayan, Ilmu Ushul Fiqh, Bab Tarawih, Bab Syahadat, dan “Tapi Bentang Salapan (menjelaskan persoalan yang sering diperdebatkan antara NU dan non-NU) sejak tahun 2000.
Karya lainnya adalah Mustika Akidah: Widuri Pamanggih, Tauhid Praktis ala Thariqah Ahli Sunah wal-Jamaah, Peperenian Lentera Cacaang Jalan Ambahan Kabagjaan Jalma Awam, Taraweh Qiyam Ramadhan, Tutungkusan Permata, Tauhid Amaly Ahlu Sunah wal-Jamaah, Hizb Tafrij Kurab Qodhai Hajati (Senjata Panyinglar Kasusah Nutupan Pangabutuh, Al-Mukhtashar fi Tauhidy wa-Ta’biruhu bil-Adzkari, Karakteristik Ahl Sunah wal-Jamaah, al-Muhtaj Ilaih.

  1. SYATIBI SYARWANI, PANDEGLANG BANTEN
  2. Syatibi Syarwani adalah sosok ulama yang sangat sederhana dari Pandeglang-Banten.Meski usia beliau sudah di atas delapan puluh, namun fisiknya masih nampak sehat. Penampilannya biasa saja, kemana-mana selalu memakai sarung, tetapi dibalik semua yang nampak secara lahiriah, kyai yang satu ini adalah sosok yang sangat tegas dan sangat disegani para ulama.
Sejak masih muda KH. Syatibi Syarwani sudah aktif di NU, hidupnya sepenuhnya diabdikan untuk NU. Saat ini beliau adalah penyangga atau pakunya NU Banten. Meski sudah sepuh, namun beliau jarang absen di acara-acara yang diadakan oleh NU. Petuah-petuahnya selalu dinanti karena lahir dari keikhlasan dan ketajaman spiritualitsanya. Di PBNU beliau duduk dijajaran Mustasyar.
  1. KH BAHARUDIN HUSAIN, SULAWESI SELATAN

  1. KH ABU NAWAS (PP. AS’ADIYAH), SULAWESI SELATAN

  1. KH ARIF PATI, PARE-PARE SULAWESI SELATAN

  1. KH KHOLILURAHMAN, MARTAPURA KALIMANTAN SELATAN
Kelahiran Martapura, Kalimantan Selatan, kini 70 tahun. Guru-gurunya antara lain adalah K.H. Salim Ma’ruf dan K.H. Sya’rani Arif, Martapura.
  1. KH GURU SOFYAN, BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN
  2. KH NAHDLUDDIN RAYANDI (INGGRIS/WAKIL PCINU)

  1. DR. HJ. CHUZAEMAH TAHIDO YANGGO, JAKARTA
Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo dilahirkan di Donggola, Sulawesi Tengah pada 30 Disember 1946. Sejak tahun 2014 sebagai Rektor IIQ Jakarta. Beliau memperoleh Ph.D dalam ilmu fiqih perbandingan mahzab dari Universiti al-Azhar di Kairo Mesir pada tahun 1981 dengan predikat cumlaude. Dia menerima gelaran doktor pada tahun 1984 dalam bidang dan dari universitas yang sama dengan predikat cumlaude juga.
Beliau adalah wanita pertama dari Indonesia yang mendapat Ph.D dari Universiti al-Azhar. Pada hari ini, beliau memegang jabatan Pembantu Dekan I di Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Indonesia (UIN), Direktur Program Pascasarjana Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta, Dosen pascasarjana UIN Jakarta. Di Nahdlatul Ulama sebagai A’wan PBNU sejak tahun 2004 – sekarang.
  1. NYAI HJ. NAFISAH SAHAL MAHFUDH, PATI JAWA TENGAH
Hj. Nafisah Sahal Mahfudz adalah isteri dari almaghfurlah Dr. K.H. M.A. Sahal Mahfudz. Aktifitas keseharian beliau (Hj. Nafisah Sahal Mahfudz) adalah menjadi pendamping K.H. Sahal Mahfudz dalam mengelola pesantren Maslakul Huda. Beliau mengelola dan mengurusi para santri putri. Selain aktifitas pesantren, Hj. Nafisah Sahal Mahfudz juga aktif dalam kegiatan sosial keagamaan di Nahdlatul Ulama (NU). Beliau aktif dalam kegiatan Muslimat NU.
Hj. Nafisah Salah Mahfudz adalah anak ketiga dari 12 bersaudara dari pengasuh pondok pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, yakni K.H. Abdul Fattah Hasyim dan Hj. Musyarofah. Bahkan pendidikan formal dan non formalnya sejak kecil dilalui dalam dunia pesantren. Adapun riwayat pendidikan formal beliau adalah sebagai berikut: Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Tambakberas Jombang, dilanjutkan di Madrasah Tsanawiyyah (MTs) Mua’limat hingga tingkat 48 Madrasah Aliyyah (MA) Mua’limat Tambakberas Jombang yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, kemudian beliau melanjutkan di Sekolah Persiapan Perguruan Tinggi Agama (SPPTA) Yogyakarta dilanjutkan di Fakultas Syari’ah Jurusan Fiqh IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

  1. DR. HJ. ISTIBSYAROH AL-HAFIZHAH, JAWA TIMUR
Prof. Dr. Dra. Hj. Istibsjaroh, S.H, M.A lahir di Jombang 19 September 1957 adalah Dosen Tetap Fak. Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pendidikan dimulai dari Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Bulurejo Diwek Jombang (1965), Mu’allimat VI Tahun Cukir Jombang (1971), UNHASY Tebuireng Jombang (BA) (1974), Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang (1976), Fakultas Hukum UNDAR Jombang (1997), S2 Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya (2000) dan S3 program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2004).
Di NU, beliau sebagai Pengurus Himpunan Da`iyah Muslimat (KHIDMAT) NU Wilayah Jatim (Sekarang), Koordinator Bidang Litbang Muslimat NU Wilayah Jatim (Sekarang).

  1. DAN LAIN-LAIN
sumber muktamar.nu.or.id

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News