Top News :
Home » » Aku Mencintai Gus Mus, Aku Menyesal Baca Buku Itu

Aku Mencintai Gus Mus, Aku Menyesal Baca Buku Itu

Posted on Monday, 10 August 2015 | garis 12:47

Muslimedianews.com ~ "Uhibbuka Ya Syaikh Mustafa Bisyri"

Dulu, dan saya sangat menyesali itu, bahwa apa yang saya baca di salah satu buku yang menyebutkan diantara Tokoh NU yang berpaham Liberal adalah Gus Mus, juga Mbah Kyai Sahal Mahfudz Almaghfurlah.

Penyesalan saya dimulai ketika pertamakali saya sowan ke ndalem beliau dengan diantar Gus Yahya Cholil Staquf. Sopan, ramah, bersahaja, energik dan satu tingkah yang membuat saya takluk tak berdaya adalah bagaimana beliau menuangkan teh Arab dengan tangan beliau sendiri untuk saya dan tamu yang lain. Dan gerak tubuhnya sama sekali tidak memaknakan action atau pura-pura.

Akal saya mulai buntu, tiba-tiba kecurigaan hati saya tak menemukan ruangnya, apalagi ketika kami pamit pulang dan sebelumnya memohon doa. Doanya diawali dengan Sholawat Munjiyat, biasa-biasa saja. Sampailah pada sesen foto bersama, si tua itu nurut saja digarap fotografer kampungan, diminta berdiri, senyum, merangkul dan lain sebagainya. "Orang tua yang saya hadapi ini siapa sesungguhnya? Kyaikah? Kok gak menjaga wibawa sama sekali? Budayawankah? Kok gak jual mahal? Senimankah? Atau orang bisa saja?"

Saya tiba-tiba melihat 'Samudera' terbentang di hadapan, dan sebagaimana lautan yang siap menampung segala macam benda dan sifatnya, ada bangkai, tahi, mutiara, pasir, ikan, comberan dan karang, semuanya dibuat tidak berbau karenanya.

Saya mulai mengikuti pengajiannya, biasa-biasa saja, adem dan gak ada pemikiran yang aneh-aneh semisal mengganti waktu haji atau shalat pakai celana pendek, terus yang liberal itu apanya? Pikir saya. Lagian apa yang menjadi ukuran seseorang itu liberal atau bukan, sampai kini juga definisinya belum ada yang mampu merumuskan.

Jika ukurannya adalah menantunya (Gus Ulil) misalnya yang telah terang-terangan berdeklarasi tentang ke-JIL-annya, lalu bagaimana dengan menantunya yang lain seperti Gus Achmad Shampton Masduqie yang menurut saya kolot, tradisionalis, kaku dalam berfiqih, setengah Wahabi dan sombong (karena tidak pernah mampir ke rumah saya ketika di Rembang), kok menantu yang jaim ini tidak dijadikan ukuran kekolotan Gus Mus?

Lalu, tiba-tiba dalam Muktamar NU ke-33, issu basi tentang keliberalan Gus Mus dicuatkan kembali? Gus Mus yang tidak pernah punya ambisi menjadi pemimpin kok diserang sedemikian hebatnya? Pasti ada potensi besar pada diri beliau.

Gus Mus bukan orang kaya dan memang bukan ingin memperkaya diri (cerita ini akan terlalu panjang jika saya tulis), maka wajar jika Diqi kemaren cuma mendapat sangu dua ribu rupiah ketika lebaran di ndalemnya, saya apalagi, malah gak dapat apa-apa kecuali persahabatannya.

NU itu menjadi rebutan, dan dalam kepemimpinan Gus Mus, tidak banyak yang bisa direbut, maka ketakutan akan kembali memimpin NU adalah sangat wajar. Bagi saya, siapapun tak masalah memimpin NU, tapi jangan hina Gus Musku, jangan rendahkan Gus Mus kita, NU itu barang baru, mungkin sudah saatnya jika NU rusak, karena setiap yang baru pasti rusak.

Oh ya, jika dengan alasan Islam Nusantara telah dapat memastikan beliau berfaham liberal, bagaimana dengan Mbah Maimoen yang dengan jelas dan terang setuju dan mendukungnya? Mbah Maimoen Liberal juga?

Oleh: Kyai Zainal Ma'arif , Rembang

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News