Top News :
Home » » HTI adalah Kelompok yang Tidak Tahu Diri

HTI adalah Kelompok yang Tidak Tahu Diri

Posted on Monday, 10 August 2015 | garis 09:55

Jombang, Muslimedianews.com ~ Mantan Sekretaris Jenderal Komunitas Nahdlatul Ulama Amerika dan Kanada, Sumanto al-Qurtuby, menjelaskan perbedaan antara Amerika dan Arab Saudi dalam mengelola keberagaman. Hematnya, Amerika Serikat adalah negara besar yang dibangun bukan atas pondasi agama, tapi atas pondasi sekuler.

“Tapi dalam perilakunya beragama. Di Amerika, sekte-sekte agama sangat beragam. Mereka kehidupannya masih memelihara cara-cara klasik. Ada Kristen salafi, kelompok ini menganggap semua yang tidak pernah dipraktikkan oleh Yesus Kristus adalah haram,” paparnya dalam diskusi publik “Spirit Keberagamaan dan Keberagaman di Indonesia” di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Selasa (4/8).

Menurut kader NU yang kini jadi Professor di King Fahd University of Petroleum & Minerals Saudi Arabia itu, di Amerika kelompok ekstrim kiri dan ekstrim kanan kumpul bersamaan. Mereka diperbolehkan untuk berkembang. Namun kelompok itu tidak berlaku makar kepada negara dan tidak mengolok-olok kelompok lain.

“Jika dikaitkan dengan kondisi di Indonesia, justru HTI (Hizbut Tahrir Indonesia, red) ini kerap memperolok-olok demokrasi, ini namanya kelompok tidak tahu diri. Sekarang kita tinggal menunggu pemerintah untuk mengevaluasi lagi tentang keberadaan kelompok HTI di Indonesia,” sarannya terhadap pemerintah.

Pluralita
Dalam seminar yang menghadirkan Dr KH Abdul Ghofur Maimoen, Yenny Zanuba Wahid, dan Sumanto Al-Qurtuby, pembicara lain perwakilan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menerangkan, bahwa keberagaman di Indonesia sangat kaya. “Di Indonesia ini pluralitasnya itu luar biasa, melebihi Amerika. Dan ini atas kontribusi daripada peran Nahdlatul Ulama. Keberagamaan di negeri ini bukan hanya warna kulit, tapi juga kebudayaan,” paparnya.

Dia menambahkan, para pendiri bangsa paham betul, bahwa bukan hanya menghargai toleransi tapi juga multikulturalismenya. Pancasila adalah sarana yang merekatkan perbedaan-perbedaan itu.

“Indonesia ini negara Pancasila, bukan negara Islam. Bangsa yg sudah dirawat oleh pendiri bangsa dan dihasilkan melalui dialog harus dirawat. NU sangat berperan dalam hal ini,” tandasnya. [CP/002]

sumber nujateng

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News