Top News :
Home » » Tokoh Muhammadiyah Jawa Barat yang Dikira Menjadi Syi'ah

Tokoh Muhammadiyah Jawa Barat yang Dikira Menjadi Syi'ah

Posted on Monday, 20 July 2015 | garis 01:08

Muslimedianews.com ~ Pada tahun 2012, saya berkenalan dengan tokoh Muhammadiyyah Jawa Barat, Kyai Drs Muchtar Adam. Perkenalan itu terjadi di facebook sebab perdebatan tentang Syiah. Perdebatan itu dimulai oleh pak Rukmana Ranudiana yang ternyata adalah jamaah pengajian Abah Muchtar.

Kang Rukman demikian sapaan beliau, memuat tulisan tentang kehati-hatian melempar tuduhan kufur dan sesat terhadap Syiah--utamanya Syiah Imamiyah. Kontan, tulisan itu memancing reaksi protes dari saya. Pasalnya, sependek pengetahuan saya bahwa hanya Syiah Zaidiyyah yang terbebas dari tudingan sesat dan juga kufur. Adapun terhadap Syiah imamiyah, sikap saya sejak tahun 1997 sangat jelas bahwa mereka sesat dan menyesatkan. Sikap itu bukan tanpa alasan. Pertama pemahaman bacaan saya terhadap buku Prof. Rasjidi (Allahu yarhamuhu) dan buku Said Hawwa yang berjudul Khomeinisme. Kedua, pengalaman pribadi saya selama aktif di HMI Cabang Depok yang selalu berbenturan dengan kader-kader Syiah yang membentuk HMI Cabang Depok tandingan. Benturan itu tak ayal diakhiri dengan perkelahian antara kepengurusan di mana saya berada dengan mereka. Karena pengalaman itu wajar jika saya menganggap Imamiyah itu membahayakan.

Alotnya diskusi, pada akhirnya mendorong Kang Rukman memperkenalkan saya dengan guru beliau Abah Muchtar Adam. Pada bulan Mei 2012 saya berkunjung ke Pesantren Babussalam di Kawasan Dago Bandung, tempat Abah Kyai mengajar dan mendedikasikan hidupnya untuk ilmu dan dakwah. Kedatangan saya diiringi oleh dugaan bahwa Abah Kyai pasti sudah menjadi Syiah.

Sore yang cerah mengiringi pertemuan itu. Abah Kyai memperkenalkan diri dan menceritakan pengalamannya mengawal Fraksi Reformasi DPR RI pada tahun 1999-2004. Ketika obrolan masuk mengenai topik tentang Syiah, seperti biasa saya langsung menampilkan argumentasi menyerang--maklumlah darah muda. Yang menarik, Abah Kyai santai saja menanggapi argumentasi saya itu.

Beliau berkata, "nak Abdi sudah pernah ke Iran?" Saya jawab, "belum kyai" Sambil tersenyum beliau katakan bahwa orang itu pasti memusuhi apa yang dia tidak ketahuinya. Beliau bercerita pernah datang ke Iran memenuhi undangan konferensi nahwa taqrib bayna al-mazâhib al-islâmiyyah (menuju pendekatan di antara mazhab-mazhab Islam). Saya mulai serius mendengarkan karena topik yang disinggung menarik. Beliau bertanya jika Syiah Imamiyah sesat kenapa Rabithah Alam Islami (Persatuan Dunia Islam) yang bermarkas di Makkah, selalu mengundang Iran untuk hadiri Konferensi Islam Internasional? Kenapa pula pada Konferensi tentang Pembebasan Al-Aqsha pada tahun 1920-an, para ulama ahlussunnah mau menjadi makmum sholat di belakang Sayyid Hussain Atthabâtaba'i--ulama Syiah Imamiyah? Abah kyai bertanya lagi apakah kesesatan Syiah imamiyah itu hanya wacana atau benar-benar realita?

Saya lalu bertanya, "apakah Abah Kyai penganut Syiah?" Mendengar pertanyaan saya itu, meledaklah tawa renyah Abah Kyai, "hehehe...kalo dituduh Syiah iya. Saya masih berdiri di Muhammadiyyah dan tetap berkhidmah di Muhammadiyyah. Saya bukan penganut Syiah tapi saya menghargai perbedaan mazhab di tubuh umat Islam." Begitu Abah memberi jawaban yang panjang.

Beliau menjelaskan kriteria sesat tidaknya suatu golongan sambil menegaskan pentingnya sikap objektif dan moderat di dalam memberikan penilaian. Diskusi sore yang tidak terasa lama itu benar-benar mencerahkan. Dalam arti, bukan setelah itu saya menjadi pendukung Syiah. Tapi mendorong saya untuk belajar lebih banyak tentang bagaimana memahami akar masalah.

Kedalaman ilmu dan kehati-hatian Abah Kyai membuat saya kagum. Meskipun dikenal sebagai tokoh Muhammadiyyah Jawa Barat, Kyai Muchtar Adam tidak sungkan membaca karya-karya ulama rujukan kalangan Nahdhiyyin seperti Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki. Beliau bahkan selalu menggelar acara istighosah setiap bulan di pesantrennya. Sebuah kegiatan yang menurut amatan pendek saya, tidak mungkin dilakukan oleh kalangan Muhammadiyyah.

Abah Kyai bukan tipe orang yang mudah terperosok ke dalam fenomena ta'asshub (fanatisme buta). Kemuhammadiyyahan-nya tidak menghalangi beliau membaca pendapat dari kalangan lain, terutama Nahdhiyyin. Beliau adalah tipe orang yang selalu berusaha memahami akar masalah. Bidang sejarah peradaban Islam tampaknya menjadi penguasaan beliau. Penjelasannya tentang sebuah konsep di dalam ajaran agama selalu diawali dengan melacak asal sejarah lalu dicari benang merahnya dengan kondisi masa kini.

Di bulan Ramadhan ini saya berdoa semoga Abah kyai tetap sehat sehingga bisa memberi suluh kepada umat yang tetap membutuhkan pencerahan..

Ust. Abdi Kurnia Djohan


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News