Top News :
Home » » Musyawarah Kiai Sepuh dan Rais Syuriah dalam Suasana Muktamar NU ke-33

Musyawarah Kiai Sepuh dan Rais Syuriah dalam Suasana Muktamar NU ke-33

Posted on Monday, 10 August 2015 | garis 05:10

Muslimedianews.com ~ "Apa yang terjadi saat tanggal 3 Agustus 2015 para Rais Syuriah PBNU/PWNU dan Kiai Sepuh melakukan pertemuan tertutup dalam suasana muktamar yang gaduh saat itu?. Tolonglah diceritakan agar kami pun bisa ikut belajar", demikian pertanyaan sejumlah kawan kepada saya. Seperti saya tuliskan di status fb sebelumnya yang berjudul "Sang Panutan" saya ceritakan bahwa saya ikut hadir dalam pertemuan tersebut.

Saat saya tiba di Pendopo Kabupaten, Saya tahu persis kapasitas saya tidak layak untuk ikut hadir di sana, meski saya seorang Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand. Semata-mata mesej dari Rais Am KH A Mustofa Bisri yang membuat saya ikut datang ke sana. Saya khawatir Banser akan menolak saya masuk; begitu juga panitia yang lain. Tapi bismillah dengan niat tulus memenuhi dawuh Gus Mus saya melangkah masuk. Tidak disangka, seorang Banser malah menghampiri dan bersalaman dengan saya sambil bercerita bahwa dia melihat saya di acara Tambak Beras dan malamnya melihat saya ngobrol berdua dengan putri Gus Dur, Alissa Wahid. Rupanya dua momen itu cukup membuat dia tahu siapa saya dan kemudian menunjuk pintu yang tepat untuk memasuki area pertemuan.

Begitu saya datang berjalan kaki, kebetulan tiba pula dengan mobil dua ulama yaitu TGH Turmuzi dari Lombok dan Profesor Nasarudin Umar. Saya menyalami keduanya, dan ikut masuk ke dalam ruang pertemuan yang tertutup itu. Gus Mus yang mengenakan sorban berdiri menyambut kedua ulama di depan saya. Sesaat saya bimbang apakah saya teruskan masuk atau mundur kembali. Namun Gus Mus memberi saya isyarat untuk masuk, maka saya masuk menyalami beliau, dan Kiai Malik Madani disebelah Gus Mus menyapa saya dengan ramah, dan saya juga menyalami KH Ma'ruf Amin, yang tersenyum lebar sambil menyapa: "Nadir, kapan datang?". Saya lega dan mulai meraa nyaman karena para Kiai mengenal dan mempersilakan saya duduk. Di seberang KH Masdar Mas'udi juga memberi isyarat salam dengan tangannya saat saya mulai duduk.

Gus Mus membuka pertemuan dengan menyatakan bahwa KH Hasyim Muzadi sudah diundang namun belum juga hadir sehingga pertemuan akan dimulai tanpa kehadiran Kiai Hasyim. Saya langsung sms ke Kiai Cholil Nafis menanyakan kenapa Kiai Hasyim tidak hadir. Dijawab bahwa Kiai Hasyim menginginkan pertemuan di Tebuireng atau di Tambak Beras. Gus Lathif Malik juga sms ke saya dan hendak berbicara dengan saya, tapi saya jawab saya sedang di ruangan pertemuan dg para kiai sepuh. Gus Lathif mengabarkan bahwa berdua dengan Gus Ghofur telah diutus Mbah Maimun Zubair untuk menemui Kiai Hasyim sebagai upaya memediasi untuk pertemuan Kiai Hasyim dan Kiai Aqil Siradj. Mbah Mun saya lihat tidak ada di ruangan pendopo, dan menurut Gus Lathif beliau sedang beristirahat di tambak beras pagi itu.

Sejatinya pertemuan ini digelar atas undangan Rais Am untuk mencari solusi dari kegaduhan dan kericuhan Muktamar soal Pasal 19 tata tertib persidangan khususnya dalam pemilihan Rais Am menggunakan sistem ahlul halli wal aqdi (Ahwa) atau tidak. Sesaat setelah dibuka oleh Gus Mus, pertemuan langsung panas. Dr KH Djamaludin Mariajang, Rais Syuriah Sulawesi Tengah, jelas-jelas menolak Ahwa. Disusul dengan pernyataan Rais Syuriah Bengkulu yang membacakan pernyataan sikap sejumlah Rais Syuriah yang menolak sistem Ahwa. Gus Mus menenangkan peserta dan meminta untuk tidak main mutlak-mutlakan: "kami mengundang para kiai ke sini untuk mencari solusi, kalau main ngotot-ngototan apa bedanya dengan yang kemarin terjadi di arena muktamar?" begitu pernyataan tegas Gus Mus.

KH Mas Subadar minta waktu berbicara. Selain menyampaikan kerpihatinan yang sama atas kondisi Muktamar kali ini, beliau menyampaikan usulan agar tidak memilih A dan B yang dilihat sebagai pertarungan untuk posisi Rais Am, "sebaiknya pilih orang ketiga, namun A dan B itu tetap dimasukkan dalam kepengurusan". Gus Ali juga mendukung usulan ini dengan menambahkan bahwa kepengurusan nanti sedikit gemuk tidak apa-apa asalkan bisa merangkul semua pihak. Sampai di sini terlihat semangat untuk menengahi ngotot-ngototannya kedua kubu.

