Top News :
Home » , » Pitutur KH. Maimoen Zubair tentang Islam Nusantara dan Kemandirian Bangsa

Pitutur KH. Maimoen Zubair tentang Islam Nusantara dan Kemandirian Bangsa

Posted on Saturday, 15 August 2015 | garis 11:08

Muslimedianews.com ~ MBAH MAIMUN ZUBAIR: ISLAM NUSANTARA DAN KEMANDIRIAN BANGSA (Sebagian pitutur beliau di MUBES Anak Muda NU di Muktamar NU 33 Jombang)

Nahdlatul Ulama itu organisasi sosial keagamaan yang akhirnya dikenal dengan Islam Nusantara. Ini saya setuju sekali. Artinya, Indonesia ini lain daripada yang lain. Jika umat Islam diumpamakan dengan pohon kurma, tetapi disana juga ada firman Allah Swt,:

محمد رسول الله والذين معه أشداء على الكفار رحماء بينهم تراهم ركعا سجدا يبتغون فضلا من الله ورضوانا سيماهم في وجوههم من أثر السجود ذلك مثلهم في التوراة ومثلهم في الإنجيل كزرع أخرج شطأه فأزره فاستغلظ فاستوى على سوقه يعجب الزراع ليغيظ بهم الكفار وعد الله الذين آمنوا وعملوا الصالحات منهم مغفرة وأجرا عظيما

Dari ayat di atas maka perumpamaan umat Islam itu seperti tanaman padi. Jadi kita sudah tidak mengenal kurma tapi mengenal tanaman padi-padian. Sehingga beda tapi sama, sama tapi beda. Inilah Bhinneka Tunggal Ika. Jadi Islam itu beda dengan di Arab, padi dan kurma, tapi sumber Islam itu satu yaitu Nabi Muhammad saw. Bangsa Arab seperti pohon kurma sedangkan kita seperti tanaman padi.

Perumpamaan orang Islam sebagaimana termaktub dalam kitab taurat adalah bekas sujud. Umat Islam adalah umat yang tidak bisa meninggalkan sujud. Kalau dulu sujud di Padang Pasir sekarang sujud di tanah Nusantara. Perumpamaan umat Islam dalam kitab injil (fatrah)—zaman peralihan dari Bani Israel menjadi umat Nabi Muhammad saw—seperti tanaman padi yang tidak di udara tapi di tertanam bawah yang mengeluarkan anak-anaknya. Anak-anak padi yang mengepung tapi ibunya pintar mendidik dan membesarkannya. Saya pernah bertani selama tujuh tahun. Saya pupuk padi itu lalu saya tanya induknya, “mengapa kamu tidak membesar?” Dia jawab, “untuk anak-anak, Kiai.” Anak-anaknya dirawat oleh induknya. Padi dipupuk namun induknya tidak mau makan dan minum hanya untuk anak-anaknya agar menjadi besar hingga menyamai induknya. Sama rata.

Kalimat “Berdiri di atas badan sendiri” kita alih menjadi, “berdiri di atas kaki sendiri.” Sehingga ada istilah ‘berdikari’. Bangsa Indonesia akan makmur kalau semua berdikari. Tanda kemajuan itu saat lawan akan menyesal hatinya jika kita semua berdikari. Kalau kemakmuran belum merata maka cita-cita padi belum dilaksanakan oleh Allah Swt dan belum sampai pada puncak cita-cita.

Saya yakin setelah Muktamar NU Ke-33 di Jombang ini akan terjadi kemakmuran di seluruh Indonesia. Saya yakin tidak lama lagi Indonesia menjadi negara 'baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur'. Saya tidak bisa meninggalkan Nahdlatul Ulama tapi saya juga tidak bisa meninggalkan NKRI. NU harus berkesinambungan hingga hari Kiamat. Biar kondisi berubah, cara berkiprah berubah namun NU harus tetap bergandengan dengan Ulama dan Ulama menjadi rujukan NU. Anak muda harus tahu tentang hal ini. Orang tua tinggal mengalihkan tugas ini kepada anak muda. Saudara-saudara nanti ditanya Allah

(@sulthanfatoni).

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News