KH Ma'ruf Amin diusulkan oleh KH Mas Subadar untuk berbicara. Kiai Ma'ruf menjelaskan bahwa posisi Rais Am ini bukan sekedar jabatan tapi sebuah maqam. Shahibul Maqam. Empat kriteria ditawarkan beliau untuk memilih pemilik maqam tertinggi di NU ini: ahli fiqh, wara', organisatoris dan penggerak. Kalau tidak ada yang memenuhi 4 kriteria ideal shohibul maqam itu maka dicari yang mendekatinya (al-aqrab ilal maqam). Saya langsung membatin: "wah ini 4 kriteria yang cocok untuk Kiai Ma'ruf Amin sendiri".

KH Masdar Mas'udi dapat giliran berbicara. Kiai yang progresif ini menjelaskan mengapa Ahwa menjadi pilihan yang baik, lantas menyarankan langkah praktis agar Muktamar ini tidak berhenti hanya di pasal yang diperselisihkan, maka sebaiknya nanti sidang-sidang komisi berjalan beriringan agar Muktamar ini memiliki hasil yang disepakati. KH Afifuddin Muhajir ikut bicara. Kiai pakar ushul al-fiqh ini menganggap bahwa kita telah tiba pada kondisi dua dharar, dan wajib memilih dharar yang lebih ringan (irtikabu akhaffid dhararain wajib). Beliau mengatakan bahwa kekhawatiran kalau pemilihan langsung akan menimbulkan money politics itu baru merupakan dugaan, sedangkan kekhawatiran bahwa usulan Ahwa telah menimbulkan kericuhan sudah kelihatan jelas.

Kiai Mujib Qalyubi di ruang belakang yang melihat saya terus berkata: "ayo ikutan berbicara, nanti sampeyan jadi gong-nya yah". Saya tersenyum dan tahu diri untuk tidak berbicara di pertemuan tersebut. Mendapat kesempatan hadir dan menyimak serta belajar dari para kiai saja sudah merupakan anugerah tersendiri.

Mbah Dimyati Rais memasuki ruangan dan duduk di pojok. Beliau ini gurunya Kiai Kafabih Mahrus Lirboyo, yang juga hadir dalam pertemuan ini. Tak lama kemudian Kiai Maktum Hannan dengan diantar Kiai Said Aqil Siradj memasuki ruangan. Walhasil setelah mendengar berbagai masukan dan pandangan, Gus Mus mengambil kesimpulan yang disepakati semua pihak dan kemudian isinya disampaikan beliau di depan muktamirin.

"Pertama, apabila ada pasal yang belum disepakati dalam muktamar tentang pemilihan Rais Aam, tak bisa melalui musyawarah mufakat, maka akan dilakukan pemungutan suara oleh para Rois Syuriah. Kalau nanti Anda-Anda tidak bisa disatukan lagi, maka saya dengan para kiai memberikan solusi, kalau bisa musyawarah kalau tak bisa pemungutan suara. Itu AD/ART kita. Karena ini urusan pemilihan Rais Aam, maka kiai-kiai akan memilih pemimpin kiai."

Pertemuan para Rais Syuriah dan Kiai Sepuh ditutup dengan permintaan Gus Mus kepada KH Makhtum Hannan untuk membaca doa. Kiai dari Cirebon ini semula menolak karena merasa ini su'ul adab memimpin doa di depan para kiai sepuh lainnya, namun Gus Mus dan juga para kiai lainnya tetap meminta Kiai Makhtum memimpin doa. Maka beliau memimpun doa dengan menggetarkan, tak sadar air mata kiai pun menetes. Saya melihat TGH Turmuzi, murysid tarekat dari Lombok pun mengusap matanya yang berkaca-kaca. Dr DJamaluddin yang menolak Ahwa dan kerap memotong pembicaraan Gus Mus berpelukan dengan Gus Mus selepas acara.

Selepas acara saya sampaikan kepada KH Slamet Effendy Yusuf dan Dr KH Marsudi Syuhud apa hasil pertemuan tersebut agar apa yang sudah disepakati tidak menimbulkan banyak tafsiran lagi, dan sebaiknya segera ditulis rumusan kesepakatan yang tadi diambil oleh Gus Mus selaku Rais Am.

Demikian apa yang saya bisa tuliskan berdasarkan ingatan saya. Lebih kurangnya mohon maaf kalau ada kekurangtepatan kutipan. Semoga tradisi musyawarah para kiai bisa kita teruskan, saya percaya apapun masalahnya proses dialog jelas lebih baik ketimbang merasa paling benar sendiri. Semoga Allah terus melimpahkan rahmatNya kepada para kiai dan semoga kita semua para santri terus diberikan kemampuan dan kemauan untuk belajar dan belajar dari keteladanan para kiai. Amin Ya Allah.

Penulis : Nadirsyah Hosen.
Utusan PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand di Muktamar ke 33 Jombang.

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